ACTOR - ACTRIS:
Kim Jaejoong (GS), Jung Yunho, Lee Sungmin(GS), Cho Kyuhyun, Kwon Boa
Dan beberapa pemain pendukung lainnya
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita
STORY BY:
Cerita, Alur, Judul, dan Plot milik SANDRA BROWN
Setting dan beberapa perubahan untuk kepentingan cerita kukerjakan sendiri
Aku gak sabar pengen ngepos part2 setelah ini, jadi hari ini aku post langsung 2 part. udah beda bab juga lo..
Masitge deuseyo…
"Cantik sekali."
"Kau juga cantik."
Tangan Sungmin yang mengelus leher anak kuda itu terhenti, matanya yang hitam teduh menatap Kyuhyun, yang bicara dengan suara sangat lembut. "Jeongmal Kyunnie? Menurutmu aku cantik?"
Ekspresi yang diperlihatkan Sungmin membuat Kyuhyun memaki-maki dirinya sendiri. Yeoja ini terlalu rapuh, menelan bulat-bulat segalanya. Seharusnya ia tidak mengungkapkan apa yang melintas dalam pikirannya. Perasaan Sungmin sangat halus, dan dapat hancur berkeping-keping dengan mudah.
Kyuhyun bangkit dari hamparan jerami yang menutupi lantai kandang kuda dengan bertumpu pada satu kakinya yang utuh. "nomu yeppo minnie," ulang Kyuhyun, menegaskan, lalu memalingkan wajah dari Sungmin dan meninggalkan kandang kuda.
Mereka harus lebih sering menjaga jarak. Sungmin tidak mengerti betapa berada di dekatnya, wangi tubuhnya, kehangatan kulitnya yang lembut, sangat besar pengaruhnya pada diri Kyuhyun. Andai gadis itu tahu apa yang dibangkitkannya dalam tubuhnya, tentu ia akan merasa takut dekat dengannya.
Kyuhyun menurunkan pelana kuda dari gantungannya di dinding. Yunho mengatakan padanya kemarin sore ia ingin berkuda pagi-pagi sekali, dan Kyuhyun ingin menyiapkan keperluan berkudanya sebaik mungkin. Ia paham apa sebabnya Yunho menunjukkan sikap tidak suka padanya secara terang-terangan. Yunho bukan orang buta. Bukan pula orang yang berperasaan tumpul. Yunho menangkap kerinduan hatinya pada Sungmin. Kyuhyun sadar, perasaan hatinya pada Sungmin sangat jelas terlihat, seterang papan iklan dengan lampu-lampu neon di sekelilingnya.
Kyuhyun tidak menyalahkan Yunho yang menaruh curiga pada dirinya. Sungmin adik kandungnya, adik yang sangat istimewa, yang membutuhkan perhatian khusus seumur hidup. Andai Kyuhyun punya saudara perempuan seperti Sungmin dalam hidupnya, ia pun akan melindunginya sebaik-baiknya seperti Yunho.
Kendati demikian, ia tetap tidak bisa berhenti mencintai Sungmin, bukan? Ia tidak mencari cinta. Ia tidak mengira dirinya bisa mencintai seseorang. Namun ternyata sekarang ia mencintai seseorang dan sangat merindukannya saat gadis itu tidak berada di sisinya. Saat ini Sungmin berdiri dekat sekali dengannya ketika ia mengoleskan sabun pelana di pelana kudanya. Setiap kali tangannya menggosok pelana dengan kain lap, ujung sikunya hampir menyentuh payudara Sungmin.
Kyuhyun berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaannya, bergulat mengusir bayangan bagaimana rasa payudara itu di telapak tangannya yang kasar atau betapa halus kulit lehernya bila disentuh bibirnya.
Sungmin, yang kelihatan agak kecewa karena Kyuhyun tidak bicara lebih lanjut perihal kecantikannya, mengelus-elus anak kuda sebagai ungkapan pamit lalu mengikuti Kyuhyun. "Kakimu sakit?"
Tanpa mengangkat muka, Kyuhyun menjawab, "Ani. wae?'
"Karena kulihat dahimu mengerenyit, seperti yang kerap kaulakukan bila kakimu sakit."
"Aku hanya berkonsentrasi pada pekerjaanku, itu saja."
Sungmin mendekati Kyuhyun. "Kalau begitu biarkan aku membantu Kyunnie."
Kyuhyun menjauhkan diri dari Sungmin, pura-pura hendak mengambil kain lap yang lain. Darahnya bergejolak. Sungmin begitu manis, sangat manis, tetapi perasaan yang ditumbuhkan gadis itu dalam hatinya jauh dari manis. Berada di dekat Sungmin membuat Kyuhyun seperti orang liar yang dibelenggu tapi berada di dekat perawan yang akan dikorbankan. "Ani. Kau tak perlu membantuku. Aku bisa menyelesaikannya dengan cepat."
"Kaupikir aku tidak bisa mengerjakan hal seperti ini, begitu? Memang, tak seorang pun menganggap aku mampu mengerjakan sesuatu."
Kyuhyun mengangkat kepala seketika dan melemparkan kain lap. "Bukan begitu, tentu saja aku yakin kau mampu."
Kyuhyun melihat kekecewaan di wajah Sungmin, penderitaan di matanya yang kelam dan bagai tak berdasar. Gadis itu menggeleng, rambutnya yang cokelat lagi halus tergerai menyentuh bahunya. "Semua orang menganggap aku tolol dan tidak berguna."
"Minnie," ujar Kyuhyun dengan suara lirih, lalu meletakkan tangan di bahu Sungmin. "Tidak pernah sama sekali aku menganggapmu begitu."
"Lalu, mengapa kau tidak memperbolehkan aku membantumu?"
"Karena ini pekerjaan yang kotor, aku tidak ingin kau terkena kotoran."
Seperti anak kecil yang minta penegasan, Sungmin melirik Kyuhyun. "Hanya itu alasannya? Jeongmal?"
"Jeongmal."
Seharusnya Kyuhyun menarik tangannya dari bahu Sungmin, tetapi ia membiarkan tangannya tetap di pundak gadis itu. Sungmin agak menengadah sehingga cahaya lampu kandang yang kekuningan menimpa wajahnya. Wajah Sungmin kelihatan seperti wajah malaikat, hanya saja matanya lebih berbinar-binar. Andai tidak mengenal Sungmin dengan baik, mungkin Kyuhyun akan mengira binar-binar mata gadis itu mengisyaratkan keinginan bermesraan.
"Aku tahu aku bukan perempuan cerdas. Tetapi aku terampil dalam beberapa hal."
"Tentu saja, kau punya kelebihan." Oh, Tuhan! Bibir gadis itu begitu lembut, agak basah, dan tampak kemerah-merahan ketika mengucapkan kata-kata itu. Betapa ingin Kyuhyun mengecupnya. Mendekapnya erat, merapatkan tubuhnya, merasakan kelembutan tubuh yang indah itu mendekap tubuhnya yang tinggi besar, penuh luka, dan tidak berbentuk. Bersentuhan dengan tubuh Sungmin bak mengoleskan obat penyembuh bagi tubuhnya yang cedera, bagi jiwanya yang terluka.
"Banyak hal yang kuamati. Seperti, Oppa yang kutahu merasa tidak bahagia. Ia memang tertawa dan berusaha kelihatan bahagia, tetapi sorot matanya memancarkan kesedihan. Ia dan Jongie tidak pernah rukun. Apakah kau menyadari hal yang sama Kyunnie?"
"Ya."
"Aku tidak mengerti apa sebabnya mereka begitu." Sungmin mengernyitkan dahi, berpikir. "Atau barangkali mereka sebenarnya saling menyukai, tetapi berusaha menyembunyikan perasaan itu, supaya orang-orang tidak menganggap mereka saling menyukai."
Kyuhyun tersenyum mendengar dugaan Sungmin. Itu pula kesimpulan yang diambilnya setelah makan siang bersama mereka hari itu. Keduanya siap bertengkar atau berkasih-kasihan. Kyuhyun merasa sikap mereka cenderung pada pilihan yang kedua. Kyuhyun mengelus dagu Sungmin. "Mungkin dugaanmu benar."
Sungmin tersenyum lalu merapatkan tubuhnya ke Kyuhyun. "Menurutmu, aku ini cerdas? Dan cantik?"
Mata Kyuhyun yang hitam mengamati wajah Sungmin. "Kau cantik."
"Kau juga tampan, Kyunnie." Dengan jari-jarinya yang mulus, semulus porselen, Sungmin mengelus pipi Kyuhyun yang kasar, kemudian jari telunjuknya menelusuri pipi Kyuhyun sampai ke ujung dagu.
Kyuhyun merasakan sentuhan tangan Sungmin tidak sekadar pada wajahnya saja. Sentuhan itu seperti arus listrik, mengalir sampai ke perutnya. Kyuhyun menarik napas dalam-dalam, dan agak menjauhkan diri, menurunkan tangannya dari bahu Sungmin. "Jangan," cegah Kyuhyun tanpa bermaksud menyinggung perasaan Sungmin.
Gadis itu langsung menjauhkan diri, seperti orang habis ditampar.
"Oh Tuhan, Minnie, mianhe." Kyuhyun menjulurkan tangan, mengelus gadis itu untuk menghiburnya, tetapi ia tidak mampu melakukan hal itu. Sungmin menutup wajahnya dengan telapak tangan dan menangis. "Tolong, jangan menangis."
"Aku memang orang yang menakutkan." . "Menakutkan? Kau sama sekali tidak menakutkan minnie." Tak pernah Kyuhyun merasa perasaannya tersayat-sayat seperti saat ini. Apa beda dirinya dengan bajingan, bila ia menyentuh gadis lugu seperti Sungmin, meskipun ia juga kesal bila tidak menyentuhnya. Menunjukkan perasaan kasihnya pada Sungmin sama artinya dengan bunuh diri. Yunho akan membunuhnya bila mengetahui hal itu. Tapi bagaimana ia bisa tega melukai hati Sungmin dengan cara seperti ini, membuat Sungmin merasa ditolak, tidak dikasihi, tidak diinginkan? "Kau orang yang sangat baik," ucap Kyuhyun. "Kau orang paling baik yang pernah kukenal."
"Ani, aku tidak baik." Sungmin mengangkat wajahnya yang masih berlinang air mata, menatap Kyuhyun. "Aku menyayangi Oppa sepanjang hidupku. Kupikir, bila ia pulang ke rumah lagi, semuanya akan beres. Kuanggap ia orang paling kuat, laki-laki paling baik di dunia. Tetapi ketika sudah di rumah, ternyata ia tidak demikian." Sungmin menjilat bibirnya. "Ternyata, kaulah pria itu." Payudara Sungmin yang tidak terlalu besar berguncang di balik baju musim panasnya. Air mata masih terus menitik jatuh di pipinya. "Kyunnie, aku lebih menyayangimu dibanding Oppa!"
Sebelum Kyuhyun sempat bereaksi, Sungmin sudah menjatuhkan tubuhnya ke tubuh Kyuhyun, mencium bibirnya, lalu lari keluar dari kandang kuda.
Kyuhyun merasakan jantungnya berdetak cepat, debarannya terasa sampai ke gendang telinga. Ia merasa bahagia sekaligus sedih. Tuhan, apa yang harus ia lakukan menghadapi hal seperti ini?
Tak ada. Jelas, tidak ada.
Kyuhyun mematikan lampu kandang kuda, lalu masuk ke tempat tinggalnya yang terawat rapi tapi sepi, yang terletak di bagian belakang. Ia mengempaskan diri di ranjangnya yang kecil, menutupi wajahnya dengan lengan. Ia tidak pernah merasa seputus asa ini sejak siuman di rumah sakit angkatan darat waktu itu dan mendapati ia akan pulang dengan... salah satu kaki yang tinggal separo.
"Oh, maafkan aku, Yunho. Aku tidak tahu kau ada di sini."
"Tidak apa-apa," jawabnya dalam keremangan.
"Ini kan rumahmu."
Jaejoong membiarkan pintu kawat kasa di belakangnya menutup dan duduk di kursi goyang. Ia menarik napas, menghirup dalam-dalam udara malam yang sejuk. Ia memejamkan mata-nya yang letih sambil menyandarkan kepala pada sandaran kursi goyang. "Ini rumahmu, Yunho. Aku hanya tamu selama—"
"Selama ayahku masih hidup."
"Ya."
Yunho tidak menanggapi. Ia terlalu letih untuk berargumentasi. "Kau tidak kembali ke rumah sakit."
"Aku sudah menelepon. Akhirnya mereka menyuntiknya agar ia tidur. Kata dokter, aku tidak perlu datang. Siwon tidak mengenali siapa pun. Menurutku akan lebih baik bila aku tinggal di rumah, banyak urusan pabrik yang harus diselesaikan. Sebentar lagi akan panen Ginseng, segalanya harus dipersiapkan."
"Aku tidak suka berada di rumah sakit saat Siwon sadar dan menyadari telah kehilangan waktunya sehari."
Jaejoong mengelus dahinya seakan kepalanya sudah sakit akibat teriakan marah yang akan dilontarkan Siwon. "Aku juga."
"Seringkah ia memperlakukanmu seperti hari ini?"
"Ani. Tak pernah. Aku pernah melihat ia memarahi orang-orang. Diam-diam aku menemui dan menenangkan mereka. Hari ini pertama kalinya aku menjadi sasaran kemarahannya."
"Kalau begitu kau beruntung," kata Yunho. "Ia selalu bersikap begitu pada ibuku, selalu, bahkan hal kecil sekalipun bisa menyulut kemurkaannya. Keterlaluan" Yunho meninju lengan kursi "Ada saat aku ingin sekali menghantam mulutnya yang jahat itu sekuat-kuatnya. Bahkan ketika masih kecil pun, aku sangat membencinya karena membuat ibuku tidak bahagia padahal ibuku sudah memberikan segalanya padanya. Segalanya." Yunho melirik Jaejoong. Jaejoong mengira Yunho malu karena kelihatan sangat emosional di hadapannya. "Mau kubuatkan minum?" tanya Yunho pendek.
"Tidak, terima kasih."
Yunho menarik napas dalam kegelapan. "Mian, aku lupa. Kau tidak suka minuman keraskan?"
"Meski dibesarkan di rumah Kim Hyunjoong? Tidak," jawab Jaejoong sambil tertawa kecil. "Aku tidak suka minuman beralkohol."
"Kalau begitu aku juga tidak minum." Yunho bersandar di salah satu pegangan kursi yang didudukinya dan meletakkan gelas di lantai.
"Jangan begitu. Aku tidak keberatan kau minum. Aku tahu kau bukan peminum seperti ayahku."
Komentar itu terlalu pribadi. Jaejoong menatap Yunho kalau-kalau pria itu menangkap sesuatu dalam kata-kata yang baru saja diucapkannya. Mata Yunho yang keemasan beradu pandang dengan mata Jaejoong dalam kegelapan yang memisahkan mereka. Jaejoong lebih dulu membuang muka.
"Kata Boa, appamu sudah meninggal," ujar Yunho akhirnya. Ia sama sekali tidak menyentuh gelas yang diletakkannya di lantai.
"Ya. Suatu pagi mereka menemukannya tewas di dekat sungai. Katanya, serangan jantung. Kurasa akhirnya ia berhasil juga meracuni dirinya."
"Eommamu?"
"Ia meninggal beberapa tahun yang lalu." Tak terlihat emosi apa pun terpancar di mata Jaejoong, karena ia memandang jauh ke depan. Usia ibu Jaejoong belum lagi lima puluh tahun. Tetapi ia bungkuk dan keriput ketika akhirnya dengan penuh syukur meninggal karena letih dan putus asa.
Yunho bangkit dari kursi, lalu duduk di anak tangga paling atas, yang lebih dekat dengan tempat duduk Jaejoong. Sambil menyilangkan kaki, Yunho memiringkan tubuh dan bertumpu pada siku. Pundaknya menyentuh kerangka kursi goyang, hampir menyentuh betis Jaejoong. "ceritakan padaku, Boo. Apa yang terjadi setelah peristiwa musim panas itu, setelah aku pergi?"
Betapa ingin Jaejoong menjulurkan tangan dan membelai rambut Yunho, menyibakkan rambut hitam tebal itu dengan jemarinya. Tubuh Yunho tinggi lagi ramping, sifat maskulinnya tetap terpancar biarpun ia dalam keadaan diam.
"Aku menyelesaikan sekolahku, dan dapat beasiswa untuk melanjutkan ke universitas."
"Beasiswa? Bagaimana bisa?" Seketika Yunho menoleh ke arah Jaejoong dan kepalanya hampir saja mengenai tulang kering Jaejoong. Segera Yunho mundur. "Entahlah."
Yunho menegakkan tubuh dan memandang Jaejoong dengan tatapan mata penuh tanda tanya. "Entahlah?"
Jaejoong menggeleng. Ia tidak dapat memusatkan pikiran. Pikirannya berserak kacau balau bak daun-daun yang berguguran ditiup angin musim gugur ketika disentuh Yunho. Kini Yunho duduk sambil bertekuk lutut, kedua tangannya memeluk lutut. Jari-jari tangan kiri Yunho yang tergantung seperti hendak terjulur menyentuh kaki Jaejoong.
Yunho menunggu penjelasan Jaejoong, sehingga Jaejoong terpaksa harus memusatkan pikiran dan memberikan jawaban, membuatnya tergagap ketika mulai menjawab. "Suatu hari, Kepala Sekolah memanggilku ke kantor. Itu beberapa hari sebelum pengumuman kelulusan. Kepala Sekolah bilang aku dapat beasiswa dari seseorang yang tidak mau disebutkan namanya. Orang itu akan menanggung semua biaya kuliahku. Bahkan aku dapat uang tambahan lima puluh dolar sebulan. Sampai hari ini aku tidak tahu siapa orang yang memberikan beasiswa itu padaku."
"Ya, tuhan," ujar Yunho sambil menahan napas. Boa pernah menceritakan padanya di salah satu suratnya yang biasanya berisi gosip, tentang 'anak perempuan keluarga Kim' yang akan kuliah ("Kau barangkali tidak ingat padanya. Ia beberapa tahun di bawahmu. Anak Kim Hyunjoong. Begitulah, gadis itu ke kota dan melanjutkan sekolahnya, semua orang heran bagaimana ia mampu membiayai kuliahnya"). Lama sesudah itu Yunho mendapat surat dari Sungmin ("Appa menceritakan padaku hari ini, ada gadis yang bernama Kim Jaejoong menikah dengan teman kuliahnya. Appa bilang, dulu gadis itu tinggal di sini, dan katanya kau mungkin mengenalnya").
"Setelah meraih gelar sarjana, aku kembali ke kota ini," lanjut Jaejoong.
"Pernikahanmu pasti tidak bertahan lama."
Tatapan mata Yunho yang penuh selidik membingungkan Jaejoong. "Pernikahan?"
"Dengan teman kuliahmu."
Jaejoong menatap Yunho, seakan Yunho sudah linglung. "Aku tak mengerti arah pembicaraanmu, Yunho. Pergi kencan pun aku tak pernah, apalagi menikah. Agar bisa dapat beasiswa terus, aku harus mempertahankan nilai kuliahku rata-rata B. Aku menghabiskan waktu dengan terus-menerus belajar. Bagaimana kau bisa mengira aku sudah menikah?"
Yunho juga terkejut. Mungkinkah Sungmin mengarang-ngarang cerita itu? Tidak. Sungmin tidak mengenal Jaejoong, setelah bekerja di perusahaan Siwon baru ia mengenalnya.
Siwon.
Sepintas kecurigaan menyelinap di benak Yunho. Apa yang melintas di benaknya terlalu mengerikan, bahkan untuk dipikirkan sekalipun. Tetapi bila berkaitan dengan Siwon...
"Aku dengar kau menikah. Aku lupa siapa yang menyampaikan kabar itu padaku."
"Siapa pun orang itu, ia keliru. Aku tidak pernah menikah selagi kuliah, aku hanya menikah..."
"Dengan appaku."
Setelah terdiam lama, Jaejoong menceritakan apa yang terpendam dalam hatinya selama bertahun-tahun. "Apa yang terjadi antara kau dan Ahra?"
"Perang Korea Utara dan Selatan," jawab Yunho sambil tertawa.
TO BE NEXT CHAPTER
otte? tinggalkan jejak ne...
