"Leeen!"

Aku menoleh dan mendapati adik kembarku terjatuh dengan lutut yang sudah berdarah. Dia meringis menahan rasa sakit sembari memegangi pinggir lukanya, berusaha memijitnya seolah dengan begitu rasa sakitnya akan mereda.

Aku duduk di sebelahnya dan mengeluarkan selembar tisu serta membuka botol air minumku. Aku menumpahkan air di dalamnya untuk membasahi tisu dan kemudian menempelkannya di pinggir luka Len, berusaha menghilangkan pasir-pasir yang mengotorinya.*

Adikku sama sekali tidak mengeluh. Dia sama sekali tidak mengatakan apakah tindakanku itu melukainya atau tidak. Dia hanya meringis menahan sakit dalam diam.

"Kau tidak apa-apa? Kau bisa berjalan?"

Dia tersenyum sambil mengangguk. "Rin tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku baik-baik saja kok."

"Apa kau yakin? Aku akan panggil seseorang untuk membantu yah. Kau tunggu disini saja."

Len meraih tanganku, menahanku untuk meminta bantuan. Kemudian dia menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja. Aku bisa jalan sendiri kok. Len tidak butuh bantuan."

Aku memperhatikan saat adikku berhasil berdiri dengan susah payah. Dia nyengir lebar ke arahku seolah bangga dengan seluruh kerja kerasnya. "Tuh kan, Len bisa melakukannya sendiri kan?"

Aku tersenyum.

Aku tahu, Len memang begitu dari dulu. Tidak pernah mengeluh. Menyimpan semua rasa sakitnya sendirian. Selalu berusaha melakukan segalanya tanpa bantuan orang lain.

Itulah Len.

Karena itulah, setelah bersama Len sejak lahir hingga sekarang, itu adalah momen pertama Len meminta bantuanku dengan amat sangat serius. Aku tidak bisa menolaknya, walaupun itu adalah permintaan yang teramat gila. Aku tidak bisa mengabaikannya.

Karena setelah sekian lama akhirnya Len meminta bantuanku juga. Setelah sekian lama, akhirnya dia membuka diri untuk meminta bantuanku.

Karena itulah... karena itulah aku...

"Rin, kamu nggak perlu melakukan apapun disana. Cukup dengan keberadaanmu dan semua baik-baik saja."

"Hah? Terus apa gunanya aku ke Crypton kalau gitu?"

"Supaya pihak sekolah nggak ngasih tahu Touchan kalau Kagamine Len menghilang selama musim panas. Umm... kau bisa mengunjungi dokter sekolah, IA-sensei dan dia akan memberikan surat ijin untukmu." Len sibuk menyentuh ponsel tipe layar sentuh miliknya—sama seperti milikku—kemudian menunjukkan foto wanita dengan rambut merah muda panjang. Dia kelihatan sangat cantik disana dan aku mulai berpikir macam-macam. Sekolah asrama khusus putra dengan guru kesehatan super cantik? Rasanya mirip skenario film porno.

"Memangnya dia nggak akan curiga? Lagian, siapa tadi namanya? Ia? Sama seperti aku mengucapkan kata 'dia'?" Aku mengerutkan dahiku.

"Entahlah. Dia nggak mau ngasih nama lengkapnya. Dia cuma mau menoleh ketika kau memanggil dengan penekanan di huruf i dan a menjadi IA."

Aku semakin mengerutkan dahinya. "Dia nggak mau ngasih tahu nama lengkapnya? Kenapa? Memangnya dia mantan artis porno begitu?"

"Riin..."

Aku nyengir lebar dan menatap Len. "Terus aku bebas melakukan apapun disana?"

Len mengangguk. "Asal kau punya surat sakit dari IA-sensei."

"Dia beneran nggak akan sadar kalau aku ini cewek?"

"IA-sensei sedikit ceroboh dan kurang memperhatikan hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Jadi, kurasa nggak akan ketahuan."

"Kalau dia mengirimku pulang, aku nggak mau tanggung jawab lho!"

Len tertawa. "Nggak akan, Rin. Kalau kamu ketahuan, aku yang bakalan tanggung jawab."

Aku memperhatikannya lekat-lekat. Len memang sama sekali nggak berubah. Walaupun dia meminta bantuanku, pada akhirnya dia juga yang berjuang sendirian.

Aku tahu Len memang begitu dan selamanya akan tetap begitu.

Dan aku juga tahu selamanya aku akan tetap menjadi kakaknya—walaupun kami cuma beda empat menit dua puluh detik, aku tetap kakaknya—yang sama sekali tidak punya kesempatan untuk membantunya.

.

.


Circle.


Aku membuka mataku dan menemukan kepalaku hampir jatuh dari tempat tiduri. Kurasa, aku memang tidak pernah bisa tidur dengan bentuk yang rapi dan bagus. Aku mengerjap dan melihat ke jendela. Bisa kulihat sinarnya masuk melalui sela-sela gorden

Aku mengerjap dan menarik napas panjang. Aku seolah baru saja melihat kilasan dengan Len di mimpi semalam, ataukah itu cuma perasaanku? Aku bukan tipe orang yang bisa mengingat mimpinya sih, jadi yah, sudahlah.

Aku mengucek mata sambil menuruni tangga tempat tidur. Alisku terangkat ketika menyadari bahwa Senpai Idiot itu tidak ada di tempat tidurnya. Aku menoleh ke jam dinding. Pukul enam tepat.

Aku punya janji dengan Oliver ya?

Benar tidak?

Atau itu termasuk dalam bagian mimpiku?

Umm... Aku mencoba berpikir. Rasa-rasanya janji itu kelihatan nyata. Janji soal apa ya? Hemm...

"Ah! Lari pagi!" Aku mengangguk pelan. "Tapi dia bilang sebelum matahari terbit. Sekarang matahari sudah terbit. Hemm..." Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. "Tidur lagi saja ah!" Dan kemudian aku kembali naik ke tempat tidurku, memeluk bantalku, merasa sangat nyaman, mataku terasa berat... aah... selamat datang kembali ke alam mimpi.

.

.

Aku mendengar suara ribut yang mengusik perhatianku. Perlahan-lahan aku membuka mataku dan mendapati cahaya matahari yang begitu banyak. Aku mengerjap sambil mengganti posisiku menjadi duduk. Aku melihat ke sekeliling dan menemukan Senpai Idiot itu sedang melakukan sit up di samping sofa tengah. Aku menatapnya dengan aneh. Ngapain sih pakai olahraga di kamar segala? Berisik tahu!

Aku menguap lebar dan turun ke bawah. Aku merasakan tatapannya mengarah padaku, tapi aku tidak peduli. Dia sudah membangunkan aku, sekarang mau protes apa lagi coba?!

"Hei," dia memanggilku. Aku menoleh dan menemukan Senpai Idiot itu menatapku aneh. "Mending nggak usah bangun sekalian aja dan tidur kayak orang mati."

"Terserah orang mau ngapain, Senpai kok kepo banget sih."

"Kalau kau cuma mau tidur, kau bisa kembali ke pelukan Mami Papimu tercinta sana! Disini bukan tempat pemalas!"

Oh, sungguh, aku juga sebenarnya ingin sekali pulang ke tempat Papiku tercinta! Bukannya berada satu ruangan dengan orang seperti kau!

"Memangnya aku harus melakukan apa? Aku dikeluarkan dari tim sepak bola karena ulahmu kan?"

Dahinya berkenyit.

Aku menunggu dia kembali bicara, berharap dengan begitu aku bisa mengorek informasi mengenai alasan Len keluar. Namun, pemuda biru kehijauan itu hanya menutup mulutnya sambil menatapku tajam.

Aku sungguh lelah. Kupikir orang seperti ini cuma ada di komik dan film-film, karakter cowok yang suka asal ngomong tanpa mempedulikan perasaan orang lain. Ternyata di dunia ini ada juga yang seperti ini yah.

"Memangnya kenapa aku keluar dari klub?"

"Tadi temanmu yang pirang, anak klub hoki, menanyakanmu."

Ditanya apa terus dijawab apa. Dasar Senpai idiot!

"Dia menungguimu di koridor asrama seperti orang bodoh."

Aku mulai berpikir Senpai Idiot ini suka sekali menyebut orang lain dengan kata sifat itu. Aku ingin mencoba menghitung berapa kali kata itu keluar dari mulutnya sehari.

"Terus, karena kau tidak datang juga, dia bersumpah akan membunuhmu."

Aku mengerjap. Dia nggak serius kan?

Aku menoleh dan menemukan pemuda biru kehijauan itu tersenyum lebar padaku, seolah mengatakan: aku akan dapat kamar kosong hari ini! Yeay!

Aku merasakan bulu kudukku merinding. Oliver... Oliver nggak akan melakukan hal itu kan? Beneran kan?

.

.

Aku memakai kaos putih Len dan celana jeans Len setelah selesai mandi. Tidak ada orang di kamarku setelah itu. Senpai Idiot itu entah sudah pergi kemana. Aku melirik jam di dinding, pukul sembilan lebih lima. Mungkin dia sedang sarapan. Len bilang sarapan sekitar jam sembilan sampai jam sepuluh.

Setelah menaruh handuk di gantungan, aku berjalan keluar kamar dan menghela napas panjang, membayangkan Oliver berdiri di depan pintu kamarnya. Kalau memang dia memaksa untuk lari bareng, seharusnya Oliver langsung saja membangunkan aku kan?

Eh, tapi kemarin aku yang memintanya untuk lari bareng ya?

Aku kembali menghela napas. Aku harus minta maaf. Oliver pasti akan memaafkanku. Dia sahabat Len bukan? Len pasti sering melakukan kesalahan seperti ini juga dulu. Aah... tapi Len bukan orang yang pemalas, jadi kalau aku jadi Len, seharusnya aku tetap bangun pagi tadi...

"Duuh, kenapa memusingkan sekali sih?!" Aku menggerutu sambil berjalan menuju kamar sebelah. Benar kan? Oliver di kamar nomor 17 yah? Atau 15? Duuh, ketuk saja dulu deh pokoknya! Kalau salah, tinggal minta maaf kan.

Aku mengetuk kamar nomor 17 dan menunggu respon. Aku menunggu sekitar sepuluh detik baru kemudian mengetuk lagi. Terdengar suara dari dalam yang memintaku untuk langsung masuk. Aku menaikkan alisku. Kaito-senpai atau suara Oliver barusan?

Jemariku menyentuh handel pintu, menariknya ke atas, dan mendorongnya pelan. Aku memperhatikan kamar itu terlihat kosong dan gelap. Terus, tadi suara siapa?

"Kau datang untuk mengucapkan selamat pagi, baby?"

Bulu kudukku meremang. Ketika kemudian aku merasakan pelukan hangat, aku tahu bahwa aku terancam.

"Rambutmu wangi, baby! Hemm... sayang, seharusnya kau mandi bersamaku pagi ini!"

Aku bisa merasakan napas seseorang di tengkukku, melewati helaian rambut pirangku yang basah karena barusan keramas.

Ini sudah kelewatan! Ini kelewatan!

Kemudian, dengan teknik yang pernah diajarkan oleh Papa padaku ketika SD dulu, aku memegang lengannya yang memelukku, memuntirnya, dan membanting tubuhku ke depanku. Suara keras ketika tubuhnya menghantam lantai terdengar dan aku melompat mundur.

Tuhan, dia sungguh berat sekali! Kalau dia menyerangku sekali lagi, aku nggak bisa melawannnya, sungguh! Aku harus teriak! Aku harus teriak sekarang!

"Ada orang aneh mesum disini!" Aku berteriak nyaring.

"Hah?!" Aku bisa mendengar suara si orang mesum itu. Dengan panik, aku segera berlari keluar kamar. Aku tidak peduli siapa orang itu. Aku sama sekali tidak peduli!

Ketika aku berlari keluar pintu kamar, aku menabrak seseorang hingga aku dan dirinya terjatuh. Aku mengerjap dan melihat cengiran lebar Kaito-senpai.

"Apa yang kau lakukan, Len-kun?"

"Eh... aku..." Aku kehilangan kata-kata. Sungguh. Inikah yang namanya perasaan gugup ketika berada di dekat orang yang sangat tampan?

Senyumannya sungguh hangat. Tatapannya sungguh sangat menenangkan. Aku... aku...

"Whoa! Kaito!"

Aku bisa mendengar suara asing di belakangku. Aku menoleh ke belakang dan melihat pemuda dengan rambut merah panjang melewati pinggulnya serta iris mata kecoklatan tua. Aku mengenalinya, dia adalah orang yang bersikap seenaknya, memimpin semua orang tanpa ada yang protes padanya.

"Ted-senpai!" sahut Kaito-senpai sambil tersenyum lebar. "Apa yang terjadi? Aku mendengar teriakan seseorang barusan."

"Yah, kurasa anak itu yang berteriak." Telunjuknya mengarah padaku. "Punggungku terasa sakit tahu!"

"Apa yang kau lakukan memangnya, Len-kun?" Kaito-senpai tertawa. "Tadi itu teriakanmu? Wow! Nyaring juga... mirip sama teriakan cewek..." Aku merasakan tatapan yang sama seperti cara Senpai menatapku semalam. Mendadak, aku kembali merasa takut. "Kukira Senpai bawa cewek masuk ke asrama lagi."

"Aah... Kaito. Ini masih awal summer camp. Aku nggak akan mengacaukannya begitu saja di hari-hari pertama." Kasane Ted tertawa. "Belum saatnya bawa cewek."

Apa dia bilang barusan? Belum saatnya bawa cewek? Artinya nanti akan bawa cewek?! Aku salah berpikir kalau dia adalah orang yang berkarisma. Membawa cewek ke asrama cowok?! Yang benar saja! Tuhan... aku sungguh berada di tempat yang kacau!

"Jadi, siapa dia sih, Kaito?" Kali ini nadanya terdengar jengkel.

"Aah..." Kaito-senpai tersenyum padaku. "Dia teman sekamar Mikuo-kun, yang kemarin nggak mau masuk ke kolam," matanya menatapku, "apakah kau ingin terus berada di atasku?"

Aku langsung berdiri saat itu juga dengan kepala tertunduk. Wajahku terasa panas. Aku tidak berani menatap wajah Kaito-senpai lagi. Kenapa aku nggak langsung berdiri tadi? Apa ini yang dinamakan terpesona pada ketampanan seseorang?

"Hee..." Aku melirik pemuda berambut merah itu. "Kalian sejenis ya?"

Apa yang dia maksud dengan sejenis?

Kaito-senpai tertawa mendengarnya. "Ngomong-ngomong, kenapa tadi kau menjerit, Len-kun?"

Aku merasa suaraku mencicit ketika menjawab pertanyaannya. "Karena... karena dia..."

"Aku menyerangnya secara nggak sengaja."

"Eh? Kok bisa?" Ekspresi Kaito-senpai berubah heran.

"Entahlah. Kamar gelap sih." Aku mendengar suara pemuda merah itu perlahan menjauh. "Atau justru senseku menurun ya? Padahal biasanya aku selalu mengenali cewek hanya dengan melihatnya sekilas saja."

Apa yang dia bilang barusan?

"Aah... summer camp sudah dimulai hari ini ya?" Dia mengibaskan rambut merah panjangnya sambil berjalan menjauh. "Kaito dan... anak yang bermasalah dengan Mikuo... sampai ketemu di lapangan nanti."

Setelah itu aku mendengar suara pintu kamar yang ditutup. Ini saat yang tepat. Aku harus kabur sekarang juga!

Aku mundur perlahan-lahan, mencoba menjauh dari Kaito-senpai, namun sekilas aku melihatnya tersenyum. Rasa takut itu kembali terasa. Persis seperti apa yang kurasakan semalam.

"Kau dengar barusan, Len-kun?"

Aku harus kabur sekarang! Aku harus kabur sekarang!

"D-dengar a-apa, Senpai?" Aku berjalan mundur-mundur.

Kaito-senpai tersenyum. Sungguh, walaupun dia terlihat sangat tampan, dia jelas membuatku takut sekarang! "Kasane Ted adalah cowok dengan skill tinggi. Mampu merayu cewek dengan cara apapun."

Oke. Jadi, cowok merah itu memang playboy beneran rupanya! "Umm... ya..." Itu sama sekali bukan urusanku! Aku harus menjauh secepatnya sebelum insiden mirip tadi malam terjadi lagi.

"Dan mampu membedakan mana cewek dan cowok dalam jarak satu kilometer."

Bolehkah aku sampai pada kesimpulan terburuk?

"Jadi, Len-kun," aku bisa membayangkan Kaito-senpai tersenyum padaku. "Menurutmu apa alasan Kasane Ted bisa salah mengenalimu sebagai cewek?"

Aku memberanikan diri menatap wajah Kaito-senpai. Dia tersenyum lebar. Aku tahu kenapa aku merasa takut berada di dekatnya sejak semalam.

Sial! Ini pasti gara-gara aku salah ngomong semalam! Sialsialsial!

"Semalam... kau belum menjawab pertanyaanku, Len-kun."

Apa aku harus mengaku sekarang?

Kaito-senpai berjalan semakin mendekat. Aku berjalan mundur hingga menabrak dinding koridor asrama. Dia mengulurkan tangannya, memenjarakan aku diantara koridor dengan tubuhnya. Aku merasa jantungku berdebar begitu cepat.

"Apa yang dilakukan seorang cewek di sekolah khusus cowok?"

Tuhan... aku benar-benar mati sekarang!

.

.

.tobecontinued..