WOLVES
Rate : T
© Haruno Kagura
Pair(s) : all EXO official couples
Summary : Enam yeoja manis merupakan siswi dari Cheonam-Dong High School yang terkenal akan kecantikan mereka. Tiba-tiba, salah satu dari mereka menabrak salah seorang dari enam namja tampan. Apalagi yang akan datang setelahnya?
Warning : Highschool!AU. Uke!GS. Slight!KrisxOC. Typo.
Disclaimer : EXO itu dipunyai oleh ortu mereka, Tuhan Yang Maha Esa, manajemem, agensi, serta para fans.
Chapter 6:
"KYUNGSOO!" teriakkan Baekhyun mengagetkan mereka semua. Luhan sudah menangis dalam pelukan Sehun. Sehun hanya bisa terdiam, namun mengelus punggung Luhan dengan lembut. Ia menggertakan giginya.
"JONGIN!" geramnya ketika melihat Jongin hanya membatu, "JANGAN DIAM SAJA, SIALAN! KAU TIDAK LIHAT KYUNGSOO-NOONA SEDANG JATUH BEBAS SEPETI ITU, HAH?!"
Dengan tiba-tiba, Jongin menghilang bagai ditelan bumi. Dan ketika para gadis itu mendongak keatas, mereka menahan nafas ketika melihat Jongin melompat dari jendela kelas lantai tiga.
Hup!
Ia menangkap tubuh mungil Kyungsoo dan mendarat dengan sempurna dibawah. Jongin memberikan Kyungsoo, yang memejamkan matanya, kepada Yixing. Para gadis, termasuk Luhan yang dibantu Sehun, menghampiri Kyungsoo yang pingsan.
Yixing menepuk pipi Kyungsoo, yang terlihat pucat, dengan pelan sambil berbisik, "Kyung-ie? Kau bisa mendengarku? Kumohon sadarlah," ujarnya dengan mata berair. Joonmyeon mengalihkan pandangannya. Bagaimana pun melihat gadis menangis bukan hobinya. Apalagi ketika melihat Yixing menangis.
Jongin tersenyum dengan lembut dan berkata kepada Yixing, "Tolong jaga Kyungsoo-noona ya, noona. Sehun, kau, Joonmyeon-hyung, dan Jongdae-hyung, jagalah mereka. Sisanya, ikuti aku. Ada satu masalah yang harus kita selesaikan."
Sehun hanya menghela nafas pasrah dan menyeringai ketika melihat siapa yang Jongin lihat di atas. Sehun hanya menepuk bahu Jongin dan berbisik, "Kembalilah dengan selamat, Kkamjong."
Jongin hanya menyeringai sambil menatap ketiga gadis diatap itu dengan kebencian yang begitu terlihat.
"Oh, dengan senang hati, Sehun."
Dan saat itu juga, ketiga pemuda tadi menghilang secara bersamaan.
.
.
.
" ! #$%^&*!" umpat Sulli ketika melihat ketiga werewolves itu menghilang dan sudah pasti mereka sebentar lagi akan berada tepat disini.
Tep.
"Yo. What's up?"
Sulli mendecak. Baru saja mereka dibilangin, sudah sampai. Apakah mereka manusia? Ah. Sepertinya kau lupa akan satu hal, Sulli-ssi. Mereka werewolves, ingat?
Jongin menatap gadis dengan rambut merah magenta, Krystal, yang sedang tersenyum –tepatnya menyeringai kearahnya, dengan tajam. Krystal sama sekali tidak takut, ia malah memajukan tubuhnya dan mendekati Jongin.
Sret.
Ia mengalungkan lengannya ke leher Jongin dan menempelkan tubuhnya ke tubuh Jongin. Ia mendekatkan bibirnya yang dipoles dengan lipgloss merah ke telinga Jongin dan berbisik dengan nada sensual yang dibuat-buat, "Nde. Ada apa, Jongin-darling?"
Jongin hanya diam saja. Ia tetap menatap Krystal dengan tajam. Chanyeol mengernyit jijik melihat tingkah Krystal. Akhirnya, Jongin membuka mulut dan berkata dengan nada dingin, "Lepaskan aku, Krystal." Masih bersikap menjijikan (dan hampir membuat Chanyeol muntah), Krystal malah berbisik dengan nada menggoda, "Bagaimana jika aku tidak mau?"
"Kalau begitu aku akan melakukannya dengan paksa."
BRUAGH!
"AGH!" erang Krystal ketika punggungnya dengan sukses menabrak tembok dan menyebabkan tembok itu retak sedikit. Sulli langsung bergegas berlari ke belakan Jongin dan bermaksud memukul tengkuk Jongin. Tetapi, sebelum dia berhasil–
BRUK!
"GAAH!"
-Chanyeol sudah lebih dahulu mencekik serta menahannya di tanah dengan mata hampir nyalang oleh kebencian. Mata dark chocolate belonya berubah menjadi warna merah scarlet mengerikan. Sulli menatap Chanyeol dengan agak ketakutan. Namun, ketika ia melihat mata scarlet penuh kebencian itu, ia tersenyum sinis.
"Teringat masa lalu, huh, Chanyeol?" katanya lengkap dengan senyum sinis yang membuat Chanyeol makin menekan lehernya ke lantai dan menindih perut Sulli dengan begitu keras hingga Sulli tercekat dan memuntahkan air dari mulutnya.
"Diam," geram Chanyeol dengan suara beratnya, namun masih tidak membuat Sulli gentar. Malah, ia, sambil memegang pergelangan tangan Chanyeol, berkata dengan nada sinis, "Ah. Harusnya aku membuatnya menghilang saj–"
Perkataan Sulli tak pernah selesai. Karena saat itu juga–
BRAK!
"Jangan. Pernah. Sekali pun. Mengatakan. Hal. Itu. Lagi," kata Chnyeol saat Sulli telah tak sadarkan diri akibat ia melemparnya ke tembok dengan sangat keras. Lebih keras dari lemparan Jongin.
Jongin menengok dan langsung mencium adanya bahaya ketika ia melihat bahwa mata Chanyeol tidak lagi menunjukan ekspresi hangat lagi. Melainkan dingin. Tidak ada cahaya disana, hanya ada tatapan penuh keinginan membunuh.
Dan saat itu juga, Jongin merasa bahwa ia harus bertindak cepat dan menjauhkan hyungnya itu dari Sulli. Secepatnya, sebelum Chanyeol memutuskan bahwa berubah menjadi serigala terasa menyenangkan disini.
Ia langsung menahan Chanyeol dan menengok kea rah Kris, "Kris-hyung, ban–"
BRAK!
Mata Jongin melebar melihat seorang gadis berambut hitam lurus menabrak pagar pembatas dengan sangat keras hingga pagar besi itu penyok. Ya, penyok.
"Kau. Tidak akan kumaafkan," Kris menggeram. Luna terbatuk dan memuntahkan darah yang menetes di bibirnya juga. Namun, ia memandang Kris dengan senyuman remeh di bibirnya yang telah robek itu. Ia berkata dengan nada meremehkan, "Sayang sekali ya untuknya. Hatinya telah mati, sehingga ia tidak bisa mencintai siapapun. Dan itu termasuk kau, Yifan."
Kris menggertakan giginya dan dalam hitungan detik, ia sudah berada didepan Luna. Dengan tangan besarmnya, ia meninju perut Luna dengan keras hingga ia memuntahkan darah lagi. Ia berniat menendang Luna sebelum–
BRAK!
"KRIS-OPPA!"
Grep
Sebelum sepasang lengan mungil memeluknya dari belakang. Mata elang Kris yang telah berubah warna menjadi scarlet melebar. Ia ingat harum ini. Harum mawar yang begitu polos, begitu manis. Harum yang dulu pernah ia miliki.
Mata tajam Kris berubah menjadi warna hitam malam lagi. Dengan perlahan, ia memegang sepasang lengan itu dan membalikan tubuhnya. Dan yang ia lihat benar-benar ingin membuatnya menonjok dirinya sendiri.
Sepasang permata onyx lembut memandangnya dengan air mata yang turun ke kedua pipi ranumnya. Mata yang dulu pernah menatapnya dengan penuh kekaguman maupun cinta. Namun sekarang, mata itu tidak akan menunjukan perasaan cinta lagi. Hanya sebatas kasih sayang.
Mata yang dimiliki oleh mantan kekasihhatinya, Lee Taeyoung.
.
.
.
[FLASHBACK : ON]
Kris sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan sahabatnya ini untuk menyodorkan adik gadisnya yang masih berumur delapan tahunnya. Ia memasang wajah aneh pada sahabatnya, Lee Taemin, "Memang aku terlihat seperti babysitter, Taemin?" tanyanya dengan penekanan pada nama sahabatnya itu.
Taemin hanya tertawa dan menjawab, "Oh ayolah, hyung. Dia tak akan nakal, kok. Iya 'kan, Young-ie?" tanyanya sambil mengusap rambut cokelat gadis itu yang hanya mengangguk dengan semangat sehingga kedua kuncirannya mengikuti gerak kepalanya.
"Young-ie bukan anak nakal. Young-ie adalah anak baik," katanya meyakinkan dan menggerutu ketika kakak laki-lakinya malah mencubiti pipi gembilnya. Kris hanya menghela nafas dan akhirnya berkata, "Oke, oke. Aku akan menjaganya," sebelum akhirnya menyodorkan tangannya kea rah Taeyoung yang malah menatapnya dengan alis berkerut.
Kris memutar bola matanya dengan malas dan menggoyang-goyangkan tangannya yang mulai pegal, "Ayo. Atau kutinggal," dengan ancaman itu, Taeyoung langsung mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan besar Kris dengan cepat.
Kris membulatkan matanya kaget ketika merasakan hangat yang diproduksi oleh si gadis kecil ini. Taemin mengecup kening sang adik dengan penuh kasih sayang dan akhirnya pergi kearah berlawanan dengan Kris. Tetapi sebelumnya, ia berbisik kearah Kris. Dengan suara yang sangat lirih.
"Aku mempercayakan Taeyoung kepadamu, Wu Yifan-hyung,"
.
.
.
"KRIS-OPPA!"
Kris mengernyitkan dahinya ketikka mendengar teriakkan memekakan telinga. Tetapi kemudian wajahnya melembut ketika melihat siapa yang memanggilnya.
"Kau membuat telingaku sakit, Young-ah," katanya dan terkekeh ketika gadis yang telah menjadi yeojachingunya itu, Lee Taeyoung, memanyunkan bibirnya imut. Ia melebarkan matanya, "Ya! Jangan tertawa! Tidak ada yang lucu, tahu!"
Kris hanya tersenyum lembut kearah kekasih hatinya itu dan ia mengecup bibir sempurna Taeyoung sekilas sebelum kabur dari teriakkan menggelegar kekasihnya tersebut.
"YA! DASAR MESUM! KEMBALI KAU KESINI!"
.
Kris selalu merasa bahwa hidupnya begitu sempurna. Sempurna karena ia memiliki sebelas saudara laki-laki, yang memang kadang-kadang mengesalkan, namun ia sangat menyayangi mereka. Serta kesembilan wanita yang telah ia anggap seperti kakak perempuan sendiri. Walaupun mereka terkadang membuat Kris ingin melempari mereka dengan batu bata.
Terlebih, ia mempunyai gadis yang amat ia cintai. Lee Taeyoungnya. Hanya miliknya.
Hingga kejadian itu terjadi…
.
.
.
"KRIS-GE! Kumohon, dimana Taemin-oppa?" mata Taeyoung yang biasanya terlihat bercahaya, sekarang terlihat begitu menyedihkan. Kris ingin sekali memberitahu dimana sang sahabat disekap, tapi dia juga tidak tahu. Ia akhirnya hanya memegang bahu Taeyoung erat dan meyakinkannya, "Tidak usah khawatir, Taemin tidak selemah yang kau bayangkan." Dan ia pun memeluk tubuh gemetaran itu.
Namun Kris sama sekali tidak yakin dengan omongannya.
.
.
.
"TAEMIN-OPPA!" seruan Taeyoung yang bercampur dengan isak tangis sama sekali tidak membuat Kris mengalihkan pandangannya dari Taemin.
Taemin yang sedang dikontrol oleh seorang wanita berambut hitam lurus.
Kris menggertakan giginya ketika melihat mata wanita itu seakan meremehkannya. Mata hitam sekelam matanya sudah hilang, digantikan oleh mata bewarna scarlet khas werewolves. Ia berteriak dengan suara lantang, "LEPASKAN TAEMIN, WANITA SIALAN!"
Wanita itu hanya terkekeh, membuat Kris ingin merobek mulutnya dengan kuku tajamnya. "Kau benar-benar tak tahu tata krama, hm, Kris-ssi?" tanyanya dengan nada yang amat meremehkan. Kris menyeringai sinis, "Tidak pernah lihat ke kaca, ya? Kau bahkan lebih rendah dari kami."
Wanita itu langsung berteriak menggelegar, "DIAM KAU, SIALAN!" ia berdeham, berusaha menstabilkan emosinya. Kemudian, ia melirik Taemin yang masih dalam kendalinya. Kris langsung mengerti kemana pikiran wanita itu. Ia menggeram, "Jangan pernah kau coba-coba."
Wanita itu makin melebarkan seringainya, "Serang mereka, Taemin."
Bagaikan boneka, Taemin hanya mengangguk dan mulai melompat. Ingin menyerang Taeyoung. Kris membaca gerakan itu dan langsung berlari mendatangi Taeyoung.
Set
"O-oppa. Hiks. Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Wae? Apa salahku?" hati Kris terasa retak ketika melihat betapa rapuhnya gadis dalam pelukannya sekarang. Ia mengeratkan pelukannya dan mengusap rambut cokelat sepinggang Taeyoung dengan begitu lembut, "Ssh. Uljima, Taeyoung. Ini bukan salahmu. Tenanglah."
BRAK!
Ia menghindar dari ayunan tangan Taemin. Ia menggendong Taeyoung ala bridal style. Ia menggeram dan berseru, "TAEMIN, SADARLAH! KAU TIDAK MUNGKIN MEMBUNUH ADIKMU 'KAN?"
Taemin sama sekali tidak menjawab, ia hanya menatap mereka datar. Wanita itu, Luna, hanya tersenyum meremehkan dan berkata dengan nada yang seperti memberitahu kepada bayi, "Kau tidak akan bisa menyadarkannya, sayangku," Kris bergidik, "Dia hanya patuh padaku. Taemin, serang!"serunya dan ketika itu juga sebuah pedang tiba-tiba berada di tangan Taemin.
Taemin mengarahkan pedang itu kearah Taeyoung yang hanya menatapnya dengan mata kosong dan sama sekali tidak bergerak. Kris hanya mampu berteriak dan membentengi Taeyoung.
Jleb
Dan menyebabkan ia tertusuk di perutnya. Kris langsung mengeluarkan geraman kesakitan hingga tertidur di lantai beraspal tersebut. Kris terbaring dengan begitu tak berdaya. Ia melihat Taemin mengangkat pedangnya lagi. Ingin membunuhnya. Kris hanya menutup matanya. Ia sudah menyerah. Mungkin saja ini yang terbaik untuk dirinya, begitu pikirnya. Sebelum–
CLASH
Suara mengerikan itu membuat Kris membuka matanya lebar-lebar. Dan bola matanya benar-benar seperti ingin keluar ketika ia melihat temannya, sahabatnya, saudaranya, Taemin, memuntahkan darah tepat di wajahnya. Ia melihat sebuah bayangan hitam berbentuk pisau menembus jantung Taemin dengan tepat. Saat ia menengok kearah si pelaku, matanya benar-benar ingin ia lepas.
Disitu, ia melihat kekasih hatinya, cintanya, Taeyoung, membuat bayangan tersebut hingga menusuk jantung Taemin. Taeyoung telah berdiri, dengan begitu gemulai seakan ingin jatuh, di belakang Taemin. Mata Kris melebar ketika bibir merekah Taeyoung yang selalu tersenyum itu membuat sebuah senyuman mengerikan.
Dan ketika Taeyoung mengangkat wajahnya, ia merasa jantungnya copot begitu saja.
Sebuah garis, yang diyakini Kris sebagai air matanya, memenuhi kedua pipi ranumnya. Mata hitam legamnya yang selalu diisi cahaya, sudah hilang entah kemana, menyisakan kegilaan yang mendalam.
"TAEYOUNG!" pekiknya dan menggeram pelan ketika rasa sakit di perutnya menjalar sekali lagi. Ia menatap Taeyoung dengan kesedihan yang begitu nyata. Ia membuang wajahnya dan menatap Luna dengan pandangan yang paling mencela yang dapat ia pasang, "KAU, SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN?!" raungnya.
Luna memberikannya pandangan yang juga mencela, "Aku tidak melakukan apa-apa. Dia yang membunuhnya 'kan?"
Kris ingin membuka mulutnya untuk berbicara. Namun, ia urungkan niatnya itu karena–
"AAAHHHHHHHH!"
–Taeyoung berteriak dan menjambak rambutnya seperti orang gila. Air mata terus saja diproduksi oleh matanya, terus membasahi pipi ranumnya. Teriakkan penuh kesakitan terus saja ia lantunkan.
Sret
Dengan sisa tenanganya, Kris menyeret tubuh sekaratnya kearah Taeyoung dan memeluknya. Air mata lolos dari matanya. Iris scarletnya berubah kembali menjadi hitam legam. Ia hanya mampu berbisik, berusaha keras menahan tangisannya sendiri, "Kumohon, Taeyoung. Kumohon, hentikan ini. Saranghae, Taeyoung-ie."
Lama kelamaan, teriakan histeris Taeyoung berhenti dan digantikan oleh sesengukan yang membuat hati Kris tercabik-cabik.
Luna mengeluarkan tawa menyebalkan dan berkata dengan dingin, "Aku akan pergi. Dan juga jaga baik-baik dia, Kris-ssi. Bisa saja dia hilang 'kan?" Kris sama sekali tidak bisa menahan geramannya,
"DASAR SIALAN! JANGAN MENCOBA KABUR!"
Namun, semuanya terlambat. Karena Luna sudah hilang bagai ditelan bumi.
.
.
.
"Kris!"
Seruan-seruan yang keluar dari mulut 'keluarga'nya, membuat Kris merasa tenang. Dengan tertatih-tatih, sambil membawa Taeyoung dalam tangannya, Kris menyambut sapaan itu dengan lirih, "Aku pul–"
Dan yang terakhir ia ingat adalah wajah-wajah khawatir milik 'keluarga'nya serta suara mereka yang terdengar cemas.
Ia sudah di rumahnya.
.
.
.
Kris berjalan melalui lorong-lorong panjang itu. Wajah Kris datar tanpa ekspresi berarti.
Tep.
Akhirnya, langkah panjangnya berhenti; berhenti di depan sebuah pintu kamar yang terbuat dari kayu jati serta ukir-ukiran yang mempercantik pintu itu. Sejenak, ia berhenti dan tiba-tiba runtuhlah ekspresi datarnya. Gurat-gurat kelelahan menghiasi wajah tampannya itu. Sebagai tambahan, sepasang kantung mata juga terbentuk dibawah kedua matanya.
Ia menghela nafas dengan gusar dan mengangkat tangannya untuk mengacak surai blonde miliknya, yang memang sudah berantakan. Dan akhirnya, dengan satu helaan nafas terakhir, ia membuka pintu kayu itu dengan begitu pelan.
"Taeyoung?" bisiknya. Ia menemukan sesosok gadis duduk meringkuk diatas sebuah kasur. Walaupun kamar itu memiliki pencahayaan remang-remang, namun Kris dapat melihatnya. Dengan perlahan, Kris mendekati Taeyoung. Ia menahan sebuah isakan yang ingin lolos dari bibirnya begitu melihat keadaan Taeyoung.
Begitu mengenaskan.
Mata yang biasanya selalu menatap siapapun dengan bias hangat, berubah menjadi permata yang kehilangan cahaya, kehilangan kehidupan. Wajah yang biasanya selalu tersenyum seakan ia adalah matahari, sekarang kehilangan senyumnya. Kedua belah pipi ranumnya tidak bewarna lagi.
Kris menatap lelah kearah Taeyoung. Sudah dua bulan sejak kejadian itu dan Taeyoung sama sekali tidak berbicara. Kecuali jika berteriak histeris meneriakan nama 'Taemin' termasuk berbicara, maka… yah, begitulah.
Ia meraih tubuh ringkih Taeyoung dalam pelukannya. Membisikan kata-kata penuh kasih kepada gadis tercintanya ini. Tiba-tiba, Kris melonggarkan pelukannya dan meraih wajah Taeyoung untuk menatapnya.
Ia menatapnya dengan lama dan intens sebelum akhirnya menyatukan bibirnya dengan bibir Taeyoung, yang entah mengapa tetap merah merekah.
Selama beberapa detik ia begitu. Tanpa lumatan,tanpa nafsu. Yang ada hanyalah perasaan mencintai yang begitu mendalam.
Setelah melepaskan pagutan bibirnya. Kris, dengan perlahan, membaringkan tubuh Taeyoung dan menyenandungkan lullaby bagi Taeyoung, yang akhirnya menutup matanya dan tertidur dengan begitu nyenyak. Seperti bayi.
Kris mengecup kening Taeyoung lama.
Tes
Setetes air mata jatuh ke pipi Taeyoung. Dan sebelum ia menutup pintu ruangan itu, ia berbisik,
"Saranghae, nae Taeyoung. Thank you and good bye, my love."
.
.
.
"Bagaimana dengan Taeyoung, Yoona-ah?"
Im YoonA, nama gadis itu, hanya menghela nafas pasrah. Ia menggeleng pelan dan berkata dengan suara lirih,
"Aku bisa saja menyembuhkan luka batinnya itu. Tapi," ia memotongnya. Kris hanya terdiam pasrah menunggu lanjutan perkataan Yoona. "Ia akan kehilangan salah satu bagian terpentingnya," Kwon Yuri, seorang wanita dengan kulit tan, melanjutkan, "Yaitu," Yuri menghela nafas, "Perasaan untuk mencintai seseorang."
Dan saat itu juga, Kris merasa bahwa jantungnya berhenti berdetak. Semua orang yang ada disana menatapnya iba. Kris sama sekali tidak merasakan apapun kecuali sakit yang menyesakan di dadanya –ah, tepatnya hatinya yang terasa begitu pedih. Ia menyenderkan tubuhnya di tembok dan meluncur turun. Matanya masih terbelalak lebar.
Tes
Tes
Tes
Dan untuk pertama kalinya, Kris menangis. Air matanya melambangkan ketidakpercayaannya. Ia menatap Yuri dengan nelangsa dan berbisik, tertawa hambar, "N-noona, bercanda 'kan? Oh. Ayolah, candaan noona tidak lucu."
Dan ketika melihat tidak ada yang tertawa, bahkan Jongin dan Sehun berusaha menahan tangisan mereka.
BRAK!
Kris, dengan tenaga kuat, meninju tembok di belakangnya hingga buku-buku tangannya membengkak. Sebelum ia meninju lagi, seorang wanita dengan rambut begelombang bewarna cokelat langsung menghampirinya dan mengelus surai blonde Kris dengan lembut.
"Kau pasti kuat, Kris," Sooyoung, wanita itu, membisikan kata-katta itu dengan begitu lembut.
Oh. Seandainya benar apa yang telah dikatakan Sooyoung tadi.
.
.
.
Tok tok
"Masuk,"
Suara alto namun menenangkan itu membuat Kris membuka pintu kayu itu. Ia masuk kedalam ruangan itu dan tersenyum melihat seorang gadis yang sedang duduk menghadapi bulan. Pancaran bulan itu membuat kulit putihnya terbias dengan indah.
"Taeyoung," panggilnya perlahan. Gadis itu menoleh dan Kris berusaha menahan tangisannya ketika melihat mata hitam Taeyoung yang telah kehilangan pancaran cintanya kepada Kris. Ia berusaha untuk mempertahankan senyum di wajahnya.
Senyuman indah terbentuk di wajah cantiknya, "Oppa!" panggilnya ceria dengan mata menyipit seperti bulan sabit. Kris tersenyum dan mendekati Taeyoung. Setelah mendudukan dirinya di samping kasur Taeyoung, ia bertanya dengan nada yang –diusahakan– ceria, "Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja, kok," jawabnya dengan ceria. Namun, tiba-tiba wajahnya digantikan oleh ekspresi keruh yang membuat Kris ingin menghapusnya.
"Mianhae," katanya tiba-tiba hingga Kris bertanya dengan ekspresi bingung dan takut, "Kenapa kau meminta maaf, Young -ie?"
Air mata terlihat menggenang di sudut matanya. Kris langsung mengusapnya dan menangkup wajah mungilnya dengan tangan besar nan hangatnya. Taeyoung menyandarkan pipinya dan memegang tangan besar Kris, "Yoona-eonnie, sudah memberitahuku. Tentang perasaanku yang hilang, oppa."
Tubuh Kris menegang dan Taeyoung merasakannya. Kris memejamkan matanya dan mengeluarkan air mata yang ia tahan sedari tadi. Mengambil nafas dan akhirnya tersenyum tegar, "Kau tahu, Taeyoung-ie? Walaupun kau kehilangan cintamu padaku, aku akan tetap menyimpannya disini," ia menunjukan hatinya.
Taeyoung tersenyum dan mencondongkan tangannya, mengusap air mata yang jatuh di pipi Kris, "Aku percaya itu, Yifan-oppa. Aku percaya."
Kris menangkup wajah Taeyoung dan menempelkan dahinya, "Bolehkah? Ini yang terakhir," dan dengan anggukan dari Taeyoung, Kris menempelkan bibirnya dengan bibir Taeyoung. Tanpa lumatan, tanpa nafsu, hanya kelembutan.
Setelah melepaskan pagutan mereka, mereka menempelkan hidung mereka dan memejamkan mata sambil mengaitkan tangan masing-masing. Taeyoung yang membuka pembicaraan, "Kuharap kau menemukan seseorang yang bisa mencintaimu lebih besar, oppa."
"Ya," kata Kris dengan senyuman menghiasi wajahnya yang basah oleh air matanya, "Wo ai ni, Lee Taeyoung. Xie xie,"
"Wo ye ai ni, Wu Yifan. Dui bu qi."
Kris berdiri dan berjalan kearah pintu setelah memberikan Taeyoung kecupan di dahi.
Cklek
"Sayonara, Kris-oppa,"
"Goodbye,my dear Taeyoung,"
[FLASHBACK : OFF]
Kris tersentak dari lamunannya ketika melihat sepasang onyx indah menatapnya dengan kalut serta khawatir. Kris mengerjapkan matanya dan mencoba membuka mulutnya sampai teriakan Taeyoung menginterupsinya.
"OPPA, DIBELAKANGMU!"
Syut
Pisau itu melayang dengan begitu dekat hingga melukai sedikit pipi Kris. Taeyoung menatap Luna, yang sedang tersenyum menyebalkan, dengan garang. Luna berpura-pura takut, "Oh. Aku takut sekali dengan tatapan itu."
Taeyoung menatapnya bengis dan seketika permata onyxnya berubah menjadi keunguan. Sekelebat bayangan terbentuk dan menyerang Luna yang lengah. Alhasil, Luna sekarang dikekang oleh bayangan Taeyoung. Taeyoung menyeringai, "Gotcha."
Luna membelalakan matanya, terkejut. Ia memberontak dengan begitu kasar. Namun, bukannya melonggar, bayangan itu malah makin memperketat belitannya. Taeyoung tersenyum manis dibuat-buat, membuat Luna meludah di wajahnya, "Wah, wah, kau tidak mau diam ya, Luna-ssi?"
Luna menggeram marah dan tiba-tiba ia menyeringai, "Kau tahu, kalau aku jadi kau. Aku tidak bakal mengambil langkah ceroboh begini," Taeyoung dan Kris langsung siaga ketika dua buah smoke bomb dilemparkan oleh Krystal yang sudah babak belur.
Refleks, Taeyoung membuat barrier yang terbuat dari bayangan itu dan melindungi semuanya. Dan ketika asap itu menghilang, tidak terlihat adanya ketiga gadis tadi.
"Tch. Mereka kabur."
.
.
.
Sehun benar-benar tak habis pikir. Yah, dia memang tidak dapat berpikir karena kejadian ini. Sama sekali tidak bisa. Ia memilih diam dan melihat kelima gadis di depannya yang berusaha membangunkan Kyungsoo yang pingsan.
Dan untunglah, sebelum mereka bertindak lebih jauh, Hyoyeon, Tiffany serta Sooyoung langsung menghampiri mereka. Tiffany langsung mengambil alih Kyungsoo dari pangkuan Yixing dan Hyoyeon menjauhkan Yixing serta membantunya berdiri.
Sooyoung mendekati Tiffany dan bertanya dengan nada was-was, "Dia tidak apa-apa 'kan, Fany?" Tiffany memberikan eyesmilenya setelah ia selesai memeriksa denyut nadi Kyungsoo, "Tidak apa-apa kok. Dia hanya shock sedikit."
Kelima gadis itu hanya menghela nafas lega. Tiba-tiba, Luhan membuka mulutnya dan menanyakan hal yang membuat mereka terdiam,
"Sebenarnya, kalian siapa sih?"
.
.
.
"Silahkan duduk,"
Saat ini, kelima gadis itu sedang berada di ruang tamu sebuah mansion yang megah. Seorang wanita mirip barbie dengan rambut blonde keluar dari ruangan yang dapat disebut dapur bintang lima dengan membawa sebuah trolley yang diatasnya terdapat beberapa cangkir teh imut dengan teko yang sama imutnya.
Ketika teh dituangkan ke cangkir-cangkir itu, terciumlah harum Darjeeling tea yang dapat membuat mabuk bukan kepayang. Teh-teh itu diseduhkan dengan berbagai warna macaroons yang membuat Xiumin ingin mencomotnya.
Kyungsoo berada di satu kamar untuk beristirahat ditemani dengan Jongin, yang memaksa Tiffany untuk memperbolehkannya. Coba dia minta dengan Taeyeon, bisa-bisa rambutnya dicabuti. Mengingat Taeyeon yang menjunjung tinggi emansipasi wanita.
Sooyoung menatap kelima gadis didepannya itu dengan mata tajam namun lembut secara bersamaan. Ia menghela nafas dan tersenyum lembut bagai malaikat ketika melihat bahu-bahu mungil para gadis itu mengangkat tegang. Ia melirik Taeyoung, yang hanya mengendikkan bahunya dan memilih menyeruput teh darjeeling-nya. Ia menatap Taeyoung lama dengan tatapan yang ia buat sememelas mungkin. Hingga akhirnya…
"Okay okay. Aku akan membuka mulutku," gumamnya dan Sooyoung hanya menunjukan ringisan yang masih membuatnya cantik. "Jadi," katanya menatap Luhan, "Pertanyaanmu mungkin seharusnya dijawab oleh Kris-oppa," lanjutnya dan menimpakan pertanyaan itu kepada Kris, yang berdiri disebelahnya.
Kris menatap Taeyoung dengan tajam dan akhirnya menghela nafas pasrah ketika melihat Taeyoung menyeruput tehnya tanpa bersalah.
"Baiklah," mulai Kris. Kelima gadis itu beralih menatap Kris dengan tatapan penasaran. Kris meringis melihatnya, apalagi ketika mata kucing Tao, yang berisi kepolosan mendalam itu, menatapnya dengan penasaran, "Kami," katanya menunjuk dirinya, Sehun, Jongdae, Joonmyeon, dan Chanyeol, "adalah werewolves," katanya kalem, "Oh. Dan Jongin juga."
Hening.
Selama beberapa saat, di ruangan itu benar-benar sepi. Sooyoung hanya menepuk dahinya ketika mendengar perkataan Kris yang singkat dan padat. Taeyoung sama sekali tidak peduli. Dia tetap saja meminum tehnya dengan khidmat.
1 menit…
2 menit…
3 men–
"HAH?" be'o Luhan, Tao, dan Baekhyun dengan wajah bodoh mereka. Sooyoung menghela nafas, tahu bahwa ini pasti akan terjadi. Xiumin dan Yixing menatap ketiga sahabat mereka dengan geleng-geleng. Dasar lemot, pikir mereka mengasihani Kris.
Kris speechless.
"Kalian benar-benar tidak mengerti, ya?" tanya Taeyoung dibalik cangkir tehnya dan mengangkat alisnya. Sontak, ketiga gadis itu menggeleng dengan imut, membuat kunciran mereka mengikuti gerakan mereka.
Akhirnya, Jongdae mengambil inisiatif untuk menjelaskannya kepada mereka, "Kami," ucapnya dan menunjuk kepada dirinya dan yang lainnya, "Adalah werewolves. Artinya, manusia setengah serigala," katanya seperti menjelaskan kepada anak kecil.
Ketiga gadis itu akhirnya (dan untungnya) mengangguk dan ber-koor, "Ooohh." Sooyoung menoleh kearah mereka, "Mengerti?" dan dijawab dengan anggukan antusias ketiga gadis imut itu.
Yixing dan Xiumin menghela nafas lega. Yixing akhirnya bertanya lagi, "Jadi, mengapa kami harus berada disini?" Sooyoung mengambil alih pertanyaan itu dan menjawab, "Karena banyak bahaya yang akan mengintai kalian. Jadi, kukira kalian akan aman disini. Dan kedua, kalian adalah mates daripada keenam werewolves ini."
Keempat gadis itu membulatkan mata mereka, kaget, kecuali satu orang. Tao.
"Hah? Apa lagi 'mates' itu?" tanyanya dan memicingkan mata kucingnya dengan polos. Sooyoung tersenyum sabar dan menjelaskan, "Mates adalah pasangan para werewolves ketika mereka sudah mengalami masa heat." Ketiga gadis beserta dengan kelima pemuda dalam ruangan itu sontak memerah ketika Sooyoung mengatakan 'heat'. Kecuali dua orang, Tao dan Luhan.
Dengan polos, Luhan bertanya dengan wajah imut, "Apa sih maksud kalian? Aku gak ngerti tentang 'heat'," katanya dibarengi dengan anggukan antusias Tao. Baekhyun akhirnya berseru kepada mereka dengan suara soprano melengkingnya frustasi, "Oh my God, Lulu, Taotao, kalian bahkan menonton Twilight selama ribuan kali. Dan kalian masih tidak tahu tentang heat?"
Jawaban yang didapat Baekhyun membuatnya naik darah. Hingga akhirnya Xiumin menahannya agar tidak mengacak-ngacak rambut keemasan Luhan. Sooyoung terkekeh dan akhirnya menjawab, "Baiklah, tentang itu kalian boleh bertanya kepada mate kalian masing-masing," dan ketika Sooyoung mendapatkan tatapan tidak terima dari beberapa mate, ia tersenyum manis hingga membuat mereka bergidik dan terdiam.
Sooyoung yang tersenyum manis merupakan tanda bahaya.
"Dan juga, kenapa kami harus disini?" tanya Luhan mengernyitkan dahinya. Sooyoung menjawab, "Karena disini, kami bisa melindungi kalian. Dan untuk urusan orang tua kalian," Sooyoung tersenyum, "Lihat saja handphone kalian."
Kelima gadis itu langsung mengeluarkan telepon selular mereka, tepat saat telepon-telepon itu bergetar tanda sms masuk.
"HUWEE~ MOMMY TEGA BANGET SAMA AKU!"
"Mom, awas nanti kau di rumah."
"Dasar aneh."
"Ih, Mama aneh. Masa pakai emoticon banyak banget."
"Kalian lebay, ick."
"Diam kau, Minseok!"
.
.
.
"Aku ingin beri satu pertanyaan," Yixing melanjutkan, "Bagaimana kalian tahu kami mates kalian?"
"Kau mau menjawab, Joonmyeon-ssi?" Sooyoung mempersilahkan Joonmyeon untuk menjawab. Joonmyeon mengangguk dan mengeluarkan senyuman angelic yang membuat Yixing terpana sebelum menjawab, "Kalian mempunyai tanda yang sama dengan kami. Tetapi, tanda itu berbeda-beda setiap tempatnya serta bentuknya, sesuai dengan mate masing-masing."
"Oh! Baekhyun ada!" seru Xiumin heboh ketika melihat sebuah tanda bergambar phoenix di tengkuk Baekhyun. Luhan juga berseru ketika melihat sebuah tanda bergambar tetesan air di punggung tangan Yixing yang halus, "Aku juga ketemu di punggung tangan Yixing!"
"Xiuxiu-jie juga ada. Tuh, di betis," tunjuk Tao pada tanda bergambar scorpion di betis Xiumin. Yixingg tersenyum dan dengan polos berkata, "Kalian doang yang tidak ada." Sooyoung langsung menyela perkataan Yixing ketika kedua gadis itu, Tao dan Luhan, menekuk bibirnya sedih, "Eh. Kalau kalian tidak ada berarti tandanya ada di bagian yang, err… privat."
"Ayo kita cari, jie!" seru Tao bersemangat dan langsung menarik tangan Luhan ke kamar mandi, meninggalkan Kris dan Sehun yang memerah serta yang lainnya yang hanya terdiam melihat keajaiban dan kepolosan keduanya.
Mereka sampai tidak menyadari bahwa ada sosok orang yang memperhatikan mereka sedari tadi.
TBC~!
Area Bacotan Aneh :
/lirik tulisan diatas/ saya gatau saya nulis apaan di chapter ini. Beneran, suer.
Anyway, saya juga minta maaf karena saya ga pernah bales review siapapun. Hikseu. Maaf sekali. Tapi, tenang aja, saya selalu membaca review kalian semua. Dan saya bener-bener terharu /ngelap ingus/. Makasih semua yang sudah mendorong saya untuk meneruskan fict ini.
Seperti biasa, awas ada typo karena saya males ngeliat satu-satu kata. huehehehehe /ketawa nista/.
Dan ini, bener-bener chapter terpanjang yang pernah saya bikin sampe saya bingung gimana cara nulisnya /hela nafas/. Saya minta maaf kalo ada sedikit KrisOC. Hehe.
Disini, saya juga menuliskan tentang masa lalu Kris dan Taeyoung. Dan sedikit Taemin (SHINee) yang menjadi kakak Taeyoung. Di chapter mendatang, saya akan menuliskan masa lalu para werewolves dengan sedikit bumbu-bumbu konflik.
Dan terakhir, silahkan lihat preview chapter 7!
"A-aku dimana?"
"Kyungsoo!"
.
.
.
"Apa maksud ini semua, hah?!"
.
.
.
"Ada aku disini, tenang saja,"
"K-kau akan terus berada disisiku 'kan?"
.
.
.
"KYAAA~!"
.
.
.
MAAF KALO DIKIT, HEHE.
PLIS REVIEW!
