Ada hal-hal tertentu yang membuat Shizuru sulit untuk mengawiti tidur karena terlalu keras memikirkannya, salah satunya perkara Natsuki. Sebenarnya malam ini sempurna untuk Shizuru, kalau mereka berdua berakhir bersama di salah satu tempat. Tidak terjadi apa-apa setelah pesta kembang api tadi, Natsuki mengantarkannya kembali ke penginapan lalu pulang. Shizuru berpikir apa yang salah, yang membuatnya berakhir biasa-biasa padahal Shizuru merasakan sikap Natsuki yang berbeda. Shizuru merasa terhempas, barangkali harapannya sendiri yang membutakan kemampuannya membaca sikap Natsuki. Barangkali rindu yang dia kira baca dari mata Natsuki hanyalah rindu seorang teman yang telah lama tak jumpa. Barangkali, tapi Shizuru tak pernah seyakin ini. Shizuru menghela napas berkali-kali dengan kesal. Kalau masalah cinta, Shizuru selalu kehabisan kesabaran untuk menunggu. Dia mencintai Natsuki bukannya ingin menjadi pengganti ibu atau sesosok kakak baginya. Itu tak pernah cukup untuk Shizuru. Dan sudah berkali-kali Shizuru mencoba melupakan perasaannya terhadap Natsuki, api di hatinya redup tanpa kehadiran Natsuki, dia pikir akhirnya dia pasti bisa menganggap Natsuki hanya sebagai teman, tapi detik ini dia buktikan pikirannya salah kaprah. Rasa frustrasinya memuncak dan dia kesulitan tidur ini malam. Mungkin seharusnya aku tak datang besok, diam-diam kembali asrama universitas, batin Shizuru. Dan kekesalan Shizuru berlanjut sampai keesokan harinya, makin bertambah parah. Seperti yang dia takutkan, Takeda datang dengan seringai anehnya yang menyebalkan. Shizuru mencuri pandang pada Natsuki yang sedang berbincang dengan Takeda. Dua tahun berpisah, Shizuru tak terkejut mendapati Natsuki sekarang mampu mengontrol diri menghadapi lelaki pengagumnya. Shizuru bertanya dalam hati, berapa banyak teman sekelas, adik kelas atau kakak kelas yang jatuh cinta pada wajah rupawan Natsuki? Berapa banyak lagi yang jatuh cinta karena kebaikan hatinya yang ditutupi oleh sikap acuh tak acuh? Banyak yang harus dipetakan Shizuru mengenai perubahan perempuan yang sedang dia amati dengan ujung mata. Shizuru menghela napas untuk ke seratus tiga puluh empat kalinya, Shizuru merasa mungkin dia tidak mau tahu perubahan-perubahan Natsuki. Dia memiliki Natsuki dalam ingatannya, yang tak menua, tak berubah, tak mencintai orang lain. Tak mencintai orang lain, termasuk Shizuru sendiri. Selama ini Shizuru selalu berpikir bahwa ketakutannya yang paling besar adalah Natsuki menolak cintanya, rupanya perubahan Natsuki kini lebih menakutkan dari yang dia bayangkan. Shizuru menyesal harus datang hari ini. Tanpa dia sadari, dia sudah berjalan menuju taman sekolah tempat dia bertemu Natsuki kali pertama. Shizuru kemudian memaklumi diri, mungkin di sini dia bisa mendapatkan penghiburan dari rasa kehilangan Natsuki. Di sini dia temukan Natsukinya, Natsuki dengan seragam rok biru, akan menggenggam bunga untuk menghancurkannya dengan telapak tangan saat Shizuru menengahi kemarahan Natsuki terhadap dunia. "Wah, dunia sempit ya, ketua OSIS?" Shizuru menatap Nao yang sedang duduk di atas rantai tebal di sekeliling kolam yang airnya surut karena kemarau panjang, merokok dan menyeringai. Di buangnya rokok yang telah habis ia hisap, mendekati Shizuru sambil mengulurkan satu pak rokok yang segera ditolak Shizuru, "Aku tidak merokok." "Oh, ya? Uh, aku juga," katanya sambil mengantongi kembali rokoknya. "Kau tidak akan menyita rokokku, kan? Jabatan ketua OSISmu sudah kadaluarsa." Shizuru mengamati adik kelas Natsuki itu dengan ujung matanya. "Eh, belum tahu upload-an foto terbaru dari Chie si ratu gosip?" tanya Nao dengan kerlingan yang tidak disukai Shizuru. Nao membuka smartphonenya, terdengar klik-klik beberapa saat sebelum ia tunjukkan foto yang ia maksud. Natsuki mencium pipi Takeda. Shizuru tertegun tapi bibirnya masih tersenyum. Di kejauhan dia mendengar kegaduhan acara wisuda, Shizuru tahu dia tak sanggup menyelesaikan perannya menemani Natsuki hari ini. NB: ahahaha...aku bener-bener pembohong yang kebangetan! Satu chapter lagi ya...
