(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia. com* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca. Trims)
.
.
.
Esok siangnya, aku segera pergi ke tempat rumah kepala desa untuk menyiapkan misi yang akan kujalani hari ini. Aku hari ini bangun kesiangan karena tadi malam tidur terlalu larut. Apalagi harus berbincang cukup lama dengan Sarutobi-sama bersama Neji hingga kira-kira pukul 2 dini hari. Sial! Semoga saja Hi Tate tidak menegurku kali ini.
Setelah memakai armor lengkap beserta pelindung tangan dan kaki juga tak lupa helm, aku bergegas mengambil pedang Amaterasu dan melangkahkan kaki secepat mungkin menuju rumah Hi Tate.
Dalam perjalanan, aku tak bertemu dengan anggota tim 9 ataupun si Dobe dan Sakura. Itu berarti mereka semua sudah sampai sedari tadi. O ya, dalam misi hari ini Kakashi-sensei tidak bisa mendampingi kami karena ada urusan yang lebih penting. Dan yang akan mendampingi kami tentu saja sensei dari tim 9. Siapa lagi kalo bukan Gai-sensei atau Maito Gai. Seorang hunter level 4 yang norak dan menjijikan menurutku. Sama-sama menjijikannya dengan muridnya yang bernama Lee. Tapi kalian tidak boleh terlalu meremehkannya. Ia termasuk salah satu anggota San Koken'nin di desa ini.
Begitu aku sampai di teras rumah Hi Tate, terdengar kalimat "Sekian penjelasan dariku. Selamat menjalankan misi dengan baik para hunter muda" secara samar-samar dari dalam ruang pertemuan. Itu berarti aku bukan hanya telat. Tapi sangat telat namanya.
Kuputuskan untuk bersender di dinding teras sembari menunggu mereka semua keluar.
"Woy Teme, kemana saja kau tadi? Kau telat tahu" Suara cempreng dari arah belakang mengagetkanku. Kulirik ke arah pintu masuk dan benar saja, itu Naruto. Dan yang lainnya ikutan menyusul.
"Maaf aku kesiangan hari ini"
Tanpa ba-bi-bu, tiba-tiba saja sesosok pria dengan nuansa serba hijau memegangi kedua pundakku sambil menatapku lekat.
"Sasuke, mana semangat masa mudamu hah? Ayo kita sambut misi siang hari ini dengan semangat masa muda yang membaraaa!"
Cih, tak sudi aku menatap wajahnya yang noraknya minta ampun itu. Apalagi melihat Gai-sensei dan murid kesayangannya Lee memperagakan pose aneh untuk mengekspresikan semangat mereka. Perutku serasa mual walau aku belum memakan makanan sedikitpun.
"Sasuke-kun, kau pasti belum tahu misi hari ini suruh ngapain ya?" Tanya Sakura.
Aku membalasnya dengan gelengan.
"Ini gulungannya. Kau baca sendiri ya Sasuke-kun" Sakura menyerahkan sebuah gulungan kertas yang berisi tentang informasi misi kami bertujuh. Setelah menerimanya aku pun perlahan dengan hati-hati membuka gulungan itu dan membaca semua kalimat yang ada dengan seksama.
"Memburu monster Ve..Velociprey di desa Hoshi..gakure" Gumamku lirih dengan pandangan masih tetap fokus ke arah gulungan.
H
U
N
T
E
R
Di gerbang masuk desa Hoshigakure, terlihatlah dua sosok manusia dengan pakaian serba hitam bercorak awan merah yang tetap berjalan tenang sekalipun seluruh penduduk desa yang ada di sekitar mereka berlarian kesana-kemari seperti sedang merasa ketakutan.
"Danna, apakah menurutmu mereka semua takut karena kehadiran kita, hn?" Bisik Deidara dengan nada pelan.
"Tidak. Aku pikir mereka semua sudah mengetahui akan ancaman wyvern Rathian yang katanya sedang mengamuk di sekitar sini" Jawab pria berambut merah disampingnya.
Mereka berdua terus berjalan lurus dengan langkah yang pasti, seakan tak ada sedikit pun ketakutan yang terpancar. Sesampainya di ujung jalan, mereka berdua di hadang oleh segerombolan pria. Tiba-tiba dari tengah-tengah kerumunan pria itu muncul seorang kakek-kakek.
"Kalian berdua hunter yang berasal dari Akatsuki kan?" Tanya kakek tua itu dengan nada sedikit cemas.
"Iya, itu benar, hn. Siapa kau kakek tua?"
"Aku adalah Takumi, orang yang akan menyewa kalian sebentar untuk membunuh wyvern hijau menakutkan itu" Sahut kakek tua yang bernama Takumi itu.
"Lalu, siapa orang-orang ini? Apakah mereka perlu kami habisi sekalian?" Tanya Sasori sembari menyiapkan serangannya.
"Tunggu-tunggu, jangan. Mereka semua adalah pegawai dan pengawal pribadiku. Mereka semua sama-sama ketakutan. Kumohon tuan-tuan, secepatnya tolong habisi monster mengerikan itu" Kakek Takumi itu membungkukan badannya ke arah Sasori dan Deidara.
"Baiklah. Dimana sekarang monster itu, hn?"
"Biasanya siang-siang seperti ini monster itu akan memangsa beberapa ternak-ternakku untuk dijadikan makan siangnya. Kumohon tuan-tuan, bunuh wyvern itu. Dia telah memakan banyak ternakku dan mengakibatkan bisnisku ternacam bangkrut" Raut kesedihan dan kepanikan terlihat jelas dari wajah pengusaha ternak itu.
"Kalian semua minggir. Terutama kau kakek tua" Sasori menyiapkan kuda-kuda dan juga tatapannya berubah menjadi dingin nan serius.
Semua orang yang ada disitu saling bertatapan heran satu sama lain sebelum akhirnya menyadari bahwa ada sesosok wyvern yang sedang terbang menukik ke arah situ.
GROOAAHHH
H
U
N
T
E
R
Dalam perjalanan dari Konohagakure menuju Hoshigakure yang letaknya ada dalam wilayah negara negara petir, aku sungguh benar-benar merasa bosan. Bagaimana tidak? Sejak langkah kaki pertama dari pintu masuk desa kami si duo makhluk hijau itu tak henti-hentinya menebar semangat masa muda mereka yang terbilang norak sekali di mataku. Aku seharusnya bersyukur selama ini tidak di tempatkan di tim 9 bersama Lee dan Gai-sensei. Meladeni ocehan Naruto saja sudah membuat cukup stress, apalagi harus meladeni Lee dan sensei ajaib itu. Lebih baik aku keluar saja dari tim kalo seperti itu jadinya.
Satu-satunya yang terlihat tenang di tim 9 itu hanya Neji. Yah, kupikir mungkin dia adalah tipikal orang yang antisosial sepertiku.
Setelah memakan waktu kurang lebih 4 jam, akhirnya kami bertujuh telah sampai di desa Hoshigakure. Langit telah berubah warnanya menjadi oranye kekuning-kuningan. Sepertinya perburuan monster kali ini akan ditunda menjadi esok pagi. Karena berburu ataupun bertarung dengan monster di malam hari amat beresiko.
"Yosh, kita sudah sampai di Hoshigakure. Karena sekarang sudah hampir senja hari, sebaiknya kita cari penginapan dulu. Baru setelah itu kita temui orang yang telah meminta bantuan kita untuk menumpas Velociprey. Bagaimana semuanya? Tetap semangat kan?" Gai-sensei tetap menunjukan semangatnya yang berapi-api walau matahari sudah hampir terbenam. Hanya Lee lah yang menyahuti Gai-sensei. Sedangkan yang lain hanya bisa memasang tampang bosan dan lelah.
Tapi anehnya, sepanjang kami semua melangkahkan kaki di tengah-tengah desa, tak satupun penduduk yang nampak. Semua rumah terlihat gelap, tanpa ada nyala lampu barang setitik saja. Kemana mereka semua? Ada yang aneh.
"Tunggu semuanya"
Kata-kata Neji barusan membuat kami menghentikan langkah mendadak.
"Ada apa Neji?" Tanya Ten Ten penasaran.
Neji mengarahkan telunjuknya ke arah beberapa pepohonan di sekitar situ dan juga beberapa atap rumah penduduk.
"Lihatlah. Apakah pohon-pohon yang tumbang dahannya dan juga atap-atap rumah yang hancur sebagian terlihat normal? Menurut kalian?"
Naruto segera mengamati beberapa pepohonan dan juga beberapa atap rumah dengan teliti.
"Ada yang aneh disini. Kemari semuanya" Naruto melambai-lambaikan tangannya agar kami mendekat.
Aku dan Sakura segera menghampiri Naruto.
"Teme, Sakura-chan, lihatlah"
Aku jongkok untuk memastikan sesuatu yang aneh itu. Kuamati di antara reruntuhan atap rumah. Sesuatu berupa cairan merah. Itu darah.
"I..ini darah kan?" Sakura ikutan berjongkok.
'Darah? Rumah-rumah yang hancur sebagian? Pohon-pohon pun juga? Jangan-jangan tempat ini barusan menjadi tempat pertempuran. Tapi, siapa yang barusan bertempur?' Batinku penasaran.
"Gai-sensei, ada darah disini. Kemari" Panggil Sakura.
Tak berapa lama kemudian, seluruh anggota tim 9 mendekat ke arah kami.
Gai-sensei yang biasanya terkesan ngawur dan konyol kini terlihat serius. Raut wajahnya mencerminkan bahwa ia sedang berpikir keras sekarang.
"Gai-sensei, bagaimana menurut anda tentang hal ini semua? Bagaimana Gai-sensei?" Tanya Lee dengan semangatnya.
"Ini seperti...habis terjadi pertempuran disini. Tapi bukankah monster yang kalian akan buru adalah Velociprey yang ukurannya hanya sebesar manusia biasa? Kerusakan yang terjadi di sini seperti dilakukan oleh sosok monster yang berukuran cukup besar seperti wyvern misalnya" Analisis Gai-sensei.
"Sensei, di beberapa pohon-pohon yang rusak ini juga terlihat warna kehitam-hitaman yang juga masih menebarkan sedikit aroma terbakar" Ucap Ten Ten sembari menunjuk ke arah pepohonan di sekeliling kami.
Aku punya firasat yang buruk tentang hal ini. Entah kenapa, semenjak awal aku memasuki desa Hoshigakure ini ada rasa cemas dan panik yang selalu menggelayuti perasaanku.
"Baiklah. Karena situasi disini kurang baik dan juga cukup misterius, aku sarankan agar kita semua beristirahat sejenak di suatu tempat yang sekiranya aman. Ayo jangan patah semangat!" Seru Gai-sensei.
Akhirnya diputuskan kami bertujuh beristirahat di sebuah gubuk kecil yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk menuju desa ini. Karena malam semakin larut, akhirnya diputuskan beberapa orang yang akan berjaga sementara dan yang lainnya tidur. Dan itu dilakukan secara bergantian.
"Yosh, biar aku saja yang akan berjaga malam ini sensei" Ucap Lee dengan mata yang berapi-api. Heran, sebenarnya seberapa banyak stamina yang dimiliki oleh orang aneh ini?
"Bagus Lee. Aku salut padamu. Lalu, siapa lagi yang akan berjaga selain muridku Lee?"
Karena kebetulan aku belum ngantuk dan juga aku tadi bangun kesiangan, aku mengacungkan tangan.
"Yosh, bagus sekali Sasuke. Baik sekarang sudah ditentukan siapa yang akan berjaga malam pada giliran pertama. Setelah ini, giliranku dan Naruto. Kau mau kan Naruto?" Pandangan Gai sensei beralih ke arah seonggok manusia yang sedang meringkuk dalam damai.
"Zzz..grookk..zzz...zzz"
"Dan itu kuanggap sebagai jawaban ya, hahaha" Gai-sensei tertawa garing.
Tak beberapa lama kemudian, semuanya sudah tertidur dengan lelap di dalam gubuk. Lee mengajakku untuk berpatroli keliling desa. Akan tetapi aku tolak mentah-mentah. Pertama karena memang aku malas untuk bergaul dengan manusia super enerjik itu. Dan yang kedua, karena sedari siang aku belum makan maka aku lebih memilih untuk membuka bekalku dan memakannya selagi belum basi.
Setelah Lee pergi, aku memakan bekalku dengan nyaman dan tenang. Jujur aku adalah laki-laki yang pendiam dan antisosial. Oleh karena itu, aku lebih nyaman untuk melakukan segala sesuatunya sendirian.
Karena merasa gerah, aku pun ingin mencari air yang berasal dari sungai ataupun mata air untuk membasuh wajah dan tanganku. Kutelusuri pepohonan yang ada di belakang gubuk, siapa tahu ada sumber air.
Usahaku membuahkan hasil. Ada aliran sungai kecil di depan sana. Aku segera mencuci muka dan tangan begitu sampai di tepian sungai kecil itu. Saat pandanganku mengarah ke air, kulihat kedua bola mataku yang berwarna onyx.
Cahaya rembulan yang bersinar cukup terang malam ini, membuatku sanggup melihat wajah dan mataku sendiri dengan cukup jelas.
Kedua bola mata ya.
Bola mata milik klan Uchiha, sharingan.
Sebuah kemampuan khusus yang sanggup membaca gerakan lawan dan melihat 3 detik lebih cepat dibandingkan orang normal. Dan mata sharingan ini belum juga kubangkitkan hingga detik ini. Aku belum sanggup untuk melakukannya. Padahal kekuatan khusus ini amat sangat berguna dalam pertempuran, baik dalam melawan monster ataupun sesama hunter.
Di dalam klan Uchiha setahuku hanya ada tiga orang yang sanggup membangkitkan kekuatan mata sharingan. Pertama adalah ayahku sendiri. Kedua adalah Sishui, sahabat dekat kakakku yang tewas bunuh diri beberapa tahun silam. Dan yang terakhir adalah Itachi, Kakakku sendiri. Si brengsek itu telah berhasil menguasai kekuatan mata sharingan sejak umur 20 tahun. Maka dari itu, ia kini berhasil menjadi seorang hunter yang amat kuat dan tangguh.
kresek..kressekk..
'Suara apa itu?'
Kutolehkan kepalaku ke arah kanan dan kiri. Tapi nihil, tidak ada apapun.
kressekk..kressekkk..
Suara rumput yang bergoyang keras dan juga ranting yang terinjak semakin jelas lagi. Dan asal suara itu berasal dari arah...
Koaahhh!
"Belakang!"
Hampir saja. Sesosok monster Velociprey ternyata sedari tadi sedang memantauku untuk menyerang. Untung saja aku dapat menghindar dengan sigap dari terkamannya.
VELOCIPREY
Tipe Monster : Karnivora.
Ukuran : Kecil.
Gerakan Andalan : Terkaman dan gigitan.
Velociprey adalah seekor monster karnivora yang tergolong berukuran kecil. Monster ini tergolong dalam jenis bird-wyvern walau tanpa sayap. Dengan gigi-gigi yang tajam, kuku yang panjang dan kuat, serta sebuah jengger di atas kepalanya, monster ini terlihat menakutkan bagi para hunter. Monster berwarna biru ini senang berburu dan menyerang dengan cara berkelompok.
'Sial! Aku sendirian disini. Semoga saja seekor Velociprey ini tidak memanggil kawanannya' Batinku panik.
Tapi sayang, harapan hanya tinggal harapan.
Kuoo..Kuooo..Kuooo..
Suara khas seperti layaknya seekor Velociraptor yang sedang memanggil kawanannya terdengar dari mulut monster yang ada di hadapanku ini.
Dan dalam hitungan detik saja, terdengar suara langkah kaki yang berasal dari sekitarku. Semakin lama langkah kaki itu semakin terdengar cepat dan keras saja.
Kuoo..Kuoo..
Kuooo..
Kuoo..Kuoo..Kuoo..
Dua, tiga, empat, lima, enam, dan tujuh. Tujuh ekor. Sialan! Mungkin jika aku harus berhadapan dengan dua sampai tiga ekor saja aku masih sanggup walaupun harus bertarung mati-matian. Jika seorang hunter melawan beberapa ekor herbivora besar seperti Aptonoth, Apceros, ataupun Gagua itu tidak menjadi masalah. Tapi jika harus melawan beberapa karnivora walaupun itu kecil, itu akan menjadi sebuah masalah. Apalagi untuk seorang hunter yang masih tergolong rookie seperti diriku.
Perlahan tapi pasti, ketujuh Velociprey itu bergerak mendekatiku. Aku harus memikirkan cara untuk kabur. Berteriak minta bantuan sepertinya mustahil, karena jarak dari sungai ini menuju gubuk tempat yang lain beristirahat itu cukup jauh. Bertarung pun sama saja dengan cari mati. Aku harus berusaha keras bagaimana caranya untuk kabur dan bisa lepas dari cengkeraman ketujuh monster ini.
Koahh..Koahhh!
Seekor Velociprey yang ada di hadapanku mulai maju dengan cepat. Suaranya berubah menjadi nada intimidasi. Aku harus cepat bergerak melebihi mereka. Perlu diketahui, Velociprey adalah karnivora yang tergolong cerdas. Mereka berburu dan bergerak menggunakan formasi serta pola, yang hanya diketahui oleh kawanannya.
Aku telah memutuskan pilihan. Aku akan menyerang untuk sementara waktu agar membuat formasi mereka pecah dan untuk sementara mengalihkan perhatian.
"Minggir kau sialaannn!"
Kutebaskan pedang hitam Amaterasuku ke arah depan.
SLASSHHH!
Berhasil! Aku tidak mengira serangan mendadakku berhasil melukai seekor Velociprey yang ada persis di hadapanku. Monster itu terlempar beberapa meter ke arah samping dengan luka yang cukup parah di dadanya. Hal ini membuat kawanan monster ini panik untuk sementara waktu.
Saatnya untuk kabur secepat mungkin.
Aku bergegas melarikan diri dengan kecepatan maksimal semampuku. Tapi sayang, kepanikan kawanan monster itu hanya untuk bebrapa detik saja. Selanjutnya, mereka ikut berlari mengejar dengan kecepatan yang mungkin dua kalilipat dari kecepatan lariku. Jelas saja, hutan ini adalah medan mereka untuk berburu mangsa.
"Hosh..hosh..hosshh"
Aku menengok kebelakang dan mendapati tiga ekor Velociprey yang semakin mendekat. Kulihat sekilas satu ekor berlari kencang ke samping kiri dan satunya ke samping kanan. Formasi ini seperti segitiga yang ujung-ujungnya akan mengepungku.
Koahh..Koahhh..
Koaahhh..
Gubuknya sepertinya masih cukup jauh ratusan meter ke arah depan. Apa aku harus nekat mempertaruhkan nyawaku untuk melawan mereka berenam? Sepertinya iya. Aku harus berani. Membunuh atau dibunuh.
"Baiklah, kalian semua akan aku lawan kali ini" Ucapku.
Saat ketiga Velociprey itu beranjak untuk menerkamku, tiba-tiba...
DHUARRR! DHUARRR!
'Apa ini? Ledakkan?' Batinku sembari melompat mundur menghindari ledakan barusan.
Kulihat ketiga ekor Velociprey yang hampir saja menerjangku sudah tergeletak tak bernyawa dengan tubuh gosong.
'Si..siapa yang melakukan ledakan barusan? Apakah ini dari teman-teman?'
Ketiga ekor sisanya yang melihat peristiwa barusan sepertinya ketakutan, dan berlari menuju arah sebaliknya. Tapi...
DHUARRR!
Sebuah ledakan yang cukup hebat menghalangi laju ketiganya hingga membuat mereka terpental ke berbagai arah.
'Hebat. Siapapun yang melakukan ini, dia pasti seorang yang profesional'
Aku mencoba untuk mencari sosok pembuat serangan ledakan itu, tapi sepanjang mata memandang aku tidak melihat siapa-siapa kecuali asap yang membumbung tinggi.
"Hoy, siapa disana? Cepat keluar" Kataku.
"Hey kau amatiran, hn"
Suara yang berasal dari arah dahan pohon di samping kanan membuatku langsung menoleh ke sumbernya.
Dari atas dahan pohon yang gelap, munculah seorang berambut pirang panjang dengan jubah hitam besar bercorakkan awan merah.
'Tunggu dulu. Kalo tidak salah, jubah itu pernah aku lihat di catatan Sarutobi-sama yang pernah beliau tunjukan kepada timku waktu itu' Aku pun mencoba mengingat-ingat dengan keras.
"Kau hunter dari Konohagakure kan? Terlihat jelas dari simbol di armormu itu, hn" Ucap pria berambut panjang sambil duduk santai di atas dahan.
"Mau apa kau?" Tanyaku dengan nada serius.
"Kau tahu? Kau dan tentunya teman-temanmu dari desamu itu telah menghalang-halangi kami untuk mendapatkan reward lebih, hn" Tambahnya lagi.
Kuperhatikan dengan seksama jubah dengan corak awan merah yang dipakai oleh pria pirang di atasku. Seharusnya aku sanggup mengingatnya dengan baik. Sebentar, kalo tidak salah itu adalah jubah..
"Kami dari Akatsuki"
Dalam sekejap, sebuah benang yang keras dan kuat dengan cepatnya melilit satu per satu anggota tubuhku. Aku tak bisa bergerak sama sekali. Tubuhku seperti dikendalikan oleh sesuatu.
"A..Akatsuki kau bilang?" Aku bertanya dengan perasaan yang khawatir. Aku tahu ada seorang pria lagi yang sedang berdiri dan mungkin yang menyerang dengan benang aneh ini. Tapi sayangnya aku tidak bisa menolehkan leher saat ini.
"Iya. Dan kau harus tahu hunter Konoha, kami berdua tak akan membiarkan kalian merebut jatah yang seharusnya milik kami. 400.000 ryo untuk sekelompok Velociprey" Ucap pria yang ada dibelakangku itu.
'Akatsuki? Jadi mereka adalah rekan seorganisasi dengan Itachi?' Batinku.
"Kalian kenal Uchiha Itachi?"
"Itachi? Tentu saja, hn. Dia adalah orang yang sok cool dan menjijkan bagiku, hn" Jawab pria pirang itu lagi sambil melompat turun dari dahan.
"Danna, enaknya kita apakan si amatiran ini, hn?"
Sosok pria dibelakangku ini menghela nafas panjang. Suasana menjadi dingin dan mencekam.
"Kita terpaksa harus membunuhnya, Deidara"
-TSUZUKU-
Halo readers sekalian, author updatenya sengaja kilat nih mumpung ada mood dan waktu. O ya, kemarin ada yang mereview supaya cerita ini jangan hanya berfokus pada tokoh Sasuke saja. Tapi harus dibagi Dengan Naruto. Emm, maaf ya. Walaupun tertera Sasuke U, Naruto U, dan Sakura H pada summary, tapi protagonis utamanya itu Sasuke. Naruto dan Sakura itu sebagai protagonis sampingan di cerita ini.
Yosh, bagi yang mau kasih review, concrit, ataupun flame author persilahkan. Terima kasih sudah menyediakan waktu untuk membaca.
