Setelah melempar pandang minta maaf pada Kyuhyun, Jaejoong buru-buru mengejar Yunho. Ia berhasil mengejarnya ketika sampai di teras, ditariknya tangan Yunho berbalik menghadap ke arahnya.

"Kau keterlaluan! Apakah memuntahkan kemarahanmu pada Kyuhyun memberikan kepuasan padamu? Kau merasa lebih enak sekarang?"

"Tidak juga."

Yunho membalik situasi, kini ia yang menjadi penyerang. Dicengkeramnya kedua lengan Jaejoong, didorongnya masuk sampai ke ruang tamu, lalu ditutupnya pintu ruang tamu. Dipepetnya Jaejoong ke dinding dengan tubuhnya, mukanya ditundukkan sampai dekat sekali de-ngan wajah Jaejoong, napasnya memburu.

Ia bertanya, "Bagaimana kau bisa sampai hati tidur dengan ayahku? Bagaimana mungkin, Jae?"

.

Bittersweet Rain

©Sandra Brown

Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin

©their self

Bittersweet Rain Yunjae Vers.

©Kitahara Saki

.

Ciuman Yunho makin lama makin liar. Bibirnya berputar-putar di bibir Jaejoong, memaksa Jaejoong membuka mulut dan membiarkan lidahnya masuk ke mulutnya. Pahanya dimajukan, menghimpit tubuh Jaejoong. Satu tangannya yang bebas meremas payudara Jaejoong. Yunho melakukannya tanpa kelembutan sedikit pun. Yang sengaja dilakukan Yunho untuk merendahkan Jaejoong.

Jaejoong meronta-ronta. Tangannya yang bebas mendorong dada Yunho yang kokoh dan memukul-mukuli bahunya. Ia berusaha menghindarkan bibirnya dari ciuman Yunho, tetapi sia-sia. Teriakan Jaejoong dibungkam bibir Yunho.

Ini bukan Yunho. Jaejoong yakin, Yunho takkan pernah menyakitinya seperti ini. Yunho bertingkah seperti orang kesetanan karena perasaan marah yang dipendam selama bertahun-tahun. Musuh besarnya sudah mati, yang menyebabkan ia tak tahu lagi siapa yang harus diajak bertengkar. Frustrasi yang menyergap perasaannya mendorong ia memuntahkan kemarahannya pada Jaejoong, yang tanpa disadarinya diperalat untuk mewujudkan rencana Siwon. Memahami situasi itu, cara paling baik untuk membela dirinya adaJah dengan tidak melawan Yunho sama sekali. Ia pasrah dalam pelukan Yunho.

Setelah beberapa saat berlalu, akal sehat Yunho kembali bekerja. Ia menyadari Jaejoong tidak lagi meronta-ronta melawannya. Bibirnya dengan lembut mencium bibir Jaejoong. Tangannya tidak lagi meremas-remas payudara Jaejoong, melainkan mengelusnya dengan lembut, dan ia menarik tangannya dengan perasaan sesal.

Kelembutan seperti inilah yang harus dilawan Jaejoong. Kekasaran yang dialaminya beberapa saat lalu bukanlah berasal dari pria yang ia kenal dan cintai, melainkan dari laki-laki yang hidupnya hancur berkeping-keping oleh kelicikan dan kegetiran hidup. Kini sentuhan Yunho adalah sentuhan yang amat dikenalnya, yang mengingatkannya akan kenangan manis di musim panas itu, sentuhan yang telah menawan hatinya.

"Yun." Panggilan itu lebih mirip desah lembut, menyiratkan kerinduan dan keputusasaan.

"Apakah aku menyakitimu?"

"Ani."

"Aku tidak bermaksud begitu"

"Arra."

Yunho mencondongkan tubuh ke depan, meletakkan tangannya, dari siku sampai ke ujung jari, ke dinding di belakang Jaejoong. Dahinya disandarkan pada dinding di atas kepala Jaejoong. Embusan napas Yunho menyentuh rambut Jaejoong.

"Mengapa keinginanku tidur denganmu melebihi keinginanku bernapas? Mengapa aku tidak bisa melupakanmu? Setelah semua yang terjadi saat ini, mengapa aku masih saja ingin memilikimu?"

Yunho merapatkan tubuhnya ke tubuh Jaejoong. Posisi tubuh seperti itu jelas membuat mereka bergairah, membuat jantung mereka berdebar-debar. "Seharusnya kita bisa berbaring di ranjang dengan posisi seperti ini kan, Jaejoong?"

"Oh, Tuhan." Jaejoong menenggelamkan hidungnya ke leher Yunho. "Jangan bicara seperti itu, Yunho."

"Itu yang kau bayangkan. Itu yang aku bayangkan."

"Jangan membayangkannya."

"Aku selalu membayangkannya."

Tubuh mereka saling memancarkan panas. Dada Jaejoong rapat menekan dada Yunho yang bidang. Perut mereka saling menggesek diiringi tarikan napas berat. Yunho memperbaiki posisi tubuhnya sehingga Jaejoong bisa merasakan dorongan hasratnya yang menggebu. Kejantanan Yunho menutup kewanitaan Jaejoong. Paha mereka saling menekan.

Dengan masih berpakaian, masih berdiri, tanpa bergerak, mereka bercumbu. Mereka bercinta.

Keintiman rohaniah, bukan jasmaniah. Namun masing-masing merasakan kenikmatan yang jauh lebih dalam dibanding percintaan nyata.

Yunho membenamkann wajahnya ke rambut Jaejoong, menelusupkan hidungnya di antara helai-helai rambut Jaejoong. Berulang-ulang Yunho menggumamkan nama Jaejoong. Emosi mereka yang menggelora membuat tubuh mereka ge-metar. Kemudian mereka diam tak bergerak.

Menit-menit berlalu dan mereka masih saja tidak bergerak atau bicara. Mereka hanya berdiri dalam diam, menikmati kedekatan tubuh satu sama lain, menyesali apa yang tak pernah terjadi, meratapi mimpi yang takkan pernah terwujud.

Perlahan-lahan Yunho menarik tubuhnya, sampai tubuh mereka tak lagi bersentuhan. Yunho menatap wajah Jaejoong dengan sorot mata penuh kemarahan dan tuntutan. Jaejoong menengadah-kan kepala, balik menatap Yunho.

"Bagaimana kau bisa hidup bersamanya, Jaejoong?" tanya Yunho.

Yunho menjauhkan diri dari dinding dan menyibakkan rambut. Ia tidak mengulang pertanyaannya, tetapi ekspresi mukanya yang tegang menuntut Jaejoong menjawab pertanyaannya.

"Ia suamiku."

Pernyataan sederhana yang diucapkan Jaejoong itu cukup menjawab semua pertanyaan Yunho. Tetapi ternyata pernyataan itu malah menyulut kemarahan Yunho.

"Mengapa kau menikah dengannya? Mengapa, oh Tuhan? Setelah apa yang terjadi di antara kita, bagaimana bisa kau menikah dengan ayahku?"

"Kau tidak adil, Yun!" tukas Jaejoong, yang tersulut kemarahan juga. "Kau yang meninggalkan aku, bukan sebaliknya."

"Kau tahu apa sebabnya aku kawin dengan Ahra."

"Ani, sebelum kejadian dua hari yang lalu, aku tidak tahu apa alasanmu."

Yunho meletakkan tangan di paha dan menatap Jaejoong marah. "Jadi, kau menganggap aku main-main dengan perempuan lain, sementara aku menantang semua, bahkan akal sehatku, demi memilikimu?"

Kekasaran sikap Yunho mendorong Jaejoong untuk menantang balik. "Bagaimana seharusnya aku bersikap? Kau meninggalkan aku tanpa pesan satu kata pun. Aku dengar kau menikah dengan Go Ahra karena ia hamil. Apa lagi yang harus kupikirkan?"

Yunho mengumpat dan membalikkan badan karena tidak ingin mendengar alasan yang dikemukakan Jaejoong. "Aku tidak bisa menemuimu untuk menyampaikan kenyataan itu. Kau tidak akan percaya padaku, sebagaimana yang lainnya."

"Aku mungkin bisa."

"Kau bisa?" tanya Yunho sambil membelalakkan mata ke arah Jaejoong. Mata Jaejoong menentang tuduhan Yunho. "Tidak, tidak mungkin kau percaya," ujar Yunho pada Jaejoong.

"Kau akan beranggapan seperti yang lain, bahwa akulah ayah si bayi itu."

Yunho berjalan ke sofa dan mengempaskan tubuhnya di situ. Kakinya diselonjorkan. Ia menggosok-gosok mata dengan ibu jari dan jari tengahnya. "Selain itu, aku takut kau terlibat terlalu jauh, bila aku mencoba menemuimu lagi. Aku tahu, orang di kota ini suka bergosip dan aku diawasi seperti pesakitan. Segala yang kulakukan akan dilaporkan. Aku tidak mau mengambil risiko melibatkanmu dalam kesulitan."

Jaejoong berjalan keliling ruangan, mengumpulkan kartu-kartu di karangan bunga yang dikirimkan sebelum pemakaman.

"Jadi siapa ayah bayi itu, Yun?"

Dengan acuh tak acuh Yunho menyebutkan nama seorang pria. Jaejoong berbalik karena terkejut. "Bukankah dia pria yang menikah dengan Ahra setelah kau bercerai?"

Yunho tertawa. "Ahra ingin segera kembali kepada kekasihnya. Tetapi sebelum perceraian, ia menguras uangku. Itulah hukuman yang harus kuterima karena tidak menginginkannya."

"Kau pernah menginginkannya," ujar Jaejoong dengan suara lirih yang hampir tak terdengar, teringat yang dikatakan Yunho pada malam mereka berada di kamar Siwon di rumah sakit.

Yunho mendongak. "Kau menuduhku begitu? Astaga, waktu itu aku masih muda, Jae." Yunho kelihatan tersinggung. "Sekadar mengumbar nafsu. Ya, aku kencan dengannya beberapa kali. Setiap laki-laki di kota pernah kencan dengannya. Tetapi aku masih ingat untuk memakai kontrasepsi, agar ia tidak hamil. Teman-teman mainku yakin aku tak pernah ingin menikahinya."

Jaejoong menunduk, mengamati ibu jarinya. "Benarkah kau tidak..."

"Jae." Kepala Jaejoong terangkat mendengar panggilan Yunho yang lembut. "Kau ingin tahu apakah aku kencan ketika bersamamu?" Mata Jaejoong nanar menatap Yunho. "Ani," jawab Yunho. "Aku tidak bersama perempuan lain sepanjang musim panas itu."

"Apakah kau benar-benar mengatakan kepada Siwon... ayahmu... kau ingin rnenikah denganku?"

"Ya. Aku mengatakan padanya aku sudah menemukan gadis yang ingin kunikahi."

Mereka saling pandang beberapa saat, sebelum Jaejoong mengangkat kepala dan berbalik. "Bayinya, Junsu?"

Yunho tersenyum, sebelum berkata dengan air muka sedih, "Ia yeoja yang baik."

Suara Yunho yang lembut membuat Jaejoong kembali menghadap ke arahnya. "Kau menyayanginya?" tanya Jaejoong.

Tanpa malu-malu Yunho mengangkat wajahnya. "Ya," jawabnya, sambil tertawa kecil. "Sinting, ya? Tetapi setelah ia lahir, aku ingin membesarkannya."

Hati Jaejoong tersentuh mendengar perkataan Yunho. Ia duduk di sebelah Yunho di sofa. "Bukan ingin ikut campur urusanmu, Yunho. Tetapi bila kau bersedia menceritakannya padaku, aku akan mendengarkan."

Yunho memandang wajah Jaejoong. "Kau selalu bersedia mendengarkan. Coba ceritakan, apakah kau duduk di dekat kaki Appa dan mendengarkan baik-baik ketika ia mencurahkan isi hatinya padamu?"

Jaejoong menggumamkan suara seperti tercekik sambil berdiri. Yunho menangkap tangannya dan memintanya tetap duduk di sofa. "Maafkan aku. Duduklah."

Ketika Jaejoong meronta berusaha melepaskan tangannya, dengan gerakan cepat Yunho menariknya dan mendudukkannya kembali di sofa. "Aku sudah minta maaf. Aku tak sengaja, itu kebiasaan yang sulit kuhilangkan. Bila kau ingin mendengar cerita tentang perkawinanku yang menyakitkan itu, aku bersedia menceritakannya padamu. Kau sudah tahu tentang kebrengsekan diriku yang lainnya, kau juga harus tahu soal itu."

"Sudah kubilang, aku tidak ingin ikut campur urusanmu."

"Dan aku percaya," potong Yunho. "Oke?" Setelah Jaejoong mengangguk, Yunho melepaskan genggamannya pada tangan Jaejoong.

"Ahra tidak lagi mencintaiku, seperti yang kuharapkan. Siwon benar tentang hal itu. Ia mengakui ia harus mengatakan aku ayah anaknya hanya agar tidak dibuang keluarganya. Akhirnya kami meninggalkan kota ini, yang tak bisa ditolaknya, kami pindah ke Jepang. Di sana aku harus bekerja karena tidak ingin minta satu sen pun dari ayahku. Perkawinan kami memburuk, tetapi aku sangat menyayangi Junsu. Begitu dia dilahirkan, ayah kandungnya muncul lalu ia dan Ahra membawanya pergi."

"Kau tidak keberatan?"

"Tidak. Aku juga ingin cepat-cepat terbebas darinya. Tetapi aku mengkhawatirkan Junsu. Ahra bukanlah ibu yang baik. Ketika ia mengajukan gugatan cerai dengan alasan mendapatkan penyiksaan mental, aku tidak menyangkal, tetapi ia masih belum puas. Ia menuntut uang jaminan. Di satu sisi, aku ingin membiarkan ia dan kekasihnya yang brengsek itu. Pendek cerita, aku harus kerja siang-malam bertahun-tahun hanya agar terbebas darinya. Aku sedih harus kehilangan Junsu, tetapi Ahra menuntut anak itu di bawah asuhannya."

"Apa Junsu tahu kau bukan ayah kandungnya?" Jaejoong tidak dapat menahan rasa ingin tahunya tentang gadis yang terpaksa hidup terpisah dengan ayah kandung yang tak pernah dilihatnya.

"Oh ya," jawab Yunho kesal. "Usia Junsu hampir tiga tahun ketika surat cerainya keluar. Ia menangis, memelukku erat-erat ketika Ahra menariknya dari dekapanku. Mereka kembali ke Korea, aku tetap tinggal di Jepang. Junsu memanggilku Appa, menangis ingin bersama ayahnya. Namun, Ahra mengatakan padanya bila ia ingin bersama ayahnya, ia harus ikut ibunya tinggal di Korea karena aku bukanlah ayahnya."

"Oh, Yunho," gumam Jaejoong, gemetar membayangkan peristiwa yang mengerikan itu.

"Sekarang usianya sebelas tahun. Kudengar ia agak binal, momok bagi siswa SMP di Korea." Yunho menggeleng sedih. "Memalukan sekali, karena Junsu itu gadis kecil baik-baik. Seperti yang kau ketahui, ia punya sederet 'ayah tiri'. Aku tidak yakin ia ingat padaku."

Setelah diam beberapa saat, Jaejoong berkata, "Apakah perusahaan pesawat terbang tempat kerjamu berjalan baik sekarang ini?"

"Belum sepenuhnya. Aku mendapat izin terbang ketika kuliah semester pertama. Waktu tinggal di Jepang, aku dapat banyak jam terbang, aku dapat izin jadi pilot penerbangan carter. Aku terus mengumpulkan jam terbang, meningkatkan kualifikasiku agar mendapat izin menerbangkan pesawat yang lebih besar. Aku bertemu rekan kerjaku dan kami merencanakan punya pesawat carter sendiri. Kalau ada perusahaan penerbangan yang bangkrut, pesawat-pesawatnya dijual dengan harga murah, dan kami berhasil mengumpulkan uang untuk membelinya. Bisnis kami maju sekali sehingga kami berhasil melunasi utang jauh sebelum waktu yang ditetapkan, banyak permintaan yang tak dapat kami penuhi. Kami membeli pesawat yang lebih besar, makin lama makin banyak."

"Dan akhirnya sampai di sini."

"Ya."

.

.

Kitahara Saki

.

.

Lingkaran cahaya lampu jatuh menyinari mereka. Rambut Jaejoong yang hitam tergerai sampai ke bahu, menyatu dengan rok hitam yang dipakainya. Hanya sebagian wajah dan lehernya yang kelihatan putih di bawah sinar lampu yang kekuningan itu. Matanya berbinar-binar ketika menatap mata Yunho.

"Jae?" panggil Yunho lembut.

Dada Jaejoong berdegup cepat. Tidak pantas sebenarnya merasa seperti itu di hari pemakaman suaminya, tetapi Jaejoong yakin, andai saja Yunho berani melangkah lebih berani, ia akan pasrah dan tak ada yang bisa menghalanginya. Ia masih mencintai pria ini, dan tak pernah berhenti mencintainya. Tetapi cintanya terhadap Yunho bukan lagi cinta remaja. Cintanya pada Yunho adalah cinta perempuan dewasa terhadap pria dewasa. Kendati cepat naik darah, tidak bisa menerima kelemahan manusia lain, marah terhadap hubungannya dengan Siwon, cinta Jaejoong pada Yunho tidak berkurang.

"Ya, Yun?"

"Apakah kau pernah ingat aku sewaktu tidur dengan ayahku?"

Barangkali belati yang dihujamkan ke dadanya takkan lebih sakit ketimbang kata-kata yang dilontarkan Yunho padanya saat itu. Jaejoong menangis pilu dan bangkit dari sofa. "Keparat kau, Yunho! Jangan pernah menyinggung soal itu denganku."

Yunho pun bangkit dari duduk dan berhadap-hadapan dengan Jaejoong. Dagunya agak diangkat dengan sikap angkuh. "Aku ingin tahu. Apakah pernah hati kecilmu terusik, bagaimana kau bisa menikah dengan Appa setelah kita menjadi sepasang kekasih?"

"Aku ingin menjadi kekasihmu, ingat. Kau yang tidak ingin menjadi kekasihku. Kau tidak berani mengambil risiko."

"Benar. Aku tidak berani mengambil risiko yang bisa menyakitimu."

"Aku ingin kau menyakitiku." Jaejoong mengatakan hal itu dengan sangat emosional di antara sedu sedannya.

Yunho mengertakkan gigi dan suaranya merendah. "Aku ingin menyakitimu dengan cara seperti tadi itu, ya. Aku ingin menjadi orang pertama, yang menyakitimu, yang memungkinkan kau menjadi milikku untuk selamanya." Yunho maju selangkah, dengan emosi yang menggelegak.

"Tetapi harga diriku disalahgunakan. Dan lebih tololnya, perasaanku terhadapmu lebih istimewa, tidak bisa dibandingkan dengan gadis-gadis yang pernah kuajak kencan."

"Pacarmu memang banyak, kan?"

"Ya."

"Sebelum dan sesudahnya."

"Ya."

"Lalu, mengapa kau menyalahkan aku menikah dengan Siwon?"

"Karena kau bilang kau mencintaiku."

"Apakah kau juga mencintai gadis-gadis itu, Yunho? Cintakah?" Seketika Yunho memalingkan wajah, tetapi Jaejoong sempat melihat ekspresi bersalah di wajahnya.

"Kau tidak ada di sini waktu itu, Yunho. Kau sudah menikah dengan perempuan lain. Sepanjang yang kutahu, aku hanyalah boneka mainan bagimu selama musim panas itu. Paling tidak, kau kan bisa menulis surat, atau menelepon, atau apalah. Aku tidak yakin kau pernah mengingatku. Andai kau ingat pun, paling aku sebagai gadis sederhana dibandingkan gadis-gadis yang biasa bersamamu."

"Kau tahu apa sebabnya aku tidak mengontakmu. Aku tidak ingin melibatkanmu dalam persoalanku dengan Ahra. Ketika masalahku beres, kau sudah kuliah dan aku mendapat kabar kau sudah menikah. Aku menghapus harapan untuk bertemu denganmu. Kabar berikutnya yang kudapat, kau sudah berbagi ranjang dengan ayahku!"

Jaejoong menutup wajahnya dengan kedua tangan. la dapat menangkap gelombang kebencian yang ditujukan kepadanya. Jaejoong menurunkan tangan, dengan berani balik menatap mata Yunho yang penuh kemarahan. "Kita tidak bisa begini terus, Yun," katanya lembut. "Kita saling menghancurkan."

Bahu Yunho terkulai. Untuk kesekian kali ia menyibakkan rambut. "Aku tahu. Aku akan meninggalkan tempat ini besok pagi."

Hati Jaejoong hancur berkeping-keping. Ia tidak bermaksud menyuruh Yunho pergi, ia hanya ingin mereka berdua berdamai. "Kau tidak harus meninggalkan tempat ini. Aku yang akan pergi. Ini rumahmu. Ini hanya tempat tinggal sementara bagiku. Aku tahu, setelah Siwon meninggal, aku tidak berhak tinggal di sini lagi."

"Bila kau pergi dan aku tinggal, apa kata orang nanti? Mereka akan bilang aku mengusir janda ayahku. Tidak. Aku akan kembali ke Jepang besok."

"Tetapi pembacaan surat wasiat dan pabrik..." Jaejoong mencoba memberi alasan yang masuk akal agar Yunho tetap tinggal di situ. Memang tak ada masa depan untuk mereka berdua, tetapi ia tidak kuasa melihat Yunho meninggalkannya untuk kesekian kalinya. Jangan pergi dulu. Nanti saja, jangan sekarang.

"Aku akan datang ke sini lagi pada hari pembacaan surat wasiat. Setelah itu baru kita atur bagaimana yang terbaik. Menurutku lebih baik kau di sini besama Sungmin. Soal pabrik..." Yunho tersenyum sinis. "Jalankan saja seperti saat kau menjalankannya semasa Siwon masih hidup."

Mata Jaejoong yang muram membingungkan Yunho. Ia maju beberapa langkah agar berada dekat Jaejoong. Ia merangkul Jaejoong, mendekatkannya. Kepala Jaejoong terkulai ke belakang ketika Yunho menunduk ke dekat mukanya.

"Jangan pandang aku seperti itu. Kau kira aku ingin meninggalkan tempat ini? Rumahku? Tempat tinggalku? Sungmin dan Boa?" Suara Yunho tiba-tiba merendah. "Kau?'

Ia menarik tubuh Jaejoong lebih rapat dan mendesah ketika tubuh wanita itu bersentuhan dengan tubuhnya. "Keparat kau. Keparat kau, Jae."

Bibirnya didaratkannya di bibir Jaejoong dengan penuh gairah, tetapi sekali ini Jaejoong memang sudah menunggu. Ia membuka mulut dan membiarkan bibir Yunho melumatnya. Lidah Yunho meluncur masuk ke mulut Jaejoong yang manis tapi hangat. Diciuminya Jaejoong berlama-lama. Pertama ia memiringkan kepala ke satu sisi, kemudian pindah ke sisi lain, seperti ingin menikmati seluruh bibir Jaejoong secara utuh. Tangannya memegangi muka Jaejoong, sementara bibirnya menciumi bibir wanita tersebut.

Mendadak Yunho menghentikan ciumannya. yang membuat Jaejoong gamang. Suara Yunho parau, suara orang yang terluka karena harus menahan kerinduan yang dalam pada Jaejoong. "Brengsek kau, mengapa kau harus menjadi miliknya untuk pertama kali?"

Sedegup detak jantung kemudian, Jaejoong sendirian.

.

.

.

.

.

To Be Continued