"Yun,"
Lelaki itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap Jaejoong
"Wae?"
"Apakah…apakah setelah sekarang kita mempunyai putera, kau masih menganggapku sebagai pengganti Jessica?" Jaejoong harus bertanya, dia tak tahan lagi memendamnya. Sekarang mereka sudah mempunyai seorang putera dan Jaejoong tidak mampu hidup dalam ketidakpastian semacam ini. Anaknya harus tumbuh di keluarga yang saling mencintai, dan ketika Yunho tidak bisa memberikannya. Maka Jaejoong akan pergi,
"Mwo?" ada nyala di mata Yunho dan itu seharusnya sudah bisa menjadi tanda peringatan buat Jaejoong tetapi dia tidak mau mundur, dan dia tidak bisa.
"Kau selama ini selalu menganggapku sebagai pengganti Jessica. Sekarang kita mempunyai Angel, aku hanya ingin menunjukkan sikapku. Aku tak mau menjadi pengganti seseorang, jadi mungkin aku akan pergi bersama Angel."
salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
Wajah Yunho mengeras. "Kau pikir apa yang sedang kau katakan?"
"Aku sudah mempelajari surat perjanjian itu, dalam surat itu dikatakan bahwa aku harus menikahimu di usiaku yang ke dua puluh lima tahun, tidak dituliskan klausul apabila kita berpisah…saat ini aku ingin berpisah."
Kau bilang waktu itu kau mencintaiku! Yunho ingin meneriakkan kata-kata itu di depan Jaejoong dia begitu marah hingga jemarinya mengepal,
"Berani-beraninya kau mengajukan perpisahan kepadaku? Tidak pernah ada seorangpun yang bisa meninggalkan Jung yunho!"
Wajah Jaejoong tampak sedih sekaligus kuat membalas tatapan Yunho yang membara.
"Aku tidak bisa hidup hanya sebagai boneka pengganti seseorang. Aku juga punya kepribadian sendiri dan aku lelah."
Kemarahan Yunho yang semula menggelegak langsung surut mendengar perkataan Jaejoong. Kenapa Yunho tidak menyadarinya? Yang diinginkan Jaejoong hanyalah pengakuan bahwa dia bukanlah pengganti Jessica. Hanya itu. Dan Yunho bodoh karena selama ini tidak menyadarinya. Baiklah, jika memang itu yang diinginkan Jaejoong, dia akan memberikannya...
"tarawara," Yunho mengambil tangan Jaejoong dan membawanya keluar kamar, dia setengah menyeret Jaejoong yang kebingungan menuruni tangga, langsung menuju sayap kebun mawar itu. Sayap rumah di mana lukisan Jessica terpasang rapi di balik pintu bernuansa emas.
Para pelayan tampak mengintip mendengar keributan itu, bahkan Changmin juga muncul dari depan dengan waspada. Tetapi kemudian langsung mundur ketika menyadari bahwa Yunho membawa Jaejoong ke sayap rumah itu.
Yunho berhenti menyeret Jaejoong ketika mereka berada di pintu kamar emas itu, "Kau ingin jawaban bukan?"
Yunho melangkah masuk dan kemudian keluar lagi sambil membawa lukisan Jessica yang semula tergantung di dinding. Lalu melangkah dengan langkah berderap marah meninggalkan Jaejoong. Dengan segera Jaejoong mengikutinya, ingin tahu apa yang akan dilakukan Yunho kepada lukisan itu. Yunho melangkah ke halaman belakang, membanting lukisan itu di tanah, dan ketika Jaejoong menyadari apa yang akan dilakukan oleh Yunho, semuanya sudah terlambat.
"Jangan!"
Terlambat. Yunho sudah melempar api ke lukisan itu, dan dalam sejejam api itu sudah membakar kanvasnya yang rapuh. Seluruh lukisan Jessica yang sedang hamil muda dan tersenyum itu habis menjadi arang tipis yang kehitaman dilalap oleh api yang begitu ganas. Jaejoong berdiri terpaku menatap sisa pembakaran itu dan menoleh menatap Yunho dengan bingung, "Kenapa kau melakukannya?"
"Karena," Yunho tiba-tiba meraih Jaejoong dan merenggutnya ke dalam pelukannya. Ciumannya kasar sekaligus mendamba, penuh gairah. Bibir Yunho melahap bibir Jaejoong seolah-olah akan mati kalau tidak mencecapnya. Lidahnya menjelajah dengan bergairah, mencicipi seluruh rasa manis Jaejoong yang sudah lama tidak dicecapnya. Yunho memuaskan kerinduannya, amarahnya, dan rasa frustrasinya dalam ciuman itu. Sebuah ciuman menggelora yang hanya dilakukan oleh pasangan yang luar biasa merindu.
Ketika Yunho melepaskan ciumannya yang membara itu, tubuh Jaejoong lemas hingga Yunho harus menopangnya. Dengan gerakan tegas, lelaki itu mengangkat dagu Jaejoong dan menghadapkan ke arahnya.
"Karena Jung Jaejoong, aku mencintaimu, aku sungguh mencintaimu, sebagai Jaejoong yang menjengkelkan dan keras kepala yang selalu menentangku," Yunho melumat bibir Jaejoong yang menganga takjub dengan penuh gairah.
"Kau tersimpan di hatiku," dengan lembut Yunho membawa tangan Jaejoong ke dadanya, "Hati ini dulu sudah ku buang jauh-jauh ke dasar, tapi kau membawanya ke permukaan lagi dan meletakkan dirimu di sana. Aku tidak bisa mengeluarkanmu dari sana setelahnya," Yunho menatap lukisan yang sudah terbakar habis itu, "Aku pernah mencintai Jessica sebelumnya. Tetapi sekarang, dia hanyalah kenangan yang harus kuhormati. Hanya itu. Cintaku kepadanya sudah pergi pelan-pelan seiring berjalannya waktu, dan kutegaskan padamu Jung Jaejoong, aku memperisterimu bukan karena kau harus menggantikan siapapun, aku memperisterimu karena aku mencintaimu, dan ternyata kita sangat cocok di ranjang merupakan bonus."
"Yunho," pipi Jaejoong memerah, berusaha menahan Yunho mengucapkan kata-kata vulgar yang lebih parah. Mereka ada di ruang terbuka dan Jaejoong tahu para pelayan yang terkejut dengan kehebohan itu sedang berkumpul di sudut-sudut, berusaha menguping dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Yunho menghentikan ucapannya dan menyadari bahwa banyak yang mengintip mereka dengan diam-diam, tetapi dia tak peduli lagi.
"Sekarang nyonya Jung Jaejoong, waktumu untuk menjawab!" Yunho berdiri di situ menatap Jaejoong dengan tatapan arogannya, sejenak memunculkan dorongan hati Jaejoong untuk melawannya.
Rupanya Yunho menyadari niat Jaejoong entah dari ekspresi wajahnya, atau mungkin dari kilatan matanya, "Dan jangan mencoba membantah," Gumam Yunho sombong, "Aku tahu kau juga mencintaiku."
Jaejoong merasa pipinya memerah, panas sampai ke telinga-telinganya. "Darimana kau berkesimpulan seperti itu?"
"Aku mendengar pengakuan itu langsung dari bibirmu," Yunho tersenyum puas menatap Jaejoong yang kebingungan, "Ketika kau terbaring koma, kau berkali-kali mengigau dan mengucapkan 'Saranghae Yunho' berulang-ulang dengan kerasnya hingga semua dokter dan suster mendengarnya."
Sebenarnya Jaejoong hanya mengucapkan satu kali, dan hanya Yunho yang mendengarnya, tetapi sungguh memuaskan melihat wajah Jaejoong yang makin memerah karena malu ketika mendengar kata-katanya.
"A… aku tidak mungkin mengucapkan itu… mana buktinya?"
Yunho bersedekap, menatap Jaejoong dengan puas, "Para dokter dan perawat bisa menjadi saksi," dia mulai merasa geli melihat ekspresi Jaejoong yang tampak amat malu.
"Mungkin… mungkin itu akibat pengaruh obat," Jaejoong berusaha menghindari tatapan Yunho, merasa amat sangat malu. Benarkah dia meneriakkan kata-kata cinta kepada Yunho ketika dia sedang tidak sadar? Astaga alangkah malunya dia, dia tidak mau ke rumah sakit itu lagi.
Yunho terkekeh melihat ekspresi Jaejoong yang berubah-ubah, dengan lembut dirangkumnya wajah Jaejoong di kedua tangannya, "Jae, kau sungguh keras kepala. Di sini aku, seorang Jung Yunho menyatakan cintanya kepadamu, dan kau bahkan masih menyangkal perasaanmu kepadaku,"
tawa di mata Yunho menghilang dan berubah menjadi sensual. Bibirnya mendekat ke bibir Jaejoong dan mengecupnya dengan kecupan yang panas dan menggoda, "Katakan kau mencintaiku."
Jaejoong mengerang dalam hati merasakan ciuman itu, Yunho curang telah memanfaatkan pesona tubuhnya untuk memaksa Jaejoong mengakui perasaannya. Bibir Yunho mengecupnya dengan kecupan-kecupan kecil menggoda di sekitar bibirnya, membuat Jaejoong ingin meminta lebih banyak lagi.
"Katakan Jae," bibir Yunho menggoda Jaejoong lagi, lelaki itu sudah sangat mengenal Jaejoong dan mengetahui kelemahan Jaejoong, ketika Yunho mengigit bibirnya lembut dan melepaskannya. Jaejoong setengah menjerit, setengah mengerang,
"Ya!" Seru Jaejoong hampir berteriak, marah karena didesak, "Aku mencintaimu Jung Yunho!"
Yunho langsung melumat bibir Jaejoong, memuaskan gairahnya dan mencium Jaejoong lagi, dan lagi tanpa ampun.
Para pelayan hanya menatap takjub kepada tuan dan nyonyanya yang berciuman dengan mesra di taman, dan Changmin yang mengamati sedari tadi tersenyum samar, lalu membalikkan badan memasuki rumah dengan perasaan lega. Lega karena tuannya, Jung yunho, akhirnya menemukan cahaya yang membawanya kembali kepada kebahagiaan.
.
.
.
.
.
Pesta itu berlangsung elegan, sebuah jamuan makan malam yang diadakan Yunho bersama rekan-rekan bisnisnya, untuk keberhasilan proyek mereka yang terbaru.
Jaejoong ada di sana bersama Junsu dan isteri-isteri pengusaha lainnya, mengamati Yunho yang ada di seberang ruangan, sedang mengobrol dengan rekan-rekannya. Jantung Jaejoong berdegup kencang. Dia sudah menghitung di kalendernya. Malam ini dia sudah bebas. Dan memang kondisi tubuhnya sudah membaik sejak hampir dua bulan melahirkan. Dan Yunho masih belum tahu itu.
Yunho sendiri merasakan Jaejoong sedang mengamatinya, dan gairahnya naik, gelenyar ketegangan seksual telah menggeletar di antara mereka mengingat telah lama mereka tidak bercinta. Yunho menunggu dengan sabar dan menahan diri, meskipun lama-lama hal itu membuatnya sedikit frustrasi, dorongan untuk memeluk Jaejoong, merasakan Jaejoong menyerah di dalam pelukannya sangat kuat. Mereka belum pernah bercinta sejak pernyataan cinta yang hebat itu, dan Yunho terobsesi, ingin menunjukkan kepada Jaejoong, betapa hebatnya sebuah percintaan jika kedua pasangan telah terbuka untuk saling mencintai.
"Yunho," suara Yoochun menggugah Yunho dari lamunannya, dia menoleh dan mendapati Yoochun sedang bersama dengan seorang lelaki.
"Aku ingin memperkenalkan salah satu rekan bisnisku, kami mengembangkan kerja sama di bidang properti," Yoochun mengedikkan bahunya, dan menyebut nama sebuah perusahaan yang cukup terkenal karena maju pesat dalam waktu singkat. Gosipnya karena pemiliknya adalah seseorang yang jenius, "Dia pemilik perusahaan itu," jelas Yoochun tenang, "Kenalkan Jung yunho, ini Jang Hanbyul."
Yunho menjabat tangan yang kuat itu dan menatap mata Hanbyul dalam-dalam. Lelaki yang kuat jiwanya, batinnya.
"Semoga ke depannya kita bisa bekerjasama," Hanbyul menggumam dengan suaranya yang tenang, lalu mengangguk untuk berpamitan karena ada urusan lain.
Yoochun dan Yunho menatap kepergian Hanbyul,
"Dia si jenius yang membuat perusahaan luar biasa itu?"
Yoochun tersenyum, "Wae? menghancurkan bayanganmu?" Entah sejak kapan Yunho dan Yoochun berteman. Mungkin karena kedekatan isteri-isteri mereka.
"Sama sekali tidak sesuai bayanganku. Aku membayangkan seorang laki-laki aneh yang serius dengan penampilan tak kalah serius, Hanbyul terlalu tampan untuk menjadi seorang jenius yang menghebohkan."
Kali ini Yoochun terkekeh mendengar kata-kata Yunho, "Dia memang tampan, tapi dia tak pernah punya reputasi sebagai playboy, seperti kita sebelum menikah. " Yoochun melirik Yunho dengan tatapan menyindir.
Yunho tersenyum miring, "Mungkin agar tidak merusak reputasi jeniusnya," sahut Yunho, "Kurasa aku akan menyukainya kalau ada kesempatan mengenalnya."
Yoochun tersenyum lagi, "Yah kau akan lebih sering bertemu dengannya nanti, kami sudah bersahabat sejak lama. Dia sudah menjadi patner bisnis resmiku sejak sebulan yang lalu," Yoochun melirik jam tangannya, "Sudah malam, kami harus segera berpamitan. Terima kasih atas pesta yang luar biasa ini."
.
.
.
.
.
Tamu terakhir sudah pulang dan para pelayan mulai membersihkan seluruh rumah supaya esok hari seluruh bagian rumah sudah bersih dan sempurna. Jaejoong sedang duduk di depan meja rias setelah mencuci muka, Dia mengganti bajunya dengan gaun tidur. Saat itulah Yunho masuk, tampak begitu tampan dan mempesona, dengan kemeja putih yang sudah dibuka dua kancingnya.
"Hmmmm," aromamu sangat menyenangkan," Yunho memeluk Jaejoong dari belakang dan menempelkan bibirnya ke leher Jaejoong, mengecupnya lembut.
Jaejoong tersenyum menatap rambut coklat Yunho yang terpantul di cermin sementara lelaki itu mencumbu lehernya. Kehidupan pernikahan mereka luar biasa baiknya setelah pernyataan cinta itu. Semua salah paham sudah dilepaskan, Yunho berhasil meyakinkan Jaejoong bahwa di satu titik tertentu dia sudah jatuh cinta kepada Jaejoong tanpa dia menyadarinya, Jaejoong percaya karena dia pun merasakan hal yang sama.
Tidak ada yang tahu kapan cinta itu muncul, Sungguh tak terduga, Jaejoong tidak menyangka akan jatuh cinta dan berbahagia menjadi seorang isteri dari lelaki yang bahkan di pertemuan pertama mereka menyekapnya di dalam bagasi, melemparnya dari balkon, menculik dan menahannya di rumahnya dan menghujaninya dengan berbagai arogansi yang tidak terkira. Tetapi Jaejoong memang jatuh cinta, kepada Yunhonya yang tampan, yang meskipun emosinya masih meledak-ledak dan arogansinya sering muncul ke permukaan, lelaki itu ternyata juga mencintai Jaejoong dan memperlakukannya dengan luar biasa lembut.
Ketika tidak ada penghalang di antara mereka, Yunho ternyata adalah suami yang baik. Dia memperlakukan Jaejoong dengan hormat dan penuh kasih sayang. Kadang mereka masih beradu argumentasi, tetapi mereka menikmatinya sebagai rutinitas suami-isteri, bukan sebagai ajang luapan kebencian. Dan terhadap Angel, Yunho benar-benar menjadi ayah yang luar biasa. Begitu penuh kasih sayang dan ketakjuban, layaknya seorang ayah baru dengan putera pertamanya. Jaejoong membayangkan betapa Angel nanti akan begitu mirip ayahnya, dan mungkin menjadi anak yang memuja ayahnya, semoga begitu. Mengenai kehidupan percintaan mereka di ranjang… Well selama ini mereka belum bisa melakukannya karena Jaejoong belum boleh melakukannya setelah melahirkan. Tetapi hari ini bisa. Jaejoong mengingat hitungan kalender itu, dan jantungnya berpacu liar.
Yunho sekarang sedang menggigit ringan telinga Jaejoong, lalu membalikkan tubuh Jaejoong dengan lembut dan memeluknya erat. Pelukan itu begitu erat hingga Jaejoong bisa merasakan kejantanan Yunho yang menekan tubuhnya dengan kerasnya.
"Mungkin aku harus memelukmu beberapa lama, sebelum aku masuk ke balik selimut, mencoba tidur dan menjadi gila seperti biasanya," Yunho menyentuh bibir Jaejoong dengan jemarinya, lalu mengecupnya lembut.
"Malam ini aku sudah bebas." Jaejoong berbisik pelan sambil berjinjit di telinga Yunho.
Kata-katanya langsung berimbas ke seluruh bagian tubuh Yunho. Matanya menyala penuh gairah dan antisipasi, dan Jaejoong bisa merasakan bahwa di bawah sana Yunho makin mengeras menekan tubuhnya.
"Jadi…" suara Yunho terdengar parau, "Kau sudah bisa…"
Jaejoong menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Detik itu juga Yunho langsung mengecup bibirnya dengan penuh kehausan, tanpa ampun, malam ini mereka bisa menuntaskan kerinduan mereka, yang telah tertahan sekian lama. Tanpa melepas kecupannya, Yunho mengangkat tubuh Jaejoong, lalu membaringkannya di ranjang dan menindihnya, senyumnya penuh gairah dan matanya penuh cinta.
"Aku mencintaimu, Jung Jaejoong, dan kuharap aku bisa menjadi lelaki yang bisa kau andalkan," tatapan lembut Yunho membuat mata Jaejoong berkaca-kaca. Mereka telah melalui segalanya, kebencian yang meluap, kemarahan, kesalahpahaman, dan kemudian kekecewaan, Tetapi pada akhirnya mereka dipersatukan oleh cinta, yang luar biasa dalam dan tumbuh begitu saja tanpa di sadari.
Jaejoong menatap Yunho dengan lembut dan kemudian memejamkan mata ketika bibir Yunho menunduk ke arahnya, hendak mengecupnya dengan kecupan lembut, "Dan aku juga mencintaimu, Jung yunho, suamiku, angel appa." suara Jaejoong berubah menjadi desahan ketika bibir Yunho melumat bibirnya dalam gairah cinta yang menggelora.
.
.
.
.
.
.
END
Ada yang bingung kenapa ceritanya gak nyambung?
Pertama saki mau minta maaf... karena ada yang Saki harus prioritasin, Saki terpaksa harus stop FF ini sampai disini. tapi Saki gak lepas tangan gitu aja kok. bagi teman2 yang penasaran dengan cerita ini, kalian bisa main di (ingat A-nya doble)
Kedua, Saki terimakasih buat semua yang udah ngikutin FF ini mulai dari chapter 1.. terutama buat yang udah ninggalin review buat Saki. itu benar2 berarti buat Saki...
Hug n Kiss buat kalian semua... Anyooongggg
