Berikan hipotesis kalian sesuai dengan informasi yang ada!

Pertama: sekolah khusus cowok memiliki guru kesehatan yang cantik dengan nama asli yang tidak diketahui, hanya nama inisial saja—seriusan, makin mirip skenario film porno kan?

Kedua: ruang kesehatan terletak di gedung utama Crypton yang sepi dan jarang dikunjungi selama summer camp.

Ketiga: di ruang kesehatan, terdapat salah satu murid Crypton yang tertidur dengan mata terpejam dan si guru kesehatan yang cantik sedang duduk di atasnya—poin tambahan, rok tersingkap, jas yang jatuh ke lantai, dan blus yang menunjukkan belahan dada.

Jadi, kesimpulan apa yang kira-kira bisa kalian dapatkan?

Tentu, kalau aku menyimpulkan bahwa adik kembarku, Len, telah masuk ke sekolah paling kacau sedunia!

.

.


Circle.


"Arra~ Kita kedatangan tamu, Yuu-kun!"

Aku mengerjap cepat, berusaha membedakan mana halusinasiku dan mana alam nyata. Masalahnya, pemandangan di hadapanku tidak berubah. Tetap sama. Tetap mengerikan.

Aku melirik Piko, berharap dia akan tertawa sambil berkata, "kenapa kau terdiam seperti orang bodoh, Len? Ayo masuk, tidak ada siapapun di dalam ruangan ini."

Tapi kalau Piko berkata seperti itu, terus aku melihat halusinasi porno begitu? Sial! Nggak deh, mendingan ini nyata aja supaya yang porno bukan aku!

Seriusan, Rin, kamu mikir apa barusan?!

"IA-sensei..." sahut Piko hati-hati.

"Hee..." Wanita itu memiringkan kepalanya dan kemudian tersenyum lebar. "Kenapa? Kalian butuh penyegar setelah berolahraga di cuaca sepanas ini?" Dia kemudian tersenyum.

Aa—seriusan, ada dua definisi penyegar. Penyegar arti langsung atau penyegar dengan makna konotasi. Kalau aku melihat bagaimana ekspresi guru itu menawarkan, aku jadi berpikiran yang tidak-tidak.

Guru ini sedang menawarkan dirinya sendiri untuk dijadikan penyegar oleh murid Crypton!

"Aah..." Aku mendengar suara laki-laki itu. Aku tidak bisa melihat persis wajahnya, karena tertutup bayang-bayang tirai putih. "Sensei?"

"Duh, kalian jadi membangunkan Yuu-kun kan?" Wanita itu merengut sebal padaku dan Piko.

"Memangnya apa yang Sensei lakukan padanya?!" teriakku histeris.

"Arra~?" Wanita itu tersenyum kemudian membungkukkan badannya hingga kepalanya mendekat ke kepala murid laki-laki itu.

Tuhan—Tuhan—TUHAN!

Mataku dan Piko membelalak saat guru itu mengecup pelan dahi sang murid.

"Aku sedang memberikan mantra agar Yuu-kun bisa terus semangat!" Dia kemudian tertawa.

Murid Crypton itu hanya merespon dengan suara datar. "Ya, Sensei. Arigatou. Tapi bisakah Sensei tidak duduk di atas tubuhku dan membuat semua orang salah paham?"

"Etto? Memangnya ada yang salah dengan ini semua?"

Otak guru itu yang salah. Seriusan. Beneran. Otaknya salah!

Wanita itu kemudian turun, merapikan roknya dan mengambil jasnya. Jemarinya dengan terampil merapikan rambutnya yang berwarna peach panjang yang dimodel berbentuk kepangan. Kalau aku tidak melihatnya di ruang kesehatan Crypton, aku sama sekali tidak menyangka kalau dia adalah guru kesehatan disini. Karena dengan wajah seperti itu (cantik maksudku) dan tubuh seperti itu (seksi maksudku), dia seharusnya melamar jadi model majalah saja!

"Umm, IA-sensei..." Piko tidak tahu harus mengucapkan apa. Dia berhasil berdiri dan masuk ke dalam ruang kesehatan. Efek syoknya jauh lebih singkat, sepertinya dia sudah bisa memperkirakan hal ini terjadi sebelumnya. Artinya, tabiat dari guru kesehatan ini sudah biasa.

Aku ingin membawa Len pergi dari sini secepatnya sungguh! Walaupun aku tahu kalau normal bagi seorang remaja cowok untuk mengetahui hal-hal berbau—ah sial, kenapa adikku bisa masuk ke tempat kacau seperti ini sih?!

"Tapi Yuu-kun, sudah segar kembali kan?"

Cowok mana sih yang nggak merasa 'segar' setelah dicium oleh perempuan seksi macam dia?!

"Terima kasih, Sensei."

Aku bisa mendengar suara yang ringan berwibawa dan kemudian ketika dia berdiri, aku nyaris tak bernapas. Sosok itu terlihat sangat tenang dan... tampan. Rambut merah muda membingkai wajahnya yang matang menjelang masa kedewasaannya. Rahang kokoh, hidung mancung, dan matanya... Tuhan... aku bisa meleleh hanya dengan melihat matanya saja.

—Yeah, sebelum kemudian aku ingat lagi bahwa dia tadi baru saja bersama dengan guru porno itu.

Matanya berwarna kuning terang bagaikan sinar matahari pagi, hangat tak membakar. Mirip dengan milik Oliver, namun kesannya jauh lebih tenang, tidak liar seperti miliknya. Dia sungguh seperti Biksu, tahu kenapa kubilang Biksu? Karena orang yang melihat Biksu biasanya merasa tenang dan itulah yang kualami sekarang. Perasaan risauku menguap menghilang dalam udara.

Aku mengerjap. Orang ini siapa?

"Yuuma-senpai... Senpai sudah kembali lagi?"

"Apakah aku tidak diharapkan, Piko?" Dia berkata dengan tenang dan berjalan mendekatiku dan Piko.

"Nggak, maksudku, bukannya Senpai mendapat kesempatan untuk latihan khusus di Osaka bareng atlet lainnya? Ini sudah akan lomba tingkat perfektur kan?"

"Aku merasa latihan bersama kalian pasti akan lebih menyenangkan."

"Apakah itu karena ada aku disini, Yuu-kun?" Guru kesehatan itu mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Seriusan, dia sebenarnya mau ngapain ada di Crypton sih?!

Pemuda berambut merah muda itu hanya mengangguk pelan, entah sebagai persetujuan atau sebagai penghenti topik tidak penting itu.

"Kapan Senpai datang?"

"Tadi pagi. Masih jet lag, makanya aku belum ke ruangan klub. Dell ada disana?"

"Uh-huh!" Piko mengangguk cepat dengan senyuman lebar. "Dell-niichan pasti akan memarahi Senpai karena kabur dari tempat latihan."

"Bisa diatur nanti." Dia hanya mengangkat bahunya dengan santai kemudian tiba-tiba dia menoleh ke arahku. "Ini anggota baru klub kita?"

"Yap. Aah, Len, ini dia Yuuma-senpai yang kuceritakan dulu. Yuuma-senpai belum pernah datang ke sekolah sejak semester ini dimulai karena ada perlombaan di tingkat perfektur."

Aku mengerjap. Jantungku masih berdebar dengan cepat. Setelah melihat Kaito-senpai, aku sama sekali nggak nyangka kalau ada cowok yang lebih menyegarkan lagi. "Hai... Senpai..." Sial, Rin! Kenapa kau harus begitu gugup sih?

Crypton memang gudangnya cowok keren! (Dan gudangnya cowok barbar, jangan lupakan hal itu, Rin!)

Dia membalas sapaanku dengan senyuman lembutnya. Oh, jika aku tahu seperti apa malaikat, mungkin aku akan menganggap orang ini sebagai malaikat!

"Aah, Yuu-kun, kau ingin pergi sekarang?" Suara menggoda itu kembali terdengar. Aku memberengut sebal menatapnya.

"Ya. Terima kasih atas perawatannya, IA-sensei." Yuuma-senpai menundukkan kepalanya dengan sopan.

"Jangan ragu-ragu untuk datang lagi!" Wanita itu mengedip centil. "IA-sensei akan memberikan layanan spesial untukmu!"

Wajah Piko langsung memerah. Kurasa dia segera membayangkan macam-macam mengenai 'layanan spesial'. Pikiran cowok sih, wajar. Guru centil itu memang sengaja—menyebalkan.

"Etto~, jadi kalian ada perlu apa kemari?" Wanita itu mendekati Piko dan mengusap pipinya. "Apa kalian butuh diberi semangat seperti Yuu-kun?" Bibirnya berbisik tepat di telinga Piko, menenamkan kesan erotis.

Aku segera maju dan menarik tangan Piko, menjauhkannya dari wanita porno itu. Aku selalu memperlakukan teman-teman Len seperti adikku sendiri. Melindungi mereka sebelum memasuki masa kedewasaan adalah salah satu misi kehidupanku!

"Sensei," sahutku cepat, "bukankah bertingkah seperti barusan melawan norma yang ada?"

IA-sensei justru tersenyum padaku kemudian berjalan mendekatiku. Mata biru langitnya menatapku tajam seolah ingin menerkamku. "Hemm, begitukah? Kau tidak menyukainya, Boy?"

Kurasakan bulu kudukku meremang.

Senyumnya semakin lebar. "Menarik sekali melihat sosok sepertimu. Menantang untuk dijinakkan!" Kemudian, seperti aktris genit pada umumnya, dia mendadak menjilat bibirnya yang bahkan tidak kering.

Seriusan, apa yang ada di pikiran guru ini?!

"Umm, Sensei... dia adalah anggota klub atletik dan ingin cek kesehatan," sahut Piko cepat agar pembicaraan tidak melantur ke arah lain lagi.

"Cek kesehatan?" Wanita itu mengulang, kemudian matanya yang secerah langit memperhatikanku lekat-lekat. "Apa yang terjadi padamu memangnya?"

Aku menatap tajam wanita itu. "Terkilir ketika libur kemarin. Kurasa aku nggak akan sanggup berlari."

"Hee... benarkah?" Senyuman kembali terbentuk di wajah jelitanya. Dia melangkah mendekatiku sambil menatapku lekat-lekat.

Apa sih? Dia mau apa sih emangnya?

"Apa Len bisa diperiksa disini, Sensei? Ataukah kami harus ke rumah sakit?"

Dia tersenyum lebar dan kemudian berjalan menuju meja kerjanya. "Aku bisa memeriksanya disini." Guru porno itu tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada Piko. "Dia akan baik-baik saja sendiri, benar kan, Len-kun?"

Tunggu dulu—eeh?!

Aku segera menoleh ke arah Piko. Dia tidak akan meninggalkanku kan? Dia akan tetap bersamaku, mendampingiku, apapun yang terjadi, dalam hidup dan matiku kan?

"Baiklah kalau begitu, Sensei." –Damn!— "Aku kembali ke klub dulu, Len. Kalau ada apa-apa, hubungi aku, oke?" Senyumnya terasa hangat, namun aku tidak ingin menerimanya. Kenapa pula dia meninggalkan aku sendirian di tempat ini bersama wanita aneh itu?!

Aku berjalan ke arah pintu, berusaha menghalanginya. Firasatku buruk jika harus berada di tempat ini bersama guru kesehatan mesum itu. Tapi apa yang harus aku katakan?

"Umm... Len?" Piko menatapku lekat-lekat. "Kau akan baik-baik saja kan?"

"Tentu saja dia akan baik-baik saja." IA-sensei mengangguk sambil tersenyum. Dia meraih stateskopnya dan memberikan ekspresi yakin yang teramat yakin. "Aku akan memeriksanya lekat-lekat dan akan membuatnya menjadi lebih baik lagi."

Bulu kudukku meremang seketika.

"Oke, baiklah. Bye, Len. Sampai ketemu di klub nanti." Piko tersenyum lebar. "Bye, Sensei."

Aku harus mengejar Piko! Aku harus mengejar Piko! Aku harus mengejar Piko! Aku harus—

"Lebih baik kau tidak mengejarnya—" aku menoleh dengan horror "—bukankah lebih asyik kalau berdua saja?"

Ketika aku merasakan udara dingin mendekat, aku langsung berbalik dan menemukan wanita itu telah berdiri di hadapanku. Aroma parfum yang dia kenakan tercium jelas lewat indera pendengaranku, campuran antara wangi mawar dan krisantium segera membiusku.

Sial, separah-parahnya aku nggak suka sama bau obat, itu semua masih mendingan dibanding nyium parfum guru genit ini!

Mendadak, dia berjalan cepat melewatiku dan meraih handel pintu. Serta merta aku merasa sangat takut ketika mendengar suara kunci yang diputar. Celaka! Harusnya aku tahu kalau dia mengincar benda itu sejak awal!

"Sekarang, hanya ada aku dan kamu disini." Dia mengedipkan sebelah matanya. "Ya, kan—"

Tuhan... aku tidak pernah dibayangkan akan diperkosa oleh seorang wanita. Oke, dia memang cantik sih, tapi aku normal! Aku seriusan normal! Walaupun aku belum pacaran... walaupun-walaupun...

"—Rin-chan?"

Eh?

Aku mengerjap, menatap guru kesehatan cantik itu membalikkan tubuhnya dan duduk tepat di belakang mejanya. Tangannya sibuk mencari sesuatu di antara buku-buku yang tersusun di atas meja dan kemudian benda yang dicarinya pun ketemu, tiga buah amplop putih.

"Yang satu diberikan kepada ketua asrama tempat kau tinggal sekarang," jemarinya yang lentik meletakkan amplop itu di atas meja, "yang satu diberikan kepada ketua klub lari yang sekarang," ditambahkan satu amplop lagi di atas meja, "dan yang satu lagi kau pegang untuk jaga-jaga jika diperlukan."

Aku menatap ketiga amplop di atas meja. Maksudnya?

"Jangan sampai ada yang hilang, oke?" Dia mengedipkan sebelah matanya dan kemudian berjalan menuju rak dispenser, meraih cangkir dan mengisinya dengan teh hangat dengan uap yang mengepul. Aku bisa mendengar suara percikan air yang bersentuhan dengan sisi cangkir di pikiranku yang penuh.

Apa maksudnya sih?

"Aku... nggak... ngerti..." sahutku pelan, masih terpaku pada ketiga amplop itu.

Guru kesehatan seksi itu meletakkan cangkirnya dan melirikku dengan manis. "Amplop yang mana pun isinya sama kok, jadi nggak perlu khawatir kalau isinya tertukar."

Aku mengerjap. Amplop? Isi? Tertukar?

IA-sensei menghela napas panjang. "Surat izinmu, Demi Tuhan!" Dia menggelengkan kepala, membuat kepangannya berayun. "Len nggak bilang kalau kakaknya bakalan sebingung ini, duh."

Eh?

Aku menengadahkan kepalaku dengan cepat. "Kau tahu kalau aku bukan Len?"

Wanita itu memberikan ekspresi yang memiliki makna: you don't say, gila! Aku dokter, bisa tahu mana cewek dan cowok dari bagian bentuk tubuhnya!

Aku mengerjap, mencoba mengingat titah yang diberikan oleh Len padaku sebelum aku berangkat ke Crypton.

"Umm... kau bisa mengunjungi dokter sekolah, IA-sensei dan dia akan memberikan surat izin untukmu."

Aku tinggal minta surat izin ke dokter sekolah, IA-sensei.

Dan nggak akan ketahuan.

.

.

.

.

.

.

.

Jelas nggak akan ketahuan!

Karena IA-sensei tahu kalau aku cewek!

.

.

.tobecontinued..