Kereta tiba di stasiun yang dijanjikan. Shizuru menghirup bau udara lama yang terasa baru di ingatan olfaktori-nya. Kepalanya sakit, disertai pusing dan sedikit mual akibat memaksakan diri mengerjakan tugas kuliah di atas kereta. Shizuru masih punya satu hari untuk istirahat cukup dan mengerjakan sisa tugas.
Sambil mempersiapkan hati sebelum bertemu Natsuki.
Shizuru memesan taksi. Sesampainya di penginapan, Shizuru baru sadar kalau handphone-nya mati, lalu mencolokkannya pada sumber energi. Dia mengurungkan niat menghubungi Natsuki. Meletakkan tas-tas begitu saja, dia berbaring menatap langit-langit. "Natsuki...," Shizuru mendesah dalam pikiran sendiri. Perlahan-lahan rasa lelah menuntunnya pada stadium-stadium tidur.
Matahari tepat di atas kepala saat Shizuru terjaga, yang pertama kali dia rasakan adalah lapar yang menggigit. Shizuru menimbang-nimbang, makan sebelum mandi atau mandi sebelum makan. Dia meraih handphone untuk mengetahui waktu, melepaskan sambungan listrik lalu memeriksa beberapa pesan yang masuk. Ada yang dari Natsuki. Sisanya dari dosen yang memintanya memberi asistensi untuk beberapa adik kelas. Shizuru membalas dengan mengingatkan bahwa dia sudah ijin tidak bisa memberi asistensi minggu ini karena harus mengurus beberapa berkas ijasah di sekolah lama. Sambil menghadiri kelulusan Natsuki, batinnya. Tapi Shizuru tak membalas pesan Natsuki. Dia letakkan handphone di tempat tidur, mencari sebutir antasida di kantong tasnya dan mengunyah pelan. Nyeri di ulu hati berkurang, tapi tidak di kepalanya.
Shizuru memutuskan berbaring lagi, membiasakan diri terhadap nyeri di kepalanya. Ditatapnya kembali langit-langit yang semalam telah diakrabinya. Shizuru teringat sepotong roti yang dia simpan pagi tadi, mengambilnya tanpa bangkit dari tempat tidur, lalu memasukkannya secubit demi secubit ke dalam mulut.
Setelah nyeri di kepalanya reda, Shizuru meraih tugas-tugasnya. Dia bersikeras untuk menyelesaikannya hari ini juga, tak banyak yang harus dia kerjakan, dia telah mencicilnya sedikit demi sedikit. Sedikit lagi, batin Shizuru.
Hari menjelang malam saat Shizuru menyelesaikan tugas kuliah. Beristirahat sejenak, dia membuat secangkir teh dan meregangkan diri. Shizuru teringat untuk memesan tiket kembali ke kotanya, meski hatinya berkata kota inilah yang terasa sebagai rumah, Shizuru memilih kembali dengan kereta malam. Tangannya membuat gerakan seolah memperkirakan berat handphone di genggamannya setelah dia mengkonfirmasi tiket, memutuskan inilah saat menghubungi Natsuki.
Suara di seberang begitu familiar, Shizuru nyaris melupakan nyeri di kepalanya saat Natsuki menjawab panggilannya. Seperti rasa lega pulang ke rumah setelah perjalanan panjang, batin Shizuru di sela percakapan dengan Natsuki. Ia terkejut oleh kabar Shizuru berada di penginapan beberapa blok dari tempat tinggalnya, lalu mengomeli Shizuru panjang lebar karena tidak menginap di tempatnya saja.
"Nanti capek, malah tak bisa istirahat. Kamar Natsuki kan berantakan," tandas Shizuru teringat kebiasaannya membantu membersihkan tempat Natsuki saat weekend, supaya dia sendiri tak gerah melihat segalanya berantakan saat menikmati waktu berdua. Dia membayangkan wajah Natsuki yang seketika akan merah karena malu mendengarnya, Shizuru belum kehabisan stok godaan untuk Natsuki.
Natsuki mengajaknya makan malam tapi Shizuru menolaknya. "Simpan mantera sihirnya untuk besok," batin Shizuru. Dia sudah memutuskan untuk jalan-jalan malam di kota ini sendirian, malam ini, menikmati festival yang sedang berlangsung. Ada satu restoran sushi baru di dekat perayaan festival yang ingin Shizuru coba. Dia ingin meletakkan sumpit dan memakannya dengan tangan, seperti kebiasaan bar-bar Natsuki tapi minus mayo, dan itu hanya bisa dia lakukan bila tak seorangpun mengenalnya di tempat makan tersebut. Shizuru menyanggupi bertemu Natsuki sebelum perayaan wisuda besok di akhir percakapan mereka.
Setelah menyegarkan tubuhnya di bawah pancuran air, Shizuru berjalan menuju festival beberapa blok dari penginapannya. Saat melewati tempat tinggal Natsuki, Shizuru berhenti sebentar menatap jendela kamar perempuan berambut gelap itu. Shizuru melanjutkan perjalanan setelah melawan keinginannya untuk mampir ke tempat Natsuki. Keramaian festival belum mampu mengenyahkan rasa sendiri dalam hati Shizuru. Dia tersenyum pada penjual makanan kecil yang dibelinya, berterima kasih setelah membayar. Alih-alih memakannya, Shizuru malah mengantongi makanan tersebut karena tak menemukan tempat duduk. Shizuru ingin menikmati festival sampai larut nanti, sampai pesta kembang api, tapi terlebih dulu dia harus mengisi perutnya yang sedari tadi keroncongan.
"Shi...zuru?" Shizuru menoleh pada suara yang memanggilnya.
"Ara... Natsuki," Shizuru berusaha meredam keterkejutannya. Aneh sekali melihat Natsuki dan festival. Dua-duanya sama membuat hati Shizuru bergairah, gairah yang berbeda tentunya, tapi keduanya susah dipertemukan. Natsuki benci keramaian. Dulu jika Shizuru mengajak Natsuki berkencan, meski itu hanya istilah pribadi Shizuru, Natsuki selalu menolak tempat-tempat ramai. Sebenarnya Shizuru justru senang, kebutuhan 'privacy' Natsuki memungkinkannya mempunyai waktu berdua saja dengan Natsuki, hanya saja Shizuru merasa lebih sulit untuk menahan diri. Supaya tidak memuntahkan perasaannya begitu saja dan membuat sisanya berantakan. Shizuru akhirnya mengutarakan perasaan di hari kelulusannya dan seperti tebakannya, berantakan.
Natsuki mengajak Shizuru menjauh dari keramaian. Ke tempat yang lebih tinggi untuk melihat kembang api, kata Natsuki.
"Tapi perutku lapar, Natsuki," tukas Shizuru. Giliran Natsuki terkejut. Biasanya yang menggerutu tentang lapar di antara mereka adalah Natsuki.
Shizuru dan Natsuki duduk saling berhadapan. Mereka sudah memesan satu paket sushi yang sekarang sudah diletakkan di antara mereka. Shizuru tersenyum melihat Natsuki makan seperti biasa dengan acuh tak acuh. Dikesampingkannya sumpitnya, Shizuru mengikuti cara makan ala Natsuki dan mereka tersenyum-senyum geli terhadap satu sama lain. Dua perempuan androgini itu seperti berada dalam dunia yang mereka cipta bersama. Seperti di masa lalu, Natsuki menumpahkan teh yang tersenggol tangan kanannya saat meraih makanan. Shizuru lupa mengingatkan diri untuk memindahkan gelas minum Natsuki sebelum ia mulai makan. Seperti di masa lalu, Shizuru dan Natsuki buru-buru menegakkan gelas Natsuki dan tangan mereka bersentuhan, kali ini keempat mata mereka bertatapan. Saat itu seperti saat ini, pipi Natsuki yang mudah memerah mulai menunjukkan semburat warna, tapi kali ini Natsuki tak buru-buru menarik tangannya. Hati Shizuru berdebar-debar, denyut jantungnya meningkat, namun yang tampak di wajahnya hanya senyuman. Shizuru menggenggam tangan Natsuki, berbagai harapan kembali tumbuh subur, dua hal ini terjadi bersamaan tanpa bisa dia cegah.
NB: saya berubah pikiran, cerita ini jadi three shots. Sori.
