Hallo Minna .. Udah update lagi nihh
Maaf banget ya lama. Abis UN nih. susah gak ? hehe
Check this out aja yaaa!
RUMAH SAKIT
Ino berlari ke koridor mencari kamar Itachi. Seketika , dia tiba di depan pintu ruangan tempat Itachi di rawat. Dari luar, dia bisa melihat keadaan Itachi yang sedang berbaring lemas tak berdaya. Di samping Itachi, terlihat Mikoto sedang memegang tangan Itachi.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Itachi yang tiba tiba mengejutkan Ino
"Hmm. Aku sedang melihat keadaan kakak" kata Ino
"Untuk apa ? Sudah setiap hari kau melihatku" kata Itachi
"Iya, tapi aku sedang ingin melihat keadaan kakak yang asli"
"Memangnya aku bukan Itachi sungguhan?" Ino jengkel dengan jawaban Itachi itu.
"Aduh terserah kakak deh! Aku memang selalu kalah berdebat dengan siapapun. Kadang aku ragu kenapa banyak yang menilaiku cukup pintar" kata Ino jengkel
"Sudahlah. Jangan membuat diriku seolah-olah memojokkanmu. Masuklah, mama sudah menunggu" kata Itachi. Ino pun masuk ke dalam ruangan. Mikoto melihatnya.
"Eh, Ino. Duduk dulu" kata Mikoto. Ino duduk di sebrang Mikoto
"Ada apa, tante?" tanya Ino
"Papanya Itachi setuju mau ngomong sama tante. Kira-kira tante harus ngomong apa ya?" tanya Mikoto. Ino berfikir. Dia menengok Itachi dan memberi isyarat meminta jawaban. Tapi Itachi sendiri tidak tahu harus bagaimana
"Ehm, tante. Aku juga bingung. Tapi sebaiknya tante jujur aja sama suami tante tentang perasaan tante. Lalu selanjutnya, putusan ada di tangan kalian" kata Ino. Hanya itu yang bisa di katakan Ino.
"Kira-kira, 1 jam lagi, mungkin Papanya Itachi akan datang" kata Mikoto. Wajahnya memang terlihat gugup
"Ngomong-ngomong tante,kenapa tante ceritanya sama saya? Ngga sama Sasuke? Pasti dia senang" kata Ino
"Ehm, tante tidak mau Sasuke terlibat. Kalau seandainya terjadi argumen di antara tante dan suami tante, Sasuke bisa turun tangan. Tante tidak mau menyusahkan dia. Soal kenapa tante ingin cerita sama kamu, tante hanya merasa nyaman saja dengan kamu. Setiap tante di deket kamu, tante jadi merasa dekat dengan Itachi juga. Padahal, kalian tidak pernah berpacaran kan?" kata Mikoto sedikit bergurau dengan pertanyaan terakhirnya. Namun , pertanyaan itu sukses menusuk hati Itachi dan Ino. Ino tersenyum
Berbeda dengan Itachi. Dia tersenyum karena kepekaan yang dirasakan oleh Mamanya. Dia rindu sekali dengan Mamanya
"Ngga perlu ada aku tante. Itachi itu selalu ada di hati tante kok" kata Ino. Mikoto tersenyum.
"Kamu gak keberatan kan kalau tante minta saran ke kamu? Lagipula, kita kan sama sama perempuan." kata Mikoto
"Maksud tante? Sama sama perempuan?" tanya Ino bingung.
"Ya. Sesama perempuan kan , cenderung bisa mengerti satu sama lain. Kamu gak keberatan kan?" tanya Mikoto.
"Ya nggalah tante, masak aku keberatan? Aku seneng kok" Ino pun tersenyum
sementara itu, SMA KONOHA
Sasori dan Sakura duduk berdua di taman sekolah. Sakura masih menangis. Sasori menyodorkan sapu tangan berwarna merah dari kantongnya. Sakura pun mengambil sapu tangan itu. Sasori melihat ke arah langit
"Maaf" kata Sasori sembari menatap langit. Sakura menengok ke arahnya sembari menghapus air matanya.
"Ngga apa apa kak. Aku tidak mau egois. Lagipula, perasaan itu tidak bisa di paksakan , kan?" kata Sakura. Sasori tersenyum. Dia lega melihat Sakura sudah tenang
"Aku mohon,jangan salahkan Ino." kata Sasori
"Aku tidak menyalahkannya. Aku mengerti kalau Ino tidak ada niatan untuk menusukku dari belakang. Tapi, aku masih mencerna. Apa benar selama ini Kak Itachi selalu ada di samping Ino?" kata Sakura heran
"Aku melihatnya sendiri." kata Sasori singkat. Sakura mengangguk. "Untuk lebih jelasnya, biar Ino sendiri yang menjelaskan semuanya. Ino yang lebih mengerti masalahnya" lanjut Sasori.
"Ehm Kak, boleh nanya?" kata Sakura yang mulai tersenyum. Sasori menengok ke arahnya dengan ekspresi datar, namun seakan akan memberi isyarat 'bertanyalah'
"Sejak kapan Kakak suka Ino?" tanya Sakura. Sasori mengernyitkan alisnya. Dia mulai berfikir
"Entahlah. Aku tidak ingat" kata Sasori
"Lantas, apa yang membuat Kakak suka pada Ino?" tanya Sakura penasaran, meski hatinya serasa hancur menjadi kepingan kepingan begitu ingin mendengar jawabannya
"Entahlah. Sempat aku berfikir karena wajahnya yang mirip mantan pacarku" kata Sasori. Tiba-tiba, raut wajah Sasori berubah. Dia terlihat sedih
"Mantan pacar?" tanya Sakura . Sasori mengangguk. Dia mengambil dompet di kantongnya dan membuka isinya. Di situ terdapat foto seorang perempuan berkuncir 4 di tengah 2 lelaki. Sakura yakin bahwa yang berambut merah itu Sasori. Sedangkan di sebelah perempuan itu ada lelaki berambut coklat. Sepintas, perempuan di tengah itu memang agak mirip dengan Ino. Rambutnya yang pirang, serta matanya yang juga berwarna biru. Hanya saja, biru Ino jauh lebih terang daripada biru perempuan ini
"Namanya Temari." kata Sasori. Dia menutup dompetnya dan memasukkannya ke kantongnya lagi. Sakura khawatir karena melihat wajah Sasori semakin lesu.
"Aduh , maaf ya Kak , jadi bawa bawa masa lalu" kata Sakura tak enak
"Tidak apa. Aku juga sudah tidak kuat menyimpan cerita ini sendirian" kata Sasori. Sakura heran.
"Memangnya, ada apa?" tanya Sakura. "Apa dia berbuat sesuatu yang menyakiti hati kakak sampai kalian putus?" tanya
"Dia sudah meninggal" kata Sasori. Sakura terperanjat. Dia teringat dengan cerita Ino sewaktu pertama kali Itachi kecelakaan. Gantungan hati yang dibuang. Sakura yakin itu pasti dari mantan pacarnya.
"Oh iya kak ,waktu itu aku pernah di ceritain sama Ino soal gantungan hati merah. Apa itu dari mantan pacar kakak?" Sasori mengangguk. Sakura pun melanjutkan "Lalu , kenapa di buang?"
"Waktu itu aku hanya tidak suka kalau ada yang membahas-bahas dia lagi. Mengingatnya sering membuatku sedih. Itu yang aku rasakan waktu pertama kali melihat Ino di kantin. Aku jadi ingat dia." kata Sasori. Sakura teringat sewaktu dia , Ino dan Hinata heboh dengan kedatangan geng Akatsuki. Ternyata, saat itu, Sasori sedang melihat Ino. Sakura semakin sakit . Namun dia tetap meneruskan mendengar cerita Sasori
"Awalnya, aku pikir aku akan benci melihat Ino. Terlebih di pertemuan pertama, dia malah membahas masalah gantungan kunci dari Temari. Namun lama kelamaan, aku sering memikirkannya. Apalagi setelah aku mengenalnya, mungkin wajah boleh mirip, tapi kepribadiannya sangat berbeda jauh. Dia jauh lebih polos di banding Temari yang dewasa. Dan kepolosan Ino lah yang sering membuatku tersenyum. Meski kadang kadang, aku berpikir dia sering bertingkah bodoh, tapi aku jadi sering tertawa mengingat tingkahnya yang kelewat polos. Kadang aku tidak mengerti dengan perasaanku. Awalnya aku pikir , aku hanya menyukai tampilannya yang mirip Temari. Tapi , lama kelamaan, aku jadi seutuhnya mencintainya. Entah sejak kapan, yang pasti aku mencintainya sekarang." kata Sasori sembari tersenyum. Mendengar kenyataan itu , Sakura ingin menangis lagi. Namun dia menahan airmatanya
"Ngomong-ngomong, kenapa kakak harus merasa benci saat pertama kali melihat Ino? Memang, Temari berbuat sesuatu hal yang tidak enak sebelum meninggal?" tanya Sakura. Sasori terdiam
"Aku salah nanya ya, maaf kak" kata Sakura
"Aku hanya kesal karena dia lebih memilih memutuskan untuk bunuh diri daripada mencoba bersamaku" kata Sasori. Sakura mulai bingung , namun dia lebih memilih untuk mendengarkan cerita Sasori
Flashback
Saat itu , Sasori masih kecil. Dia tinggal bersama neneknya setelah Ayah dan Ibunya meninggal karena badai Sandy di Sunagakure saat Sasori masih berumur 8 bulan. Waktu itu, Sasori di titipkan kepada Nenek Chiyo di Konoha, karena kedua orang tua Sasori ada pameran yang harus diikutinya di Sunagakure. Setelah mendengar berita itu , nenek Chiyo berusaha menuju tempat evakuasi dengan harapan bahwa anak dan menantunya masih hidup. Akan tetapi dia tidak menemukannya.
Setelah kecewa, dia akhirnya memutuskan untuk pulang. Akan tetapi, dia melihat seorang wanita sedang menangis menggendong anak lelakinya yang terlihat seumuran dengan Sasori , beserta anak perempuannya yang sepertinya sudah berumur 2 tahun. Nenek chiyo memutuskan untuk bertanya pada wanita itu
"Ada apa? Kenapa menangis, nak?" tanya Nenek Chiyo. Wanita itu menatap Nenek Chiyo. Dia pun menghapus air matanya
"Anak kembar saya. Yang satunya terpisah. Dia bersama ayahnya saat itu. Anakku sedang pergi dengan ayahnya untuk check up masalah jantung. Sekarang, suami dan anak kembar saya yang satunya lagi tidak dapat ditemukan." kata Wanita itu
"Saya juga mengalami hal yang sama. Saya tidak bisa memberi saran apapun karena merasakan hal yang sama. Akan tetapi, lebih baik kamu pulang dan tenangkan diri kamu. Lalu, mari kita berdoa supaya keluarga kita tidak kenapa-kenapa" kata Nenek Chiyo
"Rumah saya sudah hancur, bu. Saya gak tau harus bagaimana" kata Wanita itu
"Yasudah, tinggalah dirumahku. Saya juga kesepian" kata Nenek Chiyo. Wanita itu sempat ragu, namun akhirnya dia mengiyakan ajakannya.
Beberapa hari kemudian , korban badai Sandy di tampilkan di koran. Di situ tampak foto Ayah dan Ibunya Sasori. Nenek Chiyo menangis. Wanita yang di tolongnya pun melihat di koran dan berusaha mencari foto suami dan anaknya. Namun , dia tidak menemukannya
10 tahun kemudian
Wanita itu menyimpan rapat rahasia bahwa anaknya , Kankuro , memiliki saudara kembar namun tidak serupa. Dia tidak pernah memberi tahu kepada baik Kankuro ,kembarannya, bahkan Temari , kakaknya. Dia tidak ingin kedua anaknya sedih. Bahkan sampai pada akhirnya, wanita itu sakit keras dan pada akhirnya meninggal. Tinggalah Temari dengan Kankuro di rumah Chiyo.
Dalam 10 tahun itu, tidak ada yang tidak Sasori, Temari dan Kankuro habiskan bersama. Mereka selalu bermain bersama. Temari, sebagai yang paling tua diantara mereka, membagi kasih sayangnya, tidak hanya pada adiknya, akan tetapi pada Sasori. Sasori sempat sedih melihat teman teman di sekitarnya mendapatkan kasih sayang orang tua. Akan tetapi, Temari selalu menghiburnya
"Kamu gak perlu sedih , Sasori. Aku selalu ada. Kalau kamu mau, aku bisa kau anggap jadi Ibumu" kata Temari sembari tersenyum . Mungkin , karena itulah, Sasori selalu nyaman bersama Temari. Dan mulailah ia jatuh cinta pada Temari.
Akan tetapi, saat Temari berumur 17 tahun , dan Sasori serta Kankuro berumur 15 tahun , Temari membawa seorang pria yang tampak seumuran dengan Sasori dan Kankuro. Namanya Gaara. Sekilas , Gaara agak mirip dengan Kankuro. Hanya saja, warna rambut serta postur tubuh mereka berbeda. Hanya wajahnya yang agak mirip. Temari memperkenalkannya sebagai pacarnya, yang ia temui sewaktu lomba tari kipas. Sasori hanya bisa menahan kesedihan dan api cemburu dalam hatinya. Dia pun sempat berpikir, apa ia Temari menyukai lelaki yang mirip dengan adik kandungnya?
Lama kelamaan, Temari semakin dekat dengan Gaara dan semakin jauh dari Sasori. Lama kelamaan, Chiyo yang mengetahui rahasia Ibunya Temari, mulai curiga dengan rupa Gaara dan Kankuro yang memiliki kemiripan , namun tidak identik. Chiyo mengajak Gaara dan keluarganya makan malam. Gaara membawa ayahnya bersamanya. Ayahnya kaget melihat rupa Kankuro yang amat mirip dengan Gaara. Saat makan malam.
"Apa ini anak bapak satu-satunya?" tanya Chiyo
"Iya, kenapa bertanya seperti itu?" tanya Ayahnya Gaara
"Yakin tidak ada anak yang lain?" tanya Chiyo. Ayahnya Gaara kaget, namun agak bingung dengan ucapan Chiyo. Saat Chiyo menunjukkan foto Ibunya Temari dan Kankuro, Ayahnya Gaara kaget
"Jadi, mereka anak-anakku yang hilang? Kemana istriku?" Ternyata, selama ini , mereka belum meninggal. Mereka selamat . Akan tetapi ,mereka tidak dapat menemukan anak dan istrinya. Mereka pikir, mereka bertiga sudah meninggal karena tak ada kabar lagi mengenai mereka bertiga. Saat Ayah Gaara menuju tempat evakuasi, mereka bertiga sudah tidak ditemukan( karena pergi dengan nenek Chiyo) . Pernyataan Ayahnya Gaara membuat Temari , Kankuro dan Sasori kaget. Temari sempat menangis semalaman. Dia tidak menyangka bahwa selama ini, dia berpacaran dengan adiknya sendiri. Karena kesadarannya, dia memutuskan hubungannya dengan Gaara . Ayahnya meminta Kankuro dan Temari untuk pindah, Kankuro senang, tetapi Temari meminta Ayahnya untuk tetap tinggal bersama nenek Chiyo. Kankuro pun memeluk Sasori sebagai tanda berpisah.
Suatu malam , Temari menangis di Balkon. Chiyo sudah tertidur, tapi tidak dengan Sasori. Dia yakin Temari masih merasa sedih. Maka itulah, dia menyusul Temari ke kamarnya.
"Kau tidak apa apa?" Tanya Sasori. Temari hanya menggelengkan kepala
"Kamu kenapa belum tidur? Besok kan sekolah" kata Temari.
"Seharusnya kau yang tidur" kata Sasori berdiri di samping Temari
"Kamu , sudah lebih tinggi dariku ya?" kata Temari sambil tersenyum
"Aku kan sudah bilang, aku tidak mau kalah darimu. Apalagi masalah tinggi" kata Sasori tersenyum
"Terimakasih , Sasori" kata Temari tersenyum. Sasori heran
"Berterima kasih untuk apa?" tanya Sasori
"Karena telah membuatku tersenyum malam ini" kata Temari. "Tidurlah" lanjutnya lalu berjalan meninggalkan Sasori. Sasori pun menarik tangannya. Temari bingung
"Apa boleh , aku berusaha untuk membuatmu tersenyum setiap hari?" tanya Sasori sembari menatap mata Temari dalam dalam. Temari tertawa
"Yabolehlah, masa aku harus melarangmu?" kata Temari sembari tertawa kecil
"Kalau begitu, lupakanlah Gaara" kata Sasori. Temari bingung. Namun tertawa kecil
"Mana bisa aku melupakannya? Dia kan adikku" Temari menghapus airmatanya dan melanjutkan pembicaraannya "sebenarnya, aku sempat kesal dengan Ibuku. Kenapa dia tidak cerita bahwa aku punya 1 adik lagi. Kalau ia cerita ,mungkin ini tidak akan terjadi" kata Temari.
"Aku tidak memintamu meninggalkannya. Aku hanya ingin kau melupakan perasaanmu pada Gaara. Setidaknya, beri aku kesempatan" kata Sasori.
"Aku tidak bisa, Sasori" kata Temari pelan
"Kenapa? Mungkin kau belum mencintaiku saat ini. Tapi , cepat atau lambat, kau pasti bisa mencintaiku" kata Sasori meyakinkan
"Maaf Sasori, aku hanya menganggapmu sebagai adik" kata Temari
"YANG ADIKMU ITU GAARA , BUKAN AKU !" Sasori mulai emosi mendengarnya. Temari menatap Sasori. Dia baru pertama kali melihat Sasori meledak separah ini.
"Maaf, aku telah marah padamu" kata Sasori . Temari menyentuh pipi Sasori
"Aku yang minta maaf. Kamu benar. Yang adikku itu Gaara. Aku akan mencobanya Sasori" kata Temari tersenyum. "Tapi, kamu nggak malu? Perempuan seumuranmu banyak yang menyukaimu loh!"
"Aku nggak peduli. Yang penting itu kamu" kata Sasori. Sasori pun memeluk Temari. Temari tersenyum
Setelah hari itu , Sasori dan Temari pacaran. Akan tetapi ,tidak sekalipun Temari mampu menghapus perasaannya pada Gaara. Lambat laun , Kankuro memberi tahu Temari bahwa penyakit jantung Gaara yang di deritanya sejak bayi kambuh. Temari rutin menjenguknya. Awalnya Sasori cemburu karena merasa Temari masih mencintai Gaara. Tapi , Gaara tetap adiknya. Ia tidak mau egois.
Lama kelamaan penyakit Gaara semakin tidak dapat diselamatkan. Di akhir hidupnya, dia hanya mengatakan kepada Temari bahwa dia sangat merasa kehilangan Temari. Dia tetap mencintai kakaknya meskipun dia harus menghadapi kenyataan bahwa mereka tidak akan bisa bersatu. Dia juga mengatakan bahwa dia berharap , di kehidupan selanjutnya, Temari dan dirinya dapat bersatu.
Temari menangis sejadi jadinya ketika Gaara meninggal. Sasori memeluk Temari dan berusaha menenangkannya. Setelah itu , malam harinya, Sasori datang ke kamar Temari untuk bertanya
"Temari, apa perasaanmu belum berubah?" tanya Sasori serius. Temari terdiam
"Kenapa kau tidak pernah mencoba?" tanya Sasori. Temari tetap terdiam.
"Aku akan menunggu jawabannya besok" Sasori pun keluar dari kamar Temari. Esok paginya, dia menemukan Temari menggantung dirinya di kamar. Dia juga menemukan surat di atas mejanya
Dear Sasori
Maaf ya, aku tidak pernah berusaha untuk merubah perasaanku. Bagiku,itu hal tersulit. Maaf juga telah menjadikanmu alat untuk membantuku melupakan perasaanku pada Gaara. Aku memang jahat, maafkan aku.
Kemarin , Gaara bilang bahwa dia ingin di kehidupan selanjutnya, aku bisa bersama dia. Bukan sebagai kakak adik, tetapi sebagai sepasang kekasih. Aku tidak bisa menepis kata kata itu. Maafkan aku Sasori. Mungkin aku bertindak bodoh saat ini, tapi aku memegang teguh harapan itu. Aku ingin menemui Gaara. Maafkan aku Sasori, tidak pernah mencoba untuk berusaha mencintaimu. Maafkan aku merusak keyakinanmu bahwa aku perempuan terkuat dan terhebat untukmu. Nyatanya, hatiku lemah. Maaf Sasori. Semoga kau menemukan orang lain yang mampu mencintaimu.
~Temari
end of Flashback
Sasori mulai menitikkan air mata ketika menceritakan itu semua kepada Sakura. Sakura memeluknya. Sasori pun membalas pelukan itu. Sasori merasa tenang sejenak.
"Maaf kak, aku membuatmu sedih" kata Sakura melepaskan pelukannya.
"Tidak apa. Akhirnya , aku bisa menceritakan kepada orang lain tentang ini" kata Sasori
"Memang kakak tidak pernah cerita pada siapapun?" tanya Sakura
"Soal sebab-sebab kenapa Temari bunuh diri, aku tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Hanya padamu" kata Sasori
"Kenapa Kakak ceritakan ini padaku?" tanya Sakura
"Aku hanya tidak tahu harus cerita pada siapa sebelumnya. Tapi, kalau sudah seperti ini, lebih baik aku ceritakan padamu" kata Sasori.
"Baiklah kak, aku buat suatu keputusan" kata Sakura. Sasori terdiam
"Aku akan mendukung Kakak dengan Ino." Kata Sakura sembari menyunggingkan senyum. Dia tahu hatinya sedih, tapi akan lebih sedih lagi jika ia membiarkan Sasori sedih dengan masa lalunya. Sakura yakin , Ino mampu menghapus kesedihan orang yang dicintainya
meanwhile, di rumah sakit
"Tante , aku balik dulu ya. Aku masih ada PR tante" kata Ino.
"Yasudah. Makasih ya udah nemenin Tante." Mikoto pun mempersilahkan Ino pergi. Ino dan Itachi kemudian keluar dari rumah sakit
Beberapa menit kemudian , datanglah seseorang masuk ke ruangan itu. Mikoto pun mengenalinya
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Mikoto pada lelaki itu. Lelaki itu bukan suaminya
"Aku hanya ingin mengetahui kenapa kau absen pada hari ini" kata Lelaki itu
"Orochimaru, jangan halangi aku untuk memperbaiki semua ini" kata Mikoto kesal. Beberapa menit kemudian , datang lelaki lain lagi yang membuat Mikoto terkejut sekaligus merasa senang.
to be continue
WUAAAAH
MAAP BANGET YA CERITA INI SEMAKIN ABSTRAK SETELAH DI TINGGALKAN. Maaf kalo ceritanya makin tidak jelas. Haduh pesimis banget ya ?
Maaf kalo update agak lamaaaa yaaaaa :D . Aku baru UN nih.
Ada yang udah UN gak ? Susah gak minna ? hehehe
Hana Kumiko : Iya so sweet banget . Meninggal gak ya ? Hmmmm
Uchi Hersia : makasi yaaa :) sipp deh !
Kaname : Hmmmmm ... Kira kira begitu gak ya ?
Kay Yamanaka : waah maafkan persoalan bahasa ya :) . Masih newbie hehe. Tp gpp, resensi buat fanfict selanjutnya . makasi yaa
Sheena Shay : makasi ya. Selamat membaca. Maaf ya kalo gak sesuai harapan
Miss lavender hyuuga : Makasi ya :) .
Ya terpenting , makasih readers setia. Maaf kalau aku selalu ngecewain kalian
Doakan ya SNMPTN ku :)
