ACTOR - ACTRIS:
Kim Jaejoong (GS), Jung Yunho, Lee Sungmin(GS), Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kwon Boa
Dan beberapa pemain pendukung lainnya
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita
STORY BY:
Cerita, Alur, Judul, dan Plot milik SANDRA BROWN
Setting dan beberapa perubahan untuk kepentingan cerita kukerjakan sendiri
Cerita sebelumnya…
"Aku dengar kau menikah. Aku lupa siapa yang menyampaikan kabar itu padaku."
"Siapa pun orang itu, ia keliru. Aku tidak pernah menikah selagi kuliah, aku hanya menikah..."
"Dengan appaku."
Setelah terdiam lama, Jaejoong menceritakan apa yang terpendam dalam hatinya selama bertahun-tahun. "Apa yang terjadi antara kau dan Ahra?"
"Perang Korea Utara dan Selatan," jawab Yunho sambil tertawa.
.
.
.
Masitge deuseyo…
.
.
Jaejoong tidak memberi tanggapan sepatah kata pun. Ia duduk dengan sikap tegang, jari-jarinya bertaut. "Sejak awal sudah berantakan. Ia tidak menginginkan bayi itu. Ia manfaatkan kehamilannya untuk menjeratku agar menikahinya, dan setelah Junsu lahir, kami mengurus perceraian."
"Kau pernah melihat anak itu? Junsu?" "Ani. Tidak pernah setelah kami berpisah," jawab Yunho. Ekspresi wajahnya sulit ditebak, tapi dari nada bicaranya jelas ia menutup topik pembicaraan. Sikapnya itu menyakitkan hati Jaejoong, mengetahui Yunho tidak mencintai anaknya, anak satu-satunya. Bisa-bisanya ia punya perasaan seperti itu? Bertahun-tahun setelah kenangan musim panas yang indah tersebut, Jaejoong bermimpi punya anak dari Yunho. Bayi itu akan jadi bukti istimewa yang ditinggalkan Yunho buat dirinya, bagian diri Yunho untuk dicintai karena Yunho tak tinggal di kota itu lagi.
"Akhirnya kami bercerai, perceraian yang memakan waktu bertahun-tahun. Dan aku lebih memusatkan perhatian pada bisnis penerbangan yang baru kurintis."
"Aku bangga padamu, Bear," komentar Jaejoong dengan lembut dan tulus, membuat Yunho menoleh.
Senyumnya getir. "Ya, tapi aku kerja seperti orang gila supaya bisa mencapai target. Itulah satu-satunya hal yang memenuhi benakku dan menghindarkan aku memikirkan... hal-hal lain."
"Hal lain? Rumah?"
Lama mata Yunho tertuju pada Jaejoong. Sorot matanya tajam menusuk. "Ya," jawabnya pendek lalu berdiri. Dengan membelakangi Jaejoong, Yunho menyandarkan tubuhnya pada salah satu pilar rumah. "Jung mansion. Sungmin. Appa. Pabrik Ginseng. Geumsan kampung halamanku. Sebetulnya aku tidak pernah ingin meninggalkannya."
"Kau mempunyai kehidupan baru di Jepang..."
"Ya." Hanya itu yang dijawab Yunho. Tepat sekali, ingin ia menambahkan. Dulu rumahnya terlalu baru, terlalu mewah. Tidak punya karakter atau kelembutan. Pesta-pestanya terlalu kasar.
Para perempuannya... Para perempuannya terlalu glamor, terlalu bergaya kosmopolitan, penuh kepura-puraan. Ia bisa masuk ke balik topeng mereka dan begitu juga sebaliknya.
Hidup yang dijalaninya kini penuh kepalsuan. Bukan berarti ia tidak bangga pada bisnis penerbangan Eastar Jetnya. Ia bangga. Perusahaan penerbangan itu jelas merupakan prestasi yang patut dibanggakan, karena untuk mencapai sukses seperti sekarang dibutuhkan kerja keras bertahun-tahun.
Tetapi bukti kesuksesan tersebut tak punya arti apa-apa bagi dirinya. Akar kehidupannya ada di sini, di kota ini, di tanah yang amat kaya ini, di rumah ini. Kehidupan yang lainnya hanyalah kepalsuan. Ia tidak pernah memaafkan appanya yang membuatnya kabur dari rumah ini. Tidak akan pernah.
Mendadak ia berbalik menghadap Jaejoong. "Mengapa kau menikahinya?"
Jaejoong hampir takut melihat kemarahan yang terpancar di mata Yunho. "Aku tak mau membicarakan kehidupan pribadiku bersama appamu denganmu, Yunho."
"Aku tidak ingin tahu kehidupan pribadimu. Aku hanya bertanya, mengapa kau menikahinya. Bahkan Ia pantas menjadi kakekmu, Jae!" Yunho maju, mencondongkan badan ke dekat Jaejoong, kedua tangannya bertumpu pada pegangan kursi goyang, mengurung Jaejoong yang berada di tengahnya. "Wae? Mengapa kau kembali ke kota ini setelah lulus jadi sarjana? Tak ada gunanya kau tinggal di sini."
Jaejoong merasa lehernya kaku karena medongak agar bisa menatap Yunho. "Ibuku masih hidup. Aku kembali, dapat pekerjaan di bank, dan menabung selama beberapa bulan agar bisa keluar dari rumah yang mirip kandang babi itu, kemudian mengontrak rumah di kota. Aku berjumpa ayahmu di bank. Ia sangat ramah padaku. Ketika ia menawarkan pekerjaan dipabrik pengolahan ginsengnya, aku terima. Ia melipat gandakan gajiku, dibandingkan dengan gajiku di bank, yang membuat aku bisa memakamkan ibuku dengan terhormat."
Napas Yunho memburu, wajahnya memerah. Rambutnya yang hitam tergerai di dahinya. Sejak dulu kemejanya tidak pernah ia kancing semuanya. Begitu juga sekali ini. Mata Jaejoong sejajar dengan dadanya yang bidang. Yunho sungguh pria sejati. Ia tampak sangat jantan, sangat menarik sekaligus berbahaya. Jaejoong ingin memejamkan mata supaya tidak melihat semua daya tarik yang ada pada diri Yunho.
"Setelah beberapa lama aku mulai datang ke Jung mansion untuk bekerja di sini, bukan di pabrik."
"Aku yakin kau pasti senang sekali, diundang ke Jung Mansion."
"Ya!" seru Jaejoong defensif. "Kau tahu betapa aku sangat menyukai rumah ini. Untuk ukuran gadis lugu yang setiap hari harus berjalan kaki menembus hutan, rumah ini seperti istana dalam dongeng. Aku tak menyangkal hal itu, Yunho."
"Lanjutkan. Aku terpesona. Apakah appaku seperti Pangeran Tampan dalam dongeng khayalanmu?"
"Sama sekali tidak. Jauh dari itu. Setelah ibuku meninggal, aku lebih banyak menghabiskan waktuku di sini. Ayahmu menyerahkan hampir semua urusan bisnis padaku. Minnie dan aku menjadi sahabat. Siwon yang mendukung persahabatan kami, karena Minnie tidak punya teman sebaya."
Tergesa-gesa Jaejoong membasahi bibir. Yunho menatap gerakan lidah Jaejoong dengan penuh gairah. "Segalanya berlangsung perlahan-lahan. Rasanya hubungan kami sudah sewajarnya setelah aku banyak menghabiskan waktu di rumah ini. Ketika appamu melamarku untuk menjadi istrinya, aku meng-iyakan. Ia bisa mewujudkan semua mimpiku, yang tak mungkin bisa kudapat dengan cara lain."
"Nama baru."
"Ya."
"Pakaian."
"Ya."
"Uang.
"Ya."
"Rumah bagus."
"Rumah yang selalu kudambakan."
"Untuk semua itukah kau jual dirimu pada appaku?" bentak Yunho.
"Dalam beberapa hal, kurasa demikian." Reaksi yang ditunjukkan Yunho membuat Jaejoong merasa dirinya seperti manusia tidak berharga. Namun ia berusaha membela diri. "Aku ingin menjadi sahabat Minnie. Aku ingin menolong appamu."
"Jadi motivasinya pengorbanan."
"Ani," kilah Jaejoong sambil menunduk. "Aku ingin tinggal di sini. Aku ingin orang menghormatiku karena aku istri Siwon. Ya, aku menginginkan semua itu. Aku dibesarkan di rumah gubuk, hidup susah setiap hari, mengenakan pakaian rombeng sementara gadis-gadis sebayaku memakai baju dan rok cantik. Aku harus bekerja sepulang sekolah setiap hari, juga di hari Minggu, sementara para gadis lain bisa pergi ke Dairy Mart, menonton kompetisi menembak, sedangkan aku hanyalah anak pemabuk. Kau takkan bisa memahami semua itu, Jung Yunho!"
Sambil menyebut nama Yunho, Jaejoong bergerak hendak bangkit, tetapi Yunho bergeming dari tempatnya. Tubuh Jaejoong berhadapan dengan Yunho. Yunho mencengkeram lengan Jaejoong. Napas keduanya memburu, keduanya seperti habis berlari cepat.
Jaejoong tidak mau mengangkat kepalanya dan menatap Yunho. Bila berbuat begitu, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selanjutnya. Maka pandangannya hanya diarahkannya sampai ke bagian lekukan tenggorokan Yunho yang berbentuk V, mengamati denyut nadinya yang cepat. Jaejoong merasakan tubuh bagian bawahnya bergetar, lemas karena gairah. Bibirnya gemetar ketika mengucapkan kata-kata, "Tolong, biarkan aku lewat, Yun, kumohon."
Yunho tidak memedulikan permintaan Jaejoong. Ia malah membenamkan wajahnya di leher Jaejoong. Seperti orang yang tak berdaya, Jaejoong menengadahkan leher. Bibir Yunho menciumi lehernya, di bagian depan, di bagian belakang, meninggalkan uap basah yang diembuskan napasnya, yang menggelitik dan menggairahkan Jaejoong.
"Meski tahu kau istri ayahku, tahu alasan kau menikahinya, mengapa aku tetap menginginkan dirimu?" Dengan gerakan makin liar karena dipenuhi perasaan putus asa, Yunho menciumi sisi lain leher Jaejoong. Jaejoong mendongakkan kepalanya, membiarkan Yunho menciuminya.
Dengan lemah Jaejoong melawan respons dirinya sendiri, "Tidak, tidak, Yunho, ini tidak boleh."
"Aku sangat merindukanmu sampai sakit rasanya." Yunho terus menciumi leher Jaejoong dengan penuh gairah. Bahkan giginya menggigit-gigit kecil. "Aku menginginkanmu. Wae, mengapa kau orangnya, Waeyo?"
Jaejoong mengerang. "Oh, Tuhan, kumohon..." gumamnya sambil menarik napas. Yang paling diinginkan Jaejoong saat itu, lebih daripada apa pun, adalah memasrahkan diri pada Yunho. Ia membutuhkan Yunho sebagaimana Yunho membutuhkannya, untuk menggantikan tahun-tahun penuh kepedihan yang harus mereka jalani. Dalam beberapa menit yang sangat berharga itu, mereka ingin melupakan segalanya, kecuali diri mereka berdua.
Namun hal itu tak mungkin dilakukan. Kesadaran akan hal yang tak mungkin itu memberikan kekuatan bagi Jaejoong untuk menahan letupan emosinya dan kembali bergulat untuk menjauhkan diri dari Yunho.
Secepat tangannya memeluk Jaejoong, secepat itu pula Yunho melepaskan cengkeraman dan menjatuhkan tangannya di kedua sisi badannya. Ia melangkah mundur, napasnya memburu dan cepat. Buru-buru Jaejoong berjalan ke pintu depan.
"Boo." Panggilannya menghentikan langkah Jaejoong dan seperti perintah yang menyuruhnya membalikkan badan. "Aku selalu sulit menerima hal-hal yang tidak kusukai. Aku tidak berhak melukaimu dengan cara itu. Seharusnya aku tidak ikut campur."
Sosok Yunho menjadi kabur karena air mata yang merebak di matanya. Jaejoong mengerti, betapa Yunho mengorbankan keangkuhan dirinya untuk mengatakan hal itu. Jaejoong melempar senyum lembut, senyum yang penuh makna, yang artinya tak mungkin diungkapkan dengan kata-kata. "Betulkah begitu, Yun?" ujar Jaejoong tenang. Kemudian ia masuk dan menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Jaejoong berbaring di ranjang dengan pakaian lengkap karena malas mengganti pakaian, menatap langit-langit. Merenung. Ia tidak tahu apakah besok ia berharap bertemu Yunho lagi atau tidak. Tetapi Yunho ada di rumah...
.
.
"Hai."
"Kau Sedang apa Yun?"
"Memancing." Yunho memiringkan kepala ke arah tangkai yang mencuat di permukaan lumpur di tepi sungai. Tali pancing tampak bergetar di dalam air. Yunho memang tidak terlalu serius memancing. "Kau lebih awal dari kemarin."
Wajah Jaejoong memerah, ia memalingkan wajah dari namja dengan senyum yang amat menawan itu. Ketika keluar rumah setengah jam lebih awal, Jaejoong mengatakan pada dirinya bahwa alasan kepergiannya bukanlah karena kemungkinan Yunho ada di hutan dan ia akan punya waktu untuk bercengkerama bersama pria itu. Jaejoong berusaha tampil sebaik-baiknya, memakai rok dan blus yang terbaik, menyisir rapi rambutnya setelah ia mencucinya sampai kulit kepalanya terasa geli, memeriksa kuku-kuku tangannya.
la harus lari dalam kegelapan hutan menuju rumah setelah turun dari mobil Yunho kemarin malam. Yunho menciumnya. Setelah itu Yunho bersikap lembut padanya, menanyakan apakah ia baik-baik saja. Namun ia tidak mengira akan berjumpa lagi dengan Yunho.
Ternyata sekarang Yunho ada di sini, duduk di bawah pohon dengan mengenakan celana jins pendek dan kaus tanpa lengan. Kelihatan sangat percaya diri dan tampan seperti bintang film. Otot-otot tangan dan kakinya yang atletis tampak menonjol. Bulu-bulu halus di tangan dan kaki Yunho memesona Jaejoong, tetapi setelah memandanginya beberapa saat, perutnya terasa seperti diaduk-aduk.
"Aku minta Boa, pengurus rumah kami, membuatkan beberapa potong sandwich. Kau suka daging ayam asap?"
"Entahlah. Aku belum pernah mencobanya."
"Hmm, sekarang kau akan mencobanya," kata Yunho sambil tersenyum. Ia menggelar tikar di rumput dan meminta Jaejoong duduk. Kemudian ia membuka keranjang dan menyodorkan sepotong sandwich yang dibungkus plastik pada Jaejoong. Mereka mengobrol sambil makan.
"Apakah kau akan mulai kerja di pabrik? Omong-omong, daging ayam ini enak juga."
"Aku senang kau menyukainya." Yunho bersandar di batang pohon sambil mengunyah. "Kurasa begitulah," jawabnya sambil menerawang. "Bila appa dan aku bisa sepakat dalam beberapa hal." Jaejoong ingin menanyakan hal apa saja, tetapi tidak jadi. Ia tidak mau Yunho berpikir ia ikut campur urusan Yunho.
Namun Yunho meliriknya, dan melihat sikapnya yang mendengarkan dengan saksama, ia melanjutkan, "Kau tahu, appaku tidak ingin menambahkan modal ke pemintalan agar mendapat untung lebih banyak. Ia sudah puas dengan apa yang didapatnya dari pabrik sekarang. Padahal banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan, memperbarui, menjadikan tempat bekerja yang lebih nyaman untuk para karyawan. Aku belum berhasil meyakinkannya bahwa bila ia menambahkan modal lagi ke pabriknya itu sekarang, nantinya ia akan memanen hasilnya dalam jangka waktu panjang."
"Mungkin kau harus mengalah dalam beberapa hal pada awalnya."
"Mungkin juga," jawab Yunho, ragu-ragu. Ia memasukkan tangan ke keranjang, mengeluarkan sekaleng minuman dingin. Ia mengedipkan mata pada Jaejoong. "Aku ingin sekali minum bir dingin, tetapi takut tertangkap basah meminumnya bersama gadis di bawah umur seperti dirimu. Aku bisa dipenjara."
Andai tertangkap basah, mereka jelas takkan mencemaskan apa yang sedang mereka minum, keduanya menyadari hal itu. Mereka selesai makan siang dan dengan rapi Jaejoong membantu Yunho memasukkan makanan yang tersisa ke keranjang. Jaejoong bersandar di batang pohon, menggantikan Yunho. Yunho berbaring di sampingnya sambil menopang kepalanya dengan tangan. Ia memandangi Jaejoong.
"Apa yang sedang kaupikirkan?" tanyanya.
Jaejoong bertemu pandang dengannya. "Eommamu."
"Eomma?" Nada terkejut dalam suara Yunho tak bisa disembunyikannya.
"Aku ikut sedih mendengarnya sudah meninggal, Bear. Ia yeoja yang sangat baik."
"Kapan kau bertemu eommaku?"
"Tidak pernah, tetapi ia sesekali ke Hanbang kafe. Aku selalu menganggap ia perempuan yang... yang paling rapi yang pernah kukenal."
Yunho tertawa. "Ya, memang. Aku tidak pernah melihat eommaku dalam keadaan tidak rapi."
"Ia juga cantik, dan selalu berpakaian indah." Ekspresi Jaejoong melembut. "Ia meninggal karena apa, bear?"
Yunho mengamati tepi rok Jaejoong, jarinya menelusuri sulaman pada pinggir rok itu. "Patah hati," jawab Yunho pelan.
Jaejoong melihat kepedihan di wajah Yunho, membuat perasaan Jaejoong tersentuh. Ingin ia merebahkan kepala Yunho di dadanya, menghiburnya, mengelus rambutnya. "Bagaimana bisa orang yang tinggal di rumah seperti rumahmu patah hati?"
Yunho tidak menanggapi pertanyaan Jaejoong, ia malah balik bertanya. "Kau suka rumahku?" Mata Jaejoong berbinar. "Itu rumah paling indah di dunia," jawab Jaejoong kagum dan Yunho tertawa. Jaejoong memerah. "Yah, paling tidak, itu rumah paling indah yang pernah kulihat."
Yunho kelihatan terkejut. "Kau pernah masuk?"
"Oh, tidak, tidak pernah. Tetapi aku sering melewati rumahmu. Aku suka berdiri memandanginya. Aku bersedia melakukan apa pun untuk bisa tinggal di rumah seperti rumahmu." Mata Jaejoong menerawang jauh. "Kau mungkin berpikir aku sinting."
Yunho menggeleng. "Aku juga suka rumahku. Aku juga tidak pernah bosan memandanginya. Suatu hari nanti kuundang kau ke rumah."
Mereka berdua tahu Yunho tidak akan melakukannya, dan selama beberapa saat kemudian mereka tidak sanggup berpandangan. Akhirnya Jaejoong berkata, "yodongsaengmu cantik sekali. Aku pernah melihatnya dengan eommamu beberapa kali."
"Namanya Sungmin."
"Aku tak pernah melihatnya di sekolah. Apakah ia pergi ke sekolah khusus?"
Yunho mematahkan sebatang rumput dan menggigiti batangnya. Giginya rata dan putih sekali. "Ia bersekolah di Sekolah Luar Biasa. Ia tidak sepenuhnya terbelakang, tetapi perkembangan otaknya lambat. Ia tidak bisa belajar secepat anak yang lain."
Pipi Jaejoong terasa panas. "Aku... mianhe bear... aku tidak bermaksud..."
"Hei," ujar Yunho sambil menarik tangan Jaejoong. "Tidak apa-apa. Sungguh. Sungmin gadis yang menakjubkan. Aku sangat mencintainya."
"Beruntung sekali ia punya oppa sepertimu."
Kembali Yunho menopang kepalanya dengan tangan dan melemparkan pandangan nakal pada Jaejoong. Sinar matahari menimpa lentik bulu matanya yang hitam. "Begitukah?"
"Ya."
Keduanya hanya saling pandang ketika tak ada kata-kata lagi yang perlu diucapkan. Mata Yunho tertuju pada tangan Jaejoong yang diletakkan di pahanya. Diambilnya, dibalik dan diamatinya garis-garis tangan pada telapak tangan itu. Telunjuk Yunho menelusuri tangan Jaejoong mulai dari telapak sampai ke lekukan tangan yang paling sensitif. Sentuhan tangan Yunho membuat sekujur tubuh Jaejoong menggelenyar. Dadanya bergemuruh tak menentu. Ia heran merasakan payudaranya tiba-tiba menegang.
"Aku harus pergi," katanya dengan napas memburu.
"Aku tidak ingin kau pergi," sahut Yunho dengan suara parau. Tatapannya perlahan bertemu pandangan Jaejoong. "Aku berharap kita berdua bisa seharian di sini, seperti ini, mengobrol."
"Aku yakin kau punya banyak teman untuk mengobrol. Mereka bisa ngobrol denganmu, kan?"
"Mereka sangat suka bicara," jawab Yunho. "Tak ada yang suka mendengarkan, hanya mendengarkan, seperti yang kaulakukan, Boo."
Sambil memandang Jaejoong dengan bola matanya yang keemasan, perlahan Yunho berdiri. Tangannya menepis rambut Jaejoong ke belakang leher yang jenjang. Ditariknya Jaejoong merapat ke tubuhnya. Jaejoong tidak menolak sedikit pun sampai akhirnya bibir Yunho menyentuh bibirnya. Keduanya terhanyut, saling mendesah nikmat.
Bibir Yunho. sama lembutnya dengan malam kemarin, tetapi karena Jaejoong memberi respons, Yunho jadi langsung bergairah. Ciumannya makin lama makin panas.
Jaejoong hanyut dalam arus hasrat menggebu Yunho. Jiwanya menggelora tidak menentu, terperangkap dalam gairah, keharuman tubuh, sentuhan tubuh Yunho pada tubuhnya. Menit berikutnya, Jaejoong berbaring tertindih paha Yunho yang telanjang, sementara Yunho membungkuk di atas tubuh Jaejoong. Lidahnya menjelajahi mulut Jaejoong dengan penuh gairah sementara jari-jari Jaejoong mencengkeram rambut Yunho.
Yunho mengangkat kepalanya, terengah-engah, lalu kembali menghujani Jaejoong dengan ciuman hangat. "Boo, hentikan aku, katakan jangan. Jangan biarkan aku melakukannya." Yunho menarik kerah blus Jaejoong ke bahunya, lalu menyelipkan tangannya ke balik blus itu. Kulit Jaejoong terasa hangat dan halus tersentuh telapak tangannya. Ia mempermainkan tali bra Jaejoong. Ujung jarinya mengelus dada Jaejoong, dan ia mendesah. "Kau masih di bawah umur. Masih anak-anak. Ya Tuhan, tolong. Kau belum cukup umur untuk tahu lebih jauh, tetapi aku boleh. Kita bermain api, Sayang. Hentikan aku. Tolonglah." Kembali Yunho menciumi Jaejoong, lama.
Keresahan merayapi perasaan Jaejoong. Kakinya bergerak-gerak meronta. Dadanya berdebar-debar, ia ingin menutupinya dengan tangannya. Dengan tangan Yunho. Jaejoong melingkarkan tangannya di leher Yunho.
Namun Yunho menarik tubuhnya, menarik napas, memejamkan mata rapat-rapat. "Tidak boleh diteruskan, Boo. Kalau tidak kita hentikan, segalanya akan tak terkendali. Kau mengerti apa yang kumaksud?"
Seperti orang tolol, Jaejoong mengangguk, berharap Yunho kembali memeluknya, menciuminya lagi, menyentuh tubuhnya di bagian yang dirasakannya membengkak dan hangat.
Yunho membantu Jaejoong berdiri. Jaejoong bergelayut di badan Yunho dan pria itu mendekapnya erat, membelai punggungnya, membisikkan kata-kata manis di balik rambutnya. Tanpa malu-malu, lengan Jaejoong memeluk pinggang Yunho. Ketika Yunho menjauhkan tubuh Jaejoong darinya, senyumnya tampak getir. "Aku takkan pernah memaafkan diriku bila kau dipecat dari pekerjaanmu," bisik Yunho.
"Omo!" ujar Jaejoong, sambil memukul-mukulkan telapak tangan ke pipinya yang memerah. "Jam berapa sekarang?"
"Kau masih punya waktu bila pergi sekarang."
"Sampai jumpa," kata Jaejoong sambil memasukkan blusnya kembali ke rok dan menggelengkan kepala untuk merapikan rambutnya.
Yunho menggenggam tangannya. "Aku tidak bisa menjemputmu nanti malam."
"Aku juga tidak berharap begitu, Bear," jawab Jaejoong polos.
"Aku ingin, tetapi ada yang harus kulakukan nanti malam."
"Tidak apa-apa. Jeongmal." Jaejoong mulai melangkah. "Gomapta untuk makan siangnya." Sambil berbalik, ia menghilang di balik pepohonan. Yunho mengejarnya.
"Boo!" Yunho memanggilnya dengan nada penuh wibawa, membuat Jaejoong menghentikan larinya dan berbalik.
"Ye?"
"Aku tunggu kau besok. Di sini. Oke?"
Ekspresi Jaejoong yang berseri-seri bersaing dengan kecerahan sinar matahari ketika ia tersenyum pada Yunho. "Ne," jawabnya sambil ter-tawa. "Ya... ya... ya..."
Yunho menemui Jaejoong keesokan harinya, sehari setelah itu dan hari-hari selanjutnya, hampir setiap hari dalam beberapa minggu berturut-turut. Bila sempat, Yunho menjemput Jaejoong dari tempat kerja dan mengantarnya sampai ke dekat rumah.
Jaejoong memiringkan tubuh dan memandang bulan yang memancarkan sinarnya di antara dahan pepohonan di luar jendela. Betapa membahagiakannya hari-hari itu. Ia hidup dalam kegembiraan, hari-hari penuh ciuman, sekaligus kesedihan karena ia menginginkan sesuatu yang lebih daripada ciuman. Yunho mengutarakan niatnya menempuh masa depan bersama Jaejoong. Jaejoong juga menceritakan semua rahasia pribadinya. Mereka sama-sama mengungkapkan rahasia yang tak pernah diketahui orang lain.
Setiap jam yang mereka curi untuk dilewati bersama sangat membahagiakan, sebagian dikarenakan sinar matahari musim panas yang hangat. Karena suatu hari ketika mereka bertemu, turun hujan.Itulah hari yang paling indah daripada hari-hari yang mereka lewati bersama.
.
.
Jaejoong tersedu-sedan, dibiarkannya air mata membasahi pipinya. Ia berdoa memohon ampun tetapi tak yakin doanya dikabulkan. Karena ia ingin menangis untuk Siwon, suaminya, tetapi air mata yang menitik turun justru untuk Yunho, kekasihnya.
TO BE NEXT CHAPTER
Gomapta untuk readerdeul yang sudah menuliskan ke 102 review.. ini sungguh sangat berarti untukku
Mian pertanyaan2 tentang siapa yang jahat, kenapa YUNJAE pisah dan segala sesuatu yang bertkaitan dengan cerita tidak pernah aku jawab. aku ingin readerdeul penasaran dengan cerita ini, gemas dengan keadaan yang benar2 tidak menyenangkan dll. aku suka membuat readerdeul penasaran... xexe... nappeun ne?xexe
review ne readerdeul?
