Koisuru Neko ha Kujikenai
*Ch 4*
Story © alice dreamland
Vocaloid © Crypton Media and Yamaha Corp
Genre: Romance, Hurt/comfort.
Warning: Typo(s), all in Normal PoV, berdasarkan lagu 'Koisuru Neko ha Kujikenai' (sebagian), request Sae Hinata (pairing) dan Mahou-san (lagu)
"H-Hei… Kita benar akan pergi ke gudang sekolah? Nanti kalau gudangnya angker bagaimana?" tanya Lenka takut-takut. Tiba-tiba saja ia merasa tangannya kirinya digenggam seseorang.
"Eh?" Lenka pun menoleh kearah Rinto yang mengandeng tangannya.
"Tidak akan terjadi apa-apa kok," ucapnya sambil tersenyum lembut—menenangkan Lenka. Lenka tersenyum ragu sebagai jawaban. Bagaimanapun juga, ia merasa senang karena Rinto perhatian. Namun juga takut disisi lain.
"Apa aku akan baik-baik saja ya?" batinnya sambil mengepalkan sebelah tangannya. Kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku harus percaya kalau semuanya akan baik-baik saja!" batinnya sambil tersenyum kecil. IA diam-diam memperhatikan Lenka di belakang. Gadis itu mendesah lalu memfokuskan pandangannya kembali ke depan.
.
.
.
"I-Ini gudangnya? Kelihatannya besar dan me-mengerikan!" jerit Lenka sambil bersembunyi dibelakang Rinto. IA sendiri sudah tidak dapat mempertahankan poker face miliknya. Terlihat sekali keringat dingin mengucur turun dari pelipisnya.
Sedangkan Luka entah mengapa terlihat cukup bersemangat. Rinto hanya bisa melihat tempat dihadapan mereka dengan pandangan harap-harap cemas. Sedangkan Gakupo menatap ruangan dihadapannya itu dengan pandangan datar—tidak tertarik.
Tapi wajah itu menyembunyikan suatu ketakutan sendiri di dalam hatinya. Itu pasti.
Oh ayolah. Tempat di depan mereka itu lebih tepat untuk disebut rumah hantu daripada gudang! Suatu ruangan dengan jendela yang terbuka sedikit, hanya mempersilahkan secuil cahaya masuk ke dalam.
Lampu yang mati, tempat yang penuh akan jaring laba-laba dan debu. Ketiga anak—tentunya kecuali Luka dan Lenka—yang sebelumnya antusias kini entah mengapa merasa peperangan di dalam hati mereka membesar. Antara masuk atau tidak.
"Kan sayang kalau sudah sampai disini tapi tidak masuk ke dalam!" jerit Luka sukacita. Entahlah, mungkin dasarnya Luka sudah menyukai hal-hal berbau horror.
"E-Em, iya… Sepertinya tidak ada salahnya dicoba…" Gakupo menimpali sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. Luka mengangguk-angguk. Rinto akhirnya mengangguk pasrah.
"Bagaimana dengan kalian berdua?" tanya Rinto sambil melihat kearah IA dan Lenka bergantian.
"Aku masuk," ucap IA datar seperti biasa. Lenka hanya menanggapi ucapan IA dengan anggukan. Ia sudah pasrah, toh ia juga tidak mau ditinggal sendirian di luar gudang.
"Baiklah. Kalau begitu aku masuk duluan ya," ucap Luka sambil tersenyum manis—entah mengapa. Tidak perlu ditanya mereka berempat langsung mendorong Luka masuk ke dalam, membuat gadis itu memekik kecil karena terkejut.
"Ittaaaii!" pekiknya kecil. Namun suaranya menggema di dalam gudang. Lenka yang mendengar gemaan itu pun merinding sejenak.
"Hii… Kau yakin mau masuk ke dalam?" tanya Lenka kepada IA yang—kebetulan—berada di sebelahnya. IA mengangguk. Lenka menghela nafas pasrah.
Kini Luka sudah masuk ke dalam. Dirinya melihat kesana kemari, berharap segera menemukan cermin yang—rumornya—dapat menunjukkan wujud asli seseorang. Dengan cemas, Luka menggapai kesana kemari—mencari saklar lampu.
"Ah! Ini dia!" serunya ketika menemukan saklar lampu. Tanpa ba bi bu be bo, ia pun menekannya.
Ctek!
Seketika itu juga, ruangan dipenuhi oleh cahaya menyilaukan. Lampu-lampu yang semula tidak menyala kini telah menerangi seluruh ruangan dengan gemilang.
"U-Uh, debunya tebal…," gumam Luka sambil mengibas-ngibaskan tangannya dan terbatuk-batuk karena debu yang bertebaran. Kemudian mengedarkan pandangannya.
"Ah! Itu dia!" jeritnya ketika melihat sebuah cermin di sudut ruangan. Perlahan, gadis berambut pink sakura itu pun mendekati cermin oval besar setinggi dirinya.
Cermin tersebut emiliki warna biru langit yang cerah yang pucat dan penuh debu. Luka pun berdiri di depan cermin itu. Lalu berdiam selama sekitar lima menit. Ia menaikkan sebelah alisnya, heran—menyadari cermin itu hanyalah cermin biasa.
"Kelihatannya hanya cermin biasa…," gumamnya lalu beranjak keluar—memberitahu yang lainnya.
"Bagaimana?" tanya Rinto. Luka menunjuk ke dalam gudang.
"Aku menemukan cerminnya," ucap Luka setengah-setengah. "Tapi tampaknya hanya cermin biasa… Kalian masih mau melihatnya?"
Gakupo, IA, dan Rinto mengangguk. Lenka hanya terdiam dengan wajah masih ragu-ragu. Luka pun menghela nafasnya.
"Kalau begitu, kalian masuk saja. Aku akan pulang duluan," ucap Luka lalu pergi ke dalam kelasnya. Semuanya hanya terdiam melihat Luka yang berperilaku aneh. Namun mereka memutuskan untuk diam dan menanyakannya besok.
"Ayo kita masuk," ucap Rinto. Gakupo dan IA mengangguk. Tapi Lenka hanya terdiam di depan.
"Eh, tunggu, tali sepatuku belum diikat," ucap IA—beranjak mengikat tali sepatunya dahulu. Gakupo dan Rinto mengangguk lalu menoleh kearah Lenka—selain IA, Lenka yang belum masuk.
"E-Em… Aku… A—"
"Dia menemaniku disini. Kalian masuk saja duluan." IA memotong ucapan Lenka. Rinto dan Gakupo terdiam sejenak, lalu mengangguk dan masuk ke dalam. Lenka sendiri tidak mengucapkan apapun.
"Kalau kau tidak mau masuk, bilang saja tidak mau," ucap IA masih sambil membetulkan tali sepatunya. Sebelum Lenka menjawab, Rinto dan Gakupo sudah keluar dari gudang tersebut.
"Ada cermin, tapi hanya cermin biasa. Seperti yang dikatakan Luka," tutur Gakupo. "Apa kalian masih mau melihatnya juga?"
IA mengangguk. Lenka sebenarnya ingin menggeleng, namun IA seperti mengisyaratkan sesuatu dari tatapannya. Seperti… 'Ikut saja.' Maka, Lenka pun—dengan terpaksa—menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, kami akan ke kelas duluan untuk berkemas," ucap Rinto lalu pergi bersama Gakupo. Lenka dan IA berpandang-pandangan sejenak.
"Sekarang apa?" tanya Lenka. IA hanya menatapnya lalu menarik tangannya masuk ke dalam sambil sesekali mencari cermin tersebut.
"Ah! Itu dia," tutur IA saat melihat sebuah cermin. Lalu ia berlari ke sana sambil menarik tangan Lenka. Lenka menurut walaupun ia ragu.
IA pun berdiri di depan cermin itu. Sedangkan Lenka berada di samping, tidak berniat melihat ataupun mendekati cermin itu. Ia benar-benar takut jika IA mengetahui dirinya yang sebenarnya.
"Hei." IA memulai percakapan sekali lagi.
"A-Apa?" tanya Lenka ragu-ragu.
"Ccoba kesini, kau lihat sendiri apa refleksiku," ucap IA dengan nada datar. Lenka tertegun sejenak. Jika ia melihat refleksi IA, maka otomatis IA juga akan melihat refleksi dirinya di depan cermin.
"T-Tapi…" Lenka berusaha membantah. IA hanya menggelengkan kepalanya.
"Lihat saja," ulangnya dengan nada tegas. Lenka pun menjadi takut, maka ia pun pergi ke ujung cermin dan mengintip sedikit. Namun cukup membuat Lenka terksiap akibat refleksi sang gadis.
"I-IA... k-kau—"
.
Cliffhanger :v Ini balasan reviewnya~
-Sae Kiyomi
Lenka: Okee –w-)9
Iya, arigatou! Arigatou sudah me-review! X3
-Fuyukaze Mahou
Iya, punya rahasia X3
Arigatou sudah me-review! XD
-Kei-T Masoharu
Belum tentu… X3 Ini sudah lanjut, arigatou Kei sudah me-review! X3
-Kurotori Rei
Iya, Lukanya tsundere :D
Ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review! X3
Arigatou buat semuanya yang sudah fave, fol, atau mengikuti cerita sampai sini!
Sekian!
~alice dreamland
