.
.
.
CHAPTER 3
.
.
BRAK!
Gebrakan kedua tangan sarat akan chakra itu benar-benar langsung membuat nyali sang lelaki yang tengah duduk di bangku di depannya menciut, sementara tumpukan kertas dan dokumen yang tertumpuk diatas meja, jatuh berantakan, menyebar ke-se penjuru lantai akibat hebatnya getaran yang bahkan hampir mematahkan kaki sang meja yang tak bersalah.
"Apa yang kau bilang tadi?"
Benar-benar berbanding terbalik ekspresi dengan perbuatannya. Wajah cantiknya tetap tersenyum dengan kedua mata tertutup, sedangkan kedua tangannya seperti ingin menghantam sosok lelaki di depannya yang semakin kehilangan nyali nya.
Lelaki itu hanya menunduk tak bisa berkata apa-apa. ia tak bisa menyangkal atau sekedar menatap lurus pada gadis di depannya ini, karena memang sebenarnya dirinya lah yang bersalah dalam kasus yang sudah membuatnya hampir tak bisa tidur semalaman.
"A-aku... Membuatnya menangis..."
Ya, dia telah membuat gadis yang paling dicintainya menangis, karena kebodohannya dalam mengambil langkah. Ia benar-benar menyesal dengan apa yang dikatakannya tempo hari pada Hinata. Tak pernah di fikirkan-nya jika waktu itu Hinata akan salah tanggap dan langsung meninggalkan dirinya di bawah pohon dengan rasa bersalah yang hampir membunuhnya.
"K-kemarin... Aku bertanya... Apakah dia setuju, jika aku bersamamu... pacaran denganmu..."
Mengucapkan beberapa baris kata sambil terus menunduk bersalah. Hanya satu alasan kenapa ia bisa mengucapkan kalimat itu kepada seorang yang paling ingin dimilikinya.
"U-untuk mencari tahu... A-apakah dia masih mencintai ku... Atau tidak."
Hanya suara udara pagi yang berhembus melewati jendela kaca yang dibiarkan terbuka. Membawa angin pagi segar yang menyejukkan di musim panas. Namun, tetap saja, sejuknya angin pagi ini benar-benar tak bisa membuat panasnya darah didalam kepala bersurai pink itu mendingin, malah, justru semakin panas saat kedua matanya melihat sosok laki-laki yang sampai sekarang benar-benar tak berguna dalam urusan cinta.
"Aku menyuruh mu mengakui perasaanmu... bukan membuatnya menangis..." ujar Sakura lalu melipat kedua tangannya didepan dada dan berjalan mendekat ke arah jendela untuk sedikit menyegarkan fikiran nya dengan pemandangan pagi desa Konoha.
"Hahh... Sudah kubilang aku sudah membuat rencananya, hari minggu nanti kau akan kubuat bertemu dengan Hinata, dan saat itulah kau hanya perlu mengatakan 'Hinata, Aku mencintaimu...' "
"—Tapi kau malah benar-benar mengacaukan rencana skenario yang susah payah kubuat."
"Itu tidak semudah yang kau bicarakan Sakura-chan..." gumam Naruto dan mengambil sebuah Pena dan memainkannya dengan memutar-mutarkan-nya diatas meja.
"Waktu itu, aku tak sengaja bertemu dengannya tengah terduduk dibawah pohon, wajahnya murung..."
"Aku tak tahu masalahnya, tapi aku sangat ingin berbicara dengannya tentang apa yang terjadi..."
"Saat aku sudah berada di dekatnya, senyuman nya benar-benar langsung menghancurkan kepercayaan diriku, semua yang ingin ku ucapkan hilang sepenuhnya... "
"Aku hanya memandangi wajahnya saat ia hanya terdiam mengurung wajahnya di lipatan kedua tangannya, dan saat itulah pertanyaan itu timbul didalam hatiku..."
"Apakah dia masih mencintaiku?"
"Tanpa fikir panjang, dengan bodohnya aku menanyakan tentang hal itu, untuk melihat reaksinya..."
"Kau pernah bilang kan Sakura-Chan, jika seseorang cemburu padamu, maka sudah pasti dia memiliki rasa padamu..."
"Dan karena itulah aku ingin melihatnya cemburu padaku..., tapi aku malah membuatnya menangis..."
"Aku... "
"Apa yang sebenarnya ku fikirkan saat akan mengucapkan pertanyaan itu waktu itu..." Ucap Naruto panjang lebar, sebelum pada akhirnya melempar Pena di tangan-nya membentur dinding dan hancur, lalu menjatuhkan kepala bersurai kuning nya didalam lipatan kedua tangan-nya diatas meja.
"Berarti aku harus mengucapkan selamat..."
Naruto hanya melirik saat Sakura mengucapkan kalimat itu. Naruto tak begitu terkejut mendengarnya, karena nada ucapan itu sarat dengan sarkasme yang benar-benar tak ia suka.
"... Dia cemburu, bahkan sampai menangis ter sakiti."
"Cukup Sakura-Chan! Aku tak mau mengingat air mata itu!" Ucap Naruto sedikit membentak dengan wajah yang masih disembunyikan diatas lipatan kedua lengannya.
"Ha~ahh... Datang kesini lebih pagi, bukannya semangat yang kudapat, tapi malah hal seperti ini..."
Tanpa memperdulikan ucapan Sakura yang masih berdiri memandang keadaan Konoha, Naruto tiba-tiba berdiri, mengambil jubah putih ber aksen api warisan ayahnya, lalu pergi dan berjalan menuju pintu untuk keluar. Namun sebelum tangannya selesai memutar gagang pintu, kalimat Sakura langsung menghentikan gerakannya.
"Jadi, Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"... Menurut jadwal, hari ini Hinata akan melakukan misi ke suna sampai dua hari kedepan..."
"Kau akan kesana? Apa yang aka kau katakan padanya?" Tanya Sakura sedikit mengulum senyum walau tak disadari oleh Naruto yang masih tak melihat ke arah-nya.
"Aku... Setidaknya ingin meminta maaf, sudah membuatnya menangis, membuatnya cemburu..."
"...Dari dulu, yang kulakukan hanyalah menyakitinya, bahkan waktu itu... Aku benar-benar tak akan pernah bisa lupa saat ia dihancurkan tepat didepanku... Aku..."
"...Tak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika tak menyelesaikan kesalah pahaman ini."
Setelah mengucapkan hal itu, tanpa menunggu apa-apa lagi, Naruto langsung membuka pintu di depannya dan meninggalkan Sakura yang masih terdiam di dalam ruang Hokage.
oOo
Dan sekarang di sinilah dia, berjalan sendirian di jalan desa sambil menunduk tanpa memperdulikan sapaan dan senyuman dari warga desa yang secara tak sengaja berpapasan dengannya.
Ia terus saja memikirkan apa yang baru saja dibicarakannya dengan Sakura di ruang Hokage tadi...
Kenapa aku bisa berbicara segampang itu... Pikirnya, karena pada kenyataannya, dirinya masih kebingungan harus bersikap seperti apa, ia benar-benar tak yakin jika hanya meminta maaf hanya dengan kata-kata saja akan cukup untuk memperbaiki hati Hinata yang telah dihancurkannya.
Terlebih saat teringat bagaimana Hinata saat itu menangis karena ucapan bodohnya...
"Saat itu... jika saja aku bisa menahan diri dan mengikuti rencana Sakura-chan..."
"Hinata... "
"Setelah ini... Apa aku masih pantas memilikinya..." Gumam-nya lalu mendengus pelan saat pikirannya benar-benar buntu oleh permasalahan yang mungkin lebih memusingkan dari pada memenangkan perang dunia shinobi.
"Hinata..."
oOo
Naruto sudah sampai tepat didepan gerbang rumah Hinata yang belum sepenuhnya selesai, tak memerlukan waktu lama hingga seseorang dari Klan Hyuuga menyadari keberadaannya dan langsung menyapanya dengan membungkuk di depannya.
Naruto sedikit merasa tak enak saat ada seseorang yang melakukan hal berlebihan seperti ini, namun tetap saja ia tak bisa berbuat apa-apa. Menyadari dirinya yang sekarang adalah seorang Hokage.
Walaupun jauh didalam hatinya masih ada rasa tak nyaman, namun sedikit demi sedikit ia sadar harus bisa menerima semua perlakuan yang menurutnya terlalu berlebihan ini.
"Hinata ada?"
Hyuuga itu menggeleng pelan setelah mendengar pertanyaan Naruto. Namun setelahnya, Naruto mendapatkan informasi dari Hyuuga itu jika Hinata beberapa menit yang lalu sudah pergi keluar. Hyuuga itu tak bisa mengatakan alasan Hinata keluar. Namun tak dijelaskan pun Naruto sudah lebih dari paham, karena menurut jadwal pagi ini, Hinata mempunyai misi untuk pergi mengantar seorang Daimyo kembali pulang ke Sunagakure, yang diberikannya sendiri pada Team 8 beberapa hari yang lalu.
Setelah mengucapkan Terimakasih, Naruto langsung beranjak pergi untuk segera menuju tempat yang sudah ada didalam otaknya, tempat dimana Hinata selalu menunggu Kiba dan Shino berada.
Tak sampai beberapa menit sampai akhirnya Naruto hampir sampai ditempat tujuannya untuk bertemu dengan Hinata. Jantungnya semakin berdebar tatkala langkahnya semakin membawanya mendekat. Memikirkan apa kata yang harus digunakannya nanti, apa ucapan yang akan diucapkannya nanti tepat didepan Hinata.
Semua itu benar-benar membuatnya gugup sendiri.
Naruto terus berjalan dengan pikiran yang penuh dengan Hinata. Sampai pada akhirnya ia sampai di persimpangan terakhir. Namun tiba-tiba ia berhenti, Saat kedua matanya melihat dari kejauhan Hinata tengah berdiri ber sender dibawah sebuah pohon beringin...
Dengan seorang pria yang tak dikenalnya.
Secepat kilat Naruto langsung berusaha menyembunyikan keberadaannya, memperkecil pancaran Chakra-nya agar tak diketahui oleh Hinata dan juga pria asing itu. Deru jantungnya semakin terpacu dengan nafas yang semakin tercekat. Namun, tiba-tiba sebuah logika terlintas didalam otaknya..
"Kenapa aku bersembunyi!" Gumamnya bingung sendiri.
Walaupun dada serta nafas-nya tak bisa berbohong jika ia masih terlalu gugup bertemu dengan Hinata, apalagi fakta tentang pria disamping Hinata yang benar-benar membuat Naruto penasaran.
Naruto sedikit mengintip dari balik dingin kayu pembatas jalan. Mengintip ke-arah Hinata yang tengah bersama pria itu.
"Siapa dia... Orang aneh..." ucapnya dengan sorot mata penuh intimidasi.
Naruto terus memperhatikan sosok itu hanya diam walaupun Hinata berusaha mengajak nya bicara.
Dilihat dari manapun, sepertinya dia bukan seorang Hyuuga, lagipula kedua matanya merah. Dan juga sifatnya yang buruk pada Hinata, benar-benar membuat Naruto tak menyukainya hanya dengan melihatnya saja.
"Sialan itu! Beraninya mengacuhkan Hinata!" pekik Naruto menggigiti ujung jaketnya sendiri.
Naruto terus memperhatikan, sampai ketika sosok itu tiba-tiba membuka kedua matanya dengan tanpa sepengetahuan Hinata yang tengah menunduk. Naruto masih memperhatikan apa yang akan dilakukan orang aneh itu selanjutnya.
Namun seketika pula, kedua mata Sapphire Naruto langsung membulat saat sosok berjubah hitam itu tiba-tiba menatap tajam ke arah dirinya. Naruto dengan sekejap langsung berbalik dan menyembunyikan tubuhnya.
"A-aura apa itu tadi!" Pekik-nya terkejut. Entah Genjutsu atau apa, saat pandangan mata Naruto bertemu dengan kedua mata merah sosok yang tengah bersama Hinata itu, Naruto tiba-tiba merasakan aura aneh yang menguar dari dalam tubuh sosok itu. Aura gelap yang tak akan mungkin jika itu adalah chakra.
Terlebih bagaimana ia bisa mengetahui keberadaan Naruto? Jarak antar mereka lebih dari 10 meter, dengan Naruto yang sudah meminimalisir pancaran chakra-nya. Bahkan ninja setingkat kakashi pun kemungkinan tak akan menyadari dengan sebegitu cepatnya.
"S-siapa dia sebenarnya!"
Dengan hati-hati Naruto mencoba mengintip lagi sosok itu, namun dia sudah tak ada disamping Hinata. Naruto benar-benar bingung
Kemana orang tadi? Pikirnya, karena sekarang yang didapatinya disana, disekitar Hinata hanyalah Kiba, Akamaru dan Shino yang sudah siap melakukan misi yang diberikannya.
Seakan keberadaan orang itu tiba-tiba lenyap seketika tanpa jejak, bahkan dengan cakra alam Naruto-pun tak ada gunanya. Naruto sedikit heran. Karena baru pertama kali ini ia tak bisa mendeteksi shinobi dengan chakra alam yang selalu berhasil tanpa kelemahan apapun.
Naruto terus berfikir didalam setiap kemungkinan yang dilakukan sosok aneh tadi. Disaat pikirannya tengah berputar, Naruto tiba-tiba teringat dengan tujuan utamanya datang kesini. ia ingin bertemu dengan Hinata dan meminta maaf tentang pertanyaannya kemarin, tapi tanpa sadar ia malah memikirkan orang aneh yang tengah bersama Hinata.
Naruto lansgung mencoba mengalihkan fikiran nya dari sosok yang sudah menghilang tadi. dirinya harus fokus.
Pada Hinata.
Ini adalah kesempatan yang bagus, apalagi disana hanya ada Kiba, Akamaru dan Shino. Tak ada yang berani mengganggunya, apalagi misi ini kan perintah darinya.
Menunda beberapa jam sepertinya baik-baik saja, mereka pasti juga pasti akan baik-baik saja jika Hinata kubawa sebentar.
Lebih baik aku melakukannya sekarang! Pikir Naruto bermaksud pergi, sampai sebelum pada akhirnya lengan kanannya tiba-tiba ditahan oleh seseorang di belakang nya. Naruto sontak berhenti dan saat ia menoleh ke belakang, disana berdiri Sasuke dengan tangannya yang menahan tangan Naruto.
"Sasuke? Apa yang kau lakukan disini?"
"Ada apa dengan ucapan itu? Kau tak suka aku disini?"
"Bukan itu! Seharusnya kau sedang dalam misi di Iwagakure kan ?"
"Misiku rampung lebih cepat, terlebih lagi..."
Naruto yang masih terkejut dengan kehadiran Sasuke di desa Konoha pun sedikit bertanya-tanya dengan perubahan air muka Sasuke yang tiba-tiba, seperti ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan.
"Ada apa Sasuke? apa ada masalah?" Tanya Naruto dengan wajah yang mulai berubah serius.
"Tidak, hanya saja, disaat perjalananku kembali aku menemukan sesuatu yang aneh di hutan terlarang."
"Aneh? Maksudmu Musuh?"
"Tidak tahu... Tapi yang kulihat saat itu, aku sedang perjalanan kembali ke Konoha. Saat aku melintasi hutan terlarang di bagian selatan, tiba-tiba aku melihat ada kilatan cahaya aneh yang muncul di tengah hutan..."
oOo
Di tengah dinginnya pagi didalam hutan terlarang, Sasuke mencoba terus bergerak walau pandangannya sedikit terganggu dengan tebalnya kabut didalam hutan. Walaupun pada akhirnya semua itu menjadi lebih mudah dengan Sharingan di kedua matanya.
Waktu masih sekitar jam 5 pagi, dan sinar matahari masih terlalu redup. Sasuke terus berlari sendirian lantaran para para ANBU dan beberapa ninja yang menemaninya didalam misi memilih untuk tetap tinggal di Iwa sampai fajar datang, lalu kembali pulang.
Namun Sasuke tidak, sesaat setelah misi pengawalan yang memakan waktu semalaman itu selesai, ia langsung memutuskan untuk kembali pulang lantaran sebuah janji yang dibuatnya sebelum menjalankan misi pengawalan.
Hampir setengah jalan dilaluinya, dan sekarang ia memutuskan untuk melewati hutan terlarang untuk seefisien mungkin mempersingkat waktu. Namun saat ia sampai ditengah-tengah hutan, tak sengaja ia melihat kilatan cahaya dari jauh didalam hutan, lalu disusul dengan ledakan kekuatan aneh yang benar-benar membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
Sasuke berhenti sejenak dan memperhatikan lokasi dimana ia melihat kilatan cahaya tadi.
Ia terdiam beberapa menit, sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk menuruti kepalanya yang begitu penasaran. Menyadari waktu masih terlalu pagi, mungkin tak akan masalah dengan janji yang dibuatnya dengan Sakura, lagipula kencan hari ini akan dimulai jam 9 bukan?
Tak sampai satu menit saat Sasuke tiba ditempat dimana ia melihat kilatan cahaya tadi, ia masih merasakan pancaran kekuatan yang membuatnya tak nyaman ini. Namun dilihatnya ke sekeliling. Tak ada seorang pun selain dirinya disini.
Ia terus mengamati, sampai pada akhirnya pandangannya menatap ke bawah. ia mengernyit saat pandangannya menangkap bekas terbakar berbentuk lingkaran yang benar-benar sempurna.
Dan orang biasa pun bisa menyimpulkan jika bekas terbakar diatas rumput hijau itu bukanlah dibuat oleh manusia biasa. Bentuknya terlalu sempurna dengan diameter 5 meter lebih.
"Aku harus memberitahu Naruto tentang ini..."
Sasuke tak ingin membuat persepsi nya sendiri. Walaupun didalam otaknya sudah bisa menerka, namun tetap saja ia masih belum yakin. Ia harus bertanya pada Naruto, terlebih Naruto adalah seorang Hokage. Apapun yang mungkin bisa mengancam keamanan dan kedamaian desa adalah tanggung jawab Naruto.
oOo
"...Tapi yang jelas itu bukanlah bekas terbakar yang sengaja dibuat manusia biasa, dari bentuknya saja tidak mungkin, terlebih adanya kekuatan aneh yang menyebar di sekitarnya, walaupun aku sudah bisa menebak nya, namun kufikir tebakan ku tak sepenuhnya benar..."
"...Naruto, menurut mu bagaimana?"
Naruto hanya diam dan mendengar setiap kata yang diucapkan Sasuke. Walaupun Naruto sempat terkejut dan menerka-nerka, namun ia sendiri juga tak bisa menyimpulkan sebelum melihat dan merasakan langsung apa yang dimaksud kekuatan aneh oleh Sasuke.
Sebelum menjawab Sasuke, Naruto sedikit mengintip dan melirik ke arah Hinata yang masih tertawa-tawa pelan bersama Kiba. Naruto sedikit lega saat menyadari Hinata masih disana.
Naruto langsung kembali fokus pada Sasuke dan dengan sedikit menimang-nimang, mungkin masalah ini lebih penting dari masalah pribadinya.
Karena mungkin, masalah ini bisa mengancam keselamatan desa dan itu juga berarti lebih penting dari pada nyawanya sendiri.
"Bawa aku kesana!"
Maaf Sakura, sepertinya kencan kali ini juga harus tertunda.
oOo
Walaupun mengambil jalan tercepat untuk sampai di lokasi, Upaya mereka mengambil jalan pintas sepertinya hanya mengurangi waktu mereka beberapa menit , karena pada akhirnya mereka tetap memakan waktu hampir 1 jam lama nya untuk sampai di lokasi tujuan, jauh di tengah hutan terlarang di bagian selatan.
Mereka sudah sampai tepat di lokasi yang dibicarakan Sasuke. Dan benar apa kata Sasuke, bahkan 100 meter sebelum dirinya sampai disini pun, Naruto sudah bisa merasakan kekuatan aneh ini.
Naruto berdiri dalam diam mengamati setiap detil dari sisa terbakar berbentuk lingkaran di atas tanah di depannya. Ia terus berusaha berfikir walaupun sadar kapasitas otaknya bahkan tak bisa disamakan dengan setengah otak dari Sasuke. Namun walaupun begitu, Naruto tetap memperhatikan satu-satunya petunjuk didepannya. karena pada akhirnya insting nya lah yang memberikan jawaban, bukan otaknya.
"Ini hanya terkaan ku, tapi sepertinya aura kekuatan ini bukan dari dunia ini..."
"Teruskan..." Sasuke juga terus mengamati sambil mendengar apa pendapat Naruto. Walaupun Sasuke juga sadar dengan kapasitas otak Naruto yang selalu berfikir spontan, namun selalu saja hasil dari pikiran Naruto selalu bisa membantunya memecahkan masalah.
"Dari Perang melawan Kaguya, kita bisa mengetahui jika dunia kita bukanlah satu-satunya dunia yang ada bukan? Ada dimensi yang lain selain dunia ini..."
"Kau tahu... Aku hanya berfikir... jika kekuatan ini bukan dari dunia kita berarti..."
"Dari dunia yang lain." Ucap Sasuke memotong dan langsung menyela ucapan Naruto. Sepertinya apa yang di fikirkan mereka berdua sudah sama sejak awal. "...Aku juga menebak seperti itu Naruto... Tapi jika memang seperti itu, berarti dunia ini dalam bahaya" Lanjut Sasuke lalu berdiri dan berjalan mendekat ke arah Naruto.
"Apa maksudmu?"
"Aura kekuatan ini benar-benar membuatku tak nyaman..."
"Maksudmu siapapun dia yang melewati gerbang ini adalah orang yang jahat?"
"Tidak, tapi kemungkinan itu ada, terlebih lagi. Membuat lubang dimensi sebesar ini memerlukan kekuatan yang cukup besar, dia bukan orang biasa, Naruto!"
Naruto terdiam berfikir. Jika memang benar ini adalah lubang dimensi yang dibuat orang dari dimensi lain untuk datang ke dimensi ini, maka yang membuat Naruto khawatir adalah jika perkataan yang diucapkan Sasuke menjadi kenyataan.
Tapi tak ada jaminan semua itu benar... Pikir Naruto didalam diam.
"Siapapun dia, kuharap dia belum menyusupi Konoha..."
Deg!
Kedua mata Naruto melebar. Entah apa yang merasuki-nya saat tiba-tiba otaknya memutar rekaman memory yang didapatnya pagi tadi.
B-benar! O-orang aneh tadi pagi... Pikirnya tiba-tiba teringat dengan sosok yang dilihatnya bersama Hinata. Kenapa aku baru sadar sekarang!.
"Sialan!" Pekik Naruto langsung berlari tanpa memberitahu Sasuke.
Bagaimana aku sebodoh itu!
Bagaimana aku tak segera sadar jika kekuatan tadi benar-benar mirip dengan aura kekuatan yang dipancarkan oleh orang aneh yang bersama Hinata tadi!
Sial! Siapa dia sebenarnya! Kenapa dia harus bersama Hinata!
Naruto terus berlari secepat mungkin sampai tak sadar Sasuke mengejarnya sambil meneriakkan namanya dari belakang. Namun Naruto tak mendengarnya, suara Sasuke tak bisa sampai di otaknya saat didalam otaknya hanya dipenuhi dengan pikiran khawatir nya pada Hinata.
"Hinata!"
Naruto tiba ditempat dimana Hinata berdiri dengan menggunakan mode Biju. Dan dengan mode itu, Naruto berhasil menyingkat waktu perjalanan hingga 30 menit, namun semua harapan nya musnah saat sampai ditempat ini dan Hinata sudah tak ada.
Menghilangkan selubung chakra di badan-nya, Naruto sedikit terengah-engah dengan kedua mata yang benar-benar menyiratkan kekhawatiran.
"Hinata!"
"Naruto!"
Tiba-tiba suara Sasuke terdengar dari belakang, sebelum akhirnya mendarat tepat disamping Naruto.
"A-ada apa dengan kecepatan itu! Kenapa kau meninggalkanku huh!"
Nafas nya ter sengkal-sengkal mencoba berbicara, sementara tubuhnya yang benar-benar kelelahan mengimbangi kecepatan Naruto, terus menunduk dengan kedua lutut yang digunakannya untuk menyangga beban tubuhnya dengan kedua lengannya.
"Sepertinya aku tahu siapa yang kita cari, Sasuke..."
"Apa maksudmu! Kau tahu siapa pemilik kekuatan tadi? Berarti dia..."
"Benar..."
"Dia berhasil menyusup... Tapi..."
Kenapa dia mengincar Hinata! Pikir Naruto dengan gigi-giginya yang bergemeretak ketakutan atas apa yang dikhawatirkannya terjadi pada Hinata. ia benar-benar tak ingin apa yang di fikiran-nya sekarang terjadi pada Hinata.
"Tapi apa Naruto!"
"Hinata..."
Mendengar Naruto menggumam kan nama gadis Hyuuga itu, Sasuke mengernyitkan sebelah alisnya karena itu bukanlah jawaban dari pertanyaannya. Namun semua itu tidak penting, lantaran saat Sasuke melihat wajah Naruto yang masih menunduk, ia benar-benar melihat kekhawatiran yang tergambar jelas disana...
Apa yang terjadi...
"Dia bersama Hinata, Sasuke! Aku harus memberitahu nya sekarang!" Ucap Naruto dengan nada tinggi kepada Sasuke.
Namun sebelum Naruto sempat berlari meninggalkan Sasuke dan bertindak gegabah. Sasuke langsung berusaha menghentikannya. Walaupun dengan menggunakan sedikit chakra, namun semua itu lebih baik dari pada harus membiarkan Naruto bertindak gila di luar sana.
"Lepaskan Sasuke! jika tidak! Hinata akan..."
"Tenangkan fikiran mu Naruto! jika kau bertindak bodoh di luar sana, kau hanya akan mempersulit keadaan!"
"Lalu apa yang harus kulakukan!"
Tak ada alasan untuk Naruto tetap tenang setelah menyadari bahaya sedang berada bersama serang gadis yang paling ingin dilindunginya. Walaupun dirinya sadar benar apa yang akan dilakukannya di luar sana hanya akan menimbulkan masalah seperti apa yang dikatakan Sasuke, tapi tetap saja, Naruto tak bisa tenang dan membiarkan semuanya terjadi begitu saja.
"Kita harus menyusun rencana! Shikamaru ahli dalam bidang ini! jadi kau harus tetap tenang!" Ujar Sasuke mencoba membuang jauh-jauh wajah Stonic bawaan-nya hanya demi membuat sahabat yang selalu ada untuknya itu untuk tetap tenang mensikapi kejadian yang tak terduga ini.
Walaupun Sasuke juga tahu bagaimana rasanya jika seseorang yang paling kau cintai dalam sebuah kondisi yang cukup berbahaya, namun semuanya harus tetap tenang dan berfikir secara realistis, lagipula, fakta masih belum cukup untuk mengatakan sosok yang tengah bersama Hinata adalah seorang yang jahat.
"Mungkin dia bukan orang yang seperti kita kira, jadi tenanglah dan berfikir positif, Naruto!"
Mencoba menyikapi semua ucapan Sasuke, Perlahan tapi pasti, Naruto mulai tenang. Deru nafas serta degup jantung yang tadinya terdengar memburu, kini perlahan sudah mulai stabil.
"Tak ada yang perlu kau cemaskan Naruto... jadilah dirimu seperti biasa, yakin lah semuanya akan baik-baik saja." Dengan itu, perlahan wajah Naruto yang awalnya penuh kekhawatiran, kini perlahan mulai tenang.
"Kau benar..."
Sedikit menghela nafas lalu membuka perlahan-lahan kedua kelopak matanya dan langsung mengarahkan tatapan tajam penuh keyakinannya ke arah pahatan wajah sang ayah yang terpahat dengan gagahnya di gunung Hokage. Sambil tersenyum lebar seperti biasa, ia menunjuk lurus dengan jari telunjuknya tepat pada wajah sang ayah.
"Ayah!"
"Kali ini! Akan ku pastikan aku akan melindunginya dengan semua kemampuanku! Tak akan membiarkannya terluka seperti dulu lagi!" Ujar Naruto, lalu menurunkan tangannya dan tersenyum ke arah Sasuke.
"Bagaimana Sasuke? Kau mau membantu ku?"
"Hah... tentu saja..."
Hinata...
TBC
[Note] Yang Pingin tahu sosok menma di Fanfic ini, bisa liat di gambar Covernya...
