DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATE : T
WARNING : AU, 1ST POV
MONSTER HUNTER©CAPCOM
.
.
.
(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia. com* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca.)
.
.
.
~Duo Artist Hunters~
'Sial, bagaimana ini? Aku bisa mati jika bantuan tak kunjung datang' batinku.
Kedua sosok pria misterius yang mengaku berasal dari organisasi bernama Akatsuki itu sepertinya memang benar-benar akan membunuhku. Aku jujur tidak tahu apa maksud perkataan mereka barusan. Tapi dengan mengetahui niat mereka yang tak segan akan membunuhku, aku yakin mereka pantas dijadikan musuh oleh kelima negara besar hunter.
"Danna, biar kau atau aku saja yang membunuhnya, hn?" Pria yang dipanggil dengan nama Deidara itu mendekatiku sembari menodongkan sebuah senapan yang cukup besar. Aku baru pernah melihat model senapan hunter yang berbentuk seperti itu. Sama sekali tidak ada kemiripannya dengan crossbow milik Kakashi-sensei.
"Deidara, kau yang telah membunuh banyak Velociprey dan juga mempunyai andil yang besar dalam menghabisi Rathian tadi sore. Kini biar aku saja yang membunuh anak muda ini." ujar pria misterius di belakangku dengan tenang.
'Tunggu, apa katanya tadi? Rathian? Menghabisi Rathian? Seekor wyvern mengerikan pasangan dari Rathalos yang konon untuk menghabisinya membutuhkan lebih dari dua orang hunter level 4. Dan mereka berdua bilang telah membunuh wyvern ganas berwarna hijau tua itu tadi sore? Apakah anggota Akatsuki memang sekuat ini?' gumamku dalam hati.
Tiba-tiba saja tubuhku diputar berlawanan arah sehingga kini aku menghadap ke arah belakang dan pria yang ada di belakangku itu kini bisa kulihat dengan cukup pria yang berpostur cukup pendek untuk ukuran pria dewasa, dengan rambut merah yang senada dengan warna darah.
Pria itu berjalan mendekatiku perlahan. Tangan kanannya bergerak-gerak terus, seperti sedang menggerakan sebuah boneka dengan benang. Tangan kirinya memegang sebuah pil kecil yang berwarna putih pucat. Setelah ia sampai tepat di hadapanku, tangan kirinya bergerak mendekati mulutku yang entah kenapa tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.
'Cih, sial-sial! Tubuhku...tubuhku tidak dapat kugerakkan. Aku belum ingin mati di sini.' keringat dinginku mulai bercucuran deras, irama degup jantungku semakin kacau, dan pikiranku membuncah kesana-kemari tidak beraturan.
"Pil ini sengaja aku ramu sebagai bahan campuran dalam membuat poison meat untuk menjebak wyvern." tiba-tiba saja tangannya berhenti mendadak saat pil itu tinggal selangkah lagi masuk ke dalam kerongkonganku, "Hanya dengan sekali telan, kau tinggal menunggu ajalmu dalam waktu tak kurang dari lima menit." ia menyeringai.
"Bagus Danna. Tunjukkan kepada bocah amatiran ini kalau kita bukanlah hunter yang pantas diremehkan, hn." seru Deidara sembari berjalan mendekatiku.
"Selamat tinggal." tangan kiri Sasori bergerak sangat pelan memasuki rongga mulutku.
Mataku terbelalak lebar, tak berkedip barang sedikitpun. Apakah aku akan menyusul kedua orangtuaku?
"HAMMMEEERR PUUUNNCCH!"
(BUAAAGGHH) Tanah yang berada di sekelilingku retak.
Deidara melompat ke belakang untuk menghindari serangan dadakkan itu. Begitu juga dengan Sasori sehingga ikatan di tubuhku lepas total dan aku pun akhirnya selamat.
"Hosh...hosh, serangan itu kalau tidak salah..." kutengokkan kepala ke samping dan aku melihat seorang pria yang sedang memegang erat sebuah hammer raksasa di dalam kegelapan malam.
"Hahaha, semangat masa mudaku tepat waktu kan Sasuke?" pria itu berjalan menghampiriku. Itu Gai-sensei.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang, bersyukur sejadi-jadinya di dalam hati karena nyawaku tidak jadi melayang sia-sia. Kali ini kuakui kalau semangat masa muda yang selalu ia gembor-gemborkan ada gunanya.
"Kau..." dengus Sasori.
"Maito Gai? Anggota San Koken'nin dari Konoha kan, hn?" sambung Deidara.
H
U
N
T
E
R
Aku tak menyangka jika kedua anggota Akatsuki itu mengetahui sosok Gai. Gai-sensei merupakan seorang hunter yang memilih untuk menggunakan senjata yang cukup langka, sebuah hammer. Godam berukuran besar yang ia namakan Hachimon itu berwarna keemasan dengan ujung senjata yang berbentuk bulat dan sedikit bergerigi. Konon pukulan dari hammer itu mampu meremukkan tulang wyvern jika menyerangnya dengan sekuat tenaga.
"Bagaimana anda bisa tahu aku ada di sini, sensei?" tanyaku penasaran.
Pria berambut bob itu menoleh, "Itu mudah Sasuke. Lee tiba-tiba saja membangunkanku dan dia langsung mengatakan 'Sasuke tidak ada sensei, Sasuke tidak kunjung kembali sensei'. Lalu aku tiba-tiba mendengar adanya suara ledakkan dari hutan yang berada cukup jauh di selatan gubuk tempat kita beristirahat. Dan akhirnya...di sini lah aku berada." ia mengakhiri kalimatnya tak lupa sambil mengacungkan jempol.
"Apakah yang lainnya ikut terbangun dan menuju kemari juga?"
Gai mengangguk mantap, "Yosh! Tentu saja. Mereka semua sedang menuju kemari dengan penuh semangat serta sukacita."
Benar saja. Tak berapa lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki banyak manusia dari arah utara. Itu pasti mereka.
"TEMEEE!"
"Sasuke-kun!"
"Cih, mereka berdua. Selalu saja heboh." gerutuku.
"GAAAIII-SEEENNSSEEEIII!"
Teriakkan yang satu ini lebih memekakan lagi. Bahkan mungkin melebihi suara ledakkan yang diakibatkan oleh bom si pirang dari Akatsuki itu.
"LEEE!" kedua makhluk hijau norak itu bertemu dan saling berpelukkan erat satu sama lain.
"Kau tidak apa-apa kan, sensei? Hiks...hiks." Lee menangis dalam pelukkan gurunya itu.
"Aku tidak apa-apa muridku yang tangguh. Seharusnya kau itu menanyakan pertanyaan seperti ini kepada Sasuke, Lee. Dia yang terluka dan hampir saja tewas oleh kedua hunter dari Akatsuki itu." ucap Gai seraya menunjuk ke arahku.
Aku memijit pelipisku setelah melihat kelakuan menjijikkan dari mereka berdua itu.
"Hoi-hoi, sudah acara reuninya, hn?"
Tiba-tiba Ten Ten menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Mu...mungkinkah me...mereka itu A...katsuki?"
Neji menghela nafas, "Ya, benar. Tidak salah lagi. Pakaian bercorak awan merah dengan warna dasar hitam seperti itu."
"Kalian bertujuh benar-benar telah membuatku jenuh dan gundah." Sasori menutup kedua matanya. "Deidara, bisa kita akhiri permainan kekanak-kanakkan ini?"
"Teme, apakah kau tadi barusan melawan mereka sendirian hah? Dan...dan kau mampu bertahan, Teme?" Naruto bertanya dengan ekspresi kagum.
"Kau hebat Sasuke-kun!" tiba-tiba saja perempuan pink itu memelukku dari samping.
"Bodoh. Aku mampu bertahan karena ada pertolongan dari guru norak itu. Jika tidak aku pasti sudah mati." segera kusingkirkan lengan Sakura yang menempel di lenganku dan kupersiapkan Amaterasu setelahnya.
"Semuanya." ujar Gai-sensei dengan nada datar. Tidak seperti yang biasanya. kami berenam memperhatikan pria yang menjadi panutan kami di dalam misi ini.
"Mereka berdua bukanlah lawan yang biasa. Mereka adalah hunter level 4 yang sudah terkenal seantero dunia perburuan monster. Mungkin menghadapi 'The Puppeteer' Sasori dan 'The Bomber' Deidara lebih sulit dan beresiko ketimbang menghadapi DUA ekor wyvern sekaligus." kata Gai-sensei panjang-lebar, mencoba menekankan kata 'dua' sebagai peringatan tersirat bahwa musuh yang ada di hadapan kami bertujuh ini merupakan musuh yang sangat kuat.
"Aku tersanjung kau mengetahui julukkan kami berdua, 'Green Beast' Maito Gai." sahut pria bermata sayu itu sembari membuka matanya lebar-lebar.
"Danna, ayo kita tunjukkan kepada bocah-bocah amatiran itu tentang arti seni di dalam dunia hunter, hn." pria berwajah cantik itu mulai memasukkan beberapa benda bulat yang berwarna keperakkan ke dalam senjatanya yang mirip dengan shotgun.
"Semua bersiaplah. Ikuti instruksi dariku ya." Gai-sensei menggenggam erat pegangan hammernya. Tatapannya sangat serius. Mungkin ia merasa jika terjadi apa-apa dengan kami berenam maka itu akan menjadi kesalahannya.
Naruto menyiapkan tombak besar rasengannya. Sakura berada di belakangku dan Naruto, mempersiapkan peralatan medis maupun hunter tool. Neji membuka kedua pedang kembarnya dari dalam sarung yang ada di pinggangnya. Ten Ten memutar-mutar rantai tajamnya. Dan terakhir Lee memainkan sepasang nunchakunya dengan tangan kanan dan kiri.
Suasana menjadi sangat tegang. Angin malam yang dingin berhembus cukup kencang di tengah hutan yang gelap. Sinar rembulan meredup karena tertutup oleh awan kelabu. Hanya desahan nafas yang terdengar di antara kami semua.
"SERAAANNGG!"
H
U
N
T
E
R
Gai-sensei tiba-tiba saja sudah berada cukup jauh di depan kami setelah menginstruksikan untuk menyerang terlebih dulu. Aku pun spontan turut berlari kencang ke depan sambil memegang erat pedang besarku ini. Diikuti oleh yang lainnya.
"Kau pikir mudah menyerang kami, hn?" Deidara berulang kali menangkis pukulan keras dari hammer yang diayunkan oleh Maito Gai. Ternyata senjatanya itu mampu digunakan sebagai alat bertarung jarak dekat dan tidak hanya bisa menembak dari kejauhan saja.
"Aku tak akan memaafkan banci yang lembek sepertimu jika terjadi apa-apa dengan Lee dan yang lainnya, grrhhh..." Ia bersuaha sekuat tenaga untuk menekan hammernya yang bersentuhan langsung dengan senapan besar Deidara.
"Banci katamu, hn? Sssshhial, aku lama-lama akan kalah jika pertarungannya seperti ini." Pria berambut panjang kuncir kuda itu mulai kewalahan saat beradu kekuatan satu sama lain dari jarak yang sangat dekat.
Tapi tiba-tiba beberapa benang meluncur cepat ke arah belakang Deidara dan secepat kilat menariknya mundur.
"Fyuuh, untung saja kau menarikku Danna. Aku tidak akan mampu mengeluarkan kekuatan seni ledakanku jika keadaannya seperti itu." pria pirang itu tersenyum licik. Ia arahkan senjatanya ke arah Gai-sensei. "Heheh, rasakan ini Maito Gai."
(DHUUUAARR)
Gai-sensei terlempar cukup jauh ke belakang setelah terkena ledakkan dahsyat yang seumur-umur baru pernah aku saksikan dengan mata kepala sendiri. Ledakkan yang melebihi crag atau clust level 1.
"GAI-SENSEI!" teriak Lee seketika. Ia segera berlari menghampiri guru kesayangannya itu.
Aku, Naruto, Neji, dan Ten Ten berlari kencang untuk bersiap menyerang seorang hunter kuat yang berjuluk 'The Puppeteer', Sasori.
"Rasakan ini sialaaann!" Naruto bersiap menusukkan tombak panjangnya.
"Heyyaaahh!" Kutebaskan Amaterasuku.
Pria itu tersenyum. Diarahkannya jari-jari tangan kanannya ke arahku dan yang lain.
Hanya dalam sepersekian detik tiba-tiba saja tubuh kami berdua tak dapat bergerak. Sial! Sepertinya ini akibat dari permainan benang-benang dari ujung jari-jarinya itu.
"Sa...Sasuke, apa yang terjadi? Tubuhku tidak mampu kugerak...kan." wajah Naruto berubah menjadi panik dan memucat. Aku melihat benang-benang transparan itu melilit di kedua tangan serta kakinya. Begitu juga yang sedang terjadi di tubuhku ini.
"Naruto, Sasuke, kenapa kalian tiba-tiba berhenti menyerang seperti itu?" tanya Neji. Ia pun sepertinya belum paham dengan kekuatan dari pria pendek berambut merah tua itu.
"Neji, lihatlah itu! Sepertinya mereka terlilit oleh benang-benang yang berasal dari telapak tangan orang yang bernama Sasori itu." seru Ten Ten sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah sekumpulan benang yang samar-samar terlihat melilit tubuh kami berdua.
"Hanya benang saja kan? Ini akan mudah." Neji melompat tinggi ke atas dan menukik tajam ke arah benang-benang itu seraya mengayunkan dual swordnya. "Double Slash!"
Sia-sia. Benang-benang itu masih utuh seperti sedia kala. Tidak putus barang sehelai pun.
"Hn, kalian kira benang andalanku ini bisa disamakan dengan benang jahit? Supaya kalian tahu, benangku ini sekuat baja dan setajam pisau." Sasori menggerakan kelima jari tangan kanannya sehingga lilitan di tubuh kami semakin mengencang dan mampu menyayat kulit.
"Sial! Kulitku sampai berdarah seperti ini." keluhku. Kulihat kondisi Naruto pun tidak jauh berbeda denganku.
"Aku akan menunjukkan bagaimana seni permainan bonekaku yang mampu membantai seekor Diablos dengan cukup mudah kepada kalian semua." Seringainya muncul. Dengan lincahnya ia kembali menggerak-gerakkan jemari-jemarinya kesana kemari yang membuat tubuhku dan Naruto berbalik menghadap Neji, Ten Ten, juga Sakura yang ada di belakang sana.
Sasori mendesis, "Creature Movement..."
H
U
N
T
E
R
"Kau baik-baik saja Gai-sensei? Apa kau terluka parah?" Lee memapah bangkit tubuh Maito Gai yang terkena luka bakar lumayan parah dengan warna hitam disana-sini.
"Tidak Lee. Ini baru permulaan." tatapannya berfokus ke arah Hachimon miliknya. Ia menutup matanya sejenak. "Gate 3 : Rotation!"
"Ehh? Kau mau melakukan atraksi sirkus macam apa Maito Gai?" ejek Deidara.
"Apa kau mau aku bantu Gai-sensei?" Lee menawari bantuan.
Gai menggeleng, "Tidak usah Lee. Lebih baik kau bantu rekan-rekanmu yang sedang kesulitan melawan Sasori sekarang."
Dengan mata yang berbinar-binar, laki-laki penggemar berat sang Green Beast itu mengepalkan tinjunya di depan dada. "Baik! Instruksi diterima."
Setelah Lee pergi dari situ, Gai gantian tersenyum lebar. "Coba kau terima seranganku yang satu ini."
Ia mengayunkan hammer besarnya itu dengan pola berputar sehingga mengakibatkan tubuhnya pun ikut berputar maju seperti layaknya gasing. Putaran kencang itu bergerak cepat menuju ke arah Deidara. Semakin kencang dan mengencang seiring dengan semakin banyaknya putaran yang terjadi.
"Kau tak akan mampu mengalahkanku dengan atraksi anehmu itu Gai, hn." ia mengarahkan ujung senapan besarnya ke arah depan. "Bomb Launcher milikku ini mampu menghabisi seekor wyvern kurang dari delapan tembakan, hn."
Deidara menembakkan peluru bomnya. Namun hasilnya nihil. Rotasi hammer Gai mampu menangkis ledakkan itu satu per satu.
(BLAAARR)
(BLAAARR)
"Apa-apaan itu? Tembakkan peluru bom C1-ku tidak mempan." Deidara terperanjat dan bergerak mundur perlahan setelah lontaran bom andalannya itu mampu ditepis oleh Gai sebanyak tiga kali.
"HAAAAA!" Gai sampai persis di hadapan lawannya itu. Kemudian ia ayunkan Hachimonnya ke arah perut Deidara.
(BUAGH)
"Guwah!" Deidara terlempar jauh ke belakang dan kemudian punggungnya terbentur ke dahan pohon yang besar setelah sebelumnya ia sempat memuntahkan sedikit darah dari mulutnya.
"Hah...hah...hah, kita satu sama." Ucap Gai dengan nafas yang sangat ngos-ngosan setelah melakukan manuver serangan barusan. Tapi luka bakar di tubuhnya pun semakin banyak karena serangan bernama 'Rotation' barusan tidaklah seratus persen menangkis serangan lawan. Lebih tepatnya hanya meminimalisir.
"Cih, brengsek. Kau benar-benar membuatku muak, hn." Deidara berdiri kembali walaupun luka hantaman di ulu hatinya masih terasa sakit. "Jika seperti ini keadaannya aku harus cepat menyelesaikan pertarungan ini."
Ia menengok ke arah partnernya yang sedang asyik mempermainkan tubuh Naruto dan Sasuke guna menyerang balik kepada rekan-rekannya. "Danna! Ayo kita gunakan strategi 'Spider Art' "
Sasori pun menoleh, "Strategi itu? Baiklah. Aku pun malas berlama-lama."
H
U
N
T
E
R
"Sasuke-kun, berhentilah! Naruto, kau jangan menyerang kami bertiga kumohon!" teriak Sakura sembari terisak-isak. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kedua sahabat laki-lakinya itu menyerang Neji dan Ten Ten dengan beringas.
"Lepaskan tubuhkuuu!" Naruto benar-benar frustasi saat mengetahui bahwa dirinya tengah menebas rantai milik Ten Ten hingga patah sehingga perempuan itu ikut terlempar karenanya.
"Kyaaa!"
"Ten Ten!" Neji pun tak kalah panik.
"Neji, perhatikan aku!" ucapku lantang saat kedua tanganku mulai bergerak untuk mengayunkan pedang besar Amaterasu ke arahnya.
"Sial!" Neji spontan menahan tepian pedangku yang amat tajam dengan Yin & Yang miliknya. Dual sword yang berwujud kembar dengan warna hitam dan putih.
"Tak ada waktu untuk bermain-main lagi." Sasori mengarahkan jari-jari tangan yang satunya lagi ke depan dan meluncurkan benang-benangnya ke arah kami berenam.
Set...Set...
Set...Set...Set...
"Tu...tubuhku juga?" Neji berusaha untuk melepaskan diri dari benang-benang itu namun sia-sia.
"Siapa saja, tolong kami!" teriak Ten Ten dengan nada memelas.
"Sakura-chan!" Naruto sepertinya benar-benar marah saat melihat tubuh Sakura ikut terlilit oleh benang-benang itu.
Lee pun sama saja. Sebelum ia sempat menyentuh Sasori, kedua kaki dan kedua tangannya sudah tak bisa ia gerakkan semaunya sendiri.
Kini kondisi yang terjadi sangat mengerikan. Aku, Naruto, Sakura, Neji, Ten Ten, serta Lee telah sukses terperangkap dalam kekuatan pengendalian tubuh milik pria berjuluk The Puppeteer itu.
"Kalian berenam mustahil bisa lolos. Ini lah yang dinamakan dengan strategi Spider Art. Kalian sama saja dengan serangga yang terjebak di dalam sarang laba-laba." Sasori menjelaskan apa yang ia sedang rencanakan.
"Lee! Murid-muridku semuanya!" teriak Gai-sensei dengan lantang. Raut mukanya yang bersemangat dan ceria kini berubah drastis 180 derajat. Pucat, panik, dan takut.
"Hahahahaha! Bagaimana Maito Gai? Menarik bukan melihat mereka semua dengan keadaan yang di ujung tanduk seperti itu, hn?" Deidara tertawa lepas penuh kemenangan. Kemudian tangan kirinya ia masukkan ke dalam kantung yang berada di pinggang belakangnya. Selang beberapa detik kemudian ia mengambil beberapa benda dari dalam kantung itu.
"Lihatlah ini, hn. Bom yang sangat indah bukan, karena aku bisa membentuknya menjadi wujud laba-laba yang cantik, hn?" ia mengecup satu per satu dari kelima bom berukuran sebesar jempol kaki orang dewasa itu dengan tatapan mesra. "Bom yang kubuat dari bahan dasar crag level 2 yang kupadukan dengan mesiu khusus ini kunamakan C2."
"Kumohon...kumohon jang...an sakiti Lee dan yang...yang lainnya." ucapan Gai terbata-bata.
"Kami akan melepaskan mereka berenam jika kau berjanji bersama semua anak didikmu itu untuk merelakan reward sebesar 400.000 ryo." Sasori menjelaskan sebuah syarat yang harus dipatuhi jika aku dan yang lainnya ingin selamat.
Tanpa berpikir panjang pria berhidung besar itu mengangguk mantap berulang kali. "Baik-baik. Lepaskan mereka semua dan kami akan pulang."
"Tapi tidak hanya itu, hn." senyum licik mengembang di bibir hunter spesialis pengebom itu.
"GAI-SENSEEEIII!" jerit Lee dengan air mata yang mengalir deras.
'Perasaanku buruk untuk hal yang satu ini' batinku.
"Syarat yang kedua adalah...sebagai gantinya kau harus menerima anugerah seni dari kami berdua." kata Sasori dengan nada yang dingin serta penuh arti.
Kami berenam saling berpandangan satu sama lain. Jujur kalimatnya itu sukar untuk dipahami.
"Anugerah seni?" kedua alis tebal Maito Gai saling bertaut.
"Dalam dunia ini kita tidak mungkin terlepas dari pengambilan keputusan yang sulit. Membunuh atau dibunuh, hn. Menyakiti atau disakiti, hn."
"Apa maksudmu banci? Jangan bertele-tele seperti itu!" gentak Naruto.
Kelima bom berbentuk mirip hewan laba-laba yang ada di telapak tangan kanan Deidara dilemparkan enteng ke atas berulang kali. "Itu merupakan bagian dari seni, hn. Sekarang pilihlah..."
Sasori mengambil alih pembicaraan. "Kau yang lolos dari jebakan laba-laba dan semua orang yang kau sayangi dimangsa oleh laba-laba atau...semua orang yang kau sayangi lolos dari jebakan dan sebagai gantinya kau yang dimangsa."
Keringat dingin mengalir di wajah Gai-sensei. Tangannya bergetar seakan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar melalui kedua telinganya sendiri.
-TSUZUKU-
Halo semuanya. Ketemu lagi dengan author di fic yang aneh ini, hehehe. Sudah nyaris satu tahun fic ini tidak di update ya :(
Maafkan author ya karena baru dapat ilhamnya sekarang ini :)
O ya, untuk dua kata yang author cetak tebal dalam satu kalimat itu bukanlah nama monster. Crag dan Clust adalah nama jenis peluru peledak di dalam game Monster Hunter. Crag ledakannya tidak langsung namun dahsyat sedangkan Clust langsung meledak begitu menyentuh kulit monster dan ledakannya lebar namun tidak sekuat Crag kayaknya lho.
Oke, terima kasih bagi yang sudah mau menyempatkan waktunya untuk membaca fic ini :)
