Ah mian ya Saki milih Hyunjoong yang jadi perias wajahnya.. ada yang bilang di FF yang lain Heechul yang jadi perias wajahnya, tapi menurut Saki heechul tu gak pantes takut sama Yunho, ada juga Yunho yang takut sama Heechul...
lagi, gak tau kenapa kalau Saki ngliat Hyunjoong apalagi dia di BOF bawaannya tu gimana gitu...
Kak Santhy Agatha menurut Saki bukan yang punya ID Changseok, Saki udah liat di AFF dan di forewordnya punya changseok juga tertulis kalau dia remake dari novel kak Santhy.
Blog Saki gak perlu di invite, siapapun bisa masuk
mian, Saki baru update... dan gomapta untuk kalian semua yang udah review, Saki cinta kalian...
Kepala Yunho menunduk dan sejenak Jaejoong merasa pasti bahwa Yunho hendak menciumnya, tetapi entah kenapa leher namja itu menjadi kaku dan mengurungkan niatnya. Yunho mendorong Jaejoong menjauh, Lalu membalikkan tubuhnya ke arah pintu,
"Hyunjoong!" suara Yunho sedikit keras ketika memanggil perias wajah yang gemulai itu.
Pintu terbuka, dan Hyunjoong terburu-buru masuk, namja itu terkesiap mendapati kondisi Jaejoong yang penuh airmata dengan baju itu, baju eksklusif rancangan disainer terkenal, satu-satunya di dunia, yang sangat mahal dan pasti membuat iri semua yeoja itu, sekarang menjuntai sobek di dada Jaejoong dengan kondisi menyedihkan dan tak karuan. Riasan mahal masterpiece-nya untuk wajah Jaejoong juga tak karuan karena bekas air mata di wajah Jaejoong.
"Bereskan dia." Yunho tidak menatap Jaejoong lagi, namja itu langsung keluar dan membanting pintu di belakangnya dengan marah.
salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
"Kau benar-benar nekad menantang tuan Jung seperti itu." Hyunjoong bergumam setengah menggerutu. Dari tadi namja gemulai itu memang sibuk menggerutu karena harus memulai dari awal mendandani Jaejoong. Apalagi ketika tatapannya terarah pada gaun hijau Jaejoong yang sekarang teronggok seperti sampah di lantai, Hyunjoong akan mendesah secara dramatis, lalu menggerutu lagi dengan kata-kata tidak jelas.
Untunglah Hyunjoong membawa gaun cadangan, Gaun itu cukup bagus meskipun tidak semewah dan seindah gaun hijau yang sudah dirobek oleh Yunho. Warnanya merah marun dan berpotongan sederhana, membungkus tubuh Jaejoong dengan sempurna.
"Nah sudah selesai." Hyunjoong meletakkan kuas bibir di meja dan menatap bayangan Jaejoong di cermin, "Lumayan cantik, meskipun tidak semewah tadi."
Jaejoong tanpa dapat ditahan melirik ke gaun hijau di lantai itu dan menghembuskan napas sedih, tetapi bagaimanapun juga, dibalik kekecewaannya ada kepuasan karena setidaknya dia bisa menunjukkan kalau dia bisa melawan Yunho. Betapa mengerikannya namja itu kalau marah.
Jaejoong mengernyit. Sejak usahanya yang terakhir kali untuk melarikan diri, penjagaan atas dirinya diperketat. Ada dua orang laki-laki berjas hitam dan berbadan kekar yang berjaga di depan pintunya. Malam ini adalah pertama kalinya Jaejoong diberi kelonggaran, untuk turun, keluar dari kamar ini. Kalau Jaejoong cukup waspada, mungkin dia bisa melarikan diri dari rumah ini.
"Nah, pakai sepatu ini," Hyunjoong meletakkan sepatu emas yang cantik di karpet, "Lalu aku akan mengantarmu turun, Tuan Jung menunggu di bawah, karena pesta sudah dimulai
Kitahara Saki
Ketika Jaejoong menuruni tangga, seketika itu juga hatinya terasa kecut. Semua orang yang hadir di pesta ini berpakaian spektakuler, semuanya pasti gaun rancangan terbaru dari disainer terkenal. Para laki-laki berjas tampak berkumpul dan mengobrol di satu sudut dekat perapian, dan para yeoja tampak berkelompok dengan sahabat-sahabatnya menyebar di semua sisi ballroom itu.
Sebuah meja sajian besar disudut menyajikan berbagai jenis makanan mewah. Bartender di satu sudut sibuk melayani permintaan tamu dan para pelayan berpakaian hitam putih hilir mudik, menawarkan nampan-nampan hidangan dan sampanye yang mengalir tak ada habisnya.
Ketika Jaejoong menuruni tangga, semua pandangan tertuju padanya, hingga Jaejoong merasakan tangannya berkeringat. Jaejoong mencari-cari Yunho, tetapi namja itu sepertinya tidak ada. Dengan gugup, merasa terasing di keramaian. Jaejoong berdiri diam, di sudut dekat jendela, memilih untuk mengamati daripada membaur. Dia mengernyit ketika menyadari bahwa di setiap akses pintu keluar, semuanya berdiri dua atau tiga orang pengawal-pengawal Yunho dengan jas hitam yang serupa dan tampak selalu waspada. Jaejoong harus melewati mereka kalau ingin keluar dari tempat ini.
"Itu kekasih Yunho yang terbaru?" sebuah suara sinis terdengar, rupanya pemilik suara sengaja supaya Jaejoong mendengarnya.
Jaejoong menoleh dan mendapati segerombolan yeoja-yeoja cantik tengah berbisik-bisik dan menatapnya dengan tatapan benci. Salah seorang yeoja, yang paling cantik dengan gaun hitamnya yang sangat seksi terang-terangan mengamati Jaejoong dengan pandangan meremehkan dari atas ke bawah,
"Aku mendengar Yunho mengajaknya tinggal bersama. Bayangkan! Tidak ada satupun yeoja yang pernah diajak Yunho tinggal bersama... Kupikir dia yeoja yang sangat cantik! Ternyata dia biasa saja, mungkin Yunho sedang mabuk saat membawanya tinggal bersama."
"Aku pikir juga begitu," yeoja di kelompok itu, yang bergaun merah muda menyahut dengan suara yang tak kalah sinis "Mengingat sejarah kekasih-kekasih Yunho selalu luar biasa cantiknya... Tapi lihat dia, dia tampak tak cocok berada di sini, dia pasti bukan yeoja berkelas!"
"Gaunnya gaun lama, rancangan keluaran bulan lalu, dia pasti gadis miskin," suara yeoja lain berambut kemerahan dengan gaun biru muda, berbisik jahat, ikut memanaskan suasana, "Dia mempermalukan Yunho dengan penampilannya."
"Dia tak pantas bersanding dengan Yunho, berani bertaruh, sebentar lagi Yunho pasti muak dan mencampakkannya," yeoja sexy berbaju hitam itu mengibaskan rambutnya angkuh, "Begitu melihatku, Yunho pasti akan menyukaiku dan membuangnya."
Pipi Jaejoong memerah mendengar hinaan-hinaan yang dilemparkan terang-terangan kepadanya, sabar Jaejoong, desisnya dalam hati. Yeoja-yeoja jalang itu terbiasa hidup kaya sehingga kadang tak punya sopan santun.
"Menungguku, sayang?" suara Yunho terdengar dekat sekali di belakang Jaejoong hingga ia terlonjak kaget.
Jaejoong menoleh dan mendapati Yunho berdiri santai sedikit bersandar di jendela di dekatnya. Namja itu tampaknya sudah lama berdiri di sana, dia pasti mendengar jelas semua hinaan-hinaan yang dilontarkan kepadanya tadi. Pipi Jaejoong makin merona, merasa malu sekaligus terhina. Yunho mendekat, dan yeoja-yeoja di gerombolan itu tampak terkesiap dengan ketampanannya.
"Namja ini memang tampan." Jaejoong menggumam dalam hati, merasa kesal karena mau tak mau dia harus mengakui kebenaran yang terpampang di depannya.
Dengan rambut coklat yang sedikit acak-acakan, mata coklat muda yang dalam tapi tajam, bibir tipis yang melengkung jantan dan tulang pipi tinggi yang membentuk sudut wajahnya sedemikian rupa, diimbangi dengan jas hitam legam yang membungkus tubuh ramping berototnya dengan pas, membuatnya tampak seperti malaikat tampan dengan nuansa jahat yang mempersona.
Yunho tampaknya tahu sedang diperhatikan dengan terkesima oleh gerombolan yeoja itu, tetapi dia sama sekali tidak menatap mereka, matanya terpaku menatap Jaejoong, dan senyum miring muncul di bibirnya,
"Kau cantik sekali sayang," Yunho meraih Jaejoong, merangkul pinggang Jaejoong dengan lembut, lalu mengecup hidung Jaejoong mesra, "Dari semua yeoja di ruangan ini, kau yang paling cantik. Yang lainnya cuma sampah,"
Yunho mengucapkan kata-kata itu dengan lantang, yang terdengar langsung gerombolan yeoja itu. Suara terkesiap terdengar dari sana, dan ketika Jaejoong menoleh, yeoja-yeoja itu tampak berdiri dengan wajah merah padam, malu luar biasa atas hinaan Yunho. Lalu dengan berbagai alasan, mereka membubarkan diri dan berpindah tempat.
Yunho terkekeh, melihat tingkah mereka, lalu menunduk dan menatap Jaejoong, senyumnya langsung hilang,
"Jangan coba-coba melarikan diri, dan jangan mencoba meminta tolong pada siapapun disini, mereka tidak akan bisa menolongmu, dan kalau sampai aku tahu kau melakukannya, kau akan dihukum." bisiknya dingin, sikapnya berubah kaku dan dia melepaskan pelukannya dari Jaejoong, dan tanpa kata-kata lagi meninggalkan Jaejoong.
Jaejoong termangu, masih terpesona oleh pertunjukan sandiwara kasih sayang yang diperagakan Yunho tadi, apakah namja itu sengaja melakukannya untuk membelanya dari gerombolan yeoja-yeoja jahat itu?
"Sungguh kekasih yang baik," sebuah suara lembut terdengar di belakangnya, Jaejoong menoleh dan berhadapan dengan yeoja cantik berbaju putih yang tersenyum lembut kepadanya. Mungkin yeoja inilah satu-satunya tamu pesta ini yang mau menyapanya.
"Nugu?" Jaejoong mengernyit ketika menyadari komentar yeoja itu barusan,
Yeoja itu tertawa kecil, bahkan tawanyapun terdengar merdu, Jaejoong membatin dalam hatinya.
"Jung Yunho, kekasihmu," Yeoja itu mengedikkan bahunya ke arah kepergian Yunho, "Dia membelamu dengan gagah berani dihadapan yeoja-yeoja menjengkelkan itu..ups," yeoja itu menutup bibirnya dengan jemarinya yang lentik,
"Aku tidak boleh mengatakannya, tapi mereka memang menjengkelkan bukan? Kalau bukan karena suamiku, aku tidak akan mau menghadiri pesta ini dan berbaur dengan mereka." yeoja itu tertawa lagi.
Dia yeoja bahagia. Jaejoong membatin dalam hati. Yeoja cantik yang bahagia. Ralat Jaejoong. Dengan gaun putih keemasannya yang indah, tatanan rambut sempurna, make-up sederhana, dan tatapan matanya yang berbinar-binar penuh cinta, yeoja di depannya ini tampak memancarkan kebahagiaan. Suaminya pasti sangat mencintainya. Jaejoong mengambil kesimpulan dalam hati.
"Ah ya maaf, aku mengoceh kesana kemari tetapi lupa memperkenalkan diri," yeoja itu mengulurkan tangannya dan tersenyum, "Aku Junsu."
Senyum ramah yeoja itu menular, Jaejoong membalas uluran tangan Junsu dan ikut tersenyum lebar, "Jaejoong," gumamnya memperkenalkan dirinya, "Terimakasih sudah mau menyapaku."
Junsu tersenyum lagi, dan menatap ke arah gerombolan yeoja-yeoja tadi yang sekarang sudah saling berpencar dan asyik bergosip satu sama lain, "Jangan pedulikan mereka, mereka hanya iri padamu."
Jaejoong mengernyit, "Iri padaku? Wae?"
"Ah kau pasti tak pernah mendengar dunia luar," Junsu tertawa lagi, "Gosip menyebar dengan cepat di dunia elit ini, kau adalah yeoja yang paling hangat dibicarakan akhir-akhir ini."
"wae?" Jaejoong menatap Junsu penuh ingin tahu.
"Karena Jung Yunho, playboy paling dingin di sini, mengajakmu tinggal bersamanya di rumahnya," Junsu mengedikkan dagunya, "Meskipun memiliki banyak kekasih, Yunho dikenal berprinsip mensterilkan rumahnya dari kehadiran yeoja. Tidak pernah ada satu yeojapun, selain pelayan yang bisa tinggal dirumah ini. Bahkan katanya, kekasih-kekasihnya yang dulu belum pernah ada yang menginap di rumah ini, Yunho lebih memilih menemui kekasih-kekasihnya di hotel miliknya,"
Junsu menatap Jaejoong dan tersenyum, "Kaulah satu-satunya yeoja yang diajaknya tinggal dirumahnya, dan bahkan tak keluar-keluar sampai sekarang, mereka semua merasa iri, karena apa yang kau alami adalah impian mereka semua, tinggal bersama dengan bujangan paling diminati di sini."
Jaejoong tercenung. Mereka semua tak tahu apa yang terjadi sebenarnya, Jaejoong bukan kekasih Yunho, dia tinggal di rumah ini bukan sebagai kekasih Yunho, tetapi lebih seperti tawanan, dia disekap dan dilecehkan semau Yunho.
"Apakah kau juga salah satu dari mereka? Mengagumi ketampanan Yunho?"
Spontan Junsu tertawa mendengar pertanyaan Jaejoong, "Ani, menurutku suamiku yang paling tampan di dunia ini, aku tidak sempat mengagumi namja lain." Junsu tersenyum dan matanya berbinar penuh cinta ketika membayangkan suaminya.
Jaejoong memalingkan muka, tiba-tiba merasa sedih menyadari betapa beruntungnya Junsu dibandingkan dirinya, yeoja itu tampak begitu bahagia dan tanpa beban, sedang dirinya, bahkan dia tidak tahu akan dijadikan apa dirinya oleh Yunho, mata Jaejoong berkaca-kaca ketika membayangkan kegagalan rencananya untuk melukai Yunho yang malam membuatnya terjebak dalam cengkeraman namja iblis itu.
Junsu memperhatikan raut kesedihan di wajah Jaejoong, dan dahinya berkerut,
"Waeyo Jae? Kau sakit?"
Jaejoong menatap Junsu lagi, yeoja ini baik hati, mungkin saja Junsu bisa menolongnya...
"Tolong aku..." Jaejoong berbisik lemah, takut suaranya Yunho ataupun para pengawalnya yang bertebaran di mana-mana, "Tolong aku keluar dari sini."
Junsu mengernyit, jelas-jelas merasa kaget mendengar permintaan Jaejoong, matanya menatap penuh tanda tanya, "Apa Jae? Tapi... Bukankah.."
"Disini kau rupanya, aku mencarimu kemana-mana sayang." suara yang dalam itu mengalihkan perhatian Junsu dari Jaejoong.
Jaejoong menoleh dan terpesona menatap Namja yang melingkarkan lengannya di pinggang Junsu dengan posesif. Namja itu luar biasa tampan, dengan rambut cokelat yang berpadu nuansa keemasan, dan mata sebiru langit. Junsu rupanya tidak main-main ketika mengatakan bahwa suaminya luar biasa tampan. Jaejoongpun, kalau memiliki suami setampan itu, pasti tidak akan mau melirik namja lain.
"Yoochun." Junsu bergumam lembut, pipinya memerah, tampak malu-malu atas kemesraan terang terangan yang dilakukan Yoochun.
Suami Junsu tampak amat sangat mencintai isterinya. Jaejoong berkesimpulan dalam hati. Namja itu menatap Junsu seolah-olah akan melahapnya.
"Kita harus segera pulang, mari kita berpamitan dulu pada tuan rumah."
"Tapi Chunnie, kita baru sebentar di sini... Apakah sopan kalau..."
"Ssshh," Yoochun menghentikan protes Junsu dan menyentuh bibir Junsu dengan jemarinya lembut, "Aku lebih ingin berada di rumah, bersama isteriku." gumamnya penuh arti.
Siapapun mengerti apa maksud kata-kata Yoochun. Bukan hanya Junsu, pipi Jaejoongpun memerah mendengar nada kepemilikan penuh gairah Yoochun kepada isterinya. Junsu menyentuh lengan Yoochun lembut, mengalihkan perhatian Yoochun yang tampaknya tidak bisa lepas dari isterinya kepada Jaejoong,
"Ini, kenalkan, Jaejoong." gumam Junsu lembut.
Jaejoong mengulurkan tangannya dengan sopan, dan Yoochun menjabat tangannya, lalu menatapnya dengan tajam. Membuat Jaejoong merasa nyalinya sedikit menciut di bawah hujaman tatapan tajam dari mata sebiru langit itu.
"Jaejoong yang itu?" ada tanya dalam suara Yoochun,
Junsu menyentuh lengan Yoochun lagi, mengingatkannya, lalu menatap Jaejoong penuh permintaan maaf,
"Gosip cepat menyebar, bahkan di kalangan laki-laki." gumamnya pada Jaejoong, meminta pengertian.
Jaejoong tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ada sedikit kekecewaan terbersit di hatinya. Yoochun sepertinya rekan bisnis Yunho. Kalau begitu, pupus sudah harapannya meminta bantuan kepada Junsu.
"Ayo sayang, kita berpamitan." Yoochun mengangguh pada Junsu, lalu menarik pinggang isterinya untuk mengikutinya.
"Chankamman," Junsu mengeluarkan kartu emas kecil dari tasnya, "ini kartu namaku," digenggamkannya kartu nama itu di jemari Jaejoong, "Hubungi aku kapan saja kau mau, aku pikir kita bisa bersahabat."
Dan kemudian, pasangan sempurna itu menjauh dan tenggelam di keramaian pesta. Meninggalkan Jaejoong yang masih berdiri terpaku di sana, menggenggam kartu nama itu erat-erat seolah hanya itulah tiket penyelamatannya.
Kitahara Saki
"Dia meminta tolong kepadaku." Junsu mengernyit sambil merebahkan kepalanya di dada Yoochun. Namja itu masih berbaring santai dengan mata terpejam , menikmati saat-saat tenang setelah percintaan mereka yang panas,
Mata Yoochun terbuka, menatap Junsu penuh ingin tahu, "Nugu baby?"
"Jaejoong, kekasih Yunho."
Yoochun tercenung, lalu mengangkat bahunya, "Kurasa kita tidak usah ikut campur dalam urusan Jung Yunho. Dia rekan bisnis yang luar biasa, dan aku senang perusahaanku menjalin kerjasama dengan perusahaannya, Tetapi dari segi pribadi..." Yoochun mengusap-usapkan jemarinya di punggung telanjang Junsu, "Aku tidak terlalu menyukainya."
"Kenapa?" Junsu menatap Yoochun ingin tahu,
"Yah... Yunho terkenal sangat... Kejam. Dia berpenampilan dingin dan kaku, tetapi ketika terusik, dia tak punya ampun, kadang-kadang aku sedikit tak simpati atas sikap tak berbelas kasihannya."
"Kalau begitu aku semakin mencemaskan Jaejoong," Junsu mengingat permohonan Jaejoong tadi kepadanya, "Dia minta tolong kepadaku untuk membantunya melepaskan diri dari rumah itu, pandangannya begitu tersiksa, apakah mungkin Yunho menyanderanya di rumah itu dengan paksa?"
"Mungkin saja," Yoochun mengecup dahi Junsu lembut, "tetapi seperti kataku tadi, itu bukan urusan kita."
"Setidaknya maukah kau mencoba berbicara dengan Yunho? Kau ada pertemuan besok pagi dengannya kan?" Junsu menatap Yoochun penuh permohonan. Ada kecemasan di suaranya, apalagi ketika mengingat betapa Jaejoong tampak sangat tersiksa ketika memohon kepadanya tadi.
Yoochun terkekeh, lalu menggulingkan tubuhnya menindih tubuh Junsu, "Baiklah tuan puteri, akan kucoba," di dekatkannya wajahnya ke wajah Junsu, menggoda bibir Junsu dengan usapan bibirnya yang panas, "Sekarang bisakah kita mengehentikan pembicaraan kita tentang orang lain dan bercinta lagi?"
Junsu tidak menolak, bercinta dengan Yoochun selalu menjadi kegiatan yang luar biasa menyenangkan.
.
.
.
To Be Continued
