Disclaimer : All the Characters are belong to Hajime Isayama and the plot belongs to elfri
.
Title : Juliet atau Cinderella
Pairing : Levi*Eren
.
Warning: maybe!OOC, AU, Typo(s), Fastpaced Plot, contain BL, de el el
.
A sequel from Siapapun Juga Boleh, Ayo Pacaran Sama Gue
.
Kapitel Zwei :: Da aku mah apa atuh
Eren memijat keningnya. Berusaha mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Setelah pulang sekolah, Eren menghadiri rapat OSIS lalu menghubungi mama-nya tercinta mengabarkan bahwa ia akan pulang telat yang langsung di setujui. Kemudian bertemu dengan ketua OSIS yang kini merangkap sebagai kekasihnya didepan gerbang sekolah. Dan ia diculik ke sebuah butik yang katanya sih terkenal, lalu bertemu makhluk dengan gender tak jelas dan setelah beberapa saat mengobrol ini-itu bersama yang menculiknya alias Levi, seorang wanita yang kemudian diketahui bernama Rico tersebut mendandaninya.
Dan sekarang penampilan Eren sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Kalau tadi ia memiliki rambut pendek segar, kini tersemat sebuah wig sepanjang 60 sentimeter ikal yang berwarna senada dengan rambut aslinya. Kemeja, blazer serta celana panjang khas Maria High kini telah lepas dan digantikan dengan sebuah gaun strapless selutut berlengan pendek yang berwarna rose. Bola mata ala emerald dibingkai oleh fake lashes yang tak begitu lebat namun cukup untuk memperindah iris itu.
"Levi senpai! Apa maksudnya ini?!"
Eren menatap garang sosok seniornya yang duduk manis menanti hasil tangan handal milik Hanji. Seraya menyesap teh, ia berkata, "Hm. Tidak buruk"
Susah payah Eren berjalan dengan tidak anggunnya menuju sofa tempat Levi menegak teh. Bukan salah Eren berjalan tak anggun meski penampilannya sudah anggun, salahkan sepatu hak yang membelenggu kakinya. Selama limabelas tahun Eren hidup, tak pernah sekalipun ia mengenakan sepatu hak ala wanita. Ah, lebih khusus lagi, ia tak pernah berdandan ala wanita. Mengenakan gaun, memoles make up, apalagi mengenakan bra untuk menyamarkan kesan pettan. Sungguh, Eren tak habis pikir mengapa para wanita merasa nyaman-nyaman saja mengenakan bra yang bikin sesak, dan mengenakan rok. Apa tidak dingin? Kan angin bisa masuk.
Sungguh pertanyaan konyol, Eren.
"Oi! Lehernya terlalu kosong," Levi menunjuk leher Eren. Rico menepuk jidat. Seakan baru disadarkan akan hal penting. Ia menggeratak buffet lalu memasangkan sebuah kalung mutiara berwarna putih gading.
"Aku lupa akan hal penting macam ini. Levi, kau juga sebaiknya cepat ganti baju. Sebentar lagi dia pasti datang"
Levi melirik jam tangannya lalu mendengus. Ia mengambil sepasang pakaian dan mengenakannya. Sementara itu Eren merenggut kesal. Ia tak mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi. Dan sang pelaku sama sekali tidak memberi tau apa-apa soal ini.
"Sepertinya supirmu sudah datang, Levi. Eren bawalah ini," Rico memberi sebuah tas tangan berwarna perak.
Levi menarik lengan sang brunette menuju sebuah mobil ford hitam yang telah terbuka khusus untuk mereka. Eren tidak bodoh untuk tidak segera menyadari bahwa pemilik mobil itu adalah keluarga seniornya. "Kita mau kemana dan ngapain, senpai? Sejak tadi aku bertanya dan kau sama sekali tak menjawab pertanyaanku!"
Sosok itu menyilangkan kedua tangannya didepan dada, menatap sang senior dengan tatapan kesal. Alis berkerut. Levi masih tak mengindahkan Eren. Ia asyik dengan ponsel pintar miliknya, sepertinya tengah menulis sebuah email.
"Nanti juga tahu"
Tidak menatap Eren. Kedua iris onix kelabu milik Levi terus menatap ponsel pintar tanpa melirik Eren barang sedetikpun. Oh, ayolah Levi. Eren sudah didandani secantik ini dan kau mengabaikannya? Ketahuilah bahwa Eren amat sangat malu dengan penampilannya. Tapi ia tak mau memikirkan hal itu sekarang. Ia lebih memikirkan sebenarnya apa dan kemana ia akan dibawa? Atau dilakukan, setidaknya.
.
.
.
Pemilik iris emerald bergelayut erat pada lengan sang senior—takut jatuh. Kakinya bergetar. Antara kedinginan dan sulitnya berjalan. Senyum paksa yang tersungging aneh diukirnya kala bertemu dengan beberapa orang yang usianya jelas-jelas usia matang berpakaian formal layaknya Eren dan Levi. Berkali-kali ia berusaha bertanya pada Levi apa yang sedang mereka lakukan. Tapi Levi terlalu sibuk berbincang hingga tak pernah satu kalipun ia menjawab pertanyaan Eren. Yang bertanya hanya bisa mengelus dada seraya mendumel.
"Da aku mah apa atuh, narosan ti tadi ge teu di waro..."
—Stop. Please Eren. Dikau kebangsaan Jerman, bukan Sunda. Logat Sunda yang lagi ngetrend di sekolah jangan dibawa-bawa.
Eren menyandarkan tubuhnya pada teralis pagar beranda. Semilir angin malam membelai wignya. Takut kusut, ia menyisirnya dengan jemari lentik yang kuku-kukunya telah terpoles oleh kutek berwarna sama dengan gaunnya.
"Apa yang sebenarnya sedang kulakukan?" Eren bergumam. Menatap bulan yang jauh lebih menarik ketimbang keramaian didalam ruangan.
Eren benci berada didalam keramaian, terlebih lagi dengan beraneka parfum yang menyengat indra penciumannya. Berada di beranda jauh lebih baik. Apalagi Levi kini meninggalkannya sendirian dan entah berada dimana. Sebenarnya sih, Eren ingin sekali mencari Levi lalu mengajaknya pulang. Sayangnya, sepatu hak rendah yang ia kenakan membuat jemarinya lecet.
"Nona, sendirian saja?" sesosok pria, lebih tua dari Eren. Sekitar pertengahan duapuluhan mungkin, menawarkan segelas cairan berwarna merah. Eren menggeleng dan mengatakan bahwa dirinya masih belum cukup umur. Pria itu tertawa. "Ini jus anggur, bukan minuman beralkohol"
Sontak wajah Eren memerah. Ragu, ia menerima gelas itu dan menegaknya. "Jadi, sendirian saja?"
Eren menggeleng. Bibirnya terbuka hendak menjawab sebelum diinterupsi oleh sebuah suara dari arah ruangan. Keduanya memutuskan untuk masuk ke dalam untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Nah, seperti yang sudah kita ketahui, bahwa pada hari yang berbahagia ini, penerus grup Smith, Tuan Levi Smith akan mengumumkan tunangannya!" suara MC terdengar begitu bersemangat, menggebu-gebu. Hadirin yang mendengarnya ikut bersemangat. Mereka bertepuk tangan, menyambut sosok Levi yang naik menuju panggung dan berdiri disamping MC. Dari sisi yang berlawanan muncul sosok yang dikenal Eren. Jantungnya berdegup kencang. Sosok itu—Petra Ral, senior Eren yang seangkatan dengan Levi—tersenyum manis. Berdiri berdampingan dengan Levi.
"Itu tunangannya?"
"Tunangannya cantik ya.."
"Mereka serasi!"
"Waaahh aku iri"
Ujung dress yang dikenakan oleh Eren berkerut—akibat dari gerakan meremas oleh jemarinya. Pujian-pujian yang diucapkan oleh sekitar membuat matanya panas, jantung berdegup kencang tak nyaman. Kalau ada lubang, mungkin Eren menginginkan untuk masuk ke lubang selamanya.
Ah, menyesakkan.
.
.
.
Petra meraih mic yang digunakan sang MC. Ia tersenyum lebar sambil menatap hadirin yang terpukau akan dirinya dan Levi.
"Ehem. Halo semua, saya Petra Ral," Petra kembali mengedarkan pandangannya. Seperti tengah mencari seseorang.
Tatapannya kemudian berhenti pada sosok yang beberapa meter tepat dihadapannya. Disamping pria berambut klimis. Senyumnya kembali merekah.
"Seperti yang telah kalian ketahui, saya tunangan Levi Smith—atau lebih tepatnya mantan tunangan Levi"
Keributan melanda. Berbagai macam pertanyaan kembali mengudara. Namun keributan tersebut segera diredam oleh dehaman Levi. "Bagaimana kalau langsung ke intinya saja Petra? Mereka berisik"
Petra mengangguk. Sudah menjadi rahasia umum bahwa calon penerus grup Smith memiliki tutur kalimat yang bisa dibilang kasar, to the point, tidak bertele-tele.
Kedua iris Levi mengarah pada Eren, diikuti oleh Petra. Hadirinpun mau tak mau mengikuti arah mata Levi. Menangkap sosok yang tadinya nyaris menangis ingin pulang, kini nyaris menangis karena dilihatin oleh seluruh hadirin.
"Eren Jaeger, tunangan baru Levi Smith"
.
.
.
"What ?!"
.
.
.
Baru saja Eren melangkahkan kakinya ke Maria High, bisik-bisik para murid beserta lirikan-lirikan mata mereka membuat Eren merasa resah. Sepanjang koridor, dirinya tak berhenti dihujam oleh puluhan pasang mata. Seakan-akan ia adalah makhluk paling langka yang pernah ada.
"Gue tau gue ganteng, tapi please, ga usah diliatin gitu juga keles," batinnya narsis. Tentu saja ia tak mengutarakannya. Bisa-bisa ditimpuk masa saking narsisnya.
Ia merenggut kesal. Kesal karena macam-macam hal. Yang pertama karena ia dilirik-lirik tanpa tahu alasannya dan yang kedua karena capek. Kakinya masih pegal akibat pesta semalam. Tak disangka berdiri menggunakan sepatu berhak rendah saja bisa membuatnya sepegal ini, apalagi yang hak-haknya tinggi macem model tuh? Eren geleng-geleng kepala membayangkan dirinya sekali lagi terbelenggu oleh bandul bernama sepatu hak.
"Eren!"
Eren berbalik, mencari sumber suara. "Oh, Armin. Pagi,"
"Pagi..."
Mereka berjalan berdampingan. Sama seperti murid lainnya, Armin sesekali mencuri-curi pandang pada sosok sahabatnya itu. Eren kembali jengah.
"Ada apa Armin? Kenapa kamu dan anak-anak lain menatapku seperti itu?"
Armin menaikkan sebelah alis, kaget juga bahwa Eren tak tahu penyebabnya. "Kamu ga baca mading hari ini?"
"Mading?"
"Iya, mading..."
"... Emang sekolah kita punya mading?"
Armin menepuk jidatnya sendiri. Hello, yang anggota OSIS disini Eren kan? Dan apa jadinya kalau anggota OSIS sendiri tak mengetahui keberadaan mading sekolah?
"Ereeeeeeeeeeeeeeennn... sudah berapa lama kamu sekolah disini? Sudah berapa lama kamu melewati koridor ini? Sudah berapa lama kamu jadi anggota OSIS? Dan kamu ga sadar sekolah kita punya mading?!"
Armin menunjuk ujung koridor di belakang mereka yang baru saja dilewati. Nampak sebuah mading dengan sebuah poster paling besar yang mampu menutup semua berita disisi-sisinya. Poster tersebut berjudulkan, 'LEVI X EREN! KINI RESMI TUNANGAN!'
Iris emerald itu membesar menatap tulisan dengan capslock, bold, underline serta italic yang menjadi judul dari poster tersebut. Disisi kiri poster, terlihat sosok Levi dan Eren (dalam balutan dress wanita) turun dari mobil dengan posisi Eren yang memeluk lengan Levi.
Ketua OSIS Maria High yang juga merupakan calon penerus Smith Group—Levi Smith, resmi bertunangan dengan Eren Jaeger setelah sebelumnya membatalkan pertunangan dengan Petra Ral. Menurut Petra, Levi sudah mengajukan keberatan atas pertunangan mereka sejak lama namun baru dikabulkan kemarin dengan syarat Levi harus membawa tambatan hatinya. Sepertinya sudah menjadi rahasia umum bahwa Levi menyukai Eren sejak masa orientasi siswa lalu. Segar diingatan kita kata-kata Levi kala ia memberi sambutan saat upacara pembukaan tahun ajaran baru dimana Eren tidak hadir, "Bocah Jaeger milikku" dengan tatapan intens kepada kita semua. Dan akhirnya, setelah penantian yang cukup lama, Levi berhasil medapatkan sosok tambatan hatinya sebagai tunangan.
Nah, bagaimana kelanjutan kisah muda-mudi yang tengah dimabuk cinta ini?!
Ditulis oleh: Hanji Zoe dan Petra Ral
"Haaaaannnjiiiii senpaaaaaaiiiii! Petraaaa senpaaaaaiii!" dengan gerakan cepat, Eren merobek poster tersebut. Tak menyukai apa yang ditulis oleh kedua senpai yang pernah menjadi targetnya kala mencari pacar.
Dimabuk cinta?! Hei, apa kami terlihat seperti itu? Ia menggerutu kesal.
.
.
.
Sepanjang pelajaran, Eren sama sekali tidak fokus—ah, lebih tepatnya tidak ada satupun yang fokus. Baik guru maupun murid. Mereka sama-sama berusaha mencuri-curi pandang pada sosok bermarga Jaeger itu. Beberapa menelusuri jemarinya.
—Tak ada cincin.
Aneh.
Bukankah sepasang kekasih yang telah tunangan biasanya menyematkan cincin pada jari manis yang kiri?
Beberapa berspekulasi bahwa berita tersebut hanyalah omong kosong. Sebagian berspekulasi bahwa Eren malu untuk mengenakannya. Entah yang mana yang benar. Hanya Eren yang bisa menjawabnya.
Armin ikut melirik kearah Eren. Yang dilirik sama sekali tidak sadar. Ia asyik mengerjakan soal yang diberikan oleh sang guru tanpa memedulikan lirikan-lirikan sekitar. Ah, bukannya tidak memedulikan, namun tidak menyadari.
.
.
.
"Apa benar kamu tunangan sama Levi senpai?"
Mina Carolina, target pertamanya saat mencari kekasih, bertanya secara frontal. Ia menggenggam sebuah novel. Novel yang sama seperti yang dilihat Eren kemarin ini. Mendadak ia bergidik ngeri. Tak mau membayangkan isi dari novel tersebut.
"Yaah... Kayaknya sih gitu.."
Mina mengerjapkan mata. Kemudian tersenyum jahil. "Heheee~ Untung waktu itu aku nolak kamu ya hmm hmmm..."
"A-Apa sih!"
"Lalu, siapa yang seme? Siapa yang uke?"
"Kok perkataanmu sama kayak mamaku sih? Lagian apa sih maksudnya seme uke?" Eren mengernyit bingung. Kerutan menjadi jembatan yang menghubungi kedua alis tebal itu.
Mina terkekeh. Menertawai kepolosan temannya ini. "Yah, cepat atau lambat kau pasti tau kok. Lagian, sepertinya aku sudah punya bayangan. Selamat atas pertunangannya, Eren"
"Bayangan apaan sih maksudnya?"
Setelah Mina berhasil mengorek informasi, kini teman-temannya yang lain ikutan kepo. Penasaran dengan kisah cinta mereka yang bisa dibilang tidak umum. Beberapa menunjukkan ekspresi bahagia—yang didominasi oleh para wanita, beberapa menatap horor sosok Eren, dan beberapa lagi menelan ludah mereka sendiri—entah memikirkan apa.
Tapi, hal tersebut tak berlangsung lama.
Datang tak dijemput pulang tak diantar melainkan mengantar, itulah Levi. Ketua OSIS Mari High menyilangkan tangannya didepan dada. Gestur khas. Mata menatap intens orang-orang yang mengerumuni miliknya, dalam kasus ini adalah tunangannya.
"Menyingkir dari milikku, bocah-bocah!"
Tak mau membantah, mereka segera menyingkir. Menjauh dari Eren namun masih menajamkan telinga. Berusaha mencuri dengar percakapan dua sejoli.
"Mana cincin-mu, bocah?"
"Hah?"
"Cincin yang kemarin kusemangat di jarimu, bocah"
"O-oh cincin itu..." Eren merogoh kemeja, menarik keluar sebuah kalung berliontinkan cincin emas putih. Dengan ukiran sulur memenuhi setiap badan cincin, di bagian dalam terdapat inisial nama mereka berdua, L.E.
"Pakai!"
"I-ini juga udah dipake kok" ia memalingkan muka seraya memasukkan kembali cincinnya alih-alih kalung.
Levi menghela nafas. Ia menjambak rambut sang tunangan sehingga menengadah menatap matanya langsung. Sebelah tangan lagi ia gunakan untuk menarik kalung tadi. Tenaga Levi mampu membuat rantai yang mengelilingi leher jenjang Eren putus. Meninggalkan bekas kemerahan pada bagian tengkuk.
"Aduh!"
Rantai yang menggantungi cincin Levi buang. Lalu ia sematkan kembali cincin pertunangan mereka pada jari manis kiri milik juniornya itu.
"Aku tak akan pernah melepaskanmu, selamanya"
.
.
.
TBC
A/N:
Masih ada yang ngarep ini lanjut? Jujur aja, saya sendiri ga yakin mau lanjutin ini. Draft-nya ada sih, tapi saya sendiri ga gitu sreg :''3
Maaf juga ini ff kepending lama banget. Berhubung provider ngeblokir ffn saya jadi males buat update2 lagi #digampar dan selama semester kemarin saya sibuk sama kepanitiaan ini itu dan sibuk fansgirlingan sama fandom jadul hehe.
Oh ya, ada yang ngerasa gaya nulis saya berubah? Jujur saya ga sreg sama gaya nulis yang sekarang. Terlalu kaku. Saya udah lupa bagaimana caranya nulis dengan bahasa yang lebih woles, efek nulis kebanyakan nulis laporan kali ~n~
とにかく、makasi udah baca dan yang berkenan monggo review. KriSar sangat saya hargai UwU
Dan makasih banyak buat yang udah ngereview di chapter sebelumnya. Maaf kalo misalnya ada yg belom dibales UwU
