3rd Chapter: The First.

Disclaimer: I own nothing, but the story.

WARNING: YAOI, typo(s), kissing scene, dialogue-less, and many imperfections.

Summary: Menikahi Baekhyun dan kemudian Baekhyun sudah sah menjadi istrinya dan sekarang pria mungil itu sedang melakukan tugasnya sebagai seorang istri, memasakan makanan untuk suaminya yang sedang sakit. Chanyeol merasa hidupnya terasa sempurna kala itu.

Big Thanks to:

—Gigi onta—realkkeh—parklili—Majey Jannah 97—exindira—Special bubble—ChanBaekLuv—N-Yera48—Dya—Meriska-Lim—baekggu—ShinJiWoo920202—byunbacot—alightphoenix—inggit—nur991fah—baeksounds


.

Di hari Sabtu, Baekhyun tak ada jadwal kuliah sama sekali membuatnya bisa tidur seharian, sepuasnya. Ketika cahaya langit mulai berubah menjadi oranye, Baekhyun bangun dari tidur siangnya. Matanya sedikit membengkak dikarenakan tidur terlalu lama —lima jam.

Baekhyun mendudukan dirinya, mencoba membangunkan kembali seluruh energinya. Ia menguap lebar dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membuat surai brunette-nya berantakan.

Saat hendak melangkahkan kakinya ke kamar mandi, bel pintu apartemennya berbunyi nyaring membuat pria itu berdecak kesal. Dengan terpaksa, ia berjalan ke luar dari kamarnya dan menuju ke arah pintu.

Cklek.

Mata mengantuk Baekhyun membulat seketika saat maniknya menangkap visualisasi seorang pria tinggi berwajah datar tengah berdiri dihadapannya.

"Sehun-ah?"

Sehun hanya menyeringai saat mendapati pria yang lebih kecil darinya itu tengah menatapnya kaget sekaligus heran.

"Hai hyung."

.

Satu hal yang sangat Baekhyun sayangkan dari Sehun, overprotective. Bahkan Sehun selalu melarangnya pergi berdua dengan Jongdae, sepupu Baekhyun. Oh Tuhan, seluruh duniapun bahkan tahu jika Baekhyun tidak akan mungkin selingkuh dengan sepupunya yang paling menyebalkan itu.

Tapi itu dulu, sebelum Sehun menerima beasiswa dan pergi ke Jepang untuk belajar. Sudah tiga bulan terakhir Sehun tinggal di negeri sakura itu. Dan sudah tiga bulan pula Baekhyun merasa dirinya benar-benar bebas tanpa kekasihnya yang selalu melarangnya, bahkan hanya untuk pergi ke kedai kopi terkenal di seberang kampusnya. Bahkan sekarang Baekhyun bisa tinggal sendiri di apartemennya, yang ia sangat yakini jika Sehun tidak pergi ke Jepang, pasti sekarang ia sedang berada dirumahnya yang —sungguh— sangat besar, berdua bersama Sehun, membaca buku atau menonton kartun larva.

Walaupun begitu, Baekhyun menyayangi Sehun —begitu yang ia ketahui. Walaupun Sehun memang sangat tidak pandai dalam menjadi kekasih idaman, namun dibalik sifat mengekangnya, Sehun bisa menjadi sosok adik yang sangat menggemaskan saat ia merajuk pada Baekhyun —hal ini sangat langka terjadi, menjadi sosok seorang kakak saat Baekhyun butuh seseorang untuk sandarannya ketika masa-masa sulitnya datang —seperti saat ayahnya meninggal dunia— walaupun yang dia lakukan hanya mengusap punggungnya dan terus mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Baekhyun nyaman bersama Sehun, kecuali sifat overprotective-nya.

.

Sehun dan Baekhyun berpacaran bukan karena rencana mereka, tapi campur tangan kedua orang tua mereka yang dengan alasan konyolnya masih melakukan perjodohan di abad ke-21 ini.

Orang tua mereka yang kebetulan bersekolah di tempat yang sama selama dua belas tahun —kebetulan yang sangat mencengangkan—, sempat membuat perjanjian bahwa mereka akan menjodohkan anak mereka agar kelak hubungan mereka bisa menjadi lebih erat dan lebih erat lagi, sebagai besan. Ya, alasan konyol.

Sehun masih mengingatnya ketika Baekhyun dengan suara melengkingnya berteriak tidak terima dengan keputusan orang tuanya.

"Aku tidak mau!" ucap Baekhyun saat itu. Mata kecilnya membulat sempurna dengan bibir dikerucutkan lucu. Sehun yang melihatnya malah tersenyum geli diam-diam dan bahkan lupa untuk membantah keinginan orang tuanya. Sehun memang sudah tertarik dengan Baekhyun sejak awal mereka bertemu, tapi itu hanya tertarik, tidak lebih. Baekhyun yang selalu bersikap seakan dia yang lebih muda diantara keduanya membuat Sehun berpikir bahwa Baekhyun sangatlah imut, dan dia menyukainya —menyukai ketika dia bersama dengan pria mungil itu. Tapi sikap dinginnya dengan sangat membantu menutupi perasaannya.

Baekhyun serta Sehun yang saat itu memang kalah berdebat dengan orang tuanya, tidak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti aturan main mereka, dengan sebuah syarat yang juga harus disetujui kedua belah pihak orang tua mereka.

Dan sebuah perjanjian lain pun dibuat.

.

Sehun tahu ada yang tidak beres disini, bahkan semenjak dirinya melihat Baekhyun untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan berpisah. Manik coklat Baekhyun lebih menyiratkan keterkejutan yang luar biasa daripada rasa bahagia. Ia menatap Baekhyun disampingnya yang terlihat gugup kemudian menatap lekat lelaki dihadapannya —yang sialnya sedikit lebih tinggi darinya dengan tatapan menyelidik.

Baekhyun tak pernah seragu ini dalam mengakui bahwa Sehun adalah kekasihnya. Walaupun mereka menjalin hubungan bukan atas keputusan mereka, tapi Baekhyun tidak pernah menyembunyikan statusnya dengan Sehun. Tapi barusan? Bahkan Sehun bersumpah bahwa Baekhyun mempertaruhkan seluruh hidupnya saat mengatakan "Dia Sehun, Oh Sehun... Pacarku." Kepada pria asing dihadapannya.

Dan Sehun semakin bingung saat Baekhyun menarik tangannya dan berjalan tergesa-gesa melewati pria-tinggi-asing yang masih mematung ditempatnya setelah mengatakan "Sampai jumpa, Chanyeol."

Sehun akan mengingat namanya.

.

Sehun sedikit menarik tangan Baekhyun yang sedang menyeretnya, membuat pria mungil didepannya itu berhenti dan berbalik menatap Sehun sembari menautkan alisnya.

"Kenapa?"

Sehun menimbang-nimbang apakah ia harus mengatakan keganjilan sifat Baekhyun sekarang, tapi akhirnya dia berpikir mungkin hanya kekhawatirannya yang terlalu berlebihan karena sudah lama tidak bertemu sang kekasih yang ia yakini bahwa hatinya memang telah memilih Baekhyun untuk menetap disana, sampai kapanpun. Dan Sehun berharap Baekhyun juga begitu.

Sehun sudah mencoba untuk menjadi kekasih yang baik untuk Baekhyun walalupun sikap dingin dan gengsinya benar-benar tidak bisa diajak kompromi, tapi ia tetap berharap Baekhyun bisa merasakannya —rasa sayangnya.

Sehun tersenyum kecil kemudian menggeleng, "Kita akan kemana?"

Baekhyun berpikir sejenak, bibirnya dikerucutkan dan matanya menatap langit-langit atap membuat Sehun sungguh tidak tahan untuk tidak mencubit bibir tipis kekasihnya itu. Tapi sikap dingin Sehun selalu menang.

"Aku sedang ingin makan ddeokpokki, bagaimana?" Baekhyun menatap Sehun penuh harap. Berharap kekasihnya itu tidak keberatan dan mengijinkannya untuk memakan itu. Baekhyun mempunyai sedikit masalah dengan perutnya, ia tidak bisa memakan makanan pedas terlalu banyak, tapi saat ini ia sangat ingin memakannya.

Sehun mengangguk dan tersenyum kemudian menggenggam tangan Baekhyun lebih erat, membuat Baekhyun tersenyum senang dan balas menggenggam balik tangan Sehun.

.


.

Mungkin Chanyeol akan berdiri selamanya dikoridor lantai 7 jika Kris tidak menepuk bahunya. Kris bergidik ngeri melihat ekspresi Chanyeol yang semakin terlihat seperti orang bodoh. Pria pirang itu meninju bahu Chanyeol pelan.

"Kau kenapa?"

Chanyeol mengerjapkan mata bulatnya dua kali sebelum ia berjalan menuju pintu apartemennya tanpa menghiraukan Kris yang menatapnya heran. Kris tahu Chanyeol sedang tidak baik-baik saja. Setelan resmi Chanyeol bahkan tidak membantu meyakinkan bahwa Chanyeol baik-baik saja jika dilihat dari caranya berjalan yang lebih mirip robot.

Kris menghampiri Chanyeol yang berdiri mematung di depan pintu apartemennya dengan tangan yang menggantung didepan tombol kunci didekat pintu.

"Kau lupa passwordnya?" tanya Kris bingung.

Tapi Chanyeol tak kunjung berbicara.

Dengan segera Kris menekan beberapa tombol dan pintu didepannya terbuka.

Masih dengan pergerakan yang seperti robot, Chanyeol berjalan masuk kedalam apartemennya dan segera menuju kamar mandi tanpa menghiraukan panggilan Kris yang kesekian kalinya.

Dan Kris segera paham karena Chanyeol dan kamar mandi adalah kombinasi yang merujuk kepada dua kata, patah hati.

.


.

Baekhyun hendak pergi keluar untuk membuang sampah yang sudah menumpuk saat didekat lift ia berpapasan dengan Kris. Pria pirang itu menyapanya dengan hangat dan Baekhyun hanya membalasnya dengan senyuman manis, kemudian masuk kedalam lift berdua.

Suasana hening beberapa saat sampai akhirnya kalimat pertama Kris membuatnya menoleh kepada pria disampingnya.

"Kau menolak Chanyeol?"

Kris sempat merutuki dirinya dalam hati. Kalimatnya sungguh keluar dari mulutnya begitu saja. Ia tidak berniat untuk membahas Chanyeol yang patah hati dengan seseorang yang ia yakini telah membuat Chanyeol patah hati, tapi kalimatnya terlanjur meluncur.

"Apa maksudmu?"

Kris menimbang-nimbang apakah ia harus menjelaskan keadaan Chanyeol sekarang kepada Baekhyun. Ia menatap pria mungil disampingnya yang tengah menatapnya dengan alis bertaut. Dengan jarak sedekat ini, Kris baru menyadari bahwa kulit Baekhyun terlihat seperti bayi dan harum tubuh Baekhyun benar-benar membuat Kris sangsi apakah Baekhyun adalah seorang bayi yang terperangkap di dalam tubuh pria dewasa? Dan jika ia tidak bisa menahan diri mungkin tangan nakalnya sudah mendarat dipipi mulus Baekhyun dan mencubitnya gemas.

"Hey, Kris!" Baekhyun menggoyangkan lengan Kris. Ia sedikit tidak nyaman ditatap seperti itu oleh Kris. Walaupun Kris tampan, tapi Baekhyun sempat takut melihat ekspresinya(?)

"Oh...ya.." Kris segera sadar setelah pria mungil itu memanggil namanya. Ia malu sendiri tertangkap basah sedang menatap Baekhyun.

Dengan tanpa menatap Baekhyun, Kris menceritakan keadaan Chanyeol kepada satu-satunya orang yang Kris yakini adalah pelaku utama yang menyebabkan Chanyeol terlihat lebih gila dari sebelumnya.

.


.

Baekhyun menatap Kris disampingnya untuk yang kesekian kalinya. Mata kecilnya yang sarat akan keraguan seakan berkata 'Apa kah aku harus melakukannya?' kepada Kris yang menatapnya dengan penuh keyakinan.

Jantung Baekhyun berdegup semakin kencang saat Kris mulai menekan password untuk pintu apartemen Chanyeol. Dan saat bunyi 'klik' terdengar, Baekhyun menyesal karena sudah menyetujui permintaan Kris. Sifat Baekhyun yang memang mudah luluh, pada akhirnya selalu membuatnya menyesal atas keputusannya.

Kris sedikit mendorong punggung kecil Baekhyun membuat mau tak mau Baekhyun harus melangkah masuk ke dalam apartemen Chanyeol, seseorang yang sudah dia buat patah hati —itu yang dikatakan Kris untuk membuatnya mau datang kesini.

Baekhyun menengokan kepalanya untuk melihat Kris sebelum melangkah lebih jauh lagi. Pria tinggi itu hanya tersenyum padanya dan mengepalkan tangannya kemudian berucap "good luck!" sebelum menutup pintunya.

Seketika Baekhyun merasa persendiannya kaku, tidak bisa digerakan. Ia ingin sekali menarik pintu dibelakangnya dan berlari kemudian bersembunyi di balik selimutnya yang hangat karena tiba-tiba saja tubuhnya terasa menggigil.

Baekhyun sangat tidak ingin bertemu dengan tetangganya itu. Tetangganya yang saat hari pertama mereka bertemu sudah mengajaknya kencan. Tidak berani menemuinya setelah kejadian kemarin saat ia memperkenalkan Sehun sebagai pacarnya kepada Chanyeol yang mungkin saja karena iu Chanyeol merasa patah hati.

Dengan ragu dan gerkan pelan, Baekhyun mulai berjalan lebih dalam lagi memasuki partemen Chanyeol. Kris berkata, Chanyeol pasti sedang berada dikamarnya, dibalik pintu berhiaskan gravity bertuliskan 'Chanyeol'.

Baekhyun berdiri didepan pintu kamar Chanyeol sembari memilin-milin ujung sweater tebalnya. Ia menggigit bibir bawahnya sampai memerah karena gugup. Setelah menarik nafas dalam-dalam, akhirnya Baekhyun memutar kenop pintu itu dan hatinya sedikit lega saat dilihatnya Chanyeol sedang meringkuk diatas tempat tempat tidurnya, sepertinya ia tertidur.

Baekhyun berjingkat berjalan mendekati Chanyeol dan dengan hati-hati ia membungkukan badannya untuk memperhatikan wajah Chanyeol dari dekat.

Dengan jarak sedekat itu, Baekhyun memang mengakui bahwa Chanyeol memang sangat tampan. Baekhyun suka hidungnya yang lancip, Sehun juga memiliki hidung yang lancip tapi entah kenapa Chanyeol malah terlihat lebih seksi ditambah dengan bibir penuhnya.

Ugh.

Baekhyun menggelengkan kepala dan memukulnya. Sempat-sempatnya ia berfikir seperti itu.

Ngomong-ngomong tentang Sehun, Baekhyun sangat bersyukur saat tadi pagi ia mendapati pesan dari pria itu yang mengatakan bahwa Sehun ada urusan di kampusnya seharian. Dengan itu maka Baekhyun bisa menengok tetangga barunya yang sedang sakit yang tidak mungkin ia lakukan jika Sehun sedang bersamanya.

Pelan-pelan Baekhyun menyentuh kening Chanyeol dengan jari telunjuknya dan ia terlonjak saat ujung jari itu terasa panas saat bersentuhan dengan kulit Chanyeol. Pria itu demam. Pantas saja wajahnya sedikit memerah.

Dengan telaten, Baekhyun menarik selimut Chanyeol hingga ke dagunya, dan menaikan suhu ruangan pada AC di kamar Chanyeol.

Tanpa pikir panjang Baekhyun berjalan keluar kamar Chanyeol dan menuju dapur. Mengambil sebaskom air dingin dan es batu dari dalam freezer. Baekhyun sempat meringis saat melihat bungkusan kopi yang berserakan didapur.

Ia kembali ke kamar Chanyeol dan menaruh baskomnya di nakas samping tempat tidur Chanyeol. Ia menatap sekeliling kamar Chanyeol, mencoba mencari dimana dia bisa menemukan handuk kecil. Kamar Chanyeol sungguh besar dengan peralatan yang cukup berantakan. Terlihat jelas bahwa Chanyeol jarang sekali membereskannya.

Baekhyun berjalan ke arah lemari besar Chanyeol dan tanpa ragu membuka sebuah laci yang ia yakini adalah tempat Chanyeol menyimpan handuk kecil. Tapi wajahnya seketika merona saat ia berhasil membuka lacinya. Bukannya handuk kecil yang ia lihat, melainkan tumpukan pakaian dalam Chanyeol. Dengan refleks Baekhyun menutup lacinya sedikit keras. Ia merutuki pria yang sekarang sedang terbaring lemah dikasur. Mengapa Chanyeol tidak mengunci laci tempatnya menyimpan pakaian dalam? Sial.

Bekhyun beralih kelaci disebelahnya dan dengan hati-hati ia membukanya. Matanya ia pejamkan sebelah takut-takut apa yang akan ia temui disana lebih menyeramkan daripada pakaian dalam.

Namun akhirnya ia mendesah lega karena laci itu berisi sapu tangan dan handuk kecil yang dicarinya. Baekhyun mengambil salah satu handuk yang berwarna biru muda, kemudian berjalan kembali mendekati kasur Chanyeol dan dengan hati-hati dia mendudukan dirinya disamping Chanyeol.

Setelah mencelupkan handuk kecil itu kedalam baskom ia memerasnya dan meletakannya diatas dahi Chanyeol. Chanyeol sempat berjengit saat merasakan sesuatu yang dingin mengenai dahinya, membuat Baekhyun beku seketika takut jika Chanyeol akan bangun. Tapi pria itu kembali tertidur dengan pulas membuat Baekhyun bisa bernafas lega.

Baekhyun memperhatikan wajah Chanyeol sesaat kemudian pandangannya beralih mengelilingi kamar Chanyeol yang berantakan.

Entah apa yang dia fikirkan sampai ia berdiri dan membereskan kamar pria itu sampai benar-benar rapi. Dan dia melakukannya pada semua ruangan di apartemen Chanyeol, termasuk dapurnya yang penuh dengan bungkusan kopi yang telah kosong.

.


.

Chanyeol mngerjapkan matanya berkali-kali dan merasa bahwa pusing dikepalanya sudah mulai membaik. Ia terbangun karena rasa lapar dan haus yang luar biasa. Chanyeol mendudukan dirinya pelan-pelan dan mengernyit heran saat sebuah handuk jatuh dipangkuannya. Tangannya meraih dahinya yang terasa dingin, ia bergumam dan bergidik "Kris hyung tidak mungkin melakukan ini."

Chanyeol berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya. Walalupun pusingnya sudah tidak terlalu terasa, tapi tubuhnya sangat lemas mengingat ia belum makan apapun sejak kemarin dan kemarinnya lagi.

Pergerakannya terhenti saat ia menatap sekeliling kamarnya —ada yang berubah. Semuanya terlihat lebih bersih dan rapi.

"Tidak mungkin ini kerjaan si pirang itu."

Chanyeol mulai berjalan keluar dari kamarnya dan ia sangat yakin bahwa seseorang telah memasuki apartemennya, dan kandidat terbesar itu adalah Kris karena dia satu-satunya orang yang tahu password apartemennya. Chanyeol sempat berfikir Kris tidak mungkin membersihkan seluruh ruangan apartemennya apalagi merawatnya yang sedang sakit. Ataukah Kris memberi tahu ibunya dan ibunya datang jauh-jauh dari Jepang hanya untuk merawat Chanyeol yang sedang sakit?

Tapi fikirannya buyar saat seketika harum kaldu ayam memenuhi indra penciumannya.

Ia mulai melangkah memasuki dapur dan matanya menangkap punggung mungil seorang pria yang sedang menata makanan di meja makan, itu Baekhyun. Chanyeol membeku saat pria itu bersuara.

"Oh...kau sudah bangun?" dan senyuman Baekhyun membuatnya berfikir bahwa ia bermimpi sudah menikahi Baekhyun dan kemudian Baekhyun sudah sah menjadi istrinya dan sekarang pria mungil itu sedang melakukan tugasnya sebagai seorang istri, memasakan makanan untuk suaminya yang sedang sakit. Chanyeol merasa hidupnya terasa sempurna kala itu. Tapi setelah ia mencubit lengannya dan itu terasa sangat sakit, Chanyeol sadar bahwa dia tidak pernah menikahi Baekhyun.

Suara merdu Baekhyun menyadarkannya dari lamunan.

"Um..maaf aku lancang menggunakan dapurmu. Kris yang memberitahuku bahwa kau sakit."

Dan Chanyeol sudah menyangka bahwa ada Kris dibalik ini semua.

Chanyeol berjalan perlahan mendekati meja makan dan menatap semua makanan yang terhidang dimeja. Ada sup ayam tahu kesukaannya. Seketika ia menelan ludahnya dan bunyi perutnya membuat Baekhyun tertawa renyah. Chanyeol memerah, sial ia sangat malu.

Baekhyun menarik kursi di dekat Chanyeol dan menarik lengannya agar terduduk. Ia mengambilkan makanan untuk Chanyeol dan menyodorkannya dihadapan pria itu dan mengambil tempat duduk di samping Chanyeol.

"Makanlah yang banyak. Kris mengatakan padaku bahwa kau tidak mau makan. Aku tahu ini mungkin tidak terlalu enak, apalagi—" Baekhyun menghentikan perkataannya saat Chanyeol menatapnya. Ia sedikit ciut mendapati tatapan mata Chanyeol yang memerah.

Tadinya Chanyeol hendak membahas tentang pria Oh Sehun kemarin, tapi perut Chanyeol yang sudah meraung-raung minta diisi membuatnya membatalkan niatnya dan mulai menyantap masakan Baekhyun.

Saat kuah sup itu menyentuh lidahnya, Chanyeol berfikir bahwa Baekhyun memang cocok untuk menjadi istrinya kelak.

.


.

Baekhyun memperhatikan Chanyeol yang sedang makan dengan lahap. Rambutnya yang berantakan membuat Chanyeol tampak lucu —juga tampan— di mata Baekhyun.

Chanyeol yang merasa diperhatikan melirik kearah Baekhyun dan merasakan pipinya sedikit memanas karena Baekhyun menatapnya dengan senyuman paling manis yang pernah ia lihat. Seketika Chanyeol benar-benar mengurungkan niatnya untuk membahas pria berwajah datar kemarin, ia tak mau merusak suasananya yang bagus bersama Baekhyun. Dan sentuhan tangan Baekhyun yang lembut dibibirnya membuat Chanyeol benar-benar lupa diri.

"Ada nasi di bibirmu."

Baekhyun tertawa kecil melihat ekspresi Chanyeol yang menurutnya sangat bodoh.

"Jangan menatapku seperti itu."

Dan Chanyeol mengalihkan pandangannya dengan jantung yang hampir melompat keluar.

"Oh ya.." ucap Baekhyun tiba-tiba. Chanyeol melirik ke arahnya, menunggu pria mungil itu melanjutkan perkataannya.

"Jangan meminum kopi saat sedang sakit, apalagi dalam jumlah yang banyak. Lagipula terlalu banyak kopi tidak bagus untuk tubuhmu."

Mendengar perkataan Baekhyun, Chanyeol merasa sesuatu yang hangat mulai melingkupi hatinya. Dia senang atas perhatian Baekhyun yang diberikan kepadanya. Ia melahap semua makanannya dengan semangat.

Melihat mangkuk Chanyeol yang sudah kosong dan semua makanan dimeja telah habis, Baekhyun bangkit dan mulai membereskannya.

"Apakah kau sudah merasa baikan?" Tanya Baekhyun.

Chanyeol hanya menjawabnya dengan menggumam. Baekhyun kemudian mengingat pesan Kris untuk membawa Chanyeol keluar rumah karena pria itu sama sekali tidak mendapat sinar matahari berhari-hari. Kris khawatir Chanyeol akan benar-benar menjadi gila.

"Kalau begitu mandilah. Kita akan berjalan-jalan di sepanjang Myeongdong, kudengar disana sedang ada pameran, kau mau?"

Chanyeol tidak mungkin menolak jika Baekhyun terus saja menampilkan senyumnya.

.


.

Baekhyun mulai merasa nyaman berada disamping Chanyeol. Setelah meilhat wajah polosnya saat sedang tertidur, dan wajah bodohnya ketika dia benar-benar terkejut membuatnya berfikir bahwa Chanyeol tidak seaneh yang dia kira sebelumnya.

Baekhyun sempat menertawakan dirinya sendiri yang sempat takut kepada Chanyeol karena menganggap pria tinggi itu seorang maniak.

Chanyeol benar-benar baik, terbukti dari cara dia selalu berjalan disebelah kanan Baekhyun agar Baekhyun tetap aman dibalik tubuh tegapnya. Kawasan Myeongdong yang sangat ramai membuat Chanyeol selalu mengatakan 'Hati-hati.' kepada Baekhyun yang berjalan dengan cepat. Itu malah membuat Baekhyun tertawa renyah dan menarik Chanyeol untuk berjalan lebih cepat.

"Cobalah ini." Ucap Baekhyun sembari menyodorkan buah strawberry yang sempat ia beli tadi didepan mulut Chanyeol.

Pria tinggi itu memakan strawberrynya dan meringis pelan merasakan rasa asam yang melumer di lidahnya. Baekhyun kembali tertawa melihatnya.

"Kau memberiku yang asam." Chanyeol melebarkan matanya ke arah Baekhyun.

"Aku tidak suka yang asam, makanya aku berikan kepadamu." Ujar Baekhyun jahil.

Chanyeol yang gemas melihatnya hanya mengacak rambut brunette Baekhyun.

Langkah kaki Baekhyun berhenti saat ia melihat sebuah toko musik di sampingnya. Dengan semangat ia menarik pergelangan tangan Chanyeol.

"Ayo masuk!"

.


.

Rencananya Sehun hendak mengajak Baekhyun jalan-jalan karena ternyata dosen yang tadinya akan dia temui mendadak harus segera pulang kerumahnya karena istrinya pingsan dan harus dilarikan kerumah sakit, sebelum ia melihat sesuatu yang membuat dadanya bergemuruh tidak nyaman.

Baekhyun bersama Chanyeol keluar dari lobby apartemen dan berjalan menuju arah halte bus. Dadanya semakit terasa nyeri saat Baekhyun menyentuh rambut Chanyeol dan membenahinya. Sehun mencengkram kemudi mobil dengan keras sampai tangannya terasa panas dan memutuskan untuk mengikuti mereka berdua.

.

Sehun tak pernah melihat Baekhyun tertawa selebar itu saat bersamanya. Baekhyun hanya akan tersenyum manis dan tertawa kecil saat sedang bersama Sehun. Jalanan Myeongdong yang padat memberinya keuntungan untuk tidak terlihat oleh Baekhyun sehingga dengan mudah dia bisa menguntit kekasihnya itu.

Sehun melihat Baekhyun dan Chanyeol yang memasuki sebuah toko musik. Dengan senyuman lebar Baekhyun menarik tangan Chanyeol menuju grand piano di sebelah kiri toko.

Baekhyun mendudukan dirinya didepan piano itu dan tangan lentiknya mulai menekan tuts dan menghasilkan beberapa nada indah yang pastinya tidak bisa didengar oleh Sehun karena sekarang Sehun sedang mengintip Baekhyun dan Chanyeol dari luar toko.

Chanyeol kemudian duduk disamping Baekhyun membuat pria mungil itu harus bergeser kesamping. Chanyeol memainkan pianonya dan melantunkan sebuah lagu romantis berbahasa inggris membuat Baekhyun mau tak mau merona dan bertepuk tangan senang dengan mata berbinar melihatnya.

Sehun mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih.

"Sial!"

.


.

Chanyeol menatap Baekhyun yang memakan ice cream nya dengan lucu. Sesekali ia menjilat bibir tipisnya membuat Chanyeol merasa bahwa udara di lift saat itu sangat panas. Dan suara 'ting' membuat Chanyeol sedikit lega, setidaknya ia tidak berduaan lagi dengan Baekhyun didalam lift. Dia bukannya tidak mau berduaan dengan Baekhyun, hanya saja Baekhyun yang memakan ice cream dan menjilat bibirnya adalah bukan sesuatu yang baik untuk dilihat saat tengah berduaan apalagi ditempat yang sepi. Singkirkan fikiran kotormu, Park Chanyeol.

Baekhyun membuang cup ice cream yang telah kosong ketempat sampah dan berbalik menghadap Chanyeol kemudian tersenyum.

"Chanyeol~!"

Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun yang memanggilnya. Tatapan matanya tertuju pada ujung bibir Baekhyun. Ada sisa ice cream disana. Dengan refleks Chanyeol mendekat kearah Baekhyun.

Baekhyun yang melihatnya bingung dan sedikit merasa takut melihat tatapan Chanyeol yang seperti itu. Baekhyun mundur beberapa langkah sampai akhirnya punggung kecilnya menubruk dinding dibelakangnya. Ia memejamkan matanya saat tangan besar Chanyeol mulai menyentuh bibirnya dan mengusapnya.

"Ada ice cream di bibirmu." Ucap Chanyeol dengan suara rendah.

Baekhyun merinding mendengar suara Chanyeol. Ingin rasanya ia mendorong tubuh tegapnya tapi tubuhnya serasa benari-benar dipenjakan oleh tangan kekar Chanyeol.

Saat tak mendapat pergerakan lagi dari pria dihadapannya, Baekhyun hendak membuka matanya. Tapi benda kenyal menyentuh bibirnya. Ia yakin itu bibir Chanyeol.

Chanyeol mencium bibir Baekhyun.

Chanyeol tidak mengerti mengapa ia berani berbuat sejauh ini, tapi sungguh ia hanya penasaran bagaimana rasanya bibir tipis berwarna pink milik Baekhyun. Dan setelah ini Chanyeol yakin ia akan menyesali rasa penasarannya karena itu membuat dirinya tidak bisa berhenti.

Karena merasa tak ada penolakan dari pria mungil itu, Chanyeol mulai melumat pelan bibir tipis Baekhyun.

Baekhyun merasa persendiannya mulai melemah. Ia hampir saja jatuh terduduk jika Chanyeol tidak memeluk pinggangnya. Pria tinggi itu sedikit mengangkat tubuh mungilnya sehingga membuat Baekhyun berjinjit dan tidak lagi menyandarkan punggungnya di dinding melainkan tubuh depannya yang menempel dan bersandar di dada bidang Chanyeol.

Chanyeol menuntun lengan Baekhyun agar melingkar di lehernya dan saat itu Baekhyun sudah sangat pasrah saja atas apa yang dilakukan Chanyeol karena, sungguh ciuman Chanyeol di bibirnya sangat memabukkan dan membuatya lemas seketika.

Chanyeol menhisap bibir bawah Baekhyun dengan dalam karena Baekhyun tak kunjung membalasnya. Chanyeol sungguh sudah tidak peduli jika ada yang melihatnya saat ini, dia juga tidak peduli jika setelah ini Baekhyun akan mencapnya sebagai pria kurang ajar —tapi ia yakin Baekhyun tidak akan melakukannya mengingat sekarang Baekhyun yang tidak menolak. Tidk memperdulikan Baekhyun yang notabenenya adalah kekasih orang lain. Dia hanya ingin mencium Baekhyun sampai ia puas. Izinkan ia untuk egois kali ini saja —ah tidak, izinkan ia untuk egois tentag semua yang menyangkut Baekhyun. Tapi ia juga sangsi bahwa dirinya akan sudah merasa puas bahkan jika setelah beberapa detik ia melepasnya. Karena mulai sekarang bibir Baekhyun bagaikan candu untuknya.

Dengan gerakan yang masih malu-malu, Baekhyun mulai meremas rambut belakang Chanyeol dan membalas ciumannya —menghisap bibir atas Chanyeol. Itu membuat Chanyeol semakin yakin bahwa Baekhyun juga menyukai ciumannya.

Selama berciuman, Chanyeol tidak menutup matanya. Dia ingin melihat bagaimana reaksi wajah Baekhyun saat tahu Chanyeol menciumnya dengan ganas. Chanyeol sedikit meremas bagian belakang Baekhyun membuat pria mungil itu mendesah. Kesempatan itu digunakan dengan baik oleh Chanyeol karena dia bisa menyentuh bagian dalam mulut Baekhyun dengan lidahnya. Dibalik ciumannya, Chanyeol menyeringai.

Baekhyun merasa bahwa dirinya sudah kehabisan nafas karena berciuman selama kurang lebih lima menit dengan Chanyeol. Baekhyun memukul pelan dada bidang Chanyeol. Chanyeol yang mengerti —dengan tidak rela— segera melepas ciumannya tanpa melepas pelukannya dipinggang ramping Baekhyun.

Baekhyun terengah-engah dan berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Chanyeol berfikir bahwa saat itu Baekhyun sangat seksi dan tengah menggodanya dengan mulut merah yang sedikit membuka, dengan mata sayu yang menatapnya, dan keringat yang mulai muncul di dahinya. Chanyeol hampir saja kembali mencium bibir Baekhyun jika suara berisik dari koridor dekat tangga darurat tidak mengganggunya.

Dengan kikuk Chanyeol mengusap bibir Baekhyun yang memerah dan mengusap dagunya yang basah akibat pertukaran saliva yang baru saja mereka lakukan, kemudian melepaskan tangannya dari pinggang Baekhyun. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan gugup.

Baekhyun hanya bisa menunduk menyembunyikan rona merah yang ia yakini pasti sudh menyerbar dipipi hingga telinganya.

Suara berat Chanyeol membuat Baekhyun mau tak mau harus mendongak.

"Kau masuklah. Terima kasih untuk hari ini."

Chanyeol sempat tersenyum dn membuat Baekhyun juga tersenyum kecil kemudian berbalik dan dengan tangan gemetar dia menekan tombol disamping pintu apartemennya.

Baekhyun sempat melirik ke arah Chanyeol yang masih tersenyum sebelum ia menutup pintunya dan bersandar dibalik pintu dengan senyum yang terpatri dibibirnya. Ia menangkup wajahnya yang terasa memanas.

Baekhyun menyentuh bibirnya yng sedikit membengkak. Itu tadi adalah ciuman pertamanya. Dan itu bersama Park Chanyeol, tetangganya. Bukan dengan Oh Sehun yang berstatus sebagai kekasihnya.

Baekhyun memukul kepalanya pelan.

"Apa yang baru saja aku lakukan?"

.

.

.

.

TBC —


Maaf atas keterlambatan update. Akhir-akhir ini saya malah terkena mental breakdown gara-gara berita heboh yang kemarin orz lebay gak sih?-_-

Mau nulis pun malah gabisa konsen orz mianhae~~~~

Apakah disini Chanyeol terlalu mesum? n,n

Soal ff baru yang saya buat itu bukan Baeksoo ya main cast-nya kkk saya hanya bertanya saja kemarin. Dan tadinya saya berencana untuk publish part pertamanya malam ini karena kebetulan part pertama itu sudah saya tulis, tapi~~~ lihat nanti saja deh ya kkk

Btw, sorry for typo. Soalnya ga dicek ulang lagi kkk

Okay, review?^-^