Langsung aja masuk aja ya ciin! Yuk! *nada banci author keluar

Tanpa disangka Kira bertemu dengan seorang pria berambut merah yang berbadan tinggi dan ideal. Goemon lah nama pria tersebut. Kira Nampak sangat membencinya. Renshi ingin mengetahui apa yang sedang terjadi diantara Kira dan Goemon dengan menyelidikinya lewat menguping pembicaraan mereka berdua. Tetapi, Renshi malah terjebak ke dalam masalah dengan seorang pria yang berambut ungu tua pekat yang super duper luar binasanya mengerikan! Nama pria itu adalah Saizo.

Chapter 3: They All are Here!

At Main Building
=========

"Saizo! Hentikan!" Yoshitsune menghampiri pria berambut ungu gelap pekat yang dipanggil Saizo itu, kemudian berdiri di depan Renshi untuk melindunginya.

Yoshitsune menatap Saizo dengan tatapan marah.

"Kau pikir apa yang kau lakukan?!" Yoshitsune geram.

Renshi terkejut akan ekspresi yang dilahirkan oleh Yoshitsune, karena selama ini Yoshitsune tidak pernah marah kepada siapapun. Meskipun kesal, Yoshitsune hanya memberikan senyuman manis ala iblis mengerikan yang siap untuk melahap mangsanya secara bulat-bulat, tetapi tidak pernah mengeluarkan ekspresi marahnya.

"Dan kau sendiri apa yang kau pikirkan?" Saizo menatap Yoshitsune dengan dingin, tajam, datar, dan sinis tingkat dewa.

Cara bicaranya pun merendahkan Yoshitsune.

"Apa maksudmu?"

"Kau bertanya apa yang ku lakukan bukan? Maka aku menjawab, apa yang kau pikirkan sehingga kau mau melindungi newbie kampungan itu, prodigy baka," dengan ketusnya minta ampun, Saizo memandang Yoshitsune dengan sangat amat duper merendahkannya.

Sikap meremehkan lawannya tergambar dimana kedua tangan Saizo dimasukan kedalam saku celananya.

Yoshitsune itu memang seorang siswa prodigy, karena umur yoshitsune itu baru berumur 17 tahun loh, alias baru kelas 2! Kelas 2 sudah menjabat sebagai vice principal?! Yoshitsune minta di tabok! Eh salah deh, Saizo yang perlu di tabok, anak prodigykan harusnya dihormatin, bukan direndahin. Benarkan kawan?! Dibilang baka lagi (baka = stupid), jelas-jelas prodigy. Dasar Saizo!

"Saizo jaga ucapanmu itu! Tidak seharusnya kau berbicara seperti itu pada Yoshitsune!" Goemon terpancing emosi oleh kelakuan Saizo yang tidak sopan tersebut.

"Kau juga harus menjaga sikapmu itu, Saizo!" lanjut Goemon.

"Aku mengatakan apapun yang ingin ku katakan, aku melakukan apapun yang ingin ku lakukan, dan aku tidak pernah peduli kepada siapapun. Tidak ada yang berhak mengaturku kecuali orang tuaku." Saizo menoleh ke arah Goemon dan Saizo semakin menjadi-jadi.

Tenang iya, pelan juga iya, tapi itu tuh judes, pedes, dan angkuhnya di level paling atas dari yang teratas!

"Kau...!" Goemon semakin emosi.

Termometer kemarahannya udah pecah. Goemon mengepalkan kedua tangannya sangat kencang dan bersiap-siap untuk meninju wajah Saizo.

TAK

DUK

TAK

Dari belakang, Saizo di hantam lemparan 3 minuman kaleng oleh seseorang yang mengenai belakang kepala Saizo.

"B*eng*ek! Apa yang kalian lakukan!" Saizo mengomel.

Itu pasti sakit ya Saizo, kasihaaan ckckck.

Terlihat 3 orang pria dengan 2 orang diantaranya mempunyai tampang ceria, yang satu good looking dan satunya manis, tapi keduanya tersirat muka-muka pembuat keonaran, dan sisanya berambut merah tampan, wajahnya tidak kalah mesum dengan Goemon. Mungkin ini lebih mesum.

"Ya ampun, kau ini tidak pernah mau berubah. Sudah kubilang berkali-kali jangan pernah berbuat kasar pada seorang wanita. Kau itu bodoh atau keras kepala?" ucap salah satu pria berambut merah yang memberikan nada gentle tapi tegas tapi sedikit tersirat nada mem-bully Saizo.

Dia mulai berjalan mendekati Saizo diikuti oleh 2 pria dibelakangnya. Yap benar sekali! Merekalah yang melempar 3 minuman kaleng tepat mengenai belakang kepala Saizo. Saizo hanya memandang ke-3 orang itu diam kesal.

Lagi-lagi rambut merah, kok banyak karakter berambut merah sih? Iya karena sang author mencintai warna merah! *dikeroyok masal*. Tenang para readers, jangan mengamuk. Alasannya bukan itu kok hehe. Saya akan menjelaskannya di end of this chapter 3, oke? Jadi bersabarlah dan tetap lanjutkan membacanya :D

Tiga pria itu kini berdiri di depan Saizo.

"Apa yang dikatakan Enya itu benar Saizo. Kau juga harus menjaga cara bicaramu. Meskipun Yoshitsune ini sebaya dengan kita, dia adalah vice principal di Akademi ini tau!" pria berambut coklat tua berkacak pinggang pada Saizo, sok dewasanya tergambar sudah.

PTAK

"Ow! Hey! Kenapa kau memukulku Sasuke?!" kepala pria berambut coklat tua itu di jitak keras oleh pria berambut kuning yang sedikit lebih tinggi darinya.

Pria berambut coklat tua itu memegang kepalanya dengan kedua tangannya karena sakit dan raut wajahnya kesal.

"Kau itu telah mencuri kata-kata yang ingin ku ucapkan pada si batu Saizo ini. Haaaaah, sekarang aku tidak tahu tau kata-kata apa yang pantas untuk menasehati Saizo tapi tetap meledeknya," pria berambut kuning ini menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan tangan kanannya, padahal tidak sedang gatal.

"Katakan sekali lagi, kau b*eng—" Saizo mengambil langkah untuk menghajar ketiga temannya yang sedari tadi hanya mem-bully dan memojokannya.

Tapi Saizo dihentikan oleh Yoshitsune dengan menahannya lewat memegang bahu Saizo.

"Hentikan Saizo. Di Akademi dilarang membuat keributan dan berkelahi." dengan tegasnya Yoshitsune berkata, Saizo berhenti dan hanya ber-tch kecil, lalu Saizo menepis tangan kanan Yoshitsune yang memegang bahunya itu.

"Saizo, Enya, Sasuke, Hyosuke temui aku di ruanganku sekarang, dan Goemon kau bantu aku untuk mengurus mereka berempat." perintah tegas Yoshitsune.

"Eeehh-! Kenapa kami harus ikut!?" ucap heboh Sasuke, pria yang berambut kuning.

"Itu benar Yoshitsune! Kita kan tidak melakukan kekerasan!" rengek Hyosuke, pria berambut coklat tua.

"Dan kita kan baru datang," tambah Enya, pria berambut merah.

"KALIAN SEMUA TERLAMBAT! MELANGGAR PERATURAN. JANGAN BANYAK PROTES, CEPAT PERGI KE RUANGANKU SEKARANG!" Yoshitsune meletuskan gunung api dengan sangat dahsyat di kepalanya. Yoshitsune kelewat kesal ternyataaa...

"Ba-baik!" Hyosuke dan Sasuke langsung lari ngibrit menuju ruangan Yoshitsune yang di gedung utama.

Sementara Enya hanya menghela napasnya dan Saizo...cuek-cuek aja. Engga peduli. Masa bodoh. Engga takut.

"Dasar" Yoshitsune bergumam mengeluh sambil menatap mereka dan menghela napasnya.

"Renshi, kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?" Yoshitsune menyentuh lembut pergelangan tangan Renshi yang dicengkram kuat oleh Saizo tadi.

"Tidak apa-apa, jangan khawatir, aku baik-baik saja kok. Terima kasih kau sudah melindungiku," Renshi tersenyum lembut kepada Yoshitsune yang mengkhawatirkannya.

"Apa kau yakin? Jika memang sakit dan terluka, akan ku obati sekarang. Dan kau bisa men-skip kelas. Aku sendiri yang akan mengizinkanmu," Yoshitsune berwajah sedih yang terlihat dari sorot mata biru tuanya.

'Aku ingin memeluk Renshi untuk menenangkannya, tapi jika aku memeluknya pasti akan terjadi gossip dan Renshi tidak akan menyukainya. Saat ini dia pasti masih syok karena perlakuan kasarnya Saizo tadi' pikir Yoshitsune.

"Sudah aku tidak apa-apa, ayolah tersenyum, jangan sedih seperti itu," Renshi berusaha menghibur Yoshitsune.

Sebenarnya Renshi masih merasakan sakit , tidak hanya lengannya tetapi punggung dan belakang kepalanya yang terbentur keras ke tembok jauh lebih sakit. Justru saat ini Renshi merasa sedikit pusing.

"Baiklah, jika memang itu yang kau rasakan," Yoshitsune tersenyum sangat lembut kepada Renshi.

Renshi yang melihatnya membalas dengan senyum khasnya Renshi, Senyum Pepsodent eh salah, senyuman ceria!

Yoshitsune menarik lengan jasnya beberapa centi untuk melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

"45 menit lagi kelas akan dimulai. Renshi, kembalilah ke asramamu. Kira kau juga harus kembali."

"Iya!" Renshi mengangguk dan ketika dia menghampiri Kira, wajah Kira benar-benar berubah 180 derajat!

Terlihat jelas kebencian dan kemarahan di wajah Kira.

Greeet… greet… greet…

Kira menggeret kopernya di tangan kirinya dengan tatapan dingin tanpa ekspresi. Renshi yang berjalan di samping kanannya semakin mengkhawatirkan Kira. Renshi tidak mau terjadi sesuatu pada Kira yang membahayakan diri Kira. Pikiran Renshi sudah mendapat ilham-ilham buruk tentang Kira dan pria yang bernama Goemon itu.

"Kira-chan," Renshi menoleh dan memanggil Kira pelan dan lembut, khawatir, dan disertai takut.

"Nani?"

"Apa yang sebenarnya terjadi? Kau...ekspresimu...berubah...apa terjadi sesuatu?"

"Tidak," nada Kira semakin datar dan semakin tanpa ekspresi.

'Dingin. Begitu dingin. Kira-chan saat ini, bukanlah Kira-chan yang biasa ku kenal. Sakit, sedih, melihat Kira-chan yang berbeda. Padahal, kemarin kita baru saja tertawa bersama, bersenang-senang bersama' Renshi berkata dalam hati.

"Bohong, pasti ada sesuatu kan?! Kira-chan ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?! Apa hubunganmu dengan pria yang bernama Goemon itu? Ceritakan padaku Kira-chan! Atau aku tidak mau berbicara padamu lagi!" Renshi menghalangi Kira berjalan.

Kedua tangan Renshi memegang bahu Kira yang terlihat mungil tapi penuh dengan beban. Renshi menatap tatapan Kira yang sangat dingin. Kira tidak pernah bersikap seperti itu pada Renshi.

"Apa yang ingin kau ketahui?"

"Goemon, pria yang bernama Goemon, siapa dia? Mengapa dia mengetahui namamu? Mengapa dia terlihat sangat mengenal dirimu?" dengan mantapnya pertanyaan Renshi meluncur dengan lancar.

"Dia kakakku."

"Kakakmu? Kau pasti berbohong! Dia itu kekasihmu kan?! Aku tidak suka kau berbohong!" Renshi ngotot kesal.

"Aku tidak berbohong. Bukankah seharusnya kau sudah mengetahuinya, wakil OSIS yang berpidato di aula tadi."

CTEK

Sengatan listrik menyambar otak di kepala Renshi, dia teringat akan sesuatu...

Flashback

Perkenalkan nama saya Goemon Ishikawa. Wakil ketua OSIS….

Goemon Ishikawa…..

Ishikawa…

I…..shi….ka….wa….(nada slow motion)

End of flashback

"HAAAAAA?! KENAPA KAU TIDAK BILANG JIKA KAU MEMPUNYAI SEORANG KAKAK LELAKI DI ACADEMY DISNEY INIIIII?!" Renshi berteriak menggemparkan dunia.

Suaranya yang bisa terdengar 1 kampung itu membuat Kira syok. Amukan Godzilla memang mengerikan!

"Kau saja yang telat mencerna," sweatdrop Kira turun dalam jumlah banyak.

"Tapi jika kau memberitahuku sejak awal bahwa kau mempunyai kakak lelaki di Academy Disney ini, aku tidak akan seperti ini juga!" Renshi tidak mau kalah dan tidak mau mengakui kesalahanya.

"Karena aku tidak mau membicarakannya," Renshi tersentak mendengar Kira berbicara seperti itu.

Entah mengapa, sikap dingin Kira semakin jelas terasa oleh Renshi. Kira mempunyai seorang kakak, tetapi Kira tidak mau membicarakannya? Bukankah itu adalah satu-satunya keluarga Kira yang masih hidup setelah kedua orang tuanya meninggal? Dan kenapa Kira terlihat sangat membenci pertemuannya dengan kakaknya? Entahlah...

Mereka sudah 11 tahun bersama. Jadi Renshi bisa memaklumi Kira karena Renshi memahaminya. Kini Renshi harus memberi waktu pada Kira. Renshi yakin dan percaya, Kira pasti akan membocorkan semuanya suatu saat nanti, cepat atau lambat.

Hal yang membuat Renshi janggal dan membuatnya tidak tenang adalah meskipun Kira sangat dingin seperti ini, Renshi merasa ada suatu perasaan yang belum pernah Renshi rasakan sebelumnya dari aura Kira. Entah benar apa tidak, suatu perasaan yang membuat Renshi takut sekaligus khawatir, timbul dari sikap, ekspresi, dan aura Kira saat ini. Perasaan seperti...kesedihan dan dendam disertai amarah yang begitu luar biasa tinggi.

Seluruh kelas telah dimulai. Renshi dan Kira telah berada di kelasnya masing-masing. Begitupun juga dengan Goemon dan teman-temannya. Saat ini, kelas Goemon sepi dan hening, karena guru yang mengajar kali ini adalah guru killer pembantai mental dan jiwa.

Goemon yang duduk di bangku dekat jendela sedang memainkan pensil di jemari-jemari tangan kanannya di atas meja dan tangan kirinya menyanggah kepalanya. Pandangannya tertuju pada buku yang diatas meja tetapi bukan karena sedang membacanya, tetapi sedang memikirkan perkataan yang diucapkan oleh adiknya, Kira Ishikawa.

Flashback

"Kira-chan, kenapa, kenapa kau seperti ini? Semenjak ayah dan ibu pergi, kau tidak pernah mau berbicara dan bertemu padaku. Ada apa denganmu Kira-chan?" Goemon berusaha untuk mengendalikan emosinya.

Dia berkata lembut dengan Kira tetapi diliputi dengan rasa kecewa dan sedih akan sikap Kira terhadapnya.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu Onii-chan," Kira menatap kakaknya penuh dengan amarah yang sangat tinggi.

Tatapan mata Kira mengerikan!

Goemon tersentak akan sikap Kira yang semakin membuatnya bingung.

"Apa maksudmu?"

"Jangan pura-pura tidak tahu Onii-chan. Aku sudah mengetahui semuanya. Kini aku bukan anak kecil yang polos dan mudah dibohongi lagi dan kau bukanlah sosok kakak yang kukenal, kukagumi, kuhormati, dan kubanggakan lagi. Aku sangat membecimuOnii-chan." Kira mengeluarkan aura kebencian yang semakin dalam.

Tatapan bengis, sinis, dan rasa ingin membunuh datang.

"Kira-chan, apa yang kau bicarakan? Aku benar-benar tidak mengerti. Kira-chan kumohon tolong—"

"SUDAH KUBILANG JANGAN PURA-PURA TIDAK TAHU DAN BERTINGKAH SEOLAH-OLAH KAU TIDAK BERDOSA! KAU TELAH MEMBUNUH AYAH DAN IBU! KAU TELAH MENCOBA UNTUK MEMBUNUHKU 11 TAHUN YANG LALU! KAU TELAH MENGHANCURKAN SEMUANYA! KAKEK, NENEK, PAMAN, BIBI, SEMUANYA, SEMUANYA TELAH KAU BUNUH! KENAPA KAU MEMBUNUH KELUARGAMU SENDIRI ONII-CHAN?!" Kira berteriak keras di hadapan Goemon.

Air mata yang hampir keluar dari mata merah Kira terlihat jelas. Goemon yang melihatnya dan mendengarnya tentu saja syok berat, adik kesayanganya mengatakan hal itu di depan dirinya?

"Kira-chan! Apa maksudmu? Ayah dan ibu—"

"SUDAH CUKUP! AKU TIDAK MAU MENDENGAR SEPATAH KATA DARI SEORANG PEMBUNUH DAN PENGKHIANAT SEPERTI DIRIMU! JANGAN PERNAH MEMANGGIL NAMA KU! JANGAN PERNAH MENDEKATIKU! DAN JANGAN PERNAH MENGUSIK KEHIDUPANKU LAGI! TINGGALKAN AKU SENDIRI! TINGGALKAN!" Kira berteriak dua kali lebih keras dan memejamkan mata sambil menundukan kepala.

Amarah Kira membuat Kira lepas kontrol. Air mata yang ingin tergelinang terlihat jelas di mata Kira pada saat Kira mendongak kearah Goemon dan Kira berusaha untuk menahannya agar tidak jatuh setetespun dengan sekuat tenaga.

End of flashback

"Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa Kira-chan berkata seperti itu? Bukankah ayah dan ibu jelas-jelas meninggal karena kecelakan? Paman dan bibi sedang bekerja di Amerika sedangkan kakek dan nenek bukankah meninggal karena sakit? Apa mungkin...aaarrghhh! Tidak mungkin! Tidak mungkin hal itu terjadi! Ini bukanlah dunia anime ataupun komik! Siaaal!" Goemon tanpa sadar mengacak-ngacak rambutnya dan gumamannya itu terdengar guru yang sedang mengajar dikelas.

'Apa yang harus kulakukan? Kira-chan kini tampak sangat membenciku. Perkataan Kira-chan itu...' Goemon berpikir keras.

Kepalanya tertunduk di atas kedua tangannya yang terlipat di atas meja.

"...wa"

(berpikir)

"...kawa"

(berpikir)

"Ishikawa!"

"BERISIK! KAU TIDAK TAHU JIKA AKU SEDANG BERPIKIR HA! Eh sen sei?" Goemon terbelalak.

Pada saat dia mendongak dan berteriak sangat kencang seperti itu, ternyata orang yang memanggil namanya itu bukanlah temannya, melainkan guru bahasa yang sangat killer. Jun Sensei. Goemon mati hari ini...

"A—anu sen—"

"TIDAK MEMPERHATIKAN PELAJARAN, BERTERIAK KEPADA GURU! KAMU MENULIS 984 KALIMAT BAHASA LATIN DAN BAHASA RUSIA DALAM SEMALAM!" Guru killer itu mengamuk dan menggebrak meja.

Singa raksasa telah mengaum keras permirsa!

"EEEEEEKKKKK?!" teriakan penolakan dan sentakan Goemon terdengar tak kalah kerasnya.

Teman-teman sekelasnya menertawakannya terbahak-bahak.

TBC

Sesuai janji saya, saya akan menceritakan mengapa banyak karakter yang berambut warna merah. Sebenarnya sih, akan dijelaskan di akhir chapter, tapi sepertinya terlalu lama, demi kebijakan sang author, berikut penjelasan fanfict ini.

Tokoh yang diambil untuk dijadikan cerita di fanfict ini adalah tokoh dari otomen-otomen games, yaitu my sweet prince, ninja love, dan destiny ninja. Sebagian besar dari situ. Dan mungkin karena kebetulan, tokoh yang saya ambil ini memang berambut merah. Bukan karena kesukaan warna author loh yaa, jadi jangan salah paham hehe.

Cerita yang dibuat adalah asli imajinasi saya. Jika memang bisa, saya akan membuat fanfict dari percampuran anime. Tetapi masih belum tahu kapan. Dan fanfict ini bergender engga jelas, engga ada bentuknya. Tapi rate yang pasti T!

Nah sekarang udah engga bingung lagikan? Mohon maaf, saya masih amatir hehe. Terimakasih sudah bersedia membaca fanfict saya yang bentuknya seperti amuba ini. Ditunggu reviewnya :D