Salah satu yang unik dari kota ini adalah adanya jalan layang di atas salah satu stasiun tengah kota. Shizuru sudah membayangkan untuk menikmati pemandangan malam stasiun ini dari atas tadi pagi saat dia tiba, dan kini dia mendapatkan lebih dari apa yang dia inginkan. Natsuki membawanya kemari, Shizuru duduk di boncengan Vespa Natsuki, menikmati kereta yang berjalan menjauh dari stasiun. Natsuki memberinya sebotol dingin teh kesukaannya, dia membalas dengan membagi makanan yang tadi dibelinya di festival sebelum bertemu Natsuki.

Handphone Natsuki berbunyi. Ia membaca sejenak pesan yang masuk, membalas dengan cepat, lalu kembali melempar pandangan pada stasiun yang lengang. Udara dingin, Shizuru menyesal tak membekali diri dengan jaket. Dia sangka di tengah kota ini masih memiliki suhu yang hangat di malam hari. Cuaca tak bisa ditebak akhir-akhir ini dan perkiraan Shizuru meleset.

"Mai bilang jangan pulang terlalu malam. Takut besok bangun kesiangan," kata Natsuki sambil tetap menatap pemandangan stasiun.
"Aku datang untuk melihat Natsuki naik ke panggung menerima ijasah. Kalau Natsuki bolos, kedatanganku rasanya percuma," wajah Shizuru seperti kecewa, tapi dalam pikirannya membayangkan Fumi memanggil-manggil nama Natsuki sedang Natsuki sibuk di belakang panggung. Sibuk mencorat-coret baju seragamnya dengan sesama tukang bolos lain. Membuat album kenangan edisi Natsuki, sudah pasti Nao takkan melewatkannya, dituliskannya kata-kata yang akan membuat wajah Natsuki merah padam di seragam Natsuki. Natsuki mungkin akan membalasnya tahun depan saat Nao lulus.

Peluit panjang membubarkan lamunan Shizuru, kereta malam tiba. Shizuru mengenali warna gerbong-gerbongnya, kereta ini yang membawanya mendekat dan menjauh dari Natsuki. Pagi tadi, kereta ini mengantarkannya kembali pada Natsuki, perempuan yang duduk di vespa bersamanya saat ini. Shizuru melirik pada perempuan di sebelahnya. Rambutnya yang legam terurai angin, ikat rambutnya pasti hilang entah di mana. Shizuru ingat harus membeli banyak ikat rambut untuk Natsuki karena selalu hilang setiap saat. Untuk rambut yang sama seperti pemiliknya, tak bisa terikat.

"Itu kereta yang biasanya kamu gunakan, bukan?" tanya Natsuki. Shizuru mengangguk sambil bersiap meneguk teh dalam botol.
"Aku ingat kereta itu. Jadwalnya belum berubah," ujar Natsuki lagi.
"Aku ingat Shizuru melambai-lambai, persis film India," kali ini Shizuru tersedak mendengar kata-kata Natsuki.
"Astaga, bukan aku saja yang nangis bombay, lho, Natsuki!" tukas Shizuru sambil menepuk lengan Natsuki.
"Ngomong-ngomong soal film India, aku punya Kuch Kuch Ho Ta Hai. Mau nonton bareng?" kata Shizuru, tersenyum sambil mengangkat satu alis.
Natsuki tersenyum, "Kuch Kuch Ho Ta Hai...," ia membeo. Film itu adalah film India pertama Natsuki, film India pertama yang Natsuki dan Shizuru tonton bersama. Dibawa oleh Chie, menggunakan kamar Aoi untuk berkumpul mengadakan nonton bareng. Meski Haruka bilang sudah menontonnya berkali-kali tapi tetap juga ikut bergabung. Yukino harus mengingatkannya berkali-kali untuk tidak membocorkan jalan cerita. Di luar dugaan, Nao dan Natsuki adalah yang pertama kali menangis sepanjang jalan cerita film ini. Mikoto berhasil mengabadikannya lewat kamera saku Mai dan hal itu menjadi bahan godaan mereka saat berkumpul bersama di kemudian hari. Juga di kemudian harinya lagi. Terus di kemudian hari.

"Sebenarnya, Shizuru tak perlu repot-repot ke sini untuk acara kelulusanku," kata Natsuki datar.
Shizuru tak bisa membaca emosi Natsuki saat ini, dia berusaha memilih kata untuk menjawab Natsuki. "Aneh rasanya kalau aku tidak datang di hari kelulusan Natsuki. Kita ini deket banget," Shizuru memutuskan menjawab tanpa menatap Natsuki. "Atau Natsuki lebih ingin Takeda yang datang?"
"Kalau Shizuru tak datang, takkan ada foto-foto kenangan saat kelulusanku nanti," Natsuki menghela napas, lalu tersenyum kecil.
"Berarti Natsuki memang niat membolos," Shizuru merasa lega karena Natsuki tak menanggapi bahasan tentang Takeda.
"Bukan membolos kalau kamu sudah dinyatakan lulus. Itu cuma formalitas," sanggah Natsuki.

Ibu Natsuki telah lama meninggal. Ayahnya menikah lagi dan Natsuki menolak untuk diajak tinggal bersama di luar negeri. Natsuki tidak memberitahu ayahnya perihal acara kelulusannya. Shizuru memahami mengapa dia dan Mai bisa menjadi sahabat bagi Natsuki yang penyendiri, ada dahaga akan sosok seorang ibu dalam diri Natsuki dan kepribadian Shizuru dan Mai yang keibuan memberi rasa nyaman tersendiri bagi Natsuki.

Tiba-tiba terdengar suara letusan, Shizuru dan Natsuki menatap langit yang mendadak bertebaran cahaya. Natsuki benar, kembang api dari sini terlihat cantik. Langit seperti layar televisi pribadi mereka. Shizuru menyandarkan kepala ke samping, ke tubuh Natsuki, seolah teringat rasa lelah setelah perjalanan dan tugas kuliahnya. Tubuh Natsuki kaku sesaat, lalu Shizuru merasakan pelukan satu lengan Natsuki di punggungnya. Keduanya membisu menikmati gemerlapnya malam.

NB: oke, aku bohong lagi, belum selesai. Yang keempat itu yang terakhir. Beneran!