Hahaha... Saki baca review dari kalian bikin Saki ketawa.. pada banyak yang nyela Siwon di episode kemarin... mian buat fansnya Siwon, Saki gak ada maksud kok buat bikin Siwon semengerikan itu... kekekeke

ah, yang kemaren bilang summary yang Saki buat gak cocok, mian kalo menurut kamu gak cocok, Saki gak bisa bikin Summary, apa kamu punya summary yang lebih cocok?

Gomapta untuk kalian yang udah kasih review, Saki sayang kalian semua...


Jari telunjuknya yang kurus lagi gemetar diarahkan kepada Yunho. "Ya, aku mendapatkan kembali anakku, putraku. Memang makan waktu lama untuk mendapatkannya, tetapi aku berhasil. Kau tak bisa lagi memiliki yeoja itu sekarang, Yunho. Aku kenal siapa dirimu. Harga diri sebagai Jung takkan merelakan dirimu memiliki Jaejoong."

Siwon berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, "Karena aku sudah teriebih dahulu memilikinya. Kau ingat itu. Jaejoong istriku dan aku yang memilikinya untuk pertama kali!"

.

.

Keempat orang di dalam limusin itu duduk diam saat mobil melaju di bawah pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan menuju pemakaman. Yunho dan Jaejoong memandang ke luar jendela. Sungmin duduk di antara mereka, mempermainkan saputangan di antara jemarinya. Boa, yang duduk di belakang, mengamati mereka, juga dalam diam. Paling tidak, membisu semampunya.

.

.

Bittersweet Rain

©Sandra Brown

Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin

©their self

Bittersweet Rain Yunjae Vers.

©Kitahara Saki

.

.

"Sepertinya banyak sekali yang melayat," komentar Boa, sambil memandang ke arah iring-iringan mobil yang berderet di belakang mobil jenazah dan limusin mereka.

Tak ada yang memberi tanggapan. Akhirnya Jaejoong berkata, "Kebanyakan penduduk kota, kurasa."

"Tak banyak yang ku ingat soal pemakaman Mama. Ada yang kau ingat, Yunho?" Sungmin bertanya takut-takut. Saat sorot mata Yunho tajam seperti itu, Sungmin merasa takut.

"Ya," jawab Yunho sambil menggigit bibir. "Aku masih ingat."

Setelah menyadari ia berbicara dengan yeodongsaengnya, Yunho menoleh dan tersenyum lembut padanya. Digamitnya tangan Sungmin, lalu diciumnya dan digenggamnya erat-erat. "Banyak orang yang menghadiri pemakamannya juga."

"Kukira begitu," jawab Sungmin, sambil tersenyum, lega karena tidak ada lagi sorot mata dingin dan cemas di wajah Yunho.

"Orang pasti akan ramai membicarakannya," ujar Boa, menduga-duga.

"Karena kalian tidak membuat acara doa kematian di gereja. Pendeta kaget. Orang lain pun akan merasa begitu."

"Biar saja mereka keheranan, aku tidak peduli apa yang orang-orang katakan," kata Yunho ketus.

"Kau tidak tinggal di sini," kilah Boa. "Kami tinggal di sini."

"Tak ada misa di gereja," kata Yunho, menegaskan. "Kau dengar, Boa?" Sorot matanya yang tajam dan tak mau dibantah, serta suaranya yang berwibawa, membuat Boa tak mengomentari lebih lanjut.

"Ya, Sir." Ia menaikkan duduknya karena gusar. Yunho kembali memandang ke luar jendela.

Jaejoong iba melihat Boa dan Sungmin. Manusia-manusia polos seperti mereka harus hidup bersama orang seperti Siwon. Mereka juga takkan mengerti mengapa Yunho bersikap dingin menghadapi kematian ayahnya. Buat dirinya sendiri, mereka akan mengira kematian ini sangat mengejutkannya.

Boa memegang tangan Jaejoong dan berkata, "Kau sangat tabah, Jae. Tetapi waktu menangis akan tiba. Ketika sudah sendirian, hiruk-pikuk ini sudah berlalu, kau pasti akan menangis."

.

.

Boa keliru. Jaejoong tidak akan menitikkan setetes air mata pun untuk pria yang pernah menjadi suaminya itu. Air matanya sudah kering saat ia meninggalkan kamar di rumah sakit karena penghinaannya. Yunho mengikutinya ke luar beberapa saat kemudian, air mukanya juga tegang. Pandangannya dingin menakutkan. Sampai detik itu pun, kesan itu yang tetap tinggal di wajahnya.

Bermalam-malam, mereka duduk berjaga di kursi besi ruang tunggu rumah sakit. Mereka tidak bicara. Mereka tidak saling pandang. Betapa sering Jaejoong ingin meminta maaf karena menuduh Yunho mengkhianati cinta mereka gara-gara Ahra. Betapa ingin ia mengelus, memeluknya, menangisi hari-hari yang memisahkan mereka selama bertahun-tahun. Bahkan sampai saat ini pun mereka masih terpisah. Garis wajahnya dan tubuhnya mengatakan demikian. Itu sebabnya Jaejoong memutuskan menjaga jarak dan berdiam diri.

Siwon tak sadarkan diri setelah Yunho meninggalkan kamarnya. Ketika menemui Jaejoong dan berlutut di hadapannya, dokter menggenggam tangannya. "Takkan lama lagi. Anda boleh pulang kalau mau. Toh ia tidak akan tahu Anda ada di kamar atau tidak."

Jaejoong menggeleng. Ia tidak ingin melihat wajah Siwon lagi. Ketika dokter memberitahunya Siwon meninggal, Jaejoong meninggalkan rumah sakit bersama Yunho, dengan air mata yang mengering dan hati hampa.

.

.

Kini ia harus berpura-pura berduka, seperti kebanyakan istri yang ditinggalkan suami. Limusin berhenti. Ia dibantu turun oleh petugas pemakaman dan diajak ke tenda yang dibangun di dekat liang kubur. Ia duduk di kursi yang disediakan, duduk dengan kaku, Yunho di sebelahnya, Sungmin di sebelah Yunho. Boa memilih berdiri di belakang Sungmin, meletakkan tangannya di bahu yeoja muda itu untuk menenangkannya.

Jaejoong berusaha menutup telinga, tidak mau mendengarkan khotbah Pendeta. Matanya nanar memandang peti mayat yang penuh bertabur mawar putih.

Ketika acara doa kematian berakhir, ia menerima ucapan duka cita dari para pelayat. "Ia tegar sekali ya?" bisik mereka pada satu sama lain.

"Tanpa setitik air mata pun."

"Tentu saja, sejak Siwon dioperasi, ia sudah tahu semua ini hanya masalah waktu." "Ya. Ia sudah mempersiapkan diri."

"Kendati demikian, ia harusnya memperlihatkan kesedihan. Kau tahu bagaimana orang yang mendapat musibah. Mereka jadi emosional di depan orang banyak."

"Aku tak tahu bagaimana nasib pabrik penggilingannya nanti."

"Jaejoong tetap akan menjalankannya, kurasa."

"Bagaimana dengan Yunho?"

"Ia akan tinggal di sini."

"Ia akan kembali ke Jepang."

"Aku tidak tahu pasti."

.

.

Jaejoong mendengar desas-desus yang dipergunjingkan orang itu ketika berjalan ke arah limusin yang menunggunya. Namun sedikitpun ia tidak merasa terganggu oleh gosip itu. Kelicikan dan tipu muslihat Siwon yang amat keji terhadap dirinya masih segar dalam ingatannya. Kalau sampai tidak bisa mengendalikan diri, ia akan kehilangan muka karena akan berteriak-teriak seperti orang gila. Oleh sebab itu ia biarkan saja mereka menganggap dirinya sebagai orang yang pandai menahan emosi. Ia tidak akan berdoa atau menangisi kepergian Jung Siwon. Siwon tidak hanya menyakitnya, tetapi juga satu-satunya pria yang pernah ia kasihi. Tak ada kata maaf dalam hatinya buat kejahatan yang dilakukannya.

"Syukur, akhirnya selesai sudah," kata Yunho ketika ia duduk di bangku belakang sambil menjabat tangan pendeta untuk terakhir kalinya.

Namun segalanya belum berakhir. Sepanjang petang penuh sesak oleh orang-orang yang berdatangan ke Jung Mansion untuk menyampaikan penghormatan terakhir pada Siwon. Jaejoong yakin umumnya mereka datang karena didorong perasaan ingin tahu. Mereka ingin melihat perubahan apa yang dilakukan Jaejoong pada rumah yang ditinggalkan Jung Kibum. Ia mendapat kesan kebanyakan dari mereka kecewa ketika melihat tak ada yang berubah di rumah itu. Apakah mereka berharap dindingnya ditempeli wallpaper dan lampu remang-remang?

.

.

Rupanya tak pernah rasa ingin tahu mereka tentang Jaejoong terpuaskan. Jaejoong yang duduk dengan penuh wibawa dalam kemuraman diam-diam memerhatikan para pelayat yang mengamatinya. Ia penasaran, apa yang diharapkan orang-orang itu.

Apakah mereka berharap melihat dirinya mengenakan sesuatu selain baju hitam pekat?

Apakah mereka mengharapkan dirinya menangis tersedu-sedu?

Atau mereka berharap melihatnya kini tertawa-tawa karena suaminya yang sudah tua tapi kaya itu sudah meninggal?

Sabagaimana mereka kecewa melihat tak ada perubahan dalam Jung Mansion, begitu pun perasaan mereka ketika melihat dirinya. Putri keluarga Kim itu tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk berbicara banyak dengannya.

Akhirnya, para pelayat itu pamit, sampai akhirnya rumah kosong. Bayang-bayang malam yang panjang mulai menyelinap di antara jendela, membentuk jalur-jalur di lantai kayu.

.

.

Boa sibuk membereskan gelas dan tisu bekas pakai, dan membuang debu rokok dari asbak. "Ada yang mau makan malam?"

"Aku tidak mau, terima kasih, Boa," jawab Jaejoong dengan galau.

"Tidak, terima kasih." Yunho menuang minuman bourbon ke dalam gelas tinggi. "Tidurlah, Boa. Kau sudah bekerja keras sepanjang hari."

Boa mengangkat baki yang penuh gelas-gelas. "Setelah selesai mencuci gelas-gelas ini, aku tidur. Ada hal lain yang kau butuhkan, Jae?"

Jaejoong tersenyum dan mengucapkan terima kasih, lalu menggeleng. "Selamat malam, Boa."

"Hmmm, di kulkas banyak makanan bila ada yang lapar. Selamat malam."

Boa meninggalkan Jaejoong dan Yunho berduaan di kamar tamu. Jaejoong menyandarkan kepak di bantal sofa dan memijat-mijat pelipisnya sambil memejamkan mata. Ia membuka kancing blusnya dan melepas separu, menarik napas lega.

Setelah membuka setelan jas hitamnya, Yunho menggulung lengan kemeja. Ia berdiri di salah satu sudut jendela yang tinggi. Satu tangan dimasukkan ke saku celana, tangan yang lainnya sesekali mendekatkan gelas minuman ke bibirnya. Ini pertama kalinya mereka berduaan sejak meninggalkan rumah sakit dua malam yang lalu. Sepertinya mereka tak punya bahan obrolan.

Perlahan mata Jaejoong membuka. Diamatinya Yunho dari seberang ruangan. Asyik ia memperhatikan siluet tubuh Yunho di saat malam mulai menjelang itu. Rambutnya yang hitam tampak kontras sekali dengan kerah kemejanya yang putih. Bahunya bidang. Jaejoong memerhatikan garis rompi yang dikenakan Yunho sampai ke pinggangnya. Bokongnya kecil tapi kelihatan bagus di balik celana yang dijahit rapi itu, pahanya kencang, ramping lagi panjang.

Tak ada hal lain yang diinginkan Jaejoong saat itu kecuali mendekatinya. Ia bisa merasakan bagaimana tangannya menyelinap di antara kemeja Yunho, memeluk erat perutnya yang ia tahu rata tapi keras. Jaejoong merasakan dadanya sesak karena menekan keinginan merasakan kekokohan punggung Yunho yang bersentuhan dengan payudaranya. Ia ingin meletakan pipinya di bahu laki-laki itu, menikmati bau tubuhnya, menghirup aroma tubuhnya, setiap nuansa dirinya.

Selagi Jaejoong asyik mengamatinya, mendadak Yunho tampak tegang dan mengumpat, "Apa-apaan mereka itu?"

Yunho meletakkan gelas minuman di meja antik lalu menghambur ke luar ruangan. Air mukanya tampak tegang. Karena terkejut, Jaejoong melompat dari sofa dan cepat-cepat lari ke jendela.

Tampak Kyuhyun dan Sungmin di halaman. Mereka berjalan perlahan menuju rumah. Tangan Kyuhyun merangkul pundak Sungmin, tubuh mereka rapat. Sungmin merebahkan kepala di dada Kyuhyun. Kyuhyun menunduk, menempelkan kepalanya ke kepala Sungmin. Jaejoong melihat bibir Kyuhyun bergerak-gerak, berbicara pada gadis itu dengan lembut. Kemudian dilihatnya bibir Kyuhyun mengecup pelipis Sungmin, memberikan ciuman lembut.

Jaejoong menghambur ke luar dengan kaki yang hanya mengenakan stoking, karena tahu apa yang dilihat Yunho. Ia harus mengejar Yunho sebelum,...

Jaejoong bisa membayangkan apa yang bakal terjadi, ia mendengar pintu kasa depan dibanting Yunho keras-keras, langkahnya menggema di lantai teras rumah. "Sungmin!" seru Yunho.

.

.

Kitahara Saki

.

.

Jaejoong mengejar Yunho, tergesa-gesa menuruni anak tangga. "Yunho, jangan."

Sungmin mengangkat kepala dari dada Kyuhyun, tetapi tidak kelihatan ia hendak menjauhkan diri dari Kyuhyun. Sebaliknya, ia malah menggandeng Kyuhyun ke hadapan Yunho yang memanggilnya. Jaejoong melihat langkah Kyuhyun yang bimbang. Kyuhyun bukanlah orang lugu seperti Sungmin. Seketika ia menangkap kegusaran yang terkandung dalam suara Yunho. Namun Kyuhyun tidak mengalihkan pandangan dari Yunho ketika mereka mendekati pria itu.

"Ya, Yunho?" ujar Sungmin.

"Dari mana kau?"

"Aku dari tempat tinggal Kyuhyun, nonton televisi." Sungmin tersenyum pada Kyuhyun.

"Kyuhyun ingin menghiburku, melupakan kedukaanku karena ditinggal appa."

Api kemarahan yang menggelora dalam hati Yunho seperti disiram bensin. "Hmmm, kau tahu ini sudab larut malam. Sebaiknya kau cepat pergi tidur."

"Tadi Kyuhyun juga bilang begitu padaku," jawab Sungmin sambil menarik napas. "Selamat malam, semuanya." Sungmin tersenyum manis pada Kyuhyun sebelum masuk rumah.

Yunho membiarkan beberapa detik berlalu, sampai akhirnya terdengar suara pintu depan ditutup Sungmin. Kemudian ia cepat-cepat mendekati Kyuhyun. "Jangan pernah sentuh adikku lagi, arra? Jika aku melihatmu menyentuhnya sekali lagi, kau akan kehilangan pekerjaan dan langsung harus pergi dari sini."

"Aku tidak mengerayangi Sungmin, Tuan Jung," jawab Kyuhyun dengan nada datar. "Aku hanya ingin menghiburnya. Ia sedih karena kehilangan ayah dan... beberapa hal lainnya."

"Hmmm, tapi ia tidak perlu 'hiburan' dari-mu."

"Yunho," sela Jaejoong sambil memegang tangan Yunho, mengingatkan. Yunho menepis tangan Jaejoong.

"Apa maksud…"

"Kau tahu apa yang kumaksud. Kau pura-pura menghiburnya, padahal kau menginginkannya."

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. Jaejoong tahu hanya karena takut kehilangan pekerjaan, harus meninggalkan Jung Mansion dan Sungmin lah yang menyebabkan Kyuhyun tidak menanggapi kata-kata Yunho.

"Terserah apa yang Anda pikirkan tentang saya, tuan Jung, tetapi begitulah faktanya. Saya tak pernah melakukan sesuatu yang menyakiti Sungmin, dan takkan pernah."

Yunho menatap Kyuhyun dengan marah. "Kalau begitu, berarti tak ada masalah, bukan? Tetapi untuk lebih meyakinkan, jangan sampai aku salah paham apa yang kau lakukan, jauhilah Sungmin." Setelah mengatakan itu Yunho berbalik dan masuk ke rumah.

.

.

Kitahara Saki

.

.

Setelah melempar pandang minta maaf pada Kyuhyun, Jaejoong buru-buru mengejar Yunho. Ia berhasil mengejarnya ketika sampai di teras, ditariknya tangan Yunho berbalik menghadap ke arahnya.

"Kau keterlaluan! Apakah memuntahkan kemarahanmu pada Kyuhyun memberikan kepuasan padamu? Kau merasa lebih enak sekarang?"

"Tidak juga."

Yunho membalik situasi, kini ia yang menjadi penyerang. Dicengkeramnya kedua lengan Jaejoong, didorongnya masuk sampai ke ruang tamu, lalu ditutupnya pintu ruang tamu. Dipepetnya Jaejoong ke dinding dengan tubuhnya, mukanya ditundukkan sampai dekat sekali de-ngan wajah Jaejoong, napasnya memburu.

Ia bertanya, "Bagaimana kau bisa sampai hati tidur dengan ayahku? Bagaimana mungkin, Jaejoong?"

.

.

.

.

To Be Continued