Hallo Minna .. Udah update lagi nihh

Sepertinya ide-ideku telah habis untuk memoles cerita ini haduh

Selamat membaca. Maaf semakin aneh.


Di Taman

Sakura datang lebih pagi. Hal ini dia sengaja persiapkan supaya dia sanggup untuk berhadapan dengan Ino setelah ingatannya kemarin-kemarin akan Sasori. Dia duduk di bangku taman sambil merenung. 'Apa yang harus ku bicarakan dengan Ino?' batinnya

"Ino, sungguh tidak ada apa-apa. Aku tidak keberatan kalau Kak Sasori lebih memilihmu" Ino pasti tidak percaya

"Ino, aku bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik lagi" tapi itu terkesan sombong sekali

"Ino, aku ingin tahu soal Itachi. Bisa tolong ceritakan semuanya?" mungkin itu bisa jadi pembuka pembicaraan Sakura. Sampai saat ini, dia masih bingung. Kenapa Sasori harus lebih tahu duluan perihal Itachi ketimbang Sakura. Seharusnya Ino bisa cerita semuanya terlebih dahulu pada Sakura. Tapi kenapa harus Sasori yang tahu?

Pikirannya bercampur aduk. Dia benar-benar bingung reaksi apa yang akan dia tunjukkan pada Ino ketika bertemu nanti. Dia tahu, Ino tidak salah. Sasori lah yang menyukai Ino. Tapi mengingat Ino, menambah sakit hatinya dengan Sasori

"Sedang apa?" lamunan Sakura terhenti ketika mendengar pria bermotor menghampirinya. Bagaimana bisa dia tidak mendengar suara motor? Sakura melihat kearah jamnya. Hampir pukul 7 dan Ino belum datang juga.

"Kau mendengarku kan?" orang itu memanggil sekali lagi. Sakura tercekat

"Hai, Sasuke. Sedang apa?" tanyanya

"Kau belum menjawab pertanyaanku" kata Sasuke. Tidak mungkin Sakura menjelaskan padanya kalau ia ingin bertanya-tanya soal Itachi pada Ino. Tapi, Sasuke berhak tahu. Hanya Sakura belum yakin, Ino sudah bercerita padanya. Selama ini, yang Sakura lihat adalah sikap dingin Sasuke terhadap gadis-gadis lain termasuk Ino

"Aku sedang menunggu seseorang" jawabnya. Sasuke turun dari motor dan mengambil tempat di samping Sakura

"Aku baru dari sekolah. Menyelinap ke perpustakaan" jawab Sasuke atas pertanyaan Sakura tadi. Sakura menaikkan alisnya, tanda keheranan

"Untuk apa?" tanya Sakura penasaran

"Membaca buku tentang kehidupan orang yang sedang koma" Sakura heran. Kenapa tiba-tiba Sasuke ingin membaca buku seperti itu?

"Ini, ada hubungannya dengan Kak Itachi?" tanya Sakura

"Hn" jawabnya singkat.

"Memang, kamu yakin kalau dalam koma, masih ada kehidupan?" tanya Sakura

"Entahlah. Aku tidak tahu jawabannya"

"Lalu, apa kata buku itu?" tanya Sakura

"Hanya bicara soal seseorang yang sedang koma tetap masih bisa mendengarkan kita ketika kita bicara di sekelilingnya"

"Apa, ada tertulis kalau orang koma dapat melepas arwahnya dan mengunjungi manusia lain dalam wujud arwah?" tanya Sakura. Sasuke menatap Sakura heran. Sakura sepertinya salah ngomong

"Hm, aku hanya ingin bertanya" jawab Sakura.

"Kau pernah mendengar istilah astral projection ?" tanya Sasuke.

"Pernah . Sewaktu menonton film Insidious" Sakura teringat akan film yang membuatnya menjerit setengah mati. Dia menontonnya bersama Ino. Tapi Ino seperti bisa menahan ketakutannya.

"Iya, setauku seperti itulah astral"

"Tapi, apa orang koma bisa melakukan hal seperti itu juga?" tanya Sakura

"Entah. Sejauh ini aku belum menemukan tulisan itu dalam bukunya" Sepertinya Sasuke benar-benar tidak tahu menahu soal Ino dan Itachi. Sakura sendiri bingung apa Ino benar-benar dikunjungi arwah Itachi? Atau sebenarnya itu hanya khayalan Ino saja atas rasa bersalahnya pada Itachi?

Sakura menatap Sasuke. Dingin, tanpa ekspresi. Tapi auranya saat di dekat Sakura tidak pernah terasa dingin. Tatapan Sasuke kosong kebawah. Sakura memulai pembicaraan kembali

"Sasuke" panggilnya. Sasuke menoleh, tidak menjawab. Hanya memberi isyarat 'apa?'

"Kau sayang Itachi?" tanya Sakura. Sasuke tidak menjawab

"Aku hanya merasakan saja. Kau meminjam buku yang judulnya berhubungan dengan keadaan Itachi sekarang"

"Tapi Itachi tidak memiliki kehidupan lain, bukan?" jawab Sasuke. "Kehidupannya hanya sekedar berbaring di tempat tidur dan mendengarkan orang-orang bicara"

"Belum tentu. Bisa jadi dia punya kehidupan lain" kata Sakura. Sasuke menatapnya keheranan dengan ekspresi 'kenapa kau bisa bicara seperti itu'

"Bisa jadi sih ,hehe" kata Sakura sambil tertawa kecil yang di buat-buat, namun sukses membuat Sasuke berganti ekspresi menjadi gelisah. Dia menatap langit pagi.

"Aku tentu menyayanginya. Dia kakakku" kata Sasuke

"Ah, iya . Aku tidak seharusnya menanyakkan pertanyaan bodoh seperti itu" kata Sakura malu akan pertanyaannya.

"Tapi aku lebih iri padanya." kata-kata Sasuke sukses membuat Sakura keheranan. Secara wajah, Sasuke bisa di bilang lebih tampan.

"Kenapa harus iri? Setiap orang punya kelebihan masing-masing" kata Sakura

"Entah. Aku hanya iri. Dia lebih berprestasi dariku" kata Sasuke.

"Bukankah kamu juga pintar? Setiap orang kan punya kepintaran masing-masing" kata Sakura sembari menyemangati Sasuke.

"Tapi aku selalu merasa aku bukan apa-apa. Dia punya kelebihan yang sama sekali tidak aku miliki" kata Sasuke. Sakura berusaha menerka. Wajah? Keduanya tampan. Pintar, popularitas, kekayaan, semuanya sepertinya sama rata. Apa yang beda? Pikirnya dalam hati

"Kelebihan apa yang kamu maksud?" tanya Sakura

"Kelebihan untuk lebih mengerti orang lain" Sakura terdiam. Kali ini Sakura mengizinkan dirinya untuk diam dan mendengarkan Sasuke

"Dia mampu bertahan dalam lingkungan pergaulan, sedangkan aku sulit memiliki teman. Aku sulit mengerti orang lain serta jalan pikirnya. Sedangkan Itachi? Dia mudah memahami apa yang dirasakan orang. Dia orang yang peka. Dan dia adalah orang yang mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri."

"Bukan aku membenci sahabatmu. Setiap melihatnya, aku selalu mengingat kelebihan yang Itachi punya yang sama sekali tidak kupunya. Dia mementingkan orang lain dibanding hidupnya sendiri, membuatnya mudah mendapatkan teman"

"Itulah sebabnya, aku ingin mulai mencoba membuka lingkungan pergaulanku. Aku ingin memiliki teman seperti dia. Aku ingin mudah mengerti orang lain, meski kadang aku tersiksa karena tidak pernah tahu pikiran orang lain"

"Terutama mengerti pikiran wanita. Sungguh, aku benar-benar muak jika disuruh mengerti isi pikiran wanita selain Mama."

Sakura kini mengerti. Kenapa ia selalu memandang jijik semua wanita disekelilingnya

"Tapi setidaknya, semua berubah ketika aku bertemu kamu. Sewaktu kau menolongku, itu semua terasa berbeda". Sakura terkejut ketika Sasuke mengatakan hal seperti itu pada Sakura

"Apa yang beda?" tanya Sakura penasaran

"Sorot matamu saat menolongku. Berbeda dengan gadis lain. Bukan aku sombong, tapi kadang mereka lebih suka menolongku karena aku adalah Sasuke Uchiha, anak pengusaha sukses dan terkenal. Kau menolongku seakan-akan aku memang butuh pertolongan"

"Saat itu, aku mulai menyadari bahwa aku mulai bisa mengerti wanita lain selain mamaku. Entahlah, aku sendiri mulai merasakan sedih senangnya dirimu ketika sedang bersama si rambut merah itu. Meski kadang aku tidak tahu, kenapa aku kesal ketika melihatnya bersamamu" Sakura tersenyum mendengar ejekan Sasori, meski sakit terasa di dadanya ketika namanya disebut

"Kau tahu, itu pertama kalinya aku membiarkan orang lain menangis dalam pelukanku." Kata Sasuke yang kemudian tersenyum. Ini pertama kalinya Sakura melihat Sasuke tersenyum hangat. Seperti bukan Sasuke

"Ngomong-ngomong, kau memperhatikan aku ketika aku sedang berbunga-bunga dengan Kak Sasori?" tanya Sakura heran. Sasuke mengangguk. "Untuk apa?"

"Entahlah. Aku tidak tahu. Sewaktu aku memutuskan untuk berteman dan memilihmu sebagai teman pertamaku, aku selalu senang ketika ada di dekatmu. Entah kenapa, ini pertama kalinya juga aku merasa nyaman dengan perempuan lain selain Mama"

Sakura tersipu malu. Wajahnya terasa panas mendengar perkataan Sasuke. Namun, Sakura berusaha menepisnya, mengingat dia sedang berjuang menyembuhkan rasa sakit hatinya pada Sasori

"Ngomong-ngomong,kamu juga tidak nyaman dengan Ino?" tanya Sakura mengenai sahabatnya. Jika dia anti semua wanita,

"Entah. Terkadang rasanya aku kesal melihatnya yang mengingatkanku akan kekuranganku dan betapa lebihnya Itachi. Tapi, terkadang aku juga nyaman dekat dengannya"

Sakura heran. Dia bingung. Dia bilang dia nyaman dekat dengan Sakura? Apa maksudnya?

"Kalau kau bertanya tentang rasa nyaman itu, tentu berbeda dengan Mama dan kamu. Rasa nyaman itu hilang dan datang. Terkadang setiap aku berada di dekatnya, aku seperti berada di dekat Itachi. Aku seperti bisa merasakan kehadiran Itachi"

Apa benar yang di katakan Ino ? Sasuke pun merasakan kehadiran Itachi di dekat Ino.

"Kamu yakin, ngerasa kayak begitu?" tanya Sakura.

"Hn. Itu sebabnya aku meminjam buku itu di perpustakaan. Terkadang aku realistis, tapi aku benar-benar ingin tahu, apa reinkarnasi itu benar-benar ada. Meski sepertinya, agak tidak mungkin jika Ino adalah reinkarnasi Itachi. Terlebih ..." pembicaraan Sasuke terhenti ketika dering handphone Sakura berbunyi

Ino. Dia menelpon?

"Halo, Ino?" jawab Sakura

"Sakura, maaf aku ada keperluan. Tapi aku tidak bisa ke taman. Apa kamu bisa ke rumah sakit?" tanya Ino

"Memang kenapa?" tanya Sakura

"Pak Fugaku kecelakaan. Tante Mikoto tadi menelponku. Dia mencari Sasuke. Aku sedang ke sekolah untuk menyusulnya"

"Tapi Sasuke bersamaku" jawab Sakura. Sasuke menengok ke arah Sakura yang tiba-tiba menyebutkan namanya

"Iyakah? Kalau begitu, bisa kalian berdua ke rumah Sakit. Maaf Sakura, nanti kita bicara di rumah sakit tempat kak Itachi dirawat, ok?" kata Ino di ujung sambungan

"Baiklah. Nanti kami akan kesana" kata Sakura.

"Baiklah. Terima kasih dan sampai nanti" kata Ino. Sambungan terputus

"Daritadi, kau menunggu Ino?" tanya Sasuke

"Iya. Papamu kecelakaan." kata Sakura. Sasuke shock.

"Tadi Mamamu menelpon Ino. Memang kau tidak bawa handphone?"

"Tidak. Aku lupa. Lagipula berisik. Dari kemarin selalu ada sms yang masuk dari perempuan yang tidak jelas" kata Sasuke. "Dia dirawat dimana?"

"Di rumah sakit tempat Kak Itachi dirawat. Kita harus kesana." kata Sakura. Sasuke mengangguk

"Kau ikut aku menaiki motor" kata Sasuke. Sakura mengangguk. Mereka berdua menaiki motor ninja Sasuke yang berwarna biru. Sasuke menyerahkan helm satu-satunya pada Sakura

"Pakailah" kata Sasuke sambil menyodorkan helmnya

"Kamu sendiri?"

"Aku tidak memerlukannya" kata Sasuke.

"Kau perlu"

"Pakai saja. Kita harus buru-buru" Sakura akhirnya menurut. Dia memakaikan helmnya. Setelah itu, dia melingkarkan tangannya ke pinggang Sasuke. Sasuke menarik tangan Sakura, mengisyaratkannya untuk berpegangan lebih kencang. Sakura gugup. Sasuke bisa merasakan tangan Sakura gemetaran.

"Jangan lepaskan dan jangan renggangkan sampai kita tiba di rumah sakit" kata Sasuke. Sakura mengangguk, lalu tersenyum di balik helmnya. Sasuke pun tersenyum. Ia menyalakan mesin dan melaju dengan cepat. Entahlah, Sakura mulai bisa merasakan degupan jantungnya lagi.

Meanwhile, depan SMA KONOHA

Ino baru saja mematikan teleponnya.

"Bagaimana?" tanya Itachi

"Sasuke ternyata sedang bersamanya" kata Ino. Itachi tersenyum

"Ada apa?" tanya Ino

"Tidak apa. Aku senang mendengar Sasuke bersama Sakura" kata Itachi mengingat adiknya bisa berteman. Terlebih temannya adalah perempuan

"Tapi kan, Sakura sukanya sama Kak Sasori. Apa Sasuke tidak sakit hati?" kata Ino. Itachi mulai gelisah. Mengingat Sasori seperti mengingat apa yang sedang ia tidak ingin pikirkan

"Kakak sendiri, gak punya teman spesial?" tanya Ino sambil tersenyum

"Entah. Sepertinya punya" kata Itachi. Entah mengapa, Ino tidak menginginkan jawaban seperti itu.

"Siapa? Apa jangan-jangan, Kak Konan ?" tanya Ino. Mengingat hanya Konan, perempuan yang ada di geng Akatsuki

"Tentu saja bukan. Dia kan pacarnya Nagato. Dia pasti akan membunuhku jika aku merebut Konan darinya" kata Itachi

"Kakak sendiri, pernah gak punya keinginan untuk pacaran?" tanya Ino. Dia selalu ingin bertanya ini pada Itachi. Tapi , keinginan itu semakin bertambah dalam

Itachi belum pernah berfikiran untuk mencari kekasih. Dia sendiri masih terbayang-bayang dengan hubungan papa dan mamanya yang kurang harmonis.

Dia benar-benar belum pernah jatuh cinta. Tidak sampai dia bertemu dengan gadis yang sangat amat polos namun mampu membuatnya tidak berhenti tersenyum

"Sempat. Tapi sepertinya tidak mungkin" kata Itachi. Ino menaikkan alisnya. Itachi berjalan pergi. Ino menyusulnya

"Hei, kak. Tunggu aku dong. Kita pergi bersama-sama ke rumah sakit" kata Ino.

"Ino, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Itachi

"Mau bertanya apa?" tanya Ino

"Kalau aku pergi dan tidak kembali, kau akan merasakan apa?" tanya Itachi. Namun Ino sendiri tidak suka mendengar pertanyaan itu. Bahkan tidak menginginkan kenyataan seperti itu

"Aku tidak ingin tahu. Aku tidak mengharapkannya. Aku mengharapkan sebaliknya" kata Ino

"Memang kenapa?" tanya Itachi. Ino sendiri tidak tahu. Kebersamaannya dengan Itachi memang mirip teman. Tapi, akhir-akhir ini pula, Ino terlalu menginginkan kebersamaan ini. Ino menginginkannya

"Aku ingin kakak sembuh. Aku tidak ingin melihat orang lain sedih karena kehilangan kakak" kata Ino.

"Kau sendiri, apa akan sedih jika aku meninggalkan kalian semua?" tanya Itachi.

Ino terdiam. Tentu dia akan sedih. Dia mengangguk.

"Apa alasannya sampai kau merasa sedih?" tanya Itachi penasaran, namun dengan raut wajah yang amat serius.

Ino tidak ingin menjawabnya. Tidak ingin memikirkannya, bahkan mengharapkannya terjadi. Dalam hatinya dia takut kehilangan kebersamaan ini. Ino bingung

"Aku tidak tahu. Kakak jangan tanya ini lagi ya! Aku tidak ingin hal itu terjadi. Lebih baik kita bergegas karena mereka membutuhkan kakak" kata Ino yang merujuk pada Fugaku dan Mikoto. Mereka berjalan bersama menuju rumah sakit , membawa banyak pikiran. Sasuke, Sakura, Sasori, Mikoto, Fugaku , dan mereka sendiri

Itachi mengangguk tanda setuju. Seandainya Ino tahu, dia tidak bisa memiliki Ino. Seandainya Ino tahu kalau dia tidak memiliki cukup waktu dan akan pergi sewaktu-waktu. Seandainya Ino tahu, bahwa lelaki itu sulit menerima kenyataan kalau Sasori harus moveon pada gadis itu. Seandainya Ino tahu, lelaki itu mencintainya

Dan Ino pun berpikiran hal sama dalam benaknya. Seandainya lelaki itu tahu, bahwa makin hari, Ino mulai merasakan perasaan yang pernah Sakura ceritakan ketika bertemu Sasori. Bahwa semakin hari, Ino tersadar, ia mulai menikmati kebersamaannya dengan Itachi.

Dia menikmati ejekan Itachi, ajaran Kimia dari Itachi, curhatan Itachi, pujian Itachi, suara nyanyian Itachi, dukungan Itachi, dan sikap Itachi terhadap orang-orang sekitarnya yang bahkan tidak mampu melihatnya secara langsung. Meski terkadang ia terus memikul perasaan bersalahnya atas kecelakaan yang menimpa Itachi. Namun terkadang, Ino tidak tahu, ia harus sedih atau senang jika Itachi selalu ada disampingnya setelah itu. Ino menikmati semua kebersamaan itu.

Atau lebih singkatnya lagi, dia mulai mencintainya. Entahlah, Ino tidak tahu. 'Mungkin ini yang namanya Cinta'. Batinnya

to be continue

Kisah Tak Sempurna - Samson

Aku memang tak berhati besar
Untuk memahami hatimu di sana
Aku memang tak berlapang dada
Untuk menyadari kau bukan milikku lagi

Dengar dengarkan aku
Aku akan bertahan
Sampai kapanpun
Sampai kapanpun ooo

Maafkan aku
Yang tak sempurna tuk dirimu
Usailah sudah
Kisah yang tak sempurna untuk kita kenang

Andai aku dapat merelakan
Setiap kepingan butiran kenangan indah
Andai aku sanggup menjalani
Setiap detik dan waktu yang datang dan oh


Wahhh maap ya Pendek sekalee.

Dan maaf loh kalau ceritanya semakin mengecewakan dan semakin tidak jelas

Maaf juga karena updatenya lama, karena netbook baru betul.

Katsumi Blovenia : Wah . ITS? Aku akuntansi UI. FE UI susah juga lagi katanya. Semangat deh, moga kita masuk ya!

dwi2 : OK . Happy Reading

Backyard Panda : Iya nih, masih newbie. Masih suka salah penulisan hehe. Ini lgi belajar lagi. Makasih yaaa sarannya :)

Yue Aoi : Hmm endingnya gimana ya? hoho

UchiHersia : Sudah terjawab loh . Hahai