Ada beberapa yang pengen Saki omongin...
1. Jangan panggil Saki thor, cukup panggil Saki aja...
2. Blog Saki pindah dari [kitaharasaki.{blogspot}.com] sekarang pindah ke [kitaharaasaki.{blogspot}.com] alasannya, blog Saki gak bisa dibuka... disana udah sampai chap 23an lho... promosi dikit... yang kemarin PM Saki udah dijawab ya...
3. Disini Yunjae belum bener2 NC, cuma Jae-nya emang dapet engh-nya... jadi mereka NC emang di chap 20an...
4. Chap-nya mentok panjangnya segini ya. gak bisa dipanjangin lagi.
Gomapta untuk yang sudah mereview fanfic remake dari Saki, kurang lebihnya balikin ke Saki,
KitaharaSaki, anyoonggg...
"Ssst," ujar Yunho, perlahan menurunkan tangan Jaejoong ke samping. Beberapa saat lamanya, satu-satunya suara yang terdengar di sekeliling mereka hanyalah suara titik hujan. Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan kagum. Blus yang basah itu memperlihatkan segalanya, payudara yang lembut, puncaknya yang mencuat.
"Kurasa, kudengar suara geledek," bisik Jaejoong dengan tubuh gemetar.
Yunho mengangkat tangan dan memegang kemejanya yang basah. "Bukan. Itu suara debar jantungku."
Yunho membungkuk dan menyentuh bibir Jaejoong dengan bibirnya. Ciumannya begitu lembut dan manis, sangat penuh kelembutan. Perlahan lidahnya menjilat ujung-ujung bibir Jaejoong, dengan lembut menelusuri garis bibir-nya. Telinga Yunho menangkap suara mendesah yang keluar dari tenggorokan Jaejoong. "Oh, Jae," desah Yunho.
Ciuman pun berubah…
Tidak lagi lembut.…
Yunho memiringkan bibir di atas bibir Jaejoong, berusaha membukanya. Lidahnya dijulurkan masuk ke mulut Jaejoong. Tangannya memeluk pinggang Jaejoong, makin rapat, sesenti demi sesenti, pelan, peJan, sampai akhirnya tangannya diletakkan di pinggang Jaejoong, agak mencengkeram, kemudian pelan-pelan naik, sampai akhirnya mencapai buah dada Jaejoong.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Version
©Kitahara Saki
Seumur hidup Yunho, tidak pernah ia merasakan memegang payudara yeoja seperti payudara Jaejoong yang belum tumbuh sepenuhnya tetapi sudah penuh itu, terasa demikian nikmat di tangannya. Digenggamnya bagian yang lembut itu, diremas, dan dipijatnya dengan gerakan memutar. Ia mengeksplorasi payudara itu dengan ekstra lembut agar Jaejoong tidak terkejut, namun dengan piawai membangkitkan sensualitas Jaejoong agar ia ikut merespons. Jaejoong merapatkan tubuhnya ke tubuh Yunho, setiap gerakan tanpa disengaja menimbulkan rangsangan dan semakin membangkitkan hasrat.
Ketika jari-jari Yunho menyentuh puncak payudaranya, Jaejoong melengkungkan punggung dan mendesah lembut. Bagian tubuh yang sensitif itu mencuat. Jari-jari Yunho terus mempermain-kannya dengan hati-hati sampai puncak itu mengeras. Sementara jarinya sibuk dengan payudara, lidahnya sibuk menjilati langit-langit mulut Jaejoong. Suara yang keluar dari tenggorokannya tanpa disadarinya dan napasnya yang panas lagi memburu menerpa wajah dan leher Jaejoong.
Tangan Yunho membuka kancing blus Jaejoong paling bawah, dan kancing-kancing lainnya dengan cepat. Jaejoong tercekat dan memegang tangan dan baju basah yang dipegang Yunho.
"Yunho, jangan," bisik Jaejoong, yang sebenarnya berarti ya.
Jaejoong menggeleng ke kanan dan ke kiri. Giginya menggigit-gigit bibir bawahnya.
"Sayang, oh, sayangku," gumam Yunho. "Aku tidak ingin menyakitimu. Aku hanya ingin melihatnya, menyentuhnya."
Bibir Yunho kembali menciumi bibir Jaejoong dengan gerakan mengisap. Yunho merasa seperti mendapat kehidupan dan cinta dari Jaejoong ketika berhasil membuka blusnya dan menggenggam payudara Jaejoong yang lembut. Ketika telapak tangannya merasakan kelembutan payudara itu, Yunho tersulut gelora, yang lebih panas, lebih menggebu, hampir sulit dikendalikan, yang belum pernah dirasakannya selama ia pernah merasakan dorongan seks dalam hidupnya.
Dan ia menyadari seketika itu, tak ada perempuan mana pun di dunia yang bisa membuatnya merasa menjadi namja sejati, seperti yang dirasakannya saat itu. Ia telah menemukan orangnya, yeoja yang membuat dirinya menjadi namja sejati.
Yunho mengelus, mendorong payudara Jaejoong tinggi-tinggi dengan tangannya, membelai puncaknya dengan ibu jari. Ia merendahkan tubuhnya beberapa sentimeter, lalu mencium tenggorokan dan leher Jaejoong. Kemudian ia mengulum salah satu puncak yang kemerahan itu dan mengisapnya dengan lembut. Jaejoong mengerang. Ia merenggut rambut Yunho dan memegang kepala namja tersebut erat-erat. Jiwa Yunho dipenuhi gelora cinta ketika mendengar Jaejoong mendesah nikmat karena apa yang dilakukannya dengan penuh cinta untuk Jaejoong.
Jaejoong agak menaikkan lutut, nalurinya memintanya melakukan hal itu, tanpa disadarinya. Yunho mengelus lutut Jaejoong yang telanjang.
Kakinya yang panjang lagi mulus terasa halus sekali ketika tangannya mengelusnya sampai jauh ke atas. Rok dari bahan katun yang dikenakan Jaejoong sama sekali tidak menghalangi Yunho. Ia tidak mau berhenti untuk memuaskan keinginannya sampai ia berhasil meyentuh celana dalam Jaejoong.
Jaejoong melengkungkan punggungnya lebih tinggi, tangannya mencengkeram bahu Yunho. "Yunnie, bear." Rintihan Jaejoong menyiratkan kenikmatan sekaligus ketakutan yang keduanya dipahami Yunho.
"Tak apa-apa, boo. Aku tidak akan menyakitimu. Aku berjanji, aku tidak akan pernah menyakitimu."
Sentuhan tangan Yunho terasa selembut kapas. Ia terus membelai dan mengelus, sampai akhirnya tak ada lagi pakaian yang melekat di tubuh Jaejoong. Jari-jari Yunho mengelus kewanitaan Jaejoong.
"Oh, Tuhan," desah Yunho, menenggelamkan bibimya di leher Jaejoong. "Kau begitu cantik. Oh, Tuhan..."
Jari-jari Yunho terus mempermainkan, membuka, dan menemukan. Ketika Jaejoong menggeliat-geliatkan tubuh, Yunho tahu ia berhasil menemukan sumber keajaibannya. Dengan piawai ia agak menekan, membentuk lingkaran-lingkaran, dan mengelus bagian tubuh itu sampai terdengar suara mengerang dari tenggorokan Jaejoong, dengan kepala terkulai ke belakang. Suara rintihan Jaejoong berbaur dengan gemerisik angin dan hujan yang jatuh membasahi pepohonan.
Yunho mengamati wajah Jaejoong, yang tenggelam dalam kenikmatan, tidak menyadari ekspresinya. Dilihatnya mata Jaejoong mengerjap-ngerjap ketika ia menyadarkan Jaejoong dan perlahan mengembalikannya ke dunia nyata, lepas dari cengkeraman kenikmatan yang menghanyutkan itu.
Kenyataan menimbulkan kebingungan. Jaejoong menurunkan roknya yang menyingkap sampai pinggang. "Bear?" Jaejoong memanggil Yunho dengan nada tinggi. "Bear, apa yang terjadi atas diriku? Peluk aku. Aku takut sekali."
Yunho merendahkan tubuhnya, seperti hendak memberi perlindungan pada Jaejoong. Ia mendekap Jaejoong erat-erat, tangannya memegang kedua sisi kepala Jaejoong. Ia mengecup lembut seluruh wajah Jaejoong dan menenangkannya.
"Kau tidak tahu apa yang terjadi atas dirimu, Boo?" Letupan emosi di hatinya membuat suaranya terdengar parau.
Jaejoong mencari-cari mata Yunho, memperhatikan bibir Yunho, menyentuhnya, seperti orang yang mengagumi keindahan yang dimiliki Yunho dan apa yang baru saja diperkenalkan namja itu padanya.
"Tetapi kau tidak... maksudku... kau tidak... berada dalam tubuhku."
Sambil mendesah lirih, Yunho menekankan dahinya ke dahi Jaejoong.
"Tidak, aku tidak melakukannya. Tetapi aku ingin sekali. Aku ingin berada jauh di dalam tubuhmu, memenuhi dirimu dengan diriku, memberimu segala yang kupunya."
Yunho mencium Jaejoong, seakan tengah bercinta, menciumi bibir Jaejoong dengan lidahnya, memasukkan lidahnya jauh ke dalam mulut Jaejoong. Tetapi ciuman itu justru semakin mengingatkannya pada apa yang tak boleh dilakukannya, lalu ia melepaskannya.
Jaejoong menangis tersedu-sedu. Air matanya bercampur air hujan. Yunho menyeka air mata dari pipi Jaejoong dengan ibu jarinya.
"Uljima boo, uljima." Yunho bangkit dan menarik Jaejoong berdiri juga, mendekapnya erat-erat. Jaejoong masih saja menangis. "Mengapa kau menangis, boo?"
Oh, Tuhan, andai ia sampai melanggar janjinya dan melukai Jaejoong, ia takkan pernah memaafkan dirinya. Apakah Jaejoong tidak menghargainya lagi sekarang, takut dengannya? "Katakan, kenapa kau menangis?"
"Kau takkan datang menemuiku lagi. Setelah peristiwa hari ini. Setelah apa yang kulakukan, kau akan menganggapku yeoja murahan."
Kelegaan menyelimuti hati Yunho. "Oh, boo," bisik Yunho sambil mendekap tubuh Jaejoong lebih erat ke tubuhnya. "Saranghae."
Perlahan-lahan Jaejoong mengangkat kepala dan menatap Yunho. "Kau mencintaiku?"
"Saranghae boo," kata Yunho, karena ia tahu itulah perasaannya yang sesungguhnya terhadap Jaejoong. Andai ia tidak mencintainya, mereka masih akan berbaring di rerumputan dan ia akan memuaskan hasratnya.
"Aku mencintaimu. Betapa pun sulit, aku akan datang ke sini lagi besok." Yunho memeluk Jaejoong erat-erat, menciuminya sampai Jaejoong sesak napas. Kemudian, sambil mendekap Jaejoong seakan ia sudah menjadi miliknya.
Yunho berbisik di telinga Jaejoong, "Kita hampir melewati batas tadi, boo." Yunho agak menjauhkan dirinya dari Jaejoong, mencari-cari mata Jaejoong. "Kau mengerti apa yang kumaksud, bukan?"
"Tentu saja!" jawab Jaejoong sambil terisak pelan. "Aku tahu, apa pun yang terjadi di antara kita takkan ada masa depan."
"Bukan tidak ada masa depan. Aku akan mencari jalan keluar. Malam ini."
"Malam ini? Apa maksudmu?"
"Aku akan mencari cara bagaimana supaya kita bisa berkencan dengan pantas, berada di antara orang banyak, tidak lagi bertemu sembunyi-sembunyi begini."
Jaejoong memeluk lengan atas Yunho. "Jangan, bear, jangan lakukan hal itu. Biarkan seperti sekarang ini, selama kita bisa."
"Aku bisa mati kalau begini terus."
"Wae?"
"Bila berduaan saja seperti ini, sulit bagiku untuk menghentikan apa yang sudah kumulai."
Jaejoong terdiam dan membisu beberapa saat, hanya memandangi tenggorokan Yunho sementara jarinya menelusuri kerah kemeja Yunho. Jaejoong membasahi bibir. "Yunho, aku tidak keberatan bila kau... Aku bersedia bila kau ingin me... ...
Dengan jari telunjuk Yunho menaikkan dagu Jaejoong. "Ani." Suara Yunho tenang tetapi berwibawa. "Aku tidak suka main sembunyi-sembunyi seperti ini. Aku tidak suka memperumit masalah, mengambil risiko menyakitimu, dengan bercinta denganmu." Ia menundukkan wajah hendak mencium Jaejoong yang tak jauh darinya. Yunho memejamkan mata rapat-rapat, mengembuskan napas, dan mengertakkan gigi. Ketika membuka mata kembali, Yunho berkata," Aku ingin sekali. Oh Tuhan. Aku ingin sekali melakukannya. Tetapi seperti yang kukatakan padamu, aku tidak ingin melakukan sesuatu yang bisa menyakiti hatimu."
"Ya, dan aku percaya padamu."
"Kalau begitu serahkan segalanya padaku. Tak ada yang perlu kaukhawatirkan. Aku akan membereskan segalanya, sehingga kita tidak perlu bertemu sembunyi-sembunyi seperti ini lagi."
"Kau yakin, bear?" Perasaan cemas itu masih terpancar di wajah Jaejoong. Yunho tahu Jaejoong mengkhawatirkan dirinya, bukan diri Jaejoong, dirinya sendiri.
"Aku yakin. Besok aku akan membawa berita baik. Besok, boo. Di sini. Di tempat kita berada ini." Tangan Yunho mendekap wajah Jaejoong.
"Oh, Tuhan, boo, cium aku lagi." Bibir Yunho mencari-cari bibir Jaejoong, tetapi ciumannya hanya ciuman kecil. Ia tidak yakin dirinya bisa memenuhi janjinya. Ia ingin menikahi Jaejoong, dan tak peduli apa pun risikonya.
"Besok, besok," kata Yunho berulang-ulang sambil mundur, merentangkan tangannya, sampai akhirnya ujung jari mereka berpisah. Yunho lari menembus hutan di bawah rintik hujan ke tempat ia memarkir mobilnya, ingin cepat-cepat tiba di rumah...
.
.
Kitahara Saki
.
.
"Kau bodoh," kata Yunho pada dirinya di depan cermin setelah keluar dari kamar mandi. Wajah-nya jadi kabur, yang tepat menggambarkan dirinya setelah peristiwa dua belas tahun yang lalu itu.
"Apa yang membuatku berpikir sepolos itu, mengira segalanya berjalan sesuai rencanaku?"
Ia menghabiskan minumannya, membiarkan cairan itu menuruni tenggorokannya tanpa menikmati rasanya sedikit pun. Ia hanya menyesali es batu yang mencair itu mengurangi rasa bourbonnya. Ia teringat apa yang terjadi malam itu ketika ia menemui appanya di ruang kerja, meminta waktu untuk bicara. Seperti racun yang masih mengendap, kebencian dan kemarahan menyelimuti dirinya setiap kali ia ingat kebodohan dirinya yang begitu percaya diri. Betapa bodohnya. Betapa bodohnya. Dirinya seperti Daud yang berdiri di hadapan Goliat. Oh, ia punya keberanian seperti itu. Hanya saja ia tidak punya ketapel dan batu. Sementara Siwon punya meriam.
.
.
Ia melangkah masuk ke ruang kerja dan berkata, "Appa, aku sudah menemukan yeoja yang ingin kunikahi."
"Pasti kau bisa menemukannya," jawab Siwon sambil memindahkan cerutunya dari sudut bibir yang satu ke sudut lainnya.
"Go Nam Sun meneleponku tadi malam. Ahra hamil. Sudah tiga atau empat bulan. Ia bilang, mata putrinya sampai bengkak karena menangis sebab kau tidak datang lagi menemuinya. Selamat, anakku. Kau sebentar lagi menjadi suami dan appa."
.
.
Sampai detik ini kata-kata appanya itu masih sangat dibencinya sampai ke tulang sumsum. Kata-kata bandit itu. Kata-kata bajingan yang penuh kebencian, manipulasi, kelicikan. Dan Jaejoong, Jaejoong-nya yang dijumpainya di tepi sungai di bawah rintik hujan, kini menjadi istri appanya. Kini bajingan itulah yang harus didengarkan kata-katanya oleh Jaejoong, bicara dengannya, memberikan ketenangan dan kehidupan pada Jaejoong. Dengan Siwon, Jaejoong memberikan bibirnya yang manis, payu-daranya, pahanya.
Yunho menutup mata dengan telapak tangan, sementara ingatan akan kebersamaannya dengan Jaejoong melintas seperti film di benaknya. Membayangkan semua itu saja Yunho merasa hampir tidak sanggup.
Sekujur tubuhnya terasa sakit. Celakanya, tak ada benda apa pun yang bisa menyembuhkan lukanya.
.
.
.
.
.
To Be Continued
