(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca. Trims)

.

.

.

Pagi hari jam 8. Kami berempat, aku Naruto Sakura dan Kakashi-sensei berencana akan menjalankan misi level 2 kami. Seperti yang sudah kalian ketahui kemarin, misi kami kali ini tidaklah mudah, juga tidaklah sulit. Sedang saja maksudku. Kami di perintah oleh kepala desa untuk berburu 2 ekor Apceros untuk di ambil tulang iganya. Yang konon katanya dapat digunakan sebagai material penting untuk membuat armor dengan kualitas unggulan.

"Kakashi-sensei, kapan kita akan mulai misinya nih?" Naruto memonyongkan bibirnya sebagai pertanda bahwa ia sudah bosan untuk menunggu. Aku heran kepada anak tunggal Minato-sama itu. Sudah dewasa, tapi terkadang kelakuannya bak anak baru menginjak usia remaja.

"Iya-iya sebentar. Sensei akan mengurusi ijin bepergian misi dulu" Kakashi-sensei kemudian berjalan menuju pos jaga yang terletak persis di samping gerbang desa kami.

"Yo Izumo-san, Kotetsu-san" Kakashi menyapa kepada kedua petugas penjaga gerbang yang kini terlihat sedang tiduran.

O ya, aku belum memberi tahu bahwa di desa kami ini ada peraturan yang mengharuskan para hunter untuk meminta ijin misi sebelum pergi keluar. Yang menjaga pos gerbang desa adalah Izumo dan Kotetsu. Dua pria paruh baya yang terlihat tak kalah malasnya dengan senseiku itu. Sebenarnya dulu mereka berdua pernah mengikuti didikan sebagai calon hunter. Tapi karena nyali yang ciut dan kemampuan yang di bawah rata-rata, mereka akhirnya mundur. Dan karena Sarutobi-sama kasihan kepada mereka berdua, akhirnya beliau memikirkan posisi yang pas untuk Kotetsu dan Izumo. Dan akhirnya, inilah pekerjaan mereka yang pas sehari-harinya.

"Eh ada Kakashi-san" Kotetsu mengucek-ucek kedua matanya karena masih mengantuk.

"Silahkan tanda tangan Kakashi-san" Izumo menyodorkan buku untuk di tanda tangani Kakashi, sebagai bukti bahwa ia telah resmi pergi untuk menjalankan misi.

Kakashi lalu segera mengambil pensil dan kemudian membubuhkan tanda tangan di buku itu.

"Aku pergi misi bersama mereka bertiga. Mereka tanggung jawabku" Ucap Kakashi sembari menunjuk ke arah aku, Naruto, dan Sakura.

Setelah selesai, Kakashi langsung berojigi kepada Kotetsu dan Izumo lalu kemudian berkata "Kalian berdua pasangan yang cocok".

"EHHHHH?" Sontak saja terjadi keributan kecil yang cukup kekanak-kanakan di antara mereka bertiga.

Kakashi lalu kembali menghampiri kami bertiga.

"Semua peralatan berburu sudah siap?" Tanyanya.

"Sudah" Jawab kami bertiga serempak dengan mantap.

"Oke, ayo berangkattt!" Teriak Naruto dengan semangatnya yang membuat kuping pegal seketika.

Akhirnya kami pun memulai perjalanan ini bersama-sama. Kami setiap 3 hari hingga 6 hari sekali pasti selalu di tugasi untuk pergi misi bersama tim ini, Tim 7. O ya, aku belum bercerita kepada kalian ya tentang pembagian tim. Aku akan jelaskan sebisaku. Teman-teman seangkatanku yang seumuran, berjumlah 12 orang. Dan karena prestasi kami yang baik dalam menjalankan misi, kami sering berdua belas sering dikatkan sebagai rookie 12. rookie 12 kemudian di bagi menjadi empat tim, di mana satu timnya beranggotakan tentunya tiga orang. Kebetulan aku, Naruto, dan Sakura masuk ke dalam tim 7 yang dibina oleh Kakashi-sensei. Tim 8 di anggotai oleh Ino, Shikamaru, dan Chouji. Dan dibina oleh Asuma-sensei. Katanya sih, hal yang paling di unggulkan dari tim 8 adalah kekompakannya dalam menghabisi monster. Perpaduan kekuatan antara Ino, Shikamaru, dan Chouji nyaris sempurna dan saling mengisi satu sama lain. Lalu tim 9. Tim ini di anggotai oleh Neji, Ten-Ten, dan Lee. Mereka bertiga dibina oleh hunter paling enerjik yang malah terbilang norak, bernama Gai-sensei. Kekuatan yang paling menonjol dari tim ini ada pada semangatnya yang amat pantang menyerah. Mungkin karena di akibatkan oleh watak sensei mereka kali ya? O ya, tim ini juga di kenal dengan strategi tipe close-range combatnya. Yang terakhir adalah tim 10. Tim ini di anggotai oleh Hinata, Shino, dan Kiba. Mereka dibina oleh satu-satunya sensei hebat berjenis kelamin perempuan, yaitu Kurenai-sensei. Tim ini menonjol dalam hal pelacakan monster yang terbilang amat akurat.

Kembali ke perjalanan kami berempat...

"Sensei, lokasi berburunya masih jauh tidak sih?" Naruto kembali bertanya sambil mempercepat langkahnya.

"Yaaa kira-kira emm...1 jam lagi kita sampainya lah" Jawab sensei kami dengan ekspresi malasnya. Benar-benar tidak niat hidup ini orang.

"Kalo ada Sasuke-kun sih, berapapun jauhnya jarak yang harus di tempuh aku rela kok" Sakura lagi-lagi berusaha mencari simpati dariku dengan rayuan anehnya itu. Dasar perempuan aneh bin ajaib.

Kami masih berjalan beriringan. pepohonan yang lebat di sertai suara kicauan burung masih setia menemani langkah kami berempat. Katanya sih monster bernama Apceros itu habitatnya ada di dalam goa, di tengah hutan ini. Aku pernah melihat sekali wujud monster ini, walaupun itu dalam kondisi yang sudah mati ketika para hunter dari desa kami membawa mayat monster ini untuk di konsumsi dagingnya.

"Psst diam semuanya" Kata Kakashi-sensei tiba-tiba.

Kami pun segera berhenti, walau jujur tak tahu apa alasannya.

"Lihat goa itu" Telunjuk sensei kami di arahkan ke sebelah kiri, di mana samar-samar terlihat lubang hitam yang besar yang berada di rerimbunan semak-semak.

"Kalian tahu apa maksudnya kan?" Kakashi-sensei bertanya penuh makna.

"Itu adalah goa" Sahutku singkat.

"Dan itu tandanya..." Belum selesai Sakura berbicara, Naruto langsung mendahuluinya.

"Apceros ada disekitar sini!" Teriak Naruto kegirangan.

(Pletakkk)

"Awww, kenapa kau terus memukulku Sakura-chan?" Naruto meringis kesakitan.

"Psst jangan berisik. Kalian ikuti aku pelan-pelan" Ucap Kakashi-sensei lirih.

Sensei kami perlahan berjalan mengendap-endap menuju ke arah goa yang di perkirakan sebagai sarang Apceros itu. Dan kami pun ikut mengendap-endap di belakangnya. Tiba-tiba Kakashi-sensei menghentikan langkahnya.

"Naruto, Sasuke. Dengarkan kata-kataku" Ucapnya singkat, tapi terdengar serius.

Aku dan Naruto lalu menatap ke arah Kakashi-sensei dengan tak kalah serius juga.

"Menurut pengalamanku sebagai seorang hunter, goa Apceros di huni oleh dua ekor saja. Biasanya mereka adalah Apceros jantan dan betina"

Aku masih memperhatikan senseiku, begitu juga Naruto.

"Aku ingin nantinya kalian menghadapi makhluk itu satu lawan satu. Sasuke satu, dan Naruto satu. Pas bukan?"

"Kalau aku sensei?" Sakura bertanya dengan nada was-was.

"Kau seperti biasa Sakura. Menyiapkan kemampuanmu untuk mengobati jika ada yang terluka. Oke, semuanya paham?"

Kami bertiga mengangguk serempak.

"Bagus, kita mulai perburuan ini sekarang. Biar aku yang akan memancing makhluk itu keluar dari sarangnya" Kakashi-sensei kemudian berjalan mengendap-endap menuju muka goa.

Setelah sampai, dia langsung mengambil smoke bomb (bom asap) dari sakunya dan melemparkannya ke dalam.

Kakashi-sensei lalu memberikan kode isyarat kepada kami bertiga untuk membentuk formasi.

Aku, Naruto, dan juga Sakura langsung membentuk formasi tempur seperti biasanya. Aku di kiri, Naruto di kanan, dan Sakura ada persis di belakang kami berdua.

"Sakura-chan, semua obat-obatan dan peralatannya sudah siap kan?" Tanya Naruto sembari bersiap untuk mengambil senjata andalannya yang masih terpasang di punggungnya itu.

"Hmm" Sakura mengangguk mantap.

"Bersiaplah kalian. Mereka berdua datang" Kata Kakashi sambil bergerak mundur perlahan.

Seperti itulah tugas sensei di tim. Dia hanya berfungsi sebatas pembina dan pembimbing saja. Masalah pertempuran, sepenuhnya di serahkan kepada anggota tim. Itu di lakukan agar anggota tim bisa mandiri total dalam pertempuran. Kecuali jika keadaan benar-benar amat kritis, baru seorang sensei turun tangan langsung ke medan tempur. Maka dari itu kalian jangan heran melihat Kakashi-sensei yang sekarang sedang duduk manis di atas pohon. Benar-benar memuakkan pekerjaan seorang sensei itu.

NGOOAAHHHHH...

'Suara itu?' Batinku cukup panik.

Dari dalam goa yang gelap, samar-samar terlihatlah sesosok monster yang berukuran cukup besar. Keempat kakinya terus di langkahkan pelan, dan sedikit menimbulkan getaran di tanah. Well, mungkin itu di karenakan ukuran Apceros yang lumayan besar.

APCEROS

Tipe Monster : Herbivora

Ukuran : Sedang

Gerakan andalan : Tandukan kepala

Apceros adalah monster herbivora, sepupu dari Aptonoth. Ukuran tubuhnya lumayan besar, kurang lebih dua kalilipat dari ukuran tubuh beruang dewasa. Dengan bentuk yang amat mirip dinosaurus purba bernama Ankylosaurus, tentu saja senjata andalannya sama. Ekor. Walau sering melakukan gerakan menyeruduk, tapi hal yang amat patut di waspadai oleh seorang hunter ada di ekornya yang sekeras baja itu. Apceros juga di lengkapi dengan cangkang besar yang berduri, yang berfungsi untuk menghalau serangan baik itu dari monster karnivore ataupun dari para hunter.

Kembali ke pertempuran...

"Dobe, bersiaplahhh!" Teriakku lantang sembari mengambil posisi kuda-kuda yang pas. Senjata andalanku Amaterasu, telah kupegang erat dan kufokuskan untuk menghabisi monster mirip kura-kura itu.

NGOOAAHHHHH...

Apceros melihat keberadaan kami bertiga. Sepertinya, makhluk yang satu ini amat cepat marah. Itu telihat dari tingkahnya yang langsung mengibas-ngibaskan ekor besarnya begitu melihat keberadaan kami.

"Sakura-chan, mundur sedikit" Saran Naruto begitu melihat monster itu mulai bergerak maju.

Sakura pun mengangguk dan langsung bergerak sedikit mundur kebelakang. Naruto dan aku langsung bergerak maju sedikit, dengan tingkat konsentrasi yang tinggi.

Langkah monster itu berangsur-angsur menjadi cepat. Dan benar saja dugaanku, dia kini akan berlari menerjang kami bertiga!

NGOOAAHHHHH...

"Bersiaplah Sakura. Rencana A" Kataku mantap sembari tetap fokus ke arah lawan.

Sakura terlihat sedang mencari sesuatu di ransel kecilnya. Dan...ketemu! Sebuah flash bomb (bom cahaya), yang berguna untuk membutakan lawan walau dalam singkat kurang lebih setengah menit saja.

"Lempar Sakura-channn!" Teriak Naruto ketika jarak Apceros dan kami tinggal 7 meter saja. Sakura pun segera melemparkan flash bomb ke arah depan dengan kekuatan penuh. Dan...

FLASSHHH

Bingo! Monster itu terkena jebakan kami!

"Dobe, ayo" Aku pun bergegas menyerang, dan diikuti pula oleh Naruto. Aku menyerang dari arah kiri, Naruto dari arah kanan.

"HEEAAHHH!" Ku hunuskan pedangku dengan sekuat tenaga ke arah monster itu.

(SPLASHHH) NGOOAAAHHHHH...

Berhasil! Satu serangan dari pedang hitamku in berhasil membuatnya terluka. Dan cangkangnya pun sudah mulai retak. Mungkin jika yang di gunakan untuk menyerang adalah pedang biasa, maka tak akan ada pengaruhnya. Tapi ini lain. Pedang legendaris Amaterasuku jangan di samakan dengan pedang yang pasaran.

"Naruto, sekarang!" Teriakku berusaha memberinya aba-aba.

"HIAATTT!" Naruto langsung menusukkan tombak Rasengannya ke arah samping dari tubuh Apceros.

(SLEBBB) NGOOAAAAHHHHHH...

Good Job! Tombak itu berhasil menusuk ke dalam paha kiri Apceros dengan luka yang terbilang parah. Naruto mencabut tombaknya kembali dan bergerak mundur, begitu pula denganku.

Nafas kami berdua tak beraturan. Melakukan satu kali serangan saja sudah cukup melelahkan. Benar-benar pertempuran yang sesungguhnya.

"Teme, kita serang lagi monster itu. Bagaimana?" Naruto menoleh ke arahku dengan tampang penuh harap. Benar-benar ketagihan anak ini.

Aku melihat kini Apceros itu sedang benar-benar kewalahan. Darah terus mengalir dari tubuh besarnya itu. Tapi tunggu dulu. Kata Kakashi-sensei, ada dua Apceros yang seharusnya keluar sarang. Mana lagi yang satunya?

"Sensei, kenapa Apceros yang muncul hanya satu hah?" Tanyaku lantang.

"Entahlah Sasuke. Setahuku seharusnya ada dua ekor di setiap sarang. Tetap waspada dan kalau bisa, secepatnya habisi yang kalian lihat sekarang" Jawabnya sambil tetap bersantai di atas pohon. Hn, enak sekali dia? Dia pikir, kami bertiga tontonan gratis apa?

"Baiklah...ayo Teme"

"Oke"

Kami pun mulai ancang-ancang untuk menyerang kembali. Begitu juga monster itu. Walaupun sudah terluka parah, tapi kelihatannya dia akan menyerang kami kembali.

"HEEAAHHH!" Teriak kami berdua sambil berlari menerjang Apceros yang kini juga sedang berlari untuk menerjang kami juga. Siapa yang akan menang?

(SPLASHHH)

(JLEBBB)

NGOOAAHHHHH...

Kami berhasil mengenainya sebelum dia mengenai kami! Aku sabetkan pedang panjang ini tubuhnya, begitu juga Naruto. Tapi...

"Arrghhh"

"Dobbeee!"

Naruto jatuh tersungkur setelah terkena sabetan dari ekor sekeras baja milik monster itu. Walaupun sekarat, tapi Apceros itu sempat memberikan perlawanannya untuk yang terakhir kalinya. Sial!

"Sakura, obati luka Naruto" Perintahku. Dan Sakura yang memang sudah lumayan pengalaman, langsung cepat tanggap terhadap situasi.

Aku menoleh ke arah depan. Yang kulihat sekarang, monster itu telah mati dengan darah yang mengucur deras dari seluruh tubuhnya. Aku pun bergegas menghampiri Naruto setelah memastikan bahwa keadaan sudah aman.

"Kau tak apa Dobe?" Tanyaku cemas dengan keadaan rivalku sekarang ini. Yang kulihat armor yang terpasang di dada Naruto rusak cukup parah. Tapi selain armor, tak ada bagian lain yang terluka.

"Uhhukk" Naruto memuntahkan sedikit darah dari tenggorokannya. Sepertinya ia terkena luka dalam. Benar-benar dahsyat serangan ekor dari Apceros itu. Tak salah jika banyak monster karnivore lainnya yang terpaksa mundur di tengah-tengah pertarungan memburu Apceros.

"Lekas minum ini Naruto" Sakura memasukan pil ke dalam mulut Naruto, dan bergegas memberinya air minum. Mungkin itu semacam pil obat luka dalam.

"Kalian tak apa? Bagaimana kondisimu Naruto?" Kakashi-sensei mendekati kami dengan langkah yang tergesa-gesa. Sepertinya dia cukup cemas terhadap keadaan Naruto.

"Tidak apa-apa se..sensei" Sahut Naruto sembari tersenyum kecut. Padahal aku yakin sekarang ia sedang merasakan sakit yang cukup hebat di dadanya.

"Sasuke, apa kau sanggup bertempur sendirian?" Tanya Kakashi-sensei dengan nada khawatir.

"Aku sanggup"

"Baiklah jika kau merasa tak sanggup..." Belum selesai sensei berbicara, tiba-tiba...

NGOOAAHHH...

'Shit! apa lagi itu'

Kami semua menoleh ke arah belakang. Disana terlihat sesosok Apceros yang sedang mengendus-endus mayat Apceros yang tadi telah kuhabisi. Tiba-tiba saja, reaksi monster itu terlihat amat agresif. Mungkin dia amat marah karena mengetahui pasangannya telah tewas oleh kami para hunter.

"Sasuke, kau serius sanggup menghadapinya sendirian?" Kakashi-sensei menatap ke arahku dengan tatapan ragu.

Aku lihat Naruto masih terkapar tak berdaya akibat serangan ekor Apceros tadi. Dan Sakura pun, masih sibuk mengobati luka Naruto. Sial, keadaan semakin rumit.

"Aku sanggup"

Kakashi-sensei tercengang begitu mendengar penuturanku yang spontan itu. Tapi kemudian, dia berkata " Bagus, kupercayakan keselamatan rekanmu kepadamu, Sasuke"

Aku tersenyum tipis.

"Baiklah, selamat berjuang Sasuke" Ucap Kakashi sambil kembali naik ke atas pohon untuk memantau jalannya pertempuran.

Aku memegang Amaterasu dengan sedikit bergetar. Iya benar, perasaanku sedikit dinaungi oleh ketakutan sekarang. Aku baru pernah bertarung satu lawan satu melawan monster kali ini. Monster cukup besar lagi.

"Dobe, Sakura, cepat kalian menyingkir dari sini"

Sakura langsung memapah Naruto dan membawanya pergi menjauh kebelakang, menuju area yang cukup aman.

'Ayo...datanglah kau monster'

NGOOAAHHHHHHH...

Apceros berlari kencang ke arahku dengan amarah yang luar biasa. Ini benar-benar berat bagiku. Tapi aku harus siap. Ini demi keberhasilan tim. Akan kubuktikan, bahwa aku adalah keturunan Uchiha yang mewarisi darah kakek buyutku. Sang pahlawan Konohagakure.

"RASAKAN INIII!" Aku mengayunkan Amaterasu dengan kekuatan penuh ke arah kepala monster itu.

(SPLASHHH)

Bagus! Tepat sasaran. Kulihat monster itu terbanting ke arah kanan. Tapi sebelum terbanting, ekornya mengarah kepadaku.

Settt...nyaris saja aku terkena sabetan ekornya itu. Pyuhhh, benar-benar pertarungan yang menguras energi.

Apceros itu kembali bangkit. Dia kemudian berbalik lagi ke arahku, dan kembali berlari menerjangku.

NGOOAAHHHHH...

Aku pegang erat Amaterasuku dengan kedua tanganku. Karena bobot pedang ini yang di atas rata-rata, hanya dengan beberapa kali sabetan saja energiku sudah terkuras hampir separuhnya.

Monster itu kembali menyeruduk dengan kekuatan penuh. Sial, aku tak bisa asal-asalan dalam mengayunkan pedangku ini. Benar-benar menguras tenaga.

Settt...aku menghindar ke arah kanan. Lagi-lagi nyaris saja aku terkena hantamannya.

Monster itu menghentikan langkahnya tiba-tiba, dan mengayunkan ekornya ke arahku walau posisinya membelakangiku.

Wusshhh...

Aku menoleh ke belakang, dan melihat ada serangan ekor dari monster itu. Aku pun refleks menangkisnya dengan pedangku.

(CTANGGG)

'Sial, berat sekali menahan kekuatan ekor Apceros ini' Batinku.

Aku masih menahan ekornya dengan pedang andalanku. Di antara kami berdua, sama sekali tak ada yang bergerak. Adu kekuatan antara ekor Apceros dan Amaterasuku membuat kami seakan seperti patung saja.

Tiba-tiba...

NGOAHH...

Apceros itu melepaskan ekornya dan pergi menjauh dariku. Ada apa ini?

"Kakashi-sensei, ada apa ini? Mengapa...monster itu menjauh?" Aku bertanya penuh rasa heran. Tak biasanya seekor monster menyerah begitu saja. Apalagi, mengingat tadi ia amat geram setelah tahu bahwa pasangannya tewas olehku dan Naruto.

"Pssttt, diamlah" Wajah Kakashi-sensei menjadi serius. Dia lalu turun dari pohon dan mengadahkan pandangannya ke arah langit.

Aku yang masih keheranan hanya bisa terdiam seperti patung. Begitu juga Naruto dan Sakura yang ikut keheranan dari kejauhan.

"Woyyy Temeee! Apa yang terjadiii?" Teriak Naruto dengan keras.

Kakashi-sensei menoleh ke arah Naruto dan menaruh jari telunjuknya di bibir. Seakan menyuruhnya untuk diam.

"Sensei, sebenarnya ada apa ini?" Bisikku lirih.

"Ada yang tidak beres. Bukan dengan monster itu, tapi dengan keadaan sekitar" Jawabnya penuh lika-liku. Dasar, kenapa tidak to the point saja sih?

Tiba-tiba dari arah langit terdengar suara kepakan sayap yang cukup keras. Perlahan, suara itu menjadi semakin keras.

plek..Plekk..PLEKKK..PLEKKKKK

Angin besar bertiup seiring dengan mendekatnya sosok misterius itu ke tanah.

Aku mengadahkan kepalaku ke atas, dan mencoba menajamkan penglihatanku ke sosok itu.

"Sasuke, mundur. Ini akan menjadi rumit, bukan. Amat rumit" Kata Kakashi-sensei dengan nada amat serius. Seumur-umur dia membina tim 7, baru pernah aku melihatnya seserius ini.

Sosok itu pun telah sempurna menginjakan kakinya di tanah, sembari menimbulkan getaran yang sedikit keras.

KUOK KUOK KOK KOK...KUOKUOKKK

Suara yang keras seperti kokokan ayam jantan, kulit yang berwarna pink, dan paruh raksasa itu. Jangan-jangan makhluk itu...

"Dia adalah seekor bird-wyvern (wyvern burung). Dan namanya adalah Yian-Kut-Ku" Kata-kata sensei kami barusan membuat mataku terbelalak lebar.

'Ini tidak mungkin. Kami..kami harus menghadapi seekor wyvern'

TSUZUKU

Author minta maafff banget kalo penyajian fic in jelek. Kalo suara-suara efek pertarungan maupun efek monsternya jelek, itu di karenakan keterbatasan author sebagai manusia biasa *halah*. Oke, author persilahkan bagi yang mau ngereview fic ini. Saran, kritik, maupun flame akan author terima :-)