Tik

Tik

Tik

Tao melirik jam bulat yang tergantung di dinding ruangan itu dengan tajam. Ia pun menggembungkan kedua pipinya ketika melihat ke angka berapa kedua jarum itu menunjuk. Ia menghela nafas.

Apa meninggalkan note cukup, ya?

WOLVES

Rate : T

© Of course, Haruno Kagura

Pair(s) : all EXO official couples

Warning : Highschool!AU. Uke!GS.

Disclaimer : EXO itu dipunyai oleh ortu mereka, Tuhan Yang Maha Esa, manajemem, agensi, serta para fans.

This fict is dedicates to my dear friend,

Blastjoe2311

She told me to write this a long time ago…. And I publish this at this time…

Oh, well.

To you all, who has been waiting. I thank you. So, as a 'thank you' gift, I decide to present you this :

WOLVES – KrisTao Special,

Learn The Tango

Enjoy

~o0o~

Gadis dengan rambut scarlet kuncir kuda itu sudah mulai bosan rupanya. Berkali-kali matanya melirik kearah jam bulat yang masih menggerakan 'tangan-tangan'nya untuk menunjukan sudah pukul berapa kepadanya.

Dan itu tambah membuatnya ingin membotaki seorang pemuda yang membuatnya telah menunggu selama –erm, satu jam.

Menghela nafas. Tao akhirnya melenggang kearah sebuah tape yang diam dengan manis diatas sebuah kursi diujung ruangan itu. Sebelum menekan tombol play, ia mulai melenturkan tubuhnya bagai kucing.

Ia satukan tangannya dan mengangkat kedua tangan itu keatas, hingga menyebabkan crop tee putih polos yang ia kenakan agak terangkat. Memperlihatkan perut rata halus miliknya.

Setelah dirasanya cukup, ia menekan tombol play dan segeralah mengalun sebuah alunan musik yang slow namun menantang. Tao menutup mata hitamnya dan ketika sepasang kelopak itu terbuka, tubuhnya bergerak sendiri tanpa ada yang memintanya.

.

.

.

"Urgh,"

Pemuda dengan rambut pirang itu membuka matanya secara perlahan. Ia masih belum terbiasa dengan sinar matahari yang dengan seenaknya menyerang matanya yang masih mengantuk. Ia menggeram –probably mengutuk orang yang tanpa persetujuannya membuka tirai.

Menggeram sekali lagi, Kris membalikkan tubuhnya. Sekarang punggungnya yang terkena matahari. Ia ingin menyembunyikan sepasang onyx miliknya hingga tiba-tiba ia melihat sebuah kertas post it bewarna kuning menyala diatas meja disamping tempat tidurnya.

Memaksa matanya membuka secara penuh, Kris berusaha membaca tulisan rapi –yang tentunya dimiliki perempuan– dengan tetap berbaring.

Setelah membaca keseluruhan tulisan itu, ia langsung membuka mata sepenuhnya dan langsung melesat kearah kamar mandi yang ada didalam kamarnya. Sambil mengutuk, tentu saja.

Pukul 09.00 ke ruang latihan, ya. Kita belum latihan Tango sama sekali.

HZT–

.

.

.

Grek.

"Ta–"

"Telat," Kris mendongak dan melihat sesosok gadis yang sedari tadi menunggunya. Gadis itu memicingkan matanya dengan rambut scarlet yang sudah mencuat kemana-mana. Gadis itu, setelah melempar glare andalan terakhirnya, melenggang untuk mematikan tape tadi.

Kris melihatnya dengan aneh dan akhirnya bertanya, "Kenapa dimatikan?" Tao meliriknya dan menjawab, "Aku lapar. Kita makan dulu, saja."

Kris mengendikkan bahunya dan mengikuti Tao yang melenggang lebih dahulu didepannya.

.

.

.

Taeyoung berhenti di jalannya. Ia tersenyum ketika melihat dua orang berbeda gender yang berjalan kearahnya. "Pagi," sapanya tidak lupa dengan cangkir the imut di tangannya. Tao memberikan senyum sopan kepada Taeyoung, "Pagi, Taeyoung-ssi."

Taeyoung meringis pelan, "Jangan sopan begitu denganku. Aku berasa sudah berkepala empat saja," kali ini Tao yang meringis, "Kalau begitu. Taeyoung-jie."

"Nah. Begitu lebih baik," Taeyoung meletakkan cangkirnya di meja yang kebetulan ada di lorong itu. Ia melingkari bahu Tao dengan lengannya dan menarik Tao untuk dipeluknya. Tao hanya tertawa pelan melihat sikap kekanakan Taeyoung.

"Aku pinjam Tao ya, Oppa," Tao benar-benar lupa dengan Kris dan memilih untuk melirik Kris dari celah yang didapatkannya. Ia mendapati Kris mengendikkan bahunya dan memilih untuk mendahului mereka dengan wajah cemberut.

Gege cemberut karena aku… atau Taeyoung-jie?

.

.

.

"SOO-EONNIE!"

Hyoyeon menggerutu ketika mendengar suara Taeyoung, "Tch. Anak satu itu berisik sekali." Sooyoung hanya tersenyum kecil ketika mendengar gerutuan Hyoyeon dan menerima pelukan Taeyoung. Taeyoung, yang ternyata mendengar gerutuan Hyoyeon, mengangkat kepalanya dan melakukan mehrong.

Dan untungnya Hyoyeon telah mengalihkan pandangannya kearah lain. Kalau tidak, Hyoyeon pasti akan melakukan suatu percobaan pembunuhan kepada Taeyoung.

"Pagi juga, Youngie," sapanya sebelum melepaskan pelukan Taeyoung, "Selain kalian yang lain belum keluar?" tanyanya ketika hanya melihat Kris, Tao, Baekhyun, Chanyeol, Chen, Suho, dan Yixing.

"Biasanya Sehun sudah disini duluan," Tiffany menggerakan kepalanya kesana kemari mencari keberadaan pemuda dengan warna kulit paling cerah diantara para pemuda tadi. Chanyeol mendesah kesal, "Si Albino itu tidak bakal bangun pagi, kok."

Sooyoung menatap Chanyeol heran, "Lho, kenapa?" Chanyeol memutar bola matanya, "Dia sudah melakukannya," katanya dengan seringai rahasia sebelum melanjutkan perkataannya lagi, "Luhan sepertinya juga tidak bisa bangun."

Taeyoung memutar bola matanya dan berkonsentrasi untuk mengambil kembali cangkir teh yang telah ditinggalkannya tadi. Semua orang yang ada disana (kecuali Sooyoung, Hyoyeon, dan Tiffany. Serta Taeyoung) hanya dapat menganga ketika melihat sebuah cangkir mungil terlihat diangkat oleh bayangan. Tak terkecuali Kris.

Hanya saja Kris tidak menganga.

"Kau sudah bisa mengendalikan dari jauh?" Chanyeol mengikuti gerakan cangkir itu dengan seksama dan kagum. Taeyoung terkekeh dan menjawab seakan itu biasa saja, "Yup. Terima kasih kepada guru dadakanku, Sooyoung-eonnie," katanya sambil memeluk pinggang ramping sang empunya.

Sooyoung hanya tersenyum melihat kelakuan Taeyoung dan hanya mengelus rambut bob pendek milik gadis itu. Seorang wanita dengan rambut pirang yang dikuncir asal-asalan dan berwajah ngantuk tiba-tiba memasuki dapur. Ia mengusap matanya, yang masih menyipit, dengan tangannya dan berkata, "Ada apa sih ribut-ribut?"

"Sica!" seruan itu berasal dari Taeyeon, ia langsung menyambut Jessica, wanita pirang itu, dengan semangat. Jessica mendelik pada Taeyeon, "Senang sekali kau membangunkanku saat tidur cantikku, huh?" Taeyeon hanya mengendikkan bahunya dan tersenyum jahil, "Yah, kalau kau tidak diganggu tidak bakal bangun-bangun juga 'kan?"

Jessica memelototi Taeyeon sekarang, "Memang aku sekebo apa sih?" tanyanya kesal. Taeyeon langsung dengan refleks menjawab, "Sangatsangat kebo."

Tek.

Tiffany hanya terkekeh melihat pandangan mata Jessica yang seperti ingin membekukan Taeyeon hidup-hidup; sedangkan Taeyeon sudah memohon ampun sambil menyembah-nyembah pada si Ice Princess tersebut. Akhirnya, ia mengalihkan pandangannya kepada yang lain; hingga tiba-tiba tatapannya jatuh pada Tao yang sedang menunduk. Ia hanya melihat bacon dan telur dadar yang dijadikan sarapan mereka tanpa keinginan untuk memakannya.

Tiffany ingin mendatanginya namun kemudian langkahnya dihentikan oleh sebuah tangan yang memegang lengannya dengan lembut namun tegas. Tiffany menengok dan menemui Sooyoung menatap kepadanya dengan alis menyatu. Tiffany menggesturkan bahwa ia ingin menghadapi Tao, namun Sooyoung mengeratkan genggaman tangannya sebagai peringatan dan menggeleng.

Tiffany tahu apa artinya gelengan itu.

Biarkan ia memutuskan sendiri.

.

.

.

Kris memerhatikan Tao yang sedari tadi tidak menyentuh bacon-nya; bahkan telur dadarnya hanya dimakan seperempat. Kris, yang tidak tahan, akhirnya ingin berdiri dan menghampiri sang gadis dengan rambut merah tersebut. Namun, niat tersebut batal ketika seorang gadis dengan mata sebulat rusa menyeruak masuk dengan barbar ke dapur.

"Tao-ie!" pekiknya riang dan langsung melingkarkan lengannya kesekeliling bahu Tao. Tao terkikik geli ketika sebagian rambut burgundy basah Luhan menggelitiki lehernya. Hidung Tao langsung terserang harumnya mawar polos yang menguar dari tubuh mungil namun proporsional milik gadis pecinta bubble tea itu. Tao menghirup dan merelaksasikan dirinya dibawah pelukan Luhan.

"Jiejie wangi," responnya sambil terkikik pelan. Luhan melepaskan pelukannya dan merengut imut, "Aku 'kan sudah mandi. Lagipula Tao, kenapa tubuhmu agak lengket sih?" Tao memutar bola matanya, "Kau tidak ingat, Jie? Tiga hari lagi kita akan tes menari, tahu."

Plok.

Luhan menepuk dahinya pelan dan berkata, "Baru ingat." Tao hanya mengendikkan bahunya dan bergumam 'aku sudah tahu itu' serta memakan sarapannya hingga tidak tersisa. Setelah membawa piring kotornya dan meletakkannya di sink, ia pun mengambil sebuah gelas beling dan menuang jus jeruk dari kartonnya ke gelasnya. Setelahnya, ia duduk kembali.

Baekhyun akhirnya melangkah dan meletakkan pantatnya disebelah lain Luhan. Ia mulai mengusik Luhan dengan memain-mainkan rambut burgundy milik Luhan yang memang halus dan lembut itu. Luhan hanya memakan sarapannya dengan sikap cuek; sudah terlalu hafal dengan sifat Baekhyun. Tao hanya memerhatikan mereka dan terkekeh sedikit melihat kedua partner in crime tersebut.

Dalam satu teguk, akhirnya jus jeruk dalam gelasnya itu tandas seketika. Ia berdiri dan meletakkan gelas beling itu di sink. Melihat ini, Kris langsung berdiri dan mengikuti Tao yang sudah keluar dari area dapur. Dalam perjalanannya, Tao berpapasan dengan Yixing, yang masih mengusap mata sayunya, Tao terkekeh melihat Yixing yang teler dan hanya mengangguk melihatnya dan Kris.

.

.

.

"Baiklah, Kris-ge. Aku sudah memutuskan lagunya dan tidak ada perubahan, mengerti?"

Kris mengangkat salah satu alisnya, "Apa lagunya?" tanyanya dengan sedikit nada angkuh. Tao mengernyit namun tetap menjawab,

"Take You Down."

Kris hanya mengangguk-angguk dan akhirnya merespon, "I'm ready if you're ready," katanya mengendikkan bahu. Tao mendelik tapi akhirnya bergegas ke tape itu dan menyalakan lagu yang akan mereka pakai.

.

.

.

"Haissh…! Selalu saja rambutku yang ia jadikan mainan. Kelinci itu."

Luhan menggeram bagai harimau sembari mengurai-nguraikan rambutnya yang dijadikan bahan 'prakarya' oleh Baekhyun. Jari jemarinya menyisir rambut burgundy miliknya dengan halus dan menggeram ketika beberapa helai rambutnya kusut oleh mermaid braid yang dibuat Baekhyun. Setelah terurai semua, Luhan hanya dapat menghela nafas dan mengibaskan rambutnya ke belakang agar menutupi punggungnya.

Here we are, all alone in this room

Luhan langsung menengokkan kepalanya pada sebuah pintu yang ia yakinkan mengeluarkan musik tersebut. Pintu tersebut terbuka sedikit; menampilkan celah yang sebenarnya dapat Luhan intip. Setelah mengalami pertarungan batin selama beberapa menit, akhirnya Luhan mengintip kedalam.

Seorang pemuda dan seorang gadis. Blonde dan scarlet. Mata tajam dan mata panda. Saling berpeluk––

Wait, what?

Mata Luhan melebar ketika melihat keduanya; Tao dan Kris, yang bergerak dengan lincah, tepat, sekaligus seksi. Luhan mengamati dua insan itu sampai akhirnya dapat mencermati apa yang sedang terjadi. Ia akhirnya tetap mengamati kedua orang itu. Sampai tiba-tiba, seseorang menarik kepalanya dan menutup mata serta mulutnya.

Panik menyerangnya. Ia langsung memberontak namun pegangan pada tubuhnya bertambah erat. Dengan panik ia menggerak-gerakkan tubuhnya ketika merasakan sebuah nafas hangat menerpa telinganya. Suara itu menggeram dalam suara rendah membuat Luhan mau tak mau menjadi diam.

Akhirnya, tangan yang menutup matanya melepaskannya. Dia langsung mendongak dan bertemu pandang dengan sepasang mata bewarna platina yang menatapnya dengan pandangan agak kesal. Luhan mengenali mata tersebut dan hanya nyengir; ketika tangan yang membekap mulutnya melepaskannya. Ia pun menyapa Sehun dengan wajah tidak berdosa miliknya, "Annyeong."

Sehun menghela nafasnya, "Bisakah kau, at least, mengingat bauku?" tanyanya dan dijawab Luhan dengan, "Mianhae. Aku hanya, well, tidak tahu kau bakalan mengagetkanku seperti itu," dan akhirnya melanjutkan, "Lagipula, kenapa aku harus mengingat baumu? Aku bukan werewolf sepertimu, Hun-ah."

"'Belum' not 'bukan', Deer," jawab Sehun mengendikkan bahu. Luhan merasakan pipinya menghangat ketika Sehun memanggil panggilan itu dan membuang muka sambil bergumam, "Terserahmulah," yang menurut Sehun imut; hingga dia membanjiri si rusa itu dengan ciuman diseluruh wajahnya; hingga ia berteriak kegelian.

.

.

.

Kedua insan itu begitu terlarut dalam gerakan mereka sampai tidak merasakan keberadaan seorang gadis dengan rambut bob menyelinap masuk; memerhatikan setiap gerakan yang dibuat oleh keduanya dengan sangat cantik. Sang gadis, dengan gerakan bak kucing, berdiri menyandar di bingkai pintu dengan tangan terlipat di dada.

Mata hitamnya memerhatikan setiap gerakan keduanya dengan cermat; walaupun begitu, senyuman kecil bermain di bibir mungilnya. Telinganya mendengarkan lantunan lagu yang lamban namun seksi tersebut dengan seksama.

Take you down, yeah

Keduanya bertatapan dengan penuh makna ketika chorus penutup sudah selesai dinyanyikan. Keduanya terlarut dalam kedalaman mata masing-masing hingga membuat Taeyoung tidak tega untuk merusak momen tersebut. Namun, apa boleh buat, ini harus ia lakukan karena ini untuk kebaikan mereka semua.

Ia tersenyum ketika memikirkan kata 'semua' tersebut. Membulatkan tekad, ia mengambil nafas banyak-banyak dan menepuk tangan dengan nyaring; membuat ruangan tersebut penuh dengan suara tepuk tangannya.

"Wah! Sugoi!" katanya ceria; membuat kedua insan tersebut langsung menjauhkan tubuh keduanya. Ia meringis pelan melihat wajah Tao yang berubah agak defensif ketika melihatnya. Ia tetap mempertahankan wajah cerianya dan berseru dengan keceriaan berlebih, "Lho? Kenapa menjauh begitu? Aku mengganggu, ya?"

"Tsk!" decih Kris, "Sudah tahu masih bertanya," gumamnya sinis dan ketus. Taeyoung tersenyum maklum dengan itu. Ia akhirnya meminta ijin pada sang jantan satu-satunya dalam ruangan tersebut, "Nah, Oppa. Bisakah Oppa keluar sebentar? Aku ingin berbicara dengan Tao," katanya dan tanpa mendengar alasan yang ingin dikeluarkan Kris, ia menyeret Kris keluar dengan bayangannya dan mengunci pintu itu dengan aman.

"Huft," Taeyoung menghela nafas dan berbalik menghadapi Tao yang melihatnya dengan heran sembari meminum air mineralnya. Taeyoung tersenyum dan duduk di lantai dengan kaki bersilang. Ia menepuk-nepuk tempat kosong didepannya; menyuruh sang gadis bersurai merah duduk di hadapannya. Jadinya, Tao duduk di hadapan Taeyoung dengan handuk meliliti lehernya. Mirip tukang ojek.

Tukang ojek versi cewek cantik nan bohay.

.

.

((bek tu de story))

.

.

Taeyoung tersenyum melihat ketegangan Tao hingga kedua bahunya menegang. Ia pun berkata dengan senyuman menenagkan, "Tenanglah, Zitao. Aku tidak mungkin memakanmu atau apa," katanya sambil terkekeh sedikit. Mendengar kekehan Taeyoung, segala ketegangan yang Tao rasakan hilang dan dia merilekskan bahunya.

Taeyoung tersenyum lagi, "Kau tahu 'kan untuk apa aku ingin berbicara empat mata denganmu?" Tao menghela nafas dan menghapus senyumnya; menggantinya dengan tatapan sendu, "Kris-ge…"

Taeyeon melunturkan senyum cerianya dan menggantinya dengan wajah serius, "Aku sudah mendengar semuanya dari Soo-eonnie," katanya dan membuat Tao agak menundukkan wajahnya. "Angkat wajahmu, Zitao." Tao mengangkat wajahnya dan menatap tatapan Taeyoung yang agak melunak terhadap dirinya.

"K-Kau marah?" tanyanya takut-takut; ia merasa bersalah karena telah menuduh Taeyoung. Namun apa boleh buat, Tao terlalu cemburu dan biasalah, gadis yang cemburu selalu saja menyalahi orang lain atas kesalahannya.

Mendengar pertanyaan Tao, Taeyoung agak terkejut namun memaklumkan. Dia menjawab dengan santai, "Tidak kok." Mendengar jawaban Taeyoung, Tao langsung menatap kedalam mata Taeyoung; mencari kebohongan dalam mata itu. Namun tidak menemukan apapun kecuali ketegaran.

Taeyoung menghela nafas dan berdiri dari duduknya. Ia memberikan sebuah senyum yang menenangkan Tao sebelum berkata, "Aku hanya ingin berpesan padamu," Taeyoung menghela nafas, "Tolong jaga Yifan untukku. Aku tidak bisa bersamanya lagi dan aku tahu kau adalah gadis yang dapat melakukan itu untukku."

Ia berjalan kearah pintu. Ia membuka pintu dan menoleh kearah Tao untuk mengucapkan sebuah kata, "Xiè xiè, Tao." Sebelum akhirnya keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Tao sendirian.

.

.

.

Taeyoung mendongak dan tersenyum, menemui seorang wanita berwajah rupawan yang tersenyum kepadanya. Sebutir airmata jatuh dari mata kirinya, "Aku melakukan yang terbaik 'kan?" bisiknya sebelum menyambut lengan wanita yang terbuka itu; menumpahkan seluruh kelegaan dalam dirinya.

"Kau melakukkan yang terbaik, Tae-chan," Sooyoung memeluk dan mengelus surai cokelat milik Taeyoung yang halus. Ia dapat merasakan senyuman yang terbentuk pada bibir Taeyouung diantara airmata milik Taeyoung.

"Arigatou, Mama."

.

.

.

"Tao?" Kris memasuki ruangan yang tadinya dipakai olehnya dan Tao untuk latihan; sebelum ia ditendang keluar oleh Taeyoung dengan tidak elit. Kris mendengus mengingat pengusiran tersebut. Ia terlihat bingung ketika melihat hanya Tao yang berada di ruangan tersebut sendirian.

Tao terduduk di lantai dengan wajah tertunduk dan poni merahnya menutupi seluruh wajahnya. Kris melihatnya dengan bingung. Segera, ia berlutut dan menyejajarkan dirinya dengan Tao. Tangan besarnya menyentuh pelan poni Tao dan memanggilnya, "Tao…?"

Ia terkejut ketika merasakan tangannya basah dengan air. Ia memundurkan tangannya dan menjilati air tersebut; dan terkesiap ketika air itu terasa asin. Ia langsung menangkup wajah Tao dan memaksakan gadis itu untuk menatapnya. Wajah Tao telah basah dengan airmata.

Kris merasa panik dan langsung menanyakan Tao bertubi-tubi, "Kau tidak diomongin apa-apa oleh Taeyoung 'kan?" bukannya berhenti, Tao malah masih menangis namun lebih deras. Kris langsung mengutuki apa saja yang telah dikatakan Taeyoung hingga membuat mate-nya mewek begini.

Tidak tahu harus apa, Kris langsung membawa Tao ke pelukannya dan mengelus surai merah Tao dengan lembut. Ia mengecup kepala Tao dan berbisik, "Kau tidak akan apa-apa, Zitao-ie. Aku akan berada disisimu." Tao balas berbisik dengan nada tidak yakin, "Selamanya? Gege akan berada disisiku?" Kris mengeluarkan tawa terkekeh yang membuat tubuhnya dan Tao berguncang sedikit, "Kalau itu yang kau minta––dan memang itu yang harus terjadi––, of course."

Tao tertawa pelan; dan betapa bersyukurnya Kris atas itu, "Wo aì ni, Gege," bisiknya pelan dan sedikit mengejutkan Kris. Kris terkejut beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum dan membalas, "Wo ye aì ni, Meimei." Kris mengangkat wajah Tao dan menghapus airmatanya dari pipinya. Ia tersenyum ketika melihat senyum Tao.

"That's my girl," bisiknya sebelum menarik Tao dalam sebuah ciuman penuh kasih sayang.

Semoga berhasil. Oppa.

END

Author's note :

Hahahahaha... /ketawa awkward/

Satu-satunya yang ingin saya bilang adalah...

Maafkan saya sebesar-besarnya /bow/ karena telah menelantarkan fict ini cukup lama. Hahahahahihihihihuhuhu.

Untuk teman saya yang telah me-request fict ini lamaaaaaa banget, Blastjoe2311, MAAFFFFFFFF! DAN UNTUK PARA REVIEWERS YANG SETIA MENERIAKI SAYA, MAAAAAAAFFFFFF!

.

.

.

Baiklah, yang mau saya jelaskan dari fict diatas adalah,

1. Mengapa Sooyoung-Taeyoung ngomong pake bahasa Jepang? Jawabannya adalah : Taeyoung dan Taemin adalah blasteran Jepang-Korea. Sedangkan Sooyoung, dia dan yang lainnya (member SNSD) pernah tinggal di Jepang.

2. Kenapa Taeyoung manggil Sooyoung 'Mama'? Jawabannya : Karena saat Taemin, yang adalah satu-satunya keluarga yang tersisa (ya, papa-mama Taemin-Taeyoung udah meninggal, bakal ada plesbeknya. huehehehe), meninggal di tangannya sendiri, Sooyoung langsung mengambil Taeyoung menjadi salah satu keluarga Choi-soon-to-be-Max (sudah diperhitungkan dengan Changmin). Namun, Taeyoung memang agak labil jadi kadang manggil 'Mama' kadang 'eonnie' /plak.

Dan bagi yang mempunyai pertanyaan, bisa ketik di kotak review di bawah, ya! Serta, untuk semua pair lainnya, saya akan buat chapter depan agak lebih 'terisi' dengan pair-pair yang ketinggalan.

SEPERTI BIASA! REVIEW DAN MAAP UNTUK TYPO DKK.

((orang malas, all the way))