Anyong yoraebun, bener gini gak tulisannya?

Kenapa sih di tiap chapter pasti ada komen tuduhan plagiat? masih mending dituduh plagiat karyanya kak Santhy, setidaknya kak Santhy penulis aslinya, nah ini, dituduh plagiat karyanya author Wonkyu sama Kyumin. mesti berapa kali saki bilang Saki cuma suka YUNJAE dan Saki cuma baca YUNJAE. Gini deh sekarang bagi siapapun yang mau nuduh Saki PLAGIAT karya author OTP kalian, kalian konfirmasi ke author yang kamu maksud bilang ke dia tuduhan kamu itu. Saki berani kok, karena Saki gak plagiat karya mereka. baca karja mereka sebelumnya aja gak pernah gimana mau plagiat.

oh ya Saki juga udah liat karyanya dengan cast Yunjae di AFF tapi beneran deh jujur bahasa inggris Saki ancur jd males kalo baca di AFF.

yang nanya blog saki baca di chapt sebelumnya atau di profil Saki.

oke, Saki Kitahara, anyooongg...


Yunho mengangkat tubuhnya dari Jaejoong yang terengah-engah, dengan pikiran masih berkabut karena orgasme. Dengan lembut jemarinya membuka ikatan tangan Jaejoong, ikatan itu menimbulkan bekas kemerahan di sana.

Dan Yunho mengecup kedua pergelangan tangan Jaejoong, "Kau milikku, ingat itu. Kalau kau mencoba melarikan diri lagi, aku akan menghukummu dengan hukuman yang lebih berat."

Lalu Yunho bangkit, mengenakan jubah tidurnya dan menatap Jaejoong yang memalingkan muka darinya, tak mau menatapnya, "Kuharap kau tidak melupakan malam ini, setiap detiknya." Gumamnya dingin, lalu melangkah pergi meninggalkan Jaejoong yang terbaring diam di ranjang.

Setetes air mata mengalir kembali di sudut mata Jaejoong, Yunho benar, Jaejoong tidak akan pernah bisa melupakan malam ini, setiap detiknya.

salang-ui ba

©Kitahara Saki

Kim Jaejoong, Jung Yunho

©their self

Sleep with the Devil

©Shanty Agatha

Sudah hampir dua minggu Jaejoong dikurung di dalam kamar putih ini, tidak boleh keluar sama sekali. Hari-hari Jaejoong dilalui dengan menatap ke luar dari jendela lantai dua ke pekarangan rumah Yunho. Jaejoong sudah merasa begitu muak dan frustrasi karena bosan. Setelah memaksakan kehendaknya malam itu, Yunho tidak pernah mengunjungi Jaejoong lagi.

Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan kekasih barunya. Jaejoong mencibir, mencoba mengabaikan perasaan seperti tercubit di dadanya. Tetapi kalau memang benar begitu, kenapa Yunho tidak melepaskannya?

Apakah karena namja itu tahu bahwa Jaejoong berniat membunuhnya, jadi dia menawan Jaejoong di sini karena menganggap Jaejoong ancaman yang berbahaya? Kalau begitu kenapa Yunho tidak membunuhnya sekalian?

Beberapa lama terpaku di jendela, Jaejoong menyadari bahwa ada kesibukan yang tidak biasa di luar sana. Beberapa mobil tampak lalu lalang keluar masuk rumah Yunho yang biasanya lengang. Sehari-hari pemandangan yang didapat Jaejoong hanyalah pemandangan pengawal-pengawal Yunho dan beberapa pelayan yang lewat di halaman depan rumah.
Kali ini Jaejoong melihat ada mobil bunga dan mobil catering. Apakah Yunho akan mengadakan pesta? Kalau iya, mungkin saja kesempatan Jaejoong untuk melarikan diri bisa muncul kembali.

Sedang larut dalam lamunannya, tiba-tiba pintu kamar putih membuka. Jaejoong bahkan tidak menolehkan kepalanya sedikitpun. Karena yang masuk ke kamar ini selalu hanya Changmin yang mengantarkan makanan, dan pelayan yang membersihkan ruangan dan membawakan pakaian ganti untuknya, tentu saja dibawah pengawasan Changmin.
Jaejoong tidak pernah berinteraksi dengan Changmin lagi setelah kejadian kemarin, dan sepertinya namja itu juga tidak berniat untuk mengajaknya berbicara. Lagipula rasa bersalah yang ditanggung Jaejoong terlalu besar. Karena dialah Changmin dihajar oleh Yunho, bekas-bekas hajaran itu masih ada dari memar-memar di wajah Changmin dan hidungnya yang patah.

Setiap melihat Changmin, Jaejoong disergap perasaan ngeri dan rasa bersalah yang luar biasa. Yunho mengancam akan membunuh siapapun yang lengah dan membiarkan Jaejoong lolos. Apakah sepadan mengorbankan satu nyawa demi meloloskan diri?
Jaejoong memang tidak kenal dengan Changmin, tetapi kalau mendapatkan kebebasan dengan mengorbankan nyawa orang lain, tetap saja terasa tidak benar baginya….

"Jae."

Itu suara Yunho. Jaejoong terlonjak saking kagetnya. Dia menolehkan kepalanya dan Yunholah yang berdiri di tengah ruangan, namja itu tadi sepertinya terdiam, mengamati Jaejoong yang sedang melamun sambil memandang Jaejoong yang sedang menatap ke luar jendela. Otomatis Jaejoong mengepalkan tangannya, reaksi impulsifnya ketika menyadari aura Yunho yang berkuasa memenuhi ruangan.

Yunho melirik tangan Jaejoong yang terkepal, dan senyum sinis muncul di bibirnya. Namja itu menolehkan kepalanya ke belakang dan Jaejoong baru menyadari ada orang lain di belakang Yunho, seorang laki-laki berbadan kecil dan sedikit gemulai,
"Ini Hyunjoong," gumam Yunho tenang, "Dia akan mempersiapkanmu untuk nanti malam." setelah berkata begitu, Yunho melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kamar itu.

"Mempersiapkannya untuk apa?"

Kitahara Saki

"Kau sebenarnya cantik sekali nona, hanya saja kau tidak pandai berdandan." Hyunjoong bergumam dengan suara gemulainya, memoles wajah Jaejoong yang masih memejamkan matanya di depan cermin.

Sementara Jaejoong masih memejamkan matanya, diam karena di dandani oleh Hyunjoong…. Kalau Yunho menyuruhnya di dandani, maka dia pasti akan diperbolehkan untuk turun ke pesta yang di Adakan Yunho, hal itu berarti ada kesempatan baginya untuk melarikan diri dari rumah ini.

"Nah, sudah selesai, coba buka matamu." gumam Hyunjoong ada nada puas dalam suaranya,

Jaejoong membuka matanya pelan-pelan karena bulu mata palsu terasa memberati matanya. Dan dia terpana menatap sosok yang balas menatapnya di depan cermin itu.
Yang menatapnya bukannya Jaejoong, yeoja yang seumur hidupnya sangat jarang berdandan, yang ada di depannya adalah yeoja yang sangat cantik, luar biasa cantiknya dengan riasan yang tidak terlalu tebal tapi sangat pas di semua sisi.

Hyunjoong memang perias yang sangat berbakat, dan sangat terkenal tentunya dengan tarif sekali riasnya yang amat sangat mahal. Jaejoong sering sekali mendengar nama perias ini di media sebelumnya, tapi tidak pernah berfikir bahwa dia akan merasakan tangan dingin sang perias berbakat ini.

Matanya tampak begitu lebar, kuat sekaligus rapuh dengan polesan warna cokelat keemasan, dan Hyunjoong sedemikian rupa menonjolkan struktur tulang pipinya yang tinggi sehingga tampak menarik dan aristrokat…. Dan bibirnya dipoles dengan lipstik warna peach dengan nuansa yang membuat bibirnya seolah-olah selalu basah.

Jaejoong menyentuh pipinya ragu, dan bayangan cantik di depannya juga menyentuh pipinya. Mata Jaejoong terpaku, masih terpana akan bayangan di depannya.
Hyunjoong mendecak kagum melihat hasil karyanya sendiri, kemudian bergumam, mengalihkan perhatian Jaejoong,

"Kau paling berbeda dari kekasih-kekasih Tuan Jung sebelumnya," Hyunjoong meringis, "Bukan berarti kau kurang cantik, tapi kau kurang glamour, kurang mempesona. Kekasih-kekasih Yunho sebelum-sebelumnya selalu cantik luar biasa, bagaikan dewi."

Jaejoong mendengus sinis, "Apakah Yunho juga menyuruh perias ini untuk mendandani kekasih-kekasihnya?"

Hyunjoong sibuk merapikan peralatannya di belakang Jaejoong sambil terus bergumam,
"Tapi kau istimewa, harusnya kau bersyukur, tuan Jung tidak pernah menyuruhku mendandani kekasih-kekasihnya yang lain," gumaman Hyunjoong itu telah menjawab pertanyaan Jaejoong sebelumnnya,

"Dan yang paling sensasional adalah gaun ini, Tuan Jung menyuruhku memesannya langsung dari perancangnya di Paris, pesanan khusus karena diselesaikan hanya dalam waktu 1 minggu, gaun ini khusus dibuat untukmu, tiada duanya di dunia ini," Hyunjoong berseru kecil dengan feminim, tampak terpesona dengan sesuatu di tangannya,

"Kau harusnya bersyukur karena Tuan Jung memperlakukanmu dengan istimewa."
Jaejoong menoleh, ingin tahu apa yang begitu menarik perhatian Hyunjoong, dan sekali lagi dia terpesona. Di tangan Hyunjoong, digantung di gantungan baju yang elegan, ada sebuah gaun yang luar biasa indahnya.

Gaun itu dibuat dari bahan sutera hijau berkilau dengan kristal kecil menyebar di sepanjang gaun, memberikan efek kilauan yang menakjubkan. Kaki gaun itu melebar ke samping dan menjuntai dengan indahnya. Gaun itu adalah gaun terindah yang pernah dilihat oleh Jaejoong, dan gaun itu untuknya?

"Pakailah gaun ini, kau harus siap dalam setengah jam, Tuan Jung ingin melihatmu sebelum ke pesta." gumam Hyunjoong, menghamparkan gaun hijau itu di ranjang lalu melangkah keluar dari kamar.

Kata-kata terakhir Hyunjoong sebelum pergi itu menyadarkan Jaejoong dari keterpesonaannya akan keindahan gaun itu. Yunho telah memperlakukannya sama seperti kekasih-kekasihnya, yang bisa diperintah sesuka hati seperti boneka! Kali ini dia tidak akan membuat Yunho puas. Jaejoong bukan kekasih Yunho dan dia bukan boneka yang bisa diatur-atur sesukanya, Yunho harus menyadari itu.

Kitahara Saki

Yunho masuk dan Jaejoong menunggu dengan penuh antisipasi. Yunho mengenakan jas hitam legam yang rapi, rambutnya yang sedikit panjang hingga menyentuh kerah disisir ke belakang, membuatnya tampak seperti iblis tampan yang begitu menggoda.

Namja itu melangkah memasuki ruangan dan Jaejoong merasakan Yunho tertegun sejenak menatap wajah Jaejoong yang sudah dirias sedemikian cantiknya. Tetapi kemudian mata Yunho menatap ke arah Jaejoong yang masih mengenakan baju biasa yang selalu digunakannya di kamar itu. Mata Yunho menggelap seolah ada badai yang akan menerjang di sana,

"Kenapa tidak kau pakai gaunmu?" desis Yunho pelan.
Jaejoong mundur selangkah, menyadari intensitas kemarahan dalam suara Yunho. "

"Namja satu ini mungkin menderita post power syndrome sehingga mudah naik darah kalau keinginannya tidak diikuti." batin Jaejoong dalam hati.

"Andwae." Jaejoong menegakkan dagunya menantang, meski batinnya sedikit kecut.

"Gaun itu khusus dipesankan untukmu." kali ini suara Yunho sedikit menggeram, menahan kesabaran.

Jaejoong melirik gaun indah itu, gaun itu luar biasa indahnya, dan Jaejoong sudah jatuh cinta pada gaun itu sejak pandangan pertama. Tetapi dia tidak boleh mengenakan gaun itu, meskipun batinnya berteriak-teriak ingin merasakan gaun secantik itu sekali saja. "Tidak! Dia tidak boleh mengenakan gaun itu, itu sama saja dengan mengakui penguasaan Yunho atas dirinya."

"Aku tidak mau memakainya," Jaejoong berhasil mengeraskan suaranya hingga terdengar lantang, "Aku bukan bonekamu yang bisa kauperintah-perintahkan semaumu!"

"Boneka katamu?" Yunho melangkah maju dan otomatis Jaejoong melangkah mundur, "Kau pakai baju itu atau aku akan memperkosamu sekarang juga di lantai, supaya kau tahu bagaimana aku memperlakukan bonekaku!"

Jantung Jaejoong berdetak sekejap merasa takut akan ancaman Yunho. Apakah Yunho akan melaksanakan Ancamannya? Tetapi melihat mata yang menyala karena marah itu, Jaejoong tiba-tiba sadar bahwa Yunho tidak main-main. Namja ini menyimpan iblis di dalam dirinya, dan ketika iblis itu keluar, Yunho tidak akan segan-segan berbuat kejam.

"Salah sendiri kau menantang Iblis ini, Jae!" Jaejoong mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

"Kenakan gaun ini atau aku akan benar-benar membuatmu menyesal Kim." Yunho mulai mendesis marah, tangannya meraih gaun hijau itu dan melemparnya dengan sembarangan ke arah Jaejoong yang langsung menangkapnya dan memegang gaun itu dengan hati-hati.
Yunho memperlakukan gaun semahal dan seindah ini layaknya memperlakukan kain lap.

"Namja iblis ini memang tidak paham keindahan!" tanpa sadar kebencian Jaejoong meluap lagi kepada Yunho, dorongan untuk menantang Yunho amatlah besar, meskipun sisi lain dirinya berteriak untuk tidak menantang Yunho lebih jauh lagi.

Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan, udara di antara mereka sangatlah tegang. Senyap dan tanpa suara, hanya dua mata yang saling menatap dan saling menantang.

"Pakai gaun itu, Jae." kali ini Yunho melangkah mendekat, seolah tak sabar.

Jaejoong langsung mundur selangkah lagi menjauhi Yunho, jantungnya berdegup kencang, dia mulai merasa takut, "Arra, aku akan memakainya, keunde neo nawa!" teriaknya marah karena dipaksa menyerah, air mata hampir menetes dari matanya.

Tetapi Yunho bergeming, namja itu menggertakkan gerahamnya menahan marah,
"Aku tidak akan pergi. Kesempatanmu sudah habis, tadi aku sudah berbaik hati memberikan kesempatan padamu untuk ikut pesta dan memakai gaun bagus, sekarang cepat pakai gaun itu." Yunho tidak menaikkan suara sama sekali, tapi kemarahan di dalam suaranya menjalar ke udara dan memaksa Jaejoong melakukan apa yang diinginkannya.

Dengan menahan air mata, dan menahan malu, Jaejoong melepas pakaiannya di depan tatapan Yunho yang berdiri kaku menatapnya, kemudian mengenakan gaun itu. Gaun itu luar biasa bagusnya, meluncur pelan membungkus tubuhnya dan terasa sangat pas. Sejenak Jaejoong melupakan perasaan frustrasi atas pemaksaan Yunho dan larut dalam keterpesonaan atas keindahan gaun itu di tubuhnya. Yunho mengamati Jaejoong sejenak dalam balutan gaun indah itu. Jaejoong tampak seperti dewi hutan yang diturunkan dari khayangan, luar biasa cantiknya.

"Bagus." geram Yunho, lalu dengan gerakan cepat meraih gaun itu dan merobeknya dari tubuh Jaejoong.

Jaejoong terpana ketika Yunho merobek gaun itu di bagian dada, gaun seindah dan sebagus itu rusak sudah, dengan robekan kain dan benang yang berjuluran, dan kristal kristalnya jatuh bertebaran dengan suara dentingan pelan di lantai. Mata Jaejoong berkaca-kaca, tidak menyangka Yunho akan sekejam itu, merobek sebuah gaun yang sedemikian indahnya demi memamerkan arogansi dan kekuasaannya, sungguh namja yang kejam!

"Kenapa kau tampak ingin menangis? kau tidak mau memakai gaun ini bukan?" gumam Yunho sambil menatap Jaejoong tajam, "Maka ku kabulkan permintaanmu."

Dengan gerakan tiba-tiba, Yunho meraih Jaejoong, mencengkeram punggung Jaejoong merapat ke arahnya, Jaejoong mencoba meronta tapi tak berdaya. "Mulai sekarang kau harus berfikir ulang kalau mau menangtangku. Aku bukan orang baik dan aku tidak segan-segan berbuat kejam."

Bibir Yunho terasa dekat dengan bibir Jaejoong, dan napas namja itu sedikit terengah. Kepala Yunho menunduk dan sejenak Jaejoong merasa pasti bahwa Yunho hendak menciumnya, tetapi entah kenapa leher namja itu menjadi kaku dan mengurungkan niatnya. Yunho mendorong Jaejoong menjauh, Lalu membalikkan tubuhnya ke arah pintu,

"Hyunjoong!" suara Yunho sedikit keras ketika memanggil perias wajah yang gemulai itu,

Pintu terbuka, dan Hyunjoong terburu-buru masuk, namja itu terkesiap mendapati kondisi Jaejoong yang penuh airmata dengan baju itu, baju eksklusif rancangan disainer terkenal, satu-satunya di dunia, yang sangat mahal dan pasti membuat iri semua yeoja itu, sekarang menjuntai sobek di dada Jaejoong dengan kondisi menyedihkan dan tak karuan. Riasan mahal masterpiece-nya untuk wajah Jaejoong juga tak karuan karena bekas air mata di wajah Jaejoong.

"Bereskan dia." Yunho tidak menatap Jaejoong lagi, namja itu langsung keluar dan membanting pintu di belakangnya dengan marah.

.

.

.

To Be Continued