CHAPTER 1

.

Pagi ini seperti biasa, Aku memulai kesibukan ku dengan membersihkan beberapa bagian rumah yang baru selesai dibangun serta membantu mengangkat beberapa balok kayu yang akan digunakan untuk membangun kembali Doujou utama yang belum sempat terselesaikan akibat dimulainya perang.

Dengan sekuat tenaga, aku mencoba mengangkat lembaran-lembaran kayu itu, lalu kubawa mendekat kepada para pekerja, untuk memudahkan serta mempercepat proses pengerjaan.

Hampir setiap pagi setelah berlatih aku melakukan hal ini, bukan karena ini adalah tugas yang telah ditetapkan padaku atau apapun. Namun hanya saja, aku sedikit tak nyaman saat seseorang sedang bekerja keras, sementara kau di sampingnya malah bersantai sambil menikmati segelas ocha. Dan sejujurnya, aku tak terlalu suka dengan orang seperti itu.

Hahh...

"1 minggu setelah perang berakhir pun pembangunannya masih belum selesai... kurasa memang benar, Doujou ini terlalu besar untuk dikerjakan beberapa orang saja..." Ucap ku dengan memandang ke arah dinding luar Doujou yang masih belum tertutupi oleh dinding kayu.

"Meskipun begitu... Kenapa ayah masih belum menambah jumlah pekerjanya!?"

Ku alirkan pandangan mataku ke arah Lima orang pekerja yang tengah memalu, menggergaji serta memasang lembaran-lembaran kayu itu membentuk sebuah dinding kayu.

Sejujurnya aku sangat takjub pada mereka. Hanya dalam 1 minggu mereka berlima sudah berhasil menyelesaikan hampir 90 persen dari keseluruhan Doujou besar ini, apalagi mereka tak pernah mengeluhkan jumlah bantuan serta besarnya pekerjaan.

Malahan, mereka terlihat begitu bersemangat, dengan kulit kecoklatan mereka yang terlihat mengkilat karena keringat kerja keras yang mereka lakukan.

Walaupun pekerjaan mereka sangat keras... tapi mereka tetap terlihat begitu senang, yokatta! Pikir ku dengan tersenyum simpul melihat ke arah para pekerja.

Terdiam memperhatikan para pekerja yang tengah mengerjakan bagian mereka masing-masing, tak terasa aku telah menghabiskan waktu 5 menit istirahat ku, dan sekarang...

"Yap! Istirahat sudah selesai! Waktunya kemba—"

"Hinata! Apa yang kau lakukan!"

Ucapan ku terhenti, saat suara seseorang disertai dengan gongongan anjing tiba-tiba terdengar dari arah belakangku, atau lebih tepatnya dari arah gerbang pintu masuk.

Aku sedikit terkejut karena suara mereka begitu keras kudengar, namun dari suaranya aku sudah bisa menebak jika mereka adalah Kiba-Kun bersama Akamaru-kun yang ditunggangi nya.

Mereka terlihat tergesa-gesa, apa yang terjadi?

"Kiba-Kun, Akamaru-kun... Tak biasanya kalia—"

"Apa yang kau lakukan! Kita ada misi! Apa kau sudah lupa!"

Aku sedikit tersentak saat Kiba-Kun tiba-tiba memotong perkataanku dengan nada yang cukup tinggi.

"E-ehh... Misi? K-ku kira misi pengawalan itu akan dimulai nanti siang..."

"Apa maksudmu! Kau tak diberitahu Shino!?"

"Diberitahu Shino-Kun? Tentang apa?"

"Arrghh! Pada akhirnya dialah akar dari semua masalah ini! Arrghh dasar sialan—"

Aku mulai kebingungan sekarang, melihat Kiba-Kun terlihat frustasi dan menggumam kan kata-kata yang bahkan tak bisa kudengar dengan jelas...

Apa yang dia lakukan...

"K-Kiba kun?"

"Maaf Hinata, aku sudah memarahi mu. Tapi semua ini terjadi gara-gara Shino..."

"G-gara-gara Shino-Kun?"

"Yah... Aku mendapatkan perubahan jadwal dari Naruto tadi malam, jika misi hari ini akan dimulai lebih cepat, aku tak bisa memberitahu mu, jadi aku menyuruh Shino, tapi sepertinya dia malah tak memberitahu mu... Maaf Hinata!"

"T-tidak apa-apa Kiba-Kun, l-lagipula ini juga kesalahanku yang tak mau mencari tahu, Kalau begitu aku akan siap-siap dulu."

"Ahh, baiklah kalau begitu, aku akan menunggu mu dibawah gerbang utama bersama Shino, kau harus cepat Hinata!"

"U-umm! Aku akan menyusul mu." Lambaian tanganku mengantar kepergian Kiba-Kun yang telah menghilang dibalik tembok kayu pembatas jalan. Ku turunkan tanganku lalu ku lirik ke arah beberapa balok kayu yang masih belum sempat ku angkat...

"Hanya dua... mungkin akan ku selesaikan dulu, lalu bersiap-siap..." Ucap ku membulatkan tekat, lalu menyingsingkan kembali kedua lengan jaket ku sampai ke siku. Dengan usaha yang cukup keras, akhirnya aku bisa berhasil mengangkat dua balok kayu itu sekaligus.

Setelah selesai dengan pekerjaan mengangkat kayu. Aku langsung berlari menuju kamarku, mengganti Jaket lavender yang selalu ku gunakan di kala senggang dengan seragam khusus Chuunin, mempersiapkan senjata dan peralatan, lalu pergi berlari keluar menuju tempat Kiba-Kun dan Shino-Kun menunggu ku.

oOo

Misi telah selesai, dan tepat pukul dua dini hari akhirnya kami telah sampai kembali di desa Konoha.

Sesaat Setelah kami melewati gerbang besar yang baru saja selesai dibuat, Shino-Kun langsung memutuskan untuk berbelok ke arah yang berlawanan untuk langsung pulang menuju rumahnya.

Sementara kini disamping ku hanya ada Kiba-Kun bersama Akamaru-kun yang juga terlihat begitu kelelahan setelah mengantarkan Daimyo negara angin pulang ke negerinya yang memakan waktu hampir satu hari penuh.

"Hinata... kau tak apa kan? Aku tak pernah menyangka kau sehebat itu..."

"Eh? Maksud Kiba-Kun?"

"Ya, aku tak pernah menyangka malah kau yang akan melindungi ku dari serangan mendadak kelima bandit itu, aku benar-benar berterimakasih..."

"Tidak apa-apa Kiba-Kun. Lagipula, sudah sepantasnya teman harus saling melindungi..."

"Hahh... Tapi aku sedikit tak suka..."

"E-ehh...k-kenapa?"

"Yah...Aku senang kau bertambah cukup kuat setelah perang, tapi tetap saja, aku tak bisa senang jika aku yang seorang laki-laki malah dilindungi seorang gadis seperti mu..."

'S-seperti ku?' A-apa maksudnya? A-apa Kiba-Kun benci di lindungi oleh orang lemah s-seperti ku...

"M-maaf..." Ucap ku sambil menunduk, lalu tak berapa saat kemudian, sebuah jitakan kecil langsung mendarat diatas kepalaku

Tuk!

"Booodoh... Kenapa kau malah minta maaf?"

"E-eh..."

"Seharusnya kau senang, kau sudah cukup kuat... bukankah kau bermaksud untuk membuat ayahmu senang?"

"I-itu..." aku hanya bisa menunduk...

Tak tahu harus menjawab bagaimana tentang pertanyaan Kiba-Kun, karena pada kenyataannya pandangan ayah kepadaku tak pernah berubah sampai sekarang, atau mungkin bisa dibilang pandangannya kepadaku malah semakin memburuk setelah perang berakhir, fakta tentang Neji-Nii harus tewas karena melindungi ku adalah satu-satunya hal yang membuat posisi ku semakin terpojok kan dimata Clan serta ayahku sendiri.

"Ada apa? Apa ayahmu masih meragukanmu?"

"A-aku tak bisa menjawabnya..."

"Hahh... sebenarnya aku tak terlalu mengerti dengan pola fikir seorang seperti ayahmu. Dia memiliki seorang anak gadis yang luar biasa seperti mu, tapi dia malah..."

"A-aku masih l-lemah Kiba-Kun, j-jadi jangan berbicara seperti itu..." Ucap ku memotong perkataan Kiba-Kun. Namun entah kenapa mendengar ucapan yang baru saja Kiba-Kun lontarkan, sedikit membuat perasaan sedih serta lelah yang tengah menyerang ku sedikit berkurang.

"Aku tak membicarakan soal kekuatan... A-aku membicarakan t-tentang hal lain yang ada didalam dirimu..."

"Hal Yang lain?"

Kutolehkan wajah ku memandang tepat ke arah wajah Kiba-Kun, Aku sedikit tak mengerti ucapan Kiba-Kun di bagian 'hal yang lain...' Namun, sekarang yang lebih membuatku tak mengerti lagi adalah...

"Kiba-Kun? Wajah mu merah...Apa kau sakit?" Ucap ku sedikit khawatir.

"B-bodoh! Apa yang kau lihat!"

Namun dia malah memalingkan wajahnya...

A-apa aku melakukan kesalahan?

"M-maaf..."

"Hahh... maaf sudah membentak mu, tapi yang kumaksud adalah...Kau luar biasa dibidang lain, seperti..."

"Seperti?"

"Dalam hal Memasak mungkin, atau dalam h-hal lainnya yang tidak setiap orang b-bisa melakukannya, a-apalagi m-menurut ku k-kau gadis yang cukup m-manis... J-jadi.."

"E-ehh.. m-manis?"

Mendengar kata itu, entah kenapa kurasakan wajah ku mulai sedikit memanas, terlebih lagi saat pandangan mata kami secara tak sengaja bertemu.

"Y-yaa, k-ku fikir... K-kau itu...E-Eto..."

"A-argh! Sudahlah, Lagipula kita sudah sampai, Cepat masuk sana!"

"E-ehh!? S-sejak kapan?"

Dengan semua pembicaran ku tadi bersama kiba-kun, aku benar-benar tak sadar jika perjalananku telah berakhir tepat didepan gerbang masuk rumahku.

"Sudahlah diam dan cepat masuk sana! Udara semakin dingin, aku tak mau kau sakit!"

"B-baiklah... J-jaa ne Kiba-Kun..."

Tanpa berkomentar lagi, aku langsung berbalik dan berjalan menuju rumah utama, namun baru beberapa meter melangkah, beranjak dari samping Kiba-Kun. Aku menyadari sesuatu yang sangat penting yang hampir saja terlupakan.

Aku pun berhenti lalu berbalik dan tersenyum ke arah Kiba-Kun yang masih menunggu ku disana.

"A-arigatou na...Kiba-Kun"

oOo

Di Pagi hari yang cerah ini, seperti biasa daftar aktifitas ku tak ada yang berubah. Dimulai dengan bangun tepat jam 4 pagi, lalu memulai aktifitas yang selalu menjadi kebiasaan ku, seperti menyiapkan makanan, Mandi, lalu memulai latihan kecil di Doujou.

Namun, jika dikatakan sama seperti di hari-hadi yang biasanya, sepertinya kurang begitu tepat, lantaran pagi ini aku memulai latihan ku bersama dengan Adik perempuanku, Hanabi-Chan

Di hari biasanya, dia hanya akan berlatih bersama ayah, saat aku sedang menyiapkan makanan. Namun pagi kali ini aku sedikit terkejut, lantaran saat aku sampai di Doujou dan kulihat Hanabi-Chan tengah berlatih sendirian disana. Saat ku tanya kenapa tak berlatih bersama ayah, ia hanya bisa menjawab seperlunya jika ayah belum pulang dari misi bersama para tetua Clan untuk pergi ke Suna.

Mendengar ucapan darinya sesaat aku teringat jika ayah memang memiliki misi pergi ke Suna bersama beberapa tetua Clan. Aku bisa memahami hal itu, dan entah kenapa perasaanku sedikit merasa senang, aku benar-benar tak pernah menyangka jika pada akhirnya aku bisa memiliki kesempatan untuk berlatih kembali bersama-sama dengan Hanabi-Chan.

Dia hanya mengangguk saat aku bertanya, apakah aku boleh bergabung. Aku benar-benar merasa senang dia setuju, karena aku memang benar-benar menginginkan moment seperti ini sejak terakhir kali kami berlatih bersama Neji-Nii di Doujou ini.

oOo

Ahh, bahkan tak terasa lelah sekalipun saat aku tersadar bahwa kami telah menghabiskan waktu berlatih bersama hampir selama dua jam lebih...

"Hanabi-Chan mau teh? Kakak ambilkan ya..."

"..." Aku hanya tersenyum saat kulihat ia hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun untuk menanggapi pertanyaanku.

"Baiklah, kakak akan cepat kembali... Tunggu sebentar yaa..."

Hahh...

Hanya suasana seperti inilah yang membuatku bersyukur bisa menjadi seorang kakak, Pikir ku sambil berjalan cepat menuju dapur untuk mengambil segelas Ocha untuk Hanabi-Chan.

oOo

Sambil menuangkan Ocha kedalam dua buah gelas ocha yang telah ku siapkan, Ku alirkan sesaat pandangan mataku ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul 8 pagi.

"Seharusnya ayah sudah pulang sekarang..." Ucap ku lalu menurunkan teko yang berisikan Ocha hangat itu lalu mulai mengangkat nampan berisikan dua gelas Ocha hangat untuk Hanabi-Chan.

Aku berjalan dengan semangatnya melewati teras rumah untuk menuju ruangan Doujou. Sekarang ini, yang ada di pikiranku hanyalah...

Aku tak boleh membiarkan Hanabi-Chan kecewa karena menunggu ku terlalu lama!

Setelah sekian lama kami tak saling berbicara, aku tak mau hanya karena terlalu lama membawakan Ocha, kesempatan untuk berbicara dengan Hanabi-Chan akan hilang begitu saja.

Aku tak Akan membiarkannya...

Namun tak pernah kusangka, saat akan berbelok di ujung teras, sebuah rombongan tiba-tiba muncul dari arah yang berlawanan.

Tepat di depanku.

Prang!

Aku tak bisa menghindarinya...

Kedua gelas berisikan Ocha hangat beserta nampan yang tengah kubawa, jatuh dan tumpah membasahi baju seorang yang berjalan dibarisan paling depan, dan berita buruknya...

Orang itu adalah salah satu Tetua Clan.

G-gawat!

"—ma-maafkan s-saya Hazou-Sama!" Ucap ku menunduk lalu mulai berusaha membersihkan noda teh yang menempel di kain kimono putih pakaiannya.

"D-dasar bodoh! Apa yang kau lakukan Hinata!" kudengar bentakan ayah yang tengah berdiri tepat di belakang sang tetua Clan, sepertinya IA telah benar-benar kecewa padaku.

"M-maaf... s-saya benar-benar tak sengaja... Saya..."

"Sudahlah... Kita harus cepat, Hinata-san, tolong menyingkir dari hadapanku."

Aku tersentak saat mendengar ucapan dengan nada penuh intimidasi itu. Tapi lagi-lagi tak ada hal yang bisa kulakukan, aku hanya bisa diam menerima semua perkataan itu dan menuruti apa yang dikatakannya.

Sambil membungkuk, aku mencoba memunguti kedua gelas ocha yang masih tergeletak di atas lantai, lalu menyingkir untuk memberi ruang berjalan bagi pada rombongan itu

Aku masih terus menunduk saat kudengar sayup-sayup suara ayah yang terus meminta maaf karena kesalahanku, juga beberapa pengawal yang terdengar tengah membicarakan ku. Namun yang paling membuatku tercengang adalah...

Saat ku sadari Hanabi-Chan tengah ikut berjalan di barisan paling belakang bersama seorang pengawal, tanpa melihat ke arah ku dia berkata...

"Dasar tidak berguna..." kepadaku...

Aku tak pernah menyangka Hanabi-Chan akan berkata seburuk itu kepadaku...

Setelah mendengar perkataan itu dari Hanabi-Chan, bahkan sebelum ku sadari kedua mataku telah mengeluarkan air mata yang langsung tumpah membasahi wajahku lalu turun dan jatuh menetes ke atas punggung tanganku yang masih menggenggam erat sebuah nampan kayu.

"Hiks...Hiks..." kenapa semuanya berubah menjadi seperti ini...

Semua ini terlalu menyakitkan...

oOo

Setelah insiden tadi pagi yang benar-benar mengganggu pikiranku, aku memutuskan untuk menenangkan diri di sebuah tempat yang akhir-akhir ini selalu ku kunjungi untuk meluapkan isi fikiranku.

Entah sudah berapa lama aku memeluk batu Nisan bertuliskan Nama Hyuuga Neji ini sambil terus meluapkan rasa sakit di dadaku dengan menangis. Namun yang kurasakan sekarang adalah suhu udara hari sudah mulai memanas. Setelah ku sadari, matahari sudah berada tepat di puncak singgasana nya.

Ku-usap bekas air mata yang baru beberapa menit yang lalu ini berhenti dengan menggunakan lengan jaketku, lalu mencoba bangkit dan berdiri.

Sekarang aku sedang tak berfikir untuk segera kembali ke rumah, bukan karena takut atau apapun. Perasaan tak siap bertemu dengan ayahlah yang membuatku berfikir jika hal inilah yang terbaik, dan karena itulah, aku mulai mencoba berusaha mencari tempat yang nyaman untuk kembali menyegarkan fikiranku.

Ku jatuhkan pantatku diatas rumput dan kusenderkan punggungku di batang sebuah pohon besar, mencoba menikmati setiap hembusan angin yang begitu menyegarkan. Sinar panas sang mentari tak akan bisa menembus dedaunan lebat pohon ini, dan karena itulah aku memilih tempat ini.

Ku tatap lurus ke depan, ke arah sebuah monumen batu yang dibuat khusus untuk mengenang para shinobi yang telah gugur dalam upaya mereka melindungi desa.

"Neji-Nii..."

"...Kenapa dulu bukan aku saja..." entah kenapa, saat kalimat itu dengan lancarnya mengalir keluar dari lubuk terdalam didalam hatiku, diwaktu yang bersamaan, dadaku langsung terasa nyeri, seperti rasa sakit yang diakibatkan dari tusukan ribuan jarum yang tepat menyerang di bagian jantung ku.

"Hiks... Kenapa bukan aku yang lema-"

"Hinata? Apa yang kau lakukan disini?"

"E-eh!"

oOo

"Na-Naruto-k-kun!" Pekik ku terkejut.

Tiba-tiba melihatnya berdiri dengan gagahnya tak jauh disamping ku dengan jubah kebanggaan nya yang berkibar karena tiupan angin.

S-sejak kapan...

A-aku bahkan tak sempat merasakan chakranya...

"Ne...Apa yang kau lakukan di Te—H-Hinata... K-kau baru saja menangis!?" Pekik nya tiba-tiba yang langsung membuatku terkejut.

Sepertinya ia baru saja menyadari bekas air mata diwajahku yang belum sempat kubersihkan

"I-ini? B-bukan kok...I-ini Cuma..." Ucap ku berusaha membersihkan setiap bekas air mata yang tercetak di kedua pipiku.

"Cuma?"

"A-aku Cuma t-teringat Neji-Nii, d-dan tak sengaja air mataku keluar..."

"Ohh..." Ucap nya puas dengan jawabanku, walaupun sejujurnya aku tak berfikir jika jawabanku akan berhasil, namun setidaknya Naruto-Kun mau mempercayainya.

"Ne... mumpung kau disini...ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan padamu."

"E-eh..."

"Na-Naruto-Kun!" Pekik ku saat Naruto-Kun tiba-tiba berjalan dan duduk tepat disamping ku. Kurasakan wajah ku tiba-tiba memanas saat pundak kami saling bersentuhan satu sama lain.

D-dia terlalu d-dekat...

"H-Hinata m-maaf...aku menakuti mu?"

"B-bukan itu...N-Naruto-k-kun t-tidak menakuti ku k-kok..."

"Tapi kenapa kau menjauh?"

"I-itu..."

"—a-ano! Na-Naruto-Kun b-bilang a-ada hal yang i-ingin di-t-tanyakan p-padaku?" Ucap ku mencoba mengalihkan perhatian. Lagipula jika pembicaraan tadi diteruskan, aku benar-benar tak tahu harus memberikan jawaban seperti apa.

"Ahh benar, sejujurnya ini sedikit pribadi, tapi aku berharap kau mau memberikan jawaban yang jujur dan jelas..." ucapnya dengan kedua mata seindah Sapphire miliknya terfokus pada tangannya sendiri yang tengah memainkan sehelai rumput.

"P-pribadi?" t-tentang apa!?

"Y-ya... A-ano... M-menurut mu..."

E-ehh... A-apa?

"M-menurut mu H-Hinata..."

Ku perhatikan tepat pada wajahnya mulai merona merah. A-apa maksudnya? Aku mulai semakin gugup menanti lanjutan dari pertanyaan yang akan diucapkan oleh Naruto-Kun padaku.

"Y-ya..."

"A-apa k-kau...E-Eto...S-setuju a-aku..."

E-ehh...

"A-apa kau setuju! K-kalau aku...B-berpacaran d-dengan S-Sakura-Chan!"

DEG!

A-apa?

"Y-ya, K-kufikir mungkin a-akan lebih b-baik k-kalau aku bisa mendapatkan m-masukan darimu..."

DEG!

DEG! DEG!

"K-kau sahabatnya kan... Terlebih lagi— A-ano Hinata...Kau mendengarku?"

DEG!

"Hinata? Hinata!"

"E-eh... A-apa?"

"Kau mendeng—E-ehh k-kenapa kau menangis!?"

"A-aku? T-tidak menangis!" Ucap ku berusaha lagi menghapus setiap cairan bening yang keluar dari kedua mataku.

K-kenapa aku menangis...

"H-Hinata... Kau tak apa kan?"

"U-umm, aku baik-baik saja..." Aku benar-benar telah hancur.

"Nee...b-bagaimana menurut mu...K-kalau kau tidak setuju... K-kata—"

"K-kurasa i-itu adalah hal yang bagus Na-Naruto-Kun!" Ucap ku dengan berani memotong perkataan Naruto-Kun. Walaupun sebenarnya bukan hal itu yang ingin ku-ucapkan padanya...

Aku benar-benar tak setuju!

A-aku mencintaimu lebih dari apapun...

Naruto-Kun

"H-Hinata..."

"A-aku b-berfikir, m-mungkin i-inilah yang terbaik... A-aku tahu Na-Naruto-Kun s-sudah mencintai Sa-Sakura-San sejak dulu, j-jadi ku fikir sekarang adalah kesempatan yang..."

Aku benar-benar tak bisa berhenti mengatakannya...

Ada apa denganku ini, aku tahu semua ini yang tebaik, tapi...

"T-tapi...Hinata..."

"Na-Naruto-Kun a-ku harus pergi!" Ucap ku langsung pergi meninggalkan Naruto-Kun yang masih terdiam kebingungan disana...

Kuabaikan teriakan-teriakan Naruto-Kun memanggil ku, sementara kedua telapak tangan kananku terus berusaha menghentikan air mata yang tak bisa berhenti membanjiri kedua pipiku, serta jantung ku yang semakin terasa sakit mengingat perkataaan yang baru saja diucapkan oleh Naruto-Kun

"Naruto-Kun...hiks..."

oOo

Malam ini persis sama seperti malam kemarin, bintang-bintang bertebaran, mengelilingi bulan purnama yang begitu indah menenangkan. Namun yang membedakan nya sekarang ini adalah, jika kemarin aku menikmati nya bersama Kiba-Kun dan juga Akamaru-kun sambil berjalan pulang. Sekarang? Aku hanya bisa menikmati nya disudut tempat kamar sambil terus memeluk bantal hadiah dari Neji-Nii dua tahun yang lalu.

Ku pandang cahaya rembulan yang menyeruak masuk melalui jendela yang kubiarkan terbuka dan menyinari sebagian dari ranjang tempat tidur ku.

Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari dan sampai sekarang, aku masih tak bisa tidur. Terus terang, sejak kepulangan ku setelah bertemu dengan Naruto-Kun tadi siang, aku terus memikirkan hal yang diucapkannya, apalagi ditambah dengan semua hal menyakitkan yang terjadi di pagi hari tadi.

Memikirkan hal itu, tak kusangka air mataku mulai merembes lagi...

Ahh entah sudah berapa kali malam ini aku menangis...

Aku tahu semua itu demi kebaikan Naruto-Kun.

Aku tahu jika aku tak boleh lemah dan cengeng, tapi...

Aku benar-benar tak tahu bagaimana cara menghentikan rasa sakit di dadaku ini.

Ku eratkan pelukan ku pada bantal berwarna lavender ini dengan maksud untuk menyalurkan dan mengurangi rasa sakit yang terus saja menyerang tepat di bagian jantung ku.

"Hiks...I-ini...Lebih sakit dari luka waktu itu..." Ucap ku teringat tentang kekalahan ku bertarung melawan PEIN saat usahaku gagal dalam menyelamatkan Naruto-Kun.

Luka yang begitu menyakitkan itu benar-benar tak sebanding dengan rasa sakit dari luka yang kuterima hari ini...

"Naruto-Kun! Hiks... kenapa..."

DUK!

"E-eh! S-suara apa!?" Pekik ku terkejut, ku-usap air mata yang masih mengalir, lalu kuputarkan pandanganku meneliti ke setiap penjuru ruangan kamar tidur ku, mencari sumber suara aneh yang baru saja kudengar.

DUK! GLUDUK!

"D-dari kolong tempat tidur!?" Tak salah lagi, suara itu... berasal dari bawah!

Mulai penasaran dengan asal dari suara itu, aku memutuskan untuk merangkak dan turun dari tempat tidur lalu mencari tahu apa yang ada dibawah kolong tempat tidur ku.

"T-tikus kah?" Sedikit ragu-ragu, aku mulai melihat Ke dalam kolong tempat tidur ku, aku sempat mengira jika suara itu berasal dari se-ekor tikus, namun persepsi tanpa sadarku telah benar-benar salah, lantaran disana...

Yang kulihat malah secercah cahaya yang menyeruak keluar dari bawah lantai.

"C-cahaya apa!?" Pekik ku terkejut, dan saat kulihat lebih teliti, cahaya yang berasal dari bawah lantai itu merangsek keluar melalui sisi-sisi pintu kecil berbentuk persegi yang sebelumnya belum pernah kuketahui.

"A-apa sebelumnya ada pintu disini?"

Tak ada rasa takut sekalipun, malah sekarang kepalaku malah dipenuhi dengan rasa penasaran tentang cahaya itu.

Tanpa ragu atau mempertimbangkan apapun lagi, aku langsung berdiri dan dengan usaha yang cukup keras, akhirnya aku bisa memindahkan tempat tidur ku untuk lebih memberi ku ruang untuk memperlihatkan pintu misterius yang baru saja kutemukan ini.

Aneh... Pikirku lalu berjongkok dan memperhatikan pintu kecil yang sisi-sisinya yang ter bingkai oleh besi berbentuk persegi dengan panjang sisi-sisinya kurang lebih 40 centimeter. Dan sampai sekarang, dari balik pintu di depanku ini, sumber cahaya yang tak kuketahui asalnya, dan juga suara anehnya tetap terdengar dengan jelas.

"H-hangat..." Saat ku sentuh permukaan pintu ini, aku semakin penasaran dengan apa yang ada di baliknya.

"A-apa yang ada di dalamnya!?" Dan tanpa ku sadari, jari-jemari ku entah sejak kapan sudah menyentuh gagang pintu yang terbuat dari besi Kuningan berbentuk lingkaran.

B-buka atau tidak!

Berkecimpung dengan pikiranku sendiri yang terus dibingungkan dengan keputusan untuk membuka pintu itu dan mengetahui apa yang ada di baliknya, atau meninggalkannya seperti tak pernah terjadi apapun, dan tak akan pernah mengetahui apa yang ada dibalik pintu ini.

Setelah berfikir beberapa kali, pada akhirnya aku memutuskan untuk mengintipnya sedikit, aku hanya berfikir, mungkin aku akan mengambil jalan tengah saja.

Tanganku sedikit gemetar saat kuangkat sedikit daun pintu itu ke atas, langsung menyeruak kan cahaya putih yang langsung menerpa wajah ku, membutakan sesaat pandangan kedua mataku.

Perasaan tak enak tiba-tiba muncul didalam benakku

"C-cahaya ini...b-berasal dari mana!?" semakin penasaran, kuputuskan untuk membuka pintu itu sepenuhnya.

Dibalik pintu itu...

Aku sempat terkejut, karena aku tak pernah menyangka jika tepat dibawah kamarku terdapat sebuah ruangan yang cukup besar. Penasaran, aku mencoba mengintip ke dalam ruangan yang cukup terang itu, aku tak tahu sumber cahaya itu berasal dari mana. Tapi sekarang yang ku tahu, ruangan ini berukuran kurang lebih 5 kali 5 meter yang dipenuhi dengan peti-peti kayu berbagai ukuran.

Mungkin ruangan ini sudah ada sebelum rumah yang lama hancur...

Melihat ada tangga yang menghubungkan lantai kamar tidur ku dengan ruangan bawah tanah ini, aku memutuskan untuk menuruni-nya.

Dari dalam sini aku sesekali masih mendengar suara aneh itu, tapi yang paling membuatku bertanya-tanya adalah sumber cahaya yang sangat terang ini berasal.

Aku sempat berfikir jika cahaya ini berasal dari sebuah lentera, namun sepertinya tidak. Aku berfikir, tak mungkin sebuah lentera bisa menghasilkan cahaya se terang ini, apalagi sebelumnya tak ada yang pernah masuk ke dalam ruangan ini, sangat tidak mungkin jika kemungkinan ku itu benar.

Ku putar-kan pandanganku untuk meneliti setiap sudut ruangan ini untuk mencari sumber dari cahaya aneh ini, dan saat pandanganku sampai pada sebuah peti kayu dengan ukuran yang cukup besar itu, sepertinya aku telah menemukan jawabannya.

Sember cahaya ini sepertinya berasal dari sana...

Tanpa ragu aku mulai melangkah... hanya beberapa langkah saja sampai akhirnya aku sampai tempat disamping peti kayu yang berukuran panjang dan tinggi kira-kira satu meter ini.

Aku sempat ragu dengan kekuatanku saat ingin memindahkan dan mencari tahu apa yang ada dibalik-nya, namun saat peti kayu itu kucoba mendorongnya, tak seperti yang ku duga, peti kayu ini benar-benar ringan.

Tak membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup lama sampai aku bisa melihat apa yang ada dibalik-nya. Sebuah Peti kayu dengan tinggi kira-kira satu setengah meter.

Namun yang membuatku terkejut melihatnya bukanlah peti kayu yang telah termakan usia itu, namun melainkan sebuah benda aneh di atasnya, atau lebih tepatnya melayang dengan bebas diatas peti kayu ini.

Aku tak yakin itu apa, tapi benda berbentuk kubus kecil yang tengah melayang inilah yang menjadi sumber cahaya menyilaukan yang tengah kucari.

Walaupun cahaya yang dihasilkan dari kubus itu cukup menyilaukan untukku mengamatinya, namun aku masih bisa melihat nya dengan jelas sesekali kubus yang melayang itu terjatuh, membentur permukaan peti kayu di bawahnya dan menghasilkan suara yang cukup keras akibat benturan dengan peti kayu itu.

Berbekal rasa penasaran, aku memutuskan untuk menyentuh kubus itu, sedikit demi sedikit jari-jemariku terus bergerak maju untuk menyentuh dan menemukan jawaban dari rasa penasaran ku.

Benda apa ini?

Kenapa bisa terbang?

Sedikit demi sedikit, tanganku terus bergerak maju, dan saat ujung jari tengah ku menyentuh tepat dialah satu permukaan kubus itu.

Entah apa yang terjadi, Tapi cahaya terang yang berasal dari kubus ini tiba-tiba menghilang. Aku sempat terkejut, karena tiba-tiba ruangan diseklilingku berubah menjadi gelap gulita, cahaya bulan dari kamarku pun sepertinya tak bisa masuk ke dalam ruangan bawah tanah ini.

Aku sedikit panik, namun sesaat kemudian, cahaya biru temaram tiba-tiba muncul dari kubus itu.

Tidak! Lebih tepatnya dari huruf-huruf kanji aneh yang terukir di setiap sisi permukaan kubus itu.

"C-cantik..."

Begitu indah kulihat, seakan pandangan mataku terkunci ke dalam keindahan cahaya dari kubus hitam ukuran kurang lebih 8 kali 8 centimeter.

Kubus itu terus mulai melayang dan berputar seperti sebelumnya. Aku pun terus memperhatikannya, dan tanpa sadar kubus itu telah berpindah ke atas kedua telapak tanganku.

Sekarang, kubus itu melayang tepat diatas kedua telapak tanganku. Entah apa yang ku fikirkan saat aku secara tak sadar mengambilnya.

Aku tak tahu tentang benda misterius ini, namun saat ini yang kurasakan hanyalah, kubus ini sama sekali tak berbahaya.

Tapi...

"e-eh?"

Tak tahu kenapa, Kubus itu tiba-tiba berhenti melayang dan langsung terjatuh tepat diatas kedua telapak tanganku yang tengah menadah.

"Apa yang te-" Bahkan aku tak sempat menyelesaikan ucapan ku, saat kubus di telapak tanganku ini tiba-tiba hancur menjadi pecahan-pecahan kaca bercahaya -pecahan itu mulai melayang bebas ke udara, lalu berkumpul dan bergabung kembali membentuk sosok tubuh seorang manusia.

Aku sekarang benar-benar tak tahu apa yang terjadi, atau lebih tepatnya takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. saat pecahan-pecahan itu telah benar-benar sempurna berkumpul dan berubah menjadi sosok seorang manusia, atau tepatnya seorang Laki-laki berambut hitam dengan Pakaian yang aneh.

Aku terus memperhatikannya, sekarang sosok itu telah membuka kedua matanya, menampakkan dua Kristal Ruby menyala yang langsung menatap tajam ke arah ku.

Tentu saja aku ketakutan berada di kondisi seperti ini.

Tanpa sadar, kedua kakiku mulai melangkah mundur menghindari sesuatu yang akan terjadi yang mungkin saja membahayakan diriku.

Aku terus berusaha menambah jarak, sementara pandangan kedua mataku terus terkunci pada sosok itu. Namun, tiba-tiba kurasakan salah satu kaki-ku membentur sebuah peti kecil yang tak ku sadari.

Tubuhku benar-benar kehilangan keseimbangan dan langsung terhempas kebelakang menghantam lantai kayu yang dipenuhi oleh debu. Kedua mataku terpejam menahan rasa sakit di yang menyebar di area punggung serta pantat-ku yang langsung menghantam lantai.

Namun...

Saat rasa sakit ku mulai menghilang, dan saat aku mulai bisa membuka kedua kelopak mataku.

Entah sejak kapan, aku benar-benar tak menyadarinya...

Jika sosok itu telah berada tepat di atasku, dengan kedua lengan yang dia gunakan untuk menopang tubuhnya serta mengurungku didalam kekuasaannya. Wajahnya begitu dekat dengan Pandanganku yang benar-benar terkunci pada kedua mata merah tajam nya yang benar-benar indah. Dan sebelum aku tersadar...

Dia telah benar-benar mengunci bibir ku dengan ciuman nya...

E-eh...

oOo