WOLVES
Rate : T
© Haruno Kagura
Pair(s) : all EXO official couples
Summary : Enam yeoja manis merupakan siswi dari Cheonam-Dong High School yang terkenal akan kecantikan mereka. Tiba-tiba, salah satu dari mereka menabrak salah seorang dari enam namja tampan. Apalagi yang akan datang setelahnya?
Warning : Highschool!AU. Uke!GS.
Disclaimer : EXO itu dipunyai oleh ortu mereka, Tuhan Yang Maha Esa, manajemem, agensi, serta para fans.
Chapter 5 :
"K-Kau… Oh Sehun 'kan?"
Pemuda dengan rambut platina itu hanya melirik Luhan dari balik bahu tegapnya. Truk didepannya hancur, dalam artian penyok, hanya depannya saja, jadi Sehun sama sekali tidak ambil pusing.
Ia malah berbalik dan berjalan kearah Luhan dengan wajah serata tembok. Luhan, yang merasa dikacangin, mengangkat alisnya heran namun sama sekali tidak beranjak dari tempatnya duduk.
Setelah sampai ditempat Luhan, Sehun berjongkok, menjajarkan tubuhnya dengan Luhan, dan menyelipkan lengan kekarnya di punggung dan kaki jenjang Luhan. Dan…
Hup!
Dengan sangat mudah Sehun menggendong Luhan ala bridal style, karena beratnya hanya seringan boneka. Sontak, keempat sahabat Luhan memelototkan mata mereka kecuali Tao. Ia sedang asyik-asyiknya cengar-cengir seperti orang gila.
"E-eh! Apa yang ingin kau lakukan?!" pekik Luhan dengan wajah semerah kepiting rebus. Tangannya dengan refleks dikalungkan olehnya di leher jenjang Sehun. Sehun hanya meliriknya dan berkata dengan suara datar, "Kau tidak melihat kakimu ya? Aku akan membebatnya. Jadi diam saja."
Luhan hanya terdiam dan memutuskan untuk menyembunyikan wajahnya pada telapak tangannya. Tanpa ia ketahui, Sehun sedang menahan senyum samar ketika melihat tingkah laku Luhan yang imut.
.
.
.
Grekk…
"Permisi,"
Sapaan Sehun disambut dengan keheningan dari dalam klinik sekolah. Ia menutup pintu kembali dengan kakinya. Dengan segera, ia mendudukan Luhan di salah satu tempat tidur di klinik sekolah itu.
"Tunggu disitu, jangan kemana-mana," perintahnya dengan mutlak. Luhan hanya mengangguk pelan dan menatap punggung Sehun. Kelihatannya Sehun agak kebingungan karena baru pertama kali ini ia masuk ke klinik sekolah.
"A-ah. Kalau P3K ada di lemari sebelah kiri. K-kalau kau belum tahu," Luhan mencicit ketika Sehun berbalik menatapnya. Sehun hanya mengangguk dan bergumam, "Hn. Gomawo."
Luhan hanya mendongak ketika Sehun menggumamkan kata-kata itu. Ia memegang kedua pipi ranumnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya.
Tek.
"Mana sini kakimu," titah Sehun. Luhan menyodorkan kaki kirinya dan membiarkan Sehun untuk membuka sepatu beserta kaos kakinya. Tanpa sengaja, Sehun mengelus bagian kaki Luhan yang membiru parah. Luhan mengernyit menahan sakit. Sehun mendongak, menatap Luhan yang menahan sakit. Mata rusa Luhan mulai berkaca-kaca.
Set
Sehun, tanpa berbicara apapun, menyeka air mata yang sudah ingin jatuh dari mata indah Luhan. "Tahan, ya," katanya dengan senyum lembut. Luhan mengangguk perlahan dan menggigiti bibir bawahnya.
Dengan cepat, Sehun membebat kaki Luhan yang membiru. Sesekali Luhan mengeluarkan erangan kesakitan. Sehun dengan telaten membebat kaki Luhan dan setelah selesai,
…Ia mencium kaki Luhan.
Mata Luhan melotot, hampir keluar dari rongganya. Sehun hanya mendongak menatapnya dengan senyum samar. Wajah Luhan langsung memerah parah hingga ke telinganya. Sehun berdiri dan menepuk celananya yang ditempeli debu tak kasat mata.
"Kita harus ke kelas," kata Sehun dengan wajah datar lagi. Luhan hanya menatapnya bingung. Perasaanku saja atau dia memang bermuka ganda?, kira-kira begitulah pikiran Luhan. Luhan memandangi kakinya yang diperban dengan wajah bingung.
Sehun menghela nafas dan menghampiri Luhan. Dengan perbedaan tinggi yang amat sangat, Luhan mendongak dan menatap Sehun dengan pandangan heran. Sehun membungkuk dan menyisipkan lengan kekarnya di punggung dan diantara paha dan betis jenjang Luhan.
"E-eh!" pekik Luhan tidak siap. Sehun melirik dan berkata –tepatnya memerintah, "Kalungkan lenganmu di leherku. Kita akan berlari."
"EEEHHHH!?"
.
.
.
"Aduh. Han-ie gimana?"
Gumaman penuh frustasi dikeluarkan oleh Kyungsoo sembari mondar-mandir didepan teman-temannya. Xiumin sedang terduduk di meja Baekhyun. Ia menguburkan wajahnya dibalik telapak tangannya. Baekhyun disampingnya, mengelus pelan bahu Xiumin.
"Ini semua salahku," gumam Xiumin. Yixing menghela nafas dan beranjak menghampiri Xiumin. Ia menepuk bahu Xiumin hingga empunya mendongak dan disapa oleh senyum lembut Yixing.
"Ini bukan salahmu, Xiuxiu-jie. Percaya deh sama aku. Dia tidak apa-apa," katanya menenangkan Xiumi. Dan ternyata sedikit manjur. Tao, yang sedang duduk sambil memainkan Iphone s5 bewarna merah miliknya, membuka suara, "Iya, jie. Percayakan saja Lulu-jie pada pemuda albino itu."
Kyungsoo berhenti mondar-mandir dan menatap Tao dengan tajam, "Tidak boleh berkata hal yang tidak-tidak kepada orang yang telah menolong temanmu, Taotao."
Tao hanya memutar bola matanya malas dan berkata dengan ogah, "Iya jie."
.
"Mereka tidak menyadari ya, kalau teman yang ia sebut 'pemuda albino' itu ada disini?" Jongin mengernyit, melihat Tao dengan pandangan aneh. Chanyeol hanya menepuk punggung pemuda tan itu sambil nyengir, "Sudahlah. Panggilan itu juga bagus untuk maknae itu kok."
"Says the one who cries last night," Chanyeol memelototi pemuda berambut blonde yang sedang tersenyum menyebalkan dengan wajah ! #$%^&*-face miliknya. Kris hanya terkekeh-kekeh menyebalkan (bagi Chanyeol).
"Sudahlah, hentika-"
Grek…
Perkataan Joonmyeon terputus ketika pintu kelas terbuka, menampilkan dua sejoli yang tengah menjadi pembicaraan. Oh Sehun dan Xi Luhan. Sehun, dengan santainya berjalan kearah bangku mereka bersama. Sedangkan Luhan. Kulitnya sudah sepucat kertas.
Setelah didudukan oleh Sehun, ia langsung menghirup oksigen dengan rakus dan menatap Sehun dengan tajam, seakan ingin mencabik-cabik Sehun dengan tatapannya. Sahabat-sahabat Luhan langsung menghampiri Luhan dengan cepat. Sedangkan Sehun menghampiri sahabat-sahabatnya didekat jendela.
"Han-ie, tidak apa-apa 'kan?" Kyungsoo langsung memegang dagu Luhan dan mendongakannya ke atas. Luhan meringis, "Yang sakit sepertinya kakiku deh, Soo."
Kyungsoo hanya tersenyum tersipu. Malu dengan kesalahannya. Sedangkan Tao sudah terkekeh-kekeh melihat jiejienya yang biasanya perfeksionis ini salah. Luhan menghentikan ringisannya, "Aku sih tidak apa-apa. Kalau saja ia tidak berlari tadi," misuhnya menatap punggung Sehun yang sedang tertawa-tawa dengan Jongin.
"Ah, walaupun jiejie ngomong begitu juga. Jiejie senang 'kan?" goda Tao, menaik-turunkan alisnya. Luhan langsung menatap Tao dengan melebarkan matanya dan pipi memerah parah.
"Bisa tidak sih kau diam. Sebentar saja," keluh Luhan dengan pipi masih memerah. Tao hanya terkikik melihat Luhan ngambek, "Oke oke. Aku akan diam. Sebentar saja."
Dan meledaklah tawa Tao ketika Luhan menggembungkan pipi ranumnya.
"HAHAHAHA! ADUH, JIE. MUKAMU TUH AIB BANGET~!"
"DIAM BISA TIDAK SIH?!"
BLETAK!
"KALIAN NGGA BISA DIAM, YA?!"
"Mianhae, Xiu-ie/Xiuxiu-jie."
.
.
.
"Mereka benar-benar, deh,"
Jongin melihat Kyungsoo yang hanya terbengong dengan mata membulat imut, terkekeh pelan. Sehun yang melihat itu hanya menepuk bahu Jongin dan cengar-cengir tidak jelas. Jongin membalikan tubuhnya dan menatap Sehun dengan kernyitan didahinya, "Apaan sih, Cadel?"
"Berhenti memanggilku 'Cadel', Kkam," misuh Sehun, "Dan juga. Kau lagi melihat siapa, hm?" tanyanya, menggoda Jongin. Jongin langsung membuang mukanya, sebelum ia ingin meninju wajah yang (katanya) tampan milik sang maknae.
Sehun tambah mendekati wajah tengilnya dan menggoda Jongin. Wajah Jongin memerah, namun berterima kasihlah pada kulit tan (item) miliknya sehingga tidak terlalu kelihatan.
Teng teng teng…
Grek
"Anak-anak, silahkan duduk. Dan kalian berenam, silahkan kembali ke kelas kalian," Sooyoung, selaku wali kelas, mengusir keenam orang yang salah kelas dengan halus dan senyuman yang terbentuk di bibir merah alaminya.
"Hwaiting, Chann-ie."
"Ne. Gomawo, Soo-ie."
.
.
.
"Baiklah, untuk pelajaran kali ini. Aku minta kalian untuk berpasangan dengan teman sebangku kalian," titah Kim Hyoyeon, selaku guru dance mereka, "Kalian akan menari tango atau waltz untuk test menari minggu depan. Mengerti?"
"Ne, Hyo-seonsaeng," jawab para murid dan Hyoyeon hanya tersenyum senang. Saat ini mereka berada di ruang tari luas milik Cheonam-Dong High School, yang dikatakan sebagai ruang tari terluas di Seoul, Korea Selatan.
"Jadi… kita berpasangan 'kan?" tanya Tao kepada pemuda blonde gigantisme didepannya, yang hanya menatap Tao dengan tajam. Tao hanya menunduk dan misuh-misuh tentang 'mengapa-aku-sebangku-dengan-angry-bird-yang-tak-tahu-cara-berekspresi'.
Pemuda didepannya, Kris, hanya menghela nafas yang sedari tadi ditahan olehnya. Ia pun menadahkan tangan besarnya didepan Tao. Tao mendongakan kepalanya dan menatap Kris dengan mata panda besarnya.
"May I have this dance?" tanya Kris, menyunggingkan senyum miringnya. Saat itu juga, lagu slow khas tango memenuhi ruangan tari dengan kaca dimana-mana saat ini. Tao, dengan malu-malu tapi pasti, meletakkan tangannya diatas tangan Kris yang besar.
Kris menahan senyuman yang hampir terbentuk di wajah tampannya dan membantu Tao untuk bergerak ke ruangan kosong yang telah diubah menjadi lantai dansa. Sudah ada beberapa pasangan yang menari, termasuk Jongin dan Kyungsoo.
Perlahan, tangan besar Kris memegang pinggang ramping Tao dengan begitu lembut, seakan takut jika ia melepaskannya, Tao akan pecah berkeping-keping bagai boneka porselen. Tao hanya mengikuti langkah Kris yang begitu hati-hati. Begitu… sensual.
Tao menggelengkan kepalanya ketika ia memikirkan kata-kata itu. Menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus dengan menundukkan kepalanya. Kris hanya melirik Tao dengan bingung. Ada apa dengannya?, batinnya bertanya. Ia mengangkat salah satu alis blondenya dan hanya mengangkat bahu acuh serta melanjutkan tari mereka.
Ia hanya menikmati bagaimana tangannya yang besar bisa terasa pas dengan tangan mungil Tao. Bagaimana step -nya yang berirama sama seperti Tao. Ia hanya bisa menikmatinya.
Sebelum semuanya hilang kembali seperti dahulu.
.
.
.
"Okay. Hari ini cukup sampai disini," Hyoyeon menepuk tangannya dan menyuruh murid-murid berbaris sebelum melanjutkan, "Kita akan bertemu minggu depan. Banyaklah latihan. Dan untuk Sehun dan Luhan, tolong jangan kembali ke kelas dulu. Ada yang ingin kubicarakan," katanya mengerling kepada dua sejoli yang sedang duduk di pojok. Diam-diaman.
Luhan menghela nafasnya. Ia mencoba berdiri dengan cara menopang tubuh mungilnya di dinding ruang tari itu. Tetapi, ia segera meluncur kembali dan menimbulkan bunyi buk yang agak keras. Ia hanya dapat meringis ketika pantatnya dengan mulus berciuman dengan lantai ruang tari itu.
Setelah memastikan semua muridnya keluar –kecuali dua sejoli itu, Hyoyeon menghampiri Sehun-Luhan yang masih terduduk. Ia duduk bersilang didepan mereka dan berkata, "Untuk kalian berdua –karena Luhan sedang cedera, kurasa kalian akan kusuruh membuat tugas."
Luhan refleks menggeleng. Ia ogah mengerjakan tugas yang belakang-belakangnya paling disuruh membuat kliping. Ia meyakinkan Hyoyeon, "Hyo-seonsaeng! Tenang saja, kakiku pasti akan sembuh minggu depan. Jadi, biarkan saja kami menari –jangan buat kliping, please," katanya dengan deer eyes imut miliknya.
Hyoyeon hanya menghela nafas. Ia pun menyipitkan matanya, "Kau yakin?" tanyanya yang diijawab anggukan antusias oleh Luhan. Ia menyerah, "Oke. Tapi dengan satu syarat."
Mata Luhan berbinar—binar, "Apa, seonsaeng?"
Mata Hyoyeon memicing –tepatnya mengerling dengan diam-diam kearah Sehun, "Kau harus berpasangan dengan Sehun," anggukan dari Luhan, "Dan dirawat oleh Sehun, itu saja."
Luhan menganga. Sehun memijit pelipisnya, pusing. Sedangkan Hyoyeon menyeringai dengan begitu piciknya. Luhan merasakan wajahnya memerah sampai ke telinganya. Ia menatap Hyoyeon, terus ke Sehun, Hyoyeon, Sehun –begitu seterusnya.
"N-nae?" tanya Luhan sambil menunjukkan jari telunjuk rampingnya kearah dirinya. Lemotnya kumat ternyata. Hyoyeon menghela nafas, "Iya, Luluku sayang~"
Luhan hanya menundukan kepalanya dalam, menyembunyikan wajah merahnya yang imut. Hyoyeon beralih ke Sehun dengan senyuman bak malaikat maut. "Bagaimana, Sehun?" tanyanya dengan penekanan pada nama sang pemuda.
"Tak ada pilihan lain, ya," gumam Sehun, "Oke deh. Terserah," akhirnya ia menjawab dengan putaran bola mata platina miliknya. Hyoyeon menahan dengusan kesal pada pemuda didepannya dan memilih kabur dari ruangan itu –meninggalkan Sehun-Luhan berdua, "Baiklah, aku kembali dahulu. Hwaiting!"
Sehun tahu bahwa kata 'hwaiting' itu untuknya. Untuknya, mendapati dan melindungi rusa imut di sampingnya ini. Sehun hanya terkekeh pelan sebelum berdiri dan menyodorkan tangannya didepan wajah Luhan yang masih menunduk.
Luhan mendongak.
Senyuman lembut terbentuk di bibir tipis Sehun.
"Ayo."
.
.
.
Srek
Suara pintu yang digeser membuat semua orang yang berada dalam ruangan, yang berlabel 'Teachers' Room', menengok kearah sang pelaku.
"Berhasil?" seorang wanita berambut coklat bergelombang bertanya padanya. Wanita itu sedang menyisip tehnya dengan pelan-pelan. Hyoyeon hanya memutar bola matanya dan beranjak uuntuk menghampiri tempat duduknya, yang kebetulan terletak didepan wanita itu.
"Aku ini masih lebih tua darimu, tahu. Harusnya kau panggil aku 'eonnie' atau apalah gitu?" kata Hyoyeon jengkel. Wanita didepannya itu, Sooyoung, hanya memutar bola matanya malas, "Iya, iya, eonnie," katanya dengan penekanan. Hyoyeon hanya tersenyum lebar, mengabaikan fakta bahwa Sooyoung benar-benar ingin merobek mulutnya itu.
"Tentu saja aku berhasil, dongsaengku sayang," katanya mengerling menjijikan kearah Sooyoung. Sooyoung menahan dirinya untuk tidak melempar sepatu rancangan Chanel dengan kitten heels miliknya ke wajah Hyoyeon.
"Berhenti bersikap menjijikan begitu, noona," suara bass yang sangat Hyoyeon kenal membuatnya menunjukan seringai yang sama menjijikannya seperti tadi, "Kau cemburu?"
Pemilik suara bass itu tertawa keras. Ia menyudahi tertawanya dan menimpali, "Kenapa aku harus cemburu? Dia 'kan sudah kutandai," ia terkekeh ketika melihat pipi chubby Sooyoung berubah menjadi bewarna merah.
"Oh. Terkutuklah aku melihat kemesraan kalian," memutar bola matanya, Hyoyeon beranjak dari kursinya untuk menyeduh sebuah hot chocolate untuk dirinya sendiri. Changmin, pria itu, mengangkat salah satu alisnya, "Aku tidak dibuatkan, noona?"
"Suruh tunanganmu," ujar Hyoyeon tanpa mengalihkan pandangannya kepada Changmin. Pria itu langsung menengok kearah Sooyoung. Sebelum ia sempat berkata apapun, Sooyoung lebih dahulu berdiri dan membuka sebuah laci di pojok ruangan yang berisi camilan-camilan segunung.
"Mau ramyeon?" tanya Sooyoung, tanpa mengalihkan pandangannya ke Changmin. Ia sibuk memilah-milah makanan dari dalam lemari itu. Changmin menjawab dengan bersemangat, "Iya! Dua bungkus, ya!"
Hyoyeon melihat Sooyoung mengangguk dan mengambil empat bungkus ramyeon serta menutup kembali laci itu. Ia mengangkat alisnya, "Kenapa kau ambil empat?"
"Aku juga lapar," Sooyoung menjawab dengan wajah polos dan berjalan kearah dapur khusus untuk guru-guru. Hyoyeon menghela nafas dan bergumam, "Dasar pasangan shiksin."
Kedua sejoli itu hanya memasang cengiran kuda mereka.
.
.
.
"HUWEEE~ AKU LAPAR~!"
Luhan mengerling kearah Tao. Ia berkata dengan pedas, "Diamlah atau aku akan menyumpalmu dengan bra-ku lagi nanti." Tao menatap Luhan dengan tajam. Luhan hanya mengabaikannya dan membuang wajahnya kearah lain.
Mulai lagi deh, batin keempat temannya sambil menghela nafas lelah. Mereka benar-benar tak habis pikir dengan kedua gadis ini. Kadang kalau aneh-aneh, pasti akur. Pake banget, malah. Tapi kalau begini, malah berantem melulu.
Aneh memang.
Keempat sahabat itu hanya menghela nafas.
BRUAGH!
Tiba-tiba, terdengar hantaman pintu kelas dengan tembok. Yang menjadi pelakunya adalah tiga orang gadis, yang sebenarnya cantik, jika dilihat dari fisiknya, namun judes. Mereka adalah geng pembully paling ditakuti di seluruh sekolah. Yah, kecuali Luhan dkk sih. Geng mereka terdiri dari tiga gadis cantik namun jahat.
Ketuanya, gadis yang menjadi pelaku pembantingan pintu kelas. Mempunyai rambut bewarna merah magenta lurus dengan wajah judes, Jung Soo Jung atau Krystal. Disampingnya berdiri seorang gadis dengan rambut hitam catokan sepunggung, Park Sun Young atau Luna. Disebelahnya satu lagi, berdiri gadis yang paling tinggi. Mempunyai rambut seleher dipotong bob bewarna cokelat kehitaman, Choi Jin Ri atau Sulli.
Krystal memicingkan matanya hingga ia berhenti di Kyungsoo. Ia menunjuk Kyungsoo dengan jari-jarinya yang telah dikutek merah, "Kau! Do Kyungsoo, ikut aku," ia berhenti dan menatap kelima sahabat Kyungsoo, "Dan kalian. Tidak boleh ikut."
Sebelum Tao protes, Kyungsoo berdiri dan berkata dengan nada lembut, "Tenang saja. Kalian disini saja, oke?"
"T-tapi–" perkataan Baekhyun terpotong ketika Yixing menepuk bahunya lembut dan menggeleng pelan. "Biarkan saja Kyungsoo mengurus urusannya. Ia tidak akan apa-apa, Baek -ie." Baekhyun hanya menunduk dan menghela nafas.
Luhan mendekati Kyungsoo dan berbisik, "Kau harus kembali dengan hidup, oke?" Kyungsoo terkekeh dan mengangguk. Ia berjalan mengikuti geng Krystal.
Ke atap sekolah.
.
.
.
"Apa yang kalian mau denganku,"
Saat ini, Kyungsoo tengah dipojokan ke pagar pembatas atap. Ia dapat merasakan dingin yang amat sangat pada kulitnya yang telah menempel. Ketiga gadis didepannya, apalagi Krystal, hanya tersenyum meremehkan pada Kyungsoo. Dan itu membuat Kyungsoo ingin melempar wajah Krystal dengan batu bata atau apapun yang keras didunia ini.
Krystal maju kedepan. Ia mengambil sehelai rambut hitam Kyungsoo dan berbisik tepat ditelinganya, "Aku tidak tahu bahwa kau dekat dengan… Jonginku." Mata lebar Kyungsoo membulat. Ia menepis tangan Krystal dengan kasar.
Krystal terkekeh, "Berani sekali kau." Kyungsoo mengangkat wajahnya, memasang ekspresi dingin, "Aku memang berani. Memang kenapa?" ia menyeringai. Melihat seringai itu, Krystal benar-benar marah.
Ctik
Dengan satu jentikan, Sulli dan Luna langsung berada didepan Kyungsoo. Kyungsoo tersentak kaget. Bagaimana cara mereka tiba dengan begitu cepat?, hanya itu yang berada dipikirannya. Sebelum ia merasa bahwa ia didorong. Mata bulatnya melebar. Melebar akan ketakutan.
Krystal menyeringai, "Annyeong, Kyung-ie."
.
.
.
"HAHAHAHA~!"
Saat ini Jongin dan gengnya sedang berjalan-jalan di taman belakang sekolah. Jongin terlihat cemberut sekaligus dengan wajah memerah malu karena diejek oleh Chanyeol dan Chen, yang masih tidak bisa mengontrol tawa mereka. Bahkan Joonmyeon, yang terhitung alim, terlihat menahan tawa. Apalagi Kris dan Sehun, wajah mereka sudah memerah karena menahan tawa.
"Duh. Kalian semua tidak bisa berhenti tertawa ya?" tanya Kai dengan nada jengkel. Bukannya dijawab, tertawaan mereka malah menjadi lebih keras. Bahkan Kris dan Sehun pun ikut menertawai dia.
Dafuq.
Sehun yang pertama kali berhenti tertawa. Ia menengok ketika melihat sekumpulan gadis, dengan salah satunya adalah teman sebangkunya, terengah-engah. Ia mengerutkan keningnya, "Luhan-ssi?"
Merasa namanya dipanggil, Luhan menengok dan langsung berlari –dengan tertatih-tatih ke arah Sehun. Wajahnya benar-benar ketakutan dan pucat, bahkan kertas kalah pucat dengannya. Tubuhnya langsung limbung, dikarenakan oleh kakinya yang masih tidak bisa menahan tubuhnya. Sehun langsung menangkapnya ke pelukannya, mengabaikan sahabat-sahabatnya yang sedang tersenyum ganjen kearahnya.
"Ada apa, Luhan-ssi?" tanyanya berhati-hati ketika melihat Luhan benar-benar ketakutan. Luhan mengambil nafasnya dan mencengkram pakaiannya dengan erat, menahan air mata yang ingin keluar dari bola mata caramel indahnya. Ia mendongak dan bertanya dengan suara hampir tercekat, "Sehun-ssi, kumohon, apa kau melihat Kyung–"
Perkataannya tak pernah selesai karena Baekhyun sudah berteriak dengan begitu keras, lengkap dengan air mata, "ITU KYUNGSOO!"
Dan ketika mereka melihat keatas, yang mereka lihat adalah Kyungsoo.
Jatuh dengan bebas dari atap.
TBC~!
Area Bacotan Aneh :
Aduh. Plis jangan lempar saya dengan batubata-batubata itu.
First of all. Saya mau minta maap sebanyak-banyaknya pada aff(x)tion, apalagi fans Krystal, Sulli ama Luna, karena buat mereka jadi jahat. Walopun saya fans Sulli sih.
Dan yang kedua, sorry ini bahkan lebih dikit dari chapter lalu. Saya buat ini dengan cepat soalnya. Plus saya juga mau minta maaf gegara banyak typo. Maklum, males ngeliat lagi huehehehe /ketawa aladdin/
Dan yang ketiga. Untuk teman tersayang saya /muntah reinbow/ Blastjoe2311, ini preview chapter 6-nya /cipok/ :
"APA-APAAN INI?!"
"KYUNGSOO!"
"Kalian siapa sebenarnya?"
"Kurasa, kalian harus tinggal disini untuk sementara."
"Terlalu banyak bahaya diluar sana."
"Apa sih maksud kalian? Aku gak ngerti."
"HAH? Apa lagi itu?"
"Kami akan melindungi kalian sampai kami mati."
"DEMI TUHAN!"
"HUWEE~ MOMMY TEGA BANGET SIH!?"
"Lihatlah. Kalian mempunyai tanda yang sama seperti kami."
UDAH YA. SEGITU AJA, BIAR GREGET.
PLIS REVIEW, KALO GA KERIKIL MELAYANG~!
