Ada review di chapt 1 ngebuat Saki gak suka dan ngebuat Saki buru2 pengen nglurusin..
Saki gak suka disebut PLAGIAT...
Oke, mungkin salahnya aku, aku gak tulisin kata REMAKE tapi aku kira semua yang baca fanfiction sudah besar dan tahu arti dari tanda '©' yang gak tahu aku kasih tahu ya, itu artinya Copyright simpelnya hak kepemilikan dari Sleep with the Devil milik kak Santhy Agatha. Jadi Saki tekanin, ini Fanfiction milik Saki hasil REMAKE dari cerita kak Santhy yang judulnya Sleep With Devil. Saki gak PLAGIAT. Apa lagi PLAGIAT punya author WONKYU.
Setelah chapter 1 kemaren saki publish, ada reader yang PM saki, dia bilang kalau sebelumnya juga ada yang pernah REMAKE FF ini, tapi setidaknya dia baik, dia ngasih tahu judulnya ke Saki. dan Saki langsung cek, dan ternyata benar, di FF itu castnya KYUMIN judulnya Sleep with the Cho..
Saki baca chapter 1 nya, dan improvisasinya lebih bagus dari Saki..
tapi Saki gak tahu FF yang pake cast WONKYU..
Saki cuma Suka cast dengan cast utamanya DBSK Jaejoong dan pair khusus KRAY yang lain Saki gak suka, jadi Saki gak tahu kalau ada author WONKYU yang pernah Remake cerita ini juga. Saki udah izin ke kak Santhy sebagai penulis asli ceritanya. jika memang kalian gak suka aku publish FF ini disini, aku gak akan post disini. Saki gak suka cari musuh, jadi lebih baik imaginasi Saki tentang YunJae dengan cerita ini saki tulis di blog Saki aja. toh Saki udah izin sama kak Shanty...
Tolong, sebelum kalian menjudge orang, pikirkan baik2 apa benar alasan kalian menjudge orang itu.. Jangan buat malu diri kalian sendiri..
Teima kasih yang sudah mau meninggalkan jejaknya.. eh ya Guest, mau nanya Sleeping with the Enemy yang kamu maksud itu, Film kah? aku coba searching di google yang muncul Fim dan yang main Julia Robberts.. atau ada SwtE yang lain?
Masitge deuseyooo...
cerita sebelumnya...
Yunho membalas tatapannya dengan senyum manis yang jahat,
"Kalau kau berjanji mau bersikap baik, mungkin aku akan menawarimu tempat yang nyaman, di sebelahku di dalam mobil."
"Mati saja kau!" sembur Jaejoong penuh kemarahan.
Yunho terkekeh lagi,
"Oke, kau yang minta." dengan isyarat anggukan kepala Yunho memerintahkan para bodyguardnya,
"Masukkan dia ke bagasi."
.
.
Perjalanan itu terasa menyiksa dan panjang. Tubuh Jaejoong dilempar begitu saja dengan kasar oleh bodyguard Yunho ke bagasi dan dikunci dari luar.
salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
Jaejoong berusaha menendang, berteriak, meronta, tetapi pada akhirnya dia kelelahan dan kehabisan oksigen. Menyadari bahwa ruang bagasi ini begitu sempit dan pengap dengan asupan oksigen yang makin menipis, Jaejoong terdiam, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar keras, campur aduk antara rasa takut dan ingin tahu, akan dibawa kemanakah dirinya?
Lama sekali Jaejoong menunggu, sampai akhirnya mobil itu melambat, terdengar suara pintu gerbang yang berat dibuka, lalu mobil itu melaju lagi, melambat, dan kemudian berhenti.
Suara pintu mobil di banting. Dan Syukurlah, ada gerakan membuka bagasi. Jaejoong bersiap melompat dan menyerang siapa saja yang membuka pintu bagasi itu, lalu kabur.
"Ah ya Tuhan, semoga semudah itu." Doanya dalam hati
Pintu bagasi terbuka sedikit dan secercah cahaya masuk melalui celah yang hanya dibuka sempit.
"Jaejoong," itu suara Yunho dan namja itu memanggil namanya. Wajah Jaejoong langsung pucat pasi.
"Namja itu sejak awal sudah mengetahui penyamarannya!"
"Aku akan membuka pintu bagasi ini, tapi kau harus berjanji untuk bersikap tenang dan tidak memberontak." Ada seberkas senyum di suara Yunho.
"Kurang ajar." namja itu pasti dari tadi sudah menertawakan kebodohannya!
"Kau ada di rumahku, dan perlu kau tahu, para pengawalku sangat tidak ramah, kusarankan kau turun dengan sikap penurut dan tenang, demi dirimu sendiri, karena para pengawalku mungkin akan melukaimu kalau kau bertindak bodoh."
"Rumah Yunho!" Jaejoong memejamkan matanya frustrasi.
Dari informasi yang dia dapatkan, Rumah Yunho yang terletak di atas tanah begitu luas di kawasan elite pinggiran kota. Rumah itu dipagari dengan pagar tinggi di sekelilingnya dan setiap akses masuk dijaga oleh pengawal-pengawal Yunho. Tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke area rumah ini tanpa sepengetahuan Yunho. Begitupun, tidak akan ada orang yang bisa keluar dari rumah ini tanpa seizin Yunho.
"Ottokhe Jae? Apakah kau berjanji untuk bersikap baik, dan aku akan mengeluarkanmu secara manusiawi. Atau kau memilih bertindak bodoh lalu mungkin aku akan mengikatmu dalam karung dan kusekap di gudang." Suara Yunho di luar menyadarkan Jaejoong dari lamunannya.
"Kenapa kau membawaku kemari?" gumam Jaejoong penuh keberanian.
Terdengar suara Yunho terkekeh di luar sana,
"Menurutmu kenapa Jae? Apa kau pikir aku semudah itu diracuni di tempat umum? Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau selama ini mengendus-endus mencari kesempatan untuk membalaskan dendammu?" Suara Yunho terdengar dekat.
"Kau sudah bermain api," bisiknya, "sekarang saatnya kau untuk terbakar."
.
.
Pintu bagasi itu terbuka tiba-tiba dan Jaejoong belum siap meronta. Lagipula, percuma meronta. Dibelakang Yunho yang berdiri dengan pongahnya, ada beberapa bodyguard dengan tubuh kekar bertampang seperti batu. Dan melihat tampang dan penampilan mereka, Jaejoong tahu, mereka tidak akan segan-segan melukainya kalau Jaejoong berbuat sesuatu yang sekiranya akan mencelakakan majikan mereka.
Yunho mundur selangkah, lalu mengulurkan tangannya setengah membungkuk,
"Silahkan tuan puteri, biarkan aku membantumu keluar." gumamnya mengejek.
Jaejoong menatap tangan itu lalu menggeram marah, "kurang ajar sekali iblis yang satu ini!"
Dengan marah, ditepiskannya tangan Yunho dan dia berusaha keluar sendiri dari bagasi sempit itu meskipun sedikit kesulitan karena kaki dan tangannya kaku dilipat di ruangan sempit dan menempuh perjalanan entah berapa puluh kilo.
Akhirnya Jaejoong berhasil berdiri keluar dari bagasi, dengan sepenuh harga dirinya.
Yunho mengamati Jaejoong dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan melecehkan, lalu senyum muncul lagi di sudut bibirnya,
"Mari, silahkan masuk, selamat datang di rumahku." Setengah memaksa namja itu mencengkeram lengan Jaejoong yang kaku lalu membawanya masuk ke dalam rumahnya.
Bagian depan ruang tamu Yunho sangat megah, dengan arsitektur gaya lama yang entah kenapa bisa tampak modern. Lantai marmernya berkilauan dengan warna gading, dan pilar-pilar besar di ruang tamu dengan warna serupa begitu menjulang tinggi, dipadukan dengan nuansa warna merah dan emas.
.
.
Yunho membawa Jaejoong menuju ke sebuah tangga besar melingkar berwarna putih dan sekali lagi setengah menyeretnya menaiki tangga. Mereka berdua berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih,
"Kau akan tinggal di kamar ini mulai sekarang." gumam Yunho datar.
"Mwo!" Jaejoong membelalakkan mata marah pada Yunho.
"Atas dasar apa kau memutuskan aku harus tinggal dimana. Aku mau pulang."
Bibir Yunho masih menyiratkan senyum, tapi matanya tidak, mata itu bersinar dengan tatapan tajam dan dingin,
"Kau tidak bisa pulang. Sekarang ini adalah rumahmu. Bersamaku."
Dengan cepat namja itu merengkuh pundak Jaejoong, dan detik itu Jaejoong menyadari bahwa namja itu akan menciumnya, secepat mungkin dia memalingkan muka, mencoba memberontak, hingga bibir Yunho hanya mendarat di pelipisnya.
Cengkeraman Yunho di pundaknya makin kuat sehingga terasa menyakitkan,
"Aku sudah memutuskan untuk memilikimu. Dan satu-satunya cara kau lepas dariku adalah ketika aku memutuskan untuk melepaskanmu, atau ketika kau… Mati." Dengan kalimat penutupnya yang begitu kejam, Yunho membuka pintu putih itu, dan mendorong Jaejoong masuk, lalu menguncinya dari luar, meninggalkan Jaejoong yang menggedor-gedor dan menendang-nendang pintu itu dari dalam dengan histeris.
Kitahara Saki
"Menurutmu apakah dia sudah siap untukku?" Yunho mengenakan jubah tidurnya, sutera hitam, dan duduk di sofa dikamarnya, hidangan lengkap tersedia untuknya di meja. Dengan tenang, namja itu menyesap anggurnya, lalu menatap Changmin, pengawal pribadinya sekaligus orang kepercayaannya yang berdiri depannya dengan wajah khasnya yang tanpa ekspresi.
"Saya pikir dia sudah siap, bukan untuk menyerah kepada anda, tetapi siap membunuh anda, tatapan matanya adalah tatapan pembunuh yang penuh kebencian."
Yunho tersenyum tipis mendengar jawaban Changmin itu,
"Ya, tatapan matanya membakar, penuh kebencian." Yunho menyesap anggurnya lagi, memejamkan matanya, "Tapi kau tahu bagaimana aku sangat ingin memilikinya malam ini."
"Ya saya tahu," jawab Changmin tenang, "apakah anda akan memaksanya…?"
"Aku tidak suka memaksa yeoja, kau tentu tahu."
Yunho terbiasa dikelilingi yeoja yang menyerahkan diri padanya. Tidak ada seorang yeojapun, yang mampu menolak pesona Jung Yunho. Dengan rambut hitam legam yang sedikit panjang mengena kerah, mata cokelat pucat dan wajah aristrokatnya hampir bisa dikatakan sempurna seperti malaikat… kalau saja matanya tidak begitu dingin, tanpa perasaan dan menyimpan kebencian mendalam, menakutkan. Yunho bagaikan iblis yang terperangkap dalam raga malaikat.
"Aku ingin dia menyerahkan dirinya padaku dengan sukarela."
"Tentu saja." Gumam Changmin dalam hati. Kata-kata Yunho bagaikan perintah baginya.
Kitahara Saki
Obat ini sangat keras, dan tidak bisa digunakan untuk main-main. Changmin mengamati bubuk putih dalam wadah kecil di depannya. Sangat keras, sekaligus sangat efektif. Dan kalau yeoja itu meminumnya, maka yeoja itu akan menyerah pada Yunho, dan menyenangkan tuannya.
Dengan gerakan pelan penuh perhitungan, Changmin mencampurkan bubuk putih tanpa rasa itu ke dalam minuman Jaejoong.
Obat ini akan membuat yeoja tersiksa, meminta dipuaskan. Kalau tidak ada yang memuaskannya, yeoja itu akan merasa seluruh tubuhnya terbakar, kesakitan. Dan Changmin yakin, Jaejoong akan meminta, bahkan memohon-mohon pada tuannya malam ini.
"Malam ini yeoja itu akan menyerah dalam tanganmu, Tuanku." Changmin tersenyum dalam hati, menanti apa yang akan terjadi.
Kitahara Saki
Sudah hampir satu jam Jaejoong dikurung di dalam kamar ini, kamar mewah bernuansa putih, di karpet, di ranjang, di semua furniturenya. Kamar ini dibuat untuk yeoja, dan Jaejoong merasa jijik membayangkan bahwa mungkin kekasih-kekasih Yunho yang sebelumnya juga ditempatkan di ruangan ini.
Salah seorang pengawal Yunho yang bertampang paling dingin, setengah jam yang lalu masuk, membawa nampan makanan, meletakkannya di meja. Lalu tanpa berkata apa-apa pergi dan mengunci kembali pintu itu dari luar.
Dan selama setengah jam yang panjang itu pula, Jaejoong mencoba setengah mati untuk tidak melirik pada nampan yang sangat menggoda itu. Perutnya keroncongan, dan dia merasa haus. Dia belum makan dari siang karena terlalu gugup merencanakan pembalasan dendamnya pada Yunho, dan sekarang dia kena batunya.
Aroma makanan itu terasa begitu menggoda, aroma manis dan gurih masakan yang masih panas.
"Mungkin jika aku mengintip sedikit apa makanannya…..tidak!" Jaejoong menghardik dirinya sendiri dalam hati. Dia tidak akan makan, lebih baik dia mati kelaparan daripada harus menyerahkan pada kekuasaan Yunho.
Tapi jika hanya minum mungkin tidak apa-apa. Jaejoong melirik haus pada minuman di nampan itu. Sari jeruk segar yang tampak begitu menggoda.
Akhirnya Jaejoong menyerah. Dia haus sampai terasa mau pingsan, dan dia harus minum, kalau tidak dia mungkin akan benar-benar pingsan. Jaejoong tidak boleh pingsan, dia harus mencari cara untuk melarikan diri dari kamar ini, dari rumah ini.
Dengan cepat disambarnya gelas itu, diminumnya langsung berteguk-teguk karena begitu hausnya. Aliran dingin air itu terasa begitu segar ketika membasahi kerongkongannya.
Tanpa sadar segelas minuman itu sudah tandas, Jaejoong meletakkan gelas itu dengan pelan, sedikit merasa bersalah, Tapi bagaimanapun juga dia tidak menyesal. Dia merasa lebih baik. Sekarang dia bisa memikirkan cara untuk kabur dari rumah ini,
Mata Jaejoong berputar, ke sekeliling ruangan, mencari cara untuk melarikan diri. Ada jendela besar di ujung sana, yang dilapisi gorden berwarna putih, mungkin Jaejoong bisa mencari cara keluar dari sana.
Dengan hati-hati Jaejoong melangkah ke arah jendela itu untuk memeriksanya, tetapi seketika itu juga hatinya kecewa, Jendela itu sudah dilapisi kaca tebal, dan penuh dengan teralis besi yang sangat kuat, lagipula Jaejoong baru menyadari bahwa dia ada di lantai dua, kalaupun dia bisa membuka jendela itu, dia harus mencari cara agar bisa turun dari lantai dua dengan selamat.
Jaejoong mencoba berpikir, dia belum memeriksa kamar mandi yang ada di ujung kamar, mungkin ada jalan keluar dari sana yang lolos dari pengawasan, dengan cepat dia melangkah ke kamar mandi, tetapi langkahnya terhuyung, entah kenapa kepalanya terasa pening, dan seluruh tubuhnya menggelenyar…. Kepanasan…
"Ada apa ini?" Jaejoong meraba dahinya sendiri, terasa panas, Apakah dia demam? Napas Jaejoong terengah, semuanya terasa panas….. terasa panas… Jaejoong sangat butuh….
Kitahara Saki
Yunho membuka pintu kamar tempat Jaejoong dikurung dengan pelan. Sudah larut malam, dan Yunho tidak mengharapkan Jaejoong masih bangun.
Kamar itu gelap dan remang-remang, tapi mata Yunho menangkap nampan makanan yang masih utuh, hanya minumannya yang habis.
Gadis keras kepala. Geram Yunho dalam hati, dia pikir dia bisa mengancam Yunho dengan membiarkan dirinya sendiri kelaparan, dia tidak tahu bahwa Yunho akan menggunakan segala cara untuk membuat Jaejoong menyerah padanya…
Gerakan gemerisik di ranjang membuat Yunho menoleh waspada. Dalam keremangan kamar itu, Yunho melihat Jaejoong terbaring di sana, gelisah. Yeoja itu belum tidur rupanya…. Dan dia tampak… tidak tenang.
Ingin tahu, Yunho mendekat, dan menemukan Jaejoong berbaring disana dengan tatapan mata tersiksa, tubuhnya menggeliat di atas ranjang berseprei satin putih itu seperti kepanasan,
"Tolong…panas…." Suara Jaejoong mendesah, serak seperti kesakitan.
Mengernyitkan keningnya, Yunho duduk di tepi ranjang, dan menyentuhkan jemarinya ke dahi Yunho, suhunya normal, dia tidak demam. Kerutan di kening Yunho makin dalam, lalu kenapa yeoja ini bilang kalau dia kepanasan?
"Kau mau minum?" Dengan cekatan Yunho mengambil gelas air di meja pinggir ranjang, "Sini, aku bantu kau minum." Yunho bangkit dan mengangkat tubuh Jaejoong, lalu mencoba membuatnya berdiri. Tubuh Jaejoong menggayut lemah di lengannya, dan napas yeoja itu terengah,
"Panas…. Tolong… panas…." Sekali lagi Jaejoong mendesahkan suara itu, suara kepanasan, seperti tersiksa.
Yunho meminumkan air itu kepada Jaejoong, dan dengan rakus Jaejoong menghirup air itu, tetapi napasnya tetap terengah, dan dia masih tampak tersiksa oleh rasa panas yang mendera tubuhnya.
"Pasti ada sesuatu…. Jangan-jangan…."
Yunho memundurkan tubuh Jaejoong yang bersandar padanya, supaya dia bisa mengamati Jaejoong dengan jelas.
Wajah Jaejoong merona kemerahan, napasnya terengah, dan matanya sedikit tidak fokus, dia selalu mengeluh kepanasan…. Jangan-jangan…
Dengan cepat Yunho membaringkan Jaejoong di ranjang, dan melangkah keluar dari kamar bernuansa putih itu, membanting pintunya, dan berteriak,
"Changmin!"
Sekejap, tanpa suara seolah menggunakan sihir, Changmin muncul di depan Yunho,
"Ya Tuan."
"Kau campurkan apa di minuman Jaejoong?"
Changmin sedikit membungkukkan tubuhnya, wajahnya tanpa ekspresi, "Saya mencampurkan obat milik saya, Tuan tahu itu obat apa."
Wajah Yunho mengeras, "Ya. Aku tahu itu obat apa. Dan aku menolak memperalat wanita dalam pengaruh obat. Kau melakukan sendiri tanpa meminta izinku, kau tahu kalau aku marah aku bisa menghukummu."
Changmin tampak tidak terpengaruh dengan kata-kata Yunho, "Anda memerintahkan saya untuk membuat yeoja itu menyerah. Dia sangat membenci anda, dan pasti akan berontak mati-matian, obat itulah satu-satunya cara membuat dia menyerah," Changmin menatap mata Yunho, "anda bisa meninggalkan kamar ini kalau anda tidak ingin memanfaatkannya."
"Dia kesakitan, kau tahu itu." geram Yunho marah, Changmin mengangkat bahunya,
"Anda bisa meredakan sakitnya. Dan besok, setelah anda memilikinya, mungkin dia akan menjadi lebih penurut."
"Berapa banyak obat yang kau berikan padanya?"
"Dosis biasa tuan, tetapi efeknya berbeda-beda tergantung orangnya."
"Jadi ini bisa berlangsung selama ber jam-jam atau sepanjang malam?"
"Selama anda ingin bersenang-senang, Tuan."
Yunho terdiam. Kata-kata Changmin terasa begitu menggoda.
Kitahara Saki
Yunho kembali masuk ke dalam kamar, didorong perasaan yang kuat untuk melihat Jaejoong kembali.
Jaejoong masih menggeliat dan mengerang-erang di atas ranjang, ketika Yunho duduk di ranjang, Jaejoong menatap Yunho dengan mata berkabut, seolah tidak mengenalinya.
"Aku sakit….tubuhku… panas…"
Yunho tersenyum dengan kelembutan yang aneh, Jaejoong benar-benar tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya, bahwa hanya ada satu cara untuk menyembuhkan Jaejoong dari kesakitannya. Dan Jaejoong membutuhkan Yunho untuk itu.
Yunho mencondongkan tubuhnya dan menyapu lembut bibir Jaejoong, mendapati mata Jaejoong membelalak kaget. Yunho tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Sungguh luar biasa, perpaduan antara kepolosan dan gairah yang kuat sungguh-sungguh menggodanya.
"Kau tidak menyukainya?" Bisik Yunho lembut.
Jaejoong menatap Yunho, atau setidaknya mencoba menatap dengan matanya yang sulit fokus,
"Aku… apa yang terjadi pada diriku?"
Yunho mengulurkan jemarinya, dan menyapukannya di pipi Jaejoong, membuat tubuh Jaejoong bergetar. "Anak buahku mengambil keputusan sendiri dan mencampurkan obat di minumanmu…"
"Obat…? Apakah aku diracuni?"
"Itu bukan racun Jae, obat itu akan merangsangmu sampai hasratmu tak terkendali, dan kau akan kesakitan jika dirimu tidak dipuaskan."
Jaejoong butuh waktu sesaat untuk mencerna, sampai kemudian menyadari arti kata-kata Yunho, sedikit kesadarannya meneriakkan peringatan akan bahaya. Dan tubuhnya langsung beringsut, susah payah mencoba menjauhi Yunho.
Tetapi Yunho merengkuh Jaejoong lagi dan berbisik lembut di telinga Jaejoong,
"Aku bisa membantumu menyembuhkan rasa sakitmu," sambil berbicara, tangannya yang bebas turun ke dada Jaejoong, erangan Jaejoong ketika merasakan jemari Yunho terdengar begitu menderita, "terlalu sensitif, sayang? Kau membutuhkan pelampiasan dengan segera bukan?" Tangan Yunho bergerak ke pusat gairah Jaejoong.
"Ani!" Jaejoong mencoba berteriak dan mencengkeram lengan Yunho, "Jangan! Kau tidak boleh melakukannya!"
"Ini satu-satunya cara, sayang," suara Yunho terdengar sedikit parau, "biarkan aku membantumu."
Jaejoong mengerang ketika denyutan itu meningkat seiring dengan sentuhan Yunho. Otaknya memberontak atas apa yang dilakukan pria itu dengan jari-jarinya, tapi tubuhnya tak kuasa menolaknya. Jaejoong membutuhkan jemari Yunho itu…. Ia membutuhkan….
"Aku akan menolongmu Jae, tapi kau juga harus membantuku, aku juga butuh pelepasan, Lihat aku Jae."
Yunho membuka jubah satin hitamnya, dan tubuhnya telanjang di balik jubah itu. Dan napas Jaejoong tercekat ketika melihat bukti gairah Yunho begitu keras. "Gunakan aku Jaejoong, biarkan aku ada di dalam dirimu."
Itu adalah satu-satunya kata yang mendekati permohonan yang pernah Yunho gunakan pada yeoja, dan hanya dia lakukan kepada Jaejoong. Yunho melakukannya karena dia sangat bergairah kepada Jaejoong, dia amat sangat bergairah, dan Jaejoong tidak dalam kondisi untuk menolak gairahnya.
Tubuh Yunho sudah menindih Jaejoong, dan yeoja itu menggodanya dengan pinggulnya yang menggeliat dan mengundang. Yunho menyangga tubuhnya dengan siku, menjaga agar dadanya yang keras tidak menindih tubuh Jaejoong, Yunho menunduk dan mencicipi bibir Jaejoong yang begitu menggoda dan menggairahkan, bibir itu begitu manis dan menggoda,
"Tenang sayang, aku mungkin akan menyakitimu," Yunho menahan pinggul Jaejoong dengan tangannya, karena pinggul itu bergerak-gerak mendesaknya dengan mengundang, Jaejoong sudah sepenuhnya ada di bawah pengaruh obat itu, "tapi aku berjanji, setelah rasa sakit itu, kau akan merasakan kenikmatan."
Detik itu juga Yunho mendesakkan dirinya ke dalam tubuh Jaejoong. Hati-Hati. Yunho menggertakkan giginya, mencoba menahan gairahnya yang begitu kuat, mencoba meredakan dorongan untuk menerjang dan menenggelamkan tubuhnya dalam-dalam ke dasar balutan sutera panas milik Jaejoong.
"Hati-hati, yeoja ini masih perawan." Yunho mencoba mengingatkan dirinya lagi. Penghalang itu ada, seolah mencoba menahan Yunho memasukinya, dan Yunho mendesak maju, mengklaim apa yang menjadi miliknya.
Jaejoong adalah miliknya!
.
.
.
To Be Continued
