DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

RATE : T

WARNING : AU, 1ST POV

MONSTER HUNTER©CAPCOM

.

.

.

(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca.)

.

.

.

~Level 3 Exam~

Sasori memicingkan kedua matanya tajam ke wajah Gai-sensei. Deidara terus-terusan terkekeh yang tetap diselingi dengan kata 'hn'. Sementara orang yang paling tertekan saat ini, Maito Gai, berulang kali menghirup dan hembuskan nafas guna menenangkan pikirannya yang pastinya sangat kalut sekarang ini. Dia dihadapkan dengan dua pilihan yang sangat berat sekarang. Kami berenam yang selamat atau dia sendirian yang selamat?

"Woy, kau jangan terlalu lama untuk menentukan pilihan seperti itu, hn. Cepat putuskan!" sergah Deidara dengan intonasi yang tinggi. Sepertinya bajingan berwajah transgender yang satu ini berwatak temperamental.

"Bagaimana ini..." gumam Gai. Kedua telapak tangannya mengerat di pegangan hammer. Seumur-umur baru pernah aku melihat seorang Maito Gai dengan kondisi yang memprihatinkan seperti ini. Raut mukanya seperti orang depresi.

"Gai-sensei! Jangan pedulikan kami! Larilah atau serang kedua orang ini jika kau mampuuu!" Lee berteriak keras. Air matanya masih mengalir walau menit demi menit telah lewat.

"Bodoh! Jangan pedulikan kami? Kau saja Lee. Aku tidak mau mati di tempat ini." sela Naruto tiba-tiba. Tubuhnya terus-terusan digerakkan ke kanan dan kiri, siapa tahu ada peluang untuk lolos. Namun itu malah semakin membuat kulit-kulitnya teriris oleh benang tajam yang melilitnya.

Aku mencoba untuk berpikir tenang dan kritis di saat situasi sedang genting seperti ini. Kedua kaki dan tanganku dililit oleh benang tajam dan kuat milik pria bermata sayu itu. Dan yang mengerikan adalah saat mengetahui fakta jika kedua pedang kembar Neji tidak mampu memotongnya. Jika begitu kemungkinannya sangat kecil kami semua mampu meloloskan diri dengan usaha sendiri. Paling tidak satu-satunya jalan untuk bebas adalah dengan mengacaukan formasi jari-jari Sasori sehingga benang-benang ini bisa mengendor dan otomatis peluang untuk kabur besar. Tapi entahlah, jika aku mengatakan hal ini kepada Gai-sensei secara terang-terangan justru aku takutkan kedua hunter elit itu akan langsung membinasakan kami semua dengan peledak berbentuk laba-laba yang dipegang Deidara.

"Baik. Aku sudah putuskan."

Semua mata sontak menatap ke arah Gai-sensei.

"Sensei, pasti masih ada jalan lain. Pikirkan lagi." saran Neji.

"Tidak." balas pria berambut bob itu. "Sudah kuputuskan..."

"Gai-sensei..." kedua bola mata Ten Ten mulai berkaca-kaca.

"Sasuke-kun, bagaimana ini?" Sakura menoleh ke arahku.

Kubalas dengan gelengan.

Tarikkan nafas yang dalam dari Gai sebelum ia mengucapkan apa keputusannya, "Aku yang akan berkorban."

"Haha, bagus-bagus. Sasori no Danna, permainan ini bertambah manis saja, hn." Deidara mulai memasukkan satu per satu bom yang ia namakan C2 ke dalam Bomb Launcher miliknya. Kemudian setelahnya ia arahkan moncong senapan dengan panjang kurang lebih 80 centimeter itu ke arah di mana Maito Gai berdiri.

"Danna, setelah aku tarik pelatuknya maka kau pun harus bersiap untuk melepaskan benangmu dari tubuh mereka berenam, hn." pria berambut ala kuncir kuda itu menyeringai lebar.

Sial-sial! Jadi ini maksud mereka sebenarnya? Bahkan menurutku strategi mereka yang bernama Spider Art ini lebih menyakitkan jika harus digunakan untuk melawan manusia ketimbang wyvern atau monster lain. Ini merupakan permainan psikologi dimana tak ada yang namanya solusi untuk menyelesaikan pertarungan tanpa mengorbankan salah satu pihak. Kecuali jika kekuatan kami berenam telah mampu untuk mengatasi kedua pria brengsek itu.

Perlahan-lahan lilitan benang di tubuh kami berenam mulai mengendur. Tatapan pria berambut merah itu masih datar. Lee terus-terusan berteriak, Ten Ten ternganga, Neji hanya menunduk ke bawah. Sedangkan aku, Naruto, dan Sakura hanya bisa pasrah. Bisa dimaklumi jika kami bereaksi seperti ini karena ikatan yang terjalin di antara kami bertiga dengan Gai-sensei tidaklah sekuat mereka bertiga.

"Tiga..." telunjuk kanan Deidara mulai bergerak.

"Dua..." telunjuknya telah menyentuh pelatuk Bomb Launcher.

Gai-sensei memejamkan kedua matanya. Tak kusangka ia masih bisa-bisanya menampilkan sedikit cengiran ala dirinya saat nyawanya di ujung tanduk seperti ini.

"Cukup kalian berdua."

H

U

N

T

E

R

Suara serak barusan memecah suasana tegang di antara kami semua yang ada di sini. Suara itu adalah suara seorang pria. Apakah bala bantuan?

"Heehhh?! Siapa itu yang berani-beraninya mengganggu keasyikanku dalam menuntaskan hasrat seniku?!" kata Deidara dengan nada tidak terima. Ia turunkan senjatanya dan menoleh ke sumber suara.

"Itu Kisame." gumam Sasori. Ditariknya kembali semua benang-benang yang melilit tubuh kami berenam.

Samar-samar dari dalam kegelapan malam munculah sesosok pria tinggi besar dengan wajah yang bisa dikategorikan mengerikan untuk ukuran pria normal. Kedua bola matanya yang bulat serta sepasang guratan mirip insang yang menghiasi pipinya membuat siapa saja mudah mengenali wajahnya.

"Ki...Kisame katanya? Teme, dia bukankah orang yang pernah kau ceritakan?" Naruto menengok ke arahku.

Aku hanya berdiri mematung di tempat. Tak tahu harus berbuat apa. Apa harus kutanyakan tentang Uchiha Itachi kepada pria asing itu?

"Khekhe, maaf kalau aku mengganggu kegiatan kalian berdua. Tapi kalian telah ditunggu oleh Leader-sama di markas. Kalian tahu kan apa resikonya jika mengacuhkan perintah yang bersifat absolut itu?" diturunkannya pedang besar yang berbalut kain putih dari atas bahunya. Itu adalah Samehada. Salah satu dari empat pedang pusaka milik Mizu no Kuni alias Negara Air.

"Baiklah-baiklah. Ayo Danna, kita segera ambil reward kita yang sangat banyak itu dan bergegas pergi dari desa ini, hn." ajak pria pirang itu kepada partnernya.

Sasori melangkahkan kedua kakinya menghampiri posisi Kisame berdiri. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Pria berkulit biru itu terkekeh, memamerkan deretan gigi-gigi runcingnya yang mengerikan. "Aku ada tugas sangat penting ke kampung halamanku, Kirigakure. Kebetulan jalurnya lewat sini, Hoshigakure."

Tiba-tiba Deidara menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah kami semua. "Kalian semua boleh bersyukur karena tidak jadi mengalami hal yang buruk, hn."

"Ayo Deidara, kita harus cepat kembali." Sasori pun ikut beranjak dari situ dan berjalan ke arah Deidara yang sempat menghentikan langkahnya.

Melihat ada kesempatan emas seperti ini membuat Lee bergegas berlari kencang menghampiri guru kesayangannya itu. Dan bisa ditebak, air matanya lagi-lagi mengalir deras seakan kantung air matanya tak pernah ada habisnya.

"Huwaaa Gai-sensei!"

"Lee!"

Dan lagi-lagi kedua pria aneh itu melakukan aksi noraknya yang dijamin membuat perut serasa ingin muntah.

"Tunggu kau yang bernama Kisame."

Pria itu menggerakkan kepalanya ke arahku, "Apa?"

Naruto dan Sakura menatapku dengan wajah cemas.

Aku menelan ludah, "Apa kau tahu ba...bagaimana kabar Uchiha It...Itachi?"

Mendengar kata Uchiha Itachi membuat Lee dan Gai-sensei yang tadinya terbius dengan keharuan mereka mendadak menghentikan aktifitas. Neji serta Ten Ten pun tidak berbeda jauh.

Tak ada kata yang terucap setelah itu. Hanya keheningan selama nyaris satu menit.

Kisame menyeringai tipis, "Uchiha Itachi?"

Aku mengangguk seraya kembali menelan ludah.

"Memangnya ada hubungan apa antara kau dengan dia?" lanjutnya. Kali ini nada bicaranya terdengar seperti sedang menginterogasi.

Naruto menyikutku, "Sasuke, apa kau yakin akan menanyakan hal seperti ini kepada orang asing seperti dia? Apalagi kita tahu bahwa dia juga termasuk anggota Akatsuki seperti dua orang sialan barusan. Bisa repot kalau dia bertarung melawan kita." bisiknya lirih.

Aku tetap memantapkan hati. Aku ingin bertanya semampuku kepada sosok yang bisa dibilang merupakan orang yang paling dekat dengan kakakku saat ini.

"Aku adalah...adiknya." kataku singkat.

Kisame menggaruk rambutnya. "Adik dari Itachi-san? Ehh, pantas saja wajahmu mirip dengannya kalau dilihat-lihat. Siapa namamu?"

"Sasuke. Uchiha Sasuke."

"Tidak banyak yang kuketahui tentang Itachi-san sekalipun aku adalah rekan kerjanya. Namun ada satu hal yang sepertinya bisa kukatakan kepadamu dan kupikir itu terdengar seperti sesuatu yang penting." ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Apa itu?" sorot mataku berubah menjadi tajam.

"Dia...ingin menunggu adiknya di suatu tempat. Suatu hari nanti. Hanya itu yang bisa kukatakan kepadamu, Uchiha-san." diambilnya pedang Samehada dari permukaan tanah dan kembali disangganya di atas bahu. "Aku tidak tahu apa maksud dari perkataan anikimu itu, jujur saja." kemudian ia melangkahkan kedua kakinya menuju ke arah dalam hutan yang gelap. Menjauh dari hadapan kami bertujuh.

Aku yakin semua orang yang ada di sekelilingku kini sedang memandangiku dengan pikiran yang macam-macam. Aku tak peduli. Ada hal lain yang lebih penting lagi dibandingkan itu.

Aniki, kenapa kau ingin menungguku?

"Ehm...ehm, ayo semuanya kita pulang. Tak ada reward pun tidak apa asalkan kita semua masih selamat. Iya kan? semangat!"

Perkataan lantang Gai-sensei membuyarkan lamunanku. Dan aku pun bergabung ke dalam rombongan untuk kembali ke desa kami.

H

U

N

T

E

R

"Benarkah Gai kau mampu menghadapi mereka berdua sekaligus?"

"Aku sungguh tak menyangka jika kekuatanmu sehebat itu Gai."

"Apa saja yang kau dapatkan dari pertarungan? Apa kau tahu kekuatan mereka berdua seperti apa?"

Pertanyaan demi pertanyaan terus saja meluncur dari mulut orang-orang desa yang kini sedang berkerumun di dalam aula rumah kepala desa untuk mendengarkan cerita omong kosong dari Gai-sensei.

"Itu benar. Walaupun aku tidak sampai mengalahkan mereka berdua tapi setidaknya aku mampu memojokkan Deidara hingga ia kewalahan. Pertanyaan selanjutnya?"

Memojokkan? Bukannya kau yang dipojokkan oleh mereka berdua hingga wajahmu seperti layaknya orang depresi dan nyawamu hampir saja melayang?

Aku duduk di pojokkan ruangan bersama dengan Naruto dan Neji. Sakura kebetulan sedang menemui Kakashi-sensei untuk suatu urusan. Yah paling-paling juga ia bercerita penuh kehiperbolisan atas apa yang barusan dialaminya kemarin malam kepada sensei lesu itu.

"Teme, kau tidak mau minum lagi? Minuman melon ini enak lho." Naruto menawari aku untuk menuangkan kembali minuman berwarna hijau dan berbau wangi itu ke dalam gelasku.

"Satu gelas saja sudah cukup." jawabku singkat.

"Kau Neji?" Naruto menyodorkan teko ke arah Neji.

Pria bermata putih itu menggerakan telapak tangan kirinya ke kanan dan kiri sebagai isyarat tidak.

"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang ini?" tanyaku kepada kedua orang yang sedang duduk bersila di hadapanku.

"Entahlah Sasuke. Katanya sih Sarutobi-sama ingin menanyai kita yang kemarin malam pergi untuk misi ke Hoshigakure, berkaitan dengan Akatsuki." setelah selesai berbicara laki-laki berkumis itu langsung meneguk kembali melon segar dari gelasnya hingga tuntas.

Baru saja dibahas tiba-tiba kakek tua berjanggut putih itu sudah ada di tengah-tengah ruangan. Setelah melepas caping bercorak merah yang berlambang kanji 'Hi' miliknya ia lalu duduk bersila di tempat.

"Ehem, dimohon kepada yang tidak berkepentingan untuk segera meninggalkan ruangan ini." perintahnya dengan suara yang terdengar berwibawa.

Satu per satu para hunter ataupun penduduk biasa yang tadinya sedang sibuk mengerumuni Maito Gai mulai pergi. Hingga akhirnya tak tersisa satupun lagi dari mereka.

"Baiklah. Gai, apakah ketiga muridmu sudah siap di ruangan ini?" tanya Hi Tate sembari menyalakan cerutu favoritnya.

Yang dipanggil langsung menghadap. "Baru ada Neji saja Sarutobi-sama. Tapi tenang saja, kedua muridku yang lain dengan penuh semangat sedang bergerak menuju kemari dari tempat tinggalnya masing-masing."

Pria tua dengan rambut kepala yang sudah sangat tipis itu mengangguk pertanda mengerti. "Bagus-bagus. La..."

Tok... Tok... Tok...

Pintu ruangan diketuk. Semua orang yang ada di dalam termasuk Sarutobi-sama pun menoleh serempak.

"Sarutobi-sama, maaf kalau saya lancang. Tapi saya ada keperluan dengan kedua murid saya."

"Kakashi ya. Sebenarnya aku ada perlu dengan ketiga muridmu, uhuk. Tapi jika kau berjanji untuk tidak lama-lama maka menurutku itu tidak menjadi masalah. Aku akan mengorek informasi dan keterangan dari Gai dan murid-muridnya uhuk, terlebih dulu." jelas Hi Tate secara bijaksana.

Kakashi-sensei berojigi, "Terima kasih banyak."

Aku dan Naruto saling berpandangan satu sama lain. Aku menaikkan kedua alis seakan memberi isyarat. Kemudian kami berdua pun berojigi kepada kepala desa untuk meminta ijin pamit.

H

U

N

T

E

R

Sesampainya di luar kami tengah mendapati Sakura yang sedang bersenderan di tiang penyangga rumah kepala desa. Tepatnya berada di teras.

"Sakura-chan, sejak kapan kau ada di situ?" Naruto menghampiri perempuan bermata hijau itu.

"Aku baru saja sampai bersama dengan Kakashi-sensei. O ya, katanya ada hal penting yang ingin dia sampaikan khusus kepada kita bertiga." ujar Sakura.

Orang yang dibicarakan, Kakashi Hatake, muncul dari pintu rumah kepala desa. "Yo, kali ini kalian tidak perlu menungguku lama, hehe." guraunya.

"Sensei, langsung saja karena kami bertiga akan menemui Hi Tate di dalam ruangan sebentar lagi." ucapku.

Pria bermasker rapat itu menggaruk belakang kepalanya. "Oke-oke. Baiklah jadi begini. Ngomong-ngomong kalian bertiga sudah berapa lama menjadi hunter di level 2?"

Kami saling berpandangan satu sama lain. Naruto mengedikkan bahunya. Sedangkan Sakura terlihat sedang berpikir keras.

"Mungkin satu setengah tahun lebih sedikit sensei." jawabku.

"Satu setengah tahun ya." gumam pria pemalas itu. "Tapi apa yang kalian alami dan jalani sebagai hunter dengan level nomer dua dari bawah tidaklah wajar. Kalian masih ingat dengan Yian Kut-Ku yang kita temui beberapa hari lalu?" matanya bergantian menatapi kami bertiga.

Naruto dan Sakura mengangguk.

Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana. "Lalu pertarungan kami bertiga ditambah Tim 9 melawan Sasori dan Deidara kemarin malam?"

Anggukan kepala menjadi jawabannya. "Benar Sasuke. Apakah kalian tahu jika menghadapi wyvern Yian Kut-Ku itu merupakan quest yang tergolong dalam level 3? Dan yang kalian alami saat melawan duo Akatsuki itu bisa dikategorikan sebagai pertarungan antara hunter level 4?"

Aku mulai paham menuju kemana arah pembicaraan ini.

"Lalu ada apa dengan semua itu Kakashi-sensei? Apa jangan-jangan...kau ingin memuji kami ya? Iya?" muka Sakura sedikit berseri-seri.

Sensei menggeleng dua kali, "Tidak. Kupikir kalian bertiga sudah mulai terbiasa dengan misi-misi yang sulit dan tidak seharusnya masuk ke dalam misi level 2."

"Kau ingin menawari kami untuk naik level kan, sensei?" kataku dengan nada yang datar.

"Benarkah itu Kakashi-sensei? Benarkah?" Naruto seperti biasa, mulai kegirangan dan heboh.

Pria berambut perak itu mengacungkan jempol kanannya, "Yap. Dan bukan kalian saja. Rekan-rekan kalian sesama Rookie 12 pun sepertinya akan melakukan hal yang sama."

"Asyiiikk! Kita akan naik level Naruto, Sasuke-kun." Sakura mulai cari-cari kesempatan untuk memelukku. Cih.

"Kapan kita akan naik tingkat sensei?!" teriak Naruto.

Kupukul belakang kepalanya, "Hoy Dobe, turunkan volumemu. Aku bisa tuli bodoh."

"Diam kau Teme! Tidak tahu rasanya orang sedang senang apa?"

Kakashi-sensei mendengus bosan, "Fuuuhh. Jangan kalian pikir dapat naik ke level 3 dengan mudah. Kalian harus melalui ujian kenaikan level sama seperti saat kalian naik dari level 1 menuju level 2."

"Seperti apa tipe ujian kali ini sensei?" tanyaku penasaran. Jujur saja aku tidak tahu-menahu tentang masalah ini. Saat kami bertiga melaksanakan ujian level 2 hampir dua tahun yang lalu kami hanya disuruh untuk memburu Bullfango sebanyak tiga ekor. Monster berukuran hampir sebesar badak yang berwujud mirip babi hutan liar. Dengan kedua taring besarnya yang terlihat mengerikan.

"Ujiannya, kalian nanti akan memburu seekor monster yang lumayan tangguh. Untuk masalah siapa monsternya itu masih rahasia. Yang jelas lebih sulit daripada saat kalian melaksanakan ujian kenaikan level 2." jelasnya.

"Menjadi hunter level 3?" Senyuman Naruto mengembang dengan sangat lebar.

"Tapi kalian harus ingat..."

Kalimat yang terdengar dingin nan serius dari mulut sensei membuat khayalan dan imajinasi liar kami terhenti. Suasana mendadak mulai berubah menjadi serius.

"Menjadi seorang hunter level 3 membuat tanggung jawab, beban, juga resiko kalian meningkat. Kemampuan kalian juga wajib meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Dan saat kalian telah menjadi seorang hunter level 3 maka secara otomatis kalian sudah siap untuk merenggang nyawa kapanpun."

Sakura menelan ludah, Naruto mulai berkeringat. Sedangkan aku masih tenang seperti biasanya.

"Lalu..." Kakashi-sensei menambahkan, "...kalian berdua, Naruto dan Sasuke, akan mempelajari tentang penggunaan elemen di dalam senjata kalian. Hampir semua hunter level 4 memiliki keistimewaan pada senjata mereka."

Tiba-tiba saja ingatanku kembali pada saat kemarin malam. Kedua anggota Akatsuki itu memiliki senjata yang lain dari yang lain dan sangat kuat. Benang Sasori mampu menjadi sekuat baja dan setajam pisau. Juga ledakan bom karya Deidara melebihi peluru bom yang beredar di pasaran.

"Kalian tahu kan senjataku yang bernama Raikiri ini?" ia membopong crossbow andalannya di depan perut. "Elemen dari tembakan panah milikku ini adalah petir. Jika aku tidak mempunyai elemen maka tidak mungkin aku mampu membunuh seekor Yian Kut-Ku pada waktu itu dengan cukup mudahnya."

"Sugoooii..." Naruto berdecak kagum.

"Baiklah, jadi apakah kalian sudah menyiapkan mental dan fisik untuk ujian kenaikan level yang akan dilaksanakan tiga hari lagi?" sensei mengangkat jari telunjuk, tengah, dan manisnya secara bersamaan untuk membentuk simbol angka tiga.

Kami bertiga saling menatap, mengangguk mantap, kemudian serempak berteriak, "Yosh!"

-TSUZUKU-

Akhirnya author bisa meng-update chapter 7 ini dengan cepat.

O ya, di review chapter kemarin ada yang bertanya kalau Monster Hunter yang diulas di fic ini adalah yang seri pertama alias MH1. Iya benar. Author mulai dari awal aja, dari seri game nenek moyangnya Monster Hunter. Soalnya author cuma main MH1 sama MH2 DOS. Selain itu nggak, hehe.

Yosh, terima kasih banyak bagi yang telah meluangkan waktunya untuk membaca fic ini :)