Hallo Minna .. Udah update lagi nihh

Sepertinya ide-ideku telah habis untuk memoles cerita ini haduh

Selamat membaca


Rumah Sakit

Lelaki berambut agak gondrong , memakai jas kerja , tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tempat dimana Itachi di rawat

"Akhirnya kau datang juga" kata Orochimaru dengan nada mengejek

"Diamlah , Orochimaru!" kata Mikoto tegas

"Aku ini bos-mu" kata Orochimaru

"Tapi kita sedang tidak di lingkungan kerja. Jadi, aku rasa aku tidak perlu memanggilmu Pak. Orochimaru" kata Mikoto

"Mau apa kau menyuruhku kesini? Kita bisa cari tempat lain , tidak perlu di kamar tempat Itachi di rawat" tanya Fugaku. Sesekali mata Fugaku menatap Itachi dengan penuh kekhawatiran

"Aku hanya perlu berbicara penting mengenai kita dan keluarga kita" kata Mikoto

"Wah, wah, sepertinya akan ada yang rujuk" Kata Orochimaru dengan nada mengejek, diikuti lirikan sinis dari mata Fugaku dan Mikoto

"Bukan urusanmu sama sekali" kata Mikoto.

"Kau masih bekerja di perusahaanku kan? Kau tidak takut kalau ..." omongan Orochimaru terpotong

"Anda mau memecat saya? Silahkan! Saya sadar bahwa saya terlalu egois dan lebih mementingkan karir saya, sampai-sampai timbul kejadian seperti ini kepada Itachi" kata Mikoto, menyesal karena tidak memberikan perhatian lebih kepada anak sulungnya. Meski bukan salahnya , namun tetap, andai dia selalu bersama Itachi.

Disisi lain, Fugaku terkesima pada perkataan yang di lontarkan oleh istrinya yang belum resmi ia ceraikan. Orochimaru mengeluarkan pandangan tak suka

"Baiklah, aku turuti kemauanmu. Namun, jika suamimu tetap ingin berpisah denganmu, kau bisa datang padaku." kata Orochimaru tersenyum , lalu pergi keluar meninggalkan kamar yang di tinggali Itachi.

Suasana menjadi sepi. Fugaku duduk di tempat dimana Ino duduk tadi. Dalam beberapa detik, tak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka. Hingga pada akhirnya

"Kau masih marah?" tanya Mikoto yang akhirnya membuka suara

"Menurutmu?" tanya Fugaku

"Masih" jawab Mikoto singkat . Fugaku tiba-tiba tersenyum kecil

"Bagaimana Sasuke?" tanya Fugaku. Mikoto tersenyum

"Dia baik. Dia sekolah di tempat Itachi" jawab Mikoto

"Dia sudah berani bersekolah?" tanya Fugaku. Mikoto mengangguk. "Syukurlah" lanjut Fugaku

Malam hari, 08.00 , kamar Ino

Ino membuka handphone flip berwarna ungunya. Dia mencari nama di contact. Sakura

"Sudah berapa menit sejak pukul 6, kau bermondar mandir seperti orang gila dan hanya berfikir bagaimana caramu menelpon Sakura?" tanya Itachi yang sedang duduk di atas ranjangnya Ino

"Aku hanya bingung harus berkata apa. Masak aku hanya minta maaf saja?" kata Ino

"Bukankah kau ingin mengajaknya bertemu?" tanya Itachi

"Aku ingin. Tapi, bagaimana kalau dia tidak mau?" tanya Ino

"Kau tak akan pernah tau kalau belum mencoba" kata Itachi. Ino pun menghela nafas. Akhirnya dia memencet juga tombol hijau itu ke nomor Sakura. 2 Detik kemudian, Sakura menjawab telpon itu.

"Sakura, kamu tidak apa apa kan?" tanya Ino khawatir.

"Aku? Tidak. Aku tidak apa-apa" kata Sakura. Nadanya tidak terdengar sedih seperti tadi siang.

"Sakura, aku mau minta maaf" kata Ino

"Minta maaf? Soal Kak Sasori tak usah di fikirkan. Aku sudah tau semua" kata Sakura. Entah dia berbohong atau tidak

"Iya. Tapi aku tidak enak. Bagaimana kalau kita bertemu besok? Jam 7 pagi" tanya Ino

"Bertemu? Mau bicara apalagi? Tidak usah. Aku percaya kok. Kak Sasori sudah menjelaskan" kata Sakura

"Tapi kan aku belum minta maaf soal kenapa aku tidak bercerita kalau aku bisa melihat Kak Itachi" kata Ino.

"Hmmm" Sakura diam sejenak, lalu melanjutkan "Baiklah. Karena aku penasaran, besok kita bertemu" katanya setuju. "Tapi , dia belum meninggal kan? Kok arwahnya bisa bersamamu?" tanya Sakura penasaran

"Hmmm iya. Besok akan aku jelaskan semuanya. Ketemu di taman dekat sekolah saja, mau?" tanya Ino

"Oh, taman itu" Sakura ingat tempat pertama kali Sasori menolongnya. Nada bicaranya mulai berubah. Ino pun merasakannya. Ino merasa bersalah menghancurkan harapan Sakura terhadap cinta pertamanya

"Sakura" nada Ino mulai serius

"Kenapa?" jawabnya

"Kamu, masih mau menjadi sahabatku kan?" tanya Ino takut

"Astaga. Lelaki tidak akan menghancurkan persahabatan kita. Tenang saja" kata Sakura. Nadanya kembali seperti semula. Ino tetap tidak enak

"Kamu benar benar tidak marah?" tanya Ino

"Ah, sudahlah. Kalau kamu bertanya terus, aku malah tambah marah" katanya. "Ngomong-ngomong, aku harus membantu Ibuku untuk memasak makan malam. Sudah dulu ya. Besok kita lanjut" lanjut Sakura

"Oke" kata Ino. Dia pun mematikan telponnya

"Sudah lega?" tanya Itachi

"Sudah, kak" kata Ino. "Aku lelah. Aku ingin tidur" kata Ino. Itachi pun bangkit dari ranjang Ino dan mempersilahkan Ino berbaring. Ino mematikan lampu kamarnya, berjalan menuju ranjangnya dan berbaring. Setelah itu, dia menyalakan lampu kecil di sebelah ranjangnya. Setelah melapisi tubuhnya dengan selimut, Itachi pun berjalan menuju jendela

"Kak Itachi" panggil Ino pelan. Itachi berbalik

"Kakak bisa nyanyi gak?" tanya Ino

"Untuk apa?" tanya Itachi heran

"Tidak ada lagu pengantar tidur yang enak untuk di dengar malam ini. Mungkin kakak bisa bernyanyi" kata Ino

"Aku tidak bisa" kata Itachi

"Ngga apa-apa deh ,kak. Sekali aja" kata Ino pelan

"Tidak perlu. Aku tidak bisa bernyanyi" kata Itachi

"Ayolah kak, sekali saja" kata Ino pelan.

"Kau ini , manja sekali" kata Itachi.

"Aku tidak manja. Aku hanya butuh lagu pengantar tidur saja" kata Ino.

"Baiklah. Tapi sekali ini saja. Jangan salahkan aku kalau suaraku mengganggu tidurmu" kata Itachi.

"Baiklah" kata Ino pelan. Itachi pun mengambil tempat duduk di sofa dekat lemari baju Ino. Itachi terdiam sebentar.

"Kak, mana lagunya?" tanya Ino

"Aku tidak tahu harus menyanyikan lagu apa." kata Itachi

"Lagu yang sedang populer saja belakangan ini." kata Ino.

Itachi berfikir. Dia malu untuk memulai

"Ayo , kak." kata Ino sambil menutup matanya. Itachi menatap wajah Ino dan mengingat kejadian tadi siang saat Ino bersama Sasori. Setelah itu, dia menatap ke arah luar jendela. Bintang di langit begitu terang.

"Kak?" panggil Ino yang membuyarkan lamunan Itachi. Itachi tersenyum kecil. Namun wajahnya berubah menjadi sedikit muram dan menggambarkan kesedihan

"Kak? Udah ketemu lagunya?" kata Ino pelan sambil tetap menutup matanya. Entah mengapa, bibir Itachi tergerak untuk menyanyikan lagu ini

Setelah kupahami aku bukan yang terbaik
Yang ada di hatimu
Tak dapat kusangsikan
Ternyata dirinyalah yang mengerti kamu
Bukanlah diriku ..

Kini maafkanlah aku
Bila aku menjadi bisu kepada dirimu
Bukan santunku terbungkam
Hanya hatiku berbatas 'tuk mengerti kamu
Maafkanlah aku..

Walau ku masih mencintaimu
Ku harus meninggalkanmu
Ku harus melupakanmu
Meski hatiku menyayangimu
Nurani membutuhkanmu
Ku harus merelakanmu

Dan hanyalah dirimu
Yang mampu memahamiku
Yang dapat mengerti aku

Ternyata dirinyalah
Yang sanggup menyanjungmu
Yang ramah menyentuhmu
Bukanlah diriku..

Walau ku masih mencintaimu
Ku harus meninggalkanmu
Ku harus melupakanmu
Meski hatiku menyayangimu
Nurani membutuhkanmu
Ku harus merelakanmu

Itachi mengakhiri lagunya. Ino sepertinya sudah tertidur. Ino tidak menjawab apa apa lagi. Itachi tersenyum kecil , lalu berjalan menuju jendela untuk tidur di atap. Saat dia keluar, dia mendapati seseorang berambut pirang yang sedang berdiri menatapnya

"Minato?" kata Itachi kaget. Minato tersenyum

"Suaramu bagus." kata Minato sambil tersenyum. Itachi malu, dia berusaha memutar pembicaraan

"Ada apa kesini?" tanya Itachi

"Lagu itu, pesan dari hatimu yang terdalam ya?" kata Minato mengejek, namun Itachi sendiri merasa terjebak oleh pertanyaan itu

"Anda belum menjawab pertanyaan saya" kata Itachi

"Kau tidak pernah mengungkapkan perasaanmu padanya?" tanya Minato. Itachi terdiam. Raut wajah sedihnya muncul. Itachi duduk di atap. Minato mengambil tempat di sebelah Itachi

"Aku tidak akan bisa mendapatkannya. Percuma aku mengungkapkannya" kata Itachi.

"Setidaknya, dengan mengungkapkan, kau akan lega" kata Minato

"Apa anda tidak mengerti? Aku dan Sasori? Sasori jelas memiliki banyak kesempatan daripadaku. Dia hidup, dan aku tak nyata. Aku tak akan menang" kata Itachi

"Hei, kau lupa bahwa aku ini malaikat? Aku pasti mengerti. Tapi dia butuh penjelasanmu" kata Minato

"Penjelasan? Apa maksudmu?" tanya Itachi serius. Namun Minato tertawa

"Dalam record, saat kau hidup , kau itu termasuk orang yang pintar dan berprestasi. Namun, kenapa sejak jatuh cinta, kau malah jadi semakin bodoh? Atau kecelakaan itu berdampak besar pada perkembangan otakmu?" kata Minato mengejek

"Sudahlah." kata Itachi. Dalam beberapa waktu, suasana hening sejenak.

"Minato" kata Itachi yang mulai bersuara

"Ya?" jawabnya

"Bisa tinggalkan aku? Aku ingin memutuskan sesuatu sebelum waktuku habis" kata Itachi. Minato mengangguk. Minato pun menghilang . Itachi berbaring di atas atap sembari menatap bintang

Esok hari

Ino selesai mandi. Selesai berpakaian, dia memanggil Itachi dari atas atap dan memperbolehkannya masuk.

"Rapih sekali. Kau hanya janjian dengan Sakura , kan?" kata Itachi sambil tertawa kecil. Diam-diam dia memperhatikan gaya berpakaian Ino. Simple. Hanya tank top floral dengan cardingan polos berwarna ungu, serta celana 3/4 dan sepatu keds berwarna ungu. Yang membuat Itachi menyukai gaya Ino hari ini adalah Ino menggerai rambutnya. Suatu hal yang tidak biasa ia lakukan jika berpergian keluar. Satu kata yang terbesit di pikiran Itachi. Cantik

"Kenapa kak? Aneh ya kalau aku menggerai rambut? Ikat rambutku hilang entah kemana" kata Ino sembari mencari ikat rambutnya

"Sudah, seperti itu saja. Yang melihat kan hanya Sakura." kata Itachi

"Ngomong-ngomong, menurut kakak aneh gak sih kalau aku ..."

"Cantik kok. Sudah! Nanti Sakura menunggu" kata Itachi memotong pembicaraan Ino. Wajah Ino bersemu merah. Jantungnya berdegup kencang. 'Aduh, mikir apa sih aku?' kata Ino dalam hatinya

Ino mengambil kaca dalam lacinya agar bisa menunjukkan Itachi kepada Sakura. Dia memasukkannya ke dalam tas slempangnya.

"Ayo kak, kita jalan." kata Ino. Itachi pun mengangguk.

Di tempat lain , di rumah sakit

Mikoto berjalan menuju rumah sakit sembari membawa bunga mawar putih. Dia ingat bahwa bunga di kamar tempat Itachi di rawat sudah mulai layu. Dia berniat menggantinya.

Di penghujung sana, muncul mobil biru tua yang melaju sangat cepat. Bahkan tidak mengurangi kecepatannya meskipun Mikoto tepat di depannya

"Awas!" Tiba tiba seseorang berteriak. Dia menarik Mikoto dan membiarkan badannya melindungi Mikoto dari mobil itu. Seketika, orang itu terpental ke ujung jalan bersama Mikoto.

Mawar putih yang di bawa Mikoto terlindas. Mobil biru tua itu mengurangi lajunya dan berjalan meninggalkan Mikoto dan orang itu. Kepala Mikoto terlindungi oleh rerumputan meskipun badannya sakit.

"Aw" kata Mikoto mengeluh kesakitan. Sekilas dia melihat orang yang melindunginya. Terkapar. Kepalanya sepertinya mengenai ujung jalan sehingga berdarah. Orang itu tidak sadarkan diri. Mata Mikoto terbelalak. Dia mengenali orang itu

"FUGAKU!"

Di perjalanan.

Ino berjalan kaki untuk menuju ke taman. Dia berharap Sakura belum datang, sehingga tidak mengurangi rasa bersalahnya jika dia telat

"Tidak usah khawatir. Masih 5 menit lagi" kata Itachi

"Iya, tapi aku takut Sakura sudah datang" kata Ino

"Tapi kan kau bilang jam 7 pagi" kata Itachi. Tiba-tiba handphone Ino berbunyi. Ino melihat nama yang tertera. Dia cepat cepat mengangkatnya

"Iya Tante Mikoto?" jawab Ino

"Ino, apa kamu tau Sasuke ada dimana?" tanya Mikoto. Nadanya terdengar khawatir

"Aduh Tante. Aku gak tau. Lagipula, aku tidak dekat dengan Sasuke" kata Ino

"Tapi , dia bilang dia mau ke sekolah. Katanya ada kegiatan sekolah. Tante pikir kamu ikut" kata Mikoto. Ino mengingat-ingat. Setaunya, tidak ada acara apa-apa di sekolah. Tapi, dia tidak mau bermasalah lagi dengan Sasuke jika ia membeberkannnya

"Iya tante. Tapi daritadi, aku tidak melihat Sasuke" kata Ino

"Aduh. Bisa tolong sampaikan kepada Sasuke?" kata Mikoto . Ino mulai khawatir dengan nada suara Mikoto

"Sampaikan apa tante?" tanya Ino

"Ayahnya kecelakaan. Dia baru di tabrak" kata Mikoto. Dari telepon, Ino tau bahwa Mikoto mulai terisak. "Seharusnya tante yang tertabrak, tapi dia melindungi tante" kata Mikoto. Ino terkejut. Itachi mulai heran dengan apa yang dibicirakan Ino dengan Mamanya

"Iya Tante. Saya akan cari Sasuke! Di tunggu ya Tante" kata Ino. Dia mematikan telponnya. Itachi mulai bertanya

"Kenapa tiba-tiba mama mencari Sasuke? Memang dari tadi dia tidak bersamanya?" tanya Itachi

"Iya. Katanya Sasuke ke sekolah karena ada kegiatan. Tapi , seingatku tidak ada. Karena aku tidak mau Sasuke kena marah, jadi aku berbohong kalau aku ada di sekolah saja. Tapi aku tidak melihatnnya" kata Ino

"Kau sudah pintar berbohong?" kata Itachi sembari tertawa kecil.

"Aduh kak. Itu gak penting. Kita harus ke sekolah sekarang , untuk mencari Sasuke" kata Ino

"Untuk apa? Penting sekali?" tanya Itachi heran

"Papanya kakak kecelakaan. Dia tertabrak. Makanya kak, kita harus mencari. Nanti aku sms Sakura untuk menunggu sebentar saja." kata Ino. Itachi tersentak. Dia terkejut mendengar Ayahnya kecelakaan

"Ayo kita ke sekolah" kata Itachi. Ino mengangguk.

"Kau tidak takut Sakura marah?" tanya Itachi

"Orang tua kakak lebih penting sekarang. Lebih baik kita ke sekolah sekarang!" kata Ino. Itachi mengangguk. Mereka lalu mulai berjalan menuju ke rumah sakit

To be continue


WUAAAAH

MAAP BANGET YA CERITA INI SEMAKIN ABSTRAK SETELAH DI TINGGALKAN.

Yue Aoi : Makasih , aoi-san. Pairingnya masih rahasia loh .. hehe

Namikaze Yuli : Gak apa apa. Susah juga ya? Iya aku juga ngerasa susah

Katsumi Blovenia : Iya! Sulit banget UN-nya. Iya, itu Fugaku hehe

Ino ? Tebak sendiri aja dia suka sama Itachi apa ngga hehehe :)

Btw , snmptn juga? Di univ mana ? Prodi apa ? Siapa tahu kita sama hehe

Azzuradeva : Iya. memang berbeda banget sama SKL. Semoga kita dapet nilai amat baik ya :)