"Bukankah namamu Kagamine Len?"
Mendadak mulutku terasa kering.
"Kenapa kamu bicara seolah 'Len' adalah orang lain?"
Aku merasakan jantungku berdebar kencang. Tanganku terasa lengket berkeringat. Rasa panik menguasai pikiranmu, memerintahkan mulutku untuk menutup secepat mungkin.
Kenapa aku selalu berkata sebelum berpikir sih?!
Circle.
(sekali dimulai, titik itu akan terus berlanjut, seperti lingkaran yang berulang-ulang)
.
.
Aku mengerjap menatapnya. Rasanya, aku ingin meraih pisau makan dari meja terdekat dan menghujamkannya ke jantungku—tipikal lari dari kenyataan.
Aku mengigit bibir bawahku, mencoba memikirkan solusi dari tindakan-ngomong-tanpa-mikir barusan. "Umm..." mataku sengaja berputar ketika iris biru kehijauan itu menatapku lama. "Maksudku..."
Di sisi lain, aku bisa merasakan tatapan aneh semua orang, termasuk juga Kaito-senpai yang memandangku dengan penuh selidik. Senyuman yang tak terbaca apa maksudnya terbentuk di wajahnya dan membuatku merasa sangat-sangat takut.
Apa aku sudah ketahuan?
"Len-kun, kamu tipikal narsis seperti Kasane Ted ya?"
Aku menoleh ke arah Kaito-senpai, sama sekali tidak mengerti apa maksud dia mengatakan hal barusan. "Apa?"
"Yang selalu membanggakan dirinya seolah yang dia banggakan bukan dirinya." Kaito-senpai menyendok es krimnya dan kembali tersenyum padaku. "Mikuo-kun benci sekali dengan tipikal seperti itu. Iya kan, Mikuo-kun?"
Dengan takut-takut aku melirik pemuda berambut biru kehijauan di hadapanku. Dia masih menatapku lekat-lekat, seolah mencari sesuatu yang aku sembunyikan (dan sejujurnya aku takut dia menemukannya!).
Jantungku berdebar kencang. Aku tahu aku harus menatap matanya. Memalingkan wajah adalah tindakan yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang merasa bersalah. Jadi, aku beranikan untuk menatap wajahnya lekat-lekat. Aku menyadari bahwa dia punya iris mata yang indah, biru kehijauan, layaknya batu mineral yang memancarkan keindahan alam. Alis serta sebagian rambutnya memberikan kesan berantakan yang liar namun sekaligus menawan. Hidungnya yang mancung. Rahangnya yang kokoh. Bibirnya yang terlihat lembut—tunggu, kenapa aku menjadi begitu memperhatikan bagaiamana rupa wajahnya?!
Aku merasakan napasku terhenti ketika dia berjalan mendekatiku. Aroma mint menguar darinya—aroma kesukaanku, menyegarkan sekaligus menenangkan—membuatku mabuk untuk sepersekian detik. Aku bisa merasakan Kaito-senpai tersenyum, tapi aku tidak mengerti kenapa dia tersenyum di sebelahku.
"Kau Kagamine Len kan?"
Aku mengangguk pelan.
Dia menatapku lama. Begitu lamanya hingga membuat kakiku terasa mati rasa.
"Klub sepak bola nggak akan pernah menerimamu lagi. Selamanya."
Dan setelah itu, dia membalikkan tubuhnya, berjalan pergi, hanya meninggalkan aroma mint di sekitarku. Aku mengerjap sambil terengah-engah—kurasa aku benar-benar menahan napasku dari tadi.
"Baik-baik saja, Len-kun?" Tiba-tiba Kaito-senpai sudah berada di sebelahku. Dia tersenyum sambil mengangkat sendok es krimnya sementara mangkuk es krim tadi diletakkan di pangkuannya.
"Ku—kurasa..." Aku berkata lambat-lambat sambil berusaha menenangkan jantungku.
Kaito-senpai masih tersenyum padaku. "Yah, Mikuo-kun memang seperti itu. Semoga kau bisa tahan satu kamar dengannya selama liburan musim panas."
"Ehm... iya, Senpai."
"Hemm," mata biru laut itu terus-terusan menatap wajahku. "Nee, Len-kun..."
Aku balas menatapnya.
"Kau tahu, ada banyak hal yang menjadi alasan kenapa Crypton adalah sekolah idaman setiap orang."
Yeah, untuk orang-orang idiot kurasa...
"Tapi, aku penasaran denganmu, Len-kun."
Aku juga sebenarnya penasaran kenapa Len mau-maunya sekolah di tempat barbar seperti ini.
"Soal apa?"
"Apa yang... hemm..." Dia berhenti sejenak sambil memasang ekspresi berpikir. "Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan disini, Len-kun?"
"Aah... belajar olahraga?" jawabku ragu-ragu. Sesungguhnya, aku tidak mengerti kenapa Senpai harus bertanya seperti itu.
"Hemm," dia mengangguk-anggukkan kepalanya, "kau tahu saat break kemarin kakakku mengajak nonton banyak film drama. Ada salah satunya yang situasinya mirip dengan situasi kita sekarang."
"Maksud, Senpai?"
Kaito-senpai tersenyum padaku. "Ceritanya tentang cewek yang menyamar masuk ke sekolah khusus cowok demi menemui tokoh idolanya. Tentu saja, itu konyol kan?" Dia tertawa. "Maksudku... tidak mungkin ada seseorang yang berani melakukan itu kan? Bagaimana menurutmu?"
Aku mengerjap. Firasatku buruk.
Mendadak, aku merasa senyuman Kaito-senpai berubah menjadi senyuman penuh kemenangan. "Tapi kelihatannya, itu bukan hal yang konyol ya?"
Aku memaksakan diri tertawa. "Apa maksud, Senpai? Tentu saja itu konyol kan? Lagian, mana mungkin—"
"Justru itu, makanya aku tanya padamu," potongnya sebelum aku sempat mengelak lebih jauh. "Apa yang sebenarnya kau lakukan disini, Len-kun?"
Aku membeku.
"Kenapa kau berada di Crypton?"
Jantungku kembali berdebar kencang. Rasa panik menguasaiku kembali.
Aku menatap senyumannya dan mulai merasa takut...
Kalau aku bisa mengambil kesimpulan...
Aku merasakan dingin di pipiku ketika tangan Kaito-senpai mencubit pipiku. Dia masih tersenyum seperti barusan, tapi aku merasa ada makna yang tersembunyi disana. Seketika aku merasa terancam.
Tuhan... apa yang akan dilakukan pemuda gentleman ini sekarang?
"Kenapa kau ada di Crypton, Len-kun?" Lagi, pertanyaan yang sama. Aku bisa mencium napasnya yang berbau susu ketika dia berbisik begitu dekatnya denganku.
"Aku..."
"Lepaskan dia, Lelaki Homo!"
Aku mengerjap pelan dan melirik ke sumber suara. Bisa kulihat Oliver berdiri di dekat pintu ruang makan dengan stik hoki miliknya. Aku bisa merasakan tatapan tajamnya dan aura penuh kemarahan di sekitarnya.
"Jauhi dia, Lelaki Homo!"
Tunggu... Dia panggil Kaito-senpai apa barusan?
"Hai, Oliver-kun. Akhirnya berminat untuk turun dan makan malam bersamaku?"
"Sampai tubuhku membusuk pun aku nggak akan mau!" Dia menodongkan stik hokinya. "Menjauh dari Len sekarang juga atau aku akan memukul bokongmu dengan stikku!"
"Whooa!" Kaito-senpai segera melepaskan pipiku dan berdiri sambil tetap tersenyum. "Santai sedikit, Oliver-kun. Aku cuma bercanda."
Oliver berjalan mendekatiku dan membantuku berdiri sementara iris kuning cerah bagaikan harimau miliknya masih mendelik ke arah Kaito-senpai.
"Jangan coba-coba dekati Len!" sahutnya sinis. Aku menyadari bahwa Oliver sungguh terlihat membenci teman sekamarnya itu. Kurasa, kalau Kaito-senpai mengatakan sesuatu yang mampu memancing emosi Oliver, teman Len itu pasti akan memukulnya dengan stik hoki. Aku membayangkan adegan berdarah-darah di ruang makan ini.
Oliver melirikku dan aku bisa membayangkan apa yang ada di pikirannya: jangan, teralu banyak saksi disini. Kita bisa melakukannya nanti di tempat yang sepi.
Dan membuatku merinding karena dia seolah mengajakku untuk sekomplot dengannya dalam melakukan aksi mengerikan itu.
"You okay?"
Aku mengangguk pelan kemudian menatap wajah Kaito-senpai yang masih tetap terlihat santai. Dia bahkan sama sekali tidak merasa terdesak dengan kehadiran Oliver dengan aura pekat yang mengancamnya.
"Aku hanya sedang mengobrol dengan Len-kun, Oliver-kun."
"Aku tidak peduli apapun yang kau katakan," Oliver mengancungkan stik hokinya, "tapi kalau kau mencoba merayu teman-temanku, kau tahu akibatnya, Senpai!"
Kaito mengangkat bahunya. "Entahlah. Apa akibatnya jika aku merayumu, Oliver-kun, alih-alih teman-temanmu?"
Oliver mundur dengan ekspresi horor dan aku sama sekali tidak mengerti alasannya. Kenapa Oliver terlihat begitu membenci dan takut pada Kaito-senpai? Apa yang telah dilakukannya? Bahkan, kalau diingat-ingat lagi, bukankah sejak pembagian kamar, Oliver tidak menyukainya? Apakah karena dia mendapat teman sekamar dengan Kaito-senpai?
Kemudian, Oliver menarik tanganku dan membawaku keluar dari ruang makan. Aku sempat menoleh dan melihat Kaito-senpai melambaikan tangannya padaku. Sempat terbaca olehku gerakan mulut tanpa suara yang dilakukannya: kau belum menjawab pertanyaanku.
Seketika aku merasa takut. Pikiranku dilanda kebingungan. Apa aku sudah ketahuan?
.
.
.
Oliver membawaku menuju lobby utama asrama barat. Disana, kami duduk di sofa beludru berwarna kuning cerah—warna favoritku, lupakan, ini informasi yang tidak penting sebenarnya. Dia meletakkan tongkat hokinya di atas meja lalu menghela napas sambil menyandarkan punggungnya. Dia menatapku lurus dan dengan suara berat dia berkata, "jangan dekat-dekat dengan dia."
"Dia siapa?" Oh, tentu itu adalah pertanyaan bodoh. Tapi aku harus bertanya agar aku dan Oliver punya asumsi 'dia' adalah orang yang sama. Sering kali, aku selalu salah pemahaman mengenai arti 'dia' dan berakhir dengan kebingungan besar setelah pembicaraan usai, maaf saja kalau otakku tercipta dalam keadaan lambat.
"Tentu saja aku bicara soal Lelaki Homo itu!"
"Umm... siapa?"
"Shion Kaito, Len! Shion Kaito! Bukankah aku sudah memberitahumu sejak dulu?!" bentak Oliver kemudian.
Aku mengerjap. Lelaki Homo adalah Kaito-senpai. Kenapa Oliver menjulukinya seperti itu?
"Memangnya Senpai homo?"
Oliver menatapku seolah apa yang kutanyakan adalah sesuatu paling bodoh di dunia ini. Dia memberikan tatapan yang mengatakan: itu sudah jelas banget, Len! Masa kau nggak menyadarinya sih?!
Seketika aku merasa bodoh. Mana kutahu Kaito-senpai homo atau tidak. Yang bicara denganmu adalah Len, bukan aku! Aku Rin!
Aku menghela napas panjang. "Kenapa kau bisa ngomong kayak gitu?"
"Karena... karena..." Oliver langsung kehilangan kata-kata. Aku sudah tahu dari Len kalau temannya yang satu ini sering kali mengambil kesimpulan teralu cepat.
"Oliver," panggilku seraya menatap iris kuning miliknya. Dia balas menatapku. "Aku tidak tahu kenapa kau berpikir kalau Senpai itu homo, tapi menyebarkan hal itu di depan banyak orang bukanlah sesuatu yang baik."
"Aku tahu, tapi—" Dia menundukkan kepalanya. "Aku merasa panik, kau tahu. He just like... like he want to kiss you, damn! Dia... dia memegang pipimu seolah... aku... aku..."
Aku terkikik geli memperhatikan sikapnya yang terlalu berlebihan. Kurasa Senpai tadi tidak berminat untuk menciumku, hanya saja, aku memang merasa terintimidasi tadi. Aku merasa seolah Kaito-senpai ingin mengintrogasi aku tadi. Ataukah itu cuma perasaanku saja?
Aku menepuk pundak Oliver dan tersenyum lebar padanya. "Yah, apapun deh. Tapi makasih ya karena telah membawaku dari tempat itu."
Oliver hanya menatapku lama tanpa mengatakan apapun. Aku menaikkan sebelah alisku dan kembali menepuk pundaknya. "Kenapa, sobat?"
Dia terlonjak kaget dan kemudian membuang muka sambil mengerjapkan matanya. Seolah dia baru saja terbangun dari suatu hal yang mampu membuatnya melintasi alam khayal. Dengan cepat dia meraih stik hokinya dan berdiri.
Aku hanya menatapnya. "Kau marah, Oliver?"
"Nope!" Jawaban singkat dengan suara rendah. Ada yang aneh dengan dirinya.
Aku segera berdiri dan meraih tangannya, memaksanya untuk menatap wajahku. Ada yang aneh. Wajahnya yang putih dan berbintik sekarang dihiasi ronaan merah dan aku merasa telapak tangannya berubah mendingin.
"Kau nggak mendadak jadi sakit kan?"
"Big no, Idiot!" Oliver merengut dan meraih tangannya dari genggamanku. Dia menatapku lama dan kemudian membuang muka. "Besok... besok kau mau lari pagi nggak?"
"Hah?" Bangun pagi hanya untuk lari pagi? Buat apa melakukan hal menyusahkan seperti itu? Liburan musim panas adalah saatnya bersantai-santai bukan? Tidak ada sekolah, tidak ada sesuatu yang perlu dikerjakan, Mom juga tidak akan marah. Lantas kenapa disini aku harus lari pagi segala?
"Malas ah!"
Oliver menatapku heran. "Kenapa?"
"Kenapa? Karena aku ingin bangun siang. Memangnya salah ya?"
Oliver kembali menatapku seolah ucapanku adalah hal paling aneh di dunia ini. Nggak ada yang salah dengan bangun siang saat liburan kan?
Eh... tapi tunggu... Aku sedang berperan sebagai Len kan?
"Aah! Iya... maksudku... yap, aku sangat semangat untuk lari pagi!" Aku nyaris berteriak sambil tertawa. "Jadi, mau jam berapa kita lari besok pagi?"
"Sebelum matahari terbit," aku merasa tatapan Oliver masih agak aneh, tapi aku mencoba mengabaikannya. "Kau mau pergi bareng dari asrama atau gimana?"
"Aku nggak tahu lapangan atletik dimana. Bareng aja yah."
Dahi Oliver kembali berkerut. "Gimana caranya bisa nggak tahu dimana lapangan atletik padahal sebelum liburan kau dan Piko lari bareng terus disana?"
Aku mengerjap. Salah bicara lagi, Tuhan! Kenapa... kenapa aku selalu salah bicara sih?! Kenapa aku selalu bicara sebelum berpikir sih?!
"Maksudku... akan lebih menyenangkan kalau bareng kamu kesananya, Oliver." Aku tersenyum lebar. "Aku suka ngelindur kalau bangun pagi-pagi. Takutnya aku malah nyasar." Kemudian aku tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat janggal. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Harus terlihat normal. Terlihat santai.
Pada akhirnya, Oliver mengangkat bahunya. "Kau aneh ya. Masih kena pengaruh demam musim panas kemarin?"
"Yap!" jawabku cepat sambil diikuti tawa. "Kurasa aku juga teralu capek gara-gara penyambutan tadi siang." Aku tersenyum.
Dia mengangguk pelan.
"Mau ke kamar bareng?"
Dia kembali menatapku seolah apa yang kuucapkan adalah hal yang sangat aneh. Memangnya aneh dari segimananya sih?!
"Nggak deh. Aku mau ke ruang klub dulu." Oliver mundur selangkah. "Len, kalau kau masih merasa sakit, lebih baik nggak usah melakukan apapun dulu deh! Sikapmu ngelantur soalnya!"
Aku hanya terdiam menatap kepergian Oliver. Kurasa... aku memang nggak bisa seutuhnya menyamar jadi Len.
Sambil menghela napas panjang, aku berjalan kembali ke kamarku.
.
.
.
Ketika aku membuka pintu kamar, aku menemukan teman sekamarku sedang duduk di atas meja belajarnya sembari menelepon seseorang. Aku merasakan tatapannya yang tidak menyukaiku saat aku berjalan menuju sofa di dalam kamar. Aku mencoba membaca majalah, namun suaranya mengusikku sehingga aku sama sekali tidak punya pilihan lain untuk mendengarkan ocehannya.
Intonasi yang dia gunakan jauh lebih lembut dan lebih tenang. Kurasa lawan bicaranya sekarang adalah perempuan dan kalau melihat sedikit tatapannya yang malu-malu, kurasa mungkin dia sedang menelepon kekasihnya. Yah, aku memang punya sedikit bakat untuk mengamati seseorang lekat-lekat. Dan Mikuo-senpai memang orang yang sedikit gampang ditebak.
"Aku baik-baik saja... umm... yap... Pelatihan belum dimulai. Belum... aku belum makan malam. Kau sendiri?" Senyuman manis terbentuk di bibirnya dan membuatku sadar bahwa orang seperti dia bisa juga tersenyum seperti itu. "Tidak... Apa? Benarkah? Syukurlah. Dia... umm... sedikit menyebalkan." Aku merasa Mikuo-senpai melirikku ketika dia mengucapkan kata sifat barusan. "Yah, sudahlah. Kurasa aku akan terbiasa... umm... kau juga. Selamat tidur."
Dan kemudian dia mengakhiri teleponnya. Aku mendengar langkahnya yang mendekatiku dan setelah itu aku melihatnya duduk tepat di hadapanku.
"Yap. Kurasa aku tahu kebiasaan burukmu yang lain. Menguping."
Aku menatapnya dengan ekspresi sebal. "Yah, mau gimana lagi, salah Senpai sendiri yang bicara dengan suara keras."
"Ini kamarku, bego!"
"Ya ini juga kamarku sekarang, idiot!"
"Kenapa kau nggak keluar saja begitu ngelihat aku sedang menelepon? Kau nggak punya kebijakan privasi!"
"Mana aku peduli! Kenapa kau sendiri juga nggak keluar saja supaya obrolan mesramu nggak bisa didengar oleh siapapun?" Aku menjulurkan lidahku padanya. "Sana, pergi saja ke tengah lapangan dan meneleponlah sesuka hatimu!"
Dia menatapku datar. "Itu bukan urusanmu. Mati saja kau!"
Aku terperangah menatapnya. Tuhan, dia baru saja membentakku dengan suara paling keras. Memangnya apa salahku kali ini?
"Bisa nggak sih ngomongnya santai sedikit, Senpai?"
Dia menatapku tajam dan mendadak berdiri dari tempatnya. "Udara di kamar ini bau karena keberadaanmu, bocah!"
"Hah?!" Aku mendengus sebal saat melihat orang itu berjalan keluar kamar, hampir membanting pintu kamar keras-keras. Aku kemudian menghela napas. "Kenapa aku harus mengalami semua ini, Tuhan?"
Aku berjalan menuju meja belajarku dan menemukan ponselku dalam keadaan mati. Rusak. Dasar Oliver sinting! Bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan Len sekarang tanpa ponsel ini?! Setelah ini semua selesai, aku bersumpah akan menghancurkan ponsel Oliver sinting dengan tongkat hokinya sendiri!
Aku menghela napas panjang dan berjalan menuju sofa di tengah kamar. Di atas mejanya, aku melihat ponsel berwarna hitam dengan gantungan berbentuk daun bawang. Alisku terangkat sebelah. Ini milik Senpai Idiot itu?
Gantungan daun bawang? Seleranya payah sekali!
Aku kembali melirik ponsel hitam itu. Dia tidak akan marah kan kalau aku pakai sebentaaaaaar saja?
Seolah mengundang perhatianku, saat itu jugalah ponsel itu berdering menunjukkan tanda seseorang menghubunginya. Aku mengedarkan pandangankku ke sekeliling kamar. Senpai Idiot itu sedang keluar. Apa aku harus mengangkatnya atau tidak?
Didorong rasa penasaran, aku meraih ponsel tipe sentuh layar itu dan melihat sebuah foto Senpai Idiot itu bersama seorang gadis berkuncir dua dengan warna rambut serta iris yang senada dengan miliknya. Wajah mereka berdua sangat mirip seperti layaknya aku dengan Len.
"Apa dia juga punya kembaran yah?" Aku membaca nama sang penelepon: Hatsune Miku. Aku kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Sama sekali bukan urusanku, kalau aku ikut campur, pasti Senpai Idiot itu pasti akan bertambah murka.
Aku menghela napas panjang. Len sudah keluar dari klub sepak bola dan masuk ke klub atletik bersama Piko. Aku tidak bisa tanya pada Len sekarang. Yang tahu detil masalah itu sepertinya cuma anak-anak klub sepak bola. Dan anak klub sepak bola yang kukenal cuma...
Sial, Senpai idiot itu pasti nggak akan mau ngasih tahu!
Aku kembali menghela napas. Yang satu itu jelas tidak bisa diharapkan. "Apa yang harus kulakukan selanjutnya, Len?"
.
.
.tobecontinued..
