Yang nanya arti judulnya, maaf Saki lupa, hehe... dulu pas waktu nyari di google translate muncul in, tapi pas Saki cari lagi kok gak ada hehe.. ini bahasa korea yang pasti. yang nanya blog Saki, kitaharasaki.[blogspot].com, saki bakal usahain tetep update disini kok, meski mungkin seminggu dua atau tiga kali post, udah cepet kan itu...

Saki mau bagi quotes yang Saki dapet dari School 2013

"There are words you can say and words you shouldn't say."
Lee Yi Kyung

akhir kata, gomapta kepada teman-teman yang sudah meninggalkan review.. sungguh itu berarti banget buat Saki.


"Hati-hati, yeoja ini masih perawan." Yunho mencoba mengingatkan dirinya lagi. Penghalang itu ada, seolah mencoba menahan Yunho memasukinya, dan Yunho mendesak maju, mengklaim apa yang menjadi miliknya.

Jaejoong adalah miliknya!

.

.

"Sakit!"

Jaejoong menjerit, berusaha mendorong tubuh Yunho. Tubuhnya berteriak antara kesakitan dan keinginan untuk dipenuhi gairahnya, sebutir air mata menetes dari sudut matanya, sisa-sisa dari kesadarannya yang tertinggal. Yunho mendesakkan dirinya sedalam mungkin, akhirnya berhasil menembus penghalang itu, mengabaikan jeritan kesakitan Jaejoong.

salang-ui ba

©Kitahara Saki

Kim Jaejoong, Jung Yunho

©their self

Sleep with the Devil

©Shanty Agatha

Ketika akhirnya jeritan Jaejoong mereda. Yunho mengangkat kepalanya, dan mengecup lembut bibir Jaejoong yang terbuka dan terengah-engah,

"Setelah ini…. Aku akan mengajarkanmu bagaimana memuaskanku," ucapan itu menggema di dalam ruangan, bagaikan janji dari sang kegelapan.

Dan Jaejoong, sudah benar-benar kehilangan kesadarannya, tubuhnya menggeliat merasakan kenikmatan yang menggelenyar ketika rasa sakit itu akhirnya menghilang, berganti dengan kenikmatan panas yang membagikan gelenyar menyiksa ke seluruh tubuhnya.

Yunho merasakan gerakan pinggul Jaejoong, merasakan denyutannya yang menggenggam panas tubuhnya, yang tertanam jauh di dalam tubuh Jaejoong, mendesak dengan berani, menarik Yunho lebih dan lebih dekat lagi.

Yunho menggertakkan gigi, menahan diri, membiarkan Jaejoong menggerakkan pinggulnya, mencari kenikmatannya sendiri dengan sesuka hati.

Dan tidak butuh waktu lama ketika akhirnya yeoja itu mencapai pemenuhan kepuasannya,

"Oh…oh…Yun…" Jaejoong memejamkan mata ketika kenikmatan itu meledak dan membanjiri tubuhnya dengan rasa panas yang tak tertahankan,

Dan walaupun Yunho bisa memperpanjang kenikmatannya sendiri. Pemandangan akan orgasme Jaejoong dan denyutan Jaejoong yang meremas dirinya, jauh di dalam sana, membuatnya tidak bisa menahan diri lagi, detik itu pula, Yunho meledakkan gairahnya bergabung dengan Jaejoong dalam gairah yang melemahkan.

.

.

.

.

Entah apa yang membuat Jaejoong terbangun dari tidurnya yang lelap, rasa sakit yang aneh di badannya, ataukah cahaya terang yang mendadak muncul entah dari mana. Jaejoong membuka matanya. Sekilas pandangannya terasa kabur, dan dia mencoba untuk memfokuskan dirinya.
Kamar itu, dengan nuansa putih yang feminim….

Kilasan-kilasan ingatan berkelebat di benaknya, dia masih di sekap di sini, di dalam kamar di rumah Yunho yang jahat.

Dengan panik Jaejoong terduduk dari ranjangnya, dan selimutnya melorot hampir jatuh menutupi dadanya, melorot? Jaejoong menundukkan kepalanya, dan menyadari kalau dia telanjang bulat di balik selimutnya, apa yang…..

"Selamat pagi Jae."

Suara maskulin itu terdengar dekat sekali dan Jaejoong menolehkan kepalanya kaget,
Pemandangan di hadapannya membuat jantungnya bergejolak, Yunho ada di sana, di ranjangnya, mereka ada dalam selimut yang sama, dan menilik kepada selimut Yunho yang hampir saja melorot di pinggulnya,

"mereka sama-sama telanjang!"

Jaejoong masih terperangah menatap pemandangan di depannya. Yunho berbaring dengan angkuhnya, jelas-jelas telanjang bulat di balik selimutnya, dan menatapnya dengan tatapan berhasrat memiliki.

Dengan panik Jaejoong menarik selimutnya hampir untuk menutupi seluruh dadanya, tetapi gerakannya itu malahan membuat selimut Yunho melorot dan hampir memperlihatkan kejantanannya, dengan malu Jaejoong memalingkan kepalanya dan disambut dengan senyuman jahat Yunho.

Keberanian dan kemarahan Jaejoong langsung muncul ketika menyadari rasa pedih di antara ke dua pahanya.

"Namja ini memperkosanya!"

Entah apa yang terjadi semalam, Jaejoong tidak ingat sama sekali, tapi yang pasti, dia sudah dinodai oleh iblis berhati kejam ini.

"Kau sungguh iblis yang tidak bermoral, mengambil keuntungan dari yeoja yang sangat membencimu!" desis Jaejoong menahan marah, masih tidak mau menatap Yunho.
Yunho terkekeh mendengar suara geram Jaejoong,

"Membenciku?" dengan santai namja itu berdiri, tak malu dengan tubuh telanjangnya yang berotot, "Lihat aku Jaejoong, kau meninggalkan tanda-tanda di tubuhku, kau sangat bergairah semalam, seperti kucing betina yang mencakar di sana sini untuk dipuaskan…. Dan atas gairahmu semalam, aku tidak yakin kalau kau membenciku."

Jaejoong melirik sekilas ke tubuh telanjang Yunho yang berdiri di samping ranjang, mukanya merah padam karena malu. Bekas-bekas itu ada, tanda-tanda merah di dada, di pinggul Yunho, di dekat kejantanannya….

"Apakah dia yang melakukannya?"

"Ya. Kau yang melakukannya." Ada senyum di suara Yunho, "Dengan sangat bergairah dan lapar, aku Cuma berbaring di sana dan kau menyantapku bulat-bulat, sepanjang malam."

Kelebatan ingatan akan percintaan yang panas muncul di ingatan Jaejoong, samar-samar dan tidak jelas, tapi dia tidak mampu mengingat semuanya, kenapa dia tidak mampu mengingat semuanya?

Jaejoong teringat minuman yang di berikan Changmin semalam, dan rasa muaknya memuncak ketika menyadari ada sesuatu yang di campurkan di situ, dengan mata menyala-nyala, dikuasai oleh kemarahan yang campur aduk menjadi satu, Jaejoong menantang tatapan Yunho, mencoba tidak mempedulikan ketelanjangan Yunho.

"Aku selalu mendengar kau jahat dan licik, tapi aku sungguh tak menyangka kau serendah itu, menggunakan obat untuk memaksa yeoja yang jijik kepadamu supaya mau melayanimu!"
Sepertinya kata-kata Jaejoong mengena di hati Yunho karena rahang namja itu tampak mengeras, marah.

Dengan kasar, Yunho menyambar jubah satin hitamnya dan mengenakannya, lalu dengan gerakan tiba-tiba, naik ke atas ranjang dan mencengkeram rahang Jaejoong dengan sebelah tangannya.

Cengkeraman itu terasa keras dan menyakitkan sehingga Jaejoong mengernyit, tetapi Jaejoong menahan diri untuk tidak mengaduh, dia tidak mau memberikan kepuasan kepada namja itu.
"Apapun yang kau katakan, satu hal yang pasti, kau sudah menjadi milikku. Dan seperti yang kubilang, segala sesuatu yang menjadi milik Jung Yunho tidak akan pernah bisa lepas, kecuali aku melepaskanmu.. atau aku membunuhmu!"

Dengan kasar Yunho melepaskan cengkeramannya di rahang Jaejoong, membuat tubuh Jaejoong terdorong lagi ke ranjang, lalu dengan langkah tegas, Yunho melangkah keluar kamar sambil membanting pintu di belakangnya.

.

.

.

.

Jaejoong masih termangu di ranjang, lalu kilasan rasa sakit di antara pahanya menyadarkannya.
Noda darah itu tampak mencolok di sprei putih itu, tampak menertawakannya.
Sungguh ironis, keperawanannya terenggut oleh bajingan berhati iblis yang ingin dibunuhnya. Tubuh Jaejoong gemetar, dipenuhi oleh rasa campur aduk yang menyesakkan ketika dia mencoba berdiri.

Noda merah di ranjang itu sangat mengganggunya,hingga dengan kasar Jaejoong merenggut sprei itu dan membantingnya ke lantai, Napas Jaejoong terengah-engah dan entah kenapa kemudian tubuhnya ambruk ke lantai, menangis penuh emosi.

Ingatannya melayang kepada ayah dan ibunya, kepada dendamnya yang belum terbalaskan dan kepada nasibnya yang membuatnya terperangkap di sini, dalam cengkeraman musuh besarnya.
Kini dia terpuruk di sini, dalam cengkeraman Yunho, dan yang sangat menyakitkan dia tidak berdaya menghadapi namja itu.

Jaejoong mengusap air matanya tiba-tiba. Tidak! Dia sudah cukup menangis, dia harus melawan, dengan segala cara!

Dengan pelan Jaejoong melangkah ke kamar mandi, dia harus mandi dan menghapus semua jejak dan noda yang ditinggalkan Yunho di tubuhnya.

Yunho boleh saja menodainya, tetapi bukan berarti namja itu memilikinya. Jaejoong wanita bebas, wanita bebas yang bertekad untuk menghancurkan Yunho. Tunggu saja, dia hanya belum punya kesempatan.

.

.

.

.

Jaejoong hanya duduk di kursi putih itu putus asa sebab setelah sekian lama berkeliling ruangan, memeriksa setiap sudut di kamar mandi dan jendela, tetap benar-benar tidak ada celah yang bisa digunakan sebagai jalannya untuk melarikan diri.
Putus asa, Jaejoong duduk sambil memeluk lututnya,

"Kalau begini, bagaimana caranya dia bisa keluar dari rumah ini?"

Sedangkan keluar dari kamar ini saja dia tidak mampu. Matanya melirik ke pintu kamar. Pintu yang terkunci itu satu-satunya jalan.

Tetapi yang bisa keluar masuk dari pintu itu hanya Yunho, dan juga seorang namja bertampang dingin bernama Changmin, yang selalu ada di sebelah Yunho setiap ada kesempatan. Namja bertampang dingin itu sepertinya ditugaskan untuk mengantarkan makanannya.

Pikiran Jaejoong berputar… memang rasanya tidak mungkin, jika tidak dicoba dia tidak akan tahu…

Seperti sudah diatur, pintu kamar itu terbuka, dan Jaejoong langsung terduduk tegak waspada, menanti siapapun yang akan masuk.

Changmin muncul di sana membawa nampan makanan, wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasa. Dan Jaejoong langsung sengaja memasang wajah kesakitan,

"Aku minta tolong…." rintihnya sesakit mungkin.

Changmin mengernyit dan mendekat, "Ada apa nona?'

"Aku… aku mau muntah… tolong aku," Jaejoong meremas perutnya, berusaha semeyakinkan mungkin.

Dan sepertinya Changmin tidak curiga, namja itu mendekat, dan menatap Jaejoong, "Kau mau di bantu ke kamar mandi?"

Jaejoong mengangguk lemah,

Dengan tangan kuatnya, Changmin membantu Jaejoong berdiri dan memapah tubuh Jaejoong yang lunglai ke kamar mandi,

Ketika Changmin membuka pintu kamar mandi, Jaejoong berakting seolah-olah muntahnya akan keluar, hingga Changmin langsung bergegas membawanya ke kamar Mandi,

Di wastafel Jaejoong menundukkan kepalanya seolah-olah akan muntah hebat, "Handuk… tolong…." gumam Jaejoong lemah, melirik ke arah lemari handuk yang ada di ujung ruangan kamar mandi,

Masih tanpa curiga, Changmin melangkah ke arah lemari handuk. Saat itulah dengan secepat kilat Jaejoong melompat dan berlari ke arah pintu keluar kamar mandi.

Changmin menyadari kalau dia ditipu ketika melihat kelebatan langkah cepat Jaejoong, dia berusaha mengejar tapi terlambat, Jaejoong yang melompat gesit sudah keluar dari kamar mandi dan membanting pintunya dari luar, lalu menguncinya rapat-rapat.

Dengan napas terengah karena pacuan adrenalin Jaejoong menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi, memejamkan mata, tak peduli akan gedoran-gedoran marah Changmin dari dalam,

"Kau tidak akan bisa melarikan diri," ancam Changmin, berteriak dari dalam, "Tuan Yunho pasti akan menemukanmu, dan aku bersumpah, kalau kau sampai membuat Tuan Yunho marah, kau akan menyesalinya."

Teriakan-teriakan Changmin makin keras dibarengi dengan gedoran-gedorannya di pintu, kata-kata Changmin sempat membuat hati Jaejoong kecut, tapi dia menggelengkan kepalanya, Yunho memang namja kejam, tetapi Jaejoong tidak boleh takut. Dia harus berani menantang Yunho, menunjukkan pada namja itu kalau dia bukanlah yeoja yang bisa ditundukkan dengan begitu mudahnya.

Dengan langkah hati-hati, Jaejoong membuka pintu putih yang tak terkunci itu, matanya mengintip sedikit keluar, khawatir kalau-kalau ada penjaga yang menjaga di pintu. Tetapi rupanya Yunho beranggapan Jaejoong terlalu lemah sehingga tidak perlu menempatkan penjaga di pintu, Lorong itu kosong. Dengan hati-hati Jaejoong melangkah keluar. Suara gedoran-gedoran pintu kamar mandi dan teriakan Changmin masih terdengar ketika Jaejoong keluar, tetapi ketika Jaejoong menutup pintu putih besar itu, suara itu lenyap dan menjadi senyap. Rupanya ruangan putih tempatnya dikurung itu kedap suara.

Jaejoong melangkah lagi melewati lorong itu. Tidak ada pintu lain di lorong itu, arahnya langsung ke arah tangga spiral yang besar menuju ke pintu depan. Dengan hati-hati, Jaejoong mengintip dari ujung tangga ke arah bawah. Kosong. Kemanakah para penjaga yang dia lihat kemarin?

Pelan dan waspada, Jaejoong melangkah menuruni tangga. Dia sudah berhasil menyeberangi ruangan dan memegang handle pintu besar itu, ketika suara dingin yang mulai dikenalnya terdengar tepat di belakangnya,

"Kau pikir kau akan kemana?"

.

.

.

.

Terlonjak kaget, Jaejoong membalikkan badan dan hampir menabrak dada bidang Yunho.
Namja itu berdiri dekat sekali di belakangnya, dan menekannya ke pintu, tatapannya menyala penuh kemarahan, seperti iblis yang siap membakar musuh-musuhnya.

"Berani sekali kau mempermalukan Changmin seperti itu, dan berani sekali kau mencoba melarikan diri dari rumahku." Tangan besar Yunho mencengkeram lengan Jaejoong dengan kasar lalu menyeret Jaejoong yang tidak bersedia.

Jaejoong meronta-ronta, mencoba bertahan, tetapi Yunho tidak peduli, tetap menyeret Jaejoong dengan kekuatan besarnya, hingga Jaejoong mau tidak mau harus terseret-seret mengikuti daripada tangannya putus,

Yunho menyeret Jaejoong menaiki tangga dan kembali menuju kamar putih tempat Jaejoong tadi dikurung, Di sana beberapa pengawal Yunho berkumpul, dan Changmin berdiri di sana, rupanya dia berhasil menghubungi Yunho dan di bebaskan dari kamar mandi.

Jaejoong mengernyit dalam hati, seharusnya tadi dia lebih cepat, atau mungkin dia pukul kepala Changmin dengan sesuatu sehingga namja itu pingsan dan tidak bisa menghubungi teman-temannya dengan segera. Yunho melepaskan cengkeramannya lalu mendorong Jaejoong ke depan dengan kasar,

"Kau lihat Min? Yeoja kecil seperti ini, dan kau, pengawalku yang sudah bertahun-tahun lamanya bisa-bisanya dibodohi seperti ini."

Changmin hanya terdiam, menatap Yunho dengan muka datar sepenuhnya mengabaikan keberadaan Jaejoong, hingga Jaejoong mengernyit, apakah namja ini memang tidak punya ekspresi?

"Dan kau Jae," Yunho melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya, "Ini adalah peringatan untukmu, kalau kau membodohi salah satu pegawaiku lagi untuk melarikan diri, kau akan membuang satu nyawa, karena aku akan langsung membunuh pegawaiku."

Tanpa dinyana, Yunho menghantam Changmin dengan satu pukulan telak hingga kepala Changmin mundur ke belakang, darah menetes dari sudut bibirnya.

Jaejoong terkesiap mundur dan makin terkesiap ketika Yunho menghajar Changmin, lagi dan lagi tanpa perlawanan hingga namja itu jatuh berlutut dengan memar dan bibir berdarah yang mengotori kemejanya.

Yunho mundur satu langkah ketika Changmin terjatuh, dia menoleh dan menatap Jaejoong,
"Kalu lihat itu Jae? Setiap kau mencoba melarikan diri, aku bersumpah akan ada nyawa yang berkorban untukmu, mereka semua yang lengah hingga memberi kesempatan padamu untuk lari, akan kubunuh!"

Dengan kejam Yunho mengarahkan pukulannya sekali lagi ke arah Changmin.
Jaejoong berteriak, spontan mencengkram lengan Yunho yang terayun, mencegah Yunho menghabisi Changmin,

"Jangan….! Jangan! aku yang salah, aku yang salah! Jangan bunuh dia! Aku yang salah! " teriaknya panik.

Yunho terdiam dan mematung, ketika akhirnya dia menatap Jaejoong, matanya sedingin es. Namja itu tampak amat sangat marah kepada Jaejoong.

"Jadi kau mengaku salah," Yunho mundur lagi dan Jaejoong merasa lega luar biasa karena namja itu tidak jadi melampiaskan kemarahannya kepada Changmin yang sudah berlutut tak berdaya di lantai.

"Aku hanya ingin keluar dari tempat ini." teriak Jaejoong marah, frustrasi karena Yunho menggunakan ancaman licik untuk mencegahnya melarikan diri.

"Kau milikku, dan tidak ada milikku yang bisa keluar dari sini tanpa seizinku."

"Atas dasar apa?" Jaejoong berteriak marah, "Aku bukan milik siapa-siapa, apalagi namja jahat sepertimu, aku cuma mau keluar dari ini, aku muak terhadapmu, muak atas semua yang ada di sini….Aku cuma mau keluarr!

"Kau mau keluar hah?" Yunho mencengkeram lengan Jaejoong lagi, di tempat yang sama hingga Jaejoong merasa lengannya memar, "Ayo kita keluar!"

.

.

.

.

Tak ada yang berani menolong ketika Jaejoong berteriak-teriak dalam seretan Yunho.
Sepertinya kemarahan Yunho adalah hal biasa di rumah ini dan tidak ada satupun yang berani melawan laki-laki itu.

Yunho membawa Jaejoong ke ujung lorong, ke jendela kaca lantai dua yang mengarah langsung ke balkon. Dengan kasar Yunho mendorong Jaejoong keluar lalu mendesaknya ke ujung balkon, hingga kepala Jaejoong mengarah ke bawah dan menatap ngeri ke kolam renang yang sangat luas di bawahnya.

Kolam itu tampak sangat bening dan dalam. Jaejoong bergidik. Dia tidak bisa berenang, "apakah Yunho akan mendorongnya ke bawah?"

Yunho benar-benar mendesak tubuh Jaejoong sampai ke ujung balkon, membuat kepalanya terbungkuk ke bawah, sementara tangannya di kekang oleh Yunho di belakangnya,

"Kau lihat itu? Salah sedikit aku melemparmu ke bawah kepalamu bisa pecah terkena ubin pinggiran kolam," napas Yunho sedikit terengah oleh kemarahan, "Kau yeoja tak tahu diuntung, harusnya kau bersyukur atas kebaikan hatiku padamu dan keluargamu, hingga kau masih bisa hidup sampai sekarang…. Tahukah kau kalau aku bisa dengan mudah mencabut nyawamu kapanpun aku mau."

"Tuhan yang berhak mencabut nyawaku, bukan ibilis seperti kau." Jaejoong berteriak berusaha menantang meski jantungnya makin berpacu kencang diliputi ketakutan luar biasa.

"Yeoja tidak tahu terimakasih," Yunho mendorong Jaejoong lagi sampai ke ujung, "Ada kata-kata terakhir?"

Jaejoong memalingkan kepalanya sehingga tatapan matanya yang penuh kebencian bertemu dengan mata dingin Yunho, "Gomapta karena sudah membebaskanku tuan Jung."

Lalu tubuh Jaejoong terlempar, melayang di udara kemudian meluncur ke bawah, ke kolam renang dalam itu..

"Setidaknya kalau aku mati aku sudah mencoba membalaskan dendam kita, ayah…."

Sedetik kemudian, tubuh Jaejoong terbanting menembus permukaan kolam lalu tenggelam, Jaejoong tidak berusaha menyelamatkan diri, membiarkan tubuhnya makin tenggelam dalam kolam itu. Matanya menggelap dan memejam, dan entah berapa banyak air kolam yang tertelan olehnya, napasnya terasa sesak dan paru-parunya terasa mau pecah.

"Oh Tuhan… aku akan mati…."

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued