Q: Bittersweet kapan selesai?
A: BR punya Saki smp chap 30, dikit kan? kalau di FFN kayaknya smp chap 29 cz diawal 2 chap Saki jadiin 1 chap... jadi kalau Saki ada waktu dan mood buat update, kayaknya gak smp 1 bulan BR selesai. tapi Saki gak janji juga... soalnya Saki lagi kegoda buat bikin remake baru... hehe lagi kegoda sama trilogy Too Far soalnya...
buat Angellous90 ini FF udah selesai di blog Saki, monggo kalau mau baca disana... alamat, liat di profile Saki
buat Akiramia, wah Saki belum pernah nonton doramanya, apalagi manga-nya... Saki gak bisa baca manga, gak tau kenapa kalau Saki baca manga malah bingung sama alurnya... mana kalau ada tulisan plak, tik-tok, dll Saki baca, akhirnya diketawain sama temen2 Saki... nyari dorama ditempat Saki juga susah... download, Saki anaknya malesan... hehehe... tapi nanti kalau temen Saki tiba2 ada yang punya, pasti Saki remake-in kok... oke2
All: Gimana kalau seandainya Jae pernah tidur bareng? setuju sama Minjaeboo, Yun aja udah sering tidur sama cewek... bahkan dia pernah tidur sama Ahra,.. terus kenapa dia mesti marah Jae tidur sama Siwon?
Ah Saki mau nanya ke YunJae Shipper, Chunjae kan pernah duet, YunJae pernah duet gak? jawab ne... sekalian link videonya kalau emang ada
Ia menarik tubuh Jaejoong lebih rapat dan mendesah ketika tubuh wanita itu bersentuhan dengan tubuhnya. "Keparat kau. Keparat kau, Jae."
Bibirnya didaratkannya di bibir Jaejoong dengan penuh gairah, tetapi sekali ini Jaejoong memang sudah menunggu. Ia membuka mulut dan membiarkan bibir Yunho melumatnya. Lidah Yunho meluncur masuk ke mulut Jaejoong yang manis tapi hangat. Diciuminya Jaejoong berlama-lama. Pertama ia memiringkan kepala ke satu sisi, kemudian pindah ke sisi lain, seperti ingin menikmati seluruh bibir Jaejoong secara utuh. Tangannya memegangi muka Jaejoong, sementara bibirnya menciumi bibir wanita tersebut.
Mendadak Yunho menghentikan ciumannya. yang membuat Jaejoong gamang. Suara Yunho parau, suara orang yang terluka karena harus menahan kerinduan yang dalam pada Jaejoong. "Brengsek kau, mengapa kau harus menjadi miliknya untuk pertama kali?"
.
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
.
"Sungmin?" Kyuhyun berlutut di antara jerami dan memegang bahu Sungmin. "Apa yang kaulakukan di sini?"
"Hmmm?" Sungmin terbangun dari tidur, berguling ke pinggir, lalu telentang lagi. "Kyuhyun?" gumam Sungmin. "Sudah pagikah?" tanya gadis itu lembut sambil menggeliat malas, melengkungkan punggung dan memajukan dadanya ke arah Kyuhyun.
"Hampir pagi," jawab Kyuhyun sambil memalingkan mata dari dada Sungmin. "Apa yang kaulakukan disini?"
Sungmin duduk sambil menepiskan jerami yang ada di rambutnya. Sinar matahari pagi yang lembut menyelinap masuk ke kandang kuda, menerpa bahunya yang telanjang. Udaranya terasa masih agak dingin seperti udara malam, tetapi tumpukan jerami tempat Sungmin berbaring hangat dan baunya tajam menyengat hidung. Kuda-kuda di dalam kandang meringkik, ber-teriak minta makan pagi. Titik-titik debu halus melayang-layang beterbangan di udara yang bermandikan sinar matahari pagi.
Mata Sungmin yang masih mengantuk tertuju pada Kyuhyun. Ia tersenyum dan mengelus pipi Kyuhyun, yang kemerahan dan segar setelah bercukur. "Semalam Jaejoong dan Yunho bertengkar. Aku dengar mereka saling berteriak dari kamarku. Boa sudah tidur, karena itu aku tidak ke kamarnya. Membuatku merasa ingin pergi keluar dari rumah. Mengapa Jaejoong dan Yunho selalu bertengkar? Aku tidak mengerti, Kyu."
Sungmin menyandarkan tubuhnya, meletakkan kepalanya di dada Kyuhyun, tangannya memeluk pinggang Kyuhyun. "Akhirnya, aku datang ke sini. Pintu kamarmu dikunci dan lampunya mati. Aku tahu kau sudah tidur pulas. Aku tidak ingin mengganggumu. Aku berbaring saja di sini, di kandang kuda yang kosong, dan tertidur pulas. Perasaanku lebih tenang bila berada di dekatmu."
Sungmin makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Kyuhyun. Perasaan Kyuhyun galau. Ia mengumpat Yunho dan ancamannya setelah melihat kejadian di halaman rumah itu. Apakah Yunho mengira ia tega menyakiti Sungmin? Tidak bisakah kakak laki-laki Sungmin yang keras kepala itu melihat bahwa ia mencintai perempuan ini? Yang baginya bak mata air kemurnian dan kebaikan di dunia ini, dunia yang selama ini dirasakannya hanya penuh dengan kebencian, pembunuhan, darah, dan perang?
Semalam ia baru saja berjanji takkan membiarkan dirinya berduaan saja dengan Sungmin, takkan pernah menyentuh gadis itu. Karena kalau sampai tertangkap basah melakukan hal itu, berarti ia harus meninggalkan tempat ini untuk selamanya. Itulah yang takkan kuasa dilakukannya.
Saat ini, ia tahu tak mungkin ia mampu mengindahkan peringatan Jung Yunho padanya. Keberadaannya yang demikian dekat dengan tubuh Sungmin yang lembut menghalau semua ancaman itu dari benaknya. Tanpa merencanakan atau memikirkan konsekuensi tindakannya, tangan Kyuhyun mendekap Sungmin erat-erat.
"Aku yakin, itu karena mereka berduka kehilangan ayahmu. Mereka akan segera meluruskan perbedaan di antara mereka. Wajar buat seseorang yang biasanya mengurus rumah tangga mengalami stres ketika seseorang yang biasanya tinggal bersamanya pergi."
"Aku sangat menyayangi mereka berdua. Aku ingin mereka bisa bersahabat."
Kyuhyun membenamkan pipinya di rambut Sungmin. Tangannya yang besar lagi kasar mengelus punggung gadis itu. Ketika itu Sungmin mengenakan baju tidur dari bahan katun lembut, dengan hiasan renda di bagian dada. Baju tidur model tangan setali yang diikatkan di bahunya. Mantel tipis yang tadinya dikenakan Sungmin menutupi baju tidurnya dilepaskannya ketika duduk. Kulit Sungmin terasa hangat dan lembut.
"Kalau segalanya sudah beres, mereka bisa bersahabat. Mereka tidak akan bertengkar lagi. Aku yakin."
Sungmin mengangkat kepalanya dari dada Kyuhyun, menengadah, menatap Kyuhyun. Sorot matanya yang kecokelatan memancarkan keyakinan dan penuh cinta. "Kau begitu baik, Kyu. Mengapa tidak semua orang sebaik dirimu?"
"Aku tidak baik," jawab Kyuhyun, tercenung, sambil menelusuri pipi Sungmin dengan jari telunjuknya. "Aku bukan orang baik-baik, sampai aku berjumpa denganmu. Kebaikan apa pun yang kumiliki, berasal dari dirimu."
"Saranghae, Kyu."
Kyuhyun memejamkan mata, menekan perasaan marah. Didekapnya tubuh Sungmin makin erat, ditekannya kepala Sungmin dalam-dalam ke lehernya "Jangan katakana itu, sungmin."
"Aku ingin mengatakannya padamu. Karena aku memang sangat mencintaimu. Kurasa, bila kau mencintai seseorang, kau harus mengungkapkannya, bukan?"
"Kurasa begitu, ya," jawab Kyuhyun.
Tanggul pertahanan emosi yang dibangunnya mulai retak. Tekanan yang datang demikian besar. Ia harus menemukan jalan keluar untuk menyalurkannya dan berharap ia berhasil. Oh Tuhan, tolonglah.
Sungmin menjauhkan tubuhnya dan menatap Kyuhyun dengan sorot mata menuntut. Bulu mata Sungmin yang panjang lagi lembut seperti rangkaian rambut halus menghiasi matanya, mengelus lembut perasaan laki-laki yang keras lagi sinis dan tak berperasaan seperti Kyuhyun. Sungmin menatap Kyuhyun dengan penuh harap, menye-rahkan putusan ke tangan Kyuhyun. Kyuhyun harus menyuarakan perasaannya.
"Aku juga mencintaimu, Sungmin."
Sambil tersenyum, Sungmin mendekap Kyuhyun. Seperti anak kecil, ia melingkarkan tangannya di leher Kyuhyun dan memeluknya.
"Oh, Kyu. Aku cinta padamu. Aku cinta padamu." Diciuminya seluruh wajah Kyuhyun selembut kepak sayap kupu-kupu. "Aku cinta padamu." Sungmin sampai di bibir Kyuhyun, sejenak ragu, teringat kata-kata Jaejoong yang mengingatkannya untuk berhati-hati.
Kyuhyun menghirup napas Sungmin, merasakan getaran kegembiraan yang terpancar dari tubuh perempuan yang demikian dekat dengan tubuhnya. Ia seperti orang yang hampir mati tenggelam. Persetan! Ia berkata pada dirinya sendiri. Jung Yunho tidak bisa berbuat apa-apa padanya untuk hal yang tak pernah dilakukannya. Sekali seseorang pernah mengalami ancaman kematian ratusan kali, tiap kali ia harus meng-hadapinya, menyongsongnya.
Selain itu, ia sangat mencintai perempuan ini.
Bibir Kyuhyun mencium bibir Sungmin dengan lembut. Getaran-getaran kecil yang keluar dari dada Sungmin mengalir ke tenggorokan Kyuhyun, bergetar seirama dengan getar tubuhnya. Tidak pernah ia merasakan perasaan seperti yang dirasakannya ketika bersama Sungmin. Ia kenal banyak perempuan, tetapi bukan perempuan seperti Sungmin, bukan perempuan yang penuh cinta dan bisa dipercaya, polos, tulus, dan tidak mementingkan diri sendiri.
Secara alamiah Sungmin membuka mulutnya, membiarkan bibir Kyuhyun melumat bibirnya, membuat Kyuhyun mendesah. Lidahnya menjelajahi bibir Sungmin, menikmatinya. Sungmin menekan-kan bibirnya makin kuat ke bibir Kyuhyun, tubuhnya yang dirapatkan ke tubuh Kyuhyun membuat Kyuhyun dapat merasakan payudara Sungmin dan puncaknya yang menegang menyentuh dadanya. Kyuhyun makin erat mendekap tubuh Sungmin sementara lidahnya bermain-main di dalam mulut Sungmin.
Kedua orang itu berguling-guling, hanyut dalam kenikmatan yang baru mereka temukan. Pengalaman baru buat Kyuhyun juga buat Sungmin. Keduanya berbaring di atas jerami. Kyuhyun meletakkan kakinya yang utuh di atas paha Sungmin, dan kaki gadis itu yang ramping menjepit kaki Kyuhyun.
"Sungmin." Kyuhyun menyebut namanya. Dengan berani ia mencoba menekan dorongan seksualnya yang menggelora, tetapi payudara Sungmin ada di bawah tangannya, payudara yang kencang. Akhirnya Kyuhyun tak tahan lagi untuk tidak menyentuh payudara itu dengan jari-jarinya.
"Kyuhyun, Kyuhyun," desah Sungmin. "Oh, Kyu, bercintalah denganku, Kyu."
Kyuhyun rersentak. Ditatapnya wajah Sungmin yang berbinar-binar. "Tidak bisa," jawab Kyuhyun lembut. "Kau sadar apa yang kau katakan?"
"Ya." Jari-jari Sungmin menelusuri wajah Kyuhyun yang keras dengan penuh cinta. "Aku tahu apa yang dilakukan perempuan dan laki-laki. Aku ingin kita melakukannya."
"Kita tidak boleh melakukan itu."
Sungmin membasahi bibir dan matanya memancarkan keraguan. "Kau tidak mencintaiku?"
"Aku cinta padamu. Karena itulah aku tidak bisa melakukannya denganmu. Aku tidak bisa melakukan itu denganmu, kecuali kau sudah menjadi istriku."
"Oh." Sungmin tampak kecewa. Matanya memandang bibir Kyuhyun. Jari-jarinya menyentuh wajahnya. "Apakah kita harus berhenti berciuman?"
Sambil tersenyum, Kyuhyun menundukkan wajah dan menciumi bibir Sungmin. "Tidak." jawab Kyuhyun. "Tidak."
.
.
Kitahara Saki
.
.
"Selamat pagi." Jaejoong memasuki dapur dan langsung melangkah ke mesin pembuat kopi. Dituangkannya secangkir penuh kopi. Ketika ia berjalan menuju meja, matanya berusaha menghindari pandangan Yunho, yang sudah duduk lebih dulu di ruangan itu.
"Aku menelepon dokter pagi ini," kata Boa, sambil membalik-balik telur di wajan.
"Dokter? Wae?"
"Wajahmu itu tidak keruan, itulah sebabnya," jawab Boa tanpa merasa bersalah. "Aku tahu kau kurang tidur. Lihat lingkaran hitam di bawah matamu. Kau lihat, Yunho? Kau perlu obat tidur atau penenang atau obat sejenis itulah."
"Ani, aku tidak memerlukannya," jawab Jaejoong sambil duduk di seberang Yunho. Meskipun Yunho dilibatkan dalam percakapan itu, Jaejoong tidak menatapnya dan Yunho pun tetap membisu.
"Jangan sok tahu," nasihat Boa. "Tak ada yang orang yang menyediakan hadiah untuk menjadi janda paling berani tahun ini. Tak ada yang akan menyalahkanmu bila kau sedih dan mengungkapkan semua kedukaanmu. Wajar seseorang berduka bila kehilangan suami."
Mendengar perkataan itu, Jaejoong memberanikan diri melirik Yunho. Yunho tengah menatapnya dari balik cangkir kopi. Jaejoong membuang pandang lebih dulu. "Aku tidak perlu dokter."
Boa menarik napas, tidak memedulikan kegusaran Jaejoong. "Hmmm, sarapan yang banyak, paling tidak," kata Boa. Ditumpuknya telur di piring, lalu disodorkannya ke hadapan Jaejoong. "Ayo, makanlah. Aku akan ke atas, membangunkan Sungmin. Kupikir ada baiknya membiarkan ia tidur."
"Ia tidak tidur," jawab Jaejoong, sambil mengaduk krim di dalam kopinya. "Tadi aku ke kamarnya sebelum turun." Jaejoong ingin turun bersama Sungmin, memakainya sebagai perisai untuk menghadapi perasaan Yunho, apa pun situasinya pagi itu. "Ia tidak ada di kamar."
Yunho meletakkan garpunya di piring. Boa berbalik, tangannya memegang piring berisi roti bakar. "Ke mana dia? Kau tidak melihatnya sepagian ini?" tanya Yunho pada Boa.
"Bukankah tadi sudah kubilang, ia masih tidur?"
Yunho melemparkan serbet ke meja dan bangkit. Ia melangkah ke pintu belakang dan menendangnya.
"Yunho!" Jaejoong berteriak dari kursinya dan mengejarnya. Ketika ia sampai di anak tangga teras, Yunho tampak menuju kandang kuda.
"Yunho!" panggil Jaejoong sambil terus mengejarnya dan mempercepat langkah.
Sesampainya di pintu kandang kuda, ia berbalik ke arah Jaejoong. "Diam!"
"Kau tidak boleh memperlakukan mereka begitu, Yun!" cegah Jaejoong, keberatan, tapi dengan suara hampir berbisik.
"Jangan ikut campur."
Jaejoong merasa harus ikut campur karena melihat Yunho akan lebih bijaksana bila tidak melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan kesempatan Sungmin untuk mendapatkan kebahagiaan. "Sungmin bukan anak kecil lagi."
"Berdasarkan kemampuan berpikirnya, ia masih kecil." Yunho membuka pintu. Berkat perawatan cermat yang dilakukan Kyuhyun, pintu itu tidak bersuara. Yunho memasuki bangunan yang hanya diterangi lampur kecil itu, Jaejoong mengikuti di belakangnya. Sepatu botnya mengeluarkan suara gemerisik di lantai ketika ia tiba di kandang kuda di tempat Kyuhyun dan Sungmin berbaring.
Keduanya mendengar langkah itu, melihat ekspresi marah di wajah Yunho, yang membuat mereka saling menjauhkan diri. Sialnya, Yunho sempat melihat Kyuhyun mencium Sungmin, adiknya, dengan mesra. Melihat tubuh Sungmin yang dirapatkan ke tubuh Kyuhyun, melihat Kyuhyun mengelus-elus payudara Sungmin.
Teriakan marah Yunho membuat darah Jaejoong serasa membeku seketika. Yunho langsung menghampiri Kyuhyun, mencengkeram kemejanya, dan mengempaskannya ke lantai. Perbuatan Yunho, Jaejoong yakin, hampir meretakkan kaki palsu Kyuhyun.
Yunho mendaratkan tinjunya di perut Kyuhyun dan membuat Kyuhyun terpental ke sisi kandang. Kemudian, sebelum sempat ia berdiri, tinju Yunho kembali menghantam dagunya.
Sungmin berteriak dan menghentak-hentakkan kaki. Ia menghambur ke arah kedua laki-laki yang berkelahi itu, tetapi Jaejoong menyambarnya dan menariknya ke tepi. Naluri petarung Kyuhyun bangkit dan ia berdiri untuk membalas si penyerang. Ketika hantaman tinju bersarang di hidung Yunho, membuat hidungnya mengucurkan darah, Sungmin kembali berteriak dan lari meninggalkan tempat itu.
"Hentikan!" teriak Jaejoong. "Hentikan, kalian berdua!"
Tinju dan kaki saling hantam. Mereka bergulat di kandang kuda itu, saling mendaratkan tinju.
Jaejoong menghambur di antara dua lelaki yang tengah berkelahi itu. "Hentikan. Kalian berdua. Demi Tuhan, apakah kalian sudah kehilangan akal sehat?" Akhirnya Jaejoong berhasil berdiri di antara kedua petarung tersebut, yang megap-megap dan berlumuran darah.
Ketika Yunho akhirnya bisa bernapas normal lagi, ia menatap Kyuhyun dengan penuh kebencian. "Aku ingin kau meninggalkan tempat ini petang ini juga."
"Ia tetap tinggal di sini," sergah Jaejoong yang membelakangi Kyuhyun dan dengan tegas menghadapi Yunho. "Ia tetap di sini sampai aku memecatnya. Siwon yang memintaku mempekerjakannya di sini. Akulah satu-satunya orang yang boleh memecatnya. Paling tidak, sampai saat pembacaan surat wasiat itu dan kau mengambil hartamu, Jung Mansion. Sementara ini, sebagai janda Siwon, aku yang mengambil keputusan mengenai segala sesuatu yang menyangkut apa pun di sini."
"Persetan denganmu," jawab Yunho. "Ini soal Sungmin, bukan Jung Mansion. Ia memang putri tirimu, tetapi ia adikku."
"Aku tahu. Semua ini berkaitan dengan Sungmin." Dada Jaejoong turun-naik karena letupan emosi. Ketika menatap Yunho dengan sikap menantang, ia justru merasa makin mencintai Yunho dan ingin menghapus luka di wajahnya. Tetapi ia tidak mau menyerah oleh perasaan itu. "Kyuhyun sama sekali tidak memperalat Sungmin. Ia mencintainya, Yunho. Sungmin juga mencintainya."
"Sungmin tidak tahu apa yang dilakukannya.
"Ani, ia tahu. Ia mencintai Kyuhyun. Apakah kau tak punya perasaan lagi? Emosimu tumpul? Membuatmu tidak mampu melihat hal yang demikian jelas? Kalau kau menyuruh Kyuhyun pergi, bayangkan apa pendapat Sungmin tentang dirimu. Kau orang yang dipujanya. Ia mengagumi setiap langkah yang kau lakukan. Segalanya akan hancur bila kau mematahkan hatinya dengan bertindak seperti itu. Tolong, jangan lakukan hal itu, kumohon."
"Ini demi kebaikannya."
"Bagaimana kau tahu apa yang terbaik untuk dirinya?"
"Aku tahu."
"Seperti Siwon yang tahu apa yang terbaik untukmu? Apakah kau akan memisahkan mereka seperti Siwon memisahkan kita?"
Yunho seperti orang yang kena tinju, bahkan lebih mematikan daripada hantaman tinju Kyuhyun. Matanya nanar menatap Jaejoong, tetapi Jaejoong bergeming. Akhirnya Yunho mengalihkan pandangan pada Kyuhyun, yang tanpa sadar mengelus pahanya yang terluka. Yunho memandanginya tetapi tidak mengucapkan sepatah katapun sebelum meninggalkan kandang.
Jaejoong merasa seluruh jiwa raganya seperti terbang, ia merasa tubuhnya lemas. Beberapa saat lamanya ia berdiri di tempat, memandangi jerami yang berserakan di lantai dengan mata berkaca-kaca. Ia berhasil menyudutkan Yunho dan pria itu pasti sangat membenci tindakannya itu. Sambil menarik napas panjang, ia mengangkat kepala dan berbalik menghadap Kyuhyun. Wajahnya bengkak-bengkak.
"Kau tidak apa-apa?"
Kyuhyun mengangguk, sambil menyeka bibirnya yang sudah tak keruan bentuknya dengan sapu-tangan.
"Aku lebih parah." Kyuhyun mencoba tersenyum tetapi kemudian meringis kesakitan.
"Biar kuminta Boa mengobati lukamu."
Kyuhyun kembali mengangguk dan Jaejoong berbalik. Ketika tiba di ambang pintu kandang, Kyuhyun berkata, "Nyonya Jung." Jaejoong menatapnya. Dengan langkah terpincang-pincang Kyuhyun menghampiri Jaejoong. "Gomapta. Apa pun akibatnya, saya sangat menghargai pembelaan Anda untuk saya."
Jaejoong tersenyum getir dan langsung menuju rumah. Dengan galau ia masuk lewat pintu belakang. Dilihatnya Yunho duduk memangku Sungmin. Sungmin membenamkan wajah ke leher Yunho dan menangis tersedu-sedu.
"Kau marah padaku. Aku tahu kau marah."
"Ani," hibur Yunho lembut sambil mengelus punggungnya. "Aku tidak marah. Aku hanya tidak mau hal buruk menimpa dirimu, Sungmin, hanya itu."
"Yang dilakukan Kyuhyun padaku bukan hal buruk. Aku mencintainya, Yunho."
Mata Yunho bertemu mata Jaejoong dari balik kepala Sungmin. "Aku tidak yakin kau mengerti apa arti mencintai pria, Sungmin. Atau apa makna laki-laki itu mencintaimu."
"Aku tahu! Aku mencintai Kyuhyun dan Kyuhyun mencintaiku. Ia takkan menyakiti aku."
Yunho tidak mau mengakui kekeliruannya. "Kita akan bicara soal ini nanti. Maafkan aku, aku kehilangan kesabaran."
Namun Sungmin tidak mau ditenangkan dengan cara itu. Ia mengangkat kepala dan mencengkeram kemeja Yunho. "Kau tidak boleh berkelahi dengan Kyuhyun lagi. Berjanjilah, kau tidak akan berkelahi lagi dengannya."
Yunho tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia menatap mata Sungmin yang tajam dan akhirnya berkata, "Aku berjanji, aku tidak akan berkelahi dengan Kyuhyun lagi."
Perlahan Sungmin melepaskan cengkeraman tangannya pada kemeja Yunho dan dengan manis mencium pipi Yunho. "Aku akan membantu Boa mengobati luka-lukanya." Bagi Sungmin, persoalan sudah selesai. Ia meninggalkan dapur dan menaiki anak tangga.
"Aku tidak jadi pergi hari ini," kata Yunho dengan nada tertahan ketika tinggal mereka berdua di ruangan itu.
Hati Jaejoong melonjak kegirangan, tetapi itu hanya reaksi sementara. Dengan sikap angkuh ia menaikkan dagu. "Apa yang membuatmu berubah pikiran? Apakah kau takut, ketika kau tidak ada, aku akan memengaruhi adik perempuanmu dan menghancurkan reputasi keluargamu?"
Yunho menatap Jaejoong dalam-dalam, baru menjawab, "Seperti itulah."
Mata Jaejoong berkaca-kaca. Yunho tahu persis bagaimana menyakiti Jaejoong. Bagimu, aku hanya barang mainan, bukan, Yunho? Kau menciumku, bila kau merasa ingin menciumku, tetapi tidak cukup baik untuk menjadi anggota keluargamu."
"Aku tidak jadi pergi."
Hanya itu yang dikatakan Yunho sebelum melangkah ke luar ruangan.
.
.
.
.
.
To Be Continued
