Tuhan... aku benar-benar mati sekarang...

.

.


Circle.


Kagamine Rin. Enam belas tahun. Belum pernah pacaran. Kali ini, mengakui dosanya. Aku pernah memasukkan permen karet ke sepatu teman sekelasku yang kubenci saat SD, memecahkan ban motor guruku ketika SMP, dan memalsukan identitasku sebagai Len saat SMA. Ada beberapa kesalahan lain yang pernah kulakukan selama hidupku—tentu saja, memangnya siapa sih yang nggak pernah buat kesalahan? Biksu suci pasti juga pernah kan?—tapi kurasa ketiga hal yang kusebutkan barusan adalah hal yang paling keteraluan.

Dan mungkin, kesalahan terbesar bagiku adalah ketika aku menyetujui permintaan adik kembarku untuk menggantikan dirinya dan masuk ke Akademi Crypton.

Satu malam berada di Crypton dan identitasku sudah ketahuan. Hebat sekali, Rin! Sungguh, kau benar-benar sangat hebat! Prestasi yang sangat membanggakan!

Bahkan ketika akhirnya Len meminta bantuanku, aku sama sekali tidak bisa membantu apapun...

Aku menatap Kaito-senpai dalam-dalam. Aku hanya perlu menjelaskan segalanya dan memintanya tutup mulut. Hanya itu saja.

Masalahnya gimana cara mulainya?!

"Len-kun?" Dia tersenyum padaku. Aku bisa merasakan napasnya.

"Apa yang membuat Senpai bisa berkata seperti itu? Cewek di asrama Crypton? Konyol banget sih!" Aku memaksakan diri tertawa.

"Aku juga ingin tahu makanya aku bertanya padamu, Len-kun."

"Uuh... aku nggak..."

"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan, Len-kun."

Cih! Jadi aku nggak punya pilihan lain selain mengaku?

Aku menatap wajahnya. Sejak kapan sosok tampan itu berubah menjadi sosok mengerikan? Apa Kaito-senpai yang baik hati akan berubah menjadi Srigala setelah mengetahui aku cewek?

OH TUHAN! Apakah aku akan diperkosa sehabis ini?!

Mendadak, Kaito-senpai tersenyum lalu kemudian tertawa. Dia bahkan tertawa hingga badannya membungkuk. Dia bahkan tertawa hingga matanya berair. Dia bahkan tertawa hingga perutnya sakit. Dia bahkan tertawa hingga terpingkal-pingkal. Memangnya apa yang lucu?!

"Len-kun... Len-kun... ckck... kau sungguh lucu sekali!"

Apakah dia menertawakan aku karena menganggap bahwa aku teralu serius menanggapi ucapannya barusan? Oh, aku tahu. Dia pasti hanya bercanda dan menunggu tawa keluar dari mulutku, tapi aku malah panik. Itu benar... itu benar. Aku pasti tidak ketahuan. Kaito-senpai juga tetaplah Senpai baik hati yang suka tersenyum dan menolongku. Itu benar... itu benar...

"Oh, Senpai cuma bercanda ya?" Aku memaksakan diri tertawa. "Lelucon yang—"

"Aku tidak bercanda barusan, Len-kun."

Aku melihat wajahnya kembali berubah serius. Dia kembali berdiri, menghapus bekas air matanya, dan kembali mendekat ke arahku, memberikan aura mencekam yang barusan sempat hilang. "Aku tidak bercanda, Len-kun. Aku serius bertanya padamu apa yang kau lakukan disini."

"Lalu... kenapa Senpai barusan tertawa? Kalau itu bukan lelucon—"

"Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater, ekspresimu lucu sekali!" Tangannya terulur dan dia mencubit pipiku. "Sungguh, kalau sekarang kau pakai baju cewek, pastinya bakalan imut banget!" Dia tertawa.

Pipiku terasa sakit. "Lepaskan aku, Senpai!" Aku mencengkram tangannya. Tenaganya benar-benar tak terkira.

Cowok biru itu masih tertawa saat melepaskan aku. Sepuluh detik kemudian, aura mencekamnya kembali. Aku menduga dia punya keperibadian ganda.

"Ya ya, ekspresimu cukup mengalihkan perhatianku. Itu bagus, Len-kun, tapi sudah cukup tipu dayanya."

Siapa yang memangnya berusaha menipunya?! Ini memang ekspresiku ketika panik tahu!

"Jadi, apa yang kau lakukan di Crypton, Len-kun? Eh, salah ya... harusnya kupanggil Len-chan ya?" Dia nyengir lebar.

Aku memalingkan wajahku. Apakah aku harus mengatakan sejujurnya atau aku kabur saja sekarang? Tidak ada tangan kekar yang mampu mengurungku diantara dinding koridor dan tubuh sosok tampan sekarang (seriusan, mau dia tahu rahasiaku atau tidak, Kaito-senpai memang tampan!).

"Jadi, Len-chan?"

Sekarang, Rin! Kalau mau kabur, sekaranglah saatnya!

Aku sudah menggerakkan kakiku sebelum kemudian aku mendengar suara teriakan yang mendekat ke arah kami serta derap langkah kaki cepat dan kemudian sosok Kaito-senpai menghilang cepat dari hadapanku. Jatuh kira-kira lima meter di sebelah kananku, terseret ke lantai setelah sosok dengan pakaian hoki menghantamnya.

Aku mengerjap. Ini beneranlah?! Siapa pula orang hoki yang suka main hantam-hantaman ini?!

Sosok hoki itu kemudian menoleh ke arahku. Aku tidak bisa menebak siapa dia karena wajahnya tertutup helm hoki.

Seriusan, kalau aku dihantam juga seperti Kaito-senpai barusan, aku bisa mati!

Si Hoki berdiri dan berjalan ke arahku.

Beneran, aku bakalan mati, gila!

Kakiku terasa lemas karena melihat adegan brutal barusan. Aku nggak bisa bergerak. Aku bakalan mati sekarang. Seriusan, aku bakalan mati sekarang!

"Len." Aku bisa mendengar namaku dipanggil. Apakah itu Dewa Kematian? Shinigami? Aku berharap Dewa Kematian yang menjemputku mirip dengan Ichigo di Bleach. Setidaknya dia keren... setidaknya aku nggak akan punya penyesalan karena belum sempat punya pacar... ya...

Selamat tinggal, Len... Papa... Aku bahagia menjadi bagian dari keluarga Kagamine...

"Len."

Tunggu! Len, kau masih punya hutang 2873 yen padaku!

"Len!"

"Hah?" Aku mengerjap ketika sosok hoki tadi meraih jemariku (bukan mencengkramnya?), lalu kemudian mengajakku berlari meninggalkan Kaito-senpai yang masih tersungkur di lantai koridor. Aku kembali mengerjap.

Ini bukan adegan pembunuhan sadis. Aku nggak akan dibawa oleh Shinigami keren.

Ini malah mirip adegan penyelamatan Putri oleh Pangeran berkostum hoki putih!

Crypton sungguh tempat yang kacau!

.

.


.

.

Sosok yang memakai baju hoki itu membawaku keluar asrama, menyusuri jalan setapak yang di kanan dan di kirinya terdapat lapangan yang berbeda. Aku menyadari bahwa semua murid Crypton justru bersemangat untuk olahraga—mereka tidak ragu untuk bergerak lincah saat mengejar bola maupun saat meliukan badan (olahraga basket dan lompat galah)—yang kupikir justru agak freak. Sungguh, melihat kenyataan di balik tubuh mereka yang kekar, kurasa aku nggak mau punya pacar atlet—

Kecuali kalau dia super luar biasa keren, yaah, pengecualian bolehlah.

Aku menarik napas panjang dan menatap sosok yang memakai baju hoki itu. berani taruhan, dia pasti laki-laki—memangnya ada cewek di Crypton, Rin?! Dan aku sudah punya firasat seperti apa wajah di balik helm hokinya.

Tangannya menyentuh helm dan menariknya terbuka hingga mata kuning bagaikan kucing balik menatapku. Perban yang sebelumnya menutupi mata kirinya sudah dilepas. Sungguh, dalam keadaan normal, Oliver benar-benar imut.

Kabar buruknya, dia tidak pernah normal.

"What the hell you're doing back there?!"

Haruskah dia bicara dengan bahasa Inggris? Ini Jepang, woy!

"Entahlah. Menurutmu apa?" Aku balas bertanya. Memangnya aku bisa mengatakan, 'hei, kau tahu, barusan Kaito-senpai mencurigai aku sebagai cewek!'?!

Oliver menarik napas panjang dan menatapku lama. "Kau beruntung aku ada disana. Setidaknya aku bisa menolongmu sebelum dia bertindak lebih jauh!"

Emangnya kau sedang melakukan apa sih? Berjalan-jalan di musim panas dengan baju hoki?! Seriusan, otakmu pasti salah, Oliver! Otakmu pasti salah!

Dan masalah bertindak lebih jauh, aku tidak tahu makna apa yang dimaksudkan Oliver, tapi kalau itu berarti mengancam kebenaran mengenai jenis kelaminku, maka aku akan sangat-sangat berterima kasih pada sahabat Len yang bar-bar ini.

"Syukurlah. Kau benar-benar membantuku." Aku tersenyum. "Dan... dengar, karena ini pas sekali momennya, aku ingin minta maaf karena aku tidak bangung tadi pagi. Senpai Idiot itu bilang kau menungguiku di koridor..." Mataku bertemu dengan matanya, "maaf, Oliver."

Dia mengerjap lama sekali sebelum kemudian mengerutkan dahinya. "Seriusan, kamu jadi aneh beneran tahu, Len!"

Oke, Len nggak pernah bilang kalau minta maaf di persahabatan cowok itu aneh.

Aku hanya mengangkat bahuku sambil tersenyum lebar. "Yaaah, yang pasti makasih ya karena lagi-lagi kamu berhasil nolongin aku."

Jeda sejenak. "Kau nggak ke klub atletik?" Aku merasa suaranya sedikit berubah atau telingaku salah dengar?

"Umm..." Gimana cara bilang kalau aku bahkan nggak tahu klub atletik dimana?

Mata kuningnya kembali menatap wajahku kemudian dia mendesah. "Jangan bilang kalau kamu nggak tahu klub atletik dimana!"

Mungkin, aku bisa mengerti kenapa Len bisa bersahabat dengan cowok ini.

Dia membalikkan tubuhnya dan berjalan lambat. "Beruntung aku sekalian mau ketemu Piko juga tahu!"

Aku nyengir lebar. "Oliver... kau sungguh baik hati!" sahutku sambil berusaha mengejar langkah kakinya. Aku berjalan tepat di sampingnya sambil mengamati lingkungan sekitar.

Crypton tempat yang hebat seandainya kau memang suka olahraga. Fasilitas disini benar-benar terjamin dan sungguh lengkap. Aku nggak bisa bilang apakah lingkungannya juga mendukung—ingat soal tindakan barbar di ruang makan—untuk memberikan nilai positif.

Aku dan Oliver kemudian melewati lapangan bola rumput. Aku bisa melihat orang-orang berlari penuh semangat mengejar bola sementara terdapat sosok yang berdiri di pinggir lapangan dengan pengeras suara, seolah dia adalah sosok hebat yang mampu melakukan segalanya, memiliki kendali atas segalanya.

Aku kenal sosoknya yang berwarna biru kehijauan.

"Dia cuma tukang perintah doang!" kataku sambil menatap penuh ketidaksukaan. Tentu saja, wajar kalau aku tidak menyukainya kan? Dia orang yang mengeluarkan adik kembarku dari tim—walaupun aku juga tidak tahu alasannya sih, tapi tetap saja!

"Mikuo-senpai?" tanya Oliver sambil mengikuti pandanganku. "Kau sempat mengaguminya dulu kalau kau belum lupa."

"Masa sih?!" Aku sungguh tidak percaya. "Halusinasimu doang paling!"

"Hemm..." Oliver mengangguk pelan. "Oke, aku nggak akan bahas hal itu lagi deh."

Aku menimbang-nimbang apakah aku harus bertanya lebih jauh kenapa aku bisa dikeluarkan dari klub sepak bola, tapi kurasa itu adalah ide yang buruk karena seorang Len tidak mungkin lupa mengenai hal-hal semacam itu. Aku harus tanya Len sih, cuma itu satu-satunya jalan.

Kami berdua berjalan menyusuri jalan setapak Utaunoda yang rimbun hingga aku melihat trek lari di bagian bawah. Aku bisa mendengar suara peluit dengan derap langkah kaki khas orang berlari.

"Itu trek lari. Sekarang sudah ingat?" Oliver menyindirku.

Aku nyengir lebar. "Sekalian biar kau bisa ketemu Piko juga kan?" Aku tertawa.

"Aku bukan supir yang bisa nganterin kamu kemana-mana! Traktir aku ramen di kantin nanti!"

Yah, bolehlah. Nggak ada salahnya. Lagipula, dia sudah membantuku kabur dari Kaito-senpai dua kali di momen yang dapat membuat hidupku di tempat ini terancam—perhitungkan juga risiko bahwa aku akan diperkosa di neraka mengerikan seperti disini. Aku sih senang-senang saja kalau disuruh pergi dari tempat mengerikan ini, tapi aku nggak bisa membiarkan Len menerima semua dampaknya kan?

Aah... gimana caranya aku bisa mengelak lagi ya nanti?

"Kenapa berhenti jalan?"

Aku menengadah dan menyadari si pirang bermata kucing itu sudah berjalan jauh dibandingkan aku. Terpaksa aku mengejarnya dengan berlari-lari kecil.

Kami sampai di trek lari beberapa saat kemudian. Aku menemukan Piko berdiri di pinggir trek sambil bicara dengan sosok lain yang sama-sama memiliki rambut perak seperti dirinya. Aku kelihatannya pernah melihatnya entah kapan.

"Dia sepupu Piko kan? Ketua klub atletik tahun ini. Masa kau bisa lupa?" Oliver memberitahuku setelah aku bertanya padanya barusan.

Aku merasa lelah karena berkali-kali dianggap bodoh oleh Oliver. Memangnya Len orang yang nggak pernah lupa apa? Memangnya salah kalau Len yang versi sekarang banyak lupanya?

"Teralu banyak hal yang kupikirkan sampai otakku pecah. Dengar? Sampai bisa bikin otakku pecah!" teriakku padanya. Seriusan ya, ini panas lho, jangan bikin sesuatu tambah panas deh!

"Kau masih kena demam musim panas?"

Yah, terserahlah. Terserahlah. Biarkan dia berasumsi hingga asumsinya pada akhirnya asumsi itu bisa membunuhnya. "Ya, jadi wajar kan kalau aku ngelantur?"

Oliver menganggukkan kepalanya kemudian kami bersama-sama berjalan menghampiri Piko. Dia kelihatan santai dan gembira ketika melihatku, sebuah ekspresi yang menurutku salah karena tujuanku kemari kelihatannya akan membuat dia sedikit sedih.

"Kesiangan, Len?" Dia bertanya sambil tertawa. "Masih aura liburan sih, tapi kau harus terbiasa untuk lari pagi besok atau Dell-niisan akan membuatmu maraton tanpa istirahat sama sekali."

Aku melirik sosok perak yang dipanggil Piko sebagai Dell-niisan. Matanya yang berwarna merah gelap mengingatkanku pada mata Iblis. Kontras sekali dengan Piko yang terlihat seperti malaikat. Aku berpikir gen yang ada di keluarga mereka tidak tersebar secara merata. Aku tidak tahu soal isi sifatnya, tapi jelas, Dell-senpai terlihat lebih mengerikan dibandingkan Piko.

Duh, aku mikirin apa sih sebenarnya?

"Aah... iya... kurasa aku nggak siap buat lari lagi."

"Eh?" Piko memiringkan kepalanya. "Maksudnya?"

"Umm..." Sebenarnya, skenario percakapannya sudah jelas, tapi seriusan deh, kenapa mesti bingung lagi, Rin? Aku tinggal bilang kalau kakiku cedera dan aku dilarang melakukan aktivitas fisik selama sebulan ini.

"Len-kun," aku bisa mendengar suara berat milik cowok bermata merah tadi. "Kau tidak bisa lari lagi maksudnya?" Dia menatap wajahku lekat-lekat.

Sial. Apa dia bisa tahu ekspresi orang bohong atau nggak?

"Sebenarnya... saat liburan kemarin aku terjatuh dan kakiku sempat terkilir," jangan terlihat gugup, Rin! "Makanya..."

"Makanya waktu Mikuo menarik tanganmu kemarin, kau malah tetap diam, begitu?"

"Wah, kalau begitu gawat dong, Len!" Ekspresi Piko berubah khawatir. "Kenapa kau tidak memberitahu kami kemarin?"

Aku memaksakan diri tertawa.

"Tunggu!" Oliver memegang pundakku. "Tadi waktu aku nyelamatin kamu barusan, kaki kamu nggak apa-apa? Barusan kita berlari kan?"

Duh, Oliver... jangan ngomong yang nggak perlu deh!

Aku merasa mata merah itu memperhatikanku lebih lekat daripada sebelumnya. Mampus aku kalau dia sampai bisa tahu aku bohong...

Dia... bukan cenayang yang bisa baca pikiran orang kan? Orang ini bukan cenayang kan? Dia nggak mungkin tahu kalau aku bohong kan?

Kemudian, saat senyuman terukir jelas di wajah pemuda perak itu, aku merasa dia benar-benar bisa membaca pikiran. Atau aku yang teralu gampang ditebak? Jujur saja, berbohong bukan merupakan keahlianku. Mama dan Papa nggak pernah ngajarin aku dan Len buat bohong.

"Hemm, tunggu apa lagi, kenapa nggak minta IA-sensei mengecek kakimu?" Dell-senpai menatapku. "Kita bisa tahu apakah kau memang benar-benar cedera ataukah kau hanya teralu malas untuk menggerakkan tubuh di cuaca sepanas ini?"

"Dell-niichan, Len nggak mungkin bohong cuma untuk alasan sepele itu!" Piko membelaku.

Yeah, sejujurnya, yang barusan bukan alasan sepele. Ini menyangkut kehidupan kulit putihku sebenarnya.

"Hemm," aku mengamati saat pemuda perak itu mengangkat bahunya sambil tersenyum sekilas padaku, "summer camp disebut neraka bukan tanpa alasan kan? Sudah menjadi gejala alamiah untuk tingkat satu seperti kalian yang suka mencari-cari alasan demi kenyamanan sesaat. Lagipula, Len-kun, kalau kau memang merasa tidak sanggup menjalani summer camp, kenapa kau datang kemari?"

Memangnya boleh tidak datang? Sial! Tahu gitu, aku kabur saja ke Hokkaido, tempat Len sekarang!

"Kita cek saja ke tempat IA-sensei sekarang," Oliver menepuk pundakku. "Tapi aku harus kembali ke klub. Kau saja yang temani Len, Piko, gimana?"

"Baiklah," Piko mengangguk pelan, "yuk pergi sekarang, Len, sebelum latihan sesi kedua dimulai."

Aku mengerjap. Dia bilang apa barusan? Sesi kedua? Memangnya ada berapa sesi latihan, hah?!

"Kabari aku nanti, Piko, oke?"

Pemuda bermata merah itu menatapku sambil tersenyum tipis. "Semoga IA-sensei memberikan kabar baik, Len-kun."

.

.


.

.

Aku mendengarkan suara langkah kakiku dan Piko di koridor sekolah yang sepi. Ruang kesehatan tempat IA-sensei berada di gedung sekolah utama yang tidak digunakan ketika summer camp. Piko bilang, tempat ini hanya akan digunakan di momen-momen tertentu dan dia tidak menjawab ketika aku bertanya momen seperti apa itu. Palingan cuma momen penuh kekacauan seperti saat pembukaan kemarin.

Aku melirik Piko yang berjalan di sampingku. Kalau kuamati secara lekat-lekat, Piko tipikal cowok manis yang mirip dengan perempuan. Aku yakin kalau dia diberi rambut panjang, dia pasti akan terlihat cantik sekali.

Tipikal bishie yang kubaca di komik-komik shoujo. Tidak hanya Piko kurasa, Crypton sebenarnya penuh dengan cowok-cowok keren yang sulit untuk dilewatkan. Sayangnya, setelah melihat sisi barbar yang mereka miliki, aku kehilangan minat untuk mengenal mereka dalam hubungan romansa.

Aku bisa dapat pengetahuan tambahan setelah berada di Crypton, setampan apapun seorang cowok, mereka masih memiliki sisi-sisi barbar yang mengerikan.

"Len," suara Piko menyela pikiranku.

"Eh?" Aku menoleh. "Kenapa?"

"Aku kepikiran dengan kata-kata Dell-niichan..." Dia diam sebentar, "kalau memang kau cedera hingga disarankan untuk tidak melakukan aktivitas fisik, kenapa kau datang ke summer camp?"

Aku mengerjap. "Karena..." Jeda cukup lama hingga aku kemudian mengatupkan mulutku kembali, tidak tahu harus mengatakan apa. Kaito-senpai sudah mencurigai aku dan aku memang tidak punya niat apapun untuk bertahan disini. Kenapa aku tetap melakukan ini semua? Bukankah aku tinggal pulang? Len sendiri yang bilang kalau aku boleh pulang jika seseorang mengetahui identitasku atau ketika aku sudah tidak tahan lagi dengan segala yang ada disini.

Lantas kenapa harus berlama-lama lagi memikirkannya, Rin?

"Aku hanya berpikir... setelah kejadian kau dikeluarkan dari klub sepak bola, aku merasa Len seperti tidak punya ambisi untuk melakukan apapun. Kau jadi... terlihat seperti seseorang yang melakukan apapun yang diperintahkan padamu. Kau... seolah membenci keberadaanmu di Crypton."

Langkahku terhenti dan aku menatap wajah Piko.

"Kalau kau memang tidak suka berada di Crypton, kenapa kau harus memaksakan diri, Len? Apa ada sesuatu yang tidak bisa kau ceritakan padaku? Umm, mungkin aku tidak bisa memberikan banyak saran, tapi setidaknya..."

Bahkan Len tidak mengatakan apapun padaku yang notaben adalah kakak kembarnya, satu-satunya orang yang berbagi sel ovum dan sperma yang sama dengannya. Lupakan dulu dirimu deh, Piko! Harusnya aku jadi tempat pertama dimana Len akan mengatakan segalanya!

Tapi kenapa dia tidak melakukannya? Kenapa Len sama sekali tidak memberitahuku masalah yang sedang dihadapinya?

"Karena... kita teman kan, Len?" Piko tersenyum padaku.

Padahal... kita adalah saudara kembar kan, Len?

"Tapi, aku juga nggak akan maksa. Maksudku... aku tahu bagaimana sulitnya menceritakan masalahmu pada orang yang baru kau kenal, Len..."

Selama enam belas tahun kita hidup bersama, apakah aku masih menjadi orang asing bagimu, Len?

"Jadi, aku akan menunggu sampai waktu yang tepat." Pemuda perak itu mengangguk sambil tersenyum padaku. "Aku dan Oliver akan selalu ada untukmu. Kau harus ingat itu."

Hatiku terasa perih. "Umm... ya..." Aku mengangguk sambil membuang muka, merasa canggung. "Ucapanmu sungguh membuatku terharu, Piko. Terima kasih."

"Yap. Sama-sama, Len." Dia tertawa.

Aku menatap sepatuku yang menyentuh lantai koridor sekolah. Bahkan untuk seorang teman yang baru dikenal Len kurang dari setahun, Piko terlihat amat peduli dan lebih mengenal Len dibandingkan aku.

Sial! Aku kesal! Aku kesal! Aku kesal! Kenapa mendadak semuanya terasa begitu bermasalah sih?!

Kukira akan gampang saja, menggantikan Len masuk ke tempat ini, berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja, dan aku bisa pulang kembali dengan selamat. Len akan baik-baik saja dan aku sudah berhasil menolongnya kali ini. Yeay!

Namun... kenyataannya... Len tidak akan baik-baik saja. Setelah summer camp ini berakhir, Len tetap tidak akan pernah menjadi baik-baik saja. Aku tidak membantunya sama sekali. Aku... aku... aku cuma...

"Nah, kita sudah sampai di ruang kesehatan, Len." Piko tersenyum tipis padaku.

Piko menyadarkanku ke alam nyata. Aku menarik napas panjang, berusaha untuk menahan cairan bening yang mulai memenuhi mataku.

Sejujurnya, aku juga tidak tahu untuk apa aku berada di tempat ini sekarang. Sesungguhnya, aku ingin sekali pulang. Tapi Len... sebelum aku tahu apa yang sebenarnya dirasakan olehnya, sebelum aku tahu masalah apa yang sebenarnya sedang dihadapi olehnya, aku belum bisa pergi dari tempat ini.

Meskipun identitasku ketahuan oleh Kaito-senpai—seriusan, aku akan megurus hal itu nanti. Sekarang... yang terpenting adalah...

Aku mengangkat handel pintu kayu di hadapanku dan melangkah masuk.

"Permisi..." sahutku pelan sambil mengulurkan kepalaku ke dalam. Aku bisa mencium bau alkohol dan obat-obatan, ciri khas ruang kesehatan. Aku bisa melihat warna putih yang dominan, tempat tidur putih, tirai putih, dan—

"Aah~ Kau benar-benar tampan, Yuu-kun!"

TUHAN!

"Kenapa, Len?" Piko bertanya karena melihat ekspresi syokku. Tangannya terulur dan pintu terbuka semakin lebar. Beberapa detik setelahnya, ekspresinya sama syoknya seperti milikku.

Tepat di atas tempat tidur, aku bisa melihat seorang pemuda yang mengenakan jersey Crypton berbaring dengan mata terpejam dan seorang wanita berambut merah muda duduk tepat di atas tubuhnya. Roknya tersikap sedikit ke atas sementara jasnya yang berwarna putih jatuh begitu saja di lantai, meninggalkan blus tipis yang menutupi dadanya. Seriusan, aku nggak berani menebak apa yang mereka lakukan di ruangan sepi hanya berdua saja—laki-laki dan wanita!

"Arra~ Kita kedatangan tamu, Yuu-kun!"

Aku mengerjap tidak percaya.

Seriusan. Aku beneran datang ke tempat super kacau abad 21!

.

.

.tobecontinued..