hahaha... ternyata ada readers Saki yang sangat2 teliti... Saki gak sadar lo kalo udah nglewatin yang mata birunya Yoochun... hehehe

uri Changmin juga udah muncul kok, dari kemaren2 malah...

Oke gomapta untuk semua yang sudah mereview cerita Saki, gomawo untuk semua silent reader yang sudah mampir...


"Mungkin saja," Yoochun mengecup dahi Junsu lembut, "tetapi seperti kataku tadi, itu bukan urusan kita."

"Setidaknya maukah kau mencoba berbicara dengan Yunho? Kau ada pertemuan besok pagi dengannya kan?" Junsu menatap Yoochun penuh permohonan. Ada kecemasan di suaranya, apalagi ketika mengingat betapa Jaejoong tampak sangat tersiksa ketika memohon kepadanya tadi.

Yoochun terkekeh, lalu menggulingkan tubuhnya menindih tubuh Junsu, "Baiklah tuan puteri, akan kucoba," di dekatkannya wajahnya ke wajah Junsu, menggoda bibir Junsu dengan usapan bibirnya yang panas, "Sekarang bisakah kita mengehentikan pembicaraan kita tentang orang lain dan bercinta lagi?"

Junsu tidak menolak, bercinta dengan Yoochun selalu menjadi kegiatan yang luar biasa menyenangkan.

salang-ui ba

©Kitahara Saki

Kim Jaejoong, Jung Yunho

©their self

Sleep with the Devil

©Shanty Agatha

Kopi sudah dihidangkan, pertanda meeting santai itu sudah usai. Beberapa namja memilih keluar untuk merokok, sedang Yoochun duduk diam di ujung sofa, mengamati Yunho yang masih sibuk mempelajari berkas-berkas di tangannya. Yunho bukanlah namja yang bisa membaur, namja ini penyendiri, dan wataknya yang terkenal membuat orang-orang segan mendekatinya. Yoochun tidak akrab dengan Yunho, mereka hanya berbicara tentang bisnis. Dan apabila menyangkut bisnis, Yunho cukup kooperatif. Kerjasama mereka telah membuahkan banyak keuntungan bagi perusahaan masing-masing.

Yoochun ragu untuk menanyakan perihal Jaejoong kepada Yunho. Rasanya terlalu aneh untuk membahas masalah itu di sini. Tetapi isterinya, Junsu yang cantik, telah berhasil membuatnya berjanji untuk melakukannya. Yoochun berdehem, menarik perhatian Yunho dari berkas-berkas yang ditelusurinya dengan serius,

"Kami, aku dan isteriku bertemu dengan kekasihmu semalam."

Kepala Yunho langsung terangkat seperti disentakkan, ia menatap Yoochun dengan waspada,
"Oh ya?" nada suaranya santai, tetapi ketegangan dalam suara Yunho tidak bisa menipu Yoochun, ada sesuatu di sini. Batin Yoochun dalam hatinya, ada sesuatu yang dirahasiakan Yunho...

"Ya, dia berkenalan dengan isteriku kemarin, dan berbicara panjang lebar dengannya." Yoochun berusaha memancing Yunho dan sepertinya pancingannya kena karena mata Yunho menyipit dan menatapnya curiga.

"Apakah dia mengatakan sesuatu kepada isterimu?"
Yoochun menatap Yunho lurus-lurus, "Dia meminta tolong kepada isteriku untuk diselamatkan, supaya dia bisa keluar dari rumahmu."

Bibir Yunho mengetat membentuk garis tipis, lalu segera berdiri, "Bilang pada isterimu untuk tidak melakukan apa-apa. Yeoja itu milikku, dan siapapun tidak akan bisa melepaskannya dari rumahku, kecuali atas seizinku,"

Yunho menatap Yoochun lurus, menimbang-nimbang, "Aku menghormatimu Yoochun, kau adalah salah satu dari sedikit orang yang aku hormati dan aku tidak ingin hubungan saling menghargai ini rusak. Maaf aku permisi dulu karena ada janji pertemuan dengan pihak lain setelah ini."

Setelah mengangguk kaku, Yunho melangkah pergi meninggalkan ruangan meeting besar itu.
Yoochun duduk diam dan menyesap kopinya, matanya masih menatap pintu di mana Yunho menghilang di baliknya. Tingkah Yunho mengingatkannya pada dirinya dulu, Senyum muncul di bibir Yoochun. Yunho mungkin akan mengalami sama seperti dirinya, kalau dia tidak hati-hati kepada Jaejoong.

Kitahara Saki

Ketika pintu kamarnya dibuka dari luar, Jaejoong tidak menyangka kalau Yunholah yang masuk. Namja itu telah sepenuhnya mengabaikannya akhir-akhir ini. Jaejoong bahkan hampir tidak pernah melihat namja itu, kecuali dari pemandangan ketika Yunho memasuki mobilnya di teras bawah yang kelihatan dari jendela lantai dua tempat Jaejoong dikurung.

Dan seperti biasanya, namja itu tampak marah. Jaejoong mengerutkan alisnya, kenapa namja itu tidak pernah sedikitpun tampak ceria dan tersenyum? Kalaupun tersenyum, senyumnya hanyalah senyum jahat dan sinis. Apakah namja itu tidak pernah merasakan bahagia sedikitpun di dalam hatinya?

Tanpa basa basi, Yunho melempar jasnya ke kursi dan melonggarkan dasinya, lalu menatap Jaejoong tajam, "Apa yang kau katakan kepada Isteri Yoochun?"

Jaejoong langsung mengkerut takut. Junsu mungkin telah menyampaikan permintaan tolongnya kepada Yoochun, dan Yoochun mengatakannya kepada Yunho. Ketika rasa ketakutan menggelayutinya, Jaejoong langsung menggelengkan kepalanya mencoba mengembalikan keberaniannya. Diingatnya wajah ayah dan ibunya yang bahagia, lalu tergantikan dengan wajah pucat mereka yang terbaring di peti mati. Kebencian dan kemarahan adalah senjatanya untuk menghadapi Yunho,

"Aku memang meminta tolong kepada Junsu untuk menyelamatkanku." Jaejoong mengangkat dagunya angkuh, menantang Yunho.

Yunho menggeram marah, matanya menyala, "Coba saja kalau kau berani. Minta Junsu untuk membebaskanmu, dan kalau yeoja itu berani melakukan sesuatu, aku akan melenyapkan nyawanya," Yunho mendesis geram, "Dan aku tidak pernah main-main dengan perkataanku Jae, kebebasanmu akan diganti dengan nyawa orang-orang yang lengah atau orang-orang yang mencoba menyelamatkanmu."

Wajah Jaejoong memucat. Apakah Yunho benar-benar akan melukai Junsu? Diingatnya senyum lembut di wajah cantik Junsu dan kebaikan hati yeoja itu. Ah ya Tuhan, Junsu adalah satu-satunya kesempatannya untuk melepaskan diri. Tetapi jika gantinya Yunho akan melukai Junsu, maka Jaejoong tidak punya kesempatan apa-apa lagi. "Kenapa kau tidak melepaskanku? Aku muak menjadi tawananmu."

Yunho menyipitkan matanya, mengamati Jaejoong dari ujung kepala sampai kaki, "Terlalu mudah jika aku melepaskanmu, kau pasti akan mencari cara untuk membalaskan dendammu lagi... dan terlalu mudah pula kalau aku membunuhmu, tubuhmu terlalu nikmat untuk mati sia-sia..."

Yunho melangkah mendekat, dan otomatis Jaejoong langsung melangkah mundur, "Jangan...jangan mendekat!"

Jaejoong tanpa sadar mencengkeram dadanya dengan gerakan melindungi diri. Yunho sudah pernah memaksakan kehendak kepadanya, memar ditangannya masih terasa nyeri, bekas ikatan dasi yang kejam di pergelangannya.

Yunho hanya tersenyum meremehkan melihat gerakan Jaejoong itu, "Kau tahu kau tidak bisa menolak kalau aku ingin memaksamu, apakah kau tidak belajar dari pengalaman bercinta kita kemarin?" dengan tenang namja itu melemparkan dasinya yang sudah dilonggarkan ke lantai, lalu melepas kancing kemejanya, satu demi satu.

Jaejoong menatap pemandangan di depannya itu dengan panik, "Kau... kau mau apa?"

"Menurutmu aku mau apa?" Yunho melemparkan kemejanya dan berdiri dengan dada telanjang di depan Jaejoong, Tubuh namja itu luar biasa indah, ramping tapi kuat dengan otot-ototnya yang menyembul, terlihat begitu keras.

"Aku mau mandi," Yunho tampak geli melihat keterkejutan Jaejoong, "Dan kau ikut denganku."
Wajah Jaejoong memucat dan menatap Yunho dengan marah.

"Apa-apan? Kenapa kau mandi disini? Kau... kau kan punya kamar mandi sendiri di kamarmu... ini... ini adalah..."

"Ini adalah kamar kekasihku," Yunho menyelesaikan kalimat Jaejoong dengan tenang, "Ya. Kau kekasihku Jae, kau harus terima itu. Kau ada di sini untuk memuaskan nafsuku."

"Kurang ajar!" Jaejoong menyembur marah, dan didorong akan rasa tersinggungnya atas hinaan Yunho, Jaejoong maju dan mencoba mencakar wajah Yunho. Tetapi Yunho cukup gesit, digenggamnya lengan Jaejoong, dan dengan gerakan cepat di telikungnya tangan Jaejoong di belakang punggungnya,

"Tidak semudah itu Jae, ingat itu, aku laki-laki yang cukup kuat, kalau kau bersikap baik, aku akan bersikap baik kepadamu, tetapi kalau kau menantangku, aku mungkin akan menyakitimu," Dengan satu tangan masih menelikung Jaejoong, Namja itu meraih dagu Jaejoong dan memaksa mengecup bibirnya dengan panas, "Ketika aku bilang kau harus mandi denganku, maka kau akan melakukannya."

Yunho mendorong Jaejoong masuk ke kamar mandi dengan nuansa marmer putih itu.

Kitahara Saki

Yunho merasa dirinya hampir gila. Dia tidak berhubungan seks dengan wanita manapun akhir-akhir ini. Karena dia tidak tertarik. Gairahnya terpusat kepada Jaejoong, yeoja ini membuatnya ingin menundukkannya, menaklukkannya dan mendominasinya dengan posesif. Yunho ingin Jaejoong tunduk di kakinya, memujanya seperti yang dilakukan banyak orang kepadanya.
Well, itu mungkin butuh waktu lama, Yunho mengernyit melihat ekspresi Jaejoong, yeoja ini harus selalu dipaksa, harus selalu diikat, dan Yunho sebenarnya tidak suka menyakiti yeoja yang akan ditidurinya.

Bukti gairahnya terlihat jelas, dan Jaejoong menolak untuk melihatnya, Yunho mendorong tubuh Jaejoong yang setengah telanjang ke pancuran, membiarkan air hangat membasahi mereka berdua. Ketika Jaejoong sekali lagi mencoba memberontak, Yunho mencengkeram kedua tangannya erat-erat ke dinding dan merapatkan tubuhnya, menempelkan bukti gairahnya ke pusat tubuh Jaejoong, membuat muka Jaejoong merah padam, "Hati-hati Jae, aku tidak ingin menyakitimu, aku cuma ingin mandi."

Jaejoong mengerjap, "Mandi?"

Ada sinar geli di mata Yunho, "Ya, mandi, kau pikir aku mau apa?"

Pipi Jaejoong makin memerah, apalagi ketika matanya tersapu pada kejantanan Yunho yang mengeras, terlihat jelas laki-laki itu sudah amat sangat terangsang. Yunho mengikuti arah tatapan Jaejoong dan tersenyum, "Aku cuma ingin mandi, tetapi sepertinya kau lebih tertarik ke yang lain."
Jaejoong menatap marah ke mata Yunho, tetapi namja itu hanya terkekeh,

"Terserah kau, kau mandi di sini bersamaku. Atau kalau kau lebih memilih menantangku, kita bisa berakhir dengan hubungan seks yang hebat di kamar mandi, sekarang tolong gosok punggungku dengan sabun." Yunho melepaskan celananya, terkekeh lagi ketika Jaejoong langsung memalingkan mukanya, tak mau melihat.

"Ayo, gosok punggungku." Yunho membalikkan tubuhnya, membiarkan pundak dan bahunya diterpa air hangat dari shower, yang mengalir menuruni punggung berototnya dan turun ke pantatnya yang kencang...

Jaejoong terpana dan mengerjapkan matanya ketika menyadari bahwa matanya terpaku pada keindahan tubuh Yunho yang berotot dan keras. Ramping tapi jantan, dan semua begitu proposional pada tempatnya, seolah Tuhan menciptakan laki-laki ini sambil tersenyum.
Yunho menolehkan kepalanya dan menangkap basah Jaejoong yang sedang mengamati tubuhnya, tatapan sensualnya memancar, panas dan bergairah.

Tetapi kemudian dia mendapati mata Jaejoong yang berputar ke seluruh penjuru kamar mandi. Yeoja ini masih belum menyerah dalam usahanya untuk melukai Yunho. Yunho berani bertaruh bahwa Jaejoong sedang mencari-cari senjata, sesuatu, mungkin untuk dipukulkan ke kepala Yunho yang sedang lengah.

"Jae," suara Yunho terdengar rendah dan mengancam, meskipun sebenarnya namja itu sangat menikmati mengucapkan nama Jaejoong lambat-lambat di mulutnya, "Kalau kau tidak melakukan perintahku dan sibuk mencari cara untuk melakukan, entah rencana apa yang ada di dalam kepalmu yang cantik itu, maka mungkin saja aku akan berubah pikiran dan langsung menyetubuhimu saja."

Jaejoong terlonjak, dan langsung meraih sabun cair, lalu mengusapkannya ke punggung Yunho yang keras dan berotot itu. Sentuhan itu membuat keduanya sama-sama terkesiap, Yunho bahkan tidak bisa menahan erangannya, Kejantanannya sudah begitu keras, seperti batu di bawah sana hingga terasa menyakitkan, memprotes untuk dipuaskan. Sentuhan tangan lembut Jaejoong di punggungnya semakin memperburuk keadaan, membuatnya terangsang sampai di tingkat dia tak dapat menanggungnya.

Jaejoong mengernyit mendengar suara erangan Yunho, dia tidak dapat melihat ekspresi Yunho, hanya bisa melihat rambut belakang Yunho yang kecoklatan dan sekarang basah, menempel di tengkuknya.

"Wae?" Jaejoong bertanya, pada akhirnya ketika Yunho mengerang lagi. Jemarinya menggosok lembut bahu dan punggung Yunho yang sekarang licin karena sabun, guyuran air hangat membasahi mereka berdua, membuat kaca-kaca kamar mandi itu berembun karena uapnya.
Yunho menggertakkan giginya, mencoba menahan gairahnya.

"Tidak apa-apa." suaranya berupa erangan yang dalam, mencoba menahan dirinya ketika tangan lembut Jaejoong yang berlumuran sabun itu menyentuh pinggangnya. Dia ingin merenggut tangan Jaejoong itu, menyentuhkan ke kejantanannya yang sangat menginginkannya, dan kemudian memuaskan dirinya di dalam tubuh Jaejoong.

Tetapi dia tidak bisa. Yunho ingin membuat Jaejoong menyerah dengan sukarela. Dua percintaan mereka yang terakhir tidak dilakukan dengan sukarela. Meskipun pada akhirnya Yunho bisa membuat Jaejoong merasakan kenikmatan. Jung Yunhotidak pernah memaksa yeoja jatuh ke dalam pelukannya. Para yeojalah yang berebut untuk dipeluk olehnya. Dan itu harus terjadi pada Jaejoong. Jaejoonglah yang harus menyerah dalam pelukannya. Yunho memejamkan matanya, membayangkan bagaimana nikmatnya nanti ketika Jaejoong pada akhirnya menyerah ke dalam pelukannya dan memohon kepadanya.

Yunho melirik kepada Jaejoong, dan... Astaga! Demi para dewa yang ada di semesta alam ini... Jaejoong masih memakai pakaian lengkap, dan yang membuat semuanya lebih buruk, pakaian Jaejoong adalah rok panjang tipis berwarna putih, dan ketika baju itu basah kuyup, malahan membuat tubuh Jaejoong begitu sexy, tercermin samar-samar di balik pakaian putih yang membuatnya tampak misterius. Yunho menggertakkan giginya. Dia tidak tahan lagi bermain-main seperti ini. Ada di dekat Jaejoong, telanjang dan siap seperti ini membuatnya merasa hampir gila.

"Yeoja ini harus menyerah padanya. Harus!"

.

.

.

To Be Continued