CHAPTER 2
"PERMULAAN"
Hinata hanya bisa terpaku dalam diam, menyaksikan bagaimana sebuah kubus kecil berukuran 8 kali 8 centimeter yang sempat berada diatas telapak tangannya tiba-tiba berubah wujud menjadi sosok seorang manusia. Entah bagaimana ia harus menyikapi hal ini didalam kondisinya dan situasinya yang seperti ini, namun yang pasti, hanya perasaan ketakutan-lah yang sekarang tengah mendominasi situasi didalam hatinya.
Mulut kecilnya menganga tak percaya, sementara Kedua mata indahnya melebar menatap sosok manusia yang awalnya hanya sebuah kubus kecil yang aneh.
Berambut Hitam pekat dengan sepasang mata seindah Kristal Ruby.
Hinata terus memperhatikan sosok itu didalam kebingungan. Sampai pada akhirnya sosok itu tiba-tiba berbalik menatap dirinya dengan tatapan setajam seperti se-ekor singa yang siap menerkam mangsanya.
Hinata sontak terkejut saat menyadari tiba-tiba pandangannya saling bertemu dengan sepasang mata merah menyala itu. Saling beradu pandang satu sama lain, Tak perlu waktu lama untuk Hinata sampai dirinya tersadar, bahwa insting Ninja-nya mengatakan jika sebuah kekuatan menakutkan tengah bersemayam dibalik sorot mata tajam itu.
Menyadari hal itu, tanpa sadar, Hinata perlahan bergerak menjauhkan dirinya dari sosok misterius itu, rasa takut mulai menguasai dirinya yang mencoba terus bergerak mundur sementara kedua matanya masih terus terkunci pada sepasang mata merah yang masih terus menatap tajam kepada dirinya.
Rasa takut semakin menguasai dirinya saat sosok itu perlahan mulai menunjukkan gerakannya, mengangkat lengan kanannya berusaha meraih wajah ketakutan Hinata yang terus mencoba bergerak menjauh, melarikan diri dari aura menakutkan yang semakin kuat menguar.
Mulutnya tercekat, sementara sebagian konsentrasinya ia gunakan untuk terus menggerakkan kedua kakinya yang terasa begitu berat menapak, sampai pada akhirnya...
BRUK!
Sesuatu menghentikan langkahnya.
Sebuah peti kayu berukuran kecil, telah menghentikan upayanya menghindari sosok misterius itu, membuat tubuh rapuhnya kehilangan keseimbangan dan ambruk, jatuh tersungkur ke-belakang menghantam lantai kayu yang penuh dengan debu menahun.
"S-Sakit!" Pekik nya dengan kedua mata tertutup rapat menahan rasa sakit di bagian pinggulnya.
Lengan kanannya berhasil menghindarkan kepala bagian belakangnya dari benturan dengan lantai, namun bagian pinggul serta pantat-nya yang langsung menghantam lantai benar-benar membuat Hinata kesakitan.
Merintih didalam ketakutan yang masih membayanginya. Tanpa tersadar jika sosok misterius itu masih berjalan menuju dirinya yang masih merintih kesakitan terbaring diatas lantai kayu berdebu.
Kesadaran akan keberadaan sosok itu mulai kembali saat rasa sakit di tubuhnya mulai menghilang. Dengan posisi tubuh yang masih terlentang diatas lantai, Sekejap Hinata mulai membuka kedua matanya bermaksud untuk mengetahui keberadaan sosok yang tak bisa di deteksinya melalui pancaran chakra.
Bahkan sebelum Hinata sempat bangkit dan mencoba untuk duduk dan berdiri, Kedua mata seindah bulan itu langsung melebar sempurna. Tatkala setelah kedua tirai mata itu terbuka sepenuhnya dan mengembalikan fungsi penglihatan Hinata, disana, tepat di atasnya...
Sosok itu entah sejak kapan telah mengurung tubuh Hinata didalam kekuasaan kedua lengan kekar yang juga digunakannya untuk menopang tubuhnya yang berbalutkan pakaian serba hitam.
Mulutnya tercekat sementara kedua matanya semakin terpaku menatap dalam-dalam sorot mata merah yang berada tepat di hadapannya. Hinata terdiam tak bisa berbuat apa-apa, fungsi gerak pada tubuhnya seperti hilang begitu saja, tertelan ke dalam sorot mata merah menakutkan yang tengah mengunci pandangannya.
Perlahan, dirasakan oleh Hinata, sosok misterius itu semakin mengeliminasi jarak diantara wajah mereka...
Semakin dekat...
Pandangan Hinata semakin sayu dibuat terpaku pada keindahan sepasang Kristal Ruby sosok misterius itu yang terus semakin mendekat, sampai pada akhirnya, Kedua mata se-indah bulan itu tiba-tiba melebar sempurna, saat Hinata tersadar bahwa sosok misterius itu telah...
Mencuri dan mengunci bibir Hinata dengan ciumannya.
E-ehh...
Hinata masih shock, kedua mata-nya terbelalak menerima perlakuan dari sosok itu pada bibirnya. Tak ada yang bisa dilakukannya saat tubuhnya sendiri semakin kehilangan kemampuannya untuk bergerak. Sampai pada akhirnya, Hinata tanpa sadar malah terbawa ke dalam kenikmatan yang entah kenapa membuat kepalanya benar-benar terasa kosong.
Hampir setengah menit sampai pada akhirnya sosok itu mulai melepas kuncian-nya pada bibir Hinata, lalu menatap sekali lagi sosok lemah Hinata dengan kedua mata sayu terpaku ke dalam mata merah tajamnya.
"Namaku Menma—"
"—Dengan ini... Kau adalah milikku Hyuuga Hinata!" Ucapnya, tanpa memberi kesempatan pada Hinata untuk menanggapinya, langsung mengunci kembali bibir manis gadis didalam dekapan-nya itu hingga kehilangan kesadaran.
Melepas ciuman-nya dan memperhatikan ke arah simbol cahaya berbentuk lingkaran dengan sebuah titik di tengahnya yang terukir di dahi Hinata, Memperhatikannya sampai pada akhirnya cahaya beserta tanda simbol itu mulai menghilang meresap ke dalam tubuh Hinata.
Kontrak Selesai...
.
oOo
.
Lentera pagi mulai menampakkan keindahannya dari ufuk timur, membagikan kehangatan serta menjadi pertanda bahwa waktu ber-aktifitas telah dimulai, tak terkecuali untuk para warga desa Ninja, Konohagakure. Dan lebih khusus lagi, untuk seorang gadis yang masih terbaring dibalik selimut warna Lavender kesukaannya.
Ia masih tertidur pulas dengan wajah manis yang benar-benar terlihat polos, sampai pada akhirnya sinar mentari yang menerobos masuk melalui jendela kamarnya yang terbuka, langsung menerpa wajahnya.
Membuat kedua kelopak mata yang dihiasi bulu lentik itu mengerjap. Menerima sinar matahari yang menyilaukan, membuatnya sedikit demi sedikit mendapatkan kesadarannya kembali setelah hampir semalaman menjelajahi dunia mimpi.
Mulai menggerakkan bibirnya perlahan, lalu kedua kelopak mata itu pun mulai terbuka sepenuhnya. menampakkan sepasang mata seindah bak rembulan. Namun se-detik kemudian, kedua mata itu kembali menyembunyikan keindahannya, setelah sinar menyilaukan dari sang mentari tepat mengenai wajah ayu-nya.
Tak mau menyerah, ia mulai menggunakan lengan kanannya untuk menghalangi sinar mentari yang menyilaukan kedua mata-nya, lalu bangkit dan duduk di pinggir ranjang.
Sesaat melamun menatap lantai, lalu mengakhirinya dengan menghela nafas pelan...
"Mimpi yang aneh..." Gumam-nya dengan rona merah di kedua pipinya yang terlihat begitu jelas.
"Seorang laki-laki tiba-tiba muncul dari sebuah kubus lalu me-m-menciumku?" Ucapnya dengan wajah yang semakin memerah.
"K-kenapa aku bisa bermimpi hal seperti itu!" Ucap-nya mencoba menutupi wajahnya yg memerah dengan kedua telapak tangannya.
"Tapi... Kenapa semuanya terasa sangat nyata..." Gumam-nya lalu membuka kembali telangkup-an kedua telapak tangannya di wajah, lalu memandang kosong ke arah lantai.
Dan lagi-lagi, disela-sela pemikirannya tentang hal yang dikiranya mimpi tadi malam, ia malah tak sengaja teringat tentang penolakan Naruto serta sikap buruk Hanabi pada dirinya di hari kemarin.
Tak sengaja memikirkan hal itu, membuat semangat pagi yang selalu menjadi modalnya untuk memulai aktifitas, menghilang begitu saja, menguap tanpa jejak ke udara. Membuatnya seakan tak memiliki keberanian untuk menghadapi hari ini.
"Hahh...Kenapa semua ini terjadi padaku..." Gumam-nya lemah menunduk.
Namun tiba-tiba...
Ceklek!
Gagang pintu kamarnya tiba-tiba diputar lalu dibuka oleh seseorang laki-laki yang langsung masuk tanpa permisi dan berkata...
"Kau sudah Bangun..." ucapnya dengan nada datar pada Hinata yang masih terduduk di pinggir ranjang sambil menundukkan kepala.
Hinata masih menundukkan kepalanya saat pintu itu dibuka. Ia sempat mengira jika itu adalah salah satu pelayan yang selalu membangunkan dirinya jika terlambat bangun seperti hari ini. Namun saat Hinata mendengar suara baritone yang tentu saja bukan dari seorang pelayan wanita, tentu saja Hinata langsung mendongakkan kepalanya, mencari tahu siapa orang yang masuk ke dalam kamarnya begitu saja tanpa izin.
Belum sempat melontarkan kata-kata protes, kedua mata Hinata langsung melebar dengan mulut menganga. Saat mendapati sosok yang tengah berdiri tepat didepannya adalah...
Seorang laki-laki berambut hitam dengan pakaian aneh yang muncul didalam mimpi anehnya tadi malam.
E-ehh!
"K-kau!" pekik Hinata mengenali sosok itu, lalu spontan naik kembali ke-atas ranjang dan mencoba menambah jarak sejauh mungkin dari sosok laki-laki yang baru saja masuk ke-dalam kamarnya tanpa izin itu.
Laki-laki itu hanya diam di tempatnya memperhatikan reaksi Hinata. Sementara Hinata hanya bisa menatap dengan kedua mata melebar dari pojok tempat tidurnya dengan wajah ketakutan, ia benar-benar tak percaya bahwa sesuatu yang menimpanya tadi malam bukanlah sebuah mimpi.
Dan sekarang ia benar-benar merasa bahwa dirinya dalam bahaya yang cukup serius.
"Aku tak tahu kenapa kau ketakutan..." Ucap orang itu dengan suara datar, lalu melangkah mendekat menuju ranjang tempat Hinata berada. Menjulurkan lengan kanannya untuk menggapai kaki kanan Hinata yang terlihat bergetar ketakutan.
"E-eh! A-apa!" Pekik Hinata saat tiba-tiba kaki kanannya di cengram kuat oleh sosok itu, Dan...
"Tapi! Sekarang waktunya sarapan!" Ucap sosok itu dengan serta merta menarik kaki jenjang milik gadis Hyuuga itu, menyeret tubuh ramping itu mendekat ke arahnya lalu mengurungnya kembali dibawah nya dengan menggunakan kedua lengan kekar yang juga menjadi tumpuan tubuhnya.
Hinata hanya bisa memekik kecil sebelum pada akhirnya ia sadar telah berada didalam situasi yang cukup berbahaya, namun sekali-lagi tetap saja ia tak bisa melakukan apa-apa. Hanya seperti perasaan yang di rasakan-nya tadi malam, ia sama sekali tak bisa menggunakan chakra-nya atau perlawanan apapun untuk menyingkir dari sosok yang tengah berada tepat di atasnya sekarang ini.
Dan terpaksa, sekali lagi Hinata harus menerima perlakuan sosok itu pada dirinya sendiri yang tengah ketakutan serta kebingungan harus melakukan apa...
"A-apa yang ingin kau lakukan!" Pekik Hinata mencoba melawan dan mendorong tubuh sosok di atasnya itu agar menjauh.
Sosok itu hanya melihat dengan tatapan datar saat Hinata mengatakan hal seperti itu dengan kedua mata yang sudah mulai basah. Untuk beberapa alasan, ia merasa dadanya sedikit terasa sakit, namun ia mengacuhkan-nya dan terus menatap dengan datar-nya Hinata yang berada di bawahnya yang masih melakukan perlawanan tanpa arti pada dirinya.
"Apa yang ingin kulakukan? Apa hanya dengan melihatnya kau tak bisa membayangkan-nya?" Tanya Menma dengan semakin mendekatkan jarak diantara wajahnya dengan wajah Hinata yang semakin merona merah dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.
Hinata semakin takut, sampai akhirnya ia bisa lepas dari tatapan kedua mata merah itu dan berpaling ke-arah lain.
"L-lepaskan aku! S-siapa kau sebenarnya!" Pekik Hinata membalas tatapan tajam dari kedua mata merah menyala yang tepat berada di hadapannya.
Mendengar pertanyaan seperti itu, Menma sedikit menghela nafas kecil lalu menjawabnya tanpa sedikitpun beranjak dari posisinya mengurung Hinata. "Kau tidak ingat? Bodoh!... Tapi akan ku-ulang lagi, Namaku Menma, dan lainnya kau tak perlu tahu!" Ucap Menma dengan sorotan mata semakin tajam.
"E-ehh.. M-Menma?" Ucap Hinata sedikit terkejut. Namun saat Hinata ingin menanyakan satu hal penting yang tengah mengganggu pikirannya pada sosok yang bernama Menma itu, tanpa disadari Hinata, Menma tiba-tiba mencuri bibirnya dengan kecupan ringan yang benar-benar membuat semua ingatan tentang pertanyaan yang akan diutarakannya menghilang.
"Jika kau ingin bertanya kejadian tadi malam, mimpi atau kenyataan, jawabannya adalah Semuanya bukanlah sebuah mimpi!"
Walaupun mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang sempat hilang dari dalam ingatannya, namun entah kenapa, kebingungan didalam pikiran Hinata sedikit menghilang, tapi yang menjadi masalah sekarang adalah...
Ia benar-benar tak bisa mengalihkan pandangan dari kedua mata Menma yang entah kenapa membuat tubuhnya terasa lemas dan wajahnya semakin memanas setelah menerima kecupan tadi.
"Tapi, yang penting sekarang..." ucap Menma lalu bangkit dari posisinya mengurung Hinata, lalu berdiri dan membantu Hinata yang masih terdiam dengan wajah memerah untuk bangkit dan duduk di pinggiran ranjang. "Mereka semua sudah menunggu mu untuk sarapan, kau harus cepat!"
"Mereka? Siapa?"
"Tentu saja, Ayahmu dan Adik perempuanmu, lagipula siapa lagi yang ada didalam rumah ini!" Ucap tanpa sedikitpun menolehkan pandangannya ke belakang, dan terus berjalan, melangkah keluar dan menjauh dari kamar Hinata.
Hinata masih terdiam memikirkan ucapan Menma, sampai pada akhirnya beberapa detik kemudian...
"E-ehh! A-Ayah d-dan Hanabi-Chan!?"
Setelah membasuh muka, merapikan pakaian dan merapikan rambut panjang sepinggang nya yang sedikit terlihat kusut, dengan tergesa-gesa Hinata langsung pergi menuju ruang makan untuk melihat sendiri apa yang dikatakan oleh Menma.
A-apa benar Ayah dan Hanabi-Chan menunggu-ku disana! Pikirnya dengan secuil kebahagiaan menyebar didalam lubuk hatinya, jika Menma memang benar, itu berarti ini adalah makan bersama seluruh keluarga semenjak berakhirnya perang, atau kurang lebih 6 bulan yang lalu.
Namun tetap saja, jauh didalam lubuk hatinya Hinata masih meragukan hal itu terjadi. Lantaran setiap makan pagi, makan siang, atau makan malam, Hiashi dan Hanabi selalu menolak tawaran Hinata untuk makan bersama dengan jawaban yang selalu membuat Hinata sakit hati.
Bukan dengan kata-kata kasar atau apapun, mereka seperti tak perduli pada ajakan Hinata, mereka hanya mendiamkan dan terus melakukan latihan yang selalu menjadi alasan mereka untuk menolak ajakan Hinata untuk makan bersama.
Dan dengan itu, perlahan Hinata mulai beranggapan jika mereka berdua telah membenci dirinya yang selalu saja lemah dalam segala hal, dan karena itulah akhir-akhir ini Hinata mulai mencoba tak perduli. Setelah membuat makanan, ia biasanya langsung melakukan aktifitas lain untuk mencoba melupakan tentang hal yang selalu membuat dadanya terasa sakit saat mengingatnya.
Namun sekarang berbeda, entah harus percaya atau tidak, saat ia sampai didalam ruang tamu, disana ia melihat Hiashi serta Hanabi tengah menunggunya datang sambil duduk berdampingan di kursi meja makan.
Pandangannya masih menunjukan rasa tak percaya. Saat kemudian ia alihkan pandangannya pada satu sosok lagi yang tengah duduk di kursi meja makan lainnya sambil membersihkan pedang besarnya.
"M-Menma-k-kun! A-apa yang kau lakukan pada Ayah dan Hanabi-Chan!" Tanya Hinata dengan suara terbata, Hinata yakin jika sesuatu telah dilakukan oleh Menma pada keluarganya. Karena Hinata benar-benar yakin jika sikap seseorang tak akan bisa berubah hanya dalam waktu satu malam saja.
Ditambah lagi, Hinata benar-benar yakin jika Hiashi tak akan dengan mudahnya membiarkan seseorang masuk ke-dalam rumah, bahkan makan bersama seperti ini. Sekarang Hinata benar-benar yakin jika semua ini karena kekuatan aneh pada diri Menma.
Apalagi Hinata masih belum tahu informasi lainnya tentang Menma, dari mana asalnya, dan kenapa ia tiba-tiba datang didalam kehidupannya, semua itu membuatnya sangat bingung. Namun lagi-lagi karena sifat Menma yang selalu dingin dan tak pernah memberinya kesempatan bertanya, membuatnya takut serta ragu untuk menanyakan tentang hal itu.
"Ahh, Ohayou Hinata..."
"Nee-Chan! Mana makanannya! Hanabi lapar!"
"E-ehh!" Pekik Hinata terkejut mendengar ucapan-ucapan yang terdengar begitu cerita itu. Dan dengan itu, kekhawatiran Hinata semakin menjadi. Dan pandangan-nya semakin tajam menatap Menma yang hanya diam tak perduli pada Hinata yang tengah berdiri di sampingnya dengan tatapan yang bahkan tak memberikan efek sama sekali pada Menma.
"M-Menma-Kun! J-jujur! A-apa yang kau lakukan pada mereka!?"
"Aku hanya sedikit merubah sikap mereka, kenapa?" Ucap Menma bahkan tanpa melirik sedikitpun kearah Hinata yang tengah shock setelah mendengarnya.
"M-merubah sikap? K-kenapa?! " Bentak Hinata seakan tak percaya!
"Karena sifat mereka buruk kepada-mu!" Ucap Menma yang kini sedikit melirikkan matanya kearah Hinata di sampingnya yang malah terlihat bingung sendiri setelah mendengar apa yang baru saja Menma ucapkan.
K-kenapa dia tahu...
"Hinata... tidak baik jika pagi-pagi sudah berteriak pada suami." Ucap Hiashi dengan tiba-tiba yang benar-benar langsung membuat Hinata terlonjak terkejut, dan spontan langsung mengalihkan pandangannya pada Hiashi yang tengah tersenyum.
"E-eh! Su-su-suami!" Pekik Hinata dengan wajah memerah. "M-maksudnya!?" lalu melirik kembali pada Menma yang masih membersihkan sebilah pedang besar.
"Memangnya kau fikir siapa lagi? Bodoh..."
"E-ehhh!"
.
oOo
.
"N-ne—S-sebenarnya k-kau ini siapa? Apa yang sudah kau lakukan pada Ayahku? Kenapa Ayah m-menyebutmu sebagai suamiku!? M-Menma-Kun J-jelas kan padaku!"
Hahh...
"Berisik sekali kau ini..." Ucap Menma dingin sambil terus berjalan di teras rumah, perasaan kesal sedikit menyelimuti hatinya saat Hinata menerus memberondong nya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya tak terlalu penting untuk dibicarakan, lagipula...
Sejak kapan dia mulai banyak bicara!
"Ayolah, Menma-Kun! J-jangan diam sa—" Namun, sebelum Hinata sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Menma berhenti. Hinata yang tak sempat menyadarinya pun tak bisa menghentikan langkahnya dan langsung menabrak punggung Menma yang berada tepat di depannya.
Dahinya memerah dan terasa sedikit sakit saat tak sengaja membentur sarung pedang besar yang tergantung di punggung Menma. Hinata masih mengelus dahinya saat Menma tiba-tiba berbalik dan berkata...
"Aku akan menjelaskannya di kamar, jadi diam dan lebih cepat berjalan..."
Hinata hanya membalas dengan anggukan kecil saat kemudian Menma memulai berjalan lagi menuju kamarnya yang terletak di ujung teras. Hanya perlu waktu kira-kira seperempat menit saja sampai akhirnya mereka berdua sampai didepan kamar Hinata, lalu masuk ke dalamnya setelah Hinata membukakan pintunya dengan disusul Menma berjalan di belakang-nya.
Hinata masih sedikit merasa tenang saat ia masuk ke-dalam kamarnya, namun rasa tenang itu tak sampai bertahan lama sampai pada akhirnya Hinata mendengar suara pintu kamarnya yang dikunci oleh Menma yang berada di belakangnya.
Mendengar suara pintu terkunci itu, sontak Hinata langsung menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah Menma yang tengah mengunci pintu kamarnya.
"M-Menma-Kun!?" Dan melihat hal itu, entah kenapa perasaan Hinata mulai merasakan hawa tak enak di sekitarnya.
"Dengan ini tak ada yang akan mengganggu kita..." Ucap Menma lalu berbalik dan berjalan ke arah Hinata yang tengah berdiri menatap dirinya dengan wajah yang dipenuhi raut ketakutan.
"J-jangan pernah berfikir kau bisa melakukan semau-mu padaku!" Ucap Hinata dengan sedikit rasa takut pada Menma yang semakin mendekat pada dirinya.
"Apa maksudmu?" Ucap Menma mulai memojokkan Hinata.
Hinata semakin gugup dan ketakutan saat Menma semakin mendekat, ia terus berusaha menjauh, namun langkahnya terpaksa terhenti saat punggungnya membentur tembok kayu pembatas kamarnya.
"S-seperti t-tapi p-pagi! A-aku tak akan pernah m-membiarkan mu melakukan itu p-padaku lagi!" pekik Hinata mencoba membangun keberaniannya menatap kedua mata Menma yang sekarang tepat berada di depannya.
Menma hanya tersenyum licik saat ia mulai menggunakan kedua lengannya untuk mengurung Hinata di dalamnya. "Memangnya kau bisa apa untuk mencegah-ku?"
"K-kau ini kenapa! K-kau bilang akan menjelaskan semuanya padaku!" Ucap Hinata mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya dan mencoba merangkai kata dengan tubuh yang semakin bergetar.
Dan dengan ucapan itu, Raut wajah Menma yang sempat menampakkan senyuman licik, kini kembali lagi menjadi wajah datar seperti biasa, dan sekarang kedua matanya semakin menatap tajam pada Hinata yang juga semakin ketakutan didalam kekuasaannya.
"Bukankah sudah kukatakan padamu... Kau hanya perlu tahu namaku saja.."
"Ta-tapi k-kenapa!? K-kau tiba-tiba muncul dan melakukan hal seperti itu pada keluargaku dan juga padaku! A-aku bahkan tak tahu kau orang baik atau j-jahat!"
Menma hanya menutup kedua matanya saat mendengar ucapan dengan nada bergetar itu dari gadis didalam kekuasaannya ini, namun setelah itu, Menma menarik kembali kedua lengannya lalu berbalik.
"Percayalah, kau hanya akan menyesal jika mengetahui asal dan kebenaran tentang ku..." Gumam Menma membelakangi Hinata, Walaupun dengan suara yang sangat rendah, Hinata yang masih terdiam didalam ketakutan di belakang Menma pun bisa mendengarnya, suara penuh kepedihan yang diucapkan oleh Menma di depannya.
"M-Menma-Kun..." Gumam Hinata.
"Aku bukan orang jahat atau apapun, aku datang ke dunia ini hanya untukmu, untuk melindungi mu..." Ucap Menma penuh keyakinan, lalu berbalik dan menatap kembali sepasang iris mata seindah bulan Hinata yang perlahan terlihat sedikit mulai tenang.
"K-kau mulai lagi membuatku penasaran..." Ucap Hinata menundukkan kepalanya, menyembunyikan raut kekecewaannya dibalik Poni rata-nya, dengan kepala yang semakin dipenuhi berbagai pertanyaan tentang ucapan-ucapan yang diucapkan oleh Menma yang semakin membuatnya pusing.
Hanya dengan melihat tingkah Hinata yang hanya menunduk serta diam di depannya, Menma sudah tahu jika Hinata sudah jelas mengerti dengan apa yang dimaksudnya untuk tak bertanya lagi tentang asal usul serta rahasia tentang dirinya.
Lagipula... Ada beberapa hal di dunia ini yang lebih baik kau tidak tahu... Hinata. Pikir Menma dengan tanpa sadar sedikit mengulum senyum tipis memperhatikan Hinata.
"T-tapi..!" beberapa saat terdiam, sebuah kata tiba-tiba terlontar dari Hinata yang mulai menunjukkan wajahnya, menadahkan wajahnya menatap tepat pada wajah Menma dengan raut penuh pertanyaan. Menma yang melihat ekspresi gadis di depannya ini pun memicingkan sebelah alisnya, heran, lalu berkata...
"Apa?—"
"—Sudah kubilang aku tak akan mengatakan apapun tentang diriku padamu kan!"
"B-bukan itu!—"
"—T-tadi malam aku benar-benar yakin jika kau muncul dari sebuah benda berbentuk kubus kecil—" Ucap Hinata dengan penuh harapan dengan pertanyaannya yang satu ini bisa dijawab oleh Menma. Hanya satu pertanyaan yang sangat mengganggunya ini saja. Dan hanya untuk sedikit membuat pandangan keraguan-nya tentang sosok laki-laki yang mengaku ingin melindungi dirinya ini sedikit menghilang dari dalam hatinya. "Setidaknya... Jelaskan yang itu padaku..." lanjut Hinata dengan wajah penuh harap.
Mendengar pertanyaan serta melihat ekspresi Hinata, tentu sedingin-dinginnya Menma, ia tak bisa mengabaikannya[AS1] [AS2] . Menma hanya sedikit menghela nafas lalu mencoba menjelaskan dengan sesuatu yang bisa dengan mudah untuk membuat gadis di depannya ini bisa mengerti.
"Soal itu! Anggap saja itu adalah salah satu kemampuanku—"
"E-eeh? K-kemampuan?" Ucap Hinata sedikit memiringkan kepalanya sedikit bingung mendengar ucapan Menma yang belum selesai.
"Mudahnya, Kemampuan seperti jutsu Henge yang kalian para ninja miliki."
"Henge?" Gumam Hinata terdiam sambil terus memikirkan ucapan Menma tentang jutsu aneh yang dimiliki Menma. Sekarang Hinata sedikit berfikir...
Apa perubahan sehebat itu hanya Jutsu Henge?
"Kau mengerti?" Menma sedikit berharap jika penjelasan asal-asalan-nya bisa membuat Hinata sedikit mengerti. Lagipula, jika ia menjelaskan tentang kekuatan aslinya, Menma benar-benar yakin akal Hinata tak akan sampai untuk memahaminya kekuatannya.
Melihat bagaimana tingkah Hinata sedang berfikir, lagi-lagi sebuah senyuman tipis terlukis di wajah Menma, entah kenapa ia berfikir jika melihat Hinata yang tengah berfikir seperti ini benar-benar membuatnya senang.
Tak tahu alasannya kenapa, namun sekarang keputusannya untuk datang ke-dunia ini dan melindungi Hinata semakin menguat setelah melihat tingkah dan senyuman gadis di depannya ini yang benar-benar ingin ia lindungi.
"Bukankah kau setelah ini ada misi?" Ucap Menma menyadarkan Hinata dari apa yang sedang di fikirkan-nya. Hinata sedikit tersentak saat Menma mengingatkan tentang misi pagi ini.
"E-eeh! B-bagaiman kau tahu..."
"Percayalah, Aku tahu semua hal tentang dirimu—" ucap Menma lalu berbalik, dan kembali melanjutkan kalimatnya "—Lebih dari yang kau tahu."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Menma langsung berjalan menuju pintu dan keluar setelah membuka kuncinya, meninggalkan Hinata yang masih terbengong di dalamnya.
"M-Menma-Kun..."
Sebenarnya...
Kau ini siapa...
.
oOo
.
Didalam surat yang diterimanya minggu lalu. Misi hari ini untuk mengawal perjalanan pulang Utusan dari Suna, sebenarnya baru akan dimulai tepat pukul 10, namun karena Hinata ingin menghindari hal yang seperti kemarin, ia memutuskan untuk datang lebih awal 1 jam dari waktu yang sudah ditetapkan didalam surat perintahnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 9.45, dan itu berarti Hinata sudah menunggu hampir selama 1 jam lama-nya ditempat biasanya ia menunggu, dibawah pohon beringin, dengan seragam chuunin dan perlengkapan lengkap yang sudah siap digunakannya.
Datang lebih cepat 1 jam lebih awal mungkin terdengar terlalu berlebihan, namun itulah Hinata dan kebiasaannya. Ia selalu tak ingin merepotkan orang di sekitarnya. Terlebih lagi seperti kemarin, karena ketidaktahuan-nya, timnya harus menunda misi selama hampir seperempat jam hanya untuk menunggu dirinya yang tak tahu jika misi dimulai lebih awal.
Lagipula, terlambat adalah salah satu hal yang paling tidak disukai Hinata, menurutnya, datang lebih cepat lebih baik, dari pada harus menyusahkan orang lain hanya untuk menunggu dirinya datang.
Jam sudah hampir menunjukkan pukul 10, namun yang menjadi masalah untuk Hinata sekarang ini bukanlah Kiba ataupun Shino yang tak kunjung datang, melainkan sosok yang tengah berdiri bersendar di sampingnya ini.
Dia hanya diam menutup mata sambil melipat kedua lengannya didepan dada hampir selama satu jam penuh. Walaupun Hinata sedikit tak percaya bagaimana seseorang bisa bersikap seperti itu hampir selama satu jam, namun sikapnya yang hanya diam itu benar-benar membuat Hinata salah tingkah dan tak tahu harus berbuat, atau berbicara apa untuk mengusir suasana kaku di sekitarnya.
Hinata ingin mengajak nya bicara, namun tak tahu harus memulai pembicaraan seperti apa, lagipula, kenapa dia hanya diam saja! Apa yang sedang ia fikirkan?
Lagipula Kenapa dia disini?
A-ah! Aku tahu apa yang harus ku tanyakan!
"N-ne Menma-Kun, a-apa kau juga akan ikut didalam misi ini?"
Menma hanya diam tanpa merespon Hinata, ia masih hanya diam sambil melipat kedua tangannya didepan dengan kedua mata tertutup.
Hinata terus menatap Menma, sampai pada akhirnya ia menundukkan kepalanya dan menghela nafas menyadari Menma tak akan pernah merespon pertanyaan bodoh yang baru saja dilontarkannya.
G-gagal kah...
Namun beberapa detik kemudian, sebuah permasalahan baru tiba-tiba muncul didalam kepalanya saat ia memikirkan tentang memikirkan bagaimana cara berbicara dengan Menma. Lagipula, dari pada dirinya memikirkan hal seperti itu, ada masalah yang lebih besar lagi yang harus di fikirkan-nya.
Memikirkan hal itu, Hinata yang tengah menunduk, sontak menatap ke arah Menma yang masih terdiam dengan posisi seperti biasa...
K-Kiba dan Shino-kun! B-bagaimana aku nanti menjelaskan tentang Menma-Kun pada mereka! Pikir Hinata mulai panik menyadari hal yang tak di sadarinya sejak awal.
Ia tak mungkin mengatakan jika Menma muncul dari sebuah kubus kecil yang ditemukannya di ruangan dibawah kamar tempat tidurnya, memikirkan alasan itu, Hinata benar-benar yakin jika Kiba dan Shino benar-benar akan menganggapnya sebagai orang yang memiliki imajinasi tinggi.
Tapi bagaimana cara-ku menjelaskan semua ini pada mereka!?
Terlebih lagi tentang fakta Menma yang bertempat tinggal satu atap dengannya, untuk beberapa alasan, untuk hal itu saja Hinata ingin Kiba dan Shino-kun lebih baik tak mengetahuinya...
"Mereka hampir tiba!"
"E-eh?" Hinata langsung tersentak didalam kepanikan-nya. Namun sebelum Hinata tersadar sepenuhnya dengan apa yang baru saja Menma ucapkan, tiba-tiba saja sosok Menma berubah kembali menjadi sebuah kubus, namun lebih kecil. Atau lebih tepat-nya sebuah se-buah liontin dengan seutas rantai kecil yang langsung terpasang pada leher Hinata.
"Me-Menma-Kun!" Pekik Hinata masih terbengong dengan apa yang baru saja Menma lakukan, namun bahkan sebelum Hinata memiliki kesempatan untuk menelaah apa yang baru saja terjadi pada Menma, tiba-tiba kedatangan Kiba, Akamaru dan Shino langsung mengalihkan perhatian Hinata dari sebuah kalung yang baru saja melingkar di lehernya.
"Hinata! Maaf sudah menunggu lama!" Teriak Kiba seperti biasa.
"K-Kiba-kun!, Akamaru-kun!, Shino-kun!" Jawab Hinata panik.
"Hem? Ada apa dengan sifat gugup-mu itu—" Ucap Kiba merasa aneh dengan sikap gugup Hinata yang tak wajar, namun sesaat kemudian, saat ia memperhatikan wajah Hinata yang memerah, pandangannya tak sengaja ter alihkan pada seutas kalung yang tengah melingkar pada leher Hinata, sebuah kalung dengan liontin aneh yang belum pernah dilihatnya. "Itu... Kalung apa?
"I-ini... E-e~to..."
Hinata semakin gugup dengan ketidaktahuan nya harus menjawab pertanyaan Kiba dengan jawaban seperti apa, namun ditengah-tengah kepanikan mencari jawaban yang tepat, tiba-tiba ia mendengar suara Menma dari dalam kepalanya...
"Katakan saja hadiah dari Ayahmu, dan jangan banyak bertanya lagi"
"E-eh! M-Menma-Kun!" Pekik Hinata terkejut tiba-tiba mendengar Menma berbicara dari dalam kepalanya.
"Menma? Siapa?" Dan Kiba yang tak sengaja mendengar Hinata mengucapkan nama seseorang pun semakin penasaran dengan apa yang terjadi, terlebih dengan kegugupan Hinata yang menurutnya cukup berlebihan.
"A-ahh, tidak kok... s-soal kalungnya, ini hadiah dari Ayahku..." Ucap Hinata mencoba menjelaskan dengan gugup dan sebuah senyuman yang dipaksakan.
"Ohh... Tak biasanya Ayahmu memberimu hadiah..."
"S-soal itu—" Belum sempat Hinata menyelesaikan penjelasannya, Kiba sudah terlebih dahulu memotongnya dengan kesimpulan yang benar-benar membuat Hinata merasa lega...
"Yah, Lagipula, syukurlah hubungan mu dengan Ayahmu semakin baik, Benar kan Hinata..." Dan itu benar-benar menolong Hinata yang sejujurnya tak tahu harus menjawab apa.
"Ngomong-ngomong Kiba! Bukankah sudah saatnya kita berangkat?"
Ditengah-tengah pembicaraan antara Kiba dan Hinata, tiba-tiba suara datar Shino langsung menyela pembicaraan mereka dan langsung menyita perhatian Kiba dan juga Hinata yang tengah berbincang didalam kegugupan.
"Ahh! Benar juga, kalau begitu ayo berangkat, Hinata!" Ucap Kiba teringat, ia hampir saja melupakan misi yang akan dilaksanakan hari ini hanya gara-gara kalung aneh yang tengah dikenakan Hinata.
"U-umm..." Dan setelah Hinata mengangguk tanda setuju, mereka, Kiba dan Hinata, langsung pergi bersama. Mengabaikan Shino yang telah mengingatkan mereka tentang misi.
"Mereka..."
"Mengabaikan-ku lagi..." Ucap Shino dengan aura aneh di sekelilingnya.
.
oOo
.
NOTE [Sorry for Typo]
