"Sensei... aku punya satu permohonan."

"Ya, Len-kun... Katakanlah."

"Aku... aku akan melakukan hal yang paling jahat untuk seseorang demi keegoisanku. Aku tahu bahwa dia juga tidak akan bisa menolaknya. Karena itulah, Sensei... maukah... maukah Sensei membantuku?"

"Membantu apa Len-kun?"

"Membantuku... dalam melindungi... kakak perempuanku di Crypton."

.

.


Circle.


"Len mengatakannya padamu?!"

Wanita cantik itu tersenyum tipis sambil mengangguk perlahan. Semua aura kotor yang awalnya kulihat ketika dia menggoda senior dan sahabat Len tadi menghilang begitu saja, tergantikan oleh aura anggun berkelas yang mampu melelehkan hati setiap laki-laki yang melihatnya—yaah, nggak juga sih sebenarnya, tapi setidaknya aku bisa punya alasan untuk memandangnya dari sisi yang berbeda.

"Ya, dia memintaku untuk melindungimu. Aku tidak bisa membantu sepenuhnya seperti bisa membuatmu meninggalkan Crypton yang mengerikan, pulang ke rumahmu yang nyaman dimana kau tidak perlu memakai korset." Mendadak, manik matanya berkilau bersemangat. "Jadi, kau sekamar dengan cowok ganteng yang mana?"

Yap. IA-sensei yang genit kembali lagi.

"Apa lagi yang Len katakan pada Sensei?" Aku mencoba mengembalikan fokus dari guru cantik itu. Entahlah, aku merasa keperibadiannya seolah berubah ketika membicarakan subjek yang berhubungan dengan cowok ganteng.

"Intinya yah dengan tiga amplop itu—"

"Apa yang Len katakan pada Sensei?!" potongku cepat. Aku tidak begitu peduli pada amplop itu—okelah, benda itu memang bisa menolongku dari neraka Crypton, tapi tujuanku disini bukan hanya untuk itu—aku ingin tahu apa yang terjadi pada Len!

Yang sesungguhnya. Yang sebenarnya. Yang tidak pernah bisa dia katakan padaku. Yang tidak pernah bisa dia katakan pada orang lain. Yang bahkan membuatnya tidak bisa meminta bantuan orang lain.

"Kau marah karena Len-kun meminta bantuanku untuk menolongmu, Rin-chan?" Dia memiringkan kepala hingga kepangan rambutnya menjuntai turun. "Kau tidak suka dibantu?"

"Bukan itu..." Aku mendesah dan menatap guru kesehatan itu. "Aku... aku bingung. Maksudku..." Mataku kemudian terpejam, tidak tahu harus mengatakan apa.

IA-sensei menatapku lama sebelum kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menatap langit-langit. "Len-kun tidak menceritakan hal detil mengenai situasi yang terjadi di Crypton ya?"

"Ya... dia cuma bilang untuk menggantikannya saja dan aku bisa tenang asal bisa mendapat surat dari Sensei."

"Kalau begitu, ambillah suratmu dan lakukan apa yang Len-kun minta." IA-sensei tersenyum manis.

"Tapi, Sensei..." Aku masih memprotes. Orang itu tahu kenyataan yang terjadi pada Len. Kenapa dia menolak untuk memberitahukannya?

Masalahnya, kenapa? Kenapa dia harus menolak untuk memberitahuku?

"Jadi jadi," mata IA-sensei kembali berbinar, "bagaimana rasanya tidur seatap dengan ratusan cowok keren?"

Tuhan... aku ingin kita bicara topik serius yang berbobot tentang Len, bukan tentang para cowok liar yang keperibadiannya sungguh sangat mengerikan itu!

"Sensei..." Aku kembali mencoba memohon.

"Hemm?" Wanita itu masih tidak ingin menjawab. Dia justru menuntut jawaban.

Aku menghela napas panjang. "Sungguh mengerikan," sahutku, berharap jika aku bercerita mungkin dia akan membagi ceritanya. "'Mereka sangat terlihat berbeda di luar asrama dan di dalam asrama."

"Dan korset," IA-sensei terkikik pelan, "bagaimana rasanya memakai benda itu seharian?"

"Parah nyusahin banget!" Aku menghela napas panjang. "Kayak nggak bisa napas pokoknya..." Dan kemudian aku tersadar kalau aku sudah teralu menyimpang dari topik utama yang ingin kubangkitkan. Aku menutup mulutku. "Sensei... dengar... aku tidak tahu bahwa Len sudah dikeluarkan dari klub sepak bola. Tahukah Sensei alasannya?"

IA-sensei mengerjap lama dan kemudian tersenyum. "Aku bukan orang yang berhak untuk mengatakannya, Rin-chan."

"Tapi... Len... dia... tidak akan memberitahuku."

IA-sensei menarik napas panjang. "Len-kun memintaku untuk menjagamu dari hal-hal yang tidak perlu kau lakukan."

Aku menengadahkan kepala, menatap guru kesehatan Crypton yang cantik jelita. "Seperti?"

"Seperti ikut campur dalam masalahnya."

"Kenapa?" Dahiku berkerut. "Aku kakak kembarnya! Memangnya aku tidak boleh—"

"Itu pertimbangan Len-kun, Rin-chan. Ketika dia menceritakan rencananya padaku, aku sudah bisa menebak kalau cepat atau lambat kau akan tahu kenyataannya."

"Kenyataan soal apa?"

"Cowok-cowok Crypton yang keren!"

TUHAN! Bisa nggak sih kita lupakan soal cowok keren dan kembali ke topik yang sebenarnya?!

Guru cantik itu kemudian berdiri dan berjalan menuju rak belakang mejanya dimana terdapat mesin kopi otomatis dan beberapa cangkir. "Kau prefer kopi atau teh?"

"Umm... nggak perlu, Sensei, aku—"

"Atau susu?" Guru itu mengangkat cangkirnya. "Len suka sekali minum teh yang dicampur susu dan sedikit madu, itu membuatnya tenang biasanya."

"Ya, aku tahu itu, aku kakak kembarnya! Aku tahu bahwa Len sangat suka minum teh susu hangat dengan aroma madu terutama ketika dia sedang demam! Aku yang biasanya menjaganya!" Aku berkata dengan jengkel. Seriusan, aku nggak butuh minum sekarang! Yang aku butuhkan cuma informasi mengenai Len!

"Kuasumsikan kalau kau sebagai kakak kembarnya juga menyukai hal yang sama dengannya." Dia membalikkan tubuhnya dan membuat suara air yang dituang dan dentingan sendok pada cangkir kaca. Beberapa saat kemudian, cangkir putih dengan pola biru telah hadir di hadapanku. "Silahkan nikmati minumannya, Rin-chan."

Aku menatap cangkir itu. Apa guru centil ini masih berusaha mengalihkan pembicaraan?

"Aku nggak ngasih racun disana," wanita itu memutar bola matanya dan kemudian duduk di kursinya, "minumlah."

Tanganku meraih cangkir. Aroma madu bercampur pekat dengan manisnya susu dan memberikan rasa tenang. Ketika lidahku mencecap isi cairannya, aku merasa hangat dan lebih tenang.

"Sudah tenang?" IA-sensei tersenyum kembali.

Kelihatannya dia tahu kalau aku adalah tipe yang akan ngotot kepada sesuatu yang kuinginkan—ditambah lagi emosian jika sudah menyangkut pada sesuatu yang kusayangi. Dalam kasus ini adalah Len sendiri.

Aku mengangguk pelan.

"Kalau kau sudah tenang, mari kita bahas tentang cowok yang ada di asrama!"

Tuhan...

"Sensei, aku mau ngomongin soal Len!" tukasku cepat.

IA-sensei memutar bola matanya. "Oke. Kita main lempar pertanyaan saja, gimana? Kau boleh bertanya setelah kau menjawab lima pertanyaanku!"

Aargh! Apa susahnya sih menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Len selama dia berada di Crypton?!

"Baiklah, Sensei. Apa pertanyaannya?"

"Kau sekamar dengan siapa?" Mata langitnya berbinar penuh semangat.

Tuhan... kurasa... kalau misalnya guru ini nggak diterima saat bekerja di Crypton, mungkin dia akan masuk secara sengaja—nekat—ke asrama cowok demi mengenal lebih dekat sisi kelelakian mereka.

"Hatsune Mikuo."

IA-sensei mengerjap begitu lama menatapku. Lalu dia memiringkan kepalanya, membuat kepangannya yang lain terjatuh ke sisi yang sama, menunjukkan sisi imutnya. "Siapa?"

"Hatsune Mikuo," aku mengulang kembali jawabanku. Masa dia nggak dengar sih?

"Siapa?" IA-sensei lagi-lagi bertanya.

Dia mau apa sih sebenarnya?! "Hatsune Mikuo, Sensei."

IA-sensei kembali mengerjap. "Aku... nggak salah—"

Wajah boleh cantik, tubuh boleh seksi, tapi sayangnya agak tuli. "Ya, Sensei." Aku memutar bola mataku. Kalau aku mau ikut sesuai aturannya tadi, guru ini sudah menanyakan tiga pertanyaan. Tinggal dua lagi dan aku bisa dapat jawaban mengenai kemisteriusan Len di Crypton.

"Ya... aku sekamar dengan Hatsune Mikuo, ketua klub sepak bola yang mengeluarkan Len dengan alasan yang tidak kuketahui."

"Takdir... memang kejam ya..."

Ya, buatku takdir memang terasa sangat kejam. Liburan musim panas malah dikirim ke neraka kehidupan.

"Ada yang Mikuo-kun katakan padamu?"

"Emm..." Aku mencoba mengingat-ingat semua detil kejadianku dengannya, "aku menceburkan dia ke kolam, dia menyiram mukaku dengan air, kami saling berteriak di ruang makan..."

IA-sensei mengerjap. "Kau... sungguh-sungguh melakukan semua itu?"

Aku mengangguk pelan. "Salah ya? Harusnya aku menendang bokongnya ketika dia tidur ya?"

"Harusnya kau berbuat baik pada penyelamat Len, Rin-chan."

"Habisnya dia—tunggu dulu! Penyelamat Len?" Dahiku berkerut. Orang yang mengeluarkan paksa Len dari klub sepak bola dianggap sebagai penyelamat? Sudah kuduga Crypton adalah tempat paling ngaco di seluruh dunia! "Bagaimana mungkin orang yang menendang Len keluar dari klub bisa dianggap sebagai penyelamat?"

"Kenapa nggak bisa?"

"Karena—" Aku mengerjap. "Len nggak suka Crypton lebih dari apapun yang ada di dunia ini..." Aku menurunkan pandanganku menuju cangir teh dengan uap yang mengepul perlahan. "Dia... ingin pergi dari tempat ini sejauh mungkin..."

Aku menatap IA-sensei, menunggu responnya atas hipotesaku. "Dan Hatsune Mikuo tahu itu dan dia... menolong Len? Apa... apa aku benar?"

"Mungkin," bahu wanita cantik itu terangkat. Dia meraih cangkirnya dan menyesap isinya perlahan.

"Kenapa Sensei tidak menjawab dengan ya atau tidak?!" desakku.

"Sudah kubilang di awal, Rin-chan, itu bukan tanggung jawab maupun tugasku. Len-kun memintaku untuk menjagamu di Crypton."

"Tapi—"

"Karena dia sudah bisa menebak apa reaksimu ketika kau tahu bahwa dia tidak ingin berada di Crypton."

"Bagaimana—"

"Kau akan menelepon Tuan Kagamine, membela Len mati-matian agar adik kembarmu tidak perlu berada di tempat ini."

"Sudah tentu aku—"

"Dan Tuan Kagamine pasti akan bertanya kenapa kau bisa tahu semua itu."

"Aku bisa bilang—"

"Bahwa kau pernah datang ke Crypton untuk menggantikan Len?"

"Bukan, aku—"

"Dan kemudian kau tahu bahwa Len menyembunyikan segala hal dari kau dan Ayah kalian?"

"Tapi—"

"Tuan Kagamine pasti akan menyalahkan Len-kun karena telah melibatkanmu hingga memasukkanmu ke dalam asrama penuh laki-laki?"

"Iya sih—"

"Aku bisa membayangkan ekspresi Tuan Kagamine nantinya."

"Benar, tapi—"

Biarkan aku ngomong dulu woy!

"Len... kasihan sekali kamu."

Aku benci caranya memotong ucapanku! "Dengar, IA-sensei! Dengar aku dulu! Jangan dipotong!" tukasku cepat dalam satu tarikan napas—aku yakin kalau tidak mengatakannya dalam satu tarikan napas, aku tidak akan punya kesempatan lagi. "Aku... aku nggak akan melakukan tindakan yang akan menyusahkan Len!"

Dia memiringkan kepalanya.

"Aku nggak akan menyusahkan Len!"

"Kalau begitu, ambil suratnya dan bersikaplah seolah kau adalah Len-kun, Rin-chan. Itu adalah skenario yang sudah disiapkan Len-kun buatmu."

"Maksudku, Sensei—"

"Sekarang, ambil suratmu, Rin-chan," dia tersenyum lembut padaku, "semua akan baik-baik saja setelahnya."

"Tapi Len nggak akan baik-baik saja!" tukasku cepat. "Len nggak akan baik-baik saja kalau dia masih berada di Crypton! Nggak akan pernah bisa!" Aku kesal! Aku kesal! Aku kesal! Kenapa nggak bisa dikasih tahu langsung aja sih?!

Wanita cantik itu menyandarkan tubuhnya dan menghela napas panjang. "Len-kun memintaku untuk melindungimu dari kecerobahanmu, Rin-chan."

"Menurutmu aku akan melakukan hal yang ceroboh?"

"Yap, pastinya."

Seriusan, memangnya guru ini tahu apa sih?

"Kau tidak akan meninggalkan Len sendirian, aku tahu itu. Dan Len juga memikirkan hal yang sama soal dirimu. Jadi, untuk menengahinya, aku akan berada disini sebagai penjaga agar kau tidak melakukan hal yang membahayakan identitasmu, Rin-chan."

"Maksud Sensei aku sebaiknya nggak melakukan apapun untuk menolong Len?" Aku menatapnya. Aku tidak suka dengan idenya. "Kenapa Sensei bisa—"

"Len-kun pasti punya rencana dan kita perlu percaya padanya," dia mendesah.

"Len nggak percaya kalau aku bisa menolongnya?" Alisku terangkat sebelah. Adik kembarku beneran ngomong gitu? Seriusan?!

"Kita harusnya ngomongin hal lain saja tahu!" Dia mulai meracau lagi. "Jadi, apakah ada cowok ganteng yang kamu suka? Duh, asyiknya! Kau bisa melihatnya sepanjang hari dan bahkan bisa mengintipnya ketika mandi..."

Tuhan! Hentikan racauan guru sinting ini!

"Sensei!"

"Kau tidak mau bicara tentang cowok ganteng, Rin-chan?"

"Sensei..."

"Aneh..." IA-sensei meletakkan jemari di bibirnya. "Kau tidak tertarik dengan mereka ya? Len -kun tidak bilang kalau kakak kembarnya tidak menyukai laki-laki—oh! Ataukah justru karena itulah Len-kun mengirimmu kemari? Karena kau akan tetap baik-baik saja?" Alisnya terangkat sebelah. "Dan... justru tambah bergairah?"

Aku menatap matanya dalam-dalam. Aku hanya butuh jawaban! "Sensei..."

"Hemm, jika kau tidak tertarik membicarakan cowok ganteng, lebih baik kita hentikan percakapan ini." Senyum guru cantik itu melebar. "Kau bisa ambil suratmu sekarang."

"Aku masih—"

"Aku tidak akan menjawabnya, Rin-chan." Matanya mendadak berubah tajam. "Maaf." IA-sensei berdiri dan berjalan menuju pintu ruang kesehatan, membuka kuncinya. "Kurasa, kau butuh memikirkan segalanya dengan tenang."

"Len—"

"Len-kun tidak mengirimmu ke Crypton untuk menyelesaikan masalahnya karena hal itu membutuhkan usaha yang dapat menyulitkan dirimu, Rin-chan, membahayakan identitasmu."

Dia kembali tersenyum. "Jadi, gunakanlah ketiga surat itu unttuk mellindungi identitasmu, Rin-chan. Jangan melakukan hal-hal yang tidak diharapkan oleh Len-kun, karena jika ada orang lain selain aku dan kau di Crypton yang mengetahui identitasmu, baik aku maupun Len-kun tidak akan bisa menyelamatkanmu."

.

.


.

.

Aku menatap koridor Crypton dengan hati hampa. Aku merasa sangat kacau. Rasanya aku sudah begitu dekat dengan misteri Len, namun kenapa guru mesum itu justru menjauhkannya kembali?! Kenapa?! Kenapa aku dilarang untuk membantu Len?!

Napasku mendadak terasa sesak. Kakiku terasa berat. Aku merasa kehilangan semangat.

Kenapa Len merahasiakan begitu banyak hal dariku?

Kenapa Len tidak mengatakan semuanya padaku?

Kenapa Len tidak meminta bantuan padaku?

Aku menyentuh pipiku, menutupi mataku. Aku ingin menangis, menuangkan semua emosi ini.

Harusnya aku yang kakak kembarnya, saudari yang lahir ke dunia ini tepat bersama dirinya, menjadi orang yang paling dapat membantunya. Nyatanya aku hanya... hanya...

"Kenapa kau harus nangis di saat begini sih?!" Aku merasakan jemariku basah—sial, aku beneran nangis!

"Karena kau cengeng."

Langkahku terhenti. Yang barusan jelas bukan suaraku. Aku menghapus bekas air mataku, menengadahkan kepalaku menuju arah suara yang menyapaku barusan. Warna biru kehijauan membekas di mataku dan senyuman sinisnya menusuk hatiku.

Sungguh waktu yang sangat pas... Dari semua orang yang kukenal, kenapa Tuhan... kenapa Kau harus mempertemukanku dengannya... kenapa... kenapa?!

"Hatsune Mikuo-senpai..."

Berdiri tepat di hadapanku adalah pemuda tampan berambut biru kehijauan berantakan dengan wajah super menyebalkan—penekanan pada tatapan tajam dan senyuman sinisnya! Tentu saja, dia adalah Senpai Idiot yang sangat-sangat menyebalkan yang mengeluarkan Len dari klub sepak bola—

Tunggu! Aku bisa bertanya padanya mengenai alasan dia mengeluarkan Len bukan? Itu berarti... dia mungkin mengetahui rahasia Len... Tidak ada salahnya dicoba untuk ditanyakan bukan?

Jika aku tidak bisa mengorek informasi dari Len atau dari sahabatnya atau dari guru yang paling dipercaya olehnya, aku bisa mengorek informasi dari orang yang kuanggap paling bermasalah dengannya.

"Kenapa Mikuo-senpai mengeluarkanku dari klub sepak bola?"

Dia diam cukup lama sebelum akhirnya menjawab. "Kau masih belum berubah ya. Berhentilah menyiksa diri dan segera tentukan langkahmu selanjutnya. Waktu nggak bisa diulang jadi jangan melakukan sesuatu yang bisa kau sesali—" Mikuo-senpai melirik ke arah tanganku yang mengenggam ketiga surat yang barusan diberikan IA-sensei. Aku melihat dahinya berkerut dengan sebelah alis terangkat. "Itu apa? Surat izin supaya kau bisa istirahat sepanjang summer camp?"

Seriusan, orang ini punya indera keenam atau apa sih sebenarnya? Aku menatap matanya, mempertimbangkan kebohongan seperti apa yang harus kusampaikan padanya.

"Emm, aku..."

Mikuo-senpai memutar bola matanya dan mendengus keras. "Nggak usah banyak alasan deh! Kalau emang lemah, bilang saja lemah! Aku sudah pernah bilang padamu kan, kalau emang nggak niat kesini, nggak usah kesini!"

Wajah boleh cakep, tapi mulutnya...

Mata kami berdua bertemu. "Aku benci sekali pada orang seperti kau, Kagamine Len!"

Dia mendengus sekali lagi dan berjalan melewatiku, sengaja menabrakku hingga membuat surat yang pegang terjatuh ke lantai. Aku menatap lembaran surat itu sambil mencerna ucapannya. Memangnya apa salah Len pada orang ini sih?! "Memangnya apa salahku padamu sih?!" teriakku nyaring. Dia berhenti melangkah. "Memangnya aku melakukan apa padamu sih?!"

Pemuda itu membalikkan badannya, menatapku setajam mungkin hingga aku bisa merasakan aura kelam darinya. Dia berjalan mendekatiku hingga jarak kami sangat dekat—aku nyaris bisa merasakan napasnya. "Melihatmu yang seperti ini membuatku kesal. Tidak ada yang akan berubah kalau kau tidak berubah. Kau hanya akan selalu menjadi pecundang bodoh pengecut yang bahkan tidak bisa pergi dari tempat yang paling kau benci ini."

Apa dia bilang barusan? Len membenci tempat ini?

Len... membenci tempat ini...

Benarkah?

Tapi, kenapa Len masih berada disini?

Kenapa Len masih mempertahankan diri untuk berada di tempat ini?

"Crypton sangat menyenangkan kok, Rin. Aku... sangat senang bisa masuk Crypton. Tim sepak bolanya sangat menyenangkan! Aku sampai-sampai dimarahi karena tidak mau keluar lapangan haha!"

Kenapa Len berbohong?

"Kau memuakkan!" Dan kemudian Senpai Idiot itu membalikkan badan, menjauhiku, berjalan menghilang menuju ujung koridor.

Aku terdiam di tempatku, menatap surat yang berceceran di lantai. Ada alasan yang menahan Len untuk pergi dari tempat memuakkan yang paling dibencinya ini. Satu alasan yang membuatnya tidak bisa berkutik, tidak bisa lari, tidak bisa menghindar.

Dan sebuah kilasan adegan kemudian berlanjut di kepalaku. Terlihat sangat nyata seolah aku berada di masa itu, berbicara dengan senang kepada Len yang baru saja kembali ke rumah setelah sebulan bersekolah di Crypton.

"Syukurlah! Aku senang kau merasa nyaman disana!"

Mata sebiru langit musim panas milik Len membesar sesaat dan kemudian dia mengangguk lemah. "Tentu, aku merasa sangat nyaman di Crypton!"

"Kau sungguh membuatku bangga, Len!" Kali ini suara berat yang menyapa. Pandangan berubah menunjukkan sosok laki-laki berbadan tegap dengan wajah penuh karisma. Papa mereka.

"Benarkah, Papa?"

"Ya, teruslah berada di Crypton dan buatlah Papa semakin bangga denganmu!"

Aku tersenyum lemah ketika menemukan alasan itu. Aku menemukan alasan itu, alasan yang menahan Len untuk pergi dari tempat memuakkan yang paling dibencinya ini. Satu alasan yang membuatnya tidak bisa berkutik, tidak bisa lari, tidak bisa menghindar

Dan itu semua karena keinginan Papa.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ya, Papa, aku janji aku akan terus berada di Crypton, menjadi atlet seperti Papa dulu, membuat Papa bangga dengan diriku! Aku janji tidak akan mengecewakan Papa! Aku janji aku akan terus berada di Crypton apapun yang terjadi!"

.

.

.tobecontinued..