WOLVES
Rate : T
© Haruno Kagura
Pair(s) : all EXO official couples
Summary : Enam yeoja manis merupakan siswi dari Cheonam-Dong High School yang terkenal akan kecantikan mereka. Tiba-tiba, salah satu dari mereka menabrak salah seorang dari enam namja tampan. Apalagi yang akan datang setelahnya?
Warning : Highschool!AU. Uke!GS.
Disclaimer : EXO itu dipunyai oleh ortu mereka, Tuhan Yang Maha Esa, manajemem, agensi, serta para fans.
Chapter 7 :
"Kalian mengerti?" tanya sosok pria itu kepada ketiga gadis yang sedang bersujud di depannya itu. Ia kemudian melanjutkan dengan penekanan pada setiap suku katanya, "Jangan. Pernah. Kalian. Tidak. Berhasil. Lagi?"
Ketiga gadis itu langsung mengangguk dalam ketakutan yang amat sangat dan berkata, dengan suara sedikit bergetar, "Baik." Sang pria terlihat puas dengan jawaban ketiga gadis itu sehingga akhirnya ia berkata dengan suara yang dalam dan menakutkan, "Bubar."
Dan ketika ia memunggungi mereka, ketiga gadis itu pergi bagai angin.
.
.
.
"Sudah menemukannya, Tao, Luhan?" tanya Xiumin, mengangkat alisnya, ketika melihat kedua gadis itu kembali dari toilet dengan Tao yang berwajah ceria dan riang sedangkan Luhan terlihat kecapaian.
"Sudah!" seru Tao ceria dan mendudukan bokongnya pada sisi kiri Xiumin. Sedangkan Luhan hanya mendudukan dirinya di sisi Yixing dan menyenderkan kepalanya ke bahu mungil Baekhyun, yang hanya mengangkat alisnya melihat Luhan.
"Kau kenapa sih, Lulu-ie?" Yixing yang penasaran akhirnya bertanya dengan mata bersinar khawatir. Luhan mengambil nafas dan menjawab dengan lesu, "Ngantuk."
Doeng!
Perempatan langsung terbuat di dahi Xiumin ketika mendengar alasan yang dilontarkan Luhan sedangkan Yixing hanya tersenyum maklum karena Luhan memang mempunyai predikat 'Sleeping Beauty'; karena kebiasaannya tidur kapan saja dan dimana saja.
"Kau tahu, Lulu? Kadang aku tak tahu kau itu manusia atau bukan," gumam Baekhyun ketika Luhan mulai menutup matanya dan mengirim jiwanya ke dreamland miliknya.
Sooyoung hanya tersenyum dan mulai membuka pembicaraan lagi, "Jadi, ada yang ingin kalian tanyakan lagi?" Baekhyun membuka mulut untuk bertanya, setelah memastikan Luhan nyaman di bahu mungilnya, "Soo-seonsaeng siapanya mereka?"
"Ak–"
Jawaban untuk pertanyaan Baekhyun tak pernah dapat disambung karena pada saat itu juga Jongin berlari kearah ruang tamu dan member kabar gembira untuk mereka;
"Kyungsoo-noona sudah bangun!"
.
.
.
"Ungh~"
Lenguhan yang keluar dari bibir Kyungsoo membuat sahabat-sahabatnya memandangnya dengan khawatir. Mata lebarnya terbuka sedikit demi sedikit dan menyesuaikan diri dengan cahaya di sekitarnya.
"A-aku dimana?" tanyanya dengan suara lemah. Seketika, tubuh mungilnya dibanjiri oleh pelukan dari para sahabatnya.
"KYUNGSOO!"
.
.
.
Setelah Kyungsoo siuman, ia ditinggal sendiri untuk mengistirahatkan tubuhnya yang masih lemah oleh karena shock tadi.
Yah, secara teknis, ia tidak sendiri.
Malah.
Ditemani oleh Jongin.
"Semangat," Jongin ingat sekali kalau Sooyoung berbisik begitu kepadanya. Dan Jongin benar-benar ingin mengutuk Sooyoung karenanya. Dia sama sekali tidak tahu menahu cara 'memulai pembicaraann' seperti yang dibisikkan Taeyoung. Apalagi sekarang Kyungsoo memunggungi dirinya.
Sama seperti Jongin, Kyungsoo juga dilanda kebingungan yang sama. Hell, ia hampir mati karena werewolf yang tengah menjaganya saat ini.
"Um, Noona?" akhirnya, Jongin berhasil juga membuka pembicaraan dengan Kyungsoo. Merasa dipanggil, Kyungsoo menyahut namun tetap memunggungi Jongin, "Y-ya?"
"Um, mianhae," katanya dengan suara yang agak bergetar. Jongin merutuk dalam hatinya sekaligus menghela nafas lega karena tidak ada si pemuda albino. Kalau ada, habislah ia diejek. Jongin kemudian menunduk dan melanjutkan, "K-karena aku, Noona–"
Perkataan Jongin terputus ketika ia mendengar suara derit tempat tidur. Ia mendongak dan bertemu pandang dengan sepasang mata hitam, bulat, dan bening milik Kyungsoo yang menatapnya polos.
Kyungsoo menatapnya lama; yang mengakibatkan Jongin merasakan pipinya memanas. Namun, thanks to warna kulitnya –lagi, ia selamat.
"Kau tahu," kata Kyungsoo, memulai kalimatnya, "Kurasa ini bukan salahmu aku hampir… yah, pokoknya empat huruf itu. Ini karena fangirls gilamu itu," katanya ceria dengan sebuah senyuman lembut yang terbentuk di bibir tebalnya dan sebuah tarikan lembut yang membuat matanya menjadi seindah bulan sabit; membuat jantung Jongin berdebar keras.
"Sayangnya, Noona," kata Jongin ketika ia akhirnya dapat mengendalikan debaran jantungnya, "Mereka sama sekali bukan fangirls-ku."
Kyungsoo menatapnya dengan pandangan bingung. "Terus?" tanyanya dengan wajah bingung sekaligus imut.
"Mereka," Jongin menghela nafas, "sama sepertiku."
.
.
.
"Kau kira bagaimana perkembangan Jongin?"
Sooyoung mengangkat alisnya dan meletakkan cangkir tehnya yang terdapat lukisan bunga-bunga yang warnanya cerah dan imut.
"Kau pikir?" Sooyoung balik bertanya dan mengambil salah satu macaroon dengan warna merah mawar. Ia mengerang ketika macaroon itu digigit. Sensasi ketika lelehan strawberry yang manis sekaligus asam terasa meledak-ledak di lidahnya.
"Kupikir? Hm, entahlah," Taeyoung, yang bertanya dan ditanya, hanya mengangkat bahunya ringan dan menyesap teh earl grey-nya nikmat. Sooyoung mengernyit dan bergumam; cukup keras untuk didengar Taeyoung, "Dasar tea addict."
Taeyoung mendelik kearahnya dan meletakkan cangkir tehnya ke coffee table didepannya dan mengambil salah satu macaroon bewarna cokelat. Ia melahap macaroon itu dalam satu gigitan besar dan mendesah keenakan ketika lelehan cokelat manis sekaligus pahit menyerang lidahnya yang malang.
"Duh," erangnya keenakan, "Hyo-eonnie, harus selalu membuat kue di rumah. Harus."
"Ogah, Taetae," tiba-tiba terdengar suara Hyoyeon yang sarat akan ancaman. Namun, tiba-tiba ia menutup mulutnya dengan panik. Sooyoung mendelik tak suka kearahnya sebelum menatap Taeyoung iba.
Mata cokelat Taeyoung yang tadinya berbinar cerah dan ceria, berubah drastis menjadi kosong. Ia menerawang jauh.
Hyoyeon berbisik panik kepada Sooyoung, "Bagaimana ini?"
"Cari Kris."
.
.
.
Luhan menatap langit-langit kamar yang ia tempati dengan tatapan menerawang.
Tepatnya, kamarnya dengan Sehun.
Suara shower yang mengucurkan air dari dalam kamar mandi mengisi suara pada kamar yang sepi itu.
Rambut burgundy Luhan yang basah dibiarkannya tergerai memenuhi bantal; tidak peduli dengan basahnya sprei tempat tidur berukuran king size itu. Lumayanlah, tidak ada Mama-nya, Yixing ataupun Xiumin yang akan mengocehinya tentang 'rambutmu-bisa-bau'.
Grek
Suara pintu kamar mandi yang digeser sama sekali tidak membuat Luhan mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamar yang dicat putih polos.
Sehun keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk menutupi tubuh bagian bawahnya yang privat dan memperlihatkan tubuhnya yang terbentuk dengan tidak terlalu berlebihan.
Ia mengeringkan rambut perak miliknya yang mengeluarkan harum mint menyenangkan dengan sebuah handuk bersih dan menatap Luhan yang memakai celana pendek dan kemeja kebesaran milik Sehun; karena ia tidak mempunyai pakaian yang pas untuk dijadikan piama.
Miliknya
Kata-kata itu terulang-ulang di benak Sehun dan ia langsung menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat; berharap pikiran busuk yang membuat perutnya bergejolak lapar dengan makanan yang ada didepannya itu hilang. Ia langsung berjalan kearah lemari pakaiannya dengan pelan agar tidak mengganggu acara 'tatap-langit-langit-kamar' Luhan. Ia memutuskan bahwa memakai kaus putih oblong bewarna putih dengan bawahan celana katun bermotif adalah pilihan tepat untuk dijadikan piama.
Ia melangkah ke tempat tidurnya setelah menghela nafas panjang dan mengangkat alisnya ketika melihat rambut basah Luhan membasahi sprei tempat tidurnya.
"Rambutmu tidak dikeringkan?" Luhan menatap Sehun sebelum beranjak duduk dan mengambil sehelai rambut burgundy basahnya, "Malas."
Sehun menghela nafas. Ia mengambil handuk yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya dan duduk di tepi tempat tidur dengan kaki mengangkang. Luhan menatap Sehun aneh ketika Sehun menepuk-nepuk tempat diantara kedua kakinya.
"Apa?" tanyanya dan membuat Sehun menghela nafas lagi sebelum menjawab, "Sini. Kukeringkan."
Luhan menatapnya sebentar namun menurutinya. Ia kemudian berdiri dan berjalan kearah Sehun. Setelah sampai, ia pun meluruhkan tubuhnya untuk duduk di lantai dan membelakangi Sehun. Ia menaruh kepalanya diantara kaki-kaki panjang Sehun.
Sehun menatap gadis rusa itu sebentar dan akhirnya mengambil rambut Luhan dan mengeringkannya. Luhan hanya dapat menyesap harumnya mint yang menyerang hidung mungilnya. Tapi, untunglah harum mint itu menyenangkan sekaligus menenangkan dirinya; bagi Luhan.
"Kau," tiba-tiba Luhan bersuara sambil memintir helai burgundy-nya yang sudah setengah kering, "Sudah berapa lama menjadi werewolf?"
Sehun terkekeh dan berusaha memusatkan perhatiannya ke pertanyaan Luhan. Berusaha mengabaikan harumnya mawar polos yang menguar dari rambut Luhan; salahkan Taeyoung yang telah meminjamkan shampoo-nya.
"Aku juga tidak tahu," jawabnya dan membuat Luhan melirik pedas kearahnya; yang mana membuatnya seperti Chihuahua yang imut namun galak.
"Kau 'kan werewolf. Kenapa kau tidak tahu?" tanya Luhan lagi; menggertak. Sehun terkekeh sekali lagi sebelum menjawab, "Aku bahkan tidak tahu kapan aku dilahirkan."
"Oh," respon Luhan, "Kau tidak membuat lelucon 'kan? Asal kau tahu, ini tidak lucu," dengusnya. Sehun mengangkat alisnya dan tertawa tertahan sebelum menggumamkan 'selesai' pada Luhan.
"Jadi?" tanya Luhan, menuntut. Ia sekarang menatap mata platina Sehun dengan mata rusa besar nan polosnya. Sehun memberikan senyuman lembut yang membuat jantung Luhan berdegup dengan kerasnya; seakan ingin keluar dari rongga dadanya yang mengurung.
Sehun mengambil sehelai rambut burgundy milik Luhan dan mencium harum mawar yang menguar dari helai burgundy tersebut. Ia memejamkan matanya seakan harum mawar itulah yang menjadi oksigennya. Luhan hanya dapat menahan nafasnya ketika melihat wajah tampan Sehun yang begitu dekat dengan wajahnya. Tanpa ia sadari, tangannya terjulur dan mulai mengelus sisi wajah Sehun yang sehalus pantat bayi.
Sehun membuka matanya dan bertemu pandang dengan mata caramel Luhan yang polos. Mereka bertatapan lama dan akhirnya, Sehun melingkari pinggang Luhan dengan tangan kekarnya. Ia menarik Luhan dan membuatnya berdiri di hadapan Sehun. Ia menarik pergelangan tangan Luhan hingga hidung mereka bersentuhan.
Sehun berbisik dengan suara berat; yang membuat Luhan merinding, "J'etaime."
Dan setelahnya, ia membimbing Luhan dalam ciuman yang mendebarkan dan dalam.
.
.
.
"Aku masih tidak bisa berpikir kalau kalian bisa tidur didalam kamar ini. Berenam."
Kris menengok kearah Tao yang sedang melihat-lihat kamarnya dengan pandangan curiga dan heran.
Yah, bukan kamarnya sih.
Kamar mereka.
"Memang kenapa?" tanya Kris dengan nada datar dan mata setajam elang. Tao menoleh dan menatap Kris dan menjawab dengan santai, "Yah. Aneh saja. Kalian 'kan laki-laki dan laki-laki biasanya tidur berantakan 'kan?" tanyanya tanpa menyadari bahwa ia juga begitu.
"Kau pikir kau tidak begitu?" tanya Kris balas mengejek. Tao melayangkan pandangan tajam yang malah membuatnya seperti bayi panda yang makanannya direbut. Kris hampir saja terkekeh namun ia tahan. Tao hanya membuang wajahnya dengan imut dan mulai merepet tentang apa saja yang dapat ia ocehi.
Brak!
Kris dan Tao langsung melongok kearah datangnya suara dan terkaget ketika melihat Hyoyeon yang seperti habis lari marathon. Hyoyeon mengambil nafasnya dan langsung melayangkan pandangan panik kearah Kris, "Kris."
"Ada apa?" tanya Kris; ikut panik. Dan ketika ia mendengar nama 'Taeyoung', ia langsung melesat dengan kecepatan mengagumkan.
Tanpa menyadari sepasang onyx menatapnya dengan pandangan terluka.
.
.
.
"Soo-ie,"
Mendengar suara soprano lembut, Sooyoung menoleh dari kegiatan Kris untuk menenangkan Taeyoung, dan mendapati Taeyeon menatap kearahnya dengan dahi berkerut. Sooyoung dapat merasakan kecemasan Taeyeon. Ia mendapati Taeyeon menatap ke belakang punggungnya dan akhirnya, dengan dahi berkerut, Sooyoung menoleh dan mendapati apa yang membuat Taeyeon merasa cemas; Tao yang menatap Kris dan Taeyoung dengan tatapan terluka dan langsung berlari dengan meremas tempat dimana hatinya merasakan kedutan menyakitkan.
"Tae-eonnie," panggil Sooyoung pelan hingga Taeyeon mendongak dan bertemu pandangan teduh mata kecoklatan Sooyoung, "Jagalah mereka dan biarkan aku yang menyelesaikan masalah dengan Tao, oke?"
Dan sebelum Taeyeon membuka mulutnya, Sooyoung langsung melesat dan hanya meninggalkan desahan yang terhembus dari bibir Taeyeon.
"Kau selalu saja begitu, Soo-ah. Memikirkan orang lain terlebih dahulu tanpa memikirkan dirimu sendiri."
.
.
.
Tao memandang langit malam yang bertabur bintang dengan mata onyx-nya yang berkaca-kaca. Lelah, ia pun menguburkan wajahnya diantara kedua lututnya yang telah ia lipat dekat dadanya. Ia hanya mampu menumpahkan segala keluh kesahnya dalam bentuk tangisan diam yang begitu menyakitkan dadanya.
Tangan besar Kris yang memeluk tubuh mungil Taeyoung yang gemetar…
Tangan kekar Kris yang melingkari pinggang ramping Taeyoung…
Tao langsung menggelengkan kepalanya cepat ketika pikiran-pikiran yang egois melintasi kepalanya dan sama sekali tidak menyadari kalau seseorang sedang berada di belakangnya.
"Zitao-ah?" mendengar suara alto lembut itu, Tao langsung mengusap air matanya asal-asalan dan menengok, menjawab dengan suara yang (sangat diusahakan) ceria dan antusias, "Seonsaeng!"
Sooyoung meringis; mendengar panggilan itu menjadikan ia berasa menjadi berumur tiga puluhan, "Panggil saja eonnie atau jiejie," katanya mengangkat bahu sebelum akhirnya duduk disamping Tao dengan kaki menyilang. Tao hanya melipat kakinya dan memilih untuk menaruh dagunya diatas kedua lututnya itu sembari menatap kerlap kerlip lampu yang terlihat dari kejauhan.
"Kau tahu, Tao-ya," mulai Sooyoung dengan kelembutan ibu didalamnya; ia mendongakan kepalanya dan menatap bintang-bintang yang memancarkan cahayanya di langit. Membiarkan angin membelai rambut cokelat ikalnya, ia melanjutkan, "Semua orang mempunyai rasa di hatinya dan yang paling sering dirasakan oleh manusia adalah dua, cinta dan terluka."
Tao langsung memandang Sooyoung dalam diam; meminta wanita itu melanjutkan. Sooyoung tersenyum lembut sebelum akhirnya menatap Tao, "Kau cemburu? Melihat Kris dan Taeyoung?" katanya to the point dan hampir membuat Tao tergelincir oleh genteng-genteng, yang memang licin, yang sedang mereka duduki.
Sooyoung terkekeh ringan sebelum melanjutkan, "Well, salahku juga sih. Tidak memberi tahumu," ringisnya pelan, "Kau tahu? Sebenarnya, Taeyoung sudah kehilangan salah satu dari kedua perasaan itu," Sooyoung meggigiti bibirnya pelan; bertanya pada dirinya apakah ia akan membeberkan rahasia Kris tapi akhirnya ia membulatkan tekadnya. Ia mengambil nafasnya sebentar dan dengan keberanian yang ia ambil begitu saja, ia menatap Tao,
"Yaitu… perasaan cintanya kepada Kris."
.
.
.
"Kris benar-benar terpukul saat itu dan Taeyoung terlalu terpukul karena kematian kakaknya itu," Sooyoung menghela nafas berat, "Kris bahkan mencoba untuk bunuh diri."
Tao terkesiap mendengarnya.
"Tapi untungnya, mereka akhirnya bisa mengatasi itu dan sampai sekarang Taeyoung tidak bisa merasakan cinta dari siapapun. Karena Kris sudah tidak tahu bagaimana caranya lagi, akhirnya mereka memutuskan hubungan mereka sebagai mate satu sama lain."
Perkataan Sooyoung beberapa waktu lalu benar-benar menohok dirinya. Ia benar-benar merasa egois karena lebih mementingkan dirinya sendiri dan sekarang ia membenci dirinya; membenci dirinya karena begitu mudahnya ia cemburu padahal ada orang yang lebih parah dari dirinya.
Lebih membutuhkan cinta daripada dirinya.
Ia benar-benar tidak bisa berpikir jika itu benar-benar terjadi pada Taeyoung. Karena, tadi siang bahkan ia masih tertawa-tawa bersama werewolves lainnya dan itu termasuk Kris. Tetapi sebenarnya, jika dia lihat-lihat lebih jeli sedikit ada beberapa perasaan sedih yang terlihat di mata hitam Kris ketika ia melihat Taeyoung.
Tao benar-benar merasa seperti orang ter-idiot yang pernah ada; bahkan lebih dari Mr. Bean.
Tao hanya menutup matanya dengan sebelah tangan dan mulai menidurkan dirinya di hamparan bedcover putih; membiarkan rambut merahnya berhamburan. Dan dengan angin sepoi-sepoi yang bertiup melalui jendela yang terbuka sedikit, ia tertidur.
Tertidur untuk melarikan diri dari dirinya sendiri. Dan sama sekali tidak menyadari seekor serigala berdiri tidak jauh dari kamarnya dan melolong dalam kesenangan.
"AWOOOOOOO!"
.
.
.
Kris melepaskan pelukannya dari tubuh mungil Taeyoung yang telah berhenti gemetaran dan digantikan dengan dengkur nafas halus sang gadis. Ia hanya menghela nafas lega dan mulai meregangkan tubuhnya yang kaku bagai serigala.
Menenangkan Taeyoung bukanlah hal mudah, itu menurut Kris. Karena Taeyoung selalu saja membayangkan apa saja untuk dijadikannya mimpi buruk. Misalnya saja, Taemin yang memang seharusnya sudah terkubur di masa lalu. Namun, namanya juga saudara kandung (apalagi mereka dekat sekali), pasti akan kepikiran terus.
Ia menatap Taeyoung dengan pandangan penuh kasih sayang; namun tidak seperti dahulu lagi, ini hanya sebagai seorang kakak. Karena hatinya sekarang telah dicuri oleh seorang gadis dengan mata panda imut dan berambut merah bergelombang sepunggung. Ia sempat menatap Taeyoung dengan tatapan lembut dan berhenti tepat di dada sang gadis. Ia mendekati Taeyoung dan dengan perlahan dan mulai meletakan tangannya diatas tangan Taeyoung; yang diletakkan di atas dadanya.
Kris memejamkan mata. Disinilah dulu tanda naga yang sama dengannya itu muncul, pertama kali, saat Taeyoung menjadi miliknya.
Dan dengan tatapan lembut terakhir untuk Taeyoung, ia mencium kening sang gadis dan keluar dari kamar itu dengan pelan.
.
Kriett
Setelah menutup pintu dengan pelan, Kris langsung membuat kedua kaki panjang miliknya bergerak kearah kamarnya dan Tao. Sambil berjalan, ia memijit batang hidungnya dengan wajah agak frustasi dan memejamkan matanya. Namun, ia dengan tiba-tiba membuka matanya dan langsung melesat ke kamarnya dengan panik.
Tao.
Nama itulah yang pertama kali melintasi di benaknya dan ia benar-benar merasakan firasat buruk tentang ini.
.
.
.
Sehun hanya tersenyum kecil ketika melihat rusa imut disampingnya tertidur dengan melengkungkan tubuh polosnya pada Sehun; mencari kehangatan yang dengan senang hati Sehun berikan. Sehun mengelus pelan perut datar Luhan yang agak terekspos dalam selimut dan memperlihatkan sebuah tattoo dengan gambar segumpalan angin yang sama dengan tattoo yang dimilikinya di perut ber-abs-nya. Ia terkekeh ketika Luhan mendengkur layaknya kucing dan bergegas memutar tubuhnya hingga wajahnya seakan menatap langit-langit dengan tangan dan kaki berserakan, dan itu membuat Sehun kembali terkekeh dengan kelakuan ajaib sang mate.
"Unghhh~" lenguh Luhan pelan ketika ia merasakan sepasang lengan kekar melingkari pinggang rampingnya. Dengan perlahan, ia membuka matanya; menampilkan sepasang orbs caramel dan bertemu pandang dengan mata platina Sehun yang menatapnya tajam. Ia mengerang sebentar sebelum akhirnya berkata dengan sedikit nada terganggu di suaranya, "Kenapa, Sehunie?"
Sehun terkekeh dan memeluk pinggang Luhan semakin erat; membuat kedua tubuh polos mereka menempel dan berkata dengan nada menggoda, "Terganggu, hm?" Luhan memutar bola matanya sebelum menjawab dengan ketus, "Pikir saja sendiri."
Sehun hanya terkekeh sebentar dan menghujani wajah mulus Luhan dengan ciuman yang membuat Luhan terkikik geli. Ia masih terkikik dan akhirnya mengalungkan lengan jenjangnya ke leher putih Sehun. Sehun yang melihat ini hanya menyeringai sebelum melumat bibir Luhan yang telah membengkak oleh karena 'aktivitas' mereka sebelumnya.
"A-ah! Se-Sehunie~" rengek Luhan; meremas rambut perak Sehun dengan resah ketika bibir tipis Sehun bergerak dari dagunya ke leher jenjang miliknya yang telah penuh dengan kissmark Sehun.
Dan semakin malam larut, desahan dan erangan makin terdengar. Huft, untung saja kamar mereka semua soundproof, kalau tidak semuanya bisa terbangun karena suara mereka berdua yang kelewat besar.
.
.
.
"TAO!"
BRAK!
Kris menghela nafas lega ketika gadis yang dicarinya sekarang malah tidur dengan rambut merah berserakan serta tubuh yang… erm, amburadul. Ia terkikik ketika perkataan Tao tadi teringat.
"Laki-laki berantakan tidurnya, hm? Coba kau lihat dirimu. Kau bahkan lebih parah tidurnya dari Jongin dan Chanyeol," bisiknya pelan sembari mengangkat tangannya untuk mengelus rambut merah Tao yang halus. Dan ia pun mulai membaringkan dirinya di belakang Tao. Ia memeluk pinggang ramping Tao dan akhirnya terlelap tanpa menyadari bahwa sebenarnya Tao sudah terbangun.
"Jangan pernah pergi dari sisiku, Kris-ge."
.
.
.
.
TBC~!
Area Bacotan Aneh :
WOOOO! HAI, S'MUA!
SAYA KAMBEK PAKE NI CEPTER, HAHAHA.
Aduh. Sori dori stroberi ya kalo ni chapter agak ancur. Saya abis baca 10080 by Exobubz sama Baby's Breath yang author-nya saya lupa, soalnya. Dan dua fict ini bikin saya nangis. Sumfeh :v. saya rekomen dua epep tadi untuk ChanBaek lovers atau BaekYeol lovers \(^.^\) /malah promosi/
Saya bener-bener masih bingung ama ini alur cerita, jadi untuk sementara yang plesbek-plesbek couple KrisTao dulu, ya. Doa'in aja kalo di chapter depan udah ada yang lain. Plus doa'in saya bisa ngerjain ini sembunyi-sembunyi pas lagi belajar. Hehe.
Dan… teng tong teng! AKHIRNYA /nangis/ AKHIRNYA SAYA BISA NULIS YANG MENJURUS—MENJURUS! HIKS!
Sehun : terus lu bangga, gitu?
Author : Ih. Lu gamau anuin si Luhan yang jadi cewek gitu? Yaudah, gue gamau nulisin lagi, nih. Gue tulisin buat yang lain aja.
Sehun : AUTHOR BAIK DEH! CANTIK LAGI! CIMIT-CIMIT GITU LAGI! BBUING~ BBUING~!
Author : nah, gitu dong. Walau gue agak jijik yang pas 'cimit-cimit' tapi yaudah deh. Sana main lagi sama Lulu /nyodorin Luhan!GS/
Sehun : IH. AUTHOR BAIK DEH! DADAH, THOR! /ngangkat Luhan sambil lambai-lambai pergi/
Luhan!GS : KOK AUTHOR JAHAT BANGET SIH AMA GUE! AAAAAA, AUTHORRRR!
Dan dengan kalimat terakhir itu, HunHan ga keliatan lagi.
Oh well. Kalo gitu…
TENGKYU YA, S'MUAAAA!
MAAP DI CHAPTER INI GAADA PREVIEW!
MALES BIKIN SOAL'E!
PEACE, BROOO!
TANPA BANYAK BACOT LAGE,
PLIS REVIEWWWWW!
Plus satu lagi. Saya minta maap kalo ada typo.
