ACTOR - ACTRIS:
Kim Jaejoong (GS), Jung Yunho, Lee Sungmin(GS), Cho Kyuhyun, Kwon Boa
Dan beberapa pemain pendukung lainnya
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita
STORY BY:
Cerita, Alur, Judul, dan Plot milik SANDRA BROWN
Setting dan beberapa perubahan untuk kepentingan cerita kukerjakan sendiri
mianhada, kemarin Zzi lagi labil. terus liat temen2 yang komen bener2 gak sampek 0,02 nya dari yang baca, langsung deh gemes. Gomapta untuk temen2 yang sudah mau memberikan dukungan untuk melanjutkan FF ini. Zzi usahakan untuk selesai kok. meski itu sampai chap 30. hahaha
keep RCL ne readerdul...
Rly. , , kim shendy, NaraYuuki, Lee Muti, toki4102, kyura, , Himawari23, Guest, Tutup Botol, wennycassiopeia, Dededeepeo, yoon HyunWoon, Kim Eun Seob, haruko2277, , leeChunnie,
Masitge deuseyo…
Sinar lampu mobil menyorot di belakangnya, Jaejoong mempercepat langkah. Ia sebenarnya tidak suka berjalan kaki sendirian ketika pulang. Memang, ia bisa menunggu ayahnya, tetapi siapa pun tahu ia tak bisa dipastikan kapan pulang. Selain itu, dalam kondisinya sekarang, ayahnya juga tidak bisa menolong andai seseorang menyerangnya.
Jaejoong serasa hampir mati menanggung malu petang itu ketika Jung Yunho tahu ia putri namja yang terkenal sebagai pemabuk di kota itu. Yunho akan tahu mereka tinggal di rumah reyot, ibunya menjadi buruh cuci agar ada yang bisa dihidangkan di meja makan dan mereka mampu membeli pakaian bekas layak pakai dari langganannya untuk Jaejoong.
Jaejoong langsung tahu siapa Yunho sebenarnya,
Setiap orang di kota itu kenal keluarga Jung. Ia sering melihat Yunho dari kejauhan, ketika pria itu melaju dengan mobil Audi hitamnya dengan kecepatan tinggi, atapnya terbuka, menyebabkan angin mempermainkan rambutnya yang hitam. Biasanya ada gadis duduk di sebelahnya, tangan kirinya tersampir di bahu Yunho. Suara radionya berdentang nyaring. Yunho membunyikan klakson mobil keras-keras dan me-lambaikan tangan pada setiap orang yang dikenalnya, termasuk kyongchall-polisi korea, yang memaklumi pelanggaran yang jelas-jelas dilakukan Yunho, yang mengendarai mobil dengan kecepatan lebih daripada semestinya. Setiap orang kenal Jung Yunho, bintang football, kapten regu basket, juara Judo, serta ahli waris Jung mansion dan satu-satunya pabrik pengolahan ginseng di Geumsan.
Sosok Yunho memenuhi benak Jaejoong selama jam-jam kerjanya di Hanbang cafe. Saat ini Jaejoong tergesa-gesa berjalan pulang agar segera bisa naik ke tempat tidur untuk melamun tentang Yunho dan apa yang dikatakan pria itu padanya hari itu. Tentulah Yunho tidak akan ingat padanya...
"Hai, boo." Mobil itu melintas dari belakang Jaejoong dan berhenti di sisinya. Dengan takjub Jaejoong memandang wajah Yunho yang tersenyum padanya sambil memiringkan tubuh ke arah kursi penumpang di sebelahnya dan membukakan pintu mobil. "Ayo naik. Aku antar kau ke rumah."
Jaejoong melihat ke kiri dan kanan, seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan. "Kurasa sebaiknya jangan."
Yunho tertawa. "Wae?" Karena pria seperti Jung Yunho tidak akan mengajak yeoja seperti Kim Jaejoong berkeliling naik mobil mewah, itulah sebabnya. Namun Jaejoong tidak mengatakannya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Debar jantungnya terasa sampai ke tenggorokannya, membuatnya tak mampu berkata-kata.
"Ayolah, naik," bujuk Yunho dengan senyum yang amat mempesona. Jaejoong pun duduk di jok kulit dan menutup pintu mobil. Bangku mobil yang empuk itu menghanyutkannya ke alam kemewahan, dan ia harus berusaha keras menahan keinginan hatinya mengelus kelembutan jok mobil tersebut. Alat-alat di dasbor mobil seperti memancarkan beribu kelip warna-warni ke arah Jaejoong.
"Kau suka milk shake cokelat?" Baru sekali Jaejoong mencicipinya selama hidupnya. Ketika ibunya baru gajian dan mereka makan siang di sebuah kedai di kota, ibunya membelikan milk shake cokelat untuk mereka nikmati berdua dalam rangka merayakan hari istimewa itu. "Ya."
"Aku tadi berhenti di Dairy Mart. Kau pilih saja sendiri." Yunho memiringkan kepala ke arah gelas kertas yang terselip di antara tempat duduk.
Gelas itu tertutup, tetapi sedotannya mencuat dari lubang di bagian atasnya.
"Gomapta," ujar Jaejoong malu-malu. Diambilnya gelas itu lalu diisapnya isinya melalui sedotan. Rasanya dingin, mantap, dan enak. Jaejoong tersenyum senang. Yunho balas tersenyum.
Radionya tidak dibunyikan keras-keras dan atap mobilnya tidak dibuka. Yunho tidak ingin ada yang melihat ia bersama Jaejoong. Jaejoong mengerti dan tidak keberatan. Yunho datang menjemputnya, ia membelikannya milk shake cokelat. Itu saja sudah cukup buat Jaejoong.
"Bagaimana kerjamu tadi?"
"Kafe ramai dengan pengunjung, dan banyak cucian piring yang menumpuk."
"Oh ya?"
"Hemm, hari yang melelahkan."
Yunho tertawa. "Tapi kau kan tidak ingin mencuci piring seumur hidupmu?"
"Tentu."
"Apa yang ingin kaulakukan?"
Kuliah, jawab Jaejoong dalam hati dengan perasaan putus asa. "Entahlah. Aku suka matematika. Aku jadi juara dua tahun berturut-turut."
Jaejoong merasa perlu menunjukkan kelebihan dirinya, bercerita pada Yunho tentang sesuatu yang membuatnya takkan lupa peristiwa malam ini, karena ia tahu, ia sendiri tidak akan pernah melupakannya seumur hidup. Dia, Kim Jaejoong, berkeliling dengan mobil Jung Yunho! Tetapi, apa peduli Yunho? Ia bisa memilih gadis mana pun yang ia suka, gadis yang lebih tua dan lebih bergaya daripada dirinya. Gadis yang berpakaian lebih indah dan suka berkumpul di klub, gadis-gadis yang ibunya duduk dalam komite dan naik mobil mewah, gadis-gadis yang merasa malu bicara dengan Kim Jaejoong.
"Matematika, heh? Mungkin aku butuh pertolonganmu untuk mengerjakan tugas kuliahku. Aku nyaris tidak lulus kuliah matematika."
"Apakah kau suka kuliah?"
"Tentu saja. Asyik sekali. Tetapi aku senang sudah keluar."
"Kau sudah lulus?"
"Enam minggu yang lalu."
"Kuliah jurusan apa?"
"Pilihanku antara pertanian atau teknik. Aku merasa cukup banyak tahu tentang pertanian, karena itu aku memilih teknik."
"Itu akan sangat membantu di pabrik pengolahan ginsengmu."
"Kurasa begitu." Tanpa menanyakan arah, Yunho keluar dari jalan raya ke jalan kecil yang menuju rumahnya.
"Kau tak perlu mengantarku sampai rumah," kata Jaejoong cepat-cepat.
"Di sini gelap gulita seperti dalam terowongan."
"Aku tidak takut, sungguh. Tolong, berhenti di sini saja."
Tanpa membantah, Yunho mengerem mobil. Jaejoong tidak ingin Yunho mengantarnya sampai ke rumah. Karena kalau ya, ia harus memberi penjelasan tentang semuanya pada ibunya. Hari ini terlalu istimewa. Ia tidak ingin berbagi keistimewaan hari ini dengan orang lain. Ia terutama tidak ingin Yunho berjumpa ibunya di rumahnya yang reyot.
Setelah mesin mobil dimatikan, segalanya jadi senyap. Yunho mematikan lampu mobil dan menurunkan atapnya. Sinar rembulan yang putih keperakan menimpa wajah mereka. Sementara angin yang bertiup semilir mempermainkan rambut mereka.
Yunho merentangkan tangan ke sandaran tempat duduk Jaejoong. Lutut Yunho menyentuh lutut Jaejoong ketika ia berputar hendak menatap Jaejoong. Yunho tidak menggeserkan lututnya. Jaejoong dapat mencium aroma parfum yang dipakai Yunho, melihat bayang-bayang kumis halus yang tumbuh. Yunho bukan anak-anak lagi, ia laki-laki dewasa. Jaejoong belum pernah berkencan, belum pernah berduaan saja dengan pria.
Menyadari Yunho tak bicara sepatah kata pun, Jaejoong melanjutkan menyedot minuman. Yunho mengamatinya dengan saksama. Jaejoong melihat Yunho memerhatikan bibirnya yang menyedot minuman. Terdengar suara keras ketika akhirnya minumannya habis. Ia menatap Yunho dengan perasaan malu.
Yunho tersenyum. "Apakah enak milk shakenya?"
"Enak sekali. Terima kasih." Jaejoong memberikan gelas kosongnya kepada Yunho, yang lalu menyelipkannya ke bawah bangku.
Ketika tegak kembali, Yunho agak memiringkan tubuh sehingga wajah mereka berhadapan. Malam itu percakapan mereka berakhir karena rasa ingin tahu yang besar. Jaejoong mengamati Yunho dengan teliti, begitu juga pria itu. Jaejoong melihat tatapan Yunho menjelajahi seluruh wajah, rambut, leher, dan dadanya, dan hal itu membuat Jaejoong merasa tubuhnya panas dan seperti dialiri perasaan nikmat yang aneh, yang membuat tubuhnya bagai melayang. Namun ada perasaan berat yang menggelayuti bagian bawah tubuhnya. Semacam hawa panas, yang tak pernah dirasakannya namun terasa nikmat. Perasaan terlarang tetapi terasa menyenangkan, perasaan yang kini mulai menjalari pembuluh nadinya.
Yunho meletakkan ibu jarinya di bibir bawah Jaejoong, menelusuri bibir bawah itu dengan jarinya yang berkuku terawat rapi. Jaejoong merasa seperti akan mati kehabisan napas. Mendadak ia merasa tidak bisa bernapas.
"Kau cantik sekali," kata Yunho dengan suara parau.
"Gomawo."
"Berapa usiamu?"
"Lima belas."
"Lima belas." Yunho memaki pelan dan memalingkan wajahnya dari Jaejoong. Namun, seakan tak mampu mengendalikan dorongan hatinya, kembali ia memandangi Jaejoong. "Aku memikirkanmu sepanjang hari sejak bertemu denganmu di hutan itu." Tangannya mengelus pipi Jaejoong sekarang, dan ibu jarinya mengelus bibir bawahnya.
"Begitukah?"
"Mmm," Yunho bergumam. "Sepanjang petang hanya kau yang ada dalam benakku."
"Aku juga memikirkanmu."
Pernyataan Jaejoong kelihatan menyenangkan hati Yunho. Ia tersenyum sambil memiringkan tubuh. "Apa yang kaupikirkan?"
Pipi Jaejoong memerah, ia merasa lega kegelapan menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena disergap perasaan malu. Untuk menghindari tatapan Yunho, Jaejoong mengarahkan pandangannya ke leher Yunho, ke bagian yang tak tertutup kemeja. "Banyak hal," jawab Jaejoong dengan suara parau, sambil mengangkat bahu, seakan yang dipikirkannya bukan hal penting.
"Banyak hal?" Yunho tersenyum. Namun itu hanya sekadar senyum sekilas, yang tidak mampu mengalihkan tatapannya dari wajah Jaejoong. "Apakah kau memikirkan..." Yunho tampak mencari kata-kata yang tepat.
"Bermesraan?" adalah kata yang muncul dalam benak Jaejoong. Itu yang dipikirkan anak ingusan ketika kencan, bukan? Bukankah itu yang dibisikkan di kelompok yeoja sebayanya, yang tidak pernah mengajaknya bergabung?
Namun ternyata bukan itu yang hendak diucapkan Yunho. Ia berkata, "Apakah kau memikirkan kita... bersama? Mungkin saling menyentuh?"
"Menyentuh?" ulang Jaejoong dengan napas sesak.
"Berciuman?"
Bibir Jaejoong membuka, tetapi tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ia tidak mendengar suara apa-apa, kecuali debar jantungnya sendiri.
"Kau pernah dicium?"
"Beberapa kali," jawab Jaejoong, berbohong. "Kau masih terlalu kecil," gumam Yunho, sambil menutup mata sejenak sebelum akhirnya membukanya kembali. "Apakah kau takut bila aku menciummu? Apakah aku boleh menciummu?"
"Aku tidak takut padamu, Yunho."
"Dan yang lain?" desak Yunho lembut sambil mengelus rambut Jaejoong.
"Aku... kurasa aku ingin kau... menciumku." "Boo..." bisik Yunho sambil bergerak mendekat. Jaejoong merasakan napas Yunho menerpa wajahnya dulu dan ia memejamkan mata. Kemudian bibir Yunho menyentuh bibirnya lembut, tak bergerak, ragu-ragu. Ketika Jaejoong tidak menarik bibirnya, Yunho memiringkan kepala, lalu menekan lebih keras. Berkali-kali bibir Yunho bertemu bibir Jaejoong, mengecup sekilas-sekilas, ciuman-ciuman kecil, yang justru membuat Jaejoong terbakar keinginan menggebu yang muncul dari dalam dirinya, sesuatu yang tidak ia ketahui namanya. Bahkan kalau ia menyebutnya sebagai "bermesraan" pun, istilah itu tidak tepat. Karena siapa pun bisa melakukan hal itu, tetapi perasaan seperti ini bukanlah perasaan yang bisa dialami setiap orang.
Yunho memegangi wajah Jaejoong dengan kedua tangannya dan menyentuhkan bibirnya yang kali ini membuka di bibir Jaejoong. Jaejoong merasakan lidah Yunho yang basah setarikan napas jauhnya dari bibirnya, kemudian lidah itu mendarat di bibirnya, menjilatinya dengan lembut.
Yunho mendesah lembut sebelum akhirnya lebih menekankan lidahnya ke bibirnya. Mata Jaejoong membelalak karena terkejut. Badannya kaku. Namun, kenikmatan yang dirasakannya karena apa yang dilakukan Yunho mengalahkan penolakan dirinya, bibirnya pun membuka. Lidah Yunho menyelinap masuk di antara bibirnya. Lidah itu menyentuh ujung lidahnya, mengelus, menjilat, lalu masuk makin jauh ke dalam mulutnya.
Ketika tangan Yunho mendekap tubuhnya erat-erat, Jaejoong mencengkeram kemeja bagian depan Yunho. Jaejoong merasakan perasaannya tak karuan, ia merasa tubuhnya limbung karena hal yang belum ia kenal, terangsang. Dorongan hendak merapatkan tubuhnya ke tubuh Yunho begitu menggebu sampai hampir tak dapat dikendalikannya. Ia menikmati tetapi sekaligus takut pada hasrat yang dibangkitkan Yunho dalam dirinya.
Yunho mundur dengan penuh sesal, mencium bibir Jaejoong yang basah dengan lembut, kemudian menjauhkan diri. Dengan berat hati ia berusaha menjaga jarak di antara mereka. Tangannya ditarik dari punggung Jaejoong, kembali diletakkan di kedua pipi Jaejoong. Mata Jaejoong masih terpejam. Saat membuka matanya yang berat, Jaejoong merasa sekujur tubuhnya seperti disergap perasaan lemas. "Kau tidak apa-apa?"
Kini, di lorong rumah sakit yang dingin ini, Jaejoong menjawab pertanyaan Yunho seperti dua belas tahun yang lalu, seperti peristiwa di malam yang sejuk itu, setelah mereka berciuman untuk pertama kalinya. "Gwenchana, Yunnie, nan gwenchana." Yunho juga tampaknya terperangkap dalam kenangan itu. Dipandanginya Jaejoong beberapa saat, sebelum akhirnya buru-buru berbalik dan berkata, "Sebaiknya kita segera berangkat."
TO BE NEXT CHAPTER
Rly. , , kim shendy, NaraYuuki, Lee Muti, toki4102, kyura, , Himawari23, Guest, Tutup Botol, wennycassiopeia, Dededeepeo, yoon HyunWoon, Kim Eun Seob, haruko2277, , leeChunnie,
