Do you remember all things I've said?
"Indië, besok aku harus kembali."
Aku menghentikan gerakan jemariku yang sedang mengaduk kopi dalam cangkir porselen yang indah itu. Entah apa tapi aku yakin ada sesuatu yang pergi turun melewati pipiku.
Nothing is left, but future. That is okay.
Jemari besarmu yang kasar itu perlahan menghapus sesuatu yang menuruni pipiku dan berkata;
"Het is fijn. Ik zal u niet verlaten––tak apa. Aku tak akan meninggalkanmu."
ーーmudah bagimu mengatakannya.
Just tonight, let me sleep in your arms.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Tak usah bertanya dengan wajah yang sepolos ituーーik voel me slecht."
"Vergeef me––maafkan aku. Tapi bolehkah aku tidur denganmu malam ini?" tanyaku lagi sembari mencoba memasang wajah yang ia sebut 'polos' tadi.
"Mijn God! Hentikan wajah itu. Tentu saja." Jawabnya dengan sebuah senyuman polos––senyuman yang jarang ia perlihatkan pada siapapun.
Just tonight, freeze the moment save the memories.
"Janji kau akan kembali?"
"Pasti. Aku tidak akan bisa meninggalkan mijn kleine Indië––my little Indië."
"Aku sudah besar! Hentikan panggilan itu!" aku mendengus kesal, menggembungkan kedua pipiku. Siapa yang tidak kesal, jika dipanggil seperti itu?
"Tapi kau masih milikku."
"Hentikan, Ned."
Wish for the star, that this night won't end.
"Apa kau harus pulang?"
"Jika ini bukan masalah pekerjaan, aku pasti akan selalu di sini."
ーーbisakah agar pagi tidak datang?
ーーbisakah aku bersama-mu lebih lama?
The way you love me down, 'till the sun is up.
ーーaku benar-benar tidak ingin pagi datang.
ーーwalau hanya sementara, aku tidak ingin terpisah darimu.
An empty space on the other side of my bed.
"Ned?" aku membuka suara, namun tak ada sahutan.
ーーya dia telah pergi
ーーpergi tampa sepatah kata "sampai jumpa"
