Saki mau nyapa cingudeul dulu boleh?
1. Saki mau nanya, Saranghaebwa memang artinya apa VanHunhan? Kalau memang artinya sama kayak yang Saki maksud nanti mungkin Saki ganti. soalnya tadi pas nanya om google, yang muncul liriknya dan disana arti liriknya gak sesuai sama maksud Saki.
2. Lah ya kalo Jae mati mah fanficnya selesai chingu... gak kok Jae kan hebat kayak Superman,.. jatoh nyebur ke kolam dari lantai dua mah dia tetep ja selamet.. kan ada Yun... hehe
3. Jangan panggil thor ne? cukup Saki aja... mau panggil kitahara juga gak papa
4. alamat Saki pindah, dari [kitaharAsaki. blogspot .com] ke [kitaharAAsaki. blogspot .com] itu jawaan buat temen2 yang nanya
5. Tolong ya yang baca FF Saki, ocehannya Saki dibaca, dari jaman chapter 2 kan Saki udah bilang kalau ini REMAKE dari karya punya kak Santhy Agatha. jangan sampai ada kata2 "Cuma kebetulan atau..?" dan yang lainnya lagi. Maaf Saki orangnya rada sensitifan dan kata2 macem itu tu Saki nganggepnya sama kayak kamu bilang "Lu Plagiat ya Sak?",
lagi ya bingung deh bukannya FFn gak bisa di copas ya? kalo Saki tadi nyoba sih gak bisa, ada yang tau kalau FFn bisa di copas? Maaf lagi2 Saki meledak.
6. gomapta untuk yang sudah review... kalian baik banget...
oke, sekian dari Saki. Kitahara Saki, anyooooong...
"Yeoja tidak tahu terimakasih," Yunho mendorong Jaejoong lagi sampai ke ujung, "Ada kata-kata terakhir?"
Jaejoong memalingkan kepalanya sehingga tatapan matanya yang penuh kebencian bertemu dengan mata dingin Yunho, "Gomapta karena sudah membebaskanku tuan Jung."
Lalu tubuh Jaejoong terlempar, melayang di udara kemudian meluncur ke bawah, ke kolam renang dalam itu..
"Setidaknya kalau aku mati aku sudah mencoba membalaskan dendam kita, ayah…."
Sedetik kemudian, tubuh Jaejoong terbanting menembus permukaan kolam lalu tenggelam, Jaejoong tidak berusaha menyelamatkan diri, membiarkan tubuhnya makin tenggelam dalam kolam itu. Matanya menggelap dan memejam, dan entah berapa banyak air kolam yang tertelan olehnya, napasnya terasa sesak dan paru-parunya terasa mau pecah.
"Oh Tuhan… aku akan mati…."
salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
Ketika Jaejoong sudah sampai di titik akan kehilangan kesadarannya, terdengar ceburan lain yang tak kalah kerasnya di kolam.
Tak lama kemudian, sebuah lengan yang kuat merengkuhnya dan mengangkat tubuhnya, lalu membawanya ke permukaan.
Tubuh lemas Jaejoong di baringkan di lantai di pinggiran kolam, lalu dia merasakan perutnya di tekan dengan ahli hingga aliran air yang tertelan keluar. Jaejoong memuntahkan banyak air dan terbatuk-batuk kesakitan. Paru-parunya masih terasa begitu sakit dan nyeri
"Siapakah penolongnya? Apakah dia memang belum diizinkan mati?"
Tangan kuat itu terus menekan hingga seluruh cairan terpompa keluar dari perut Jaejoong.
Mata Jaejoong mulai buram, kesadarannya semakin hilang, ketika suara itu terdengar tenang di atasnya,
"Panggil dokter."
"Itu suara Yunho. Apakah Yunho yang menyelamatkannya? Lagipula… kenapa namja itu menyelamatkannya?"
"Bagaimana dia?" tanya Yunho dingin.
"Dokter sedang menanganinya, paru-parunya kemasukan cairan...Anda sendiri Tuan Yunho, anda tidak apa-apa? Terjun dari lantai dua seperti itu hanya untuk menyelamatkan yeoja itu..."
Yunho melirik pada Changmin dengan tatapan tajam, lalu meraih handuk untuk menggosok rambutnya yang basah, "Tadinya aku berniat membunuhnya."
"Kalau begitu kenapa anda menyelamatkannya?"
Yunho membalikkan tubuhnya dan menatap Changmin dengan mata menyala-nyala, "Karena aku memutuskan, belum saatnya dia mati," mata cokelat Yunho bagaikan berbinar di kegelapan, "dan kau...Kenapa kau sengaja membiarkannya lolos?"
Changmin menatap Yunho, tampak ada keterkejutan di matanya meskipun sekejap kemudian dia langsung memasang wajah datar, "Saya tidak sengaja membiarkannya lolos."
"Kau pikir aku bodoh?" suara Yunho menajam, setajam tatapannya, "Kau adalah pengawalku paling berpengalaman, tak mungkin kau bisa diperdaya gadis itu, kecuali kau memang membiarkan dirimu diperdaya."
Changmin menelan ludahnya, "Saya ingin membebaskannya, saya takut dia akan membawa masalah untuk kita."
Yunho melempar handuknya dengan marah ke sofa, "Dalam dua hari ini kau sudah dua kali mengambil keputusan sendiri dan menentangku, dengarkan ini baik-baik Shim," suara Yunho dalam dan mengancam, "sekali lagi kau membuat kebodohan yang merepotkanku, bukan hanya pukulan yang kau dapat, aku akan menghabisimu secepat yang aku bisa!"
Suara ancaman itu masih menggema di kegelapan, bagaikan janji Iblis yang memanggil -manggil meminta nyawa.
Kitahara Saki
Ketika Jaejoong terbangun, yang dirasakannya pertama kali adalah rasa sesak di dadanya, dia menggeliat panik, mencoba menarik napas sekuat-kuatnya, dalam usahanya mencari oksigen sebanyak-banyaknya.
"Tenang, kau masih hidup, kau bisa bernafas secara normal." Suara Yunho membawa Jaejoong kembali pada kesadarannya.
Dengan waspada dia menoleh dan mendapati Yunho sedang duduk di tepi ranjangnya, Jaejoong beringsut sejauh mungkin dari Yunho dan tingkahnya itu memunculkan secercah cahaya geli di mata Yunho, "Apakah kau takut padaku setelah kejadian tadi?" nada gelipun tersamar dalam suara Yunho.
"Kurang ajar." Batin Jaejoong dalam hati. Dia berjuang meregang nyawa, dan lelaki ini malah duduk disini menertawainya.
"Tetapi, apakah benar Yunho yang terjun ke kolam waktu itu dan menyelamatkannya? Kenapa? Bukankah jelas-jelas dalam kemarahannya Yunho sudah memutuskan untuk membunuhnya? Kenapa lelaki itu berubah pikiran?"
"Ya aku memang menyelamatkanmu," Yunho bergumam seolah-olah bisa membaca pikiran Jaejoong, "tetapi itu bukan demi dirimu, itu demi kepuasanku."
Jaejoong menatap Yunho geram, "Apa maksudmu?"
Dengan tenang lelaki itu melepas dasinya, gerakannya pelan tetapi mengancam hingga tanpa sadar Jaejoong bergidik dan beringsut menjauh. "Aku tidak suka bercinta dengan mayat," Senyum di bibir Yunho tampak kejam, "kau lebih nikmat kalau hidup dan bernafas."
Ketika Jaejoong menyadari maksud Yunho, sudah terlambat, lelaki itu mencengkeram kedua lengannya dengan satu tangan. Kekuatan Jaejoong tidak sebanding dengan kekuatan tubuh Yunho yang besar dan kuat di atasnya, dengan mudahnya lelaki itu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan ikatan mati yang sangat rapi, lalu menalikannya di kepala ranjang,
"Kau...Kau mau apa?" Jaejoong mulai panik ketika Yunho yang setengah duduk di atasnya membuka kancing kemejanya.
Senyum Yunho tampak penuh kepuasan melihat kondisi Jaejoong yang tidak berdaya, Lelaki itu membuka seluruh kancing kemejanya sehingga dada dan perutnya yang berotot terlihat. Sejenak Jaejoong terpana melihat kulit berwarna perungggu yang berkilauan bagai satin itu, tetapi kemudian dia sadar bahwa dia ada dalam kondisi genting, dengan panik Jaejoong mulai meronta dan menendang, sedapat mungkin bergerak untuk melepaskan diri.
Tapi percuma, ikatan Yunho ke tangannya sangat kuat, dan dalam kondisi terikat seperti itu, Jaejoong benar-benar tak berdaya. "Semalam kau bercinta denganku, panas dan memabukkan...Tapi kau mungkin tak bisa mengingat dengan jelas dan aku tak suka itu..." suara Yunho merendah, penuh gairah, "Malam ini, akan kubuat kau mengingat setiap detiknya."
Kitahara Saki
Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, Jaejoong melihat ketika Yunho melepas kemejanya dan setengah menindihnya. Mulutnya sangat dekat dengan bibir Jaejoong, hingga napas mereka beradu, Yunho menundukkan kepalanya, mencium sisi leher Jaejoong, membuat Jaejoong berjingkat dan berusaha meronta lagi,
"Sshhh...Kau akan menyakiti lenganmu kalau kau meronta-ronta terus seperti itu."
Bibir Yunho merayap dan mendarat di bibir Jaejoong. Lelaki itu mengecup sedikit ujung bibir Jaejoong, lalu lidahnya menelusup masuk, membuka bibir Jaejoong yang lembut, mencecapnya dan merasakan seluruh tekstur bibir Jaejoong yang hangat dan panas, lidahnya mengait lidah Jaejoong dan memainkannya dengan intensitas yang sangat ahli.
Ketika Yunho melepaskan bibirnya, napas Jaejoong terengah-engah, ciuman ini adalah ciuman yang paling intens yang pernah di rasakannya.
"Kau menyukainya bukan?" Yunho berbisik lembut dengan nafasnya yang panas di telinga Jaejoong, "Aku sangat menyukai bibirmu, dan sensasi kelembutannya di bibirku..."
Tangan Yunho merayap ke bawah, meraba kulit leher Jaejoong, "Seluruh tubuhmu hangat sayang, seakan menggodaku..." Jemari Yunho menyingkap rok Jaejoong dan menelusup ke dalam sana, menggoda pusat gairahnya, "Di sini...yang paling panas."
Jaejoong menggelinjang, mencoba meronta, tetapi tubuh kuat Yunho yang setengah menindihnya membuat gerakannya terbatas, apalagi tangannya yang terikat di atas, membuat lengannya terasa kram dan pergelangan tangannya ngilu ketika dia menggerak-gerakkannya.
Yunho melirik ke pergelangan tangan Jaejoong yang terikat, dan menyadari bahwa ikatan itu menyakiti Jaejoong. "Jangan bergerak-gerak Jae, atau kau akan mengalami memar-memar ketika ini selesai."
Setetes air mata mengalir di sudut mata Jaejoong, dia putus asa dalam usahanya untuk melepaskan diri. "Jangan lakukan ini, kumohon..."
Mata Yunho sedikit melembut ketika mendengar permohonan Jaejoong, tetapi kemudian senyumannya tampak mengeras, "Aku hanya ingin membuatmu sadar dimanakah tempat kau seharusnya berada Jae." Yunho membuka kancing kemeja Jaejoong satu persatu, membiarkan payudara Jaejoong terbuka bebas untuknya,
"Ini milikku," Yunho menyentuh payudara Jaejoong dan menggodanya, menikmati ketika mendengar erangan tersiksa Jaejoong, "seluruh tubuhmu milikku."
Yunho mengecup ujung payudara Jaejoong, mencecapnya dengan lidahnya, lalu bibirnya berpindah menelusuri bagian samping payudara Jaejoong, menikmatinya dengan bibirnya sehingga meninggalkan jejak-jejak basah dan panas di sana.
Jaejoong melengkungkan punggungnya atas sensasi yang menyiksanya tanpa ampun. Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, merasakan lelaki iblis itu mencumbunya, dan menyiksanya dengan godaan-godaannya yang sangat ahli, ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya, seperti gelenyar panas yang bergulung-gulung, terasa seperti arus listrik yang mengalir dari jemarinya, dan menjadi semakin panas ketika menyatu di pusat dirinya.
Dan jemari Yunho menyentuh kesana, dengan begitu ahli, memainkan Jaejoong sesuka hatinya. Tubuh Jaejoong meronta tak tahan akan alunan sensasi permainan jemari Yunho, tapi lengan Yunho yang kuat menahan tubuhnya. Kemudian bibir Yunho mengikuti jemarinya. Jaejoong terkesiap merasakan hembusan napas panas di pusat dirinya, seketika dia menegakkan tubuhnya dan tertahan oleh ikatan di pergelangan tangannya.
"Jangan!" teriaknya panik, mencoba merapatkan kaki, mencegah bibir Yunho menyentuhnya.
Tetapi lengan Yunho yang kuat menahannya, dan kemudian, Jaejoong melengkungkan punggungnya dan mengerang keras merasakan sensasi itu. Sensasi sentuhan bibir dan lidah Yunho di pusat dirinya, dengan hembusan nafasnya yang panas. Panas bertemu panas dan dia terbakar, pandangannya menggelap karena sensasi kenikmatan yang tak tertanggungkan.
"Sshhhh...Semua bagian tubuhmu milikku Jae, milikku." Yunho mencumbu pusat gairah Jaejoong menyatakan kepemilikannya.
Dan ketika Yunho selesai bermain-main, Jaejoong sudah terbaring, lemas dan tak berdaya dengan nafas terengah-engah dan tubuh membara. Yunho menaikkan kembali tubuhnya dan mengecup lembut bibir Jaejoong, dada bidangnya menggesek payudara Jaejoong, dan Jaejoong merasakan kejantanan Yunho yang begitu keras menyentuh pahanya dengan begitu menggoda seolah mengerti apa yang paling Jaejoong inginkan.
Yunho menempatkan dirinya dengan begitu tepat, seolah telah mengenal setiap jengkal tubuh Jaejoong. Dan Jaejoong merasakan tubuh Yunho yang keras dan panas menyatu dengan tubuhnya, memberikan geleyar kenikmatan yang makin menghujam.
"Jae..." Yunho mengerang merasakan tubuh Jaejoong yang panas, halus dan membungkusnya dengan begitu erat, menggodanya untuk mencapai kepuasan secepat mungkin. Tapi tidak, malam ini untuk Jaejoong. Yunho ingin Jaejoong mengingat setiap detik percintaan mereka malam ini.
Ketika Yunho bergerak, Jaejoong mengerang. Semua ini terlalu nikmat untuk ditanggungnya, dia tak bisa menjangkau kesadarannya lagi, hampir frustasi karena pada akhirnya tubuhnya menyerah dalam pusaran gairah Yunho.
Yunho menundukkan kepalanya, lalu mengecup sudut bibir Jaejoong dengan posesif, menyatakan kepemilikannya, dan menghujamkan dirinya dalam-dalam. "Kau milikku Jae. Ingat itu baik-baik."
Sedetik kemudian, Yunho membawa Jaejoong melewati pusaran gelombang semakin dan semakin naik hingga guncangan orgasme menerjang mereka berdua. Menyatukan mereka dalam satu titik kenikmatan.
Kitahara Saki
Yunho mengangkat tubuhnya dari Jaejoong yang terengah-engah, dengan pikiran masih berkabut karena orgasme. Dengan lembut jemarinya membuka ikatan tangan Jaejoong, ikatan itu menimbulkan bekas kemerahan di sana. Dan Yunho mengecup kedua pergelangan tangan Jaejoong,
"Kau milikku, ingat itu. Kalau kau mencoba melarikan diri lagi, aku akan menghukummu dengan hukuman yang lebih berat." Lalu Yunho bangkit, mengenakan jubah tidurnya dan menatap Jaejoong yang memalingkan muka darinya, tak mau menatapnya,
"Kuharap kau tidak melupakan malam ini, setiap detiknya." Gumamnya dingin, lalu melangkah pergi meninggalkan Jaejoong yang terbaring diam di ranjang.
Setetes air mata mengalir kembali di sudut mata Jaejoong, Yunho benar, Jaejoong tidak akan pernah bisa melupakan malam ini, setiap detiknya.
.
.
.
To Be Continued
