Hulalala! Chapter ke-2 telah dirilis! Enjoy ^^

Sepasang sahabat Yin dan Yang ini sudah berhasil lulus ujian masuk Academy Shiki yang terkenal dengan fasilitas terlengkap dan termewah, kualitas dan kuantitas yang melebihi segalanya dan memiliki luas yang abnormal di dunia. berlokasi di Kota Tokyo, Jepang. Mereka adalah Renshi Karashuma dan Kira Ishikawa.

Chapter 2: A Person Whom I Don't Want to Meet

At morning
=======

Satu minggu lamanya mereka telah mempersiapkan barang-barangnya untuk pindah ke asrama di Academy Shiki. Koper yang berukuran super large ini terlihat gendut membuncit dengan warna coklat bergaris hitam mengelilinginya. Gadis yang berambut merah terkucir kuda sudah berseragam rapi asal SMPnya dan terlihat sibuk mengecek-ngecek barangnya yang akan di bawa ke akademi.

Tok

Tok

Tok

"Ohayou gonzaimasu bu," Kira membuka pintunya dan memberi salam kepada ibu paruh baya yang kurus berkulit putih yang lebih pendek daripada Kira, dia adalah ibu pemilik kos.

Kira memang tinggal di kos yang sederhana, karena orang tua Kira sudah meninggal sewaktu Kira berumur 5 tahun karena kecelakaan. Awalnya Kira tinggal bersama keluarga Renshi sampai berumur 8 tahun, tetapi karena Kira tidak ingin bergantung dengan keluarga Renshi dan ingin hidup mandiri akhirnya Kira tinggal di kos sejak umur 8 tahun.

"Ohayou, ooh kau sudah siap untuk berangkat Kira-chan?" sapa ramah pemilik kos tersebut.

"Iya, 5 menit lagi saya berangkat. Silahkan masuk dulu bu," Kira menyampingkan tubuhnya sejajar dengan pintu terbuka untuk memberi jalan kepada ibu pemilik kos tersebut.

Ibu itu masuk ke dalam kamar Kira yang sederhana dan tidak terlalu luas. Dilihatnya semua kosong, barang-barang dalam ruangan tersebut sudah dimasukan ke dalam koper super largenya Kira.

"Wah, kamar ini sudah kosong ya, pasti ibu akan merindukanmu Kira-chan," sahutnya sedih sambil menatap Kira dengan tersenyum, senyum yang berat untuk melepaskan Kira.

"Padahal baru saja kemarin kamu tinggal di sini dengan tubuhmu yang sangat mungil dan polosnya. Waktu itu kamu masih berumur 8 tahun. Dan sekarang kamu sudah akan pergi. 8 tahun itu benar-benar tidak terasa ya."

"Tenang saja bu, saya pasti akan mengunjungi ibu jika saya mempunyai waktu luang. Terima kasih selama ini ibu sudah mengizinkan saya tinggal di sini tanpa harus membayarnya," Kira tersenyum ramah.

"Waktunya saya berangkat. Sekali lagi terima kasih banyak ibu." Kira mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan ibu pemilik kos tersebut.

"Hati-hati Kira-chan, semoga kamu sukses dan selalu beruntung di sana. Tuhan selalu memberkati mu Kira-chan," ibu itu membalas jabat tangan Kira dengan tatapan sedihnya.

Kira tersenyum sangat ramah kepada ibu tersebut. Sesi jabat tangan selesai dan Kira pergi berjalan keluar kamarnya.

Di ujung pintu dia membungkukan badannya untuk memberi hormat. Ibu itu membalas dengan lambaian tangan. Kira menegapkan kembali badannya dan berjalan meninggalkannya.

Kira berjalan dengan santai, sebenarnya dia juga sangat sedih harus meninggalkan ibu kos tersebut. Selama ini ibu pemilik kos tersebut bagaikan ibunya sendiri karena wanita itu sudah merawat Kira bagaikan anaknya sendiri. Kira tinggal di kos secara gratis karena Kira memaksa ibu kos tersebut untuk tinggal disana walaupun masih berumur 8 tahun.

Kira adalah orang yang teguh pendiriannya. Walaupun awalnya tidak dizinkan karena masih di bawah umur, Kira ngotot mau tinggal. Dia akan membantu dan melakukan apapun yang disuruh ibu kos tersebut. Ibu kos itu tidak tega kepada Kira dan dia juga melihat tatapan mata Kira pada saat itu. Walaupun masih anak-anak, dia memiliki tatapan yang seperti orang dewasa. Mata Kira yang berwarna merah menunjukkan bahwa keputusannya sangat mantap dan bersungguh-sungguh. Akhirnya ibu kos tersebut mengijinkan Kira untuk tinggal secara gratis karena melihat tatapan yang jarang dimiliki oleh anak-anak lain yang seusianya. Hitung-hitung dia juga sekalian menganggap Kira sebagai anaknya yang sudah meninggal. Mungkin jika anak ibu itu masih hidup, dia akan seumuran dengan Kira.

Kira berjalan menuju rumah Renshi sambil menggeret kopernya. Di tengah jalan ponsel Kira bergetar, Kira mengambil ponsel didalam saku bajunya, dilihatnya terdapat tulisan new message: Renshi , klik, Kira membukanya, sungguh pesan terlaknat yang pernah Kira baca.

From Renshi Karashuma
Kira-chan, kamu duluan aja, aku bangun kesiangan hehe.
Tapi kalo udah sampai, tunggu aku di gerbang ya,
aku engga mau masuk sendirian ke Academy Disney itu.

"Dasar kebo, kalo dia ikut olimpiade tidur, dia pasti menang juara 1, tidurnya yang kelewat nyenyak itu. Entah tidur, entah mati, entah pingsan, tidak ada bedanya juga." Kira bergumam sepanjang jalan saat dia membaca pesan laknat dari Renshi itu.

Kira malas membalasnya, dia langsung menutup pesan itu dan memasukannya kembali ke dalam saku seragamnya. Akhirnya Kira langsung berjalan ke Academy Shiki.

At Academy
=============

Kira menunggu Renshi tepat di depan gerbang Academy Shiki. Kira menunggunya dengan tangan kanannya memegang batang koper yang menjulang ke atas sejajar dengan pinggangnya. Kira melihat lurus ke depan, berharap Renshi muncul. Bermacam-macam seragam yang datang dimana mereka adalah murid yang diterima di Academy Shiki.

Gadis yang berparas imut dan ceria melambaikan tangan ke arah Kira. Ya tepat sekali! Itu adalah Renshi. Renshi berjalan menuju Kira, dia juga menggeret koper super large berwarna pink bermotif Hello Kitty dengan gantungan kecil Hello Kitty (juga) yang menghias koper tersebut.

"Ohayou Kira-chan," Renshi menyapa Kira dengan riangnya.

"Ohayou. Sekarang ayo masuk, kita ambil tempat duduk, kau mau ditengah-tengah kan? Eh, Renshi?" Kira menatap Renshi dengan heran.

Renshi menatap Academy Shiki dengan mata yang berbinar-binar lagi.

"Haaah-" Kira menghembuskan nafas lelah.

Bukan karena lelah olahraga tetapi lelah melihat Renshi yang selalu berbinar-binar melihat Academy ini.

"Renshi jangan buat aku malu, tahan kekagumanmu itu, terutama binaran matamu. Lihat semua orang memandangnya biasa aja, hanya kamu yang seperti ini. Jaim dikit dong," Kira mencolek lengan Renshi.

Renshi menangguk-angguk iya, tapiii...

"Waaahaaa! Kira-chan, Kira-chan, lihat! Ada patung ikan koi! Dan…..terbuat dari perak….. Wow!" Renshi menatap patung ikan itu dengan mata yang lebih berbinar.

"Renshi sudahlah, itu kan cuma patung, ayo cepat," Kira melihat Renshi benar-benar lelah letih tak berdaya.

Kira terlalu fokus pada Renshi sampai Kira tidak menyadari seseorang telah berdiri di belakangnya.

"Ohayou Kira-chan" ujar ramah seorang pria tersebut.

Kira menoleh, terlihat seorang siswa yang berambut merah seperti Kira, berwajah tampan tapi mesum, memakai seragam resmi Academy Shiki. Badannya yang ideal dan tentunya lebih tinggi dari Kira dan Renshi, memeluk Kira penuh dengan kelembutan sekaligus kerinduan yang mendalam

"Akhirnya kita bersama lagi. Aku sudah lama menantikan hal ini Kira-chan. Aku sangat merindukanmu" ujar lembut siswa tersebut

Renshi yang melihatnya speechless dan melongo.

Siswa yang tingginya sekitar 180-an cm ini memeluk Kira sembarangan secara tiba-tiba. Renshi tidak mengetahui siapa orang ini. Renshi tidak terima akan sikap pelanggarannya yang memeluk wanita secara sembarangan, apalagi dia memeluk sahabat kesayangannya itu. Pada saat Renshi ingin memarahi siswa itu, Renshi terkejut akan ekspresi Kira.

"Lepaskan" Kira berkata dingin dan kesal pada pria itu yang masih dalam pelukannya.

Siswa yang memeluknya itu langsung melepaskan pelukannya. Dia tidak menyangka Kira akan mengeluarkan nada yang seperti itu kepadanya.

"Kira-chan?" nada siswa itu sedih.

Wajah siswa itu pun diliputi keterkejutan dan kesedihan.

"Hey, Kira-"

"Minggir aku mau lewat. Jangan halangi aku." nada Kira benar-benar dingin sedingin es.

Terlihat tatapan dingin penuh dengan kebencian yang terhias di wajah Kira. Siswa itu hanya bisa menatapnya sedih.

"Renshi, ayo kita masuk." Kira langsung menarik Renshi dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menggeret kopernya sambil berjalan cepat meninggalkan siswa berambut merah itu.

"Kira-chan tunggu dulu, Kira-chan!" siswa itu memanggil Kira yang berjalan cepat meninggalkannya dan mengejar Kira dari belakang.

Siswa itu menghentikan Kira tepat di depannya, kemudian meletakan kedua tangannya di atas bahu Kira. Siswa itu menatap Kira dengan sangat terkejut karena wajah Kira yang manis penuh dengan ekspresi dingin. Matanya yang berwarna merah, diselimuti kebencian yang mendalam seolah-olah Kira melihat apa yang tidak mau ia lihat dan bertemu sebuah pertemuan yang tidak diinginkan oleh Kira.

"Kira-chan, ada apa dengan dirimu? Kenapa kau bersikap seperti ini?" ujar siswa itu yang masih berkata lembut

Siswa itu memegang bahu Kira dengan eratnya. Kedua mata mereka saling menatap. Kira tidak memberikan respon apapun, ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah.

Renshi yang melihatnya terheran-heran, 'orang ini siapa?Apa dia temannya Kira-chan? Jika dia temannya Kira-chan, tapi mengapa aku tidak mengenalnya?Dan Kira-chan terlihat seperti...membencinya?'

Teng

Teng

Teng

"Bel masuk sudah berbunyi. Maaf aku harus segera masuk. Menyingkirlah. Jangan mengacaukan hari pertamaku sekolah." ucap Kira dengan nada dingin.

Renshi tidak pernah melihat Kira sedingin ini sebelumnya. Cara bicara Kira benar-benar berbeda. Sedingin apapun Kira pada orang lain, secuek apapun Kira pada orang lain, Kira tidak pernah memproduksi cara bicaranya seperti itu. Renshi sangat yakin Kira mengetahui siswa berambut merah ini dan Kira sangat membencinya.

Siswa itu melepaskan kedua tangannya dari bahu Kira dan membiarkan Kira melewatinya. Siswa berambut merah ini hanya bisa berdiri terdiam melihat Kira yang meninggalkannya.

Siswa itu melihat kepergian Kira dengan ekspresi sedih

Upacara penyambutan siswa baru di aula telah dimulai. Kira dan Renshi mendapat kursi di belakang karena bagian tengah dan depan sudah penuh. Renshi melihat Kira dengan penuh tanda tanya. Sejak bertemu dengan pria berambut merah itu, ekspresi wajah Kira berubah. Sikapnya pun sangat dingin kepada Renshi. Renshi sangat khawatir terhadap sahabatnya.

'Sebenanya apa yang terjadi pada Kira-chan? Apa siswa asing itu kekasih Kira-chan ? Tetapi Kira-chan tidak mungkin mempunyai kekasih. Kira-chan kan selalu menarik diri dari lingkungan dan sosial' pikir Renshi.

"Kira-chan kau—"

"Jangan berbicara. Tertiblah Renshi." Kira menjawab dengan penuh cuek bebek.

Pandangannya lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Renshi sedikitpun. Biasanya setertib apapun Kira, jika Renshi mengatakan sesuatu (walaupun sangat tidak penting) dia pasti menoleh ke arah Renshi. Tergambar sebuah kebencian, kekesalan dan rasa marah di wajah Kira. Renshi hanya diam khawatir.

"Kira-chan..." Renshi hanya bergumam pelan.

Para siswa baru, baik pria maupun wanita terkagum-kagum melihat seorang vice principal di depan mereka yang sedang berpidato.

"Terima kasih banyak kepada kalian yang sudah memilih dan mempercayai Academy Shiki ini untuk membantu kalian meningkatkan ilmu pengetahuan yang sudah kalian miliki dan juga menambahkannya dengan ilmu yang kami punya dari Academy Shiki ini. Nama saya adalah Yoshitsune Minamoto, wakil kepala sekolah kalian. Saya akan membantu kalian sebisa saya kapanpun kalian butuhkan. Kalian adalah orang-orang yang sangat hebat dan terpilih sehingga kalian mampu memenuhi kriteria akademi ini. Semoga mulai hari ini, akademi ini dapat semakin baik dengan sosok-sosok siswa baru ini."

Kemudian sang vice principal memberikan rincian dan peraturan yang harus di patuhi di akademi ini.

Setelah selesai pidato vice principal, dilanjutkan dengan pidato ketua OSIS. Tetapi ternyata sang ketua OSIS belum datang, jadi digantikan oleh wakil ketua OSIS.

"Nama saya adalah Goemon Ishikawa, wakil ketua OSIS. Senang berkenalan dengan kalian."

'I –itu bukannya siswa berambut merah yang aku dan Kira-chan temui tadi di sekitar patung ikan koi perak?Seriusan?' gumam Renshi terkejut ketika melihat siswa berambut merah yang berbadan ideal dan tinggi adalah wakil ketua OSIS.

Renshi melihat ke arah Kira. Ekspresi Kira tetap tidak berubah.

"Kyaaa! Dia menatap ku!," seorang gadis di depan Kira yang keGEERan karena Goemon berhenti bicara sejenak menatap seseorang. Sebenarnya sih menatap Kira. Gadis itu aja yang kegeeran. Dih, bukan kau hey! BUKAAAN! *authornya jadi emosi sendiri sambil loncat-loncat kesal*

Yah memang pada saat Goemon mulai muncul di hadapan siswa baru, dia mendapat perilaku yang sama seperti Yoshitsune. Padahal mukanya mesum begitu.

Goemon mengumumkan pembagian kelas dan kamar di asrama. Renshi mendapat kelas C , sedangkan Kira A, Renshi dan Kira satu kamar di asrama.

"Kira-chan! Kita satu kamar!" Renshi memegang kedua lengan Kira dengan tangannya yang penuh dengan kesenangan, bahkan megguncangkan badan Kira.

Tetapi Kira tidak bereaksi apapun. Mukanya terlihat dingin sekaligus kesal.

"Kira-chan? Kau kenapa? Kau sakit?"

Kira masih diam saja.

Upacara di aula itu selesai diakhiri dengan tepuk tangan dan bungkukan badan. Pembagian seragam, kartu pelajar dan kunci kamar asrama sudah dibagikan ke setiap siswa. Pada saat sahabat Yin dan Yang ini berdiri dan akan meninggalkan aula, siswa bernama Goemon itu menghampiri mereka berdua. Goemon berdiri tepat di depan Kira, sementara Renshi yang di samping Kira memandang mereka.

Tatapan mereka beradu dengan sangat sengit. Goemon memberikan Kira tatapan tegas penuh tanda tanya, Kira membalasnya dengan tatapan dingin tajam.

"Kita perlu bicara, Kira-chan." ujar serius Goemon

"Renshi, kau duluan saja ke asrama. Nanti aku menyusulmu. Kau tidak apa-apa kan pergi ke asrama sendirian?" tanya Kira.

"Baik, aku mengerti. Tapi kau-"

"Iya, aku janji" Kira sudah bisa menebak apa yang ingin Renshi katakan.

Dia tersenyum singkat ke arah Renshi. Dan tanpa buang waktu lagi, Renshi meninggalkan mereka berdua di aula tersebut.

Renshi berjalan sendirian menggeret kopernya yang berat dan juga berukuran super large menuju asrama. Asrama sekolah ini terpisah cukup jauh dari gedung utama. Jadi perlu beberapa menit untuk menuju ke asrama. Renshi memikirkan tentang Kira dan Goemon. Ia khawatir takut terjadi apa-apa kepada Kira.

"Aku yakin, Kira-chan sedang menyembunyikan sesuatu! Siswa itu pasti bukanlah siswa biasa! Aku harus menginterogasinya! Aku harus menguping!" dengan semangatnya akan menguping, Renshi cepat-cepat menuju asrama dan pergi ke kamarnya untuk menaruh kopernya yang berat itu.

'Cepat-cepat-cepaaat! Keburu mereka berdua selesai!' Renshi lari sprint.

Kecepatan larinya itu sangat mengerikan, sampai menabrak seorang siswa berambut ungu tua yang sedang berjalan di depannya dekat pintu gedung utama.

BUAK!

DUAK!

"Aw!" Renshi langsung jatuh terduduk, sementara siswa tersebut menahan tubuhnya agar tidak jatuh dengan kedua kakinya itu.

"Dimana matamu itu? Kau buta apa katarak?" ujar dingin sinis siswa itu kepada Renshi yang telah menabraknya.

Tatapan mata yang super duper tajam, tergambar bahwa siswa itu sangat jutek, cuek dan pedesnya ampun-ampunan.

"Apa kau bilang?! Seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu! Kau itu menghalangi jalanku tau?!" Renshi yang tidak terima akan hinaan dari siswa itu membalas memaki-makinya sambil menunjuk-nunjuk ke arah wajah siswa itu dan bernada sangat keras.

"Cih. Dasar newbie kampungan tidak berguna. Kaulah yang berlarian tidak jelas dan tidak melihat jalan dengan benar dan hati-hati." siswa itu menghina Renshi dengan nada yang kelewatan cuek!

"Kampungan?! Beraninya kau mengatakan hal itu pada seorang wanita yang baru saja kau temui! Di mana rasa sopan santunmu! Seharusnya kau meminta maaf padaku! Bukannya mengataiku seperti itu! Dasar bodoh!" omel Renshi

"Apa?!" ujar dingin siswa itu yang mulai kesal tapi pembawannya tetap tenang

"Kau itu bodoh! Lebih bodoh daripada simpanse liar! Orang paling bodoh dari kaum manusia terbodoh! BODOH! BODOH! BODOH!" (*Renshi galak)

Siswa berambut ungu gelap itu mendesak Renshi ke tembok. Kedua pergelangan tangan Renshi terkunci. Jarak wajah pria itu sangat dekat dengan wajah Renshi. Mata ungu gelap yang sangat pekat itu menatap ke dalam mata pink soft dengan sangat tajam.

"A-apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!" Renshi memberontak.

Tatapan mata pria berambut ungu gelap tersebut semakin tajam. (*setajam...SILET...hehehe)

"Cepat minta maaf padaku atau aku akan menghukummu, newbie." Wajah pria itu semakin dekat ketika dia berbicara.

Kedua ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Nada bicaranya yang cuek tegas jutek sangat dingin tapi sangat gentle itu membuat jantung Renshi berdebar-debar. Tatapan mata yang begitu tajam. Baru kali ini, Renshi menatap mata yang sangat tajam seperti itu. Wajah yang sangat dekat, begitu dekat, tatapan mata yang menusuk. Renshi tidak bisa berkata apapun. Memberontak beberapa kali pun percuma. Cengkramannya begitu kuat. Renshi merasakan pergelangan tangannya sakit karena cengkraman yang kuat tersebut.

Pintu gerbang utama terbuka. Kira keluar, di belakangnya diikuti Goemon dan Yoshitsune. Mereka bertiga melihat siswa berambut ungu gelap sedang menahan seorang wanita berambut hitam di tembok hingga tidak bisa bergerak. Dan jaraknya pun tidak jauh dari pintu tersebut

"Saizo! Hentikan!" Yoshitsune menghampiri siswa berambut ungu gelap pekat itu kemudian berdiri di depan Renshi untuk melindunginya.

Yoshitsune menatap Saizo dengan tatapan marah.

TBC