1st chapter: Date?
Disclaimer: I own nothing, but the story.
WARNING: YAOI, many typo(s), and any imperfection.
Summary: "Kau mengajaknya kencan dan kau bahkan tidak tau namanya?" / "Kau berkeringat." Tangan Chanyeol mengusap pelipis Baekhyun kemudian turun menuju leher Baekhyun membuat perutnya serasa diputar dan menimbulkan rasa menggelitik. /
Kris mengetuk-ngetukan jari panjangnya dengan tidak sabar diatas kemudi mobilnya, menunggu Chanyeol yang katanya ada sesuatu yang tertinggal sehingga harus kembali lagi ke apartemennya. Ia menatap sepupunya itu dengan tatapan tajam saat Chanyeol dengan menenteng plastik putih yang Kris yakini adalah segelas kopi membuka pintu mobil dan mendudukan tubuh jenjangnya di kursi penumpang dengan santainya.
Chanyeol meneguk minumannya dan memberikan plastik yang dibawanya kepada Kris tanpa menoleh. Karena sepupunya itu tak kunjung mengambil plastik yang ia sodorkan, Chanyeol akhirnya menoleh dan menaikan sebelah alisnya bingung saat Kris hanya menatapnya tajam "Apa?"
Kris mendengus, "kau yang menyuruhku untuk cepat tapi kau juga malah membuang-buang waktumu dengan meninggalkan barang yang seharusnya kau bawa di tempat tinggalmu dan kemudian mampir di cafetaria yang aku yakini kau pasti mengobrol dulu dengan barista hitam itu."
Chanyeol mendengus mendengar perkataan Kris dan menjawabnya dengan malas, "kau tak usah cemburu, aku dan Jongin tak ada hubungan apa-apa."
Kris membuat gestur seaakan sedang muntah saat mendengar perkataan konyol Chanyeol.
"Lagipula, kau juga membuang waktuku dan malah berduaan dengan tetangga baruku"
"Aku hanya membantunya membawa barang belanjaannya yang terjatuh."
"Terserah."
Kris mendecakan lidahnya dan mulai meginjak gas mobilnya, melaju meninggalkan kawasan apartemen mewah itu menuju tempatnya bekerja.
"Ngomong-ngomong," Chanyeol membuka suaranya pertama setelah terjadi keheningan beberapa saat. "aku akan kencan dengannya besok."
"Siapa?" tanya Kris bingung. Seingatnya, Chanyeol tidak sedang dekat dengan siapapun saat ini. Malah, Kris sangsi bahwa Chanyeol bahkan pernah tertarik dengan seseorang. Mengingat dia yang sekarang adalah seorang yang sangat sibuk mengurus kuliah dan perusahaan orang tuanya, jelas-jelas tidak akan memikirkan masalah rumit yang biasa orang sebut dengan cinta. Terakhir kali Chanyeol berkencan adalah saat dia berada ditingkat dua sekolah akhirnya, yang berarti itu sekitar 6 tahun yang lalu. Itupun tidak bisa disebut dengan kencan sungguhan, karena Chanyeol yang pada saat itu menyukai guru privatnya mencoba peruntungannya mengajak gurunya itu berkencan dan mengatakan tentang perasaannya yang sebenarnya dan akhirnya malah harus pulang kerumah dengan wajah yang memerah menahan tangis karena gurunya itu sudah memiliki kekasih dan malah akan segera bertunangan bulan depan. Dan Kris bersumpah bahwa dia mendengar Chanyeol menangis dikamar mandi —membuatnya ingin tertawa sekaligus merasa prihatin. Dan setelah itu, tak pernah ia lihat lagi Chanyeol dekat dengan seseorang.
"Pria mungil yang tadi." Jawab Chanyeol pendek.
Kris menautkan alis tebalnya, bingung. "Baekhyun maksudmu?"
"Oh jadi namanya Baekhyun?" Chanyeol mengangguk-anggukan kepalanya, menyimpan nama seseorang yang baru dikenalnya tadi pagi didalam ingatannya.
"Astaga... kau benar-benar mengajaknya kencan Yeol-ah?" Kris kaget bukan main mendengar pernyataan Chanyeol barusan. Chanyeol hanya menggumam dan menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Kris sambil melihat keluar jendela. Memperhatikan toko-toko yang berjajar di daerah Gangnam tersebut.
"Kau mengajaknya kencan dan kau bahkan tidak tau namanya?" Kris benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan aneh sepupunya itu. Matanya sesekali melirik ke arah Chanyeol disampingnya.
"Kau keberatan aku mengajaknya kencan?"
"Ya bukan begitu, tapi apa kau gila? Jangan mempermainkan orang lain Yeol. Aku tahu kau masih sangat sakit hati dengan Luhan yang memilih pacarnya dan menolakmu yang saat itu masih bocah. Kalau kau frustasi, jangan membawa-bawa orang lain sebagai pelampiasanmu." Ucapan Kris sukses membuat pria berambut hitam itu menatap sepupunya tajam karena Chanyeol sangat tidak suka orang lain —apalagi Kris yang sangat tahu bagaimana kronologis ceritanya bersama Luhan— mengingatkannya akan kejadian yang sudah lama berlalu itu.
"Aku tidak membawa-bawanya sebagai pelampiasanku dan perlu kau ingat aku tidak frustasi karena Luhan."
"Ya ya ya tidak frustasi sampai mengangis berjam-jam dikamar mandi."
Wajah Chanyeol memerah karena malu dan juga kesal. Sepupunya itu memang menyebalkan. Kris tertawa kecil melihat wajah Chanyeol yang terlihat kesal.
"Lagian, memangnya dia mau denganmu?" Kris bertanya dengan nada mengejek dan sukses mendapat hadiah pukulan dari Chanyeol dilengannya.
Tapi sedetik kemudian mata lebar Chanyeol menerawang dan tersenyum mengingat kejadian tadi pagi. Saat pertama kalinya ia dan Baekhyun bertemu. "Dia sendiri yang datang padaku dan mengatakan bahwa dia mencintaiku."
"Apa?"
.
.
Baekhyun sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu apartemennya. Matanya tertuju pada televisi layar flat 32 inch didepannya yang sedang menampilkan sebuah acara komedi. Mulutnya sibuk mengunyah keripik kentang yang tersisa setengah dari bungkusnya. Dia memang sangat menyukai keripik kentang, dan itu membuat teman-teman kampusnya terkadang mengejek tubuh mungil tipisnya dikarenakan makanan kesukannya itu. Terdengar suara tawa halus dari bibir tipisnya saat acara didepannya itu menampilkan sesuatu yang lucu.
Kegiatannya terganggu dengan suara berisik dari luar. Seperti suara sesuatu bergesekan. Suaranya samar-samar dan seperti teredam sesuatu sehingga membuatnya sedikit merinding.
Baekhyun berdiri dari duduknya dengan tak lupa membawa bungkusan keripik kentangnya, kemudian berjalan ke arah pintu depan. Ia membuka pintunya dan segera melongokan kepalanya keluar dengan pelan, melihat apa gerangan penyebab suara berisik yang sangat mengganggu konsentrasinya menonton dan membuatnya sedikit merinding —takut.
Baekhyun melongokan kepalanya ke kanan tapi tak didapatinya apapun dan itu membuatnya tambah merinding, kemudian ia mencoba melongokan kepalanya ke kiri dan bingo! Disana terlihat sebuah lemari besar yang sedang berjalan —didorong — maju kearahnya. Baekhyun membuka pintunya lebih lebar dan melangkah sedikit keluar sambil mengerutkan keningnya memperhatikan lemari besar itu, sampai seorang pria yang sedari tadi membungkung mendorong benda itu tertangkap matanya. Pria bertelinga lebar —tampan— itu.
Chanyeol menengokan kepalanya ke arah kanan, ketempat Baekhyun berdiri diambang pintu apartemennya. Sejenak mereka hanya saling tatap sampai Chanyeol menegakan tubuhnya dan berjalan ke arah Baekhyun, membuat pria mungil itu mundur satu langkah secara reflek.
Baekhyun hanya menatap lurus mata pria yang satu kepala lebih tinggi darinya itu yang juga tengah menatapnya balik. Dia ingin sekali memutuskan kontaknya tapi seakan mata Chanyeol mengandung perekat tak kasat mata sehingga membuatnya susah untuk mengalihkan tatapannya. Sampai ia tersadar dengan suara berisik yang ditimbulkan bungkusan keripik kentang ditangannya.
Baekhyun mengalihkan pandangannya ke asal suara itu, dan seketika matanya membulat saat dilihatnya tangan Chanyeol sedang mengambil keripik kentangnya dan memakannya tepat dihadapan Baekhyun kemudian mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum miring, membuat Baekhyun semakin melongo melihatnya.
"Jangan lupa besok." Setelah mengatakannya, Chanyeol berlalu dari hadapan Baekhyun dan kembali mendorong lemari besar itu dengan sesekali mengerang, karena sungguh lemari itu sangat berat bukan main.
Baekhyun merasa tetangganya itu memang sudah gila.
Dan yang lebih gila lagi, mengapa Baekhyun merasa kalo erangan Chanyeol itu sangat seksi.
Sial.
.
.
Keesokan harinya, 6.40 p.m KST.
Baekhyun duduk dengan gelisah dikasurnya. Tubuhnya terlihat lebih berisi karena memakai sweater tebal yang berlapis-lapis. Selimut tebalnya menggulung tubuh mungilnya sehingga terlihat seperti sedang dimakan oleh selimutnya itu dan menyebabkan keringat bercucuran dipelipisnya. Itu memang membuatnya merasa sangat gerah, tapi ini demi rencananya. Matanya melirik jam dinding berbentuk bola sepak yang menempel didinding didepannya, menghitung setiap detiknya dan itu malah membuatnya tambah gelisah. Sial, mengapa dia bisa segugup ini sih. Padahal sebelumnya ia yakin bahwa rencananya akan sukses. Tapi mengapa sekarang apa yang sudah dipikirkannya malah jadi berantakan. Semua rencananya semacam berlarian entah kemana seiring jarum jam yang lebih panjang mendekati angka 12.
Baekhyun menempelkan botol kaca berisi air panas yang sedari tadi ia pegang ke lehernya, kemudian berjengit saat hawa panas menyapu kulitnya. Semakin lama botol itu ditempelkan, semakin tinggi suhu tubuh Baekhyun.
Seperti tersadar dengan sesuatu, Baekhyun menurunkan botol itu kemudian menatap kosong televisi didepannya.
"Mengapa aku harus serepot ini?" gumamnya. "Bukankah aku hanya perlu mengatakan padanya bahwa aku sedang sakit dan tak bisa keluar di cuaca yang sangat dingin ini?" ia mengacak rambutnya kesal. Tapi, sedetik kemudian kegiatannya terhenti dan kembali bergumam, "aku kan hanya mengantisipasi jika ia memeriksa suhu tubuhku. Iya, benar. Benar seperti itu."
Baekhyun tersenyum ketika merasa jawaban atas pertanyannya sendiri terasa memuaskan. Tapi tak lama senyum itu hilang dan ia kembali mengacak rambutnya frustasi.
"Arrgh mengapa itu seakan aku mengharapkan dia untuk mengecek suhu tubuhku? Ini gila!"
Baekhyun kembali menempelkan botol kaca yang sempat ia turunkan dari lehernya, dan mulai menempelkan benda itu ke pelipisnya.
'Ya Tuhan, maafkan aku karena berniat membohongi pria itu. Tapi aku tak bisa jika harus berbicara langsung padanya kalau aku tidak mau'
Baekhyun mendecakan lidahnya dan terus saja sibuk dengan pikirannya sampai ia tak sadar jika jarum panjang di jam dindingnya sudah melewati angka 12 dan terdengar bunyi bel dari arah pintu.
Saking kagetnya Baekhyun sampai hampir terjatuh dari kasurnya karena terlonjak terlalu keras. Jantungnya semakin berdegup dengan tidak normalnya. Otaknya blank seketika saat ia melirik jam dindingnya.
Sampai bel kedua berbunyi, akhirnya Baekhyun mengangkat tubuhnya, tak lupa membawa selimutnya dan semakin merapatkan benda tebal itu ke tubuhnya. Ia berjalan ke depan pintu dengan langkah berat —berat karena enggan bertemu dengan orang itu, dan berat karena selimut tebalnya.
Ia berhenti sejenak didepan pintunya dan mengintip di lubang kecil yang terdapat di pintu itu hanya untuk menemukan pria tinggi berambut hitam —tampan— sedang berdiri menunduk dan menyenandungkan sebuah lagu , terlihat dari pergerakan mulutnya.
Baekhyun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, mencoba merileksan hati dan jantungnya yang —sialnya tak berhenti berdetak dengan sangat kencang dari tadi, sebelum ia membuka pintunya secara perlahan.
Chanyeol mendongak kemudian tersenyum menatap Baekhyun didepannya yang sedang menunduk. Tapi, senyumnya hilang seketika saat dilihatnya apa yang sedang dikenakan Baekhyun saat ini.
"Untuk apa kau membawa selimutmu?"
Baekhyun sempat terlonjak saat mendengar suara berat Chanyeol.
"A-aku...tak enak b-badan."
Chanyeol mengangkat tangan kanannya dan menyentuh kening Baekhyun, membuat pria mungil itu semakin mengeratkan genggamannya pada selimutnya.
'Maafkan aku karena telah berbohong, tetangga baru.'
"Kau berkeringat." Tangan Chanyeol mengusap pelipis Baekhyun yang memang sangat berkeringat. Baekhyun merasakan tubuhnya merinding atas perlakuan pria tinggi didepannya itu.
Tangan Chanyeol berpindah menuju leher Baekhyun, mencoba memastikan suhu tubuh pria didepannya itu. Tapi perbuatannya malah membuat Baekhyun semakin merasakan sensasi aneh yang ditimbukan tangan besar Chanyeol yang menyentuh lehernya, membuat perutnya serasa diputar dan menimbulkan rasa menggelitik. Dan Baekhyun sudah sangat tidak bisa berkonsentrasi saat Chanyeol membalik tubuhnya dan mendorongnya pelan, membawanya masuk ke dalam apartemennya.
.
.
Chanyeol mendudukan Baekhyun di sofa ruang tamunya kemudian berlutut didepan Baekhyun yang masih terlihat belum pulih kembali ke alam sadarnya. Chanyeol menatap Baekhyun bingung dan menggerak-gerakan tangannya di depan mata pria mungil itu.
"Baek?"
Baekhyun tersadar dari ke-blank-an otaknya dan menatapa Chanyeol yang sedang berlutut didepannya dengan tatapan bingung.
"Se-sedang apa kau?"
Bukannya menjawab Baekhyun, Chanyeol malah mengangkat topik baru dengan pertanyaannya.
"Kau sudah makan? Obatnya sudah kau minum?" entah apa yang dimakan Chanyeol tadi siang sampai dia bisa berbicara dengan nada khawatir seperti itu. Sungguh, dia adalah pria yang sangat dingin dan bisa dibilang malas untuk memikirkan orang lain, apalagi untuk seseorang yang baru ditemuinya kemarin.
Baekhyun membuka mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi kembali terkatup saat dirasanya ia tak bisa mengeluarkan suara sama sekali. Mengapa pria in masih berada didepannya? Dan yang lebih parahnya lagi adalah dia baru saja menyadari bahwa kini mereka sedang didalam apartemennya. Dia. Pria —tampan— asing. Berdua. Di apartemennya.
"Apa yang kau lakukan disini?" akhirnya Baekhyun bisa mengeluarkan suaranya, dan sungguh ia kaget mengapa nada suaranya bisa sedingin itu. Walaupun memang sudah jelas pria dihadapannya ini sudah gila, tapi Baekhyun tak pernah berbicara dingin kepada orang lain. Dia adalah tipe orang yang sangat ramah kepada siapapun. Bahkan kepada orang yang sudah jelas-jelas mengganggu hidupnya.
"A-aku..." Chanyeol sendiri pun bingung mengapa ia bisa berbuat sejauh ini sampai berani masuk ke tempat tinggal orang lain dan bertingkah seakan sangat wajar jika dia terlalu peduli pada tetangga barunya itu.
"Lebih baik kau pulang saja."
Baekhyun bersumpah dapat melihat raut kecewa dari wajah pria didepannya itu saat dia mengucapkan kalimatnya barusan secara dingin. Rasa bersalah mulai menghinggapi dirinya dan cepat-cepat dia mengkoreksi perkatannya.
"Ma-maksudku... bukan seperti itu. Um.. mungkin lain kali kita bisa pergi ber..."
Baekhyun menggantungkan kalimatnya saat menyadari apa yang baru saja ia katakan dan ia merutuki dirinya sendiri saat melihat senyum dari pria didepannya itu.
Lain kali? Dengan kata lain kau berniat untuk membohonginya lagi, Baek! Tapi...mengapa tak diterima saja ya? Ah tidak..tidak!
Chanyeol kemudian berdiri dari posisi berlututnya, membuat Baekhyun harus mendongak menatap Chanyeol dan kaget setengah mati saat tangan besar itu kembali singgah dikepalanya dan mengusap rambutnya.
"Baiklah. Cepat sembuh."
Setelah mengatakan itu Chanyeol berlalu dari hadapan Baekhyun dan keluar dari apartemen pria mungil itu dengan tak lupa menutup pintunya.
Baekhyun menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa dan menghela nafas keras sembari tangannya sibuk melepas selimut tebalnya dan sweater-sweaternya.
"Hah...maafkan aku tetangga...tampan."
Eh?
.
.
Chanyeol bersiul sambil tangan kanannya melempar-tangkap kunci mobilnya. Melirik jam yang melingkar ditangan kirinya yang menunjukan pukul 7 lebih 30 menit. Dia tersenyum saat melewati dan melirik pintu apartemen tetangga barunya yang semalam sempat ia singgahi dan bergumam "Have a nice day." Kemudian terkekeh saat merasa dirinya sangat konyol.
Sudah menjadi kebiasaannya saat sebelum pergi ke tempatnya menimba ilmu atau ketempatnya bekerja, dia pasti akan mampir ke cafetaria di lantai dasar hanya untuk membeli segelas kopi untuk menemaninya disaat perjalanan. Semenjak ayahnya menunjuknya untuk membantu mengelola perusahannya, dia memang jadi sering mengkonsumsi minuman hitam itu walaupun ia tahu itu sangat tidak sehat, tapi ya mau bagimana lagi, terlanjur kecanduan, pikirnya.
"Kim Jongin, seperti biasa ya." Ucapnya pada barista berkulit gelap yang sedang membuat kopi pesanan yang lain. Dia hanya mengangguk dan tersenyum pada pria yang sudah menjadi langganannya itu.
"Silakan, untuk nona yang cantik." Ucap Jongin kepada seorang pria mungil yang berdiri disebelah Chanyeol. Chanyeol meringis melihat tingkah Jongin yang sedang menggoda pria disebelahnya.
"Aku pria, Jongin!" ucap pria yang tadi digoda Jongin dan barista itu hanya tersenyum geli saat melihat rona merah yang menjalar diwajah pria itu.
Chanyeol hendak mengatakan sesuatu kepada Jongin saat didengarnya suara yang familiar dari belakangnya. Reflek dia berbalik dan mendapati pria mungil yang menjadi tetangga barunya semenjak dua hari yang lalu.
"Kyungsoo, kau sudah selesai?"
Baekhyun berjalan mendekati Kyungsoo dan betapa kagetnya saat ia melihat Chanyeol sedang berdiri disamping teman kuliahnya itu. Baekhyun memaksakan senyumnya dan merapatkan dirinya semakin dekat dengan Kyungsoo saat bertatapan dengan Chanyeol yang dibalas dengan senyuman yang Baekhyun yakini jauh lebih manis dari senyumnya yang kemarin.
Kyungsoo yang melihat tingkah aneh temannya hanya mengerutkan keningnya bingung.
"Dia siapa, Baek?"
"Ah iya..dia tetanggaku, namanya..." Baekhyun menggantungkan ucapannya saat ia menyadari bahwa bahkan diapun belum tahu siapa nama pria tinggi yang kemarin dengan seenaknya mengajak dirinya kencan.
Baekhyun menatap Chanyeol memberi isyarat untuk mengenalkan dirinya sendiri kepada Kyungsoo, karena dia belum mengetahui namanya sama sekali. Sebuah keuntungan karena Chanyeol yang memang bisa dibilang sangat jenius mengerti sinyal dari Baekhyun dan segera menyambung perkataan pria mungil itu.
"Chanyeol."
"Ah ya, Chanyeol." Baekhyun tertawa canggung diakhir kalimatnya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kyungsoo sempat menautkan alisnya sambil menatap pria didepannya itu, meneliti setiap lekuk wajah Chanyeol. Tapi tak lama Kyungsoo yang memang mempunyai sifat ceria, tersenyum lebar yang membuat seorang barista dibalik mejanya terpana.
"Oh hai, aku Kyungsoo. Teman kuliah Baekhyun."
Entah mngapa perkataan Kyungsoo membuatnya sedikit tertarik.
"Oh jadi kalian kuliah? Dimana?"
Kyungsoo mengangguk dan menjawabnya sambil tetap tersenyum, "Di Seoul University."
Chanyeol membulatkan matanya kaget mendengar jawaban Kyungsoo, "Benarkah?" dan Kyungsoo hanya menganggukan kepalanya.
Sedangkan Baekhyun sudah tidak tahan jika harus lebih lama berhadapan dengan pria yang baru saja dia ketahui namanya. Entahlah, tapi jantung Baekhyun sungguh tidak bisa berdetak dengan normal sedari tadi, membuatnya gelisah dengan perasaannya sendiri.
Baekhyun melirik jam tangannya dan seaakan mendapatkan ide, dia langsung mengamit lengan Kyungsoo dan menariknya.
"Kyung, kita hampir terlambat. Ayo kita pergi. Permisi Chanyeol-ssi."
Kyungsoo hanya pasrah ditarik oleh Baekhyun dan sempat melayangkan senyumnya kepada Jongin dan Chanyeol sebelum ia keluar dari kawasan cafetaria.
Chanyeol menatap dua punggung mungil yang berlalu menjauh itu dan tersenyum tipis.
"Seoul University."
.
.
"Kau kenpa sih? Dari tadi melamun terus."
Baekhyun dan Kyungsoo baru saja mendudukan diri mereka dikursi panjang yang terdapat di kantin kampus. Menurut penglihatan Baekhyun, daritadi Kyungsoo hanya melamun. Bahkan saat dikelas pun ia tidak terlalu konsentrasi sampai lupa mencatat materi penting hari ini, padahal biasanya ia yang paling rajin untuk mencatat.
"Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."
"Selalu saja. Kali ini apa yang membuatmu penasaran?" Tanya Baekhyun sambil meminum jus strawberry-nya yang sempat ia beli saat memasuki kantin. Dia sangat tahu tabiat teman dekatnya itu. Ketika Kyungsoo penasaran dengan sesuatu, dia memang selalu seperti itu. Tak bisa berkonsentrasi dengan hal lain selain sesuatu yang membuatnya sangat penasaran.
"Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya?" gumam Kyungsoo yang malah mengabaikan pertanyaan Baekhyun.
"Mengenal siapa?"
Kyungsoo menatap langit-langit kantin tanpa menghiraukan Baekhyun dihadapannya yang sedang kebingungan. Matanya kemudian beralih mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin, berharap mendapatkan jawaban atas apa yang membuatnya penasaran. Dan seketika matanya yang bulat semakin membulat saat tatapannya jatuh pada seorang pria tinggi berambut hitam yang sedang menunduk memainkan ponselnya dan berdiri di pintu masuk kantin.
"Aku ingat!"
"Ingat apa? Kau bicara apa sih?" Baekhyun semakin tidak mengerti dengan kelakuan Kyungsoo yang semakin menyebalkan karena menghiraukan dirinya yang jelas-jelas penasaran dengan apa yang dipikirkan temannya itu.
"Sekarang aku ingat dia siapa!" mata Kyungsoo berbinar menatap Baekhyun sembari tangannya menunjuk seseorang yang menjadi objek kepenasarannya.
Baekhyun mengalihkan tatapannya ke arah yang ditunjuk Kyungsoo, dan seketika matanya membulat dan ia tersedak jus yang sedang diminumnya.
Chanyeol? Sedang apa dia disini?
.
.
.
—TBC—
.
Apakah bahasa saya dicerita ini aneh? orz saya adalah author lama yang sempat vakum selama hampir setahun dan sekarang saya kembali dengan pen name baru dan semuanya serba baru dan saya merasa gaya bahasa saya dalam menulis jadi berubah. Terlalu banyak menjelajahi fiksi milik orang lain jadinya malah lupa jati diri(?)
Oh ya.. saya ada rencana kalau fic ini akan ada beberapa chapter yang bakal di post di blog pribadi dan akan diprotect. Tapi ini masih rencana aja ya. Tidak, saya tidak benci silent reader, saya hanya ingin kalian mencoba 'disiplin' setelah membaca fic orang lain. Bukan hanya milik saya, tapi milik author lain juga disini. Biasakan untuk meninggalkan jejak kalian. Selain itu saya juga ingin bisa mengenal kalian, jadi untuk meminta password-nya, kalian hanya cukup memperkenalkan diri dan saya akan mengenal kalian dengan syarat dan ketentuan berlaku(?)
Tapi ini hanya rencana saja, pasti diantara kalian ada yang tidak setuju —atau mungkin banyak?—, nah jadi silakan beritahu di kotak review apakah kalian setuju atau tidak. Saya akan menghargai kalian, jika banyak yang tidak setuju, saya tidak akan melakukannya, sungguh.
Terimakasih kepada semua yang sudah dengan sukarela mereview fic jelek ini, baik di prolog yang sebelumnya, atau yang saya upload ulang. Dan untuk semua yang memfavoritkan maupun yang memfollow. Gamsahabnida~^^
So, give me your review~!
