(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia. com* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca. Trims)
.
.
.
Setelah kami berempat sampai di desa, kehebohan pun terjadi di rumah kepala desa. Sarutobi-sama beserta para hunter senior lainnya tak henti-hentinya bertanya tentang keadaan kami, khususnya aku, Naruto, dan Sakura. Decakan kagum pun tak luput terlontar dari beberapa di antara mereka.
Bagaimana tidak? Konon, baru pernah terjadi sekali ini dalam dunia hunter bahwa ada tim hunter level 2 yang berhasil mengalahkan seekor wyvern yang seharusnya dihadapi dalam misi level 3 bahkan hingga level 4.
Aku sebenarnya merasa sedikit malu karena telah mengetahui kebenaran yang cukup miris. Bagaimana tidak? Yang menghabisi Yian Kut-Ku itu kan Kakashi-sensei dan bukannya kami bertiga. Aku hanya membantu sedikit saja. Apalagi Sakura dan si Dobe itu.
Yang paling memuakkan ketika mendengar kalimat seperti 'aku yang membunuhnya', 'ini semua berkat jasaku', dan kalimat-kalimat sejenisnya yang terlontar dengan entengnya dari mulut besar Naruto.
Cih, boro-boro bertarung. Tahu wujud dan rupa asli monster itu saja tidak. Dasar!
"Naruto, Sakura, kalian masih tetap mau disini dulu?" Tanyaku.
Sakura mengangguk mantap "Tentu saja Sasuke-kun. Lagian sebentar lagi Sarutobi-sama akan menghidangkan jamuan yang lezat untuk merayakan keberhasilan kita"
"Teme, sekali-sekali kau bersosialisasi lebih lama dengan orang-orang kenapa? Pasti kau mau pulang duluan ya?" Tebak Naruto tepat sasaran.
Aku mengangguk pelan.
"Tapi itu terserah kau saja deh. Lagian jika kau pulang, jatah makananmu kan akan menjadi milikku. Hahahahaha" Si Dobe itu malah tertawa terbahak-bahak. Aku jadi tidak merasa menyesal lagi telah menyeretnya hingga membuatnya sedikit terluka waktu membawanya ke tempat perlindungan tadi.
"Semuanya, aku permisi dulu. Sampaikan ucapan terima kasihku kepada Hi Tate dan juga ucapan maafku karena tak bisa mengikuti jamuan ini" Setelah aku berojigi kepada semua yang ada di ruangan, aku pun beranjak pergi untuk pulang.
H
U
N
T
E
R
Tak terasa waktu sudah sore. Matahari mulai terbenam. Langit sore yang berwarna oranye senantiasa mengiringi sang surya untuk kembali menuju peraduannya. Dulu ketika aku masih kecil kira-kira berumur 5 tahun, aku dan kakakku selalu berjalan-jalan berkeliling desa.
Biasanya Itachi selalu menggendongku di punggungnya, tak kenal lelah ia terus bercerita baik hal-hal yang penting ataupun tidak penting. Aku yang waktu itu masih polos selalu tak henti-hentinya bertanya tentang berbagai macam hal. Terutama hal-hal mengenai menjadi seorang hunter yang kuat dan berani.
Karena keluarga Uchiha terkenal sebagai keluarga hunter yang elit, aku tertarik untuk menjadi seorang hunter ketika sudah dewasa nanti. Itachi yang dulu sebelum membantai seluruh klan, pernah menjabat sebagai 'San Koken'nin' atau yang disebut sebagai Three Guardian. Itu adalah gelar yang diberikan kepada tiga orang hunter yang kuat, berani, dan berjiwa ksatria yang dianggap mampu untuk menjaga kedamaian desa dari segala ancaman.
Dulu ia pernah menjadi anggota San Koken'nin yang konon termuda dari yang pernah ada sepanjang sejarah. Bersama Kakashi-sensei dan Jiraiya-sama yang sekarang telah keluar untuk berpetualang entah kemana. Aku selalu mengagumi apapun yang berasal dari dirinya. Dan bercita-cita untuk menggantikan posisinya suatu hari nanti.
Tapi itu semua berubah ketika malam itu ia dengan sadisnya dan dengan kejamnya membantai seluruh klan Uchiha. Aku jujur sampai sekarang tidak pernah tahu apa tujuan sebenarnya kakak brengsek yang seharusnya sudah tidak pantas kupanggil dengan sebutan kakak lagi itu.
Kalimat terakhir yang kudengar darinya adalah...
"Sasuke, aku yang kau kenal sudah lama berlalu. Hadapilah kenyataan Sasuke, sepahit apapun itu. Itu adalah jalan terbaik untuk menempamu menjadi seorang hunter yang tangguh"
Setelah itu, aku belum pernah bertemu dengannya lagi barang satu detikpun. Sama sekali belum pernah.
Entah seperti apa dia sekarang.
"Kakak..." Gumamku sembari memandang ke arah matahari terbenam. Pemandangan yang amat disukai oleh Itachi.
H
U
N
T
E
R
Di suatu tempat yang gelap dan dingin, tepatnya di tempat persembunyian organisasi hunter gelap bernama Akatsuki.
"Sekarang, siapa yang akan kau perintahkan untuk bertugas leader-sama?" Tanya seorang pria berperawakan tinggi besar yang sedang berdiri di pojokan ruangan sambil menenteng pedang raksasa yang dililit erat oleh lapisan kain.
Sesosok pria dengan mata menakutkan yang bercahaya di dalam kegelapan menatap ke arah pria tinggi besar tadi.
"Hari ini kita punya Quest dari seorang pengusaha ternak kaya raya di Hoshigakure. Menghabisi seekor wyvern bernama Rathian yang menurutnya telah memakan ternak-ternaknya selama ini. Dan untuk itu, aku tugaskan..." Kata-katanya terhenti perlahan.
"Aku dan Sasori no danna adalah duet yang sempurna untuk menghabisi monster betina itu, hn" Sahut seorang berambut panjang layaknya wanita, akan tetapi suaranya menunjukan bahwa ia adalah seorang laki-laki.
"Ohhh...kalian berdua pasangan seniman ya? Seniman atau air seni, man? Huahahaha" Sindiran keluar dari mulut seorang pria berambut klimis putih yang sedari tadi sedang asyik minum arak.
"Diam kau makhluk sesat! Akan kuledakan tubuhmu hingga hancur, hn"
"Deidara, cukup. Ayo lekas berangkat" Ucap seorang pria berambut merah dengan tenangnya. Pria ini sama sekali tidak menanggapi ejekan dari seseorang yang dikatai 'makhluk sesat' itu.
"Hoy tunggu..."
Seluruh pasang mata menatap ke arah suara yang sepertinya berasal dari mulut manusia tinggi besar yang menggunakan cadar. Pria itu berjalan ke tengah ruangan hingga akhirnya menampakan wujudnya yang mengerikan dengan mata hijau.
"Kali ini, berapa rewardnya?"
"400.000 ryo, Kakuzu" Jawaban singkat terlontar dari seorang yang sepertinya mereka anggap sebagai pemimpin itu.
"Besar juga ya untuk ukuran wyvern yang cukup lemah seperti itu. Kalian harus mendapatkan uangnya. Jika tidak, kalian akan berurusan denganku" Pria bernama Kakuzu itu menghunuskan pedangnya ke arah pasangan hunter yang bernama Deidara dan Sasori itu.
Sasori menatap tajam ke arah Kakuzu "Aku tak akan takut dengan ucapanmu barusan"
"Ayo pergi Sasori no danna. Jangan urusi pasangan gila dan sesat seperti mereka ini" Ucap Deidara sinis.
PRYAANGGG!
Sebotol sake telah jatuh hingga pecah berkeping-keping.
"Apa kau bilang banci blonde? Jaga ucapanmu tolol!" Pria yang dianggap sesat itu sepertinya mulai marah besar.
"Diam!"
Semua yang ada di ruangan itu terdiam seketika begitu mendengar suara dingin nan datar dari pemimpin mereka. Mungkin mereka sudah tahu resikonya jika harus berurusan dengan sesosok pria berwajah penuh pierching dengan pola mata yang aneh nan menyeramkan itu.
"Lakasanakan dengan baik Deidara, Sasori" Ucapnya tenang.
Dan kedua orang yang dituju hanya membalas dengan anggukan kepala, dan bergegas untuk pergi dari situ.
Di atap gedung tempat persembunyian mereka, sesosok pria dengan mata merah yang juga mempunyai dua garis panjang di bawah matanya sedang terduduk dengan tenang. Ia menatap kedua rekannya yang berjalan menjauh untuk melaksanakan Quest dengan tatapan datar. Sesekali kepalanya ia arahkan ke ufuk barat, dimana matahari terbenam dengan indahnya.
"Sasuke..."
H
U
N
T
E
R
Malam telah tiba. Suasana mulai sepi. Namun, aku belum juga sanggup untuk menutup mata dan memulai perjalanan panjangku ke alam mimpi. Walaupun tubuhku terasa lelah setelah pertempuran panjang tadi, tapi entah kenapa sepertinya tubuhku belum mau diajak beristirahat.
Kuputuskan untuk pergi berjalan-jalan sebentar. Siapa tahu aku bisa mudah tertidur setelahnya.
CEKLEK
Kubuka pintu rumahku dengan perlahan. Angin malam yang dingin menerpa wajah dan kulitku. Aku menutup pintu dan menguncinya, kemudian kulangkahkan kakiku menuju kedai Yakiniku-Q yang kurasa masih buka hingga larut malam.
"Hoahmmm, ramai juga ya"
Aku kemudian duduk di meja yang berada di pojokan, dan segera memesan sepiring yakiniku beserta teh ocha sebagai minumannya. Malam yang dingin akan terasa pas jika didampingi oleh makanan atau minuman hangat.
"Hoi Sasuke"
Pundakku di tepuk tiba-tiba. Aku pun terkaget dan langsung menengokan kepalaku ke samping.
"Ne..Neji? Tenten dan Lee?"
Neji tersenyum sedikit. Diikuti oleh senyuman Ten Ten dan cengiran memuakan dari Lee. Mereka adalah rekan sesama Rookie 12 walaupun sebenarnya kami berbeda tim.
"Boleh kami duduk semeja denganmu Sasuke?" Tanya Ten Ten dengan nada sopan.
Aku hanya bisa memutar bola mata dengan ekspresi pasrah "Yahh, terserah kalian saja lah"
'Padahal niatku untuk makan disini kan agar pikiranku rileks supaya nanti mudah tertidur. Bukannya malah berkumpul-kumpul seperti ini yang bisa mengakibatkan begadang hingga larut malam' Gerutuku dalam hati.
Ten Ten dan Neji mengambil tempat duduk yang ada di hadapanku, sedangkan si hijau norak itu dengan seenaknya duduk di sebelahku.
"Ten Ten, Neji, kalian mau pesan apa nih? Kalo aku sih akan pesan yakiniku ayam dengan minuman es jeruk agar semangatku bertambah di malam ini. Yosh, pelayan kami mau pesan makanan" Lee dengan tidak tahu malunya teriak-teriak tidak jelas. Cih, mau memesan makanan saja hebohnya selangit. Untung saja tingkat kehebohan dan kebisingan Dobe masih dibawah si hijau norak ini.
"Kami berdua pesan makanan yang sama denganmu saja Lee. Tapi minumnya kopi hangat" Ujar Neji yang dibalas oleh anggukan Ten Ten.
Aku pun hanya bisa terdiam selagi mereka asyik mengobrol ketika sedang menunggu makanan dan minuman. Tak henti-hentinya Lee mengoceh tentang aksinya yang katanya hebat dalam mengalahkan monster, Neji yang menjadi pendengar setia walau sesekali menimpali, dan Ten Ten yang sepertinya tak mau kalah dalam hal bicara juga ikutan mengoceh tidak jelas.
Daripada bosan, aku menyenderkan tubuhku yang memang sudah lelah ini ke tembok. Kuarahkan pandanganku menuju jendela dimana pemandangan bintang-bintang terlihat jelas. Tak ketinggalan cahaya rembulan samar-samar ikut menambah keelokan nuansa langit malam hari. Bulan, bintang, dan angin malam adalah perpaduan yang amat digemari oleh ibuku. Dulu sewaktu aku masih kecil, ibuku selalu menceritakan tentang dongeng sebelum tidur sambil membuka jendela kamarku lebar-lebar agar kami berdua bisa melihat indahnya langit malam. Tapi sayang, itu semua hanya tinggal kenangan.
"Sasuke..woy Sasuke"
Aku pun sedikit terlonjak kaget dan segera menghentikan lamunanku begitu mendengar suara yang mengagetkanku.
"Eh, i..iya ada apa?"
Ten Ten memasang wajah penasaran "Apa yang sedang kau pikirkan? Sepertinya kau ada masalah berat ya?"
Aku menggeleng dengan nada yang dibuat-buat "Tidak ada apa-apa. Aku cuma ingin ketenangan setelah seharian misi yang melelahkan"
Lee tiba-tiba menggebrak meja.
BRAKK
"O ya Sasuke-kun, dengar-dengar hari ini timmu barus saja mengalahkan wyvern Yian Kut-Ku ya? Sungguh? Benarkah? Ceritakan kepada kami bagaimana kau bisa mengalahkannya?" Lee dengan seenaknya mendempet-dempet ke tubuhku ditambah matanya yang blink-blink itu, euhh. Benar-benar menjijikan!
"Baiklah. Tapi bisakah kau menjauhkan tubuhmu dari sampingku?"
Dan seketika laki-laki berambut mangkok itu menuruti kata-kataku.
"Yah, sebenarnya bukan aku sih yang mengalahkan Yian Kut Ku itu. Lebih tepatnya, aku, Naruto, dan Sakura disuruh berlindung oleh Kakashi-sensei di tempat yang aman. Dan sebenarnya yang membunuh monster itu adalah senseiku" Jelasku panjang lebar.
Neji hanya bisa mengangguk pelan.
"Ohhh. Kukira kalian bertiga yang telah mengalahkan Yian Kut-Ku itu. Ngomong-ngomong wyvern itu seperti apa Sasuke? Jujur kami bertiga belum pernah menghadapinya secara langsung" Tanya Ten Ten penasaran.
"Monster yang kuhadapi tadi siang termasuk golongan bird wyvern. Ukurannya terbilang kecil dalam jenis wyvern. Berparuh besar, gerakannya amat cepat, dan sanggup mengeluarkan bola api dari paruhnya. Dan yang paling memuakan adalah warna kulitnya. Merah muda"
Lee hanya bisa melongo setelah mendengarkan cerita singkatku. Dan Ten Ten terlihat sedang berusaha mencerna kalimat yang barusan aku ucapkan.
Makanan dan minuman telah datang. Oleh karena itu, sesuai dengan adab dan aturan di desa kami yang mengharuskan seseorang makan dengan hikmat tanpa bicara sepatah katapun, kami berempat terpaksa harus menghentikan obrolan. Termasuk Lee yang terkenal hiperaktif itu pun mau tidak mau harus menghentikan ocehannya untuk sementara waktu.
Setelah makan selesai, Neji tiba-tiba berdehem.
"Ehm..Sasuke"
Aku menatapnya dengan raut muka penuh tanda tanya.
"Setelah ini, kau dan aku akan pergi ke rumah Hi Tate untuk membicarakan suatu hal"
"Apa maksudmu? Bukankah ini sudah malam dan sudah bukan waktunya untuk bertamu?" Sergahku.
"Tapi ini adalah perintah Sasuke. Sepertinya esok siang tim 9 dan tim 7 akan mendapatkan sebuah misi bersama-sama" Kata Neji dengan tenang.
"Apa? Misi bersama katamu?" Lee langsung memotong pembicaraan dengan ekspresi penuh semangat.
"Jangan memotong pembicaraanku Lee, kumohon" Timpal Neji dengan sedikit kesal.
Lee langsung duduk manis dalam hitungan detik.
"Tapi kan, timku baru saja melaksanakan misi hari ini. Dan itu tidak seperti biasanya untuk melaksanakan misi dalam rentang waktu sehari seperti ini" Protesku.
"Misi kali ini amat menguntungkan kita sebagai hunter, Sasuke"
Aku menaikan alis tanda tidak paham.
"Reward kali ini kata Sarutobi-sama sebesar...400.000 ryo" Ucap Neji dengan senyuman yang mengembang.
400.000 ryo nominal yang terbilang amat besar untuk upah misi level 2. Bayangkan? Misi tadi siang dimana yang seharusnya aku dan timku memburu dua ekor Apceros dan tiba-tiba dikejutkan oleh seekor wyvern Yian Kut-Ku saja hanya mendapat reward sebesar 180.000 ryo. Sedangkan untuk misi esok hari yang entah harus memburu monster apa, kami akan mendapatkan reward sebesar 400.000 ryo. Ini sepertinya menyenangkan.
Aku berdiri dari kursiku dan menatap Neji dengan senyuman "Baiklah"
H
U
N
T
E
R
Kembali ke sebuah gedung besar yang berada di tengah hutan dimana kegelapan senantiasa menyelimuti tempat itu. Tepatnya di tempat persembunyian organisasi hunter gelap bernama Akatsuki.
Sesosok pria bermata aneh nan seram sedang duduk terdiam sambil menatap langit malam yang cerah. Dibelakangnya, terlihat sesosok wanita dengan rambut berwarna biru tua yang terlihat jelas terkena sinar rembulan sedang berjalan pelan ke arah pria itu.
"Pein" Ucap wanita itu.
Sosok bernama Pein itu segera menoleh ke arah belakang.
"Kudengar kita akan bergerak sebentar lagi?"
Pein menghela nafas sebelum memulai pembicaraan "Itu benar"
Keduanya terdiam sejenak. Wanita itu bergerak pelan hingga posisinya kini berada persis di samping pria bernama Pein tadi.
"Apa rencanamu berikutnya?" Tanya wanita itu lagi.
Pein masih menatap ke arah langit malam lewat balik jendela. Tatapannya yang datar itu masih memandang ke langit malam seakan tidak mempedulikan sosok wanita yang kini ada disampingnya persis itu.
"Rencana awal organisasi ini adalah untuk menjadikan kita yang terkuat dan terkaya dibanding kelompok manapun" Perlahan, Pein menoleh ke arah wanita itu.
"Untuk menjadi yang terkuat dan terkaya, kita butuh kuasa bukan, Konan?"
Wanita bernama Konan itu hanya bisa mengangguk pelan.
"Untuk itu, kita harus bisa mengendalikan sebuah negara terlebih dahulu. Dan rencanaku berikutnya adalah..." Kalimatnya terputus tiba-tiba.
Pein bangkit dari duduknya dan tangan kanannya ia arahkan ke jendela besar yang ada persis di hadapannya. Telapak tangannya ia sentuhkan ke kaca jendela itu yang dingin dan berembun.
"Hancurkan negara air terlebih dahulu!"
Sedetik kemudian...
PRANGGG
Jendela besar itu hancur berkeping-keping hanya dengan sekali sentuhan.
-TSUZUKU-
Halo readers sekalian. Terima kasih ya sudah menyempatkan waktunya untuk membaca fic ini.
Dalam fic ini mungkin ada beberapa istilah yang cukup aneh seperti Hi Tate ataupun San Koken'nin, hehehe XD
Hi Tate adalah sebutan bagi pemimpin sebuah negara. Kalo di Naruto ya Hokage, Mizukage, Kazekage, dsb. Hokage artinya kan bayangan api. Tapi kalo Hi Tate itu artinya pelindung api. Hampir mirip sih maknanya, cuma beda sedikit biar terkesan kreatif lah *plak*
Kalo San Koken'nin itu artinya tiga penjaga. Itu aja author harus pake google translate Indonesia-Jepang terlebih dulu, hohoho. San Koken'nin adalah posisi yang berada persis satu tingkat dibawah Hi Tate. Gampangannya mereka bertiga adalah panglima perang di Konohagakure. Dan posisinya bisa berganti kapanpun dan oleh siapapun seperti layaknya Hi Tate.
Yosh langsung aja. Bagi yang mau review, concrit, ataupun flame author persilahkan.
