DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

RATE : T

WARNING : AU, 1ST POV

MONSTER HUNTER©CAPCOM

.

.

.

(AUTHOR NOTE : Diharapkan kepada readers sekalian untuk mencari nama monster yang author cetak tebal di *monsterhunter. wikia* demi kelancaran dan kenyamanan dalam membaca.)

.

.

.

~Iodrome~

Tiga hari telah berlalu semenjak Kakashi-sensei memberitahukan kepada kami tentang penawaran untuk mengikuti ujian kenaikan level itu. Dan di pagi hari yang terbilang lumayan cerah ini, bukan lebih tepatnya masih subuh, kami Tim 7 sudah berkumpul bersama ketiga Tim lainnya yang termasuk anggota Rookie 12 untuk mengikuti arahan dari Hi Tate dan beberapa petinggi desa lainnya.

"Baiklah semuanya. Selamat pagi dan semoga kalian sehat selalu. Seperti yang kalian ketahui, pada hari ini kalian akan melaksanakan ujian kenaikan tingkat untuk menjadi hunter dengan level 3. Oleh karena itu maka uhuk, aku di sini akan memberikan pengarahan singkat sebelum kalian berangkat." Sarutobi-sama mengucapkan kalimat sambutan.

Masing-masing tim berbaris rapi sesuai dengan nomor urutnya. Tim 7 berada paling timur, Tim 8 di sebelahnya, Tim 9 di sebelah Tim 8, dan yang berada di paling barat adalah Tim 10.

"Psst Teme, apa kau gugup? Aku lumayan panik nih. Aku sudah tidak sabar ingin menghabisi monster-monster yang akan menjadi bahan ujian kita." bisik Naruto di telingaku.

Kulirikkan kedua bola mataku ke arahnya, "Diam kau Dobe. Jangan banyak bicara."

"Ck, dasar kau Teme."

Sarutobi-sama berdehem, "Ehem, kepada masing-masing pembimbing tim untuk berdiri di hadapan murid-muridnya sekarang juga."

Seketika Kakashi-sensei, Kurenai-sensei, dan Gai-sensei langsung mematuhi perintah dari Hi Tate. Tapi ada yang aneh. Kenapa sensei dari tim yang beranggotakan Ino, Shikamaru, dan Chouji tidak hadir?

"Dikarenakan ketua dari Tim 10 yaitu Asuma Sarutobi sedang uhuk, mengalami cidera lumayan parah dan sekarang sedang menjalani perawatan intensif setelah menjalani quest level 4 beberapa hari yang lalu maka dengan ini aku putuskan uhuk, ketiga anggota Tim 10 agar masuk ke dalam ketiga tim lainnya." lanjut sang kepala desa.

Tiba-tiba Ino mengangkat lengan kanannya, "Ano, Sarutobi-sama. Apakah kami bertiga bebas untuk memilih bergabung ke dalam tim manapun sesuai kehendak hati?"

Kakek tua itu tertegun sejenak, mencoba untuk memikirkan hal ini.

"Tidak."

Suara yang serak namun terdengar lumayan dingin barusan membuat semuanya menoleh seketika.

"Biar aku yang memutuskan. Ino Yamanaka ke Tim 9, Chouji Akimichi ke Tim 8, dan terakhir Nara Shikamaru ke tim 7." kata seorang pria tua dengan perban yang melilit dahi serta mata sebelah kanannya. Danzou Shimura. Seorang hunter veteran yang merupakan teman dekat dari Hi Tate. Walaupun sekarang ia sudah pensiun namun ia masih aktif di dalam pemerintahan desa. Pria tua yang misterius itu merupakan wakil kepala desa dan yang membawahi San Koken'nin serta sepertiga dari jumlah hunter yang ada di desa Konoha ini. Namun dengar-dengar ia selalu bertindak sebagai pihak oposisi terhadap Hi Tate.

"Sh...Shikamaru ikut tim kita?" heboh Naruto.

"Bukannya itu tidak masalah ya?" Sakura menanggapi.

Aku menghela nafas panjang.

Pria dengan rambut dikuncir mirip buah nanas serta berwajah sangat pemalas, melebihi sensei kami itu berjalan gontai ke arah kami bertiga. Matanya yang lesu itu memandangi satu per satu dari kami.

"Tim 7 ya? Mohon...bantuannya." kemudian ia ikut berbaris dan mengambil posisi di sebelah Naruto.

Perlu diketahui, pria pemalas itu merupakan salah satu hunter paling cerdas yang ada di desa kami. Ayahnya, Nara Shikaku, merupakan seorang pengatur strategi kelas wahid yang juga merupakan kebanggan dari desa ini. Begitu juga dengan anaknya. Ia kudengar merupakan hunter yang jauh lebih mengedepankan otak ketimbang otot. Maka dari itu jangan heran jika melihatnya yang tidak membawa senjata besar dan berat seperti layaknya hunter pada umumnya. Di timnya ia bergerak sebagai perancang alur serangan dalam pertarungan melawan monster dan juga merupakan spesialis jebakan. Julukannya adalah 'The Trapper' Shikamaru Nara. Shikamaru menjebak dan Chouji yang mengeksekusi. Mirip dengan pola bertarung dari duet Sasori dan Deidara. Jadi jangan heran jika tugas Ino terbilang mudah di timnya karena ia hanya menangani bagian medis saja. Tidak lebih.

"Danzou, kau sekalian yang memberitahukan tentang peraturan serta tugas sekalian?" tanya Hiruzen Sarutobi kepada rekan sejawatnya di masa lalu itu.

Wakil kepala desa itu mengangguk pelan, "Iya."

Ia menyodorkan tangan kirinya ke samping. Ibiki yang merupakan tangan kanannya langsung mengangguk pertanda paham dan segera memberikan tiga buah gulungan perkamen berwarna cokelat tua kepada atasannya itu.

"Tiga gulungan ini berisi gambar simbol monster serta keterangan monster yang akan kalian semua hadapi masing-masing. Tiga buah gulungan untuk tiga tim. Dan untuk menentukannya kalian akan memilih secara...acak." jelasnya.

Kami berdua belas hanya bisa pasrah jika itu merupakan aturan main untuk ujian kali ini.

Danzou melanjutkan, "Masing-masing tim menunjuk satu perwakilan anggotanya untuk memilih secara acak perkamen yang kupegang ini."

Neji sontak langsung maju ke depan. Tak lama kemudian Kiba pun menyusul.

"Sasuke-kun, ayo maju! Kau saja yang mewakili. Aku percaya kepadamu Sasuke-kun." Sakura menyemangatiku.

"Cih, aku?"

"Teme, kau tidak usah repot-repot." Naruto menepuk dadanya sendiri, "Serahkan kepadaku yang dipenuhi keberuntungan ini."

"Woy Naruto!" kupanggil si rambut durian sialan itu. Tapi sayang, dia sudah terlanjur mengajukan dirinya.

"Ck, mendokusei..." gumam Shikamaru sembari menguap.

Kini di hadapan Danzou-sama sudah ada tiga orang pria yang akan mengikuti undian. Neji, Kiba, dan terakhir si bodoh itu.

"Kalian bertiga akan memilih. Dimulai dari yang pertama datang lalu seterusnya." ucap Danzou-sama seraya menyodorkan gulungan-gulungan yang masih tersegel rapat itu.

Neji yang pertama memilih. Ia mengambil gulungan yang ada di tengah.

Kedua Kiba. Ia menunjuk gulungan yang ada di sebelah kanan.

Dan otomatis Naruto mendapatkan sisanya alias yang sebelah kiri karena ia datang paling telat.

"Buka." perintah pemimpin dari San Koken'nin itu.

Neji, Kiba, serta Naruto dengan cekatan langsung menyobek segelnya dan membuka lebar-lebar perkamen yang mereka pegang masing-masing.

"Ve...Velocidrome?" gumam Kiba. Ia menatap ke arah Kurenai-sensei dan rekan-rekan di timnya.

Neji tidak mengucapkan sepatah katapun. Hanya menunjukkan isi gulungan yang bergambar Gendrome dan keterangannya kepada Lee dan yang lain.

"Bagus Neji!" teriak Gai-sensei sembari mengacungkan kedua jempolnya dan memamerkan barisan gigi-giginya yang bercahaya.

"Iodrome? Monster ini..." kalimat Naruto terhenti. Ia menoleh ke arah kami, Tim 7.

"Sudah kuduga..." Kakashi-sensei menghembuskan nafas dibarengi ekspresi lesu.

"Merepotkan saja." yang ini terlontar dari mulut Shikamaru.

Bocah berkulit tan itu malah kembali ke dalam barisan sambil tersenyum lebar. "Lihatkan-lihatkan? Pilihanku pasti yang paling baik dibandingkan kedua monster itu."

"Bodoh." cibirku.

"Apa katamu Sasuke?! Bukankah pilihanku yang paling beruntung, heh?!"

"Naruto, apa kau tahu kalau gulungan yang kau ambil itu merupakan yang paling sulit dan berat dibandingkan dua lainnya?" Sensei memberitahu fakta yang sebenarnya.

"Iodrome adalah yang terkuat jika dibandingkan dengan Velocidrome atau Gendrome." tambah Shikamaru.

Mata Naruto berkedip-kedip, tatapannya terpaku ke arah gambar bird-wyvern berwarna merah yang tercetak di permukaan perkamen. "EEHHH?"

"Dasar Naruto baka! Gara-gara 'keberuntungan' palsumu itu kita bertiga jadi ikut tertimpa sial." seloroh Sakura sarkastis.

"Well jika kalian berempat gagal kali ini maka kalian harus mengulangnya setengah tahun lagi." kata sensei.

Mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Apalagi orang yang bernama Danzou Shimura itu terkenal tidak bisa ditawar-tawar dan sangat disiplin.

"Semuanya, dengarkan penjelasanku!"

Kami semua yang tadinya sedang ribut-ribut sendiri akibat gulungan yang diterima mendadak diam setelah wakil Hi Tate berseru.

"Aku akan menjelaskan singkat tentang peraturan dalam ujian kali ini. Yang pertama..."

Semua mata orang-orang yang ada di situ memandangnya lekat.

"...kalian akan dinilai oleh sensei juga seorang lagi. Orang yang akan menilai kalian dari sudut pandang netral. Karena ditakutkan seorang sensei akan meluluskan dengan mudah atau membantu anak didiknya nanti."

"Seperti peraturan ujian level 2 ya." kata Shino lirih.

"Yang kedua...kalian akan diberi waktu dua jam saja untuk menghabisi monster target kalian masing-masing."

Bisik-bisik di antara kami mulai terdengar. Itu semua mungkin dikarenakan durasi yang diberikan pada saat ujian level 2 dulu jauh lebih lama, sekitar 3,5 jam.

"Gila! Dua jam?!" jerit Naruto tiba-tiba.

"Dan yang terakhir..."

"Haha, pasti ujung-ujungnya 'semoga sukses atau semoga beruntung' seperti yang diucapkan Sarutobi-sama pada waktu dulu. Semangat!" Lee mengacungkan kedua tangannya tinggi-tinggi.

"...seorang sensei tidak boleh membantu kalian sekalipun nyawa kalian terancam."

"Apa?" Kurenai-sensei terkejut setelah mendengar peraturan terakhir itu.

"Ta...tapi Danzou-sama." Gai-sensei mengacungkan tangan kanannya.

Kakashi-sensei tidak bergeming sedikitpun. Tapi aku dapat melihat raut kecemasan yang terpancar dari wajahnya yang tertutup oleh masker.

"Pengawas tambahan yang akan menilai masalah ini. Jika seorang sensei terlibat di dalam pertarungan sedikit saja, maka dipastikan keempat orang yang ada di dalam tim itu gagal."

"Danzou! Jangan keterlaluan!" bentak Hi Tate. Sepertinya ia sangat tidak setuju dengan peraturan yang ditambahkan oleh wakilnya itu.

Kakek bermata satu itu memasang wajah yang sangat tegas. "Ini sengaja kubuat agar kalian nantinya akan dicetak menjadi seorang hunter yang berkualitas yang akan menjadi kebanggaan desa. Ingat, di level 3 nanti nyawa sudah menjadi hal lumrah untuk dipertaruhkan."

Ketiga orang pria dengan seragam armor hitam dan bertopeng aneh mirip wajah hewan berjalan beriringan menuju ke hadapan kami semua.

"Perkenalkan, nama sandiku adalah F. Mohon kerjasamanya Tim 9." pria dengan topeng berbentuk wajah burung itu berojigi di hadapan Gai dan murid-muridnya.

"Nama sandiku T. Aku juga mohon kerjasamanya." pria bertopeng beruang menundukkan kepalanya di depan Kurenai-sensei.

Dan pria terakhir yang menggunakan topeng berwujud kucing ini lah yang akan menjadi asisten sensei kami dalam mengawasi ujian nantinya.

"Salam kenal semuanya. Mohon bantuannya ya semua. Nama sandi saya adalah...Y."

H

U

N

T

E

R

Seorang pria tegap, tinggi, dan besar dengan jubah berwarna hitam dan bercorak awan merah terlihat berjalan di sebuah koridor ruangan. Hampir di sepanjang koridor itu semua mata manusia yang dilewatinya memandangnya dengan tatapan takut. Ia terus saja melangkahkan kakinya dengan tenang hingga sampai di depan pintu besar yang memiliki tulisan kanji 'Mizu' yang tercetak besar di tengah-tengahnya.

"Mau apa kau kemari, 'Demon Shark'?"

Kisame tidak jadi mengetuk pintu besar itu karena ada suara pria yang menginterupsinya dari samping. Ia tolehkan kepalanya ke arah kiri dan mendapati seorang pria berbadan kekar dengan masker yang menutupi mulutnya sedang berjalan menuju kepadanya.

"Ehh? Zabuza ya. Lama tidak berjumpa." sapa partner Itachi Uchiha itu sembari menyeringai tipis.

Orang yang bernama Zabuza itu berdiri di depan Kisame sambil menatapnya dingin. "Apa yang kau inginkan di sini?"

"Bukan apa-apa. Hanya sekedar ingin reuni dengan rekan-rekan lamaku saja. Dan..." ia menghela nafas, "...aku ada perlu dengan pimpinanmu."

Alis kiri pria berjuluk 'The Butcher' itu terangkat, merasa curiga. "Hm? Perlu apa?"

"Itu bukan urusanmu kawan. Sekalipun kita pernah bersama sebagai anggota 'Futatsu no Akuma' yang bertugas untuk mengawal langsung Mizu Tate bertahun-tahun silam, namun sekarang aku sudah tidak terikat tugas lagi." ia melanjutkan, "Aku tidak harus memberitahumu."

Kriieeett...

Pintu besar itu pun terbuka dari dalam. Sesosok laki-laki berpostur lumayan kurus dan pendek berdiri di balik pintu itu.

"Ada ribut-ribut ap..." tenggorokannya serasa tercekat setelah melihat dengan mata kepalanya langsung sosok pria yang sedang berdiri tegap di hadapannya. "Ki...Kisame sen...pai?"

"Choujuro ya? Khekhe, kau semakin besar sekarang." Kisame menepuk-nepuk kepala bocah yang bernama Choujuro itu.

"Kisame ya?"

Ketiga orang yang sedang terlibat interaksi itu spontan menolehkan kepalanya bersamaan ke arah ujung ruangan. Seorang pria dengan ukuran tubuh yang tergolong mini sedang duduk di singgasananya. Pria berambut abu-abu yang memiliki sebuah bekas luka panjang di bawah mata kirinya itu berdiri dari tempat duduknya.

"Ada apa kau kemari, Kisame?" tanyanya.

"Yagura-sama, anda harus berhati-hati terhadapnya. Aku punya firasat buruk tentang kedatangannya kemari." seorang pria yang memakai aksesoris penutup mata kanan dan mengenakan sepasang anting berwujud jimat kertas memberikan saran kepada atasannya itu.

Kisame berjalan masuk ke dalam ruangan. "Aku tidak berniat buruk. Aku kemari hanya menjalankan perintah dari pemimpinku untuk berdiskusi serta bernegosiasi dengan kalian."

Pria pendek bernama Yagura itu menatap Kisame dengan sangat serius.

Kisame tersenyum penuh arti, "Terutama denganmu...Mizu Tate-sama."

H

U

N

T

E

R

Matahari bersinar dengan terik. Awan-awan Kumulus serta Stratus tidak penuh menghiasi angkasa. Akan tetapi kami berenam tidak merasa kepanasan karena kanopi-kanopi dari pohon-pohon besar di sekitar kami yang menghalau sinar matahari.

Habitat Iodrome ada di hutan hujan tropis dan rawa-rawa. Akan tetapi karena untuk mencapai daerah rawa kami harus berjalan sangat jauh hingga masuk ke dalam wilayah negara Air maka dipilihlah tempat ini. Hutan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari desa Konoha dan kebetulan masih berada di dalam teritori negara api.

"Sensei, apakah masih lama? Kita sudah berjalan hampir setengah jam sejak awal masuk ke dalam kawasan hutan Sairento ini." keluh Naruto. Keringatnya terlihat sangat becucuran karena armor yang melekat di tubuhnya sangat lengkap dan pastinya terasa berat.

"Iya nih sensei. Aku juga sudah capeeekk." Sakura berusaha berjalan mendempetku tapi segera aku singkirkan tubuhnya.

"Tenang-tenang. Kita akan beristirahat terlebih dahulu sebelum mulai ujian." celoteh Kakashi-sensei sembari tetap asyik membaca halaman demi halaman di buku favoritnya. Icha-Icha Paradise.

"Hoahhmmm..." sedangkan pria berambut nanas itu malah menguap sangat lebar untuk yang kesekian kalinya. Karena ia adalah hunter dengan spesialisasi jebakan maka tidak heran ranselnya sangat penuh oleh berbagai macam hunter tool.

Kulihat asisten sensei ku pada ujian kali ini tidak banyak bicara. Sesekali ia hanya mengobrol basa-basi tentang masalah makanan ataupun kegemaran dengan guru kami itu.

"Tunggu-tunggu..."

Langkah kami berlima terhenti seketika setelah Shikamaru mengucapkan kata 'tunggu'. Ia kemudian menunduk dan mengusap-usap tanah di bawahnya.

"Ada apa Shika?" tanyaku heran.

Ia masih terdiam selama beberapa detik. Dari balik usapan tangannya munculah bentuk jejak kaki yang tercetak samar-samar di permukaan tanah.

"Ini...jejak Ioprey. Mereka pasti ada di sekitar sini karena Ioprey dan pemimpin mereka, Iodrome, tidak pernah bepergian terlalu jauh saat hari-hari biasa. Kecuali saat musim kawin dimana itu bukanlah bulan ini." jelasnya.

"Wow, kau tahu sampai sedetail itu? Hebat." puji Naruto sambil terkagum-kagum.

Tak diragukan lagi jika intelejensi pria pemalas itu jauh di atas rata-rata. Masalah sepele seperti ini dia pun paham betul.

"Tapi bukankah mereka punya sarang kan? Aku yakin monster yang bernama Iodrome itu sedang berada di sarangnya bersama kawanannya." kata Sakura, sangat yakin dengan pendapatnya barusan.

"Apakah begitu?" pria suruhan Danzou-sama itu terlihat seperti ragu dengan ucapan Sakura barusan.

Aku merasakan ada hal yang aneh. Entah kenapa perasaan tidak enak ini seperti menggelayut manja sekalipun aku tidak tahu alasannya.

"Semuanya, segera kalian cek jejak-jejak makhluk itu di sekitar sini. Caranya sama persis seperti yang aku barusan lakukan tadi." perintah Shikamaru. Ia dengan tergesa-gesa mengusap ranting-ranting kecil ataupun dedaunan yang menutupi permukaan tanah.

Tak ada yang mau membantahnya karena kami tahu jika pengetahuannya jauh di atas kami semua. Termasuk aku dan sensei. Kami semua termasuk pria bernama sandi Y itu ikut membersihkan permukaan tanah dari ranting, daun, kerikil, ataupun benda yang menutupinya hingga bersih. Setelah memakan waktu hingga sepuluh menitan, kami semua memutuskan untuk menyudahi kegiatan ini.

"Memangnya ada apa Shikamaru?" aku jujur tidak tahu kemana jalan pikiran dari putra Shikaku-san itu.

Raut mukanya terlihat sangat serius. Tidak nampak kemalasan yang selalu menjadi trademark dirinya sehari-hari. "Jejak-jejak ini hanya berada di sekitar sini saja. Aku mencoba untuk membersihkan permukaan tanah sepanjang kurang lebih sepuluh meter ke depan dan ke samping namun sia-sia."

"Dan itu artinya?" ucap Kakashi-sensei. Sepertinya ia pun merasa bingung.

"Ioprey adalah bird-wyvern tak bersayap yang selain pandai berlari, mereka pun pandai...memanjat pohon."

Secara otomatis kami semua pelan-pelan menggerakkan kepala kami ke arah atas. Menuju ke dahan-dahan pepohonan Angsana yang ada di sekeliling kami berenam.

Oh tidak...

Shikamaru menghela nafas panjang, "Haaahh...aku tak menyangka jika aku lupa akan hal sepenting ini."

Di dahan pohon yang berada persis di atas kepala kami, berdiri tiga ekor Ioprey berwarna merah tua yang siap menerkam dengan tatapan tajam mengarah kepada kami para manusia.

-TSUZUKU-

Hehehe, chapter 8 bisa di-update juga.

Terima kasih banyak author ucapkan bagi readers baik dengan akun maupun anonim yang setia membaca, mengikuti, juga mereview fic ini.

O ya, sekedar memberitahu saja nih. Iodrome dan Ioprey itu berbeda lho. Ioprey adalah kawanan biasa sedangkan Iodrome adalah pemimpin kawanan itu tadi.

Terima kasih banyak :)