Project : Till the End of Time
Chapter 2 : Snowstorm and Cuddles!
"Ah, salju hari ini deras sekali ya." sahut Nuala dari jendela kamar tidurnya. Sebenarnya, dia sangat ingin keluar sebentar saja. Rasa ingin tahunya kadang-kadang muncul, mendorongnya untuk membuka pintu rumah sederhana mereka dan berjalan ke dunia luar, bernyanyi atau sekedar mengamati alam di sekitarnya. Mukanya berubah menjadi agak kecut, yang segera disembunyikannya saat suaminya melangkah masuk, hanya beberapa langkah dari pintu kamar itu.
"Kau disini rupanya. Aku pikir, kamu sudah menjadi gila dan berlarian di luar sana." kata pria itu.
Wanita bersurai perak berujung emas itu hanya terkikik kecil. "Ayolah, Abe. Aku memang agak gila tapi aku tahu batasannya. Bahkan dengan baju yang paling tebal disini, aku tidak akan bertahan 10 menit saja diluar." Wanita itu beranjak dari jendela yang terus dilihatnya beberapa saat yang lalu.
Sambil berjalan ke arah suaminya, elf itu berkata dengan riang, "Jadi, apa yang akan kita lakukan? Membaca buku? Memasak sesuatu? Atau..." Dia berhenti tepat saat dirinya dan suaminya berhadap-hadapan. Jari-jari lentiknya meliuk-liuk, menggenggam tangan berselaput milik pria setengah ikan itu. Untungnya, mereka berdua bisa membaca pikiran satu sama lain, jadi, mereka seperti memiliki sebuah dunia lain. Dunia kecil, yang terdiri dari pikiran mereka yang saling berhubungan.
"...Apakah kita akan menonton televisi, berpelukan, dan saling menghangatkan satu sama lain?" lanjut wanita itu. Seringainya tidak bisa tertahan lagi, ujung bibrnya seakan-akan menyentuh ujung telinga panjangnya.
"Kok tahu?" tanya pria berkulit biru itu.
"Ya iyalah, kita kan bisa membaca pikiran satu sama lain." balas Nuala dengan agak ngambek. Kadang-kadang, suaminya sering berkelakar seperti itu. Dan dia akan mencoba untuk membalas kejahilannya, tapi seringkali itu tidak berhasil.
"Ah, kapan kita akan melakukan itu? Sekarang?" tanya pria itu, kali ini dengan suara. Tangan Nuala berpindah dari tangannya ke perutnya, memeluk orang itu dengan penuh kasih sayang. "Tentu saja sekarang. Aku akan membawa selimut-selimut ini ke sofa. Buatkanlah aku secangkir coklat panas, ya?" pintanya, mata emasnya berbentuk sedemikian rupa sehingga dia terlihat seperti seekor anjing kecil.
"Baiklah. Jangan membuatku menunggu. Oke?" balas pria itu saat dia berjalan menyusuri lorong menuju ruang tengah mereka. Wanita berkulit putih itu tersenyum lebar dan mengangguk, dan segera mengumpulkan semua selimut yang ada di dalam sana.
.
Setelah repot-repot membawa selimut-selimut itu, Nuala berjalan menuju ruang tengah dari rumah kecil mereka. Disana, suaminya sudah menunggu, dua cangkir coklat panas berada diatas sebuah meja kaca kecil. Suaminya sendiri sedang duduk di sofa, memegang remote control, mencari sesuatu yang (paling tidak) lama dan bisa ditonton berdua. Tampaknya, dia tidak mengetahui keberadaan Nuala. Keisengannya pun muncul. Dia menumpahkan selimut itu tepat diatas kepala pria botak itu (tentu saja, berhati-hati agar tidak melukai insang rapuhnya).
"Hey, hey! Aku tahu kau bercanda, tapi aku sesak nafas disini!" kata Abe (yang diredam oleh selimut-selimut tebal itu sehingga hampir tidak terdengar diantara suara televisi dan cekikikan Nuala)
.
"Malam ini, akan ada badai salju hebat yang berlangsung sampai besok. Warga diharapkan untuk tidak keluar rumah..." televisi itu berbunyi. Pasangan suami-istri yang menontonnya hanya tersenyum dan saling berpelukan, dengan berlapis-lapis selimut hangat yang mengubur tubuh mereka.
End
Author Note
Hai, akhirnya ada waktu juga untuk update fanfic ini ;_;
Ini jadi update mingguan, tapi gak nentu kapan bakal keluar. Ah sudahlah.
See You Next Chapter~
