2nd Chapter: News.
Disclaimer: I own nothing, but the story. That cover image isn't mine. I found it on Google.
WARNING: YAOI, typo(s), and many imperfections.
Summary: Hari ini Chanyeol akan mengajak Baekhyun berjalan-jalan keluar —setelah kencan sebelumnya gagal— berharap sekarang pria mungil itu bisa menghabiskan sabtu malam bersamanya. Setelah beberapa hari tak melihatnya, Chanyeol sungguh sudah sangat merindukan wajah imutnya. / "Chanyeol...Dia Sehun, Oh Sehun..." Dan Chanyeol berharap bumi menelannya saat ini juga.
Big Thanks to:
exindira—ShinJiWoo920202—nur991fah—Chanyumi—Meriska-lim—Special bubble—Deestoria—alfi lee—Arumighty—Majey Jannah 97—ssonghye—parklili—EXO88—KimChanBaek—byunbaekkk—ChanBaek Shipper—chanchan10—Linkz—aprilbambi—Gigi onta—Happy Delight—Guest—LuXiaoLu—dobiodult—Hyesun lee—N-Yera48—inggit—realkkeh—jinyeoley—ChanBaekLuv—all followers
(ada yang terlewat, kah?)
.
.
Chanyeol menempelkan ponsel ditelinga lebarnya yang —jika ia boleh jujur— sangat ia banggakan. Walaupun Kris sering mengejeknya karena telinga Chanyeol yang mencuat keluar melebihi semestinya. Ketika orang yang sedang dihubunginya itu tak juga mengangkat panggilan telfonnya, akhirnya pria itu memutuskan untuk meninggalkan pesan suaranya setelah terdengar suara Kris dari mesin penjawab otomatis.
"Hyung, aku ada urusan di kampus. Jadi, jangan mencariku. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku nanti malam. Bye."
Chanyeol menekan tombol merah di ponselnya dan memeriksa beberapa e-mail yang masuk hari ini sebelum kembali memasukan benda itu kedalam saku celananya.
Kaki jenjangnya melangkah memasuki area kantin Seoul University, berniat untuk membeli sebotol isotonik karena merasa lelah setelah berjuang menuju kampus dengan menaiki bus, karena —sialnya— mobil Chanyeol sedang berada di bengkel sejak minggu lalu.
Langkahnya terhenti saat maniknya mendapati dua pria mungil yang juga ia temui tadi pagi di cafetaria apartemennya sedang menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Pria pertama menatapnya dengan mata berbinar, sedangkan yang kedua —yang berhasil membuat Chanyeol jadi salah tingkah hanya karena ditatap oleh mata sipitnya— menatapnya dengan pandangan heran. Chanyeol tersenyum sangat tipis dan memutuskan untuk menghampiri kedua pria itu.
"Hai, kita bertemu lagi." Chanyeol mendudukan dirinya disebelah Kyungsoo, setelah sebelumnya membeli sebotol minuman dan kemudian menegak cairan isotonik itu seperempatnya. Di dalam hati ia menyeringai melihat ekspresi Baekhyun —yang duduk tepat dihadapannya— yang menatapnya dengan mata yang dipaksakan membulat. Membuat Chanyeol gemas ingin mencubit pipi putih gembulnya itu.
"Chan-Chanyeol.. Mengapa kau... Mengapa ada disini?" Saking bingung dan terkejutnya, Baekhyun tak dapat mengontrol dirinya sendiri, sehingga suara yang dikeluarkannya terbata-bata.
"Aku? Aku sekolah disini juga." Jawabnya enteng. Membuat Baekhyun semakin membulatkan mata kecilnya. Chanyeol khawatir jika Baekhyun terus memaksakan untuk memperbesar matanya lagi, bola mata itu akan menggelinding keluar. Itu mengerikan.
"Benar kan! Pantas aku seperti pernah melihatmu saat tadi bertemu di cafetaria."
Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah Kyungsoo yang juga membulatkan matanya. Bedanya, manik mata bulat Kyungsoo tidak menyiratkan kebingungan plus kekagetan luar biasa seperti yang diperlihatkan mata Baekhyun.
"Ah iya!" Ekspresi wajah Chanyeol berubah sedikit berbinar setelah sebelumnya juga memperhatikan wajah Kyungsoo yang berada didalam radius lebih dekat. "Kau senior yang pernah tertukar buku catatan denganku saat di perpustakaan, iya kan?"
Kyungsoo menjawab pertanyaan Chanyeol dengan mengangguk semangat. Senyum Chanyeol sedikit —hanya sedikit— melebar saat ia berhasil mengingat kejadian yang sudah lama terjadi itu. Pria itu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jadi kalian teman dekat?" Tanya Chanyeol.
"Ya, begitulah. Kita berteman sejak high school, kemudian masuk universitas yang sama, ditingkat yang sama dengan jurusan yang sama dan semua kelas yang kita ambil pun sama." Kyungsoo tertawa di akhir kalimatnya.
Chanyeol tersenyum diam-diam. Ia bisa mencoba mengakrabkan diri dengan pria disampingnya, dan dengan begitu ia juga bisa dengan mudah melakukan proses 'penjajakan' dengan pria mungil didepannya itu. Dekati dulu kerabat dekatnya, begitu yang pernah ia dengar.
Ia kembali menegak minumannya sembari menatap Baekhyun yang juga tengah menatapnya dengan ragu-ragu sekaligus salah tingkah karena Chanyeol terus memperhatikannya, sampai ia tersadar akan kenyataan pahit yang berhasil membuatnya tersedak.
Mata bulatnya menatap horor Baekhyun didepannya, membuat pria bermarga Byun itu sangat yakin bahwa tetangga barunya itu benar-benar ada kerusakan diotaknya. Tampan tapi gila, sayang sekali.
Kyungsoo yang juga kaget dengan kelakuan Chanyeol hanya menatapnya heran. Ternyata pria tampan disampingnya itu kelakuannya cukup aneh.
"A-aku... Ma-maaf.." Dengan itu Chanyeol bangkit dari duduknya dan segera berlalu meninggalkan Baekhyun dan Kyungsoo dengan tatapan heran.
"Dia kenapa?" tanya Kyungsoo heran sambil tetap menatap punggung lebar Chanyeol melangkah keluar area kantin. Pria tinggi itu sempat tersandung oleh kaki meja saking terburu-burunya ia berjalan, membuat kedua pria mungil yang menatapnya itu tertawa melihat kelakuan bodohnya. Oh, imagemu Park Chanyeol.
.
.
Baekhyun menyesap Vanilla Latte yang tersisa setengah dari gelasnya. Saat ini, dia dan Kyungsoo sedang berada di cafetaria kawasan apartemennya. Sedari tadi Baekhyun hanya menautkan kedua alisnya menatap teman dekatnya yang sedang fokus —atau berpura-pura fokus, Baekhyun tidak tahu— membaca komik Conan edisi terbaru. Merasa diperhatikan, Kyungsoo mengalihkan pandangannya ke arah Baekhyun. "Apa?"
"Mengapa kau jadi sering datang ke apartemenku? Apalagi sepertinya kau terlihat terlalu bergairah mengajakku datang ke cafetaria."
Kyungsoo menyipitkan matanya menatap Baekhyun, "apa maksudmu dengan bergairah?"
"Terlalu bersemangat yang akhirnya terkesan bergairah."
Kyungsoo hanya memutar bola matanya malas dan kembali menekuni bukunya, memutuskan untuk tidak mempedulikan perkataan konyol Baekhyun.
"Kau mengenalnya?" Baekhyun kembali bersuara. Matanya menatap lekat sosok seorang barista di balik meja kerjanya yang sedang membuat capuccino, sepertinya.
Kyungsoo mengikuti arah pandang Baekhyun dan tersenyum tipis saat mendapati objek pandangan temannya itu. Baekhyun sempat melihat senyum itu, membuat keningnya berkerut.
"Dia Jongin, tetanggaku di Gyeonggi sekaligus temanku semasa sekolah dasar."
"Oh..." Baekhyun mengangguk-anggukan kepalanya. "Jadi, cinta lama bersemi kembali, begitu?"
"A-Apa?"
Baekhyun tertawa melihat Kyungsoo yang salah tingkah. Dia tahu, pasti memang ada apa-apa antara temannya dan barista berkulit tan itu.
Kyungsoo hanya menendang tulang kering Baekhyun dari bawah meja, membuat pria didepannya itu meringis sakit dan membulatkan matanya ke arah Kyungsoo.
Dia sedang mengusap kakinya yang terasa linu karena ditendang Kyungsoo, saat matanya mendapati seseorang berperawakan tinggi dengan rambut pirang memasuki area cafetaria.
Kris melihat Baekhyun yang sedang duduk dengan seseorang dan kemudian tersenyum, memutuskan untuk menghampiri pria mungil itu.
"Hei."
"Hai.." entah kenapa Baekhyun selalu gugup jika bertemu dengan Kris. Kau tau kan? Rasanya bertemu dengan orang keren pasti tiba-tiba gugup tanpa alasan.
Kris sempat melirik Kyungsoo yang tengah menatapnya dan tersenyum, yang juga dibalas dengan senyuman yang tak kalah ramah dari pria bermata bulat itu.
"Kau mau beli kopi, Kris?" tanya Baekhyun.
Kris mengangguk, "Ya, untuk Chanyeol. Sudah dua hari dia tidak mau keluar dari tempat tinggalnya. Aku takut dia bunuh diri karena cintanya ditolak." Olehmu, lanjut Kris dalam hati. Mengejek sepupunya itu.
Mendengar nama Chanyeol disebut, Baekhyun jadi teringat dengan pria jangkung itu. Dia memang tidak melihatnya selama dua hari ini. Terakhir bertemu saat di kantin kampus, saat Chanyeol memutuskan untuk pergi dengan tiba-tiba.
Rasa khawatir tiba-tiba menyelimuti hatinya. Perkataan Kris tentang bunuh diri itu memang konyol, tapi entah kenapa Baekhyun terus memikirkannya. Bagaimana jika itu benar?
Setelah mengobrol kecil tentang beberapa hal, Kris pamit dan berjalan menuju meja tempat Jongin menyiapkan kopi dan memesan dua cup Ice Latte, untuknya dan Chanyeol. Kris memang jarang meminum kopi, tapi bukan berati tidak pernah. Dia membutuhkan minuman dan biji-bijian itu hanya ketika dirinya sedang stres. Dan sekarang, sepupunya berhasil membuat pria itu pusing setengah mati. Pasalnya, pekerjaan di kantornya menumpuk membuat Park abeoji —ayah Chanyeol, Kris memanggilnya abeoji— menegur anaknya lewat dirinya. Jadi, intinya Kris yang justru malah terkena omel gara-gara kesalahan yang tak ia perbuat.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Kris keluar dari area cafetaria setelah sebelumnya melempar senyum kearah Baekhyun dan temannya, kemudian melangkah memasuki lift.
.
.
Chanyeol menatap kosong dinding didepannya. Otaknya blank tanpa bisa ia kontrol. Rambutnya terlihat berantakan. Sangat jelas bahwa ia bahkan belum mandi dari hari kemarin. Tidak terlihat pergerakan sama sekali darinya, kecuali dadanya yang naik turun menandakan bahwa ia masih tetap bernafas. Bahkan saat pintu apartemennya diketuk, ia sama sekali tak bergeming.
Kris terlihat sedang berpikir didepan pintu apartemen Chanyeol, menerka apa password baru dari pintu itu. Ya, niat sekali Chanyeol sampai sempat-sempatnya mengganti password-nyasebelum ia memutuskan untuk mengurung diri. Sepertinya ia memang benar-benar sedang tak ingin diganggu. Tapi ini demi perusahaannya.
Chanyeol tak pernah seperti ini sebelumnya, bahkan ketika dia hampir sekarat pun karena tidak tidur selama tiga hari, dia akan tetap mengerjakan pekerjaannya. Maka dari itu, sekarang Kris pusing setengah mati kenapa Chanyeol bisa sampai seperti ini.
Kris menatap pintu disebelah tempat tinggal Chanyeol, kemudian jarinya dengan iseng mengetik sesuatu di atas tombol yang terletak disamping pintu coklat itu.
712712. Klik.
Berhasil. Pintunya berhasil terbuka, dan Kris semakin yakin bahwa ini semua ada hubungannya dengan pria mungil yang tinggal di balik pintu bernomor 712, Baekhyun.
Dengan perlahan kaki jenjangnya melangkah memasuki apartemen Chanyeol. Ketukan sol sepatunya terdengar sangat jelas diruangan yang sunyi itu, benar-benar seperti tak ada kehidupan. Rasa khawatir mulai menyelimuti pria berambut pirang itu.
"Chanyeol?"
Tidak ada sahutan sama sekali. Kris mulai berjalan ke arah kamar Chanyeol dan membuka pintunya. Seketika alis tebalnya bertaut saat dilihatnya sosok Chanyeol yang seperti 'tak bernyawa'. Dia mendekati sepupunya itu dan duduk diujung tempat tidur.
Kris melambaikan tangannya di depan wajah Chanyeol, namun pria itu tetap tidak berkedip. Ia mulai menyentuh lengan Chanyeol yang terasa hangat. Sepertinya demam.
"Hey, Chanyeol. Ada apa denganmu?"
Dengan gerakan perlahan, Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah Kris, membuat si pirang bergidik dengan tatapan Chanyeol yang kosong menatapnya.
"Hyung..."
Suara Chanyeol serak dan nadanya sedikit bergetar, sepertinya dia benar-benar sakit. Kris menunggu Chanyeol melanjutkan kalimatnya, tapi pria didepannya itu hanya terus menatapnya. Kris takut kalau Chanyeol dimasuki roh makhluk lain —pikiran yang konyol—, akhirnya dia menepuk pipi Chanyeol.
Tiba-tiba pandangan Chanyeol berubah menjadi sendu. Kris sedikit tersentak, takut-takut dia menepuk pipinya terlalu keras —karena dia menyadari bahwa tadi lebih bisa disebut dengan menampar, bukan menepuk.
"Hyung..." Chanyeol kembali bersuara, "dia...lebih tua...dariku."
Kris bingung dengan perkataan Chanyeol, dia menggeser duduknya lebih mendekat ke arah sepupunya.
"Dia? Dia siapa?"
Dengan suara lirih Chanyeol menjawab, "Baek..hyun..."
"Memangnya kenapa kalau dia lebih tu—"
Perkataan Kris terhenti saat ia tersadar akan sesuatu.
Chanyeol trauma dengan seseorang yang lebih tua, setelah cintanya ditolak Luhan.
Kris ingin tertawa tapi juga prihatin, mengapa sepupunya harus selalu menyukai seseorang yang lebih tua darinya. Sepertinya Baekhyun benar-benar menolak cinta Chanyeol.
"jadi..dia menolakmu?"
Chanyeol menggeleng lemah, "Tidak. Maksudku...belum."
Kris mendengus kemudian menepuk pundak Chanyeol, bertingkah seperti orang tua, seperti biasanya.
"Chanyeol, tidak semua orang yang lebih tua darimu itu buruk."
"Tapi dia pasti menganggapku anak kecil karena aku lebih muda darinya."
Chanyeol menjawab dengan menggebu-gebu. Dia benar-benar emosi —khawatir lebih tepatnya— mengapa sepupunya itu tidak bisa mengerti perasaannya.
"Tidak semua, Yeol. Buktinya aku tidak menganggapmu anak kecil."
"Itu karena kita sudah terbiasa tumbuh bersama!" Chanyeol sedikit membentak Kris, membuat pria itu sedikit kaget.
Kris kembali menepuk pundak Chanyeol, kali ini ditambah dengan mengusapnya berniat untuk menenangkan hati pria berambut hitam itu.
"Tidak ada bukti bahwa dia menganggapmu anak kecil kan? Lagipula mana bisa dia menganggap seorang raksasa sepertimu sebagai anak kecil, huh?"
Chanyeol mendelik mendengar perkataan Kris. "Kau tak mengerti, Hyung!"
"Apa yang tak ku mengerti?"
Chanyeol membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Lama mereka saling tatap, sampai Chanyeol membuka suaranya dengan perlahan, "kekhawatiranku.."
Kris mendecakkan lidahnya, kemudian tersenyum mengejek.
"Kau khawatir terhadap sesuatu yang belum jelas. Baekhyun belum mengatakan kalau dia tidak suka pria yang lebih muda darinya kan?"
"Memang...tapi kan—"
"Tapi apa? Kau bahkan belum tahu apakah dia mau denganmu atau...tidak."
Chanyeol mengusap wajahnya frustasi dan menyandarkan dirinya ke sandaran tempat tidurnya, kemudian mendesah berat.
Kris menyesap ice latte-nya dan memberikan satu cup lagi ke arah Chanyeol. Pria itu menatap bungkusan plastik yang disodorkan Kris kemudian meraihnya, tapi tak berniat meminumnya.
"Abeoji menegurku kemarin."
Tubuh Chanyeol menegang begitu mendengar perkataan Kris. Ayahnya memang orang yang sangat ia segani dan...takuti, tentunya. Ia yakin setelah ini ayahnya akan langsung memanggilnya ke kantor pusat dan menceramahinya karena 'membolos tanpa keterangan yang jelas'.
Ayahnya memang orang yang sangat disiplin, dan kedisiplinan itu diterapkan dengan baik kepada anak semata wayangnya dan juga keponakannya yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri.
Chanyeol memang tak pernah seperti ini sebelumnya, tapi ternyata benar kata orang, hati sangat bisa mempengaruhi kinerja otak menjadi tidak berfungsi seperti biasanya.
"katanya kau tidak frustasi ditolak Luhan, tapi buktinya? Bahkan bayang-bayangnya pun masih menghantuimu."
Kris tersenyum mengejek Chanyeol membuat pria itu mendelik
"Kau kalah bahkan sebelum berperang? Sangat bukan Chanyeol." Kris menggeleng-gelengkan kepalanya. "kau seperti bukan Chanyeol yang ku kenal selama ini. Mana Chanyeol yang ambisius? Mana Chanyeol yang selalu optimis dalam melakukan segala hal? Mana Chanyeol yang bahkan sangat bisa mengambil hati seorang client agar mau bekerja sama dengan kita? Masa mengambil hati Baekhyun saja tak bisa.".
Kris terus saja mengejek Chanyeol dengan mengungkit-ungkit persoalan tentang 'frustasi karena Luhan'. Ia paling tahu bahwa sepupunya itu paling tak suka diremehkan, apalagi tentang Luhan. Dengan begini, Chanyeol pasti akan segera mengelak perkataan Kris dan akan kembali menjadi Chanyeol seperti biasanya.
Lihat saja dengan tatapannya yang tiba-tiba berubah menjadi lebih bersemangat. Kris tersenyum melihatnya, menganggap rencananya berhasil.
"Siapa bilang aku frustasi? Aku tidak frustasi karena Luhan! Lihat saja, Baekhyun pasti tidak akan menolakku."
"Oke, akan aku lihat."
Kris tersenyum lebar melihat Chanyeol yang menyesap ice latte dengan bersemangat, terlihat jelas dia sangat haus karena mungkin sejak kemarin dia tak sempat meminum setetes air pun akibat kekhawatirannya yang —sebenarnya— sangat tidak masuk akal.
"Tapi sebelumnya, mandi dulu sana, kau bau."
.
.
Jam baru menunjukan pukul 7 malam, tapi Chanyeol sudah kembali dari kantornya, padahal biasanya ia tak akan pulang sebelum pukul 11. Tapi mengingat ini hari sabtu, dan tak ada jadwal kuliah, ia jadi bisa kembali lebih cepat dari biasanya.
Kakinya melangkah dengan santai keluar dari lift dan tiba di lantai 7. Sesekali mulutnya menyanyikan sebuah lagu berbahasa inggris.
Langkahnya semakin mantap saat kakinya hampir mendekati pintu bernomor 712. Hari ini ia akan mengajak Baekhyun berjalan-jalan keluar —setelah kencan sebelumnya gagal— berharap sekarang pria mungil itu bisa menghabiskan sabtu malam bersamanya. Setelah beberapa hari tak melihatnya, Chanyeol sungguh sudah sangat merindukan wajah imutnya. Ugh kau menggelikan kalau jatuh cinta, Park Chanyeol. Dia mengejek dirinya sendiri di dalam hati.
Chanyeol tersenyum semakin lebar saat dilihatnya Baekhyun keluar dari apartemennya. Ia hendak menyapanya saat dilihatnya seorang pria, dibelakang Baekhyun, yang juga baru saja keluar dari apartemennya, merangkul pria itu dengan sangat akrab.
Baekhyun terlihat tertawa saat pria itu membisikan sesuatu ditelinganya, tapi tawanya berhenti saat dilihatnya Chanyeol yang berdiri dua meter di depannya. Untuk sesaat mata mereka bertemu. Chanyeol bisa melihat mata kecil Baekhyun sedikit membulat dan berbinar, entah berbinar karena melihat Chanyeol yang sudah beberapa hari tak ditemuinya, atau berbinar karena pria yang sekarang sedang merangkulnya. Dan keduanya tersadar saat terdengar suara berat dari samping Baekhyun.
"Kau mengenalnya?"
Baekhyun memutuskan kontaknya pertama kali dan mendongak menatap pria yang sekarang tengah merangkulnya, posesif.
"ah...ya...dia tetanggaku. Park Chanyeol." Baekhyun merutuki dirinya sendiri mengapa suaranya harus terdengar gugup.
Pria disampingnya menatap Chanyeol dari bawah sampai atas, membuat yang ditatap menyipitkan matanya tak suka. Kalau sampai pria itu adalah teman dekatnya Baekhyun juga, akan susah untuk Chanyeol mendekari pria mungil itu. Seketika ia berharap bahwa teman Baekhyun hanyalah Kyungsoo.
Tapi, demi proses penjajakannya dengan Baekhyun yang harus berjalan dengan mulus, walaupun dia tidak suka dengan tatapan yang diberikan pria disamping Baekhyun itu, dia tetap —berusaha— bersikap baik dengan menyunggingkan senyum yang —sudah ia usahakan— terlihat ramah.
Chanyeol menatap Baekhyun seakan memerintahkannya untuk memperkenalkan teman disampingnya itu —yang dengan bebasnya merangkul Baekhyunnya dengan posesif.
Tapi mengapa perasaannya jadi tidak enak ya?
"Chanyeol..." Baekhyun membuka suaranya dengan ragu-ragu. "Dia Sehun, Oh Sehun...pacarku."
Dan Chanyeol berharap bumi menelannya saat ini juga.
.
.
.
—TBC—
/rolling on the floor/ saya tahu, saya tahu chapter ini sangat mengecewakan, iya kan? Orz maaf untuk keterlambatan update dan ketidaksempurnaan di chapter ini. Maaf bagi yang kecewa setelah membaca ini dan akhirnya malah memutuskan untuk membenci ff ini selamanya(?)
Tapi walaupun begitu, saya masih berharap ada beberapa diantara kalian yang cukup puas dengan chapter ini, adakah? Tidak ada? Arraseo.../bang my head/
Apakah percakapan Baekhyun dan ibunya di prolog terdengar kurang sopan? Maaf ya kalau terkesannya malah Baekhyun jadi seperti anak pembangkang(?) saya hanya menggunakan kata ganti umma jadi padamu. Untuk, jinyeoley terimakasih sudah mengingatkan tentang hal ini, saya akan mengubahnya menjadi lebih baik dimasa depan(?) kkk
Untuk realkkeh, benarkah kamu seperti mengenal saya? Kkk semoga kita teman di masa lalu(?) dan akan jadi teman baik di masa sekarang ya kkk.
Untuk pairing yang lain kayanya gaakan di munculkan, soalnya ini mau fokus ChanBaek, kalau banyak banyak nanti saya overdose(?)
Masih banyak ya yang bingung kenapa Chanyeol bilang Baekhyun cinta sama dia? mau saya kasih tau sekarang atau nanti? /slapped
Maaf reviewnya belum bisa saya balas, tapi saya baca semuanya kok~ terima kasih atas waktu dan tenaganya untuk menyempatkan diri review di ff yang jauuuuuuuuuuh dari kata bagus ini.
Oh iya, ff ini tidak akan terlalu panjang, paling hanya sampai 5 chapter, karena setelah itu saya masih punya cerita baru. Enaknya cerita baru itu saya post sekarang atau setelah ff ini selesai ya?
Btw, ada yang suka BaekSoo? kkk
Oke untuk terakhir, mind to review? o'-'o
