WOLVES

Rate : T

© Haruno Kagura

Pair(s) : all EXO official couples

Summary : Enam yeoja manis merupakan siswi dari Cheonam-Dong High School yang terkenal akan kecantikan mereka. Tiba-tiba, salah satu dari mereka menabrak salah seorang dari enam namja tampan. Apalagi yang akan datang setelahnya?

Warning : Highschool!AU. Uke!GS.

Disclaimer : EXO itu dipunyai oleh ortu mereka, Tuhan Yang Maha Esa, manajemem, agensi, serta para fans.

Chapter 4 :

Bruk!

Seorang gadis dengan perawakan bagai rusa, melempar dirinya ke sebuah ranjang berukuran king dengan kasar. Ia berguling dan mengambil salah satu guling yang dibungkus sprei bewarna ungu dengan motif bunga lavender.

"Ya! Kau 'kan belum mandi, Lu!" erang Xiumin ketika Luhan, gadis tadi, dengan seenak jidatnya menidurkan tubuhnya yang masih terbalut seragam sekolahnya dari tadi siang. Ingat itu, SIANG. Tuh, udah saya bold sama pakein capslock gede-gede.

Luhan dengan tatapan malas akhirnya bangkit juga. Ia akhirnya duduk di lantai berlapiskan karpet tebal yang lembutnya seperti bulu angsa. Ia masih tetap memeluk guling Xiumin dengan erat.

Melihat guling kesayangannya dipeluk orang, Xiumin berseru, "Ngapain kau peluk-peluk guling kesayanganku, Rusa! Kau masih kotor."

Dan dimulailah tarik-menarik guling yang dimenangkan oleh Xiumin. Xiumin memeluk guling itu dengan protektif seakan itu adalah satu-satunya barang yang ia punyai.

Kriett…

Suara derit pintu mengalihkan pandangan mereka semua. Disana, berdiri seorang gadis, dengan fisik hampir sama dengan Xiumin, menengok kedalam dan berkata dengan suara lembut, "Permisi."

"Sohee!" seru Xiumin senang ketika kembarannya, Sohee, memasuki kamar tidurnya yang didominasi oleh warna ungu. Sohee hanya terkikik melihat reaksi kakak beda lima detiknya itu. Begitu ceria dan menyenangkan, seperti biasa.

Grep!

Xiumin langsung memeluk Sohee dengan bear hug miliknya. Sohee hanya tersenyum dan menepuk pelan lengan Xiumin, memintanya untuk melepaskan pelukannya. Keempat sahabat lainnya hanya terkekeh melihat sifat manja Xiumin, sedangkan Luhan dengan cepat mengambil guling Xiumin dan memeluknya lagi.

Xiumin menyadarinya. Dan ia segera memarahi Luhan lagi. Luhan akhirnya menyerah dan berkata dengan ogah-ogahan, "Iya deh, aku mandi. Mana baju yang bisa kupakai?" tanyanya dengan tangan ditadahkan kepada Xiumin.

Xiumin membuka lemari besarnya yang dicat ungu dengan petal-petal lavender menghiasinya. Ia mengambil sebuah kemeja kedodoran bewarna putih dengan sepasang boxer bewarna merah maroon untuk Luhan. Yah, itu memang baju Luhan sih.

Setelah mendapatkan bajunya, Luhan mengambil handuk bewarna putih yang juga miliknya dan masuk ke kamar mandi, yang juga didominasi warna ungu juga. "Dasar maniak ungu," gumam Luhan melihat semua barang-barang disana yang bewarna ungu. Bahkan shampoo milik Xiumin bewarna ungu. Luhan menghela nafas sambil berpikir apakah rambutnya akan berubah warna juga menjadi ungu.

"Lu, jangan mandi lama-lama ya. Aku juga mau mandi!" seruan melengking Baekhyun menyadarkan Luhan dari kegiatannya, bengong. Luhan menyahut dengan nada ogah, "Iya iya."

Luhan mulai membuka seragam atasannya yang diikuti oleh roknya yang ia turunkan. Membebaskan tubuhnya dari apapun yang melekat dari dirinya hingga naked sepenuhnya. Ia pun membuka keran yang berada diatas bak mandi putih gading itu. Ia memutar keran itu sehingga keran itu mengeluarkan air hangat yang pas. Dan itu membuatnya menghela nafas lega ketika ia menyentuh permukaan air itu dengan sehalus bulu.

Setelah merendam seluruh tubuhnya, ia mengambil sebuah foam dan menuang sabun beraroma lavender. Ia pun menggosok tubuhnya yang lengket dengan debu maupun keringat. Dengan telaten, ia menggosok tubuhnya dan akhirnya ia membuka ikatan rambutnya yang tadi ia buat menjadi cepol asal diatas kepalanya.

Ia menuang sebuah botol ungu berisi shampoo yang juga beraroma lavender dan mendesah ketika air membasuh rambut keemasannya dari busa-busa itu. Akhirnya, ia pun membuang air sehabis berendam didalamnya dan mengeringkan tubuhnya dari air-air yang ada dan membuat sebuah bee hive untuk membungkus rambut basahnya.

.

.

.

Grekk

Pintu yang digeser memperlihatkan siluet seorang gadis yang memakai kemeja kedodoran dan juga boxer merah yang melapisi kaki jenjangnya itu. Luhan, gadis itu, melempari Baekhyun dengan handuk ungunya yang masih setengah basah.

"Ih, Luhan!" erangnya bercanda karena wangi Luhan yang tertempel pada handuk itu sebenarnya manis, lebih manis dari cheesecake yang sering ia makan. "Jangan berikan aku handuk yang masih basah, dong."

Luhan hanya mengendikkan bahu mungilnya dengan acuh dan duduk di tepi ranjang Xiumin dengan kaki yang terbang di udara. Dia mengurai-nguraikan surai keemasan, yang warnanya agak tua oleh basah, miliknya dan mulai mengipas-ngipasi rambutnya itu.

Ia mengedarkan pandangannya dan melihat Sohee dan Xiumin sedang membicarakan sesuatu sambil tertawa-tawa, Yixing dan Kyungsoo yang sedang terduduk di depan televisi tanpa mengalihkan pandangannya, serta Tao yang sudah berbaring tidak sadarkan diri lagi di atas kasur dorong dibawah kasur yang biasa Xiumin tempati.

Luhan mengangkat alis keemasannya itu dan akhirnya mendekati Tao. Ia mendekati Tao dengan hati-hati, tidak ingin membangunkan kucing imut itu. Ia mendekati hidung mungil miliknya dan mulai menghirup wangi tubuh Tao yang ternyata seharum vanilla dan juga cookies yang begitu menenangkan.

Dia sudah mandi, pikirnya dan menjauh dari anak kucing itu. Ia mengambil tempat dan berbaring bersebelahan dengan Yixing untuk memelototi Robert Pattinson yang sedang berperan menjadi Edward Cullen, vampire-seksi-yang-main-di-Twilight. Yeah, mereka sedang menonton Twilight : Breaking Dawn part 1, yang begitu mereka sukai. Ini mungkin ke-seratus dua puluh kalinya mereka nonton. Lihat? Bahkan Luhan menghitungnya.

"Kalian ngga bosan ya nonton ini terus?" tanyanya kepada kedua sahabatnya yang memiliki sifat keibuan yang kentara diantara semua sahabatnya. Kontan, kedua sahabatnya itu menggeleng secara bersama, masih tanpa mengalihkan pandangan mereka dari TV tersebut. Luhan hanya memutar bola mata caramel miliknya.

Akhirnya, karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan lagi atau karena kelelahan, Luhan menyeret tubuh mungilnya kesebelah Tao dan meringkuk seperti kucing serta mulai menggantar rohnya ke dreamland miliknya. Dimana ia akan bertemu dengan pangeran tampan nan seksinya.

.

.

.

"Hey,"

"S-Soo-noona?"

Wanita itu hanya tersenyum miring melihat kekagetan ketiga pemuda tampan didepannya. Sedangkan tiga pemuda lainnya beserta tiga wanita lain yang berada di ruangan itu hanya tersenyum.

Chanyeol adalah orang pertama yang menyambut Sooyoung dalam pelukannya. Sooyoung menyambutnya dengan tangan terbuka dan mulai mengelus pelan rambut hitam Chanyeol ketika ia mulai membasahi pakaian Sooyoung dengan air matanya.

"Jangan pernah. Jangan pernah sekali pun meninggalkan kami," desisnya diantara isak tangisnya. Sooyoung melunak, ia mulai mengeratkan pelukannya di tubuh tinggi Chanyeol dan membawanya untuk membaringkan kepalanya di pahanya sedangkan Sooyoung duduk di sebuah sofa.

Chanyeol hanya menikmati elusan lembut di rambutnya dan mulai menutup mata cokelat gelapnya. Sooyoung hanya tersenyum lembut dan seketika, wajahnya berubah menjadi serius lagi.

Merasa sudah waktunya, Kris membuka mulutnya, "Jadi apa yang ingin kau bicarakan tentang mates kami?"

Sooyoung tersenyum. Senyuman manis dan juga misterius, "Firstly, aku ingin bertanya."

"Apa?"

"Kalian sudah menentukan mates kalian?"

"Tentu,"

"Kalian sudah memikirkan ini baik-baik?"

"Uh-huh,"

"Kalian sudah mengalami heat?"

"Iy- eh?"

Wajah kelima pemuda itu memerah dengan berbagai ekspresi. Keempat wanita didepan mereka hanya terkekeh pelan. Dan Sooyoung pun melanjutkan, "Kalau kalian sudah. Berarti ini gampang,"

"He-Hei! Kita tidak berkata bahwa kita sudah mengalami heat," protes Jongin dengan wajah memerah hingga ke telinganya. Wanita berambut bob cokelat muda itu tertawa dan menghirup teh earl grey miliknya, Lee Taeyoung, membuka mulutnya untuk berbicara,

"Dalam psikologi, pertanyaan tiba-tiba itu disebut snap question. Dan biasanya orang yang menjawab akan berkata sejujurnya tanpa di perintah oleh otak. Refleks," jelasnya dengan nada suara yakin dan santai.

"Aku benci kau, Young-ah,"

"Oh, nado, Kkamjong. Nado,"

"Jangan pernah panggil dengan nada itu lagi. Dasar menyebalkan."

"Lebih menyebalkan kau, tahu!"

BLETAK!

"Kalian tidak bisa diam ya?!"

"Mianhae, Tae-eonnie/Taeyeon-noona,"

.

.

.

"Ah~, sudah malam rupanya. Aku balik dulu ya Xiumin, Kyungsoo, Yixing, Baekhyun. Selamat tidur," pamit Sohee ketika melihat jam dinding ungu milik Xiumin sudah menunjukkan pukul 11 malam.

Kyungsoo, Yixing, Baekhyun, serta Xiumin, yang telah selesai menonton Twilight, akhirnya membalas pamitan Sohee dengan senyum hangat. Mereka pun akhirnya merapikan camilan-camilan mereka dan mencuci tangan mereka dengan sabun. Baekhyun segera saja bergelung dibalik selimut yang telah membungkus tubuh langsing Tao dan Luhan yang telah tertidur.

Kyungsoo, Yixing serta Xiumin pun mulai menyelimuti diri mereka dengan sebuah selimut yang berada di atas kasur king size milik Xiumin.

"Good night,"

Dan…

Cklek!

Sohee pun mematikan lampu dan menutup pintu sepelan mungkin. Agar tidak mengusik keenam gadis itu. Ia membisikkan sesuatu dengan lirih dan akhirnya,

Thud.

Pintu tertutup dengan begitu pelan dan menenangkan.

.

.

.

"Kukira pembahasan kita hanya sampai disini dahulu. Kalian ada sekolah besok soalnya," kata Sooyoung ketika melihat jam dinding telah menunjukan angka 11.

"Kita tidur dimana?"

"Tiffany akan mengantar kalian," jawab Sooyoung sambil menunjuk Tiffany dengan dagunya. Disitu, Tiffany menunggu dengan eyesmile manis miliknya dan mulai menunjukan arah kamar mereka berlima ketika mereka sudah berdiri inline di belakangnya.

"Mau kubantu dengan Chanyeol?"

Sooyoung mendongak mendengar suara lembut itu dan memberikan senyum memelas miliknya, "Please."

Taeyoung hanya menyunggingkan senyumnya dan mulai memejamkan matanya. Dan ketika terbuka, yang terlihat bukan lagi warna hitam jelaga melainkan ungu. Ungu gelap yang begitu indah dan dapat menghipnotis siapapun yang terhisap kedalamnya.

Sesuatu bewarna hitam, seperti bayangan, mulai merangsek menuju tubuh Chanyeol dan dengan perlahan, bayangan itu menjadi tangan-tangan yang membantu Chanyeol untuk mengangkat tubuhnya. Chanyeol sama sekali tidak sadar sehingga dengan mudah bayangan berbentuk tangan itu mengangkatnya.

Taeyoung akhirnya berjalan dengan langkah lebar ketika memastikan bayangan-bayangan itu sudah mengencangkan pegangan mereka pada tubuh tinggi Chanyeol.

.

.

.

"Kau serius mereka akan setuju dengan keputusanmu nanti?"

Saat ini, Taeyeon dan Sooyoung sedang menyusuri koridor luas mansion yang menuju kearah kamar mereka.

Sooyoung hanya tersenyum, "Ini yang terbaik untuk mereka."

"Kau tahu, aku sih tidak masalah kau mau bagaimana. Karena, disini kaulah yang menjadi pembina mereka," kata Taeyeon mengangkat bahunya, "Tetapi pikirkanlah mereka, terutama Chanyeol."

"Aku mengerti. Gomawo, Taeng-eonnie."

"Itu pekerjaanku 'kan?"

"Aku benci sekali kalau kau sudah sombong."

"Aku tidak sombong. Itu 'kan kenyataan."

"Berisik."

.

.

.

"Ungh~"

Merasa terganggu dengan sinar matahari yang masuk melalui celah-celah tirai, Xiumin pun membuka matanya, menampilkan orbs cokelat bulat. Ia menengok kearah nakas disamping tempat tidurnya. Niatnya sih melihat wekernya.

Masih pukul 05.30, pikirnya. Ia pun beralih melihat ketiga temannya yang tidur beralaskan kasur dibawah. Dan ketika ia melihat kebawah,

…. Benar-benar ajaib.

Kaki Baekhyun yang mungil sudah berada diatas wajah Luhan dengan tubuh kecilnya menimpa Tao. Xiumin juga tak habis pikir bagaimana cara Baekhyun memutar tubuhnya saat tidur. Dan posisi Tao juga tidak kalah ajaibnya. Ia tertidur dengan tangan dan kaki panjangnya men-tackle Luhan. Sedangkan Luhan? Well, dialah yang paling mengenaskan. Sudah di-tackle oleh si Kungfu Panda versi cewek dan kelinci hiperaktif, kaki kirinya bahkan sudah keluar dari batas kasur.

Xiumin hanya bisa mengurut dada dan berpikir, untung aku tidak tidur dengan mereka.

Nista juga dikau, Xiu.

.

.

.

"Hoahm~" Yixing mengernyit ketika Tao menguap. Ia langsung menggerakan tangannya untuk menutupi mulut Tao. Ia menasehati Tao, "Kalau menguap ditutup mulutnya Taotao. Kau ini cewek," katanya dengan penekanan di kata akhir.

Tao hanya memutar bola matanya dan bergumam tentang sesuatu. Ia pun mengambil handuk merahnya. Kemarin barang-barang mereka sudah dikirim ke rumah Xiumin. Termasuk seragam mereka.

Grek

"Oh. Hai, Lulu-jie."

Luhan hanya menatap Tao dari cermin dan mengangguk sebelum memakaikan lipgloss tanpa warna ke bibir merah merekahnya. Tao nyengir kuda dan menatap Luhan dari cermin. Luhan hanya mengernyitkan dahinya. Sesudah ia memakai lipglossnya. Ia berbalik dan menatap Tao yang masih menyengir tak jelas.

"Oke, Taotao. Cengiranmu itu sangat menjijikan," katanya sambil membuat wajah jijik, "dan apa alasanmu menyengir begitu, huh?"

"Jiejie memakai lipgloss itu gara-gara Si Cadel 'kan?" tanyanya, masih dengan wajah menjijikan sedari tadi. Luhan mengernyit ketika mendengar 'Si Cadel' dan berpikir dengan keras, Siapa itu Si Cadel?

LOADING

LOADING

LOADING

LOAD-

Oh.

Si Oh Sehun.

"ASDFHGJHJLJ!"

"AHAHAHAHAHAHAHA! AKU BENAR 'KAN, JIE?!"

"APA-APAAN SIH KAU, ZITAO?! ANEH!"

"ECIEE! MUKA JIEJIE UDAH MERAH LHOO~!"

"IH! AKU BENCI TAOTAO! I'M OUT!"

BRAK!

"HUAHAHAHAHA!"

PLAK!

"ADUH! JIEJIE! INI APAAN?! OH DEMI TUHAN~! KAU MENJIJIKAN LULU-JIE!"

Tahu tidak apa yang Luhan lempar?

Bra hitam miliknya yang bermerk Victoria's Secret.

Oh.

Dan yang terdengar hanyalah tawa nista Luhan.

.

.

.

"Ih! Lulu-jie benar-benar menjijikan," Tao mengerang, "Bramu itu hampir masuk ke mulutku tahu!"

Luhan meliriknya, "Siapa suruh kalau tertawa seperti orang kesurupan?" Luhan mengangkat alisnya. Saat ini, mereka ada di kamar Xiumin, memakan sarapan yang telah diantarkan oleh maid keluarga Xiumin.

"Yah, tidak sampai memasukan bramu ke mulutka lha, jie. Kau mau aku mati?" Tao melebarkan matanya, memelototi jiejienya yang satu itu. Namun sama sekali tidak ber-efek. Malah, Luhan hanya terkekeh-kekeh.

"Heh. Mending kalian cepat-cepat makannya. Sebentar lagi kita harus berangkat," perkataan Yixing membuat keduanya fokus terhadap makanan masing-masing dengan tetap memandang satu sama lain dengan begitu intens. Yixing hanya menghela nafas lelah.

Beginilah punya teman-teman yang setengah autis setengah waras. Sabar saja Yixing-eonnie.

#YixingPastiKuat

#StayWarasYixing

.

.

.

"YA! Dasar pemuda-pemuda pemalas!"

BRUAGH! BRUAGH!

"IREONA!"

"Ogah."

Sret

Oke. Ini benar-benar membuat Taeyoung naik darah. Masih bagus dibangunkan. Walaupun memakai cara barbar, tetapi tetap masih dibangunkan 'kan?

Dengan segera Taeyoung, gadis dengan rambut bob, menarik selimut yang menutupi keenam pemuda itu. Sontak, keenam pemuda itu bangun dan berseru,

"LEE TAEYOUNG!"

Taeyoung hanya tersenyum watados, "Pagi."

"ARGHHHHHH!"

BRAK! BRUK! BRAK!

"KYAAA~! KALIAN KOK PADA ANARKIS SIH?!"

.

.

.

"Umfh!" Taeyoung mem-pout-kan bibir merahnya. Dia sudah menyisir rambut bobnya yang tadinya berantakan karena ditimpuk oleh bantal-bantal yang dilempari oleh keenam werewolves, yang sedang makan dengan meja yang sama dengannya, dengan anarkis.

Sooyoung hanya menghela nafas dan berkata, "Sudahlah, Young -ie. Dan kalian," ia menunjuk keenam pemuda itu, "minta maaf pada Young-ie."

"Ta-tap-" Sooyoung memotong perkataan Jongin dan memelototinya, "Tidak ada tapi-tapian, Jongin."

Keenam werewolves itu menghela nafas pasrah dan dengan setengah hati, "Mianhae, Taeyoung-ah/Young-noona." Taeyoung hanya tersenyum watados dan mengangguk. Dasar mood swinger parah, batin Kris tersenyum lembut kearah sang gadis.

"Kalian tahu apa yang kalian harus lakukan 'kan?" tanya Sooyoung, kekhawatiran masih berbekas di wajah cantiknya.

"Iya, noon. Tenang saja," sahut sang maknae, Oh Sehun, menenangkan Sooyoung. "Aku percaya kok sama kalian," sahut Sooyoung, kekhawatirannya berkurang.

TIN! TIN!

"Ah, jemputanku sudah datang. Annyeong, semua!"

"Annyeong, noon. Sampaikan salam kami pada Changmin-hyung!"

"Pasti!"

.

.

.

"Eh, Ahjussi! Kita diturunin disini saja!" seru Xiumin di perempatan jalan. Sedikit lagi sebenarnya sudah sampai ke sekolah. Tapi, demi program dietnya, Xiumin rela berjalan kaki.

"E-eh! Tidak apa-apa nih, Nona?!" sang supir keluarga, Jung-ahjussi, menanyakan kewarasan nona mudanya, takut digorok nyonya besarnya ternyata.

"Tenang saja, ahjussi. Nanti aku bilang ke eomma kok. Kita pasti selamat kesana, percaya deh!" kata Xiumin meyakinkan. Supir itu hanya menghela nafas pasrah dan akhirnya menepikan mobilnya,

"Hati-hati, Nona!"

"Neee~!" seru Xiumin. Ketika melihat supirnya sudah pergi, barulah mereka berjalan kaki ke sekolah. Kebetulan, sekolah mereka hanya tinggal belok kanan dan sehabis itu menyebrang.

"Eh! Ayo cepat menyebrang! Nanti lampunya keburu merah!" seru Xiumin dan segera menarik tangan Luhan. Tiba-tiba…

Bruk!

"Aduh!"

Ringisan Luhan menyadarkan mereka berlima ketika mereka sudah berada di seberang sedangkan Luhan jatuh terduduk di tengah jalan.

"LUHAN! AWAS!"teriakan penuh ketakutan Kyungsoo membuat Luhan menengok dan betapa kagetnya ia melihat sebuah truk melaju kencang kearahnya.

Ah, mungkin sudah saatnya, batinnya dan menutup mata. Kelima sahabatnya menatap Luhan penuh ketakutan sedangkan Baekhyun sudah berteriak, "LUHAN!"

Sret!

BRUAK!

Luhan membuka matanya cepat. Mulutnya membeo ketika melihat seorang pemuda didepannya dengan sebuah truk yang hancur.

"K-kau.."

TBC~!

Area Bacotan Aneh :

Hehe. Jangan bunuh saya karena update lama, yah. Hehehehehe #tawanista.

Saya berjanji deh, kalo saya bakalan cepet update… kapan-kapan /dilempar batu/

SAYA JUGA MINTA MAAP KALO INI CEPTER KURANG PANJANG. ihik. Mian, semua.

Pokoknya, TOLONG TETAP SOKONG SAYA DARI BELAKANG YA! /teriak pake toa/

Dan terakhir…

PLIS REVIEW KALO GA, BARBIE MELAYANG!