Ah, maaf Saki updatenya pendek2.. soalnya Saki samain sama yang diblog Saki, supaya gak berat juga loadingnya pas mau baca. selisih umur Sungmin sama Yunho emang jauh sih 10tahunan lebih, tapi lebih jauh lagi selisih umur okasan-obasan Saki yang 16 tahun.

wah, chingudeul pada jahat nih, masak matinya Si Won ditungguin..

oh ya untuk Bittersweet Saki gak bisa buat panjangin updatean Saki tapi Saki janji buat update 2hari sekali. otte?

Jeongmal gomapta untuk cingu yang udah tinggalin jejak. Saki jadi lebih semangat. mian belum bisa bales satu2..

kemarin memang tanggung banget end-nya, tapi mau gimana lagi script dari sananya udah begitu. oke, gomawo udah baca cuap2 Saki...


APA maksudnya? Brengsek, mana aku tahu, Yunho menjawab pertanyaannya sendiri ketika berada di kamar mandi dan hendak menyalakan keran air. Ia melepas pakaiannya yang berkeringat, penuh minyak dan debu. Ia menyeruput minumannya dan meletakkannya di meja.

Pertama, milk shake cokelat. Jelas, itu tawaran persahabatan sebagai tanda berdamai. Sepanjang sore Jaejoong tinggal di penggilingan. Ia bilang akan menyelesaikan urusan administrasi, tetapi ternyata ia lebih banyak berlutut di samping Yunho dan menanyakan apa yang bisa ia lakukan untuk membantunya, atau apakah ada yang bisa diambilkannya. Seperti perawat piawai yang membantu dokter bedah, Jaejoong segera memberikan perkakas kepada Yunho tiap kali Yunho menjulurkan tangan.

ACTOR - ACTRIS:

Kim Jaejoong (GS), Jung Yunho, Lee Sungmin(GS), Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kwon Boa

Dan beberapa pemain pendukung lainnya

Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita

STORY BY:

Cerita, Alur, Judul, dan Plot milik SANDRA BROWN

Setting dan beberapa perubahan untuk kepentingan cerita kukerjakan sendiri

Mereka mengobrol tentang hal-hal yang tidak penting. Kebanyakan tentang topik yang mereka ketahui. Mereka bicara soal keluarga. Yang tak satu pun ada kesamaan di antara mereka.

"Kau lihat Minnie hari ini?" tanya Jaejoong.

"Ani. Kau lihat?"

"Ani. Kemarin ia kelihatan depresi sekali. Aku takut itu gara-gara ia kini tahu keadaan Siwon yang memburuk."

"Mungkin. Tetapi bisa saja karena sesuatu yang berkaitan dengan Cho Kyuhyun." "Mengapa kau bilang begitu?"

"Tolong berikan obeng itu lagi."

"Yang gagang merah atau kuning?"

"Merah. Karena pagi tadi, ketika ia mengeluarkan kuda untukku, Kyuhyun kelihatan pendiam sekali."

"Mungkin kau mengintimidasinya."

"Oh, Tuhan, aku ingin melakukan hal itu." Yunho mengharapkan argumentasi.

Meskipun kelihatan tidak suka dengan apa yang dikatakannya, Jaejoong tidak memberi komentar. Karena lantai pabrik sangat berdebu, Jaejoong duduk di bangku dekat Yunho, terlalu dekat. Meskipun kepala Yunho ada di kolong mesin, meskipun tidak langsung melihat wajah Jaejoong, ia tetap menyadari keberadaan Jaejoong. Aroma tubuhnya seperti memenuhi seluruh ruangan, seperti hawa panas petang itu. Di balik pakaiannya, butir-butir keringat mengucur deras. Tetapi ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Jaejoong, rasanya sejuk dan kering. Ingin Yunho menempelkan tangan itu ke wajah, leher, dan dadanya.

Sambil mengumpat karena teringat peristiwa petang itu, Yunho menyeruput minumannya lagi. Itu baru sebagian dari tubuhnya yang ia ingin disentuh tangan Jaejoong.

Dalam perjalanan pulang, Jaejoong banyak bicara. Ketika hampir tiba di pintu gerbang, Jaejoong menoleh ke arahnya dan berkata,

"Mandilah dengan tenang. Aku akan minta Boa menunda makan malam supaya kau sempat mendinginkan badan dan beristirahat. Kusiapkan minuman untukmu. Apa yang kau suka?"

Yang diinginkannya dari Jaejoong saat itu adalah penjelasan mengapa mendadak ia bersikap ramah padanya. Apakah Siwon memintanya melakukan hal itu? Atau ini memang gagasannya? Mengapa tiba-tiba Jaejoong bersikap seperti ibu tiri yang berusaha mengambil hati anak tirinya? Hmmm, apa pun siasatnya, ia takkan berhasil, batin Yunho sambil melangkah ke bawah pancuran air. Ia takkan pernah menganggap Jaejoong sebagai ibu tirinya, dan andai Jaejoong menganggap ia bisa berperilaku seperti itu, berarti ia tidak ingat sama sekali pengalaman di musim panas itu. Musim panas. Mengingat peristiwa itu saja sudah membuat jantung Yunho berdebar-debar.

Yunho memaki dirinya. Dua belas tahun kemudian, ia masih saja bertingkah seperti orang bodoh.

Hei, Jung Yunho, Namja yang patah hati. Hah! Ia tidak pernah mendapat kesulitan dengan yeoja kecuali saat harus melepaskan diri dari yeoja yang membosankannya. Apakah aneh bila perasaannya terhadap Jaejoong muncul bak air bah?

Musim panas itu penuh konflik. Ia merasa sangat bahagia sekaligus sangat sedih, seingatnya. Saat tidak bersama Jaejoong, ia ingin waktu cepat berputar agar ia bisa segera bersamanya. Saat bersama Jaejoong, saat yang sangat dinikmatinya setiap detiknya, ia berharap waktu tidak cepat berlalu agar ia tidak berpisah darinya. Ia frustrasi karena tidak bisa mengajak Jaejoong pergi ke tempat kencan biasanya, dan takut ada yang melihat mereka bersama. Ia selalu kelaparan tetapi tidak ada yang ingin dimakannya. Ia dililit gairah sepanjang waktu tetapi tidak tahu bagaimana menyalurkannya. Ia tidak bisa melakukan hal itu dengan Jaejoong tetapi juga tidak ingin melakukannya dengan yeoja lain.

Ia hanya menginginkan Kim Jaejoong. Ia tidak bisa memiliki yeoja itu.

Siang-malam ia berdebat dengan dirinya sendiri. Jaejoong masih di bawah umur, ya Tuhan. Lima belas tahun! Kau hanya cari masalah, Jung. Masalah besar.

Namun setiap menunggu Jaejoong di pinggir hutan, ia cemas kalau-kalau Jaejoong tidak muncul. Kecemasannya tidak hilang, sampai ia melihat Jaejoong berdiri di antara pepohonan yang bermandikan cahaya matahari.

.

.

.

.

Namun suatu hari, di hari terakhir itu, matahari tidak bersinar. Hari itu turun hujan...

Matahari bersinar cerah saat ia meninggalkan rumah. Hari itu, bahkan lebih dari hari-hari sebelumnya, ia sangat ingin berjumpa dengan Jaejoong. Ia dan appanya bertengkar pagi itu. Siwon mengubah peraturan untuk pembelian ginseng. Apa yang dilakukan Siwon bukan sesuatu yang melanggar hukum ataupun etika. Ketika Yunho menyinggung masalah itu, Siwon marah sekali. Berani-beraninya anak yang masih ingusan, putranya yang tak punya pengalaman bekerja, memberi nasihat bagaimana ia harus menjalankan bisnis dan mengatur hidupnya? Ia belum membuat Jung corp, pabrik pengolahan ginsengnya, mencapai sukses.

Yunho muak melihat apa yang terjadi, tetapi ia tidak punya kekuataan untuk menentangnya. Ia merasa harus berbicara dengan Jaejoong. Jaejoong akan mendengarkannya.

Jaejoong sudah menunggunya di sana, duduk di bawah pohon sambil melipat kaki. Wajahnya terangkat ketika melihat Yunho bergegas mendekatinya. Tanpa sepatah kata pun Yunho berlutut di hadapan Jaejoong, memegang kedua pipinya lalu mencium bibirnya. Lidahnya dijulurkan masuk ke dalam mulut Jaejoong, menemukan mata air manis yang sangat berbeda dari kepahitan yang baru dialaminya bersama appanya. Ciuman Jaejoong selalu melayang jauh dari kemuraman yang menyelimuti rumahnya yang cantik.

Ketika pada akhirnya ia melepaskan bibir Jaejoong, ia bergumam, "Oh, Tuhan, betapa senangnya bisa bertemu denganmu." Kemudian kembali ia mendaratkan bibirnya di bibir Jaejoong. Perlahan-lahan, tanpa basa-basi, ia merebahkan Jaejoong ke tanah, di atas rumpunan lembut tanaman pakis dan lumut. Tanpa melawan, Jaejoong berbaring dan Yunho ikut di sampingnya, menyilangkan salah satu pahanya ke tubuh Jaejoong.

Yunho mengangkat kepala dan memandangi Jaejoong. Mata Jaejoong yang keabu-abuan memancarkan keteduhan di balik bulu matanya. Bibirnya basah dan memesona karena ciumannya. Rambutnya dibiarkan tergerai di belakang kepalanya seperti untaian benang sutra yang terhampar di padang hijau. Angin yang bertiup menerpa pipinya dengan lembut.

"Kau cantik sekali, Jae" bisik Yunho. Ia membungkuk dan mencium kelopak mata Jaejoong.

"Kau juga tampan."

Yunho menggeleng, menyangkal. "Aku bajingan egois. Kaupikir aku ini siapa, datang menemuimu seperti ini, menciumimu, merasa yakin kau bersedia dicium, bahkan tanpa berbasa-basi lebih dulu? Mengapa kaubiarkan aku melakukan semua ini padamu?"

Tangan Jaejoong yang mulus terangkat dan menepis rambut yang jatuh di dekat alis. "Karena kau butuh aku seperti ini hari ini," jawab Jaejoong.

Yunho meletakkan kepalanya di lekukan bahu Jaejoong. Jaejoong meletakkan tangannya pada leher Yunho. "Kau benar. Appa dan aku bertengkar hebat pagi tadi."

"Aku sedih mendengarnya."

"Begitu pun aku, Jae." Suara Yunho terdengar parau, nada suara orang yang sangat putus asa. "Mengapa ia dan aku tidak bisa saling menyayangi? Atau saling menyukai?"

"Kau tidak bisa?"

Yunho diam, mencari jawaban yang pas. Ia paham, betapa pentingnya bersikap begitu. "Tidak. Kami tidak bisa. Sedikit pun. Aku sangat membenci situasi ini, tetapi demikianlah adanya."

"Coba ceritakan keadaannya padaku."

"Ia menikah dengan eommaku untuk mendapatkan nama baik dan uang eommaku. Ia tidak mencintai eommaku dan eomma tahu hal itu. Appaku orang yang harus disalahkan atas ketidakbahagiaan eommaku selama hidupnya dan menyebabkan ia mati muda. Maksudku, Eomma meninggal karena sakit hati. Dan appaku tidak menyukaiku karena aku tahu perbuatannya dan ia tidak tahan melihat sikapku. Banyak orang yang berhasil dibodohinya, tetapi ia tidak bisa menipu putranya sendiri dan itulah yang menyulut kemarahannya."

Jari-jari Jaejoong yang menenangkan itu terus mengelus rambut Yunho. "Mungkin kau terlalu menghakiminya. Bagaimanapun ia manusia biasa, Yunho, bukan dewa. Ia juga bisa berbuat kekeliruan. Apa orang tua harus tanpa cela?" Jaejoong mengelus leher Yunho dan menekan ringan rahangnya sampai Yunho mengangkat kepala dan menatapnya.

"Kurasa kau agak picik. Maafkan aku mengatakan hal ini. Kau menuntut kesempurnaan dan tidak bisa menerima kegagalan dalam dirimu sendiri. Kau mengharapkan hal yang sama dari orang lain dan itu tidak fair, Yunnie. Tidak adil memaksakan ukuranmu pada orang lain. Kita semua kan hanya manusia biasa."

Jaejoong mengelus bibir Yunho dengan ujung jarinya. "Aku sedih mendengar hubunganmu dengan appamu tidak sebagaimana mestinya. Seburuk apa pun appaku, aku tidak bisa berbuat lain, kecuali menyayanginya. Alasannya, terutama, karena ia sangat membutuhkan cinta."

Jaejoong tersenyum ceria pada Yunho. "Bersabarlah, Yun. Jangan suka tidak sabar. Bertahun-tahun sudah appamu hidup dengan cara begitu. Tidak mudah menerima perubahan." Mata Jaejoong berkaca-kaca.

"Terapi aku kagum kau berani mempertahankan prinsipmu, kendati sikapmu menyulut kemarahan appamu."

Perlahan Yunho tersenyum, penuh kelembutan. "Kau sungguh istimewa, kau tahu? Bagaimana kau bisa menganggap semua itu baik? Hmmm' Mengapa setiap kali bersamamu aku tak merasakan kegelapan, tidak kehilangan harapan? Mengapa aku selalu merasa punya jalan keluar ketika bersamamu? Dan aku merasa kau juga bisa menegurku, mengembalikan kepercayaan diriku?"

Kegembiraan yang dirasakan Jaejoong mendengar apa yang dikatakan Yunho jelas terpancar.

Mata Jaejoong meredup karena perasaan malu. "Betulkah aku melakukan semua hal itu untukmu?"

Mata musang Yunho melembut. Ia merapatkan tubuhnya ke rubuh Jaejoong, dan menindihnya.

Yunho menegang. "Banyak hal yang kaulakukan untukku," ujar Yunho parau, sambil menggerakkan tubuhnya ke tubuh Jaejoong.

Mata Jaejoong membeliak, tubuhnya gemetar.

Sambil mengumpat dirinya, Yunho menjauh. "Brengsek! Apa yang terjadi atas diriku? Aku tidak boleh melakukan hal seperti itu padamu. Mianhe Jae."

Sambil meraih Yunho, Jaejoong berkata, "Bukan soal itu."

Jaejoong mengangkat tangan dan memperlihatkan kulitnya yang meremang. "Udaranya lebih dingin. Kurasa mau hujan."

Kata-kata itu belum lama meluncur keluar dari bibir Jaejoong, titik hujan sudah jatuh menimpa wajahnya. Yunho menutupi tubuh Jaejoong dengan punggung dan menatap awan tebal di langit. Titik hujan jatuh makin cepat dan deras. Keduanya tertawa girang seperti anak-anak ketika merebahkan diri di tanah dan membiarkan air hujan membasahi tubuh mereka. Badai yang mengamuk di musim panas itu perlahan mereda, hujan yang tadinya lebat kini tinggal titik-titik air gerimis.

Yunho menopang tubuh dengan siku dan memandangi Jaejoong. Wajah Jaejoong tetap cantik biarpun tidak memakai kosmetik. Ia malah ke-lihatan segar dan memikat sekali. Mata Yunho tertuju ke leher Jaejoong, dan turun lagi. Napasnya memburu. Blus putih yang dikenakan Jaejoong basah kuyub dan membentuk buah dadanya. Hari ini Jaejoong tidak memakai bra.

Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan bertanya-tanya.

Suara Jaejoong rendah dan parau karena perasaan malu. "Aku tidak punya sesuatu yang cantik untuk kupakai. Kupikir... bila aku tidak memakai apa-apa, jadi kelihatan tidak terlalu jelek... aku... oh..."

Jaejoong seperti mau menangis dan melipat tangannya di dada. "Aku tidak bermaksud..."

"Ssst," ujar Yunho, perlahan menurunkan tangan Jaejoong ke samping. Beberapa saat lamanya, satu-satunya suara yang terdengar di sekeliling mereka hanyalah suara titik hujan. Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan kagum. Blus yang basah itu memperlihatkan segalanya, payudara yang lembut, puncaknya yang mencuat.

"Kurasa, kudengar suara geledek," bisik Jaejoong dengan tubuh gemetar.

Yunho mengangkat tangan dan memegang kemejanya yang basah. "Bukan. Itu suara debar jantungku."

Yunho membungkuk dan menyentuh bibir Jaejoong dengan bibirnya. Ciumannya begitu lembut dan manis, sangat penuh kelembutan. Perlahan lidahnya menjilat ujung-ujung bibir Jaejoong, dengan lembut menelusuri garis bibir-nya. Telinga Yunho menangkap suara mendesah yang keluar dari tenggorokan Jaejoong. "Oh, Jae," desah Yunho.

.

.

.

.

.

To Be Continued

review ne? chapter depan ada adegan ero-nya... pasti bikin merem-melek + nahan napas... mungkin yang yadong-nya akut ikutan Jae mendekati surga dunia...