"Kau tidak bisa menendangnya?"
Aku menatap sosok itu. Sosok dengan rambut hijau kebiruan dengan ekspresi dingin di wajahnya. "Lemah sekali ya!"
Rasanya, aku ingin menghancurkan wajah tampannya dengan tendanganku! Oh, aku benci sekali pada orang ini!
"Aku tidak lemah!"
"Hn?" Irisnya yang sewarna dengan rambutnya menatapku tajam dengan penuh selidik. Aku benci senyuman sinisnya! "Lantas, kamu lagi ngapain sekarang?"
"Mikuo... kenapa kau begitu menuntutnya?" Terdengar suara tawa dari arah belakang. "Kau lihat sendiri fisiknya, ramping dan mungil seperti itu! Dia nggak akan mungkin punya kekuatan!"
"Yap! Kagamine Len, tahu nggak, jangan-jangan kamu itu banci asrama lagi?"
"Dia nggak akan bisa menendang bola! Langsung saja keluarkan dia dari tim!"
"Jangan seenaknya menentukan!" teriakku marah. "Memangnya kalian siapa berhak langsung menentukannya seperti itu?! Aku hanya... aku tadi hanya kurang serius!"
Mikuo menatapku tajam. Tatapannya menjadi semakin sinis. "Kalau begitu, tunjukkan sisi jantanmu, Kagamine Len-chan! Atau, kau mau disebut sebagai perempuan di asrama laki-laki Crypton?"
Well, kau idiot besar, Hatsune Mikuo!
Aku memang perempuan!
.
.
Circle.
(kapankah perputaran penderitaan itu akan berakhir?)
.
.
Aku menatap gerbang tinggi yang menjulang di hadapanku. Rasanya begitu sulit untuk menerima kenyataan bahwa akhirnya aku berdiri disini, di depan gerbang Crypton, sebuah sekolah khusus anak laki-laki dengan sebuah koper berwarna kuning di belakangku.
Mengerti artinya?
Aku, Kagamine Rin, seorang perempuan tulen, harus mengenakan celana jeans lebar serta kaos kebesaran milik adik kembarku dalam misi menyamar menjadi laki-laki.
Aku. Pasti. Sudah. Gila.
Aku berani bertaruh bahwa aku pasti sudah gila!
Penekanan di kata itu! Gila!
Jelas, musim panas di kota Tokyo, sekitar 35 derajat celcius sudah melelehkan bagian logikaku hingga aku tidak bisa berpikir secara jernih.
"Oh, Tuhan! Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumamku pelan. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Bisa kulihat beberapa anak laki-laki yang datang dengan kopernya masing-masing. Mereka terlihat bersemangat, ceria, dan oh, sangat jantan. Maksudku, mereka 100% laki-laki! Aku akan berada di antara mereka yang seluruhnya adalah laki-laki!
Tanganku terangkat untuk menyentuh helaian rambut pirang yang kujadikan poni di depan dahiku. Kemudian, berpindah ke bagian kepalaku dimana rambut pirangku dikuncir satu seperti gaya Len biasanya. Sekarang, mendadak aku mulai mencoba mempertimbangkan diri untuk memotong seluruh rambutku sehingga aku bisa terlihat seperti laki-laki tulen pada umumnya.
Yang botak pasti laki-laki kan? Aku nggak mungkin salah kan?!
Rasa panik menguasai hatiku. Oh, tidak. Aku tidak alergi kepada laki-laki, maksudku, aku bisa berkomunikasi dan bersahabat bersama mereka, tapi tetap saja, menjadi satu-satunya yang berbeda dalam arti sebenarnya di antara rombongan itu akan sangat memberikan perasaan tidak nyaman.
Mencoba membuat jantungku yang berdebar cepat agar melambat, aku menarik napas panjang dan merapikan poniku. Len bilang, Crypton adalah sekolah yang membebaskan setiap muridnya memiliki gaya model rambut seperti apapun. Karena itulah, dalam usaha penyamaran sebagai Kagamine Len, aku tidak perlu memotong rambut sebahuku yang indah.
Kurasa Len memang tahu bahwa aku suka sekali dengan rambutku. Oh, betapa aku selalu suka menyisirnya sepanjang hari sambil melihat di depan cermin. Bagian dari tubuhku yang paling kusuka adalah rambutku. Aku suka sekali dengan warna terangnya bagaikan cahaya matahari itu.
Oke. Sekarang, kesampingkan dulu masalah rambut itu. Jelas aku punya masalah lebih besar yang harus dikhawatirkan.
Len sudah memastikan agar aku terllihat persis seperti dirinya. Dia mengajari aku bagaimana terlihat macho seperti laki-laki tulen. Aku hanya perlu membusungkan dadaku (yang ditutupi oleh balutan kain di balik kaos longgar Len), mengangkat dahuku saat bertemu dengan orang-orang, dan merendahkan suaraku saat berkomunikasi dengan orang lain.
Adikku bilang itu semua akan berhasil dan aku tidak akan mendapatkan kesulitan apapun.
Dan oh, tentu saja aku juga berharap begitu!
Jadi, setelah mencoba memperbesar rasa percaya diriku, aku melangkah masuk melewati gerbang tinggi Crypton.
"Aku Kagamine Len. Len. Len. Len. Aku laki-laki."
.
(semoga sugesti ucapan itu membantu)
.
.
Kakiku mulai menapaki batuan yang disusun membentuk jalan. Wajah semua orang terlihat ceria. Mereka mengobrol satu sama lain. Mereka menyapa satu sama lain.
Aku memperhatikan ketika tangan-tangan mereka yang besar saling beradu. Aku memperhatikan ketika bahu-bahu kuat mereka saling bertabrakan. Aku memperhatikan ketika ludah mereka bercampur di atas tanah saat mereka saling meludah
(yuck! Menjijikkan! Aku tidak tahu laki-laki akan sangat jorok seperti ini! Len tidak bersikap begini! Papa juga tidak! Teman sekolahku tidak!).
Aku memperhatikan ketika mereka mengadu kekerasan kepala mereka dengan saling membenturkannya (aku tidak tahu apakah mereka bodoh atau tidak bisa merasakan sakit sebenarnya?!). Aku memperhatikan begitu banyak tingkah laku ganjil begitu memasuki kompleks Crypton lebih jauh lagi.
Well, Len memang sudah memperingatkan aku tentang itu semua, tapi tetap saja, melihatnya secara langsung dengan kedua mata kepalamu adalah momen yang sulit untuk dimengerti. Aku teralu takut untuk membayangkan kehidupan asramaku di Crypton selama musim panas ini bersama laki-laki menjijikkan, bodoh, dan—oh—aku ingin pulang!
Tanganku merogoh saku jeansku, mengeluarkan ponselku, dan menelepon nomor orang yang telah menempatkanku dalam kekacauan ini!
Adik kembarku, Kagamine Len!
"Aku mau pulang!" Itulah kata pertama yang kujeritkan ketika teleponnya tersambung. Aku tidak perlu menunggu sapaan dari Len, aku hanya merasa aku sangatsangatsangatsangatsangatsangatsangat (sudahkah itu menekankan semua perasaan frustasiku?) menyesal karena mau memenuhi permintaan adikku.
Anggap aku bodoh memang karena sudah menerima permintaan itu, datang kemari, dan kemudian menyesal. Maksudku, aku memang sudah tahu bahwa ini memang sudah pasti terjadi, tapi tetap saja, kukira ini semua tidak seburuk apa yang baru saja kulihat!
"Neechan..." Suara Len dengan nada sendu terdengar. Oh, betapa aku tahu adikku memang memiliki nasib tidak seberuntung aku. Di saat aku bebas melakukan segala hal yang kuinginkan, dia sama sekali tidak memiliki kebebasannya sama sekali. Harus menuruti ambisi ayahku, harus melakukan ini dan itu, harus memendam mimpinya...
Aku tahu seharusnya aku tidak boleh berbuat egois...
Tapi...
Aku menarik napas panjang. Hanya sepanjang liburan musim panas, Rin. Hanya sebulan lamanya, Rin. Tidakkah kau ingin memberikan Len kebahagiaan walaupun setitik?
Aku sendiri cukup tahu bahwa Len kehilangan senyuman bahagianya setelah dia masuk Crypton. Aku jarang bertemu dengannya karena dia tinggal di asrama sepanjang bulan, tapi saat ada momen dan aku bisa melihat Len, dia memang tidak pernah terlihat tersenyum.
(bagaimana bisa dia tersenyum setelah dia dipaksa membuang semua impiannya dan melakukan segala hal yang tidak disukainya?)
Aku menarik napas panjang dan memejamkan mata. Hanya sebulan, Rin. Dengan sebulan ini, Len pasti bahagia. Itu pasti. Bersabarlah.
"Len," bisikku pelan, tapi aku yakin dia pasti bisa mendengarnya. "Aku sayang padamu, Adikku tersayang. Memasaklah sepuas apa yang kau inginkan di Hokkaido." Dan tersenyumlah secerah mentari seperti senyummu dulu.
"Neechan?" Aku bisa merasakan perasaan khawatirnya disana.
"Hei, Crypton tidaklah seburuk itu!" sahutku cepat agar terdengar ceria.
"Kau bohong, Rin-neechan." Len berkata dengan datar.
"Yah, tidak menyenangkan dan cenderung mengerikan memang, tapi kurasa aku akan terbiasa dengan itu semua." Senyumku melebar seolah Len dapat melihatnya. Dia memang melihatnya—secara tidak langsung, lewat perubahan gaya bicara, manusia cenderung berbicara berubah-ubah sesuai dengan ekspresinya. "Bagaimana denganmu? Sudah sampai bandara?"
Len tidak mau menjawab. Aku yakin dia pasti masih mengkhawatirkan aku.
"Len, aku sayang padamu." Aku mengangguk yakin. "Jadi, bersenang-senanglah disana, oke? Aku... yaah, aku cuma masih belum terbiasa, jadi aku pasti akan banyak mengoceh nggak jelas. Tapi, seriusan deh, aku sayang kamu."
"Rin—"
"Jangan mencoba-coba kembali dari Hokkaido sebelum liburan musim panas berakhir atau aku akan mencekikmu! Oke? Aku janji padamu aku akan baik-baik saja!"
"Aku..." Suaranya terdengar lemah. "Aku janji aku tidak akan menyusahkanmu lagi setelah ini, Neechan. Aku sayang padamu."
"Aku tahu dan aku juga menyayangimu." Aku tersenyum sambil mengangguk pelan.
Lantas, sebuah dorongan keras pada pundakku hingga membuatku terjatuh ke lantai beton Crypton. Aku meringis pelan saat merasakan benturan pada lututku dan bahkan aku bisa melihat ponselku terlempar sekitar dua meter di hadapanku.
Siapapun yang barusan mendorongku adalah orang idiot!
Aku segera berdiri dan bersiap menyembukan semua kemarahanku ketika suara melengking kembali menyergap hatiku.
"Idiot!" serunya dengan tawa lebar. "Kenapa kau biarkan aku mendorongmu, Len?! Fuck the shit off! Jangan menganggapku lemah!"
Aku mengerjap pelan dan memperhatikan sosok yang baru saja menyerangku. Aku mengenalinya dari cerita Len. Oliver Stuart. Kelahiran Inggris, besar di Kanada. Pemuda pirang dengan perban di bagian mata kirinya. Dan satu hal paling spesifik darinya adalah mulut kotornya yang membahana.
"Jadi, apa maksudmu barusan?" tanyaku dengan ekspresi datar.
"Menguji kekuatanmu dan kekuatanku! Nggak kusangka kamu jadi tambah lemah setelah liburan!" Oliver tertawa hingga membuat mata kuningnya menyipit. "Tapi kamu lebih bodoh lagi! Apaan sih, menelepon Mami tercinta? Manja banget!"
Oh, aku bahkan langsung membencinya di pertemuan pertama kami! Aku sama sekali tidak habis pikir bagaimana Len bisa tahan dengan bersahabat dengan cowok pirang dengan mata kuning terang bagaikan kucing itu. Kupikir, luka di mata kirinya itu akibat dari tindakannya yang suka asal bicara. Seandainya mulutnya bisa lebih sedikit dijaga, aku yakin dia bisa cukup terkenal di antara kalangan para gadis. Toh dia memang memiliki wajah imut khas anak SMP yang baru saja masuk SMA, sedikit unsur kepolosan dan kekanakan yang tercampur secara merata.
"Oh, hai, Oliver. Terima kasih karena sudah mendorongku dan melemparkan ponselku ke lantai. Aku nggak akan lebih berterima kasih atas semua yang sudah kau lakukan pagi ini."
Oliver tertawa lebar. Aku benci melihatnya tertawa. Oh, Len, aku tidak suka kau berteman dengan anak ini! "Mencoba bersikap sarkastik, Len? Duuh, nggak cocok sama mukamu tahu!"
Aku tahu. Aku tahu. Setelah summer camp berakhir, aku akan kembali ke Crypton hanya untuk menyumpal mulutnya!
Mencoba mengabaikannya, aku berbalik untuk mengambil ponselku tadi. Namun, mataku justru menangkap ponsel itu berada di tangan pemuda berambut perak yang menatapku dengan sedikit takut-takut.
"Ini... Len..."
"Oh, berhentilah bersikap layaknya pecundang, Piko!" seru Oliver cepat. Si bule pirang itu segera berpindah tempat dan merangkul erat si perak. "Len nggak akan gigit kamu. Benar kan?"
Aku tertawa. Setidaknya aku bersyukur karena aku bertemu dengan dua orang sahabat baik Len. Satunya, Oliver Stuart, menurut data yang kudapat dari Len, dia sangat berprestasi di olahraga hoki. Kurasa dia pintar sekali dalam memprofokasi lawannya dengan mulut kotornya.
Yang satu lagi, Utatane Piko, seseorang yang sangat berbakat dalam trek lari, tapi bersikap teralu pemalu. Kurasa, itulah sebabnya dia sangat berbakat dalam berlari—termasuk lari dari kehidupannya—apa sih yang kupikirkan?
Aku menarik napas panjang dan tersenyum pada mereka berdua. "Thanks, sobat."
Piko menaikkan sebelah alisnya dan menatapku curiga. "Kamu... sakit ya, Len?"
Degup jantungku bertambah cepat secara tiba-tiba. "Ke-kenapa memangnya?"
"Ahh... benar juga." Oliver mengangguk setuju sambil menatap wajahku. "Suaramu agak berubah ya?"
Aku berdehem cepat dan memberikan tatapan sayu. "Aku... aku kena flu musim panas." Suaraku sengaja aku rendahkan agar terlihat seperti laki-laki pada umumnya.
"Wow! It's so damn hurting like a shit, man! Aku nggak bisa bayangin gimana perasaanmu dalam menghadapi cuaca sepanas ini dengan kepala pusing, telinga berdenging, dan terus-terusan bersin tanpa henti. Menyakitkan banget pasti!"
Aku mengangguk setuju dengan cepat. "Kau benar, Oliver! Benar-benar tersiksa!"
Piko masih menatapku lama. Aku tidak bisa menebak apa yang ada di pikirannya sekarang, tapi kurasa itu adalah hal yang teramat-amat membahayakan keberadaanku. Dalam hati, aku terus-terusan berdoa agar semuanya lancar.
"Oh... aku punya vitamin di tas kalau kau mau."
Terima kasih, Tuhan! Terima kasih!
"Jadi, Len, kamu ngapain aja selama liburan?" tanya Piko kemudian. Kami bertiga berjalan secara beriringan menuju wilayah asrama Crypton.
Aku mengangkat bahuku, mencoba bersikap santai. Tentu saja, semua kebohonganku sudah dirancang sedemikian rupa. "Aku latihan sepak bola bersama Papaku. Kami menghabiskan waktu dengan keringat yang membanjiri tubuh. Bahkan aku sampai lupa merasakan kakiku sendiri!" teriakku bersemangat.
Piko hanya menatapku datar untuk sesaat. "Kukira kamu benci sepak bola."
Aku mengatupkan mulutku. Apa yang dia bilang barusan?
Oliver tertawa dan menepuk bahuku. "Kurasa demamnya membuat keperibadiannya berubah, Piko."
Aku melepaskan diri dari Oliver dan Piko. "Aku nggak ngerti apa yang kalian bicarakan."
Oliver dan Piko berpandangan untuk sesaat. Kemudian, si pirang dengan mata kiri diperban itu melanjutkan dalam nada pelan, sama sekali berbeda dengan caranya bicara padaku pertama kali tadi. "Semenjak kamu dikeluarkan dari tim sepak bola, kamu benci olahraga itu dan bersumpah untuk tidak menggelutinya lagi. Dan kamu pindah ke kelas atletik bareng Piko kan? Ingat?"
Aku tidak pernah tahu hal ini.
Di rumah, Len selalu bersikap manis di depan Papa dan menceritakan segala hal yang dia lakukan di lapangan bola.
Adikku nggak mungkin berbohong cuma untuk menyenangkan hati Papa kan?
"Aah... kenapa aku dikeluarkan?"
Oliver mengerjap pelan. "Kamu beneran nggak ingat apa-apa?"
"Aku nggak—"
Suara nyaring kemudian menelan suaraku sendiri. Semua orang berbalik untuk melihat mobil parade Crypton berjalan mendekati kami semua. Di belakangnya, terdapat deretan orang-orang yang mengenakan sepatu roda.
Aku menutup telingaku untuk mencegah suaranya meracuni pikiranku. Aku bisa melihat Oliver sibuk menyumpah walaupun aku juga sama sekali tidak bisa mendengarnya.
Kemudian, pekikan serta sorakkan ramai terdengar. Barisan parade itu kemudian membimbing kami semua menuju depan asrama Crypton, sebuah bangunan dengan unsur kecoklatan yang terasa hangat dan nyaman. Aku bisa melihat pilar tinggi besar di dekat pintu masuknya serta jendela dari kayu yang menambah kesan klasik.
Di bagian kanan dan kirinya, terdapat taman-taman dengan pepohonan yang mengarah ke daerah lebih rendah. Aku tidak bisa menebak apa isi daerah yang lebih rendah itu, tapi kukira tidak akan jauh dari lapangan olahraga jenis apapun itu.
Suara nyaring seperti nyanyian itu berhenti dan orang-orang yang mengenakan sepatu roda melaju mengitari barisan kami.
Aku mengerenyitkan dahiku. Kalau ini semacam pesta penyambutan summer camp, kurasa ini adalah penyambutan paling berisik yang pernah kualami!
"Senang menyambut kalian kembali disini!"
Suara seseorang kembali menggelegar. Aku menyipitkan mataku untuk melihat sosok merah yang berdiri tepat di atas mobil parade tadi. Rambutnya yang dikuncir satu terbang ke belakang dan menambah efek dramatis. Pantulan sinar matahari menghalangiku untuk melihat wajahnya secara persis, tapi Len sudah menceritakan segalanya padaku dan kutebak sosok itu adalah Kasane Ted, Ketua OSIS Crypton.
"Tentu saja, para pecundang seperti kalian akan mengingat momen summer camp yang berharga." Suaranya terdengar mantap dan berat. "Aku, Kasane Ted, akan memastikan bahwa pengalaman pertama kalian di summer camp adalah momen paling berkesan dalam hidup kalian!"
Sorakan dan teriakan ramai terdengar dari sekelilingku—dari barisan orang-orang yang mengenakan sepatu roda itu. Aku bisa menebak kalau mereka adalah senior Len, orang-orang yang bebas melakukan apapun selama summer camp. Termasuk mengusili junior mereka.
"Kuharap aksi bullying tidak terjadi disini." Aku melirik Piko yang menundukkan kepalanya, tampak ketakutan. Aku melirik Oliver yang nyengir lebar seolah tidak ada yang ditakutinya. Betapa Len pintar memilih sahabat. Kombinasi yang begitu pas antara si penakut dan si pemberani.
"Kalian siap?" Suara Ted kembali menggelegar. Entah kenapa aku bisa merasakan kalau pemuda berambut merah itu sedang tersenyum lebar.
"Yooooosh!"
"Memangnya mereka mau melakukan apa sih?" tanyaku pelan.
Piko menjawab dengan suara mencicit. "Menceburkan kita ke dalam sungai belakang asrama. Kamu nggak tahu memangnya?"
Sungai. Air. Basah. Tembus pandang.
Tunggu dulu!
Aku melirik kaos longgar Len yang kukenakan sekarang. Baju itu cukup tebal sebenarnya, tapi kurasa air akan membuat serat-seratnya menempel pada kulitku dan—
Oh, Tuhan!
"Ceburkan mereka!"
Dan begitu Ted menyerukan kalimat itu, barisan sepatu roda itu buyar, masuk diantara barisan kami, menarik masing-masing target yang tidak terencana. Aku bisa melihat Oliver ditarik lebih dulu oleh pemuda perak yang menyeringai nakal. Oliver justru tertawa lebar ketika orang yang menariknya memaksanya berlari menuju area belakang asrama.
Beberapa orang di sekitarku juga menghilang begitu saja dalam kekacauan. Aku sama sekali tidak bisa menangkap penjelasan yang jelas. Kemudian, Piko ditarik dari sisiku begitu saja dan rasa panik melandaku.
Piko hampir terjungkal ketika ditarik secara tiba-tiba, tapi tubuhnya yang sudah dilatih membuat refleknya bagus hingga dia langsung lompat dan berlari mengikuti kecepatan orang yang menariknya.
Kurasakan jantungku berdebar kencang. Aku bisa mati. Aku benar-benar akan mati. Tidak ada cara untuk menghindar, Rin. Tidak ada.
Rasa panik menguasaiku dan membuatku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kemudian, seseorang dengan sepatu rodanya berlari menuju arahku. Dengan panik dan ceroboh, aku mencoba membalikkan tubuhku dan berlari dari arah jangkauannya.
Tentu saja, orang itu, laki-laki itu, terlampau cepat dan gesit dibandingkan aku yang perempuan ini. Telapak tangannya yang terasa dingin menyentuh pergelangan tanganku, memberikan efek mengerikan yang terasa menyiksa.
Kemudian, tanpa aba-aba, dia menyeretku berlari mengikuti yang lain.
Aku hampir lupa menarik napas ketika kurasakan kakiku bergerak cepat mengikuti kecepatan sepatu rodanya. Aku mencoba menahan kakiku di tanah, tapi kekuatannya teralu besar.
Dia sempat menoleh ke arahku. Matanya yang tajam bagaikan elang menatapku dengan pandangan aneh. Warnanya yang indah, hijau-kebiruan, sempat membuatku terhipnotis sesaat, tapi kemudian aku tersadar dan kembali melawannya.
"Aku nggak mau masuk ke sungai!" seruku cepat hingga hampir membuat lidahku tergigit. "Aku nggak bisa berenang!"
Dia mengerenyitkan dahinya, tapi tetap tidak memelankan langkahnya. Kemudian, dia membuang muka dan mempercepat laju sepatu rodanya.
Sialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsialsi alsialsialsialsialsialsialsialsialsialsial
"Hentikan!" teriakku sekali lagi sambil mencoba menahan diri di tanah rerumputan. "Aku nggak mau masuk ke sungai!"
Tapi genggamannya terasa semakin kuat.
Aku mengerjapkan kedua mataku, melihat Oliver yang tertawa lebar di dalam sungai dan Piko yang meringis karena basah. Tinggal sepuluh meter lagi dan tamatlah semuanya.
"Terima kasih, Neechan. Aku tahu, seharusnya aku tidak perlu merepotkanmu. Sudah kuduga, aku seharusnya menyerah terhadap impianku sebagai koki. Inilah takdirnya!"
Rasa takut memenuhi diriku. Kalau aku ketahuan disini, Len pasti akan dipaksa kembali dari Hokkaido dan itu berarti merelakan pelatihan koki itu.
Oh, tidak... tidak... ini tidak boleh terjadi padaku!
"Aku nggak mau!" teriakku keras ketika dua meter lagi, orang itu akan menceburkanku. Kutahan mati-matian hingga si pengendara sepatu roda hampir terpeleset. Namun, dia jelas lebih tangkas daripadaku.
Dia mengerem tepat sebelum dia tergelincir masuk ke dalam sungai. Dengan alis terangkat sebelah, dia menatapku tajam. "Murid kelas satu jangan banyak tingkah!" sahutnya dengan nada dingin.
Aku mengigit bibir bawahku, balas menatapnya tajam. "Aku nggak peduli! Aku nggak mau nyebur ke sungai itu, tolol!"
Semua orang terperangah. Ya... aku bisa merasakan itu dari tatapan mereka yang mengarah padaku.
"Aku nggak mau basah!"
Orang itu memandangku dengan ekspresi dingin kemudian menarik paksa tanganku. Untunglah aku tidak bergeming!
"Lepaskan tanganku, Senpai!"
Dahinya berkerut dan dia menarikku dengan lebih kuat lagi. Aku terjengkang, jatuh ke hadapannya, sementara tanganku tidak sengaja mendorong bahunya, membuatnya melepaskan pergelangan tanganku pada saat yang sama, hingga sepatu rodanya membantu gaya gravitasi dan membiarkannya terjatuh ke dalam sungai.
Bunyi ceburan terdengar jelas di telingaku saat aku bisa melihat orang itu, cowok dengan rambut sewarna iris matanya tadi, biru-kehijauan, muncul dari bawah air dengan ekspresi marah.
Setidaknya aku tidak basah.
Kemudian, suara tawa memenuhi gendang telingaku. Semua orang mengarahkan telunjuk mereka padaku dan pada orang yang kudorong paksa ke sungai. Hembusan angir menerpaku ketika pemuda berambut biru gelap muncul secara tiba-tiba di hadapanku dan membantuku berdiri.
Tawanya terasa amat hangat terdengar dan membuatku terbius sesaat oleh wajah tampannya serta iris sebiru lautan yang seolah menyedotku paksa ke kedalamannya.
Aku terpesona.
"Hebat sekali kau bisa membuatnya terjungkal!" Suaranya terdengar hangat. Kemudian, dia melongokkan kepalanya ke belakangku, melambaikan tangan ke arah bawah. "Jadi, kau terjungkal atau apa, Mikuo?"
"Diam, bodoh!" Aku bisa mendengar teriakkannya dari arah bawah yang diikuti suara cipakan air.
"Seriusan deh!" Pemuda biru itu masih tertawa di sebelahku. Dia menatap mataku dalam-dalam hingga rasanya mampu melelehkan tubuhku. Oh, betapa dia sangat tampan! "Kamu hebat banget tahu!"
"Berhentilah memujinya!" Suara orang yang menarikku terdengar semakin dekat. Aku menoleh dan tahu-tahu melihat telunjuknya yang ditodongkan tepat di depan wajahku. "Berhentilah bersikap main-main, bocah!"
Oh, ayolah! Mereka paling hanya berbeda satu atau dua tahun! Sensitif banget sih! Tapi di saat seperti ini, minta maaf adalah tindakan paling tepat. "Maaf, Senpai," sahutku pelan. "Aku nggak sengaja."
"Kau pikir aku bodoh apa?!"
Tentu saja.
"Kau pikir alasanmu itu masuk akal apa?!"
Nggak sih, tapi aku nggak punya alasan lain untuk dilontarkan kepadamu.
"Maa~" Pemuda biru tadi berdiri diantara aku dan si penarik bodoh yang basah itu. "Sudahlah, Mikuo. Dia nggak sengaja."
"Apa kau bilang, Kaito?!" Dia menggeram. "Nggak sengaja?!"
Si biru mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum santai.
"Dengar, bocah idiot," sahutnya sambil mengarahkan telunjuknya padaku, "aku bersumpah aku akan membalas tindakanmu ini!"
Kurasakan rasa takut segera mencekamku, tapi aku mengabaikannya. Toh aku memang tidak salah apa-apa. Dia yang membuatku tergelincir. Dia juga yang membuat dirinya sendiri tercebur ke sungai.
Tapi, logikaku menyuruhku untuk minta maaf. Tidak baik menimbulkan kekacauan di saat misiku selama summer camp belum dimulai dan lagipula, aku tidak mau membuat musuh untuk adikku tercinta.
"Maaf, Senpai!" Aku membungkukkan tubuhku dalam-dalam, berharap dengan begitu dia akan melupakan semuanya.
Namun, suara Ted segera membuatku berdiri tegap kembali. "Berikan tepuk tangan yang hebat untuk teman kalian yang satu ini! Dan... Mikuo-kun, tidak ada yang boleh marah di penyambutan peserta summer camp bukan?"
Aku memperhatikan saat pemuda biru-kehijauan itu memutar kedua bola matanya dan berjalan pergi mendekati gedung asrama. Aku tidak bisa menebak apakah dia memaafkan aku atau tidak.
Pemuda biru di sebelahku sama sekali tidak bisa berhenti tertawa dan beberapa teman seangkatanku, termasuk Piko yang baru saja keluar dari sungai, menatapku dengan penuh kekaguman.
"Hebat sekali, Kagamine-kun!"
Siapa sih yang suka dipuji?
"Bahkan Mikuo-senpai si kaki besi bisa takluk di hadapanmu!"
Kaki besi? Oke. Aku akan tanyakan itu pada Oliver serta Piko nanti.
"Ternyata kau memang bisa diandalkan!"
Oh, tentu saja! Dalam hal apapun dulu memangnya?
"Len! Len! Len!"
Kupikir, agak menyenangkan juga menjadi sosok dikagumi, tapi bisakah namanya diganti sebagai Rin?
Oh, aku teralu banyak meminta rupanya.
.
.
.
Jadi, setelah koper kami dikumpulkan di bagian depan pintu belakang asrama, kami disuruh berdiri berbaris kembali. Para senior berdiri mengitari kami layaknya penjaga. Tentu saja, seluruh dari teman-teman seangkatanku, termasuk Piko dan Oliver, dalam keadaan basah kuyub. Namun, sepertinya tidak ada yang protes. Air jelas menurunkan suhu tubuh mereka yang terbakar sinar matahari musim panas.
Dan diam-diam aku iri pada mereka.
Kasane Ted, sang ketua OSIS, berdiri di salah satu bangku yang dijadikan podium. Dia terlihat cemerlang sekarang—aku berdiri dua baris dari depan dan bisa melihat wajahnya dengan jelas. Hidungnya mancung dengan tulang pipi tinggi. Dengan rambutnya yang panjang, aku bisa saja salah mengiranya sebagai salah satu cewek yang cantik.
Matanya berwarna kecoklatan tua hingga aku bisa mengiranya sebagai warna merah. Dia mengerjap pelan dan tersenyum begitu lebar hingga lesung pipitnya muncul. Kuakui, dia termasuk dalam tipe cowok yang ingin kukencani.
"Terima kasih karena sudah mengikuti tradisi summer camp Crypton," Ted berkata dengan senyum, "walaupun ada seseorang di antara kalian yang teralu takut untuk terkena air." Kurasakan matanya mengarah padaku. "Kenapa kau tidak mau masuk ke sungai?"
"Aku... tidak bisa berenang, Senpai."
Ted mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Kedalaman sungainya tidak sampai dua meter loh."
"Aku... trauma, Senpai. Pernah hampir tenggelam dulu."
Ted mengangguk-angguk lagi. "Yap. Teman kita yang satu ini..." Dia berbisik kepada seseorang berambut perak yang tadi menarik Piko ke sungai, "Kagamine Len," dia mungkin menanyakan namaku tadi, "sungguh hebat karena berani membuat salah satu seniornya tercebur ke dalam sungai menggantikannya." Mata merahnya bergerak ke segala arah. "Mana Mikuo?"
"Ganti baju, Ted!" Sebuah suara menjawabnya. Aku segera menolehkan kepalaku dan melihat pemuda biru gelap itu sedang tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya. "Bentar lagi selesai kok!"
Ted menganggukkan kepalanya. Aku mulai berpikir bahwa cowok ini sudah berkali-kali menganggukkan kepalanya.
"Oke." Dia kembali bicara kepadaku dan seluruh teman-teman seangkatanku. "Kalian sudah bisa menebak apa acara selanjutnya." Dia tersenyum. "Pembagian asrama summer camp."
Aku tahu itu. Len juga sudah bilang padaku. Asrama summer camp berbeda dengan asrama sebelumnya. Satu kamar akan diisi dua orang dan jika kau beruntung, kau bisa mendapatkan kamar sendirian. Ini semacam permainan keberuntungan saja sebenarnya.
Dan oh ya, tentu saja, Kagamine Rin jelas memiliki persentase keuntungan sekitar 85%! Aku harus mendapatkan kamar sendirian itu! Harus! Apapun yang terjadi!
Ted berdehem sekali lagi. "Sayangnya, untuk summer camp tahun ini, aturan sedikit diubah."
Semua orang, termasuk aku, menatap cowok berambut merah itu. Sama sekali tidak mengerti maksudnya. Apa yang diubah?
"Kami, badan OSIS, menetapkan aturan bahwa asrama kalian akan ditentukan secara acak, ambil nomor, dan kalian akan ditempatkan dengan seseorang yang berbeda angkatan dengan kalian."
Itu baru konyol!
"Kami melakukan ini semua untuk menghapuskan gap antar angkatan yang terjadi di Crypton. Dengan bersikap rukun dengan teman sekamar, itu sudah membantu kalian mengenal angkatan atas kalian. Benar bukan begitu, tingkat satu?"
Semua teman seangkatanku mengangguk ragu-ragu.
"Tingkat senioritas memang bagus di Crypton," lanjut Ted lagi. "Kalian harus mengapresiasikan usaha kakak kelas kalian yang lebih dahulu melatih tubuh dan pikirannya disini. Akan tetapi, aku tidak mau terjadi permusuhan antar angkatan. Kalian yang sudah masuk ke klub olahraga masing-masing pasti tahu betapa menyebalkan senior yang suka memerintah kalian." Ted tertawa diikuti oleh para senior di sekitarnya. "Karena itulah, aku yakin paling tidak kalian memendam perasaan nggak suka yang merupakan bibit awal dari rasa benci."
Aku tidak membenci siapapun disini sebenarnya karena aku tidak mengenal siapapun disini.
"Ditambah lagi, summer camp adalah masa-masa pelatihan berat yang dapat membuat pikiran," dia melambaikan tangannya menuju kepalanya, "tubuh," ke seluruh anggota tubuhnya, "dan hati," dengan gemulai dia menunjuk dadanya, "lebih cepat lelah. Emosi tidak stabil dan perkelahian tidak bisa dihindarkan. Ooh, tidak... aku tidak mau Crypton dikenal sebagai sekolah anak-anak kasar bau keringat, apalagi di masa kedudukanku, jadi karena itulah peraturan ini dibuat."
Intinya, orang ini hanya mementingkan dirinya sendiri.
"Baiklah, tidak ada yang protes bukan?"
Memangnya bisa protes?
"Kalau begitu," dia menepukkan kedua tangannya, "bawa kemari kotak undiannya!"
Dua orang dengan jas almamater rapi segera muncul dari sisi kanan dan kirinya sambil membawa kotak putih berlambang Crypton. Dengan gerakan gemulai, Ted mengayunkan tangan, menyuruh barisan depanku untuk segera berjalan mendekat untuk mengambil nomor kamar.
Semua orang kelihatan gugup dan berkeringat. Aku berani bertaruh bahwa dalam hati, mereka pasti sedang berdoa mati-matian untuk mendapatkan teman sekamar yang baik hati dan menyenangkan. Dan termasuk aku tentu saja. Bedanya, aku berdoa mati-matian untuk mendapatkan kamar kosong.
Kemudian, tibalah giliranku untuk maju. Ted tersenyum lebar padaku—maksudku pada setiap orang yang akan mengambil nomor kamar. Aku tersenyum tipis pada laki-laki dengan poni tidak rata yang memegang kotak putih itu. Dia hanya mengerjapkan kedua matanya sekilas sebagai balasannya.
Aku mengulurkan tanganku dan merasakan lembaran kertas nomor. Tolong! Kumohon, Tuhan, biarkanlah aku mendapatkan kamar kosong!
Kemudian, setelah kurasa aku sudah memegang kertas yang benar, aku menariknya keluar dan berbaris di sebelah kanan, tempat teman seangkatanku yang lain sudah berbaris disana. Aku melihat Piko yang tersenyum dengan gemetar. Kelihatannya dia mengigil karena insiden kolam tadi.
Setelah kami semua selesai mengambil nomor, Ted kembali naik ke bangku tadi dan berbicara dengan nada formal. "Kalian sudah mengambil nomor kamar yang ditakdirkan hanya untuk kalian. Ingat, tidak akan ada acara tukar-menukar nomor atau kalian akan berakhir di lapangan basket, terikat pada tiang seharian!"
Ancamannya jelas membuat semua orang ketakutan. Berdiri di tengah lapangan dalam cuaca sepanas ini tentu saja bukan ide yang bagus.
"Kalian akan membacakan nama kalian serta nomor kamar kalian satu persatu dan..." Dia menoleh ke orang-orang yang berbaris di sebelah kiri, murid tingkat dua dan tingkat tiga. "Aku minta kalian mengakui diri kalian sebagai teman sekamar mereka. Mengerti?"
Murid tingkat dua dan tiga mengangguk dalam senyuman tipis. Mereka kelihatannya tidak suka dengan sistem baru ini, tapi tidak ada yang protes pada Ted. Kuasumsikan, murid tingkat dua dan tiga Crypton adalah pengecut.
Oke. Jadi, pembacaan kamar dimulai. Beberapa diantaranya disebutkan mendapatkan kamar kosong dan sungguh, aku iri pada mereka. Aku harus menjadi salah satu diantara mereka yang mendapatkan kamar kosong juga!
Kemudian, tibalah giliran Piko yang maju selangkah dari barisannya, memegang kertas tadi dengan gemetaran, dan berbicara dengan suara hampir tercekik. "Utatane Piko... asrama timur nomor 4."
Cowok berambut perak yang mirip dengan Piko segera maju ke depan sambil mengangkat tangan kanannya. "Ng. Honne Dell, tingkat tiga. Salam kenal."
Aku bisa melihat Piko tersenyum lebar penuh kelegaan dan dia pun kembali mundur ke barisan. Setidaknya, dia termasuk beruntung karena bisa sekamar dengan orang yang sudah dikenalnya.
"Selanjutnya!"
Aku bisa melihat Oliver maju selangkah di depan barisan. "Oliver Stuart, asrama barat nomor 15."
"Yosh! Salam kenal, teman sekamar!" Kali ini, pemuda berambut biru yang super keren tadi mengangkat tangannya. "Shion Kaito." Dia mengedipkan sebelah matanya dengan senyuman jahil. "Panggil aku Kai-kun ya."
"Shit!" Aku bisa mendengar Oliver menyumpah. Dia mundur kembali ke barisan dengan muka berkerut. Kelihatannya, dia tidak suka dengan pembagian asrama ini.
"Selanjutnya!"
Giliranku sekarang. Oh, Tuhan, tolong, biarkan aku mendapatkan kamar kosong!
"Kagamine Len," sahutku dengan suara mantap, "asrama barat nomor 16."
Tidak ada yang menyahut setelah aku bicara dan aku bersyukur. Itu artinya aku bisa dapat kamar—
"Ya!"
Aku mengangkat sebelah alisku. Darimana suara itu berasal?
Semua orang mengedarkan pandangan, tapi tidak ada yang tahu darimana suara itu berasal.
"Setidaknya, kau harus turun untuk memperkenalkan diri tahu," sahut cowok biru keren teman sekamar Oliver tadi.
Turun? Itu berarti... di atas?
Aku mendongakkan kepalaku dan melihat beranda salah satu kamar yang jendelanya terbuka. Seseorang berdiri disana sambil bersandar dengan ekspresi datar. Rambut biru-kehijauannya yang beberapa saat lalu kulihat masih basah, sekarang sudah tertiup angin dengan bebasnya.
Dia... yang tadi kudorong masuk ke sungai kan?
Bisikan rendah mulai terdengar di belakangku, tapi teralu rendah untuk bisa kutangkap dengan indera pendengaranku.
"Hatsune Mikuo, tingkat dua."
Aku mengerjap menatapnya.
"Dan panggil aku Senpai, Idiot!"
.
.
Dan... itulah kali kedua aku bertemu dengan Pembuat Masalah Nomor Satu di dunia...
Hatsune Mikuo... idiot besar yang pernah kukenal.
.
.
tobecontinued
